Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN
II. TINJAUAN PUSTAKA

Teknik pembuatan embung yang perlu diperhatikan antara lain Penentuan


Lokasi yang meliputi tekstur tanah yaitu Embung sebaiknya dibuat dilahan
dengan tanah bertekstur liat, lempung, liat berlempung dan lempung liat
berdebu, agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi. Pada tanah
berpasir yang poreus tidak dianjurkan untuk pembuatan embung karena air akan
cepatmeresap kedalam tanah dan hilang, dan apabila terpaksa dianjurkan untuk
dibuat maka dianjurkan untuk memakai, plastic atau ditembok lapisan luarnya
sehingga air tidak merembes.
Kemiringan lahan juga diperhatiakan embung sebaiknya dibuat pada areal
pertanian yang bergelombang dengan kemiringan antara 20- 30 persen agar
lapisan air permukaan dapat dengan mudah mengalir kedalam embung dan
selanjutnya air embung mudah untuk disalurkan kepetak-petak pertanian, karena
adanya perbedaan ketinggian antara embung dengan petak pertanian. Areal
pertanian yang datar kurang cocok untuk dibuat embung , karena sulit untuk
mengalirkan air dari embung kepetak pertanian.
Pada lahan yang terlalu miring kurang lebih 30 persen embung akan cepat
penuh dengan endapan tanah karena pengaruh erosi . Kontrusksi embung bentuk
embung sebaiknya bujur sangkar atau mendekati bujur sangkar hal ini agar
diperoleh keliling yang paling pendek. Tujuannya agar resapan air melalui
tanggul lebih sedikit. Ukuran embung bisa dibuat berdasarkan perorangan
maupun kelompok, hal ini tergantung dari pada keperluan dan luas pertanian
yang akan di airi. Penggalian tanah dapat dimulai dari batas pinggir embung
menuju ke bagian tengahk ke dalam galian diusahakan mencapai 2-3 meterhal
ini untuk memperoleh kapasitas embung.
Keliling embung dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah hal ini untuk
menghindari masuknya kotoran kedalam embung dan jarak saluran pembuangan
dari permukaan tanggul berkisar antara 25-50 cm dan dibuat sedemikian rupa
sehingga air embung tidak meluap.
Pelapisan tanah untuk menjaga agar embung tidak bocor maka perlu
dilakukan pelapisan tanah terutama pada bagian dinding embung. Pelapisan
dinding ini dilakukan dengan cara tanah liat dibasahi dan diolah sampai
berbentuk seperti pasta, baru kemudian dilapiskan secara merata.
Dinding embung pada tanah bertekstur liat atau lempung liat berdebu tidak
perlu dilapisi, karena pada jenis tanah ini resapan air boleh dikatakan kurang.
Pada tanah berpasir resapan air kebawah maupun yang melalui tanggul cukup
banyak, karena itu dinding embung perlu dilapisi dengan beberapa bahan
misalnya, plastic, batu bata, tembok, atau campuran pasir dengan tanah liat untuk
penahan resapan air. Pelapisan plastik yang digunakan untuk pelapisan dinding
maupun dasar embung dapat digunakan dari jenis polyethilin atau polyvinil
Chloride (PVC) dengan ketebalan 0, 15 mm.
Untuk pelapisan didasar embung , plastic ditimbun tanah setebal kurang
lebih 25 cm, ketahan plastik ini bisa mencapai 2-3 tahun. Penembokan bertujuan
pencegahan peresapan air selain dengan plastic dapat pula digunakan dengan
penembokan baik untuk dinding maupun untuk dasar embung.
Pelapisan kapur bertujuan untuk pelapisan dengan kapur dibuat adonan
dengan perbandingan kapur tembok dan tanah liat 1:1 dibuat pasta yang
selanjutnya baru dilapiskan pada dinding embung atau dasar embung.
III. TATA LAKSANA
Sub Kompetensi : Penentuan Lokasi Embung Dan Identifikasi Data Untuk
Disain Embung
- Alat dan bahan penentan Lokasi Embung Dan Identifikasi Data Untuk
Disain Embung
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan embung
- Prosedur kerja
1. Mendengarkan instruksi dari instruktur.
2. Mempelajari dan memahami garis-garis kontur pada peta topografi,
tentukan bagian bukit, lembah dan dataran.
3. Memilih daerah lembah atau cekung di tebing bukit.
4. Menentukan lokasi embung didaerah yang mempunyai cekungan atau
berupa lembah yang sempit dengan daerah tangkapan ( chacthment area )
- Melakukan survey lapangan untuk potenssi ketersediaan air
Sub Kopetensi : Analisa Teknis Dan Disain Pembuatan Embung
A. Analisa teknis
- Alat dan bahan Analisa Teknis Dan Disain Pembuatan Embung
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan embung
- Prosedur kerja
1. Analisis curah hujan untuk perancangan embung
2. Dari hasil lokasi embung dilapagan kemudia dilapangan dianalisa luas
daerah tangkapan air hujan dengan menggunakan umbro meter
3. Analisis curah hujan dengan cara curah hujan perbulan dikalikan luas
embung yang dirancang
4. Analisis run off dari daerah tangkapan hujan dengan cara mengalikan
intensitas hujan dikalikan luasan
5. Mengukur volume embung dengan mengukur luas permukaan embung
dikalikan kedalaman yaitu sepertiga tinggi, tergantung bentuk
geometric embung yang dibuat
6. Analisis neraca air embung dengan cara mengukur volume embung
dikurangi evapotransporasi dikurangi aliran samping (rembesan)
dikurangi perkolasi dan pemakaian air embung
B. Pembuatan embung
- Alat dan bahan Pembuatan embung
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan embung
- Prosedur kerja
1. Pembentukan embung sebaiknya dibuat bujur sangkar atau mendekati
bujur sangkar, hal tersebut dimaksudkan agar diperoleh willing yang
paling pendek sehingga resapan air melalui tanggul lebih sedikit
2. Teknik pengendalian tanah
Setelah diketahui letak, ukuran dan bentuk embung yang diinginkan,
tahapan selanjutnya adalah penggalian tanah, yang dapat dikerjakan
secara manual atau mekanis
Cara penggalianya sebagai berikut :
 Untuk memudahkan pemindahan tanah, tanah digali melalui dari
batas pinggir dari permukaan tanah.
 Untuk menghindari masuknya kotoran kedalam embung yang
terbawa aliran limpasan, maka keliling tanggul dibuat ebih tinggi
dari permukaan tanah
 Saluran pemasukan air limpasan dan pembuangan dibuat
sedemikian rupa, sehingga air embung tidak penuh/meluap. Jarak
saluran pembuangan dari permukaan tanggul berkisaran 25-50 cm.
3. Pelapisan tanah liat
 Supaya tanggul tidak mudah bobol, sebaiknya dilakukan
pemadatan tanah secara bertahap dengan cara: tanah liat (lempung)
dibasahi dan di olah sampai berbentuk pasta, lalu ditempel pada
diding embung setebal 25cm, mulai dari dasar kemuadian secara
berangsur naik kedinding embung. Sambungan tanah yang
berbentuk pasta tersebut dibuat menyatu sehingga air embung
tidak mudah meresap ketanah.
 Untuk menekan kelogsoran dinding, pelapisan dinding embung
dipapas sampai mendekati kemringan 70º-80º atau dibuat undukan.
 Pada tanah berpasir maupun melalui tanggul resapan air kebawah
(perkolasi) agak cepat. Oleh karena itu diding embung perlu
dilapisi, bias dari plastik, tembok atau campuran kapur dengan
tanah liat.
 Campuran kapur tembok dan tanah liat yang digunakan untuk
memperkeras dinding embung dibuat dengan perbandingan
1:1,yaitu kapur dibasahi dengan tanah liat sampai berbentuk pasta.
Pasta tersebut di tempel pada dinding dan dasar embung hingga
mencapai ketebalan 25cm.
Sub Kompetensi : Teknik Konservasi Metode Vegetatif
- Alat dan bahan Teknik Konservasi Metode Vegetatif
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan embung
Sub Kompetensi : Teras
- Alat dan Bahan Teras
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan
Prosedur Kerja
- Servey identifikasi dan evaluasi teras
1. Lakukan survey dan identifikasi jenis jenis teras yang ada dikebun.
2. Gambarakan sekema dan ukur masing masing jenis teras (dimensi teras).
3. Ukur kemiringan dengan menggunakan hagameter/theodolite.
4. Lakukan pengeboran tanah untuk mengukur tebal solum tanah.
5. Lakukan evaluasi ketepatan pemilihan jenis teras berdasarkan kemiringan
lahan dan tebal solum.
- Perancan teras
1. Pilih salah satu lokasi dikebun.
2. Tentukan satu titik sebagai titik tumpu, kemudian ukur panjang lereng
( dengan panjang menyesuaikan lokasi) sehingga diperoleh garis A-B.
3. Ukurlah kemiringan antara kontur di titik A dan B sebagai slope (%).
4. Tentukan vertical interval teras dengan rumus.
a. Untuk tanah mudah tererosi VI = 8 S + 60 cm
b. Untuk tanah tidak mudah tererosi VI = 10 S + 60 cm
5. Hitunglah jumlah teras yang bisa dibuat sepanjang lereng.
6. Hitunglah :
a. Lebar teras dengan rumus
D
2 S W.S
= atau D =
W D 100 ( 100-S )
+
2 2
b. Panjang teras per Ha = 10.000 m2/ lebar teras
c. Perhitungan volume tanah tanah yang harus digali per Ha (untuk tepi
teras 1:1)
100*D 100*D-D.S D(100-S)
W= -D= =
S S S
Keterangan
W = lebar tanah asli
D = kedalaman vertical tanah asli
S = kemiringan tanah asli
7. Buatlah gambar sekema hasil perhitungan rancangan teras.
- Pembuatan/ perbaikan teras
1. Lakukan pembuatan/perbaikan teras sesuai hasil perhitungan dalam hasil
perancangan.
2. Perbaiki kaki teras.
3. Perbaikai bidang teras, kemudian lakukan pengukuran kemerataan tinggi
bidang teras dengan menggunakan selang.
4. Melakukan pengukuran dimensi teras dan buatlah gambar sekema teras.
Sub Kompetensi : Pembuatan Rorak
- Alat dan Bahan Pembuatan Rorak
 Alat
1. Peta topografi / peta kontur
2. Alat tulis
3. Kalkulator
4. Meteran
5. GPS
6. Kalkulator
7. Ember
8. Patok kayu
 Bahan
1. Lokasi pembuatan
- Prosedur Kerja
1. Pilih lokasi untuk pembuatan rorak, pada bidang teras.
2. Ukurlah dengan panjang sejajar bidang teras (1 m).
3. Ukurlah lebar (0,3 m sampai 0,5 m) searah dengan lebar teras. Buatlah
lubang dengan kedalaman 0,5 m.
IV. HASIL PELAKSANAAN PL DAN PENGAMATAN