Anda di halaman 1dari 15

Tinjauan Pengelolaan Aset Tetap Daerah Pada Dinas

Pendidikan Kab. Bekasi

PROPOSAL

Disajikan Sebagai Salah Satu Syarat untuk menyusun laporan praktik kerja lapangan
Pada Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Singaperbangsa Karawang

RENA AULIA FIRDAUS


NPM 1810630110087

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang selalu

memberikan nikmat, karunia, hidayah dan rahmat-Nya yang tiada henti-hentinya

sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “ Tinjauan

Pengendalian Internal Atas Pengelolaan Aset Tetap Pada Dinas Pendidikan Kab.

Bekasi ”. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi

Muhammad SAW beserta sahabat, keluarga dan seluruh pengikutnya.

Penulis menyadari bahwa semua segala usaha yang dilakukan selama ini tidak

akan ada artinya tanpa rahmat dan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT baik

secara langsung maupun tidak seperti melalui perantara berbagai pihak yang telah

banyak membantu penulis. Oleh karena itu, selain rasa syukur yang mendalam,

penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh

pihak yang sudah berkontribusi dalam pembuatan proposal ini. Dibuatnya proposal

ini adalah bertujuan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Ahli Madya

program studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas

Singaperbangsa Karawang.

Dalam menyusun proposal ini, penulis menyadari bahwa masih banyak

terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf apabila

terdapat hal-hal yang kurang berkenan dalam penulisan proposal ini. Akhir kata,
penulis berharap proposal ini bermanfaat bagi penulis serta bagi siapa saja yang

membacanya.

Karawang, Desember 2020

RENA AULIA FIRDAUS

Npm 1810630110087
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang menganut asas desentralisasi dalam

menjalankan pemerintahannya, dengan memberikan keleluasan kepada daerah

untuk mengatur dan menyelenggarakan otonomi daerah. Menurut UU Nomor

23 tahun 2014 desentralisasi merupakan penyerahan kekuasaan Pemerintah

Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi. Otonomi daerah

sendiri diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 yang berarti otonomi daerah

adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonomi untuk mengatur dan

mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat

sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain

melimpahkan kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah,

berarti pemerintah daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan

memanfaatkan sumber daya alam yang berada di daerah tersebut dan

mengelola secara efisien dan efektif.

Dinas Pendidikan Kab.Bekasi merupakan salah satu instansi

pemerintah daerah yang dibentuk untuk melayani masyarakat khususnya

tentang pendidikan yang berada di daerah Kab.Bekasi. Setiap instansi pasti

memiliki asset-aset yang harus dikelola, terutama aset tetap.


Salah satu bentuk pengelolaan yang dilakukan pemerintah daerah

dalam menyelenggarakan otonomi daerahnya yaitu pengelolaan asset-aset

yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Menurut PSAP No.7 tentang akuntansi

asset tetap, asset tetap didefinisikan sebagai asset berwujud yang mempunyai

masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan, dalam

kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Asset tetap

diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam

aktivitas operasi entitas pemerintahan. Klasifikasi asset tetap pada sector

pemerintahan adalah sebagai berikut:

1. Tanah, yang diperoleh dengan maksud dipakai dalam kegiatan operasional

pemerintah

2. Peralatan dan mesin, mencangkup mesin-mesin, kendaraan bermotor, alat

elektronik, inventaris kantor, dan peralatan lain yang masa manfaatnya

lebih dari 12 bulan

3. Gedung dan bangunan, mencangkup seluruh gedung dan bangunan yang

diperoleh untuk kegiatan operasional dareah

4. Jalan, irigasi, dan jaringan mencangkup jalan, irigasi, jaringan yang

dibangun oleh pemerintah

5. Konstruksi dalam pengerjaan mencangkup asset tetap yang sedang dalam

proses pembangunan dan pada tanggal pelaporan belum selesai seluruhnya

6. Asset militer, meliputi peralatan militer, baik umum dan khusus

diperlakukan sesuai dnegan perlakuan asset tetap.


Sampai saat ini asset merupakan salah satu permasalahan akuntansi

yang masih terdapat kekurangan atau kendala dalam penerapan akuntansi,

sesuai dengan pendapat Hines (1998) yang mengatakan bahwa “akuntansi

untuk asset dalam beberapa hal terlihat memiliki kekurangan dibandingkan

dengan akuntansi untuk aspek lainnya, mengingat sifat alamiah yang di miliki

oleh masing-masing asset tersebut”. Dengan ini, pengelolaan asset tetap pada

Dinas Pendidikan Kab.Bekasi bukan perkara yang mudah, untuk itu

pemerintah diharuskan untuk mengelola asset tetap yang dimiliki dengan

sebaik-baiknya sesuai dengan pedoman peraturan dan prinsip-prinsip yang

berlaku. Tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2020

tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang

pengelolaan barang milik negara/daerah, yang kemudian diatur juga dalam

Permendagri Nomor 19 tahun 2016 tentang pedoman pengelolaan barang

milik daerah. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang begitu

pesat maka pemerintah juga berupaya melakukan perbaikan dalam

pengelolaan asset tetap daerah. Maka dari itu, pengelolaan asset daerah

berubah dari cara yang konvensional menjadi sistem yang lebih modern,

dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada prosedur pengelolaan

asset tetap pada Dinas Pendidikan Kab.Bekasi. berdasarkan uraian fenomena

diatas maka dengan ini peneliti akan melakukan penelitian dengan judul

“Tinjauan Pengelolaan Aset Tetap pada Dinas Pendidikan Kab.Bekasi”


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis dapat

merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana Pengelolaan Aset tetap pada Dinas Pendidikan Kab.Bekasi

2. Apakah Pengelolaan Aset Tetap di Dinas Pendidikan Kab.Bekasi sudah

sesuai dengan Permendagri Nomor 19 Tahun 2016

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: untuk mengetahui

apakah pengelolaan asset tetap pada Dinas Pendidikan Kab.Bekasi sudah

sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Permendagri No.19 Tahun 2016.

1.4 Kegunaan Hasil Penelitian

1. Dapat menambah wawasan, pengetahuan yang baru bagi pembaca

2. Dapat menjadi masukan dan saran kepada instansi terkait khususnya

dalam pengelolaan asset tetap

3. Dapat dijadikan sebagai sumber referensi bagi peneliti/ penulis lain yang

hendak meneliti tentang Pengelolaan Aset Tetap Daerah.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pengertian Pengelolaan Aset Daerah

Pengelolaan barang milik daerah adalah rangkaian kegiatan dan

tindakan terhadap barang daerah yang meliputi, perencanaan kebutuhan

dan penganggaran, pengadaan, penerimaan penyimpanan dan

penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan

dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan,

pembinaan pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan, tutuntutan

ganti rugi (Pasal 4 ayat 2 Permendagri No.17 Tahun 2007)

Secara sederhana pengelolaan barang milik daerah meliputi tiga fungsi

utama, yaitu: perencanaan yang tepat, pelaksanaan/ pemanfaatan secara

efektif dan efisien dan pengawasan.

a. Perencanaan

Dalam menjalankan kegiatannya, pemerintah daerah memerlukan

barang untuk menjunjang pelaksanaan tugas dan kewenangannya.

Maka dari itu, pemerintah memerlukan perencanaan kebutuhan

barang yang digunakan sebagai rujukan dalam pengadaan Barang

Milik Daerah. Setiap pengadaan barang harus dicatat dan

didokumentasikan dengan baik dalam sistem informasi Barang

Milik Daerah. Perencanaan kebutuhan barang harus memperhatikan


tiga hal, yaitu: melihat kondisi daerah di masa lalu, barang yang

dibutuhkan untuk masa sekarang dan perencanaan kebutuhan

dimasa yang akan datang. Hal yang juga penting dalam

perencanaan adalah pengalokasian dana operasional dan biaya

pemeliharan atas barang yang dibeli atau diadakan, serta biaya

asuransi kerugian untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi

musibah yang merusak atau menghancurkan Barang Milik Daerah.

b. Pelaksanaan

Ketika perencanaan telah dilakukan dengan baik, maka selanjutnya

adalah pelaksanaan. Barang Milik Daerah harus dikelola secara

optional dengan memperhatikan prinsip efektif, efisien, transparans,

dan akuntabel.

Pengelolaan barang milik daerah harus memenuhi prinsip

akuntanbilitas public. Akuntanbilitas public menurut sholeh dan

Rochmansjah (2009) paling tidak memenuhi tiga hal, yaitu:

1. Akuntanbilitas Kejujuran dan Akuntanbilitas Hukum,

menghindari penyalahgunaan jabatan oleh pejabat dalam

penggunaan dan pemanfaatan Barang Milik Daerah, sedangkan

akuntansi hukum terkait dengan jaminan kepatuhan hukum yang

berlaku dan memiliki status hukum yang jelas agar pihak tertentu

tidak menyalahgunakan atau mengklaimnya.

2. Akuntanbilitas Proses, dipatuhinya prosedur yang digunakan

dalam melaksanakan pengelolaan Barang Milik Daerah,


termasuk di dalamnya compulsory competitive tendering

contract (CCTC) dan langkah-langkah antisipasi kemungkinan

terjadinya mark-up ketika proses penganggaran terhadap rencana

pengadaan barang daerah dilakukan.

3. Akuntanbilitas Kebijakan, terkait dengan pertanggungjawaban

pemerintah terhadap DPRD dan masyarakat atas kebijakan-

kebijakan perencanaan, pengadaan, pendistribusian, penggunaan,

pemanfaatan, pemeliharaan, sampai pada penghapusan Barang

Milik Daerah.

c. Pengawasan

Pengawasan diperlukan untuk menghindari penyimpangan dalam

setiap fungsi pengelolaan/ manajemen asset daerah. Sistem dan

teknik pengawasan perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah

dikelabui oleh oknum yang hendak menyalahgunakan kekayaan

milik daerah.

2.1.2 Karakteristik Aset Daerah

Aset daerah banyak macamnya dan menurut peraturan pemerintah, asset

pemerintah termasuk asset daerah terdiri dari enam golongan asset serta

asset lainnya sebagai berikut:

1. Golongan Tanah

2. Golongan Peralatan dan Mesin

3. Golongan Gedung dan Bangunan


4. Golongan Jalan, Irigasi, dan Jaringan

5. Golongan Aset Tetap Lainnya

6. Golongan Konstruksi dalam Pengerjaan

7. Golongan Aset Lainnya

1) Golongan Tanah

Tanah merupakan asset pemerintah yang sangat vital daman

operasional pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat. Asset

tanah merupakan asset yang sangat sulit dalam pengelolaannya. Hal

ini karena tanah pemerintah memiliki banyak ragamnya dengan jenis

kegunaanya sehingga terjadi banyak kepentingan tanah-tanah yang

dimiliki oleh pemerintah ataupun pemerinyah daerah (Yusuf,

2010:13)

2) Golongan Peralatan dan Mesin

Peralatan dan mesin adalah asset yang sangat terkait dengan

operasional internal pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,

walaupun pemerintah daerah yang berperan dalam pengelolaannya

(Yusuf, 2010:14)

3) Golongan Gedung dan Bangunan

Gedung dan bangunan merupakan asset yang penting karena

pelayanan yang diberikan untuk masyarakat banyak menggunakan

geedung. Karakteristik gedung yang dimiliki pemerintah antara lain

bangunan tempat kerja, gudang, gedung laboratorium, bangunan


rumah sakit, bangunan tempat pertemuan, bangunan tempat

beribadah, bangunan tempat olahraga, bangunan pertokoan,

bangunan pos, bangunan garasi, bangunan kandang hewan, bangunan

perpustakaan, bangunan museum, dan sebagainya (Yusuf, 2010:21)

4) Golongan Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Jalan, irigasi dan jaringan dibangun oleh pemerintah serta dimiliki

atau dikuasai oleh pemerintah dalam kondisi siap pakai.

5) Golomngan Aset Tetap Lainnya

Golongan asset ini jelas disebutkan dalam Pemendagri No.19 Tahun

2016 yang terdiri dari atas buku perpustakaan, buku terbitan berkala,

barang-barang perpustakaan, barang bercorak kesenian atau

kebudayaan, serta hewan ternak dan tumbuh-tumbuhan

6) Golongan Konstruksi dan Pengerjaan

Golongan barang ini dicatat sebesar biaya yang dikeluarkan sampai

dengan akhir masa pengerjaan pada tahun yang bersangkutan.

Golongan barang ini, seperti bangunan gedung dan bangunan bukan

gedung, konstruksi jalan, jembatan, bangunan air, instalasi dan

jaringan (Yusuf, 2010:23)

7) Aset Lainnya

Dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri No.19 Tahun 2016 tidak

dikenal adanya set tidak berwujud berupa hasil kajian, kerja sama

dengan pihak ketiga, serta asset-aset lainnya (Yusuf, 2010:23)


2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Esduo Ramadhano Labasido dan

Darwanis (2019) yang berjudul Analisis Pengelolaan Aset Tetap Daerah Pada

Dinas Pengelolaan Keuangan Aset Daerah (DPKAD) Provinsi Aceh.

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pengelolaan asset tetap

daerah di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Provinsi

Aceh?, Apakah pengelolaan asset tetap daerah di Dinas Pengelolaan

Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Provinsi Aceh sudah sesuai dengan

Permendagri No.19 Tahun 2016?. Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui apakah pengelolaan asset tetap daerah di Dinas Pengelolaan Aset

Daerah (DPKAD) Provinsi Aceh sudah sesuai dengan prosedur yang

ditetapkan oleh Permendagri No.19 Tahun 2016. Jenis penelitian yang

digunakan adalah dengan jenis studi kasus. Data yang digunakan adalah data

primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini

adalah dengan cara observasi, kuesioner, dan wawancara. Teknik analisis data

metode kualitatif yaitu menyajikan uraian berupa penjelasan mengenai

pengelolaan asset tetap daerah pada DPKAD Provinsi Aceh. Hasil penelitian

adalah praktik pengelolaan asset tetap pemerintah daerah oleh DPKAD Aceh

belum sepenuhnya mengikuti Permendagri N0.19 Tahun 2016, seperti masih

adanya beberapa dokumen sumber pengelolaan asset tetap yang DPKAD

Aceh tidak di miliki.


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan

dan meringkas berbagai kondisi dan variable yang dijadikan sebagai objek

penelitian berdasarkan pada kenyataan yang terjadi dilapangan. Bertujuan

untuk mengetahui bagaimana pengelolaan asset tetap daerah pada Dinas

Pendidikan Kab.Bekasi.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan penulis untuk memperoleh data dan informasi yang

dibutuhkan adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengamati dan memahami

sebuah objek yang dibutuhkan

b. Wawancara (Interview)

Merupakan kegiatan pengumpulan data dengan mengajukan sejumlah

pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula.

c. Dokumentasi

Kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh data dan informasi dengan

menelaah sumber-sumber tertulis sperti jurnal ilmiah, buku referensi,

literature dan sumber-sumber terpercaya lainnya.


3.3 Data yang Diperlukam

1. Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari

sumber asli (tidak melalui perantara)

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti secara tidak

langsung melalui media perantara (tidak melalui perantara)

Data penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah data primer

dan sekunder.

3.4 Tempat Penelitian

Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dinas Pendidikan

Kab.Bekasi yang berlokasi di Sukamahi, Komplek Perkantoran Pemkab

Bekasi, Sukamahi, Kec. CIkarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat 17530,

Indosensia.