Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

MATA KULIAH : SISTEM PERKEMIHAN

TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR
 
Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia_Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan dan Asuhan
Keperawatan pada Pasien Dengan BPH (Benigna Prostat Hiperpalasia).
Kiranya materi ini dapat menambah ilmu dan wawasan kita sebagai perawat
dalam menjalani proses keperawatan, sehingga dalam memberikan asuhan
keperawatan bagi pasien/klien, kita mampu memahami konsep pemberian askep
yang baik pada klien.
Kami menyadari bahwa asuhan keperawatan ini perlu dikaji dan
disempurnakan kembali, dengan kritik dan saran yang mendukung dan
membangun dari berbagai pihak, terlebih bila kita diskusikan bersama-sama untuk
perbaikan yang akan datang.
Akhir kata kami sampaikan Terima Kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses penyusunan askep ini sehingga bermanfaat bagi kita
semua.
 
                                                                                       

 Batam , 17 Februari 2018

Penulis
 
                                                                                      

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR….……………………………………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………..………………………………..…..…….. 1
B. Tujuan……………………………..………………………..………..…… 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian…………….………..………………...……………..………. 3
B. Anatomi & Fisiologi……..……..………………...…………………..…. 3
C. Etiologi..................................................................................................... 6
D. Patofisiologi ………….………..………………...…………………..….. 6
E. Manifestasi Klinis…................................................................................. 9
F. Komplikasi……………............................................................................ 11
G. Pemeriksaan diagnostik …….….……………...………………………... 12
H. Penatalaksanaan………….…..………………...………………………... 14
BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian..………….………..………………...……………….……… 16
B. Diagnosa Keperawatan..………….………..………………...…..……… 17
C. Intervensi Keperawatan..………….………..……………….....………… 18
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
A. Pengkajian..………….………..………………...……………….……… 22
B. Analisa Data…………...………….………..………………...…..……… 27
C. Diagnosa Keperawatan..………….………..………………...…..……… 28
D. Intervensi Keperawatan….……….………..………………...…..……… 29
E. Implementasi Keperawatan……….………..……………….....………… 31
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..………….………..………………...……………………… 33
B. Saran..………….………..………………...………………………..…… 33
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit prostat merupakan penyebab yang sering terjadi pada berbagai
masalah saluran kemih pada pria, insidennya menunjukan peningkatan sesuai
dengan umur, terutama mereka yang berusia 60 tahun. Sebagian besar penyakit
prostat menyebabkan pembesaran organ yang mengakibatkan terjadinya
penekanan/pendesakan uretra pars intraprostatik, keadaan ini menyebabkan
gangguan aliran urine, retensi akut dari infeksi traktus urinarius memerlukan
tindakan kateterlisasi segera. Penyebab penting dan sering dari timbulnya gejala
dan tanda ini adalah hiperlasia prostat dan karsinoma prostat. Radang prostat yang
mengenai sebagian kecil prostat sering ditemukan secara tidak sengaja pada
jaringan prostat yang diambil dari penderita hiperlasia prostat atau karsinoma
prostat (J.C.E Underwood, 1999).
Beranekaragamnya penyebab dan bervariasinya gejala penyakit yang
ditimbulkannya sering menimbulkan kesulitan dalam penatalaksanaan BPH,
sehingga pengobatan yang diberikan kadang-kadang tidak tepat sesuai dengan
etiologinya. Terapi yang tidak tepat bisa mengakibatkan terjadinya BPH
berkepanjangan. Oleh karena itu, mengetahui secara lebih mendalam faktor-faktor
penyebab (etiologi) BPH akan sangat membantu upaya penatalaksanaan BPH
secara tepat dan terarah.
Peran perawat pada klien meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif. Secara promotif perawat dapat memberikan penjelasan pada klien
tentang penyakit BPH mulai dari penyebab sampai dengan komplikasi yang akan
terjadi bila tidak segera ditangani.
Kemudian pada aspek preventif perawat memberikan penjelasan
bagaimana cara penyebaran penyakit BPH, misalnya cara pembesaran prostat
akan menyebabkan obstruksi uretra.

1
2

Secara kuratif perawat berperan memberikan obat-obatan sebagai tindakan


kolaborasi dengan tim dokter. Aspek rehabilitatif meliputi peran perawat dalam
memperkenalkan pada anggota  keluarga cara merawat klien dengan BPH
dirumah, serta memberikan penyuluhan tentang pentingnya cara berkemih.

B. TUJUAN
1. Agar mahasiswa/i mengetahui konsep teoritis pada pasien dengan
penyakit BPH (Benigna Prostat Hipeplasia)
2. Agar mahasiswa/i mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan
pada pasien dengan penyakit BPH (Benigna Prostat Hipeplasia).
3. Agar mahasiswa/i mengetahui bagaimana cara penerapan asuhan
keperawatan pada pasien dengan penyakit BPH (Benigna Prostat
Hipeplasia)
BAB II
KONSEP DASAR LAPORAN PENDAHULUAN BPH (BENIGNA
PROSTAT HIPEPLASIA)

A. PENGERTIAN
Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang sering
terjadi sebagai hasil dar pertumbuhan dan pengendalian hormon prostat (Yuliana
Elin, 2011).
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum
pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral
dan pembatasan aliran urinarius (Marilynn, E.D, 2000 : 671).
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh
penuaan. (Price&Wilson, 2005).
Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker,
(Corwin, 2000).
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah perbesaran prostat, kelenjar prostat
membesar memanjang kearah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat
aliran urine, dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter (Brunner &
Suddarth, 2000).
Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
cara menutupi orifisium uretra.

B. ANATOMI & FISIOLOGI


1. Anatomi
Kelenjar prostat merupakan organ khusus pada lokasi yang kecil,
yang hanya dimiliki oleh pria. Kelenjar prostat terletak di bawah kandung
3
4

kemih (vesika urinaria) melekat pada dinding bawah kandung kemih di


sekitar uretra bagian atas.
Biasanya ukurannya sebesar buah kenari dengan ukuran 4 x 3 x 2,5
cm dan beratnya kurang lebih 20 gram dan akan membesar sejalan dengan
pertambahan usia. Prostat mengeluarkan sekret cairan yang bercampur secret
dari testis, perbesaran prostate akan membendung uretra dan menyebabkan
retensi urin. Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-
50 kelenjar yang terbagi atas 4 lobus yaitu:
1) Lobus posterior
2) Lobus lateral
3) Lobus anterior
4) Lobus medial
Batas lobus pada kelenjar prostat:
a. Batas superior: basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica
urinaria, otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ
yang lain. Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas
diafragma urogenitalis. Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex
permukaan anterior.
b. Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis
pubis, dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang
terdapat pada cavum retropubica(cavum retziuz). Selubung fibrosa
prostat dihubungkan dengan permukaan posterior os pubis dan
ligamentum puboprostatica. Ligamentum ini terletak pada pinggir garis
tengah dan merupakan kondensasi vascia pelvis.
c. Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan
permukaan anterior ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum
retovesicalis (vascia Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa
janin oleh fusi dinding ujung bawah excavatio rectovesicalis
peritonealis, yang semula menyebar ke bawah menuju corpus
perinealis.
5

d. Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m.


levator ani waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis. Ductus
ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan prostat untuk
bermuara pada uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium
utriculus prostaticus. Lobus lateral mengandung banyak kelenjar.

2. Fisiologi
Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur,
sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya
mudah teraba. Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi
prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar
menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas jelas
dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan
padat. Apabila tonjolan itu ditekan, keluar cairan seperti susu. Apabila
jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu padat dan
tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat
menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah.
Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis
jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari
vesika yang dapat mengakibatkan peradangan.
Kelenjar prostat ditutupi oleh jaringan fibrosa, lapisan otot halus, dan
substansi glandular yang tersusun dari sel epitel kolumnar. Kelenjar prostat
menyekresi cairan seperti susu yang menusun 30% dari total cairan semen,
6

dan memberi tampilan susu pada semen. Sifat cairannya sedikit alkali yang
memberi perlindungan pada sperma di dalam vagina yang bersifat asam.
Sekret prostat bersifat alkali yang membantu menetralkan keasaman vagina.
Cairan prostat juga mengandung enzim pembekuan yang akan menebalkan
semen dalam vagina sehingga semen bisa bertahan dalam serviks.

C. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara
pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat
pula dianggap undangan (counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi
adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu
Hidayat dan Wim De Jong tahun2004 etiologi dari Benigna Prostat Hiperplasia
(BPH) adalah :
1. Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan
keseimbangan testosteron dan estrogen. Dengan meningkatnya usia
pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan
testosterone sedangkan estradiol tetap yang dapat menyebabkan
terjadinya hyperplasia stroma.
2. Ketidakseimbangan endokrin.
3. Faktor umur / usia lanjut.
Biasanya terjadi pada usia diatas 50 tahun.
4. Unknown / tidak diketahui secara pasti.
Penyebab BPH tidak diketahui secara pasti (idiopatik), tetapi biasanya
disebabkan oleh keadaan testis dan usia lanjut.

D. PATOFISIOLOGI
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar
buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Menurut Mc Neal
(1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000), membagi kelenjar prostat
7

dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional,
zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat
(2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan
keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan
terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer.
Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung
pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan
dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar
prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya
perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan
patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh
kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan
kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem
parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada
tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang
bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan
mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang
kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan
detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila
keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi
urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan
iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup
lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi),
8
miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas
setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency,
disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak
mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow
incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi.
ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan
traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan
intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam
vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi
dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media
pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
9

Pathway

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah :
a. Obstruksi :
1) Hesistensi (harus menggunakan waktu lama bila mau miksi)
2) Pancaran waktu miksi lemah
3) Intermitten (miksi terputus)
4) Miksi tidak puas
5) Distensi abdomen
6) Volume urine menurun dan harus mengejan saat berkemih.
b. Iritasi : sering miksi( frekuensi), nokturia, urgensi, disuria.
10
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang, demam
(infeksi), hidronefrosis.
3. Gejala di luar saluran kemih :
Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit
hipertropi prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering
mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan
tekanan intra abdominal (Sjamsuhidayat, 2004).
Benigna Prostat Hipertropi selalu terjadi pada orang tua, tetapi tak
selalu disertai gejala-gejala klinik, hal ini terjadi karena dua hal yaitu:
a. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
b. Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung
kemih,
c. hipertrofi kandung kemih dan cystitis (Hidayat, 2009).
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna
Prostat Hipertrofi:
a. Retensi urin (urine tertahan di kandung kemih, sehingga urin tidak
bisa keluar).
b. Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing.
c. Miksi yang tidak puas.
d. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia).
e. Pada malam hari miksi harus mengejan.
f. Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria).
g. Massa pada abdomen bagian bawah.
h. Hematuria (adanya darah dalam urin).
i. Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk
mengeluarkan urin).
j. Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi.
k. Kolik renal (kerusakan renal, sehingga renal tidak dapat berfungsi).
l. Berat badan turun.
m. Anemia, kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui.
11
n. Pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan
dengan kateter. Karena urin selalu terisi dalam kandung kemih, maka
mudah sekali terjadi cystitis dan selaputnya merusak ginjal
(Arifiyanto, 2008).
Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia,
mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Brunner & Suddarth,
2001).

F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan
semakin beratnya BPH, dapatterjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak
mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksisaluran kemih dan
apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000).
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harusmengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan herniadan hemoroid.
Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah
keluhan iritasidan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria
menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme,yang dapat menyebabkan sistitis
dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)
Menurut Arifiyanto (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi
prostat adalah:
1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,
hidronefrosis, gagal ginjal.
2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu
miksi.
3. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya
batu.
4. Hematuria.
5. Disfungsi seksual.
12

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan laboratorium
Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopis urin penting untuk melihat
adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria, harus
diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu,
infeksi saluran kemih, walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan hematuria.
Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dan
fungsi ginjal dan status metabolik.
Pemeriksaan Prostat Specific Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar
penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilai SPA
< 4mg / ml tidak perlu biopsy. Sedangkan bila nilai SPA 4–10 mg / ml,
hitunglah Prostat Spesific Antigen Density (PSAD) yaitu PSA serum dibagi
dengan volume prostat. Bila PSAD > 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsi
prostat, demikian pula bila nilai PSA > 10 mg/ml.

2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen,
pielografi intravena, USG dan sitoskopi. Dengan tujuan untuk memperkirakan
volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli–buli dan volume residu urine,
mencari kelainan patologi lain, baik yang berhubungan maupun yang tidak
berhubungan dengan BPH.
Dari semua jenis pemeriksaan dapat dilihat :
a) Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada batu traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli – buli.
b) Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi komplit dari fungsi
renal, hidronefrosis dan hidroureter, fish hook appearance (gambaran
ureter belok –belok di vesika).
c) Dari USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa masa
ginjal, mendeteksi residu urine, batu ginjal, divertikulum atau tumor
buli – buli. (Arif Mansjoer, 2000).
13

3. Pemeriksaan Diagnostik.
a) Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang,
penampilan keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b) Kultur Urine : adanya staphylokokus aureus, proteus, klebsiella,
pseudomonas, e.coli.
c) BUN / kreatinin : meningkat.
d) IVP : menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih dan
adanya pembesaran prostat, penebalan otot abnormal kandung
kemih.
e) Sistogram : mengukur tekanan darah dan volume dalam kandung
kemih.
f) Sistouretrografi berkemih : sebagai ganti IVP untuk menvisualisasi
kandung kemih dan uretra dengan menggunakan bahan kontras
lokal.
g) Sistouretroscopy : untuk menggambarkan derajat pembesaran
prostat dan kandung kemih.
h) Transrectal ultrasonografi : mengetahui pembesaran prosat,
mengukur sisa urine dan keadaan patologi seperti tumor atau batu.
(R.Sjamsuhidayat, 2004).

4. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
b) Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif
14

H. PENATALAKSANAAN
Modalitas terapi BPH adalah :
1. Observasi
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian
setiap tahun tergantung keadaan klien.
2. Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang,
dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari:
phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang
alfa blocker dan golongan supresor androgen.
Penghambat adrenergik  (prazosin, tetrazosin) : menghambat
reseptor pada otot polos di leher vesika, prostat sehingga terjadi relaksasi.
Hal ini akan menurunkan tekanan pada uretra pars prostatika sehingga
gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang.
Penghambat enzim 5--reduktase, menghambat pembentukan DHT
sehingga prostat yang membesar akan mengecil.

3. Pembedahan Indikasi pembedahan pada BPH adalah :


 Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin
akut.
 Klien dengan residual urin > 100 ml.
 Klien dengan penyulit.
 Terapi medikamentosa tidak berhasil.
 Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.

Pembedahan dapat dilakukan dengan :


a) TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat
melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra.
15
b) Prostatektomi Suprapubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada
kandung kemih.
c) Prostatektomi retropubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen
bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung
kemih.
d) Prostatektomi Peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi
diantara skrotum dan rektum.
e) Prostatektomi retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula
seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada
abdomen bagian bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung
kemih pada kanker prostat.

4. Terapi Invasif Minimal


a) Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang
disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui /pada
ujung kateter.
b) Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy
(TULIP)
c) Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BPH
(BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIS)

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien dan keluarga, meliputi nama,umur, jenis kelamin, agama,
suku,alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis.
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Klien mengatakan nyeri saat berkemih, Sulit kencing, Frekuensi
berkemih meningkat, Sering terbangun pada malam hari untuk miksi
Keinginan untuk berkemih tidak dapat ditunda, Nyeri atau terasa panas
pada saat berkemih, Merasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak
kosong dengan baik, Ekspresi wajah tampak menhan nyeri.
b) Keluhan saat pengkajian
Klien mengatakan nyeri saat berkemih, Sulit kencing, Frekuensi
berkemih meningkat, Sering terbangun pada malam hari untuk miksi
Keinginan untuk berkemih tidak dapat ditunda, Terpasang kateter.
c) Keluhan terdahulu
Pernahkah
3. Riwayat kesehatan keluarga
4. Pola fungsi kesehatan
 Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliaran urin, tetes, ragu-ragu
berkemih, nokturia, disuria, hematuria.
Tanda : Massa padat dibawah abdomen bawah (Distensi Kandung
kemih, nyeri tekan kandung kemih ).
 Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubis, panggul,punggung bawah
 Sirkulasi : Peninggian tekanan darah
 Psikososial : Ekspresi takut akibat inkontinensia, gangguan Seksualitas
16
17

5. Pemeriksaan fisik
 Status kesehatan umum
 Keadaan umum
 Kesadaran
 TTV
 TB dan BB
6. Pemeriksaan fisik secara head to toe
7. Data psikologis, pendidikan, hubungan sosial, gaya hidup, peran dalam
keluarga.
8. Data penunjang
a) Urinalisa : Warna kuning,coklat gelap,merah gelap atau terang
(berdarah ),PH 7 atau lebih.
b) Kultur urin : Ada staphylococcus Aureus, E.Colly, Proteus,
Pseudomonas.
c) BUN / Kreatinin: Meningkat pada gangguan ginjal
d) SDP : Lebih dari 11.000
e) Ultrasonografi transrektal dan suprapubic untuk mengetahui ukuran
prostat.
9. Pengobatan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Nyeri akut/Nyeri b/d spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada
TURP.
b) Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi
sekunder.
c) Cemas berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit
dan pengobatanya
d) Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme
melalui kateterisasi, dan jaringan terbuka.
18

C. INTERVENSI
N DIAGNOSA TUJUAN &
INTERVENSI
O KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1. Nyeri akut b/d Setelah dilakukan NIC:
spasmus kandung tindakan keperawatan - Kaji skala nyeri.
kemih dan insisi 1x24 jam rasa nyeri - Jelaskan pada klien tentang
sekunder pada berkurang atau hilang, gejala dini spasmus kandung
TURP. dengan Kriteria Hasil: kemih
 klien mengatak an - Pemantauan klien pada
nyeri berkurang / interval yang teratur selama
hilang ekspresi wajah 48 jam, untuk mengenal
klien tenang gejala-gejala dini dari
 tanda-tanda vital spasmus kandung kemih.
dalam batas normal - Kurangi faktor presipitasi
nyeri.
- Ajarkan teknik non
farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi
nyeri.
- Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
2. Perubahan pola NOC NIC:
eliminasi urine:  Urinary elimination Urinary Retention Care
retensi urin  Urinary continence - Monitor intake dan output
berhubungan dengan Kriteria Hasil : - Monitor penggunaan obat
obstruksi sekunder. - Kandung kemih antikolionergik
kosong secara penuh. - Monitor derajat distensi
- Tidak ada residu urin bladder
> 100-200 cc - Instruksikan pada pasien dan
- Bebas dari ISK keluarga untuk mencatat
- Tidak ada spasme output urine
bladder - Sediakan privacy untuk
- Balance cairan eliminasi
seimbang - Stimulasi refleks bladder
dengan kompres dingin pada
abdomen
- Katerisasi jika perlu
- Monitor tanda dan gejala ISK
(panas,hematuria, perubahan
bau dan konsistensi urine)
output cairan.
3. Resiko terjadinya NOC : NIC :
infeksi berhubungan  Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
dengan masuknya  Knowledge :  Batasi pengunjung bila perlu
mikroorganisme Infection control
 Cuci tangan setiap sebelum
melalui kateterisasi,  Risk control
dan sesudah tindakan
dan jaringan Kriteria Hasil:
keperawatan
terbuka.  Klien bebas dari tanda
 Gunakan baju, sarung tangan
dan gejala infeksi
sebagai alat pelindung
 Menunjukkan
kemampuan untuk
 Ganti letak IV perifer dan
dressing sesuai dengan
mencegah timbulnya
petunjuk umum
infeksi
 Jumlah leukosit dalam  Gunakan kateter intermiten
batas normal untuk menurunkan infeksi

 Menunjukkan perilaku kandung kencing

hidup sehat  Tingkatkan intake nutrisi


 Status imun,  Berikan terapi antibiotik
gastrointestinal,
 Monitor tanda dan gejala
genitourinaria dalam
infeksi sistemik dan lokal
batas normal
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Monitor adanya luka
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
4. Cemas berhubungan NOC : NIC :
dengan kurang - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
informasi mengenai - Koping kecemasan)
proses penyakit dan Kriteria hasil: - Gunakan pendekatan yang
pengobatanya - Klien mampu menenangkan
mengidentifikasi dan - Nyatakan dengan jelas
mengungkapkan harapan terhadap pelaku
gejala cemas pasien
- Mengidentifikasi, - Jelaskan semua prosedur dan
mengungkapkan dan apa yang dirasakan selama
menunjukkan tehnik prosedur
untuk mengontol - Temani pasien untuk
cemas memberikan keamanan dan
- Vital sign dalam batas mengurangi takut
normal - Berikan informasi faktual
- Postur tubuh, ekspresi mengenai diagnosis, tindakan
wajah, bahasa tubuh prognosis
dan tingkat aktivitas - Libatkan keluarga untuk
menunjukkan mendampingi klien
berkurangnya - Instruksikan pada pasien
kecemasan untuk menggunakan tehnik
relaksasi
- Dengarkan dengan penuh
perhatian
- Identifikasi tingkat
kecemasan
- Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
- Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.S UMUR 60 TAHUN DENGAN
POST OPERASI BENIGNE PROSTAT HYPERPLASIA DI RUANG ICU
RSUD M.YUNUS
 
Tgl masuk : 20 - 11 -2010
Tgl pengkajian : 23 – 11 -2010
No. RM : 24 33 90
Ruangan : ICU
Dx. Medis : POST OP BPH

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Nama : Tn. S Penanggung jawab.:
Umur : 60 tahun Nama : Ny. A
Jenis kelamin : Laki – laki  Umur : 59 tahun
Agama : Islam  Jenis kelamin : Perempuan 
Pekerjaan : Swasta Hub. Dengan klien : Istri
Alamat : Pasar Tais
Seluma

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Klien mengeluh susah buang air kecil (BAK)
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien masuk ke rumah sakit M.Yunus Bengkulu, pada tanggal
20 – 11 – 2010Dengan keluhan susah BAK. Pada saat di lakukan
pengkajian pada tanggal 23 - 11 – 2010 Klien telah di lakukan operasi
tampak lemah terbaring di tempat tidur, tampak gelisah, dengan nilai
GCS (E = 4, V = 5, M = 6).

22
23
Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala
nyeri 3, seperti tertusuk – tusuk, klien mengatakan nyeri sedikit
berkurang, bila posisi tubuh nya terlentang, klien terpasang kateter,
terpasang infus pada tangan sebelah kiri dengan RL %20 tetes /menit,
terpasang alat monitor.
TTV     : TD : 150/80 mmHg        RR : 21 x/i
N : 84 x/I S : 36,9oC

c. Riwayat Kesehatan Dahulu


Klien mengatakan sudah mengalami susah BAK lebih kurang 2
minggu sebelum dilakukan operasi. Klien mengatakan pada saat ia
ingin BAK lama dan kencing yang dikeluar kan sedikit – sedikit, serta
terasa perih. Klien mengatakan dulu ia pernah merokok selama +/- 20
tahun. Namun, semenjak sakit klien berhenti merokok. sebelum di
operasi klien di rawat di ruangan seruni. Serta klien memiliki riwayat
hipertensi

d. Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga klien mengatakan anggota keluarganyatidak ada yang
mengalami penyakit seperti klien pada saat ini ataupun penyakit
menular lain nya.

3. Kebiasaan Sehari – hari


No Kebiasaan Sehari-Hari Dirumah DiRs
1. Nutrisi :
 Makan
Frekuensi  2 – 3 x /hari 3 x /hari
Jenis makanan Nasi, lauk pauk, sayuran Makanan cair
 Minum
Frekuensi  8 – 9 gelas/hari 3 x/hari (150 cc)
Jenis minum Air putih Air putih
2. Eliminasi :
 BAB
Frekuensi 1 x/hari 1 x/hari

Warna Kuning Kuning

Konsistensi Lembek Lembek

Bau Khas Khas

 BAK
2 – 3 x/hari Terpasang kateter
Frekuensi
Kuning kemerahan Kuning kemerahan
Warna
Khas Sedikit amis
Bau
50 – 100 cc/hari Tidak terukur
Jumlah 
3. Istirahat tidur :
Kebiasaan tidur 6 – 7 jam/hari 4 – 5 jam/hari
Gangguan tidur - Ya
Memakai selimut + Ya Selimut (ya), bantal (tidak)
bantal
4. Personal hygiene:
Mandi 2 x/hari Di lap
Cuci rambut 2 x/minggu -
5 Aktifitas  Klien dapat beraktifitas Klien hanya melakukan
secara mandiri  aktifitas hanya di tempat
tidur dan di bantu oleh
keluarga atau perawat 

4. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum : lemah
b) Kesadaran : compos mentis
c) TTV :
TD : 150/80 mmHg P : 21 x/menit
N : 84 x/menit S : 36,9 oC

25
d) Kepala
Inspeksi : distribusi rambut baik, bentuk kepala simetris
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
e) Mata
Inspeksi : anemis, skelera an ikterik, bentuk simetris.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
f) Hidung 
Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada pernapasan cuping hidung.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
g) Telinga
Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada pengeluaran 
Palpasi : tidak ada lesi dan pembengkakan
h) Mulut
Inspeksi : bentuk simetris, sianosis ( - ), kering.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
i) Leher
Inspeksi : bentuk simetris, pembengkakan vena jugularis ( - )
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
j) Toraks     
Inspeksi : bentuk simetris tidak ada lesi warna sama dengan
sekitarnya
Palpasi : Pergerakan dinding dada sama
Perkusi : Bunyi paru resonan
Alkultasi: Bunyi paru vesikuler
k) Abdomen
Inspeksi : ada penonjolan pada daerah supra pubik terpasang selang
drainase di sebalah kanan abdomen
Akultasi : bising usus 16x/ menit,
Palpasi : ada nyeri tekan pada supra pubik
Perkusi : tympani

26
l) Genetalia
Inspeksi : terpasang kateter spool blasé
Palpasi : adanya nyeri tekan
m) Ekstremitas
- Atas
Inspeksi : simetris, tidak ada pembengkakan dan terpasang
Infus RL 20 tts/m
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
- Bawah
Inspeksi    : simetris, tidak ada pembengkakan
Palpasi        : tidak ada nyeri tekan

5. Data Psikologi
Klien dan keluarga bisa di ajak bekerja sama dengan baik dalam proses
keperawatan
6. Data Sosial
Hubungan keluarga dan klien baek, terlihat dari istri dan anak – anak
klien, yang selalu menunggu klien.
7. Data spiritual
Klien beragama islam, klien dan keluarga selalu berdoa untuk
kesembuhan klien.
8. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Hb    : 15,3 mg/dl        (13,4 mg/dl)
Leukosit : 10.000        (4000-10.000)
BSN : 98 mg/dl        ( 140 mg/dl)
BUN : 21 mg/dl        (10 – 20)
Serum Creatinin : 0,7 mg/dl        (0,6 – 1,3)
Kalium : 4 mmol/l        (3,5 – 5,2 mmol/l)
Natrium : 140 mmol/l    (135 – 146 mmol/l)
Albumin : 3,4 gr/dl        (3,2 – 3,5 gr/dl)
27
SGOT : 21 U/L
SGPT : 12 U/L
Bilirubin Direk : 0,14
Bilirubin Total : 0,32

9. Terapi
Cefotaxime    2 x 1 (1gr)
Transamin        2 x 1 ampul (IV)
Remopain        2 x 1 ampul (Drip)

B. ANALISA DATA
Nama :Tn.S Umur : 60 Th
No.Rm : 24 33 90 Ruangan : ICU
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS : Prostatektomi Nyeri
- Klien mengatakan
nyeri pada bagian Insisi luka
yang dioperasi
DO : Peradangan
- Klien tampak
meringis Serotanin
- Ekrpresi tampak
gelisah Tachikardi
- Skala nyeri 3
- TD 150/80 mmhg Merangsang
- S 36,9 oc neuroeseptor
- Klien banyak
keringat Kompensasi

Hipotalamus

Nyeri
2. DS : Nyeri Gangguan pemenuhan
- Klien mengatakan kebutuhan istirahat
susah tidur RAS tidur
DO :
- Klien tampak gelisah Terjaga
- Klien tampak lemah
- Klien tidur ± 4-5
jam/hari 
- TTV :
TD: 150/80 mmHg
N: 84 x/m
P: 21 x/m
S: 36,9 OC
3. DS : Prostatektomi Gangguan Aktivitas
- klien mengatakan
susah bergerak di Pemasangan
tempat tidur kateterisasi
DO :
- klien tampak lemah Kesulitan untuk
- Klien tampak dibantu bergerak
oleh keluarga dan
perawat setiap Gangguan aktivitas
melakukan aktivitas

 
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur pembedahan
(prostatektomi)dan kateterisasi.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan
nyeri
c. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan tubuh

29
D. INTERVENSI
NO DIAGNOSA TUJUAN &KRITERIA INTERVENSI
HASIL
1. Nyeri akut Setelah dilakukan NIC:
berhubungan tindakan keperawatan - Kaji skala nyeri.
dengan prosedur 1x24 jam rasa nyeri - Jelaskan pada klien
pembedahan berkurang atau hilang, tentang gejala dini
(prostatektomi)dan dengan Kriteria Hasil: spasmus kandung
kateterisasi.  klien mengatakan nyeri kemih
berkurang / hilang - Pemantauan klien
ekspresi wajah klien pada interval yang
tenang teratur selama 48
 tanda-tanda vital dalam jam, untuk
batas normal mengenal gejala-
gejala dini dari
spasmus kandung
kemih.
- Kurangi faktor
presipitasi nyeri.
- Ajarkan teknik non
farmakologis
(relaksasi, distraksi
dll) untuk
mengetasi nyeri.
- Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri.
2. Gangguan NOC: NIC:
pemenuhan  Anxiety Control  Lakukan
kebutuhan istirahat  Comfort Level pengkajian
tidur berhubungan  Pain Level gangguan tidur
dengan nyeri  Rest : Extent and pasien

Pattern  Bantu klien

 Sleep : Extent ang mencari posisi

Pattern yang nyaman di


Kriteria hasil: tempat tidur.
 Jumlah jam tidur  Berikan
dalam batas normal lingkungan yang
 Pola tidur,kualitas aman dan nyaman
dalam batas normal  Kolaborasi
 Perasaan fresh sesudah pemberian obat
tidur/istirahat analgetik dan
 Mampu antibiotic
mengidentifikasi hal-
hal yang
meningkatkan tidur
3. Gangguan Aktivitas Setelah dilakukan  Evaluasi respon
berhubungan tindakan 3x24 jam pasien terhadap
dengan kelemahan diharapkan intoleran aktifitas.
tubuh aktivitas dengan kriteria  Berikan nutrisi
hasil : yang adekuat.
- Pasien mengatakan  Berikan dorongan
bisa beraktivitas untuk melakukan
secara mandiri dan aktifitas/
secara perlahan perawatan diri
- Pasien biisa bertahap jika dapat
melakukan secara ditoleransi.
mandiri  Berikan bantuan
sesuai kebutuhan. 
 Lakukan rom pasif

31
E. IMPLEMENTASI
NO DIAGNOSA IMPLEMENTASI CATATAN
PERKEMBANGAN
1. Nyeri akut - Mengkaji nyeri S : Klien mengatakan
berhubungan pasien masih merasa nyeri
dengan prosedur - Mengevaluasi O: Skala nyeri:
pembedahan respon pasien P : prostatektomi
(prostatektomi)dan terhadap aktifitas Q : nyeri tajam, kuat
kateterisasi. - Berkolaborasi dalam R : bagian
pemberian obat suprapubis
antibiotic dan S : skala nyeri 4
analgetik : T : waktu
Cefotaxin 2X1 gr menggerakan tubuh 
Remopain 2X1 amp  A : Masalah belum
- Melakukan teratasi
perawatan luka post P : Lanjutkan intervensi 
operasi
2. Gangguan - Melakukan S:
pemenuhan pengkajian - Klien mengatakan
kebutuhan istirahat gangguan tidur tidurnya sudah
tidur berhubungan pasien nyaman
dengan nyeri - Membantu klien - Klien mengatakan
membuat posisi sudah banyak
yang nyaman istirahat
ditempat tidur  O:
- Memberikan - Klien tidak gelisah
lingkungan yang lagi
aman dan nyaman - Klien masih tampak
lemah
A : Masalah teratasi
sebagian
P : Intervensi tetap
dilanjutkan 
3. Gangguan Aktivitas - Mengevaluasi S : Klien mengatakan
berhubungan hanya bisa bergerak
respon klian
dengan kelemahan terhadap aktifitas ditempat tidur
tubuh - Memberikan klien O : Klien masih tampak
lemah
makanan yang
Aktivitas klien
mengandung banyak
masih dibantu oleh
energy
keluarga dan
o Roti yang
perawat
lembut
A : Masalah belum
o Susu 
teratasi
 Memberikan
P : Lanjutkan
dorongan untuk
intervensi 
melakukan aktifitas/
perawatan diri
bertahap jika dapat
ditoleransi.
 Memberikan
bantuan sesuai
kebutuhan. 
 Melakukan rom
pasif
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Prostat merupakan sebuah kelenjar fibromuskular yang
mengelilingi urethra pars prostatica. Semakin tua laki-laki tersebut, memiliki
potensi untuk terkena pembesaran prostat atau benign prostat hyperplasia (BPH).
Pembesaran akan menyebabkan komplikasi refluks, hidroureter, hidronefrosis,
gagal ginjal dan pionefrosis pilonefritis. Biasanya penanganan pasti pada BPH
adalah pembedahan dengan cara TURP, TUIP dan prostatektomi terbuka.

B. SARAN
Lebih teliti dalam pengkajian dan analisa data, karena yang menjadi acuan
dalam menentukan diagnosa Keperawatan adalah analisa data sebelum
menentukan rencana tindakannya.

33
DAFTAR PUSTAKA

- Smeltzer, S.C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &


Suddarth, Vol 2,  EGC, Jakarta

- Nursalam & Fransisca. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan


Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika

- Departemen Kesehatan RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:


Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

- Saku Diagnosa Keperawatan: diagnosa NANDA, intervensi NIC, kriteria


hasil NOC. Edisi 9 . Jakarta : EGC

34