Anda di halaman 1dari 14

TEKS HIKAYAT

Oleh: Ahmad Badarudin, S.Pd.

A.

Pengertian Hikayat
Hikayat merupakan salah satu karya sastra lama yang memiliki bentuk prosa yang
didalamnya mengisahkan mengenai kehidupan dari keluarga istana, kaum bangsawan atau pun juga
orang-orang ternama dengan segala kegagahan, kehebatan, kesaktian ataupun juga
kepahlawanannya. Selain dari itu, dalam hikayat tersebut juga diceritakan mengenai kekuatan,
mukjizat dan semua tentang keanehannya.
Dalam Karya Sastra Melayu Riau (2017) yang ditulis oleh Fitria Rosa, Neni Hermita dan
Achmad Samsudin, hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah, artinya kisah, cerita, atau dongeng.
Dalam sastra Melayu lama, pengertian hikayat adalah cerita rekaan berbentuk prosa panjang
berbahasa Melayu, yang menceritakan tentang kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan
segala kesaktian dan keanehan yang dimiliki.
Menurut KBBI, hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita,
undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat
itu.
Menurut Ali dan Alwi (1995) dalam Kemal (2014), mengatakan bahwa hikayat secara umum
merupakan cerita sejarah atau sebuah bentuk dari kesusastraan Melayu Aceh.
Hikayat biasanya dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk
meramaikan pesta. Orang ternama yang menjadi tokoh dalam hikayat biasanya raja, putera-puteri
raja, orang-orang suci, dan sebagainya. Contoh hikayat adalah antara lain:
 Hikayat Hang Tuah
 Hikayat Perang Palembang
1
 Hikayat Seribu Satu Malam
 Hikayat Nabi Sulaiman
 Hikayat Bayan Budiman
 Hikayat Bunga dan lain-lain.

B. Karakteristik Hikayat
Berikut ini, ada beberapa ciri-ciri dari sebuah hikayat, diantaranya yaitu:

a) Bahasa
Bahasa yang dipakai pada hikayat tersebut merupakan bahasa Melayu Lama.

b) Istana Sentries
Pusat ceritanya itu ada didalam lingkungan istana, dan hikayat tersebut sering sekali
bertema dan berlatar kerajaan.
Hal tersebut bisa dibuktikan dengan tokoh yang diceritakan yaitu Raja dan Pangeran
(anak raja).
Selain itu, latar tempat dalam cerita ini yaitu negeri yang dipimpin oleh raja dalam
suatu kerajaan.

c) Pralogis (Kemustahilan)
Banyak cerita yang ada pada hikayat gak bisa buat diterima oleh akal pikiran kita.
Kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa atau dari segi cerita. Kemustahilan ini
berarti hal yang tidak logis atau juga gak bisa diterima nalar.
Contohnya: Seperti bayi lahir disertai pedang dan panah, seorang putri keluar dari
gendang.

d) Bersifat Statis dan Komunal


Didalam Hikayat tersebut mempunyai sifat yang kaku dan juga tetap. Sedangkan,
bersifat komunal artinya adalah menjadi milik masyarakat.

e) Kesaktian
Pasti kamu sering sekali menemukan kesaktian pada para tokoh dalam sebuah cerita
hikayat.
Contohnya: Syah Peri mengalahkan Garuda yang mampu merusak sebuah kerajaan,
Raksasa memberi sarung kesaktian buat mengubah wujud dan kuda hijau.

f) Anonim
Anonim tersebut berarti tidak diketahui dengan secara jelas nama pencerita atau
pengarang.
Hal tersebut disebabkan karena, cerita yang disampaikan itu secara lisan. Artinya,
tidak jelas siapa yang membuat atau mengarang hikayat tersebut. Bahkan, dahulu masyarakat
mempercayai bahwa cerita yang disampaikan adalah nyata dan tidak ada yang sengaja
mengarang.

g) Arkais
Menggunakan kata arkhais, bahasa yang dipakai pada masa lampau. Jarang dipakai
atau gak lazim dipakai dalam komunikasi pada masa kini.
Contohnya: Hatta, maka, titah, upeti, bejana, syahdan, dan juga sebermula.

h) Bersifat Tradisional dan Didaktis


Hikayat bersifat tradisional atau meneruskan budaya, tradisi, kebiasaan yang dianggap
baik.
2
Sedangkan, bersifat didaktis atau mendidik baik didaktis secara moral atau didaktis
secara religi.

i) Menggunakan Bahasa Klise


Pada hal ini, di dalam sebuah hikayat menggunakan bahasa yang diulang-ulang.

Adapun ciri-ciri hikayat menurut Zainuddin (1992:103), yakni:


1) Isi cerita mengenai kerajaan (istana sentris) yaitu kebesaran dan kegagalan keluarga kerajaan.
2) Isi cerita mengenai alam khayal dan fantasi.
3) Dipengaruhi kesusastraan Arab dan Hindu.
4) Bersifat anonim.

Sedangkan menurut Aminudin (2008:27) ciri-ciri hikayat, yakni:


1) Isi cerita yang berkisar pada tokoh-tokoh raja dan keluarganya (istana sentris).
2) Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum,
ada juga yang menyebutnya fantastis.
3) Menggunakan banya bahasa kiasan (klise), misalnya hatta, syadan, sahibul hikayat, menurut
empunya cerita, konon, dan tersebutlah perkataan.
4) Nama pengarang biasanya tidak disebutkan (bersifat anonim).

C. Jenis-Jenis Hikayat
Macam jenis hikayat ini dibedakan menjadi 2 yanki Hikayat berdasarkan Isinya dan Hikayat
berdasarkan asalnya, penjelasannya sebagai berikut :
1) Jenis Hikayat berdasarkan Isinya
Dengan berdasarkan isinya hikayat tersebut terbagi ke dalam :
1. Cerita Rakyat
2. Epos India
3. Cerita dari Jawa
4. Cerita-cerita Islam
5. Sejarah dan Biografi
6. Cerita berbingkat
2) Jenis Hikayat Berdasarkan Asalnya
Dengan berdasarkan asalnya, hikayat ini dibagi sebagai berikut:
1. Melayu Asli
Contoh Hikayat Melayu Asli, diantaranya yaitu:
1. Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
2. Hikayat Si Miskin (bercampur unsur islam)
3. Hikayat Indera Bangsawan
4. Hikayat Malim Deman
2. Pengaruh Jawa
Contoh untuk Hikayat yang memiliki pengaruh Jawa, diantaranya sebagai berikut:
1. Hikayat Panji Semirang
2. Hikayat Cekel Weneng Pati
3. Hikayat Indera Jaya (dari cerita Anglingdarma)
3. Pengaruh Hindu (India)
Contoh dari Hikayat pengaruh India, diantaranya adalah:
1. Hikayat Sri Rama (dari cerita Ramayana)
2. Hikayat Perang Pandhawa (dari cerita Mahabarata)

3
3. Hikayat Sang Boma (dari cerita Mahabarata)
4. Hikayat Bayan Budiman
4. Pengaruh Arab-Persia
Contoh dari Hikayat Pengaruh Arab-Persia, diantaranya sebagai berikut:
1. Hikayat Amir Hamzah (Pahlawan Islam)
2. Hikayat Bachtiar
3. Hikayat Seribu Satu Malam

D. Struktur Hikayat

1. Abstraksi
Merupakan ringkasan ataupun inti dari cerita yang akan dikembangkan menjadi rangkaian-
rangkaian peristiwa atau bisa juga gambaran awal dalam cerita. Abstrak bersifat opsional yang
artinya sebuah teks hikayat boleh tidak memakai abstrak.
2. Orientasi
Adalah bagian teks yang berkaitan dengan waktu, suasana, maupun tempat yang berkaitan
dengan hikayat tersebut.
3. Komplikasi
Berisi urutan kejadian-kejadian yang dihubungkan secara sebab dan akibat. Pada bagian ini
kita bisa mendapatkan karakter ataupun watak dari tokoh cerita sebab kerumitan mulai bermunculan.
4. Evaluasi
Konflik yang terjadi yang mengarah pada klimaks mulai mendapatkan penyelesaiannya dari
konflik tersebut.
5. Resolusi
Pada bagian ini si pengarang mengungkapkan solusi terhadap permasalahan yang dialami
tokoh atau pelaku.
6. Koda
Ini merupakan nilai ataupun pelajaran yang dapat diambil dari suatu teks cerita oleh
pembacanya.

4
E. Kaidah Kebahasaan
Dari segi kebahasaan hikayat mempunyai kekhasan yaitu menggunakan bahasa Melayu klasik. Ciri
bahasa yang dominan dalam hikayat adalah ditandai dengan:
 Penggunaan banyak konjungsi (kata penghubung) pada setiap awal kalimat seperti maka,
ketika.
Konjungsi yang digunakan dalam hikayat menggunakan konjungsi yang menyatakan
urutan waktu dan kejadian dalam menceritakan peristiwa atau alur. Contoh: “Pada... Sebelum...
Lalu...”, “Ketika... Selanjutnya...”

 Penggunaan kata-kata arkais, yaitu kata-kata yang sudah jarang digunakan atau bahkan asing
karena hikayat lebih tua dari negara Indonesia, contoh beroleh, titah, buluh, mahligai, inang,
upeti, bejana.
 Gaya Bahasa (Majas)
Penggunaan gaya bahasa (majas) dalam hikayat berfungsi untuk membuat cerita lebih menarik
jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada beberapa gaya bahasa
(majas) yang sering digunakan dalam hikayat yaitu:
1) Antonomasia
Antonomasia adalah penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, gelar
resmi, dan jabatan. Contoh: Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
2) Metafora
Metafora adalah analogi yang membandingkandua hal secara langsung, tetapi
dalam bentuk yang singkat. Contoh: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata,
dan sebagainya.
3) Hiperbola
Hiperbola merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang
berlebihan. Contoh: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak aku.
4) Perbandingan atau Simile
Perbandingan atau Simile adalah gaya bahasa (majas) yang membandingkan suatu
hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Contoh:
seperti, laksana, bak dan bagaikan.

F. Unsur-Unsur Hikayat

Unsur-unsur hikayat itu terdiri dari unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam
hikayat merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam. Sedangkan, pada unsur ekstrinsik
merupakan suatu unsur yang membangun cerita tersebut dari luar.

 Unsur Intrinsik Hikayat


Dibawah ini merupakan unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah hikayat, diantaranya yaitu:

1. Tema, merupakan suatu gagasan yang mendasari sebuah cerita.


2. Latar, adalah tempat, waktu, serta situasi/suasana yang tergambar dalam suatu cerita.
3. Alur, merupakan sebuah jalinan peristiwa dalam sebuah cerita.
4. Amanat, merupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh pengarang dengan melalui sebuah
cerita.

5
5. Tokoh, merupakan pemeran pada cerita. Penokohan merupakan penggambaran watak dari sang
tokoh.
6. Sudut pandang, merupakan pusat pengisahan darimana sebuah cerita dikisahkan oleh pencerita.
7. Gaya, untuk gaya ini berhubungan dengan bagaimana cara penulis menyajikan sebuah cerita
dengan menggunakan bahasa serta juga unsur-unsur keindahan lainnya.

 Unsur Ekstrinsik Hikayat


Unsur ekstrinsik pada hikayat ini biasanya berhubungan dengan latar belakang (background)
cerita, contohnya seperti latar belakang agama, adat, budaya serta lain sebagainya.
Unsur ekstrinsik ini juga berkaitan dengan nilai/norma kehidupan dalam cerita, contohnya
ialah seperti nilai moral, nilai agama, nilai budaya, nilai sosial,  dan lain sebagainya.

G. Nilai-Nilai Kehidupan Hikayat


Perhatikan Contoh Hikayat Berikut!

HIKAYAT INDERA BANGSAWAN


Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial.
Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh
orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri
Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah
dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua
Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi
mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih,
hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu
senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang
patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun
mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang
pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya,
ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi
mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba
keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup.
Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap
gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah.
Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari.Tersebut pula perkataan Syah Peri yang
sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah
Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya.
Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik
ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya.
Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan
ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu.
Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya
ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah
perkakas dan dayangdayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala
Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan
Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya.
Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang
yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa.
Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri
Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir.

6
Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala
Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya
bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan
dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri
Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang
beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang
dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.”
Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi
susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu.
Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala.
Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu
harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan
diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang Sembilan
orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati
yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan
susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu, Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau
dari raksasa (neneknya) dan menunjukkannya kepada raja.
Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan
Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah
Tuan Puteri sembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa,
raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya
upaya.
Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada
sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubbah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek
Raksasa mengajari Indera Bangsawan. Indera Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil
jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat
Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman
pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu
meneguk habis air minum dalam gentong.
Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan
mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-
daunan dalam air minumnya.
Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut
Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa
sebagai jubah Buraksa.
Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata
Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang.
Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat
buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya.
Sumber: Buku Kesusastraan Melayu Klasik

Hikayat banyak memiliki nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan tersebut dapat berupa nilai
religius (agama), moral, budaya, sosial, edukasi (pendidikan), dan estetika (keindahan). Perhatikan
contoh analisis nilai yang terdapat dalam Hikayat Indera Bangsawan berikut!

Nilai Konsep Nilai Kutipan Teks

Agama Memohon kepada Tuhan Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang
dengan berdoa dan membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir
bersedekah agar dan miskin.
dimudahkan urusannya.

7
Pasrah kepada Tuhan Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah
setelah berusaha. Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-
kuatnya

Sosial Tidak melihat perbedaan Si Kembar menolak dengan mengatakan bahwa


status sosial. dia adalah hamba yang hina. Tetapi, tuan puteri
menerimanya dengan senang hati.

Membantu orang orang Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-


yang berada dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu
dibunuhnya.
dalam posisi kesulitan

Budaya Raja ditunjuk berdasarkan Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa
keturunan dan yang patut dirayakan dalam negeri karena
raja yang memiliki putra anaknya kedua orang itu sama-sama gagah.
lebih dari satu selalu Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia
mencari tahu siapa yang menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia
paling gagah dan pantas bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang
menjadi penggantinya. berkata kepadanya: barang siapa yang dapat
Mencari jodoh putrinya mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah
dengan cara mengadakan yang patut menjadi raja di dalam negeri.
sayembara atau Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa
semacamPerlombaan dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala
untuk menunjukkan yang Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri
terkuat dan terhebat. itu akan dibinasakan oleh Buraksa.
Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah
mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat
membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan
anak perempuannya yang terlalu elok
parasnya itu.“Barang siapa yang dapat susu
harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi
suami tuan puteri.”

Moral Tidak mau bekerja keras Hatta datanglah kesembilan orang anak raja
untuk mendapatkanmeminta susu kambing yang disangkanya susu
sesuatu. harimau beranak muda itu.
Memperdaya orang yang Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan
tidak berusaha. dijual dan hanya akan diberikan kepada orang
yang menyediakan pahanya diselit besi hangat.
Edukasi Kewajiban belajar ilmu Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun
agama sejak  usia kecil. sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi
mengaji kepada Mualim Sufan. Sesudah tahu
mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul,
fkih, hingga saraf, tafsir sekaliannya
diketahuinya.

H. Perbedaan dan Persamaan Hikayat dengan Cerpen


a. Perbedaan Hikayat dengan Cerpen
Hikayat dan cerpen merupakan dua diantara jenis-jenis prosa selain jenis-jenis
novel, macam-macam dongeng, jenis-jenis roman, jenis-jenis drama, dan juga jenis-jenis esai.
Selain itu, kedua prosa tersebut juga termasuk ke dalam jenis-jenis karangan non ilmiah. Hikayat

8
dan cerpen sendiri masing-masing mempunyai ciri khas yang membuat keduanya berbeda satu
sama lain. Pada artikel kali ini, kita akan membahas perbedaan diantara keduanya, di mana
pembahasan tersebut akan dimulai dari penjelasan definisi dan ciri-ciri keduanya terlebih
dahulu. Adapun pembahasan tersebut adalah sebagai berikut!
1. Hikayat
Hikayat merupakan suatu prosa yang menceritakan berisi keajaiban tokoh atau peristiwa
yang bersifat fiktif dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utamanya. Hikayat sendiri
mempunyai sejumlah ciri, dimana ciri-ciri tersebut adalah:
 Nama pengarang tidak diketahui atau anonim.
 Ceritanya cenderung berlatar tempat kehidupan istana.
 Mengandung nilai-nilai tradisional di dalamnya.
 Tokoh yang di dalamnya bisa satu orang atau lebih.
 Menggunakan pengulangan kata atau bahasa.
 Bersifat fiktif atau khayalan.
 Umumnya berkisah tentang kebaikan melawan kejahatan.
 Menggunakan bahasa Melayu.
 Jumlah kata tidak dibatasi.
 Merupakan karya sastra lama.
2. Cerpen
Cerpen atau cerita pendek merupakan suatu prosa yang menceritakan suatu tokoh dan
juga suatu peristiwa secara khusus. Biasanya, jumlah kata yang terkandung pada cerpen adalah
sekitar 5.000-10.000 kata. Seperti halnya hikayat, cerpen pun juga mempunyai sejumlah ciri,
yaitu:
 Adanya nama pengarang yang tercantum di dalamnya. (Biasanya diletakkan di bawah
judul cerpen)
 Latar tempatnya berkisar pada lingkungan di sekitar.
 Nilai-nilai yang dikandungnya beragam.
 Kisah yang diceritakan lebih variatif, bisa berkisah tentang kebaikan melawan
kejahatan, bisa berkisah tentang keresahan seorang manusia, dan lain semacamnya.
 Menggunakan bahasa Indonesia.
 Merupakan karya sastra modern.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka kita dapat mengetahui di mana letak perbedaan
antara hikayat dan cerpen. Adapun perbedaan tersebut antara lain:
1. Waktu Dimana Sastra Itu Berkembang dan Bahasa yang Digunakannya
Hikayat merupakan sastra lama yang lahir dan berkembang di era melayu kuno,
sehingga tidak heran jika bahasa yang digunakannya merupakan bahasa Melayu kuno. Untuk
bisa membaca isi karya sastra ini, kita mesti menerjemahkan terlebih dahulu bahasa Melayu
tersebut. Sementara itu, cerpen merupakan karya sastra yang lahir dan berkembang di era
modern, sehingga bahasa yang digunakannya pun juga merupakan bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa utama bangsa Indonesia di era modern.

2. Nama Pengarang
Dalam hikayat, nama si pengarang tidak diketahui atau ananom, sehingga hikayat
sering dianggap sebagai karya bersama atau karya milik warga sekitar. Sementara itu, nama
pengarang cerpen bisa kita ketahui dengan mudah karena nama pengarang sering tercantum
di bawah judul cerpen.
9
3. Jumlah Kata dan Latar Tempatnya
Jumlah kata pada hikayat cenderung bervariatif, bisa 5.000, 7.000, dan sebagainya.
Adapun latar tempat yang dipakai hikayat biasanya hanya berkisar pada lingkungan atau
kehidupan istana. Sementara itu, jumlah kata dalam cerpen biasanya dibatasi sekitar 5.000
atau 10.000 kata meskipun pada perkembangannya, jumlah kata tersebut bisa bertambah atau
berkurang. Latar tempat yang digunakan cerpen iasanya berupa tempat atau lingkungan di
kehidupan sehari-hari manusia. Meskipun begitu, cerpen juga bisa mengambil latar tempat
selain yang disebutkan.

4. Tokoh dan Kisah yang Terkandung di Dalamnya


Tokoh yang terkandung di dalam hikayat biasanya bervariatif, entah itu satu orang
ataupun bisalebih dari itu. Adapun kisah yang terkandung di dalam hikayat biasanya hanya
berkisah tentang kebaikan melawan kejahatan. Sementara itu, tokoh yang ada di dalam
cerpen umumnya hanya berjumlah satu orang saja. Kalaupun ada tokoh selain itu, biasanya
hanya sebagai tokoh pendukung dari tokoh utama saja. Kisah yang dikandung dalam cerpen
bisa bervariatif, entah itu tentag kehidupan sehari-hari, kegelisahan manusia, petualangan,
dan sebagainya.

b. Persamaan Hikayat dengan Cerpen


Persamaan hikayat dan cerpen adalah antara lain:
 Sama-sama teks narasi fiksi.
 Mempunyai unsur intrinsik yang sama, yaitu tema, tokoh dan penokohan, sudut pandang,
latar, gaya bahasa, dan alur.
 Penggunaan gaya bahasa (majas) dan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan urutan
kejadian.

I. Analisis Struktur Hikayat


Baca, Pahami, dan Perhatikan Contoh Hikayat Berikut!
HIKAYAT PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG

Hatta maka berapa lamanya Masyuhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-
tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka
sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada dapat perahu
itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang.
Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu
baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka
pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, “Apa upayaku hendak menyeberang
sungai ini?”
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, “ Hai
tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang;
sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua
bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah,
dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya
juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, “Tuan hamba

10
seberangkan apalah hamba kedua ini.” Maka kata Bedawi itu, “Sebagaimana hamba hendak bawa
tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam.”
Maka kata orang tua itu kepada istrinya, ”Pergilah diri dahulu.” Setelah itu maka turunlah
perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, ”Berilah
barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka diberi oleh perempuan
itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh
Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si Bungkuk air itu
dalam.
Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu,
”Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang
tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba,
hamba ambil, hamba jadikan istri hamba.” Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.
Maka kata perempuan itu kepadanya,”Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.” Maka
apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka
makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang
tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu. Kalakian maka heranlah orang tua
itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya.
Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-
kata dalam hatinya, ”Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.” Setelah itu
maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu airnya tiada
dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutinya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu
maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu. Maka orang tua itu pun datanglah
mengadu kepada Masyhudulhakk.
Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa perempuan ini?” Maka kata
Bedawi itu, ”Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar
dinikahkan dengan hamba.” Maka kata orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.”
Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu.
Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga.
Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, ”Berkata benarlah engkau, siapa suamimu
antara dua orang laki-laki ini?” Maka kata perempuan celaka itu, ”Si Panjang inilah suami hamba.”
Maka pikirlah Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan
siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.
Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh
Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka kata
Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu
perempuan dan di mana tempat duduknya?” Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka
disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan.
Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Berkata benarlah
engkau ini. Sungguhkan perempuan itu istrimu?” Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan itu
telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan gamba ini
tentulah suaminya.” Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, ”Jika sungguh
istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana
kampung tempat ia duduk?” Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu.
Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka
dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua, sungguhlah perempuan

11
itu istrimu sebenar-benarnya?” Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula awalnya.” Kemudian maka
dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana templat duduknya. Maka
Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran
orang tua itu.
Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan
Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi
itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu. Maka bertambah-tambah masyhurlah arif
bijaksana Masyhudulhakk itu.

Sumber: https://pendidikan.co.id/hikayat/

Analisis Strukturnya :

Struktur Teks Hikayat Bukti Kutipan Teks


1) Abstraksi Hatta maka berapa lamanya Masyuhudulhakk pun
besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya
merupakan ringkasan ataupun inti dan akalnya itu.
dari cerita yang akan
dikembangkan menjadi
rangkaian-rangkaian peristiwa
atau bisa juga gambaran awal
dalam cerita. Abstrak bersifat
opsional yang artinya sebuah teks
cerpen boleh tidak memakai
abstrak.

2) Orientasi Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri


berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka
adalah yang berkaitan dengan dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada dapat
waktu, suasana, maupun tempat perahu itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu
yang berkaitan dengan cerpen berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang.
tersebut. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan
istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik
parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu
sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada
sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya,
“Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”

3) Komplikasi Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana


sungai itu. Maka kata orang itu, “ Hai tuan hamba,
berisi urutan kejadian-kejadian seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena
yang dihubungkan secara sebab hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba
dan akibat, pada struktur ini kamu tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi
bisa mendapatkan karakter kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya
ataupun watak dari tokoh cerita perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu
sebab kerumitan mulai pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah
bermunculan. sekali ini!”

4) Evaluasi Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil


Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan

12
struktur konflik yang terjadi yang perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa
mengarah pada klimaks mulai perempuan ini?” Maka kata Bedawi itu, ”Istri hamba
mendapatkan penyelesainya dari perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan;
konflik tersebut. sudah besar dinikahkan dengan hamba.” Maka kata
orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil nikah dengan
hamba.” Maka dengan demikian jadi bergaduhlah
mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun
berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka
bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu,
”Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara dua
orang laki-laki ini?” Maka kata perempuan celaka itu,
”Si Panjang inilah suami hamba.” Maka pikirlah
Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku
bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa
benar di dalam tiga orang mereka itu.

5) Resolusi Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian


maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata
Resolusi – Pada struktur bagian perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka
ini si pengarang mengungkapkan kata Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa
solusi yang dialami tokoh atau mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan
pelaku. di mana tempat duduknya?” Maka tiada terjawab oleh
perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh
Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa
pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk,
”Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkan perempuan
itu istrimu?” Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan
itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu
sendiri sudah berikrar, mengatakan gamba ini tentulah
suaminya.” Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa,
seraya berkata, ”Jika sungguh istrimu perempuan ini,
siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu
perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?”
Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu.

6) Koda Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki


Koda – Ini merupakan nilai Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang
ataupun pelajaran yang dapat tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua,
diambil dari suatu teks cerita oleh sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benarnya?”
pembacanya. Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula awalnya.”
Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-
laki dan perempuan dan di mana templat duduknya.
Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu
pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang
tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk
akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah
salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu
didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta
dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian
maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia
berbuat pekerjaan demikian itu. Maka bertambah-
tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.

13
J. Mengembangkan Hikayat dalam Bentuk Cerpen
Beberapa cerpen modern, yakni cerpen-cerpen yang dikenal sekarang adalah kelanjutkan dari
tradisi mendongeng lisan. Bahkan, banyak ditulis cerpen-cerpen yang mengangkat kembali bentuk-
bentuk dongeng tradisi menjadi cerpen modern, naskah drama, maupun novel. Mengangkat kembali
artinya tidaklah menceritakan kembali seadanya dengan bahasa Indonesia modern, melainkan
memberinya vitalitas baru, tentang kekinian yang relevan pula dengan kehidupan modern. Beni Setia
menulis cerita berdasarkan dongeng Nyi Roro Kidul dalam cerpennya Suara di Masa Lalu (Thahar,
1999:8).
Menceritakan kembali isi hikayat ke dalam bentuk cerpen, di antaranya perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1. Mengubah alur cerita dari alur berbingkai menjadi alur tunggal.
2. Menggunakan bahasa Indonesia saat ini.
3. Menggunakan gaya bahasa yang sesuai.
4. Tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat (Suherli, 2016:145).
Langkah-langkah menceritakan atau menyusun kembali isi hikayat ke dalam bentuk cerpen 
siswa harus membandingkan isi dan kaidah kebahasaan hikayat dan cerpen, kemudian mengubah isi
hikayat ke dalam bentuk cerpen, dengan langkah-langkah berikut:
1. Analisislah gagasan-gagasan pokok dalam teks hikayat
2. Gagasan-gagasan pokok tersebut menjadi sebuah sinopsis utuh.
3. Analisisilah nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat.
4. Tentukanlah tema dari sinopsisi yang telah kamu buat.
5. Buatlah poin-poin alur dan tema tertebut sehingga menjadi kerangka cerpen.
6. Kembangkanlah poin alur tersebut menjadi sebuah cerpen yang memiliki tokoh dan setting
berbeda dengan teks asal dengan tetap memerhatikan alur dan nilai (Suherli, 2016:145). 

14