Anda di halaman 1dari 14

REKAYASA IDE

MENGATASI DEPRESI DENGAN MERANGSANG KEPEKAAN HUMOR


PESERTA DIDIK

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Dosen pengampu : Asiah S.Pd.,M.Pd.

KELOMPOK 10

ERINDA MAYRANI (2203111042)

NUR ANISAH LUBIS (2202111011)

GRACE DEBORA BR SEMBIRING(2203111050)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


MEDAN

2020

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
sebab telahmemberikan rahmat dan karuniaNya serta kesehatan kepada kami,
sehingga mampu menyelesaikan tugas Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik.

Apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan,saya mohon
maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman saya masih terbatas.

Karena itu saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan tugas ini.akhir katas kami berharap semoga
rekayasa ide ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi kami khususnya,

Atas perhatiannya Saya mengucapkan terima kasih.

Medan, 22 Desember
2020

Kelompok 10
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR ...........................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................

BAB I PENDAHULUAN........................................................................

Rasionalisasi Permasalahan Isu ...........................................................

Tujuan TRI.....................................................................................

Manfaat TRI ...................................................................................

BAB II GAGASAN IDE..................................

A. Permasalahan Umum.....................................................................

B. Identifikasi Permasalahan...............................................................

BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAN.........................................................

BAB IV PENUTUP.............................................................................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penderita depresi pada usia remaja menunjukkan peningkatan yang sangat tinggi
dibandingkan dengan usia kanak‐kanak dan usia dewasa, kondisi stres dapat terjadi
bila terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan antara kemampuan dantuntutan.
Tuntutan merupakan tekanan-tekanan yang tidak dapat diabaikan karenajika tidak
dipenuhi, akan menyebabkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagiindividu.
Tuntutan dapat diartikan sebagai element fisik atau psikososial dari suatusituasi yang
harus ditanggapi melalui tindakan fisik atau mental oleh individu, sebagaiupaya
dalam menyesuaikan diri.

Baldwin (2002) menjelaskan bahwa sumber stres pada remaja laki-laki dan
perempuan pada umumnya sama, namun dampak beban ini berbeda pada
remajaperempuan dan laki-laki. Remaja perempuan lebih peka terhadap
lingkungannya.Amir (2005) menambahkan bahwa depresi lebih sering terjadi pada
wanita, karenaberkaitan dengan ketidakseimbangan hormon pada wanita, misalnya
adanya depresiprahaid, postpartum dan postmenopause (Humanitas, Vol. IX No.1
Januari 2012 :77).

Meningkatnya depresi pada remaja awal, banyak dikaitkan dengan gender. Seperti
yang diungkapkan olehSilverstein dan Lynch (2002), perbedaan gender dalam
simtomatologi depresitelah banyak mendapat perhatian, danfakta saat ini
menunjukkan bahwaprevalensi depresi klinis dan subklinis lebih tinggi terjadi
diantara perempuan (Darmayanti, JURNAL PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA VOLUME 35, NO. 2 :164).

Depresi diibaratkan seperti penyakit flu, sebab depresi dapat terjadi di semua
kalangan, tidak terkecuali remaja. Neiger (2004) menyatakan bahwa usiamuda yaitu
15-24 tahun sangat rentan untuk mengalami gangguan depresi. Surveiyang dilakukan
oleh Avenoli dan Steinberg (2002) kira-kira 25% remaja merasakan munculnya
depresi dan 3% masuk kategori depresi klinis. Petersen dkk(, 2003) mengadakan
penelitian pada sampel nonklinis, ditemukan 7% remajamengalami depresi klinis,
sedangkan penelitian dengan sampel klinis ditemukan 45%remaja yang mengalami
depresi klinis (Humanitas, Vol. IX No.1 Januari 2012 :77).

Depresi pada remaja mempengaruhi prestasi sekolah, mereka mengalami kesulitan


untuk berkonsentrasi, selain itu depresi juga mempengaruhi fungsi sosial dan
kesulitan dalam penyesuaian diri Melihat keadaan ini, depresi menjadi salah satu
masalah kesehatan mental yang menjadi masalah yang perlu mendapat
perhatianserius. Data WHO (http:// www.depkes.go. id) tahun 2005
mengungkapkan bahwa sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh
diri setiap tahunnya, karena tidak ada data nasional untuk angka bunuh diri di
Indonesia, dari data tersebut diperkirakan ada 150 orang melakukan bunuh diri setiap
harinya di Indonesia.

Prediksi badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2020 nanti, di negara-negara
berkembang, depresi akan menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami
dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelahserangan
jantung (Humanitas, Vol. IX No.1 Januari 2012 :78).

Dengan melihat data dan keterangan diatas, maka harus ada solusi yang efektif
untuk mencegah remaja dari bahaya depresi, sebenarnya ada beberapa solusi
pencegahan depersi yang sudah dilaksanakan Menkes yakni melalui program
promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif. Akan tetapi dalam hal ini penulis ingin
membuka solusi baru yaitu dengan merangsang kepekaan humor peserta didik
karena tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu obat terbaik untuk menghilangkan
stress adalah dengan menghibur. Kita hidup dalam keseharian sebagai pelajar dan
tenaga pendidik maka harus ada langkah untuk pencegahan awal agar remaja
ataupun peserta didik tidak stres, merangsang kepekaan humor dan membuat belajar
senyaman mungkin adalah salah satu solusi terbaik.

B. TUJUAN RI

1. Untuk mengetahui pengertian dan bahaya depresi pada remaja

2. Untuk mengetahui penyebab depresi pada remaja


3. Untuk mengetahui solusi depresi yang dialami remaja

C. MANFAAT RI

Rekayasa ide ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajan mahasiswa untuk lebih
mengetahui bahaya depresi yang dialami remaja. Selain itu rekayasa ide ini juga
dapat digunakan sebagai pengayaan berfikir tentang solusi-solusi sederhana yang
harus dilakukan untuk membantu mencegah depresi remaja.

BAB II

GAGASAN IDE

A. KONDISI KEKINIAN

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) diketahui
bahwa 10 persen populasi dunia mengalami gangguan mental. Meningkatnya
penderita depresi dan kecemasan di dunia membuat bisnis buruk. WHO juga
menyebutkan antara 1990 sampai dengan 2013, angka penderita depresi, kecemasan
dan gangguan mental lainnya meningkat lebih dari 50 persen, dari 416 juta orang ke
615 juta orang (https:// tirto.id/mahalnya-depresi-bA1q).

Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional (gejala-
gejala depresi dan ansietas), sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas. Hal ini
berarti lebih dari 14 juta jiwa menderita gangguan mental emosional di Indonesia.
Tahun 2014 ini para peneliti menilai peningkatan depresi pada kaum remaja
meningkat sekali, penyebabnya banyak sekali baik itu berbentuk stress yang
diakibatkan oleh dirinya sendiri atau oleh orang terdekat mereka, kalau kita mengaca
pada fakta kehidupan Perkembangan dunia anak dan remaja dari masa ke masa
selalu menjadi fenomena yang menarik untuk diperbincangkan.

WHO menyebut depresi adalah gangguan mental yang memiliki gejala seperti
kebosanan, kehilangan semangat atau kesenangan, berkurangnya energi meski telah
istirahat, perasaan bersalah atau tak lagi merasa berharga, gangguan pola tidur dan
makan, rendahnya konsentrasi. Kerap kali depresi juga disertai oleh gejala
kecemasan yang akut. WHO juga menyebutkan antara 1990 sampai dengan 2013,
angka penderita depresi, kecemasan dan gangguan mental lainnya meningkat lebih
dari 50 persen, dari 416 juta orang ke 615 juta orang. Jika ini tidak diatasi maka akan
berpengaruh terhadap kemampuan manusia untuk hidup normal dan melakukan
kegiatan sehari-hari. Pada tataran yang kronis, depresi bisa berujung pada bunuh diri.
WHO menyebut setiap tahun 1 juta orang meninggal karena bunuh diri, dengan rata-
rata 3.000 orang mati tiap harinya.

Dari pernyataan diatas dapat kita pahami bahwa masalah depresi adalah masalah
yang sangat serius dari tahun ketahun. Semua negara sangat serius dalam masalah
dan bahaya depresi ini. Dan tentu bukan hal yang mudah mengatasi masalah depresi
ini.

B. SOLUSI YANG PERNAH DITAWARKAN

Menurut WHO dan World Federation of Mental Health, hasil survei yang dilakukan
oleh dokter keluarga menunjukkan bahwa penderita depresi yang menunda berobat
lebih dari 11 bulan akan mengalami keterlambatan dalam pemulihan gangguan
depresinya. Padahal, depresi dan gangguan mental emosional lainnya dapat dicegah
melalui program promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif, sehingga tercapai
kondisi jiwa sehat yang ditandai dengan perasaan sehat dan bahagia, mampu
menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain(https://
tirto.id/mahalnya-depresi-bA1q).

Di dalam bidang ilmu kesehatan kita kenal usaha-usaha promotif, preventif,kuratif,


dan rehabilitatif. Berikut ini masing-masing pengertian promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitatif dan berikut contoh upayanya agar dapat semakin memahami
pengertiannya.

1. Pengertian upaya promotif adalah suatu rangkaian kegiatan pelayanankesehatan


yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan

2. Pengertian upaya preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu


masalah kesehatan/penyakit.
3. Pengertian upaya kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaiankegiatan
pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit,pengurangan penderitaan
akibat penyakit, pengendalian penyakit, ataupengendalian kecacatan agar kualitas
penderita dapat terjaga seoptimalmungkin.

4. Pengertian upaya rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatanuntuk


mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapatberfungsi lagi
sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya danmasyarakat semaksimal
mungkin sesuai dengan kemampuannya.

C. GAGASAN YANG DICETUSKAN

Individu yang mengalami depresi dapat dilihat dari gejala yang muncul. Adapun
gejala-gejala depresi yang sering kita lihat bahkan dirasakan yaitu berdasarkan:

a. Perubahan pada mood,

b. Perubahan dalam motivasi,

c. Perubahan pada kognitif,

d. Perubahan pada fisik dan psikomotorik

Dari beberapa gejala-gejala yang sering dialami remaja maka perlu langkah awal
agar gejala ini tidak semakin ke arah depresi yang serius. Remaja yang sudah terkena
gejala-gejala depresi akan mengalami perubahan dari segi psikomotorik, bergerak
lebih lamban dari biasanya, perubahan dalam kebiasaan tidur misalnya terjadi
insomnia atau hipersomnia. Ketika remaja sudah terkena gejala-gejala ini maka
remaja akan merasa malas untuk mengikuti pelajaran ataupun kegiatan di sekolah,
hal ini disebabkan remaja tersebut sulit untuk berkonsentrasi di dalam kelas, merasa
tidak mampu, ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan
mengikuti kegiatan disekolah. Kita pun mengakui ketika memiliki masalah maka
akan timbul perasaan tertekan, perasaan sedih,lebih sensitif, dan sulit untuk
berkonsentrasi di kelas.

Ketika seseorang mengalami gangguan perasaan maka perasaan didominasi emosi


negatif sehingga mengalami kesedihan dan distress. Emosi negatif dapat diatasi
dengan mengelola emosi positif yang dimiliki seseorang. Dan sesuai
penangannannya, penulis mempunyai gagagsan yang berkaitan dengan emosi positif
yaitu humor.

Humor dinilai dapat menimbulkan emosi positif, sebab humor menjadikan seseorang
dapat tersenyum ataupun tertawa dan memunculkan ekspresi wajah positif. Emosi
positif yang ditimbulkan dari humor merupakan salah satu upaya yang berfokus pada
pengelolaan emosi. Humor dan kepekaan humor yang tinggi dapat membuat
seseorang menjadi lebih rileks, tidak tegang lagi, sehingga pikiran pun dapat lebih
berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah.

Allport (Schultz, 2005) mengatakan bahwa salah satu ciri-ciri kepribadian yang
sehat yaitu kemampuan untuk mengenal dirinya sendiri secara objektif dan mampu
untuk menangkap humor terutama yang berkaitan dengan dirinya sendiri, tetapi
humor yang dimaksud bukan humor yang menyangkut seks dan agresi. Penulis
berasumsi bahwa remaja yang memiliki kepekaan humor yang baik, dapat terhindar
dari depresi sebab remaja tersebut mampu mengembangkan kepribadiannya menjadi
lebih sehat(Humanitas, Vol. IX No.1 Januari 2012 :80).

Humor memiliki fungsi di antaranya fungsi secara fisiologik yang tentunya


memberikan dampak yang baik untuk kesehatan, selain itu fungsi psikologi yang
dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Fungsi lain humor yaitu dalam hal
pendidikan dan sosial sehingga memudahkan seseorang untuk berinteraksi dengan
lingkungannya.

D. IMPLEMENTASI GAGASAN ATAU PIHAK- PIHAK PENDUKUNG

Ada beberapa pihak yang dapat membantu untuk membuat rileks dan santai untuk
mengatasi depresi remaja diantaranya adanya

1. Guru yang diharapkan mampu mebuat kreativitas dalam mata pelajarannya untuk
merangsang humor di awal, tengah dan akhir mata pelajrannya, hal ini tidak akan
merugikan dan bahkan akan membaut siswa merasa nyaman dan akan semnagat
dalam memulai pelajaran.

2. Kelompok konseling teman sebaya yang disediakan guru BK agar remaja tidak
canggung untuk menceritakan masalahnya dan
Permasalahan terbesar yang menghinggapi seorang guru ketika berhadapan dengan
murid di dalam kelas adalah membuat suasana belajar yang kondusif. Membuat
suasana belajar menjadi menyenangkan memang tidaklah segampang membalikkan
telapak tangan. Perlu kemampuan khusus dalam membawa suasana kelas menjadi
menyenangkan. Membawa suasana menyenangkan di kelas ini tentunya berbeda
dengan pekerjaan pembawa acara. Bedanya guru harus mengajarkan pelajaran yang
banyak anak anggap bukanlah kegiatan yang menyenangkan, menjadi kegiatan yang
seluruh pesertanya menjadi antusias untuk
mengikutinya(http://peterbimbel.com/pentingnya-jiwa-humoris-bagi-guru-dalam-
pembelajaran).

Untuk membuat Suasana kondusif, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh guru.
Salah satunya adalah sense of humoratau jiwa humor. Dengan jiwa humoris ini,
suasana tegang bisa mencair kembali setelah guru melemparkan cerita lucu yang
mengundang tawa. Jiwa humoris ini layaknya satu skill wajib yang tidak tertulis
pada persyaratan mendaftar menjadi seorang guru. Tapi setiap guru harus
memilikinya agar suasana belajar dapat diarahkan menjadi kondusif. Selain untuk
menarik perhatian serta memecahkan suasana tegang di dalam kelas, jiwa humoris
ini bisa menjadi bukti bahwa guru memiliki kepribadian dan mental yang sehat. Hal
ini juga menjadi bukti bahwa guru senang menjalankan pekerjaannya

Selanjutnya, Melalui konseling sebaya individu menerima umpan balik dari teman-
teman mereka tentang kemampuan merekaadalah salah satu upaya untuk membuat
remaja merasa tenang. Remaja menilai apa-apa yang mereka lakukan, apakah dia
lebih baik dari pada teman-temannya, sama, ataukah lebih buruk dari apa yang
remaja lain kerjakan. Hal demikian akan sulit dilakukan dalam keluarga karena
saudara-saudara kandung biasanya lebih tua atau lebih muda.

Konseling teman sebaya yang memungkinkan remaja merasa diterima,


memungkinkan remaja melakukan katarsis, serta memungkinkan remaja menguji
nilai-nilai baru dan pandangan-pandangan baru. Lebih lanjut konseling teman sebaya
yang positif memberikan kesempatan kepada remaja untuk membantu orang lain,
dan mendorong remaja untuk mengembangkan jaringan kerja untuk saling
memberikan dorongan positif. Interaksi di antara teman sebaya dapat digunakan
untuk membentuk makna dan persepsi serta solusi-solusi baru. Budaya teman sebaya
yang positif memberikan kesempatan kepada remaja untuk menguji keefektivan
komunikasi, tingkah laku, persepsi, dan nilai-nilai yang mereka
miliki(http://lifestyle.bisnis.com/read/20121014/54/99962/menkes-penderita-depresi-
butuh-komunikasi-perhatian-and-kasih-sayang).

E. LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS

Langkah –langkah yang harus dilakukan untuk mengaplikansikan ide-ide yang


sebelumnya telah dipaparkan adalah

1. Setiap guru harus mempunyai dan belajar selera humor yang diminati perserta
didik, karena tidak dapat kita pungkiri bahwa kelas yang monoton membuat siswa
merasa tidak nyaman dan hanya akan menambah beban pikiran sehingga membuat
depresi. Setiap guru selayaknya mempunyai skill ini dan skill penguasaan kelas.

2. Setiap sekolah harus mempunyai konseling teman sebaya untuk mempermudah


pemecahan masalah yang dialami remaja. kelompok yang saling membantu juga
merupakan dasar bagi perlunya konseling sebaya. Pada dasarnya, kelompok ini
dibentuk untuk saling membutuhkan dan sering tidak terjangkau atau tidak mau
menggunakan layanan-layanan yang disediakan oleh lembaga. Di antara teman
sebaya mereka berbagi dan memiliki perhatian yang sama, serta bersama-sama
memecahkan problem, menggunakan dukungan dan katarsis sebagai intervensi
pemecahan masalah.

3.Membuat seminar motivasi dengan tema remaja untuk setiap semesternya yang
berisi tentang motivasi dan arahan-arahan agar tidak bergaul dengan lingkungan
yang salah. Seminar motivasi keremajaan sangat penting karena dapat membuat
remaja lebih percaya diri dan lebih mempunyai motivasi untuk jenjang selanjutnya
ataupun dewasa.

4.Membuat lingkungan sekolah lebih menekankan pentingnya menghargai sesama


dengan cara membuat kegiatan ekstra kulikuler yang berbasis kebersamaan.

5. Harus ada kerjasama antara siswa, guru, orangtua dan kepala sekolah untuk
melihat perkembangan anak dengan cara memanggil orangtua untuk mengambil
hasil nilai/raport siswa sekaligus mendiskusikan perbaikan siswa tersebut.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

A. GAGASAN YANG DIAJUKAN

Untuk mengatasi depresi yang terjadi pada remaja maka harus ada penanganan yang
dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari remaja tersebut. Dan gagasan penulis kali
ini adalah merangsang kepekaan humor peserta didik. Ketika seseorang mengalami
gangguan perasaan maka perasaan didominasi emosi negatif sehingga mengalami
kesedihan dan distress.

Emosi negatif dapat diatasi dengan mengelola emosi positif yang dimiliki seseorang.
Humor dinilai dapat menimbulkan emosi positif, sebab humor menjadikan seseorang
dapat tersenyum ataupun tertawa dan memunculkan ekspresi wajah positif. Emosi
positif yang ditimbulkan dari humor merupakan salah satu upaya yang berfokus pada
pengelolaan emosi. Humor dan kepekaan humor yang tinggi dapat membuat
seseorang menjadi lebih rileks, tidak tegang lagi, sehingga pikiran pun dapat lebih
berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah .

Humor memiliki fungsi di antaranya fungsi secara fisiologik yang tentunya


memberikan dampak yang baik untuk kesehatan, selain itu fungsi psikologi yang
dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Fungsi lain humor yaitu dalam hal
pendidikan dan sosial sehingga memudahkan seseorang untuk berinteraksi dengan
lingkungannya.

B. TEHNIK IMPLEMENTASI

Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menerapkan ataupun merangsang


kepekaan humor peserta didik/remaja adalah

1. Hubungkan materi humor dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung. Poin
pertama ini sangatlah berat karena tidak semua materi pelajaran dapat dikaitkan
dengan sebuah lelucon. Kenapa cerita humor harus berkaitan dengan pelajaran?
Karena dengan cerita humor ini siswa dapat memahami pelajaran dengan lebih cepat.
Besok pun ketika ditanya kembali mengenai materi yang diajarkan kemarin, siswa
akan dengan mudah mengingatnya karena teringat akan cerita lucu tersebut.

2. Materi yang mengundang gelak tawa tidak hanya berasal dari cerita saja. Lelucon
itu bisa datang dari foto ataupun video. Jika kita ingin menggunakan gambar dan
video sebagai bahan penyegar suasana di kelas, gunakanlah gambar dan video yang
relevan dengan pelajaran. Gambar dan video ini tidak harus sesuai dengan materi
pelajaran yang diajarkan. Video dan gambar ini bisa dari hal-hal lain asalkan dapat
dikait-kaitkan dengan pelajaran tersebut. Ketika suasana pelajaran menjadi kurang
kondusif, putarlah video yang mengundang gelak tawa. Biarkan anak didik kembali
fokus ke depan lalu ketika mereka sudah puas tertawa, mintalah beberapa siswa
untuk menjelaskan video tersebut sesuai dengan pelajaran yang sedang diajarkan.
Dengan cara ini, siswa akan sangat antusias mengikuti pelajaran dan suasana belajar
akan selalu kondusif.

3. Carilah bahan lelucon yang mementingkan kesopanan. Inilah yang membedakan


sense of humor seorang guru dan pelawak di televisi. Guru harus memberikan
lelucon yang sopan tapi tetap mengundang tawa. Jika lelucon yang seperti di televisi
dijadikan lelucon di dalam kelas, siswa akan memiliki kebiasaan yang kurang baik.
Bisa jadi mereka setelah mendengar lelucon dengan melecehkan kekurangan orang
lain, mereka akan menirunya. Kalau sudah begitu, tujuan menggunakan humor untuk
membuat suasana belajar menjadi kondusif, tidak tercapai dan malah membuat siswa
menjadi pribadi yang mudah mencela.

C. PREDIKSI HASIL

1. MANFAAT

Memudahkan remaja dalam proses belajar mengajar dan membuat rasa tertekan
ataupun depresi dalam dirinya berangsur hilang karena rasa senang dan bahagia yang
ada dalam dirinya dan hal ini juga bermanfaat untuk kedekatan guru dengan siswa.

2. Dampak gagasan
Membuat remja lebih percaya diri dan juga lebih percaya diri dengan apa yang ada
dalam dirinya. Dan membuat pergaulan sosialnya semakin baik dikarenakan emosi
positif yang ada dalam dirinya. Hal ini juga berdampak kedekatan sosial terhada
teman sebaya.

DAFTAR PUSTAKA

Darmayanti, JURNAL PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS


GADJAH MADA VOLUME 35, NO. 2

Fitriani, ayu dan Nurul hidayah. Humanitas, Vol. IX No.1 Januari 2012

http://lifestyle.bisnis.com/read/20121014/54/99962/menkes-penderita-depresi-butuh-
komunikasi-perhatian-and-kasih-sayang).

http://peterbimbel.com/pentingnya-jiwa-humoris-bagi-guru-dalam-pembelajaran

https:// tirto.id/mahalnya-depresi-bA1q).

http:// www.depkes.go. Id