Anda di halaman 1dari 8

ISLAM DISIPLIN ILMU

Oleh :

Nama : Novya

No. Stambuk : 02220180009

Kelas : B3

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

TAHUN 2020
ISLAM DISIPLIN ILMU

A. Islamisasi Ilmu Pengetahuan


1. Pelopor Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan sebenarnya bukanlah konsep
barutetapi konsep lama yang kembali diaktualkan, mungkin hanya beda
istilah saja. Namun, ketika umat Islam berada pada posisi kemunduran dan
ingin bangun darikemunduran gagasan Islamisasi ilmu dianggap baru,
tepat dan membumi. Karenaitu, tidaklah mengherankan gagasan Islamisasi
disambut positif oleh kalangan dunia Islam dan para ilmuannya. Ada
sejumlah tokoh yang telah berbicara tentang Islamisasi ilmu, yaitu:
1) Al-Farabi, lahir di Turki di daerah Farab, dalam Filsafat Islam disebut
gurukedua, maksudnya Aristoteles disebut guru pertama, al-Farabi
guru kedua. Ia terkenal penganut filsafat emanasi yang diadopsi dari
filsafat emanasiAristoteles. Karya-karyanya yang terkenal di antaranya
yaitu Ihsha’ Al –Ulum (klasifikasi ilmu). Seperti yang dijelaskan oleh
Osman Bakar, klasifikasi ilmumenurut Al-Farabi yaitu ilmu religious;
tafsir, hadis, ushul fikih. Psikologi,ilmu kebahasaan dan logika, ilmu-
ilmu filosofis; matematika, ilmu alam,metafisika, ilmu politik,
yurispurdensi dan teologi. Klasifikasi ilmu ini padadasarnya
merupakan kerangka berpikir untuk Islamisasi ilmu. Karena
padawaktu itu terdapat kebuntuan di kalangan ilmuan Islam mengenai
dikotomiantara ilmu dan agama (Islam). Sebagai solusinya maka Al-
Farabi menciptakan klasifikasi ilmu.
2) Al-Ghazali, (1058-1111 M) gelar hujjatul Islam , filosof, fuqaha,
teolog dan sufi, lahir di Thus, sekarang masuk wilayah
Khurasan. Karya-karyanya yangterkenal di antaranya Ihya Ulumuddin,
al-Munkiz min ad-dalal (penyelamatdari kesesatan), dan Tahafut al-
Falasifah (kerancuan filsafat). Para pencariilmu menurutnya dibagi
empat. 1). Para teolog. 2). Filosof. 3). Taklimiyah dan 4). Sufi.
Sedangkan klasifkasi ilmu menurutnya dibagi dua. Pertama,
ilmu syar’iyah (naqliyah) dan kedua ghairi syar’iyah (aqliyah).
Pembagian ini sering juga disebut ilmu teoritis dan praktis.
3) Ilmu al-Ushul; ilmu tauhid, ilmu tentang kenabian, eskatologis
(akhirat)dan ilmu tentang sumber pengetahuan religious; Al-Quran dan
Sunnahsebagai sumber primer sedangkan ilmu sumber skunder yaitu
ijmak danatsar sahabat. Ilmu ini dibagi kepada dua hal, yaitu ilmu-ilmu
alat dan ilmu-ilmu pelengkap; ulum Al-Quran, Ulum al-Hadis, ushul
fikih, dan biografi para tokoh.
a. Ilmu tentang cabang-cabang (furuq); ilmu tentang kewajiban
manusiakepada Allah, ilmu tentang kewajiban kepada masyarakat; 
transaksi,qisas, dan hukum keluarga serta Ilmu tentang
akhlak.Kelompok ilmu ghairi syar’iyah (aqliyah), yaitu :
Matematika; aritmatika, geometri, musik, astronomi dan astrologi,
Logika, Ilmu alam atau fisika; kedokteran, meteorologi mineralogi
dan kimia, Metafisika; ontologi, pengetahuan tentang esensi, sifat
dan perbuatanTuhan, pengetahuan tentang substansi-substansi
sederhana (intelegensia)dan substansi-subtansi malaikat,
Pengetahuan tentang alam ghaib, Ilmu tentang kenabian dan ilmu
tentang mimpi, Ilmu supernatural.
2. Sebab-sebab Adanya Islamisasi Ilmu
Pertama, bahwa kehidupan moderen yang ditandai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diakui telah memberikan
kemudahan bagi kehidupan manusian dalam segala bidang: transfortrasi,
komunikasi, konsumsi, pendidikan dan sebagainya. Namun bersamaan
dengan itu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut telah
menimbulkan berbagai dampak negatif berupa timbulnya persaingan dan
gaya hidup yang menghalalkan segala cara, termasuk di dalamnya
penjajahan terhadap kedaulatan negara lain. Masyarakat menganggap
bahwa semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan materi, sehingga
materimenjadi raja dan orang memujanya. Kehidupan yang demikian itu
kini sudah mulai menunjukan kegagalanya. Umat manusia merasakan ada
sesuatunyang  hilang dalam dirinya, yaitu pegangan hidup yang bersumber
dari nilai-nilai universal dan absolut yang berasal dari pencipta-Nya, yaitu
Tuhan. Di tengah-tengah kehidupan yang penuh dinamika dan persaingan
ini, ia tampak sendirian, tidak punya pegangan hidup, dan rapuh. Akibat
dari keadaan yang demikian itu, maka ketika  ia menghadapi masalah yang
berbeda di luar batas kesangupanya ia mulai gayah, mencari peganggan
hidup yang rapuh dan bersifat sesat, seperti hiburan, minum-minuman
keras dan sebagainya.mereka telah meningalkan fitrah dirinya
sebagai  maluk yang memerlukan agama. Dalam keadaan yang demikia
itu, maka manusia membutuhkan agama. Inilah alasan kembalinya
manusia pada agama.
Kedua,bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sudah masuk
kedalam seluruh sistem kehidupan denga berbagai variasinya. Bagi
masyarakat moderen yang tingal di perkotaankebutuhan akan ilmu
pengetahuan dan teknologi demikian besar. Mulai dari peralata rumah
tangga, peralatan masak-memasak, trsasfortrasi, hinga peralatan
komunikasi dan peralatan perang yang sudah mengunakan ilmu
pengetahua dan teknologi. Demikian masyarakat yang tinggal di pedesaan
pun sudah mulai bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejumlah peralatan membajak sawah, mematangkan tanah persawahan,
penanaman padi, hinga pengilinganyasudah mulai mengunakn teknologi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi enar-benar telah memberi kemudahan dan
kenyamanan bagi manusia. Namun ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Ia
memang benar dapat mempercepat manusia sampai pada tujuan. Namun
ilmu pengetahua dan teknologi tidak  mengetahui tujuan apa  yang harus
dicapainya. Agamalah yang memberi tahu  tujuan apa yang harus dicapai
oleh ilmu pengetahuan. Enstain merah mengingatkan melalui pernyataan
bahwa ilmu pengetahuan tampa agama adalah buta. Pernyataan tersebut
telah menunjukan bukti-buktinya saan ini. Ilmu pengetahuan saat ini
berada dibawah kendali orang-orang yang tidak beragama. Mereka telah
mengunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tujuan apa saja
termasuk untuk tujuan-tujuan penjajahan, pencurian, pelangaran hak-hak
asasi manusia dan seterusnya.
Ketiga,Islamisasi ilmu pengetahuan juga terjadi sebagai respon
tehadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari barat
dengan  bersifat dan berkarakter yang sekular, materialistis, dan ateis. Ilmu
pengetahuan yang demikian boleh diterima dan dimanfaatkan oleh umat
islam setelah ilmu penhetahua dan teknologi tersebut diarahkan oleh nilai-
nilai islam yang  dijamin akan membawa kepada kehidupan yang sejah
tera lahir batin, dunia dan ahirat.
Keempat, Salah satu aspek kehidupan yang sangat besar
pengaruhnya dan paling mudah dimasuki paham lainyang menyesatkan
adalah paham ekonomi yang diterapkan. Kehidupan ekonomi berpengaruh
terhadap aspek kehidupan sosial,gaya dan pola hidup, lingkungan,
pendidikan dan sebagainya. Dengan meningkatnya ekonomi seseorang ,
maka makin meningkat pula kehidupan pada sektor lainya. Namun fakta
menunjukan bahwa kemajuan dalam bidang ekonomi tidak otomatis
membawa kesejahteraan secara merata apabila tidak didasarkan pada nilai-
nilai keadilan yang mendasarinya, nilai yang mengendalikan kehidupan
ekonomi saat ini adalah nilai kapitalisme yang ditandai oleh praktik
monopoli yang mematikan kelompok mayarakat yang ekonominya lemah.
B. Ilmuisasi Islam
1. Al-qur’an dan Ilmu Pengetahuan (Sains)
Alquran diturunkan oleh Allah swt. kepada manusia untuk menjadi
petunjuk dan menjadi pemisah antara yang hak dan yang batil sesuai
dengan firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 185. Alquran juga
menuntun manusia untuk menjalani segala aspek kehidupan, termasuk di
dalamnya menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Alquran menempatkan ilmu dan ilmuan dalam kedudukan yang
tinggi sejajar dengan orang-orang yang beriman (QS: al-Mujadilah: 11).
Banyak nash Alquran yang menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu,
bahkan wahyu yang pertama kali turun, adalah ayat yang berkenaan
dengan ilmu, yaitu perintah untuk membaca seperti yang terdapat dalam
surat al-‘Alaq ayat 1-5. Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia diketahuinya”.
Disamping itu, Alquran menghargai panca indra dan menetapkan
bahwasanya indra tersebut adalah menjadi pintu ilmu pengetahuan.
(QS.Al-Nahl: 78) Syeikh Mahmud Abdul Wahab Fayid mengatakan
bahwa ayat ini mendahulukan pendengaran dan penglihatan dari pada hati
disebabkan karena keduanya itu sebagai sumber petunjuk berbagai macam
pemikiran dan merupakan kunci pembuka pengetahuan yang rasional.
Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan,
bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang
kemudian, yang telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber
dari al-Qur’an al-Karim. Namun Imam Al-Syathibi (w. 1388 M), tidak
sependapat dengan Al-Gazali.
Dr. M. Quraish Shihab mengatakan, membahas hubungan Alquran
dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang
ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan
menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi pembahasan hendaknya
diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan
kesucian Alquran dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu
sendiri. Tidak perlu melihat apakah di dalam Alquran terdapat ilmu
matematika, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu komputer dll, tetapi yang lebih
utama adalah melihat adakah jiwa ayat–ayatnya menghalangi kemajuan
ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat Alquran yang
bertentangan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?
2. Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Islam
Pada periode klasik Islam ini (Abad VII-XIII) dijuluki The golden
age of Islam, telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ada beberapa faktor yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan pada
periode ini, yaitu:
1) Agama Islam sebagai motivasi.
2) Kesatuan bahasa yang memudahkan komunikasi ilmiah.
3) Kebijakan pemerintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
4) Didirikannya akademi, Laboratorium, dan perpustakaan sebagai sarana
pengembangan ilmu.
5) Ketekunan ilmuan untuk mengadakan riset dan eksperimen.
6) Pandangan Internasional yang membuka isolasi dengan dunia luar.
7) Penguasaan terhadap bekas wilayah pengembangan filsafat klasik
Yunani.

Pada periode klasik Islam  tidak terdapat dikotomi ilmu


pengetahuan. Memang telah dikembangkan ilmu pengetahuan yang
bersumber dari Alquran dan hadis dan ilmu pengetahuan yang bersumber
dari alam dan masyarakat, tetapi masih berada dalam satu kerangka yaitu
pengetahuan Islam.

Sesudah periode klasik ini, yaitu sejak abad XIII, Ilmu pengetahuan
Islam mulai mengalami kemunduran, produktivitas ilmuan-ilmuan muslim
sangat berkurang. Di dunia barat justru terjadi sebaliknya, warisan ilmu
pengetahuan yang telah dipelajari dari Islam dikembangkan, sehingga
mengantar mereka mencapai dunia baru melalui pintu gerbang
renaissance, dan reformasi. Kondisi seperti ini mempengaruhi struktur
ilmu pengetahuan dalam Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekulerisme, Penerbit Pustaka:


Bandung. 1981.
Nata, Abuddin, dkk, 2003, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, UIN Jakarta
Press, Jakarta.
Al-Faruqi isma’il Raji Al-Faruqi, Islamisasi pengetahuan, cet ke-3, Bandung:
Penerbit Pustaka, 2003.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekulerisme, Penerbit Pustaka:
Bandung. 1981.
Mulyanto, Islamisas iIlmu Pengetahuan, dalam Moeflih Hasbullah, Gagasan  dan
Pedebadan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Cidesindo.hal 17-18
Azra, Azyumardi. Reintegrasi Ilmu-Ilmu, Integrasi Ilmu dan Agama,Interprestasi
dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005.