Anda di halaman 1dari 42

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
2020

STRATEGI PELAKSANAAN
ISOLASI SOSIAL

DOSEN PENGAMPU :
Feri Agustriyani, S.Kep., Ners., M.Kep

DISUSUN OLEH :
HENI KURNIA PUTRI (1801029)
HUDHANI NORA DWIPA (1801030)
INTAN FEBRY WAHYUNI (1801031)
KASIH SETIANINGSIH (1801032)

KEPERAWATAN JIWA
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat
rahmat-Nya Kami bisa menyelesaikan tugas Asuhan Keperawatan klien dengan Isolasi Sosial
mata kuliah Keperawatan Jiwa II. Kami  mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu proses penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusun sangat menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna
dan masih banyak yang harus di koreksi oleh karena itu kami mengharapkan masukan dari
semua pihak tentunya dengan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah  ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca, mahasisiwa dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita
semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Pringsewu, September 2020

Kelompok isos

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii

ASUHAN KEPERAWATAN ISOS........................................................................ 1

STRATEGI PELAKSANAAN PASIEN ISOS...................................................... 16

DOKUMENTASI KEPERAWATAN.................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA

3
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
KLIEN DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL

A. DEFINISI ISOS
Isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain dianggap menilai, menyatakan, serta memperlihatkan sikap
negative dan mengancam bagi dirinya (Townsend, 2009).
Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang klien mengalami penurunan
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya
(Keliat, 2010).
Isolasi sosial sebagai suatu pengalaman menyendiri diri seseorang dan
perasaan segan terhadap orang lain sebagai suatu yang negatif atau keadaan yang
mengancam (Herdman, 2012).
Isolasi sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan
perasan segan terhadap orang lain sebagai suatu yang negatif atau keadaan yang
mengancam (SAK, FIK-UI, 2014).

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Faktor Predisposisi
Stuart (2009), mengatakan faktor predisposisi adalah faktor resiko timbulnya
stress yang akan mempengaruhi tipe dan sumber-sumber yang dimiliki klien untuk
menghadapi stress. Stuart (2009) membagi faktor predisposisi dalam tiga domain
yaitu biologis, psikososial dan sosial kultular.
a. Biologis
Faktor biologis berhubungan dengan kondisi fisiologis yang
mempengaruhi timbulnya gangguan jiwa. Beberapa teori mengkaitkan faktor
predisposisi biologis dengan teori genetic dan teori biologis terhadap
timbulnya skizofrenia. Isolasi sosial merupakan gejala negative dari
skizofrenia menurut berbagai penelitian kejadian skizofrenia disebabkan
beberapa faktor seperti kerusakan pada area otak, pengingkatan aktivitas
neurotransmitter serta faktor genetika.
1) Kerusakan pada area otak

4
Kejadian skizofrenia sering dihubungkan dengan adanya kerusakan
pada bagian otak tertentu, namun hingga kini belum diketahui dengan pasti
area yang dapat mengakibatkan skizofrenia. Menurut penelitian beberapa
area dalam otak yang berperan dalam timbulnya kejadian skizofrenia
antara lain sistem limbic, korteks frontal, cerebellum dan ganglia basalis.
Keempat area tersebut saling berhubungan, sehingga disfungsi pada satu
area akan mengakibatkan gangguan pada area yang lain (Arief, 2006)
2) Peningkatan aktivitas neurotransmitter
Selain kerusakan anatomis pada area diotak, skizofrenia juga
disebabkan karena peningkatan aktivitas neutotransmitter dopaminergik.
Peningkatan ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah
peningkatan pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor dopamine,
turunya nilai ambang, hipersensitivitas reseptor dopamine, atau kombinasi
dari faktor-faktor tersebut. Videback (2006) mengatakan bahwa ada
keterikatan antara neoanatomi dengan neurokimia otak, pada klien
skizofrenia ditemukan adanya struktur abnormal pada otak seperti atropi
otak, perubahan ukuran serta bentuk sel pada sistem limbic dan daerah
frontal selain itu adanya factor imonovirologi dan respon tubuh terhadap
paparan virus. Pendapat yang dikemukakan Raine (2000 dalam Miller
2001) tentang faktor biologi sebagai salah satu penyebab skizofrenia
mengatakan bahwa seseorang dengan kepribadian anti sosial memiliki
penurunan volume pre frontal dibandingkan rata-rata aktifitas lobus frontal
dalam otak.
3) Faktor Genetik
Peneletian tentang faktor genetik telah membuktikan bahwa
skizofrenia diturunkan secara genetika. Menurut Saddock dan Saddock
(2003), prevalensi seseorang menderita skizofrenia bila salah satu saudara
kandung menderita skizofrenia sebesar 8%, sedangkan bila salah satu
orang tua menderita skizofrenia sebesar 12% dan bila kedua orang tua
menderita skizofrenia sebesar 47%. Penelitian terhadap anak kembar
menunjukkan bahwa prevalensi kejadian skizoprenia pada kembar
monozigote sebesar 47%, sedangkan pada kembar digizigote sebesar 12%.
b. Psikologi

5
Teori psikoanalitik, perilaku dan interpersonal menjadi dasar pola piker
predisposisi psikologi:
1) Teori psikoanalitik
Sigmund Freud melalui teori psiko analisis menjelaskan bahwa
skizofernia merupakan hasil dari ketidakmampuan menyelesaikan masalah
dan konflik yang tidak disadari antara impuls agresif atau kepuasan libido
serta pengakuan terhadap ego. Sebagai contoh konflik yang tidak disadari
pada saat masa kanak-kanak, seperti takut kehilangan cintab atau perhatian
orang tua, menimbulkan perasaan tidak nyaman pada masa kanak-kanak,
remaja dan dewasa awal (Roerig, 1999).
2) Teori Perilaku
Selain teori psikoanalisa, teori perilaku juga mendasari faktor
predisposisi psikologis. Teori perilaku berasumsi bahwa perilaku
merupakan hasil pengalaman yang dipelajari oleh klien sepanjang daur
kehidupannya, dimana setiap pengalaman yang dialami akan
mempengaruhi perilaku klien baik yang bersifat adaptif maupun
maladaptif.
3) Teori Interpersonal
Teori interpersonal berasumsi bahwa skizofrenia terjadi karena klien
mengalami ketakutan akan penolakan interpersonal atau truma dan
kegagalan perkembangan yang dialami pada masa pertumbuhan seperti
kehilangan, perpisahan yang mengakibatkan seseorang menjadi tidak
berdaya, tidak percaya diri, tidak mampu membina hubungan saling
percaya pada orang lain, timbulnya sikap ragu-ragu dan takut salah. Selain
itu klien akan menampilkan perilaku mudah putus asa terhadap hubungan
dengan orang lain serta menghindar dari terhadap hubungan dengan orang
lain serta menghindar dari orang lain. Perilaku isolasi sosial merupakan
hasil dari pengalaman yang tidak menyenangkan atau menimbulkan truma
pada klien didalam berintraksi dengan lingkungan sekitar sehingga
mengakibatkan klien merasa ditolak, tidak diterima dan kesepian serta
ketidak mampuan membina hubungan sosial yang berarti dengan
lingkungan sekitar.
Selain itu sistem keluarga yang kurang harmonis seperti adanya
penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kurang
6
mempunyai tanggung jawab personal juga menjadi factor pencetus
timbulnya gangguan dalam hubungan interpersonal. Kemampuan menjalin
hubungan interpersonal sangat berhubungan dengan kemampuan klien
menjalankan peran dan fungsi. Jika lingkungan tidak memberi dukungan
positif tetapi justru menyalahkan klien secara terus menerus akan
mengakibatkan klien mengalami harga diri rendah yang pada akhirnya
akan mengakibatkan isolasi sosial.
c. Faktor sosial
Faktor sosial budaya meyakini bahwa penyebab skizofrenia adalah
pengalaman seseorang yang mengalami kesulitan beradaptasi terhadap
tuntutan sosial budaya karena klien memiliki harga rendah diri dan
mekanisme koping mal adaptif. Stresor ini merupakan salah satu ancaman
yang dapat mempengaruhi berkembang nya gangguan dalam interaksi sosial
terutama dalam menjalin hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal
berkembang gangguan dalam interaksi sosial terutama menjalin interpersonal.
Hubungan interpersonal berkembang sepanjang siklus kehidupan manusia.
Perkembangan hubungan interpersonal khususnya konsep diri dimulai sejak
masa bayi dimana pada masa ini tugas perkembangan yang harus dicapai
seorang bayi adalah menetapkan hubungan saling percaya dan terus
berkembang hingga tahap perkembangan dewasa akhir.
Gangguan dalam membina hubungan interpersonal biasanya mudah
dikenali pada saat masa remaja atau pada masa yang lebih awal dan berlanjut
sepanjang tahap perkembangan masa dewasa yang ditandai dengan adanya
respon maladaptive yaitu ketidakmampuan klien untuk beradaptasi dengan
lingkungan sekitar serta ketidakmampuan membina hubungan interpersonal
atau penyimpangan perilaku lain. Penelitian yang dilakukan di Amerika
menyimpulkan sekitar 10% sampai 18% penduduk nya mengalami gangguan
kepribadian (Stuart, 2009).

2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah stimulus internal atau eksternal yang mengancam
klien antara lain dikarenakan adanya ketegangan peran, konflik peran, peran yang
tidak jelas, peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan

7
transisi peran sehat-sakit (Stuart, 2009). Stuart (2009) membagi faktor presipitasi
dalam psikososial dan sosial kulrutal.

a. Psikologis
Faktor presipitasi psikologis klien isolasi berasal dari internal dan
eksternal. Stuart & Laraia (2005) yang menyatakan bahwa isolasi sosial
disebabkan karena adanya faktor presipitasi yang berasal dari dalam diri
sendiri ataupun dari luar.
1) Internal
Stressor internal terdiri dari pengalaman yang tidak menyenangkan,
perasaan ditolak dan kehilangan orang yang berarti. Stresor yang berasal
dari dalam adalah kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami klien.
Penelitian yang dilakukan oleh Canadian Assosiation Psychiatric (2004),
menunjukkan bahwa prevalensi ketakutan berrhubungan sosial pada klien
yang memiliki harga diri rendah 14.9% lebih tinggi dibandingkan dengan
klien yang memiliki harga diri tinggi sebesar 6.6%.
2) Eksternal
Stresor eksternal adalah kurangnya dukungan dari lingkungan serta
penolakan dari lingkungan atau keluarga. Stresor dari luar klien tersebut
dapat berupa ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak jelas,
peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan transisi
peran sehat-sakit. Pendapat senada diutarakan oleh Erikson (2000; dalam
Keliat, 2006), yang menyatakan bahwa untuk mampu mengembangkan
hubungan yang positif setiap klien harus dapat melalui delapan tugas
perkembangan (development task) sesuai dengan proses perkembangan
usia.
Kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan dapat
mengakibatkan klien tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain,
ragu, takut salah, pesimistis, putus asa, menghindar dari tertekan. Pendapat
senanda diutarakan oleh Stuart (2000), yang menyatakan bahwa seseorang
dengan tipe kepribadian introvert, menutup diri dari orang-orang yang
memperhalilkannya, sehingga tidak memiliki orang terdekat atau orang
yang berarti dalam hidupnya.
8
b. Sosial Budaya
Sosial budaya merupakan ancamaan terhadap sistem diri. Ancaman
terhadap sistem diri merupakan ancaman terhadap identitas diri, harga diri,
dan fungsi integritas sosial. Ancaman terhadap sistem diri berasal dari dua
sumber yaitu eksternal dan internal. Sumber eksternal dapat disebabkan karena
kehilangan orang yang sangat dicintai karena kematian, perceraian, perubahan
status pekerjaan, dilema etik, ataupun tekanan sosial dan budaya. Sedangkan
sumber internal disebabkan karena kesulitan membangun hubungan
interpersonal di lingkungan sekitar seperti di lingkungan rumah atau di tempat
kerja,dan ketidakmampuan menjalankan peran baru sebagai orang tua, pelajar
atau pekerja. Penelitian tentang faktor lingkungan sebagai salah satu penyebab
isolasi sosial menyimpulkan bahwa lingkungan memiliki andil yang cukup
besar terhadap timbulnya harga diri rendah pada klien seeperti lingkungan
yang tidak kondusif dan selalu memojokkan klien yang pada akhirnya akan
mempengaruhi aktifitas klien termasuk hubungan dengan orang lain.

3. Penilaian Stresor
Model Stres Adaptasi Stuart (2009) mengintegrasikan data dari konsep
psikoanalisis, interpersonal, perilaku genetic dan biologis. Berbagai konsep
tersebut akan menjelaskan tentang penilaian stressor seseorang terhadap respon
yang ditimbulkan akibat mengalami harga diri rendah salah satunya adalah isolasi
sosial.
Penilaian terhadap stressor berada dalam suatu rentang dari adaptif sampai
maladaptif. Pada klien dengan skizofrenia penilaian stressor yang adaptif
merupakan faktor yang harus selalu diperkuat didalam pemberian asuhan
keperawatan sehingga kemampuan tersebut membudaya dalam diri klien. Bila
penilaian stressor klien maladaptive maka penilaian tersbut akan menjadi dasar
pengguanaan terapi keperawatan dalam melatih disfungsi ketrampilan yang
dialami klien. Penilaian terhadap stressor yang dialami klien dengan isolasi sosial
meliputi kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial.
a. Kognitif
Stuart (2009) yang menyatakan bahwa faktor kognitif bertugas
mencatat kejadian stressful dan reaksi yang ditimbulkan secara emosional,
fisiologis, serta perilaku dan reaksi sosial seseorang selain memilih pola
9
koping yang digunakan. Berdasakan penilaian tersebut klien dapat menilai
adanya suatu masalah sebagai ancaman atau potensi. Kemampuan klien
melakukan penilaian kognitif ini dipengaruhi oleh persepsi klien, sikap
terbuka individu terhadap adanya perubahan, dan kemampuan untuk
melakukan control diri terhadap pengaruh lingkungan, serta kemampuan
menilai suatu masalah. Pada klien dengan isolasi sosial kemampuan kognitif
klien sangat terbatas klien lebih berfokus pada masalah bukan bagaimana
mencari alternative pemecahan masalah yang dihadapi.
b. Afektif
Menurut Stuart (2009) respon afektif terkait dengan ekspresi emosi,
mood, dan sikap. Respon afektif yang ditampilkan dipengaruhi oleh
ketidakmampuan jangka panjang terhadap situasi yang membahayakan
sehingga mempengaruhi kecenderungan respon terhadap ancaman terhadap
harga diri klien. Respon afektif pada klien isolasi sosial adalah adanya
perasaan putus asa, sedih, kecewa, merasa tidak berharga dan merasa tidak
diperhatikan. Menurut Stuart dan Laraia (2005) perasaan yang dirasakan klien
tersebut dapat mengakibatkan sikap menarik diri dari lingkungan sekitar.
c. Fisiologis
Menurut Stuart (2009) respon fisiologis terkait dengan bagaimana
sistem fisiologis tubuh berespon terhadap stressor, yang mengakibatkan
perubahan terhadap sistem neuroenokrin, dan hormonal.
Respon fisiologis merupakan respon neurobiologist yang bertujuan
untuk menyiapkan klien dalam mengatasi bahaya. Perubahan yang dialami
oleh klien akan mempengaruhi neurobiologist untuk mencegah stimulus yang
mengancam. Setiap klien yang dilahirkan memiliki sistem saraf pusat yang
sensitif terhadap stimulus yang membahayakan. Respon perilaku dan sosial
yang ditampilkan klien merupakan hasil belajar dari pengalaman sosial pada
masa kanak-kanak dan dewasa khususnya dalam mengalami berbagai stressor
yang mengancam harga diri klien.
d. Perilaku
Adalah hasil dari respon emosional dan fisiologis. Respon perilaku
isolasi sosial teridentifikasi tiga perilaku yang maladaptif yaitu sering
melamun, tidak mau bergaul dengan klien lain tidak mau mengemukakan

10
pendapat, mudah menyerah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan atau
dalam melakukan tindakan.
e. Sosial
Merupakan hasil perpaduan dari respon kognitif, afektif, fisiologis dan
perilaku yang akan mempengaruhi hubungan atau interaksi dengan orang lain.
Respon perilaku dan sosial memperlihatkan bahwa klien dengan isolasi sosial
lebih banyak memperlihatkan bahwa klien dengan isolasi sosial lebih banak
memberikan respon menghindar terhadap stressor yang dialaminya. Respon
negative yang ditampilkan merupakan akibat keterbatasan kemampuan klien
dalam menyelesaikan masalah, dan keterbatasan klien dalam melakukan
penilaian terhadap stressor, sehingga klien memilih untuk menghindari
stressor bukan sesuatu yang harus dihadapi atau diselesaikan.

4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah pertahanan koping dalam
jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego. Stuart (2009),
mengatakann pertahanan jangka pendek yang biasa dilakukan klien isolasi sosial
adalah lari sementara dari krisis, misalnya dengan bekerja keras, nonton televise
secara terus menerus, melakukan kegiatan untuk mengganti identitas sementara,
misalnya ikut kelompok sosial, keagamaan dan politik, kegiatan yang member
dukungan sementara, seperti mengikuti suatu kompetisi atau kontes popularitas,
kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara, seperti
penyalahgunaan obat-obatan. Jika mekanisme koping jangka pendek tidak
memberikan hasil yang diharapkan, individu akan mengembangkan mekanisme
jangka panjang antara lain menutup identitas, dimana klien terlalu cepat
mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa
mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah proyeksi, merendahkan
orang lain, menghindar dari interaksi sosial dan reaksi formasi (Stuart, 2009).

5. Sumber Koping
Menurut Stuart (2009), sumber koping merupakan pilihan atau strategi
bantuan untuk memutuskan mengenai apa yang dapat dilakukan dalam
menghadapi suatu masalah. Dalam menghadapi stressor klien dapat menggunakan
berbagai sumber koping yang dimilikinya baik internal atau eksternal.
11
a. Kemampuan Personal
Pada klien dengan isolasi sosial kemampuan personal yang harus
dimiliki meliputi kemampuan secara fisik dan mental. Kemampuan secara
fisik teridentifikasi dari kondisi fisik yang sehat. Kemampuan mental meliputi
kemampuan kognitif, afektif, perilaku dan sosial. Kemampuan kognitif
meliputi kemampuan yang sudah ataupun yang belum dimiliki klien didalam
mengidentifikasi masalah, menilai dan menyelesaikan masalah, sedangkan
kemampuan afektif meliputi kemampuan untuk meningkatkan konsep diri
klien dan kemampuan perilaku terkait dengan kemampuan melakukan
tindakan yang adekuat dalam menyelesaikan stressor yang dialami. Kurangnya
dukungan, penghargaan dan kesempatan untuk melatih kemampuan yang
dimiliki klien dari lingkungan sekitar klien akan mengakibatkan rendahnya
motivasi klien untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, timbulnya
rasa rendah diri yang pada akhirnya akan mengakibatkan gangguan dalam
berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Temuan ini sesuai dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Maslim (2011), bahwa gejala negative pada klien
dengan gangguan jiwa kronik adalah kurang atau tidak adanya motivasi.
b. Dukungan Sosial
Taylor, dkk (2003) menyatakan bahwa dukungan sosial akan
membantu klien untuk meningkatkan pemahaman terhadap stressor dalam
mencapai ketrampilan koping yang efektif. Pendapat lain yang mendukung
pertanyaan diatas mengenai pentingnya dukungan sosial didalam proses
penyembuhan klien adalah pernyataan yang diungkapkan oleh Farafino
(2002), yang menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan perasaan caring,
penghargaan yang akan membantu klien untuk dapat menerima orang lain
yang berasal dari keyakinan yang berbeda. Pendapat senada diuraikan oleh
Tomaras, et.al.,(2001 dalam Keliatan, 2013) yang mengatakan bahwa
dukungan anggota keluarga didalam membantu merawat klien dengan
skizofrrenia akan mengurangi frekuensi kekambuhan klien. Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan dukungan sosial seorang klien
akan merasakan adanya cinta, penghargaan, membantu mencapai ketrampilan
sosial dan koping yang adaptif serta yang terpenting adalah membantu proses
penyembuhan.
c. Aset material
12
Aset material yang dapat diperoleh meliputi dukungan financial, sistem
pembiayaan layanan kesehatan seperti asuransi kesehatan ataupun program
layanan kesehatan bagi masyarakat miskin, kemudahan mendapatkan fasilitas
dan layanan kesehatan serta keterjangkauan pembiayaan pelayanan kesehatan
dan ketersediaan sarana transportasi untuk mencapai layanan kesehatan selama
di rumah sakit maupun setelah pulang. Material asset meliputi ketersediaan
dana ketidakmampuan klien dalam memenuhi asset material akan berpotensi
menimbulkan masalah akibat tidak optimalnya sumber koping yang dimiliki.
d. Keyakinan positif
Keyakinan positif adalah keyakinan diri yang menimbulkan motivasi
dalam menyelesaikan segala stressor yang dihadapi. Keyakinan positif
diperoleh dari keyakinan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi
ketidakmampuan klien dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Adanya
keyakinan positif yang dimiliki klien akan memotivasi dan membantu klien
untuk menggunakan mekanisme koping yang adaptif, kegiatan spiritual seperti
berdoa, mengikuti kegiatan keagamaan yang ada merupakan salah satu
mekanisme koping adaptif yang dilakukan oleh klien dalam menilai stressor
yang dialami. Pemilihan kegiatan spiritual dalam rangka menurunkan berbagai
stressor tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Baldacchino
(2011), yang menyebutkan bahwa koping spiritual merupakan upaya untuk
menyelesaikan masalah antara stimulus stress dan hasil negative yang dapat
menyebabkan timbulnya stress. Sebaliknya keyakinan negative semakin
menimbulkan perilkau maladaptif pada klien.

C. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


1. MASALAH KEPERAWATAN: Diagnosa keperawatan primer untuk respon
sosial maladaptif (NANDA), Stuart, (2009)
a. Coping, Defensive
b. Self-Esteem, Chrome low
c. Self-Multilation, risk of
d. Social interaction, impaired
e. Violence, risk for self-directed or other-directed
f. Anxiety
g. Family processes, interrupted
13
h. Role performance, ineffective
i. Sosial isolation
2. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan isolasi sosial,
Tanda dan gejala isolasi sosial dapat dinilai dari ungkapan pasien dan
didukung dengann hasil observasi.
a. Data Subyektif, pasien mengungkapkan tentang
 Perasaan sepi
 Perasaan tidak aman
 Perasaan bosan dan waktu terasa lambat
 Ketidakmampuan berkonsentrasi
 Perasaan ditolak

b. Data Obyektif
 Banyak diam
 Tidak mau bicara
 Menyendiri
 Tidak mau berinteraksi
 Tampak sedih
 Ekspresi datar dan dangkal
 Kontak mata kurang

c. Pohon masalah
Menurut Keliat dkk (2010) pohon masalah isolasi sosial adalah sebagai
berikut:
Resiko Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi

ISOLASI SOSIAL

Harga Diri Rendah

14
Tidak Efektifnya Koping Individu, Koping Defensif

d. Diagnose keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan : Isolasi sosial
2. Diagnosa Medis : Skizofernia

e. Rencana Tindakan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


. Keperawatan
1. Isolasi sosial 1. Membina Pertemuan 1
hubungan saling 1. Identifikasi
percaya penyebab isolasi
2. Dapat sosial: siapa
mengidentifikasi yang serumah,
penyebab isolasi siapa yang
sosial: siapa yang dekat, dan apa
serumah, siapa sebabny
yang dekat, dan 2. Jelaskan
apa sebabnya keuntungann
3. Dapat punay teman
memberitahukan dan bercakap-
kepada klien cakap
keuntungan punya 3. Jelaskan
teman dan kerugiann tidak
bercakap-cakap punya teman
4. Dapat dan tidak
memberitahukan bercakap-cakap
kepada klien 4. Latih cara
kerugian tidak berkenalan
punya teman dan dengan pasien,
tidak bercakap- perawat, dan

15
cakap tamu
5. Klien dapat 5. Masukkan pada
berkenalan dengan jadwal kegiatan
pasien, perawat, untuk latihan
dan tamu berkenalan
1. Klien dapat Pertemuan 2
berbicara saat 1. Evaluasi
melakukan kegiatan
kegiatan harian berkenalan
2. Kien dapat dengan beberapa
berkenalan dengan orang. Beri
2-3 orang pasien, pujian
perawat, dan tamu 2. Latih cara
berbicara saat
melakukan
kegiatan harian
(latih 2
kegiatan)
3. Masukkan pada
jadwal kegiatan
untuk latihan
berkenalan
dengan 2-3
orang pasien,
perawat dan
tamu, berbicara
saat melakukan
kegiatan harian.
1. Klien dapat Pertemuan 3
berbicara saat 1. Evaluasi
melakukan kegiatan, latihan
kegiatan harian berkenalan
2. Klien dapat (beberapa orang)
berkenalan dengan dan bicara saat

16
4-5 orang, melakukan 2
berbicara saat kegiatan harian.
melakukan dua Beri pujian
kegiatan harian 2. Latih cara
berbicara saat
melakukan
kegiatan harian
(2 kegiatan
baru)
3. Masukkan
dalam jadwal
kegiatan harian
untuk latihan
berkenalan 4-5
orang, berbicara
1. Klien dapat Pertemuan 4
berbicara sosial: 1. Evaluasi
meminta sesuatu, kegiatan latihan
menjawab berkenalan,
pertanyaan bicara saat
2. Klien dapat melakukan
berkenalan dengan empat kegiatan
>5 orang baru, harian. Berikan
berbicara saat pujian
melakukan 2. Latih cara bicara
kegiatan harian dan sosial: meminta
sosialisasi sesuatu,
menjawab
pertanyaan
3. Masukkan pada
jadwal kegiatan
untuk latihan
berkenalan >5
orang, orang

17
baru, berbicara
saat melakukan
kegiatan harian
dan sosialisasi
1. Klien dapat Pertemuan 5-12
mandiri dalam 1. Evaluasi
berkenalan, kegiatan latihan
berbicara saat berkenalan,
melakukan berbicara saat
kegiatan harian dan melakukan
sosialisasi kegiatan harian
dan sosialisasi.
Beri pujian
2. Latih kegiatan
harian
3. Nilai
kemampuan
yang telah
mandiri
4. Nilai apakah
isolasi sosial
terasi saat
melakukan 4
kegiatan harian

18
STRATEGI PELAKSANAAN (SP 1-4)
ISOLASI SOSIAL

1. STRATEGI PELAKSANAAN SP 1 ISOS


Nama : Ny. Y
Hari/Tanggal : Senin/ 14 Desember 2020
Ruangan : Cendrawasih
Pertemuan : 1 Sp. 1

A. Proses keperawatan
1) Kondisi klien
Data subjektif
 Pasien mengatakan malas bergaul dengan orang lain
 Pasien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani

Data objektif
 Pasien tampak menyendiri
 Pasien juga terlihat mengurung diri
 Pasien tidak mau berbicara dengan orang lain
2) Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial
3) Tujuan
a. Pasien dapat membina hubungan saling percaya
b. Pasien dapat menyebutkan penyebab terjadinya isolasi sosial
c. Pasien mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi
d. Pasien mampu menyampaikan kerugian dari tidak berinteraksi
e. Pasien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap
4) Tindakan keperawatan
a. Identifikasi penyebab isolasi sosial : siapa yang serumah, siapa yang dekat dan
apa penyebabnya
b. Jelaskan keuntungan punya teman dan bercakap-cakap
c. Jelaskan kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap-cakap
d. Latihan cara berkenalan dengan pasien, perawat, dan tamu.
e. Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan perkenalan.

19
B. Proses pelaksanaan
1) Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Perawat : assalamualaikum….selamat pagi bu ?
Pasien : waalaikumsallam, pagi
Perawat : perkenalkan bu nama saya perawat heni kurnia putri,
biasanya saya di panggil perawat heni. Sekarang saya ingin
tahu nama ibu, nama ibu siapa ?
Pasien : saya bu ema
b. Evaluasi validasi
Perawat : Bagaimana perasaan ibu hari ini ?
Pasien : saya bosan, saya merasa tidak berguna
Perawat : Jadi ibu merasa bosan dan tidak berguna
Pasien : iya
Perawat : ibu masih suka menyendiri ?
Pasien : ( mengangguk )
c. Kontrak waktu
Perawat : baiklan. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang
keluarga dan teman-teman ibu,tujuannya agar ibu dan saya bisa
saling mengenal satu sama lain, selain itu juga ibu bisa tahu apa
keuntungan dan kerugian dari berinteraksi dengan orang lain.
apakah ibu bersedia ?
Pasien : iya boleh sus.
Perawat : berapa lama ibu ingin berbincang-bincang dengan saya ?
Pasien : terserah suster saja
Perawat : bagaimana kalau 15 menit saja bu ?
Pasien : boleh sus
Perawat : ibu mau berbincang dimana bu, disini saja atau mau diteras ?
Pasien : disini saja sus
2) Fase Kerja
Perawat : baiklah, bu kalau boleh saya tahu ibu tinggal serumah dengan
siapa saja?
Pasien : saya tinggal serumah dengan suami dan mertua saya

20
Perawat : siapa yang paling dekat dengan ibu ?
Pasien : saya dekat dengan suami saya sus
Perawat : apa yang membuat ibu dekat dengan suami ibu
Pasien : karna suami saya bisa mengerti saya.
Perawat : apakah ada anggota keluarga atau temanan yang tidak dekat
dengan ibu
Pasien : semuanya tidak ada yg dekat dengan saya sus
Perawat : kegiatan apa saja yang sering ibu lalukan bersama keluarga
atau teman ibu?
Pasien : saya tidak pernah melakukan kegiatan bersama keluarga atau
pun teman. Saya lebih suka sendiri dikamar
Perawat :apakah ibu ada pengalaman yang tidak menyenangkan saat
bersama orang lain?
Pasien : saya tidak butuh teman, mereka jahat selalu menghina saya
karena saya belum mempunyai anak seperti mereka dan mereka
tidak selevel dengan saya.
Perawat : Kalau boleh saya tahu biasanya saat ibu sendirian dikamar ibu
ngapain aja ?
Pasien. : Saya dikamar melamun, menangis kenapa saya tidak bisa
mempunyai anak seperti mereka, kenpa saya tidak bisa seperti
mereka, apa dosa saya, saya tidak berguna
Perawat. : ibu yang sabar yah bu yah saya doakan ibu agar segera
mendapatkan keturunan seperti yang ibu ingin kan. Kita
lanjutkan lagi yah bu berbincang-bincangnya, menurut ibu apa
keuntungan kita mempunyai teman?
Pasien : saya tahu kalau kita punya teman, kita bisa bercakap-cakap
dengan mereka
Perawat : wah benar sekali yang ibu sebutkan itu adalah salah satu
keuntungan mau berinteraksi dengan orang lain , kita jadi
mempunyai teman untuk mengobrol. Nah sekarang coba ibu
sebutkan kerugian kalau kita tidak mempunyai teman.
Pasien : saya tidak tahu sus

21
Perawat : baik, jika ibu tidak tahu saya akan menjelaskan akibat dari
kita tidak mau berinteraksi dengan orang lain yaitu kita tidak
akan mempunyai teman untuk mengobrol. Sehingga kita sering
merasa bosan dan jenuh.
Pasien : ohh begitu ya sus, berarti seperti yang saya rasakan sekarang?
Perawat :iya ibu, apakah ibu tahu cara berkenalan dengan orang lain bu?
Pasien : tidak tahu sus
Perawat : jika ibu tidak tahu saya sekarang akan mengajarkan ibu
bagaiman cara berkenalan dengan orang lain, sekarang ibu lihat
saya dulu yah
Pasien : ( mengangguk )
Perawat : pertama-tama kita berbicara ( sambil berjabat tangan) kita
sebutkan dulu nama kita dan nama panggilan yang kita sukai,
alamat dan hobi kita . Contohnya “perkenalkan nama saya heni
kunia putri, biasanya di panggil heni, alamat saya di langkapura
dan hobi saya olahraga” selanjutnya ibu menanyakan nama
orang yang ibu ajak berkenalan. contohnya kalau nama bapak
siapa? Biasanya dipanggil siapa? Alamat bapak dimana? Trus
hobi bapak apa?
Perawat : coba sekarang ibu praktekan. Misalnya saya belum kenal
dengan ibu, coba ibu kenalan dengan saya.
Pasien : perkenalkan nama saya ibu ema wati, saya suka dipanggil ibu
ema, alamat saya gading rejo, hobi saya memasak. Kalau suster
siapa namanya terus suster suka dipanggil siapa, alamat suster
dimana, hobi suster apa?
Perawat : wah bagus sekali ibu, nah setelah ibu berkenalan dengan
orang tersebut ibu bisa melanjutkan bertanya seperti
menanyakan makanan kesukaan, tentang keluarga, teman,
perkejaan dan sebagainya. Apa ibu mengerti ?
Pasien. : Saya mengerti sus.
3) Terminasi
a. Evaluasi subjektif dan objektif
Perawat : Sekarang bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan
perkenalan?
22
Pasien : saya senang suster, dan sedikit terhibur
Perawat : sakarang coba ibu ulangi sekali lagi cara berkenalan dengan
orang lain yang tadi kita pelajari.
Pasien : ( memperagakan ) perkenalkan nama saya ema wati, saya
suka di panggil ibu ema, alamat saya di gading rejo, hobi saya
memasak, kalau suster namanya siapa, suka dipanggil siapa,
alamat suster dimana, hobi suster apa?
Perawat : bagus sekali, ibu sudah bisa meragakannya
b. Rencana tindakan lanjut
Perawat : selanjutnya ibu bisa ingat-ingat apa yang kita pelajari tadi
selama saya tidak ada, supaya nanti ibu lebih siap untuk
berkenalan dengan orang lain. Nanti kita akan melakukan
latihan perkenalan setiap hari yah bu?
Pasien : baik sus
Perawat : satu hari ibu mau latihan berkenalan berapa kali bu?
Pasien : dua kali saja bagamana sus
Perawat : baiklah dua kali sehari yah bu, ibu bisa latihan jam berapa ?
Pasien : jam 10:00 dan jam 15:00 sus
Perawat : sekarang kita masukan ke jadwal kegiatan harian ibu yah.
c. Kontrak selanjutnya
Perawat : besok pagi jam 10:00 saya akan datang kesini lagi untuk
menemui ibu dan mengenalkan ibu dengan teman saya.
Bagaimana, ibu maukan ?
Pasien : iya suster saya mau
Perawat : baiklah, saya tinggal dulu yan bu sampai jumpa
Pasien : terima kasih suster

23
2. STRATEGI PELAKSANAAN 2 ISOS
Nama : Ny. Y
Hari/Tanggal : Selasa/ 15 Desember 2020
Ruangan : Cendrawasih
Pertemuan : 2 Sp. 2

A. Proses Keperawatan
1) Kondisi klien :
Data subjektif :
 Klien mengatakan malas berinteraksi.
Data objektif :
 .klien menyendiri di kamar.
 Kline tidak mau melakukan aktivitas di luar kamar.
 Klien tidak mau melakukan interaksi dengan lainnya.
2) Diagnose Keperawatan
Isiolasi sosial.
3) Tujuan
a. Klien dapat berbicara saat melakukan kegiatan harian.
b. Klien dapat bekenalan dengan 2-3 orang pasien, perawat, dan tamu.
4) Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi tindakan bekenalan (beberapa orang), beri pujian.
b. Latih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian (latih 2 kegiatan).
c. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan 2-3 orang pasien,
perawat dan tamu, bebicara saat melakukan kegiatan harian.

B. Strategi Pelaksanaan
1) Fase Orientasi
a. Salam teraupetik
Perawat : assalamualaikum mbak, selamat pagi. Masih ingat dengan
saya ngga mbak ?
Pasien : emm suster hani ya ?
Perawat : iya mba benar sekali.
b. Evaluasi validasi
Perawat : bagaimana perasaan mbak hari ini ? apakah mbak masih
merasa kesepian ?

24
Pasien : masih sus (menunduk).
Perawat : bagaimana semangatnya untuk bercakap-cakap dengan
teman ? apakah mba sudah mulai berkenalan dengan orang
lain ?
Pasien : sudah mulai berkenalan dengan 1 orang sus.
Perawat : wah bagus sekali mbak… bagaimana perasaannya setelah
berkenalan dengan teman baru mbak ?
Pasien : senang sih sus tapi saya masih kesepian.
Perawat : tidak apa-apa mbak, nanti kita berlatih lagi ya.
Pasien : (mengangguk).
c. Kontak waktu
Perawat : Baiklah sesuai dengan janji kita kemarin, hari ini kita akan
latihan bagaimana berkenalan dan bercakap-cakap dengan 2
orang lain agar mbak semakin banyak teman. Apakah mbak
bersedia?
Pasien : Iya sus.
Perawat : Berapa lama mbak mau berbincang-bincang?
Pasien : 5 menit aja sus.
Perawat : Bagaimana Bagaimana kalau 10 menit ?
Pasien : iya sus.
Perawat : kalau berbincang-bincangnya disini saja ya mbak ?
Pasien : (mengangguk).
2) Fase Kerja
Perawat : nah mbak sebelum kita mulai berkenalan dengan perawat lain,
mbak masih inget nggak cara berkenalan yang kita praktikkan
kemarin ?
Pasien : iya masih sus.
Perawat : coba mbak praktikkan lagi bagaimana cara berkenalan sambil
bersalaman dengan saya.
Pasien : (sambil bbersalaman), assalamualaikum, perkenalkan nama
saya susi, umur saya 25 tahun, saya tinggal di lampung, hobi
saya memasak.
Perawat : wahh bagus sekali mbak kalau masih ingat. Nah ini perawat
nya sudah datang,selamat pagi sus ini ingin berkenalan dengan
25
suster suli, nah coba mba sekarang mulai berkenalan ya seperti
yang mbak praktikan tadi.
Pasien : ( mulai memperkenalkan diri membri salam, nama, umur,
alamat, hobi), kalau suster namanya siapa ?
Perawat 2 : nama saya suli.
Pasien : umur suster berapa ?
Perawat 2 : umur saya 40 tahun.
Pasien : kalau suster hobinya apa ?
Perawat 2 : hobi saya memasak.
Pasien : ohh begitu ya. Emang suster tinggal dimana ?
Perawat 2 : saya tinggal di lampung juga.
Perawat : wah bagus sekali mbak, selain nama, umur, hobi, dan alamat
apakah ada yang ingin ibu ketahui tentang perawat suli ?
misalnya bertanya tentang makanan favorit suster suli begitu
mbak..
Pasien : iya kalo makanan favorit suster apa ?
Perawat 2 : saya suka makan bakso.
Pasien : ohh iya sus.
Perawat : wah bagus sekali mbak, kira-kira apa lagi nih yang mau di
tanyakan ke perawat suli ?
Pasien : udah sus.
Perawat : baik mba, kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, mbak
susi bisa sudahi perkenalan ini. Lalu mbak susi bisa membuat
janji bertemu dengan suster suli, misalnya jam 1 siang nanti
ingin bertemu lagi.
Pasien : iya sus, suster nita nanti jam 1 susi boleh ngobrol lagi kan
sama suster ?
Perawat 2 : iya mbak boleh kok.
Pasien : iya sus terimakasih.
Perawat : iya mbak bagus sekali, baik sus karna susi sudah selesai
berlatih berkenalannya suster boleh melanjutkan kegiatan suster
lai, silahkan sus.

26
Perawat : wah mbak tampak bagus sekali tadi saat berkenalan dengan
perawat suli ya, pertahankan terus ya mbak apa yang telah
dilakukan tadi.
Pasien : iya sus.
Perawat : nah biasanya kalau jam segini mba susi ngapain aja ?
Pasien : siap-siap mau makan siang sus.
Perawat : ohh kalau begitu nanti kita temani teman-teman mbak yang
sedang menyiapkan makan siang ya sambil mba nanti bisa
ngobrol dengan teman-teman mbak.
Pasien : iya sus.
(di meja makan)
Perawat : nah ini yok sekarang mba susi dan mba sinta ngobrol-ngobrol
sambil menyiapkan makan siang ya.
Pasien : iya sus, mba biasanya kalo dirumah kegiatannya ngapain ?
Teman pasien : ya banyak mba, biasanya beres-beres rumah, kyk nyuci piring,
nyapu lantai gitu mba.
Pasien : terus mba bisa masak ?
Teman pasien : iya mba bisa.
Pasien : emang biasanya mbak sukanya masak apa ?
Teman pasien : biasanya sering masak sayur kangkung mba.
Perawat : nah ini sudah selesai menyiapkan makan siangnya ya mba,
mba sinta boleh melanjutkan kegiatannya ya mbak, saya mau
ngobrol dulu dengan mba susinya.
Teman pasien : baik sus.
Perawat : bagus sekali sudah bisa ngobrol degan temannya ya mbak.
Pasien : iya mbak.
3) Terminasi
a. Evaluasi data subjektif dan data objektif
Perawat : bagaimana perasaan mbak setelah berkenalan dengan perawat
susi dan teman mba yang lain tadi ?
Pasien : udah ngerasa ga kesepian lagi sus.
Perawat : iya mba bagus lah kalau begitu. Coba mba sebutkan lagi mba
cara berkenalan.
Pasien : (mulai memperkenalkan nama, umur, alamat, hobi, dll).
27
Perawat : wah bagus sekali mbak, sudah mulai bisa berkenalan
berkenalan dengan teman saya dan teman mbak juga. Sekarang
jika mbak melakukan tanpa diingatkan perawat, mbak beri
tanda M. Tapi kalau mbak dibantu dalam bercakap- cakap atau
di ingatkan ingatkan perawat, mbak beri tanda B. Dan kalau
mbak tidak melakukan sama sekali sama sekali beri tanda T ya.
Pasien : iya sus.
Perawat : coba mbak ulangi lagi tadi apa yang saya jelaskan.
Pasien : kalau melakukan sendiri tanda M, kalau diingatkan sama
suster tanda B, kalau ga melakukan sama skali tanda T.
Perawat : wahh iya mba betul sekali ya, berarti mbak sudah faham ya.
Pasien : iya sus.
b. Rencana Tindak lanjut
Perawat : Sekarang, bagaimana kalau ditambah ditambah lagi jadwal
kegiatan mbak yaitu jadwal kegiatan bercakap-cakap ketika
membantu teman sedang menyiapkan makan siang. Mau jam
berapa mbak latihannya ?
Pasien : Saat makan pagi dan makan siang aja sus
Perawat : Oo ketika makan pagi dan makan siang…
Pasien : iya sus.
c. Kontrak topic yang akan datang
Perawat : baik mbak besok saat makan pagi dan siang saya akan
menemui mbak lagi ya mba untuk mendampingi mba
berkenalan dengan 4 orang lain dan bercakap-cakap sambil
mengerjakan kegiatan harian lain, apakah ibu bersedia ?
Pasien : iya sus bersedia.
Perawat : Ibu mau jam berapa ?
Pasien : emmm terserah suster aja.
Perawat : yaudah gimana kalau jam 9 saja ?
Pasien : iya sus.
Perawat : besok kita mau ngobrolnya berapa lama mbak ?
Pasien : 20 menit.
Perawat : baik ya mbak berarti besok kita berbincang-bincangnya di
ruang makan ya selama 20 menit ya mbak.
28
Pasien : iya sus.
Perawat : baik mba saya pait ya, besok saya akan kesini lagi jam 9 ya
mba, assalamualaikum.
Pasien : wa`alaikumsalam sus.

29
3. STRATEGI PELAKSANAAN 3 ISOS
Nama : Ny. Y
Hari/Tanggal : Rabu/ 16 Desember 2020
Ruangan : Cendrawasih
Pertemuan : 3 Sp. 3
A. Proses keperawatan
1) Kondisi klien
Data subjektif :
 Klien mengatakan malas berinteraksi
Data objektif :
 Klien menyendiri dikamar
 Klien tidak mau melakukan aktifitas diluar kamar
 Klien tidak mau melakukan interaksi dengan lainnya
2) Diagnose keperawatan :
Isolasi sosial
3) Tujuan :
 Klien dapat berbicara saat melakukan kegiatan harian
 Klien dapat berkenalan dengan 3-5 orang pasien,perawat dan tamu
4) Tindakan keperawatan
 Evaluasi tindakan berkenalan (beberapa orang ) beri pujian
 Latih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian
 Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan 3-5 orang
pasien,perawat dan tamu berbicara saat melakukan kegiatan harian.
B. Strategi pelaksanaan
1) Fase orientasi
a. Salam Teraupetik
Perawat : assalamualaikum ibu, bagaimana perasaannya pada hari ini
Pasien : waalaikumsalam baik sus
b. Evaluasi/validasi
Perawat : Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap dengan suster
yang kemarin siang
Pasien : iya enak sus,bahkan saya ingin berkenalan dengan yg lainnya

30
Perawat : bagus sekali ibu,menjadi senang karena ingin mempunyai
banyak teman lagi
Pasien :iya sus
Perawat : bagaimana kalau kita berkenalan lagi dengan orang
lain,apakah ibu bersedia
Pasien : iya sus
c. Kontrak
Perawat : selanjutnya bagaimana jika kegiatan berkenalan bercakap-
cakap dengan orang lain kita tambah lagi agar ibu memiliki
bnyak teman
Pasien : baik sus
Perawat : baiklah kira-kira berapa lama ibu ingin berbincang-bincang
Pasien : terserah suster saja
Perawat : bagaimana kalau 10 menit bu
Pasien : iya sus
Perawat : kira-kira ibu ingin berbincang-bincang diamana
Pasien : saya mengikut saja sus
Perawat : bagaimana kalau kita bertemu dirung makan saja bu
Pasien : baik lah sus
2) Fase kerja
Perawat : baiklah bu ,ibu sekarang bisa berkenalan dengannya seperti
yang telah ibu lakukan sebelumnya.
Pasien : iya sus
Perawat : ibu sebelum kita mulai berkenalan dengan perawat lain, ibu
masih inget nggak cara berkenalan yang kita praktikkan
kemarin ?
Pasien : masih kok sus
Perawat : coba dipraktikan lagi dengan saya bu bagaimana
Pasien : (sambil berjabat tangan) assalammualaikum ,nama saya
lena,umur 35 tahun ,asal dari lampung dan hobi saya menyanyi
Perawat : wahh bagus sekali ibu kalau masih ingat. Nah ini perawat nya
sudah datang,selamat pagi sus ini ingin berkenalan dengan
suster ria, nah coba ibu sekarang mulai berkenalan ya seperti
yang ibu praktikan tadi.
31
Pasien : ( mulai memperkenalkan diri membri salam, nama, umur,
alamat, hobi), kalau suster namanya siapa
Perawat2 : nama saya ria
Pasien : umurnya berapa sus
Perawat2 : 40 tahun
Pasien : alamatnya dimana sus
Perawat2 : Bandar lampung
Pasien : hobi suster apa
Perawat2 : hobi sperti traveling gitu
Perawat : kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi
perkenalan ini. Lalu ibu bisa membuat janji bertemu: , misalnya
jam 2 siang nanti ingin bertemu lagi.
Pasien :iya sus
3) Tahap terminasi
a. Evaluasi Data Subjektif & Okjektif
Perawat : bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan tadi
Pasien : saya senang sekali sus dan saya bisa mempunyai banyak
teman karna setelah berkenalan dengan yang lainnya.
Perawat :dibandingkan kemarin pagi,suster ria tampak lebih baik saat
berkenalan dengan lena ‘ pertahankan apa yang sudah ibu
lakukan tadi jangan lupa untuk bertemu lagi pada jam4 sore
nanti
Pasien : baik sus
b. Rencana Tindak Lanjut
Perawat : selanjutnya bagaimana kalau kegiatan berkenalan dan
bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi dijadwal
harian ,jadi satu hari ibu bisa berbincang-bincang dan ibu bisa
bertemu suster ria dan ditambah pasien baru ,dan selanjutnya
ibu bisa dapat berkenalan dengan orang lain secara
bertahap.bagaimana ibu setuju atau tidak
Pasien : iya setuju sus
c. Kontrak Topic yang Akan Datang

32
Perawat : `baiklah besok kita bertemu lagi untukmembicarakan
pengalaman ibu pada jam yang sama dan tempat yang sama ya
bu,sampai bertemu besok ya bu
Pasien : iy sus

33
4. STRATEGI PELAKSANAAN 4 ISOS
Nama : Ny. Y
Hari/Tanggal : Kamis/ 17 Desember 2020
Ruangan : Cendrawasih
Pertemuan : 4 Sp. 4

A. Proses Keperawatan
1) Kondisi Pasien
Data Subjektif :
 Klien mengatakan perasaan tidak aman
 Klien mengatakan perasaan bosan dan waktu terasa lambat
 Klien mengatakan ketidak mampuan berkosentrasi
 Klien mengatakan perasaan di tolak
 Klien mengatakan perasaan sepi
Data Objektif :
 Klien terlihat banyak diam
 Klien terlihat menyendiri
 Klien terlihat tidak mau berinteraksi
 Klien terlihat tampak sedih
 Klien terlihat ekpresinya datar dan dangkal
 Klien terlihat kontak mata kurang
2) Diagnosa Keperawatan : Isolasi Sosial
3) Tujuan Tindakan Keperawatan
 Klien dapat berbicara sosial : meminta sesuatu atau menjawab pertanyaan
 Klien dapat berkenalan dengan lebih dari 5 orang baru dan berbicara saat
melakukan kegiatan harian dan sosial.
4) Tindakan Keperawatan
 Evaluasi kegiatan latihan berkenalan, berbicara saat melakukan empat kegiatan
harian dan berikan pujian
 Latihan bicara sosial: meminta sesuatu/ menjawab pertanyaan
 Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan lebih dari 5 orang
baru, berbicara saat melakukan kegiatan sosial.

34
B. Strategi Komunikasi
1) Fase Orientasi
a. Salam teraupetik
Perawat : assalamualaikum ibu, apakah ibu masih ingat dengan saya?
Pasien : waalaikumsalam, masih ingat sus
Perawat : alhamdulilah jika ibu masih ingat dengan sya, apakah ibu
sudah mandi?
Pasien : sudah mandi sus
b. Evaluasi Validasi
Perawat : apakah tidur ibu tadi malem tidur ibu terasa nyenyak?
Pasien : nyenyak sus
c. Kontrak wktu
Perawat : alahmdulilah jika tidur ibu nyenyak. Jadi begini bu kemaren
kan kita sudah kontrak untuk latihan berkenalan dengan 5orang
lebih dan latihan berbicara sosial, apakah ibu bersedia?
Pasien : iya saya bersedia
Perawat : baik jika ibu bersedia tempatnya ibu mau dimana terus
waktunya mau berapa lama?
Pasien : disini saja 10 menit aja sus
2) Fase Kerja
Perawat : baik ibu kalo begitu. Kalo gitu kita mulai latihan berbicara
sosial dengan berkenalan lebih dari 5 orang, baik kan ibu
kemaren sudah latihan cara berkenalan. Coba ibu sebutkan lagi
nama yang sudah ibu ajak kenalan siapa sja?
Pasien : leni, dewi, indri, eli dan neneng
Perawat : alhamdulilah ibu masih ingat ibu hebat sekali. Nah sekarang
ibu pengen ngelakuin kegiatan apa?
Pasien : saya ingin menggambar.
Perawat : baik ibu kalo ingin menggambar
Pasien : sudah selesai sus
Perawat : nah jika ibu sudah selesai menggambar. Ayo kita belajar
berkenalan dengan 5 orang lebih apakah ibu masih ingat
dengan caranya.
Pasien : baik sus
35
Perawat : baik ibu sya berikan contohnya terlebih dahulu, nama saya
kasih asal saya dari lampung seperti itu bu. Jangan lupa selalu
tersenyum dan tatap matanya bu.
Pasien : perkenalkan nama saya ny.A saya dari bandung
Perawat : nah seperti itu ibu sudah pandai berkenalan.. Nah sekarang
kita latihan cara bicara sosial ya bu bisa dengaan teman
sekamar ibu, ibu juga bisa menawarkaan baantuan. Contohnya
apakah saya boleh membantu melipatkan bajunya. Nah seperti
itu kira kiranya.
Pasien : apakah saya bisa membantu melipatkan pakainya.
3) Terminasi
a. Evaluasi data Subjektif & Objektif
Perawat : alhamdulilah ibu hebat bisa melakukanya. Bagaimana
perasaan ibu setelah latihan beljar berbicara sosial?
Pasien : saya merasa senang
Perawart : alhamdulilah, apakah ibu bisa mengulangi kembali cara
berkenalan dan berbicara sosial.
Pasien : nama saya ny.A saya tinggal di bandung apakah saya boleh
membantu melipakan pakainya.
b. Rencana Tindak Lanjut
Perawat : baik ibu besok kita akan berlatih untuk menilai aspek positif
ibu ibu bersedia tidak atau ibu mau latihan apa yg ibu mau?,
Pasien : tidak sus
Perawat : baik ibu jika seperti itu, ibu bisa masukan di jadwal harian ya
bu ibu hari ini ngelakuin apa aja jika ibu mau jika tidak mau
juga tidak papa bu.
Pasien : baik sus
c. Kontrak Topic yang Akan Datang
Perawat : nah besok kan ada pertemuan kembali ibu mau jam brpa terus
tempatnya dimana?
Pasien : jam 9 saja disini tempatnya sus
Perawat : baik bu jika seperti itu waktunya mau berapa menit bu?
Pasien : 10 menit saja

36
Perawat : baik bu sudah selesai ya bu latihanya besok kita bertemu
kembali. Jangan lupa ber istirahat ya bu, sya pamit terimakasih
assalamuallaikum.
Pasien : waalaikumsalam.

37
DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Tgl, Profesional HASIL ASESEMEN Instruksi PPA VERIVIKAS


jam Pemberi PASIEN DAN TerMasuk Pasca I DPJP
Asuhan PEMBERIANPELAYAN Bedah
AN
14/12/2 Perawat S:  Mengkaji
0, 10.00 Heni  “Malas bergaul masalah
WIB Kurnia dengan orang lain”. isos,
Cendrawasi  “Tidak ingin keuntungan
h ditemani” punya
O: teman, dan
 pasien mampu keugian
menjelaskan tidak punya
penyebab isos, teman.
keuntungan  Melatih
memiliki teman dan cara
tidak punya teman. berinteraksi
 Pasien mampu dan cara
melakukan memperken
perkenalan diri yang alkan diri.
benar
A:
 Isolasi sosial :
menarik diri (masih
ada)
P:
 Evaluasi SP 1.
 Lanjutkan SP 2 isos
(latihan bekenalan
dengan 2 orang).

Tgl, Profesiona HASIL ASESEMEN Instruksi PPA VERIVIKA


jam l Pemberi PASIEN DAN TerMasuk Pasca SI DPJP

38
Asuhan PEMBERIANPELAYAN Bedah
AN
15/12/2 Perawat S:  Mengevaluasi
0, 10.00 Hudhani  Pasien mengatakan SP 1 isos.
WIB Nora mau berkenelan.  Melatih pasien
Cendrawas O: bekenalan
ih  Pasien mampu dengan 2
bekenalan dengan 2 orang.
orang.  Masukkan
A: pada jadwal
 Isolasi sosial : kegiatan untuk
menarik diri (masih latihan
ada) berkenalan 2-3
P: orang pasien,
 Evaluasi sp 2 perawat dan
 Lanjut SP 3 (latih tamu, bebicara
bekenalan dengan 3 saat
orang/ lebih) melakukan
kegiatan
harian.

Tgl, Profesiona HASIL ASESEMEN Instruksi PPA VERIVIKA


jam l Pemberi PASIEN DAN TerMasuk Pasca SI DPJP
Asuhan PEMBERIANPELAYAN Bedah
AN
16/12/2 Perawat S:  Mengevaluasi
0, Intan Febry  Pasien mengtakan SP 2.
Cendrawas mau berkenalan  Melatih pasien
ih dengan perawat berkenalan
lain. dengan 3
O: orang/ lebih.
 Pasien mampu
mempraktikkan
cara berkenalan
dengan 3 orang
39
perawat.
A:
 Isolasi sosial :
menarik diri (masih
ada).
P:
 Evaluasi SP 1 &2.
 Latih berkenalan
dengan 5 orang
lebih.

Tgl, Profesional HASIL ASESEMEN Instruksi PPA VERIVIKAS


jam Pemberi PASIEN DAN TerMasuk Pasca I DPJP
Asuhan PEMBERIANPELAYANA Bedah
N
17/12/20 Perawat S:  Evaluasi
, Kasih  Pasien mengatakan kegiatan
10.00 Setianingsi perasaan sepi mulai latihan
WIB h menghilang. berkenalan,
Cendrawasi  Pasien mengatakan berbicara
h perasaan di tolak saat
sudah menghilang. melakukan
O: empat
 Pasien sudah mulai kegiatan
mau berbicara. harian.
 Kontak mata pasien  Latihan
sudah mulai baik. bicara
A: sosial:
 Isolasi sosial : meminta
menarik diri (sudah sesuatu/
sedikit teratasi) menjawab
P: pertanyaan

 Mengevaluasi SP 1,2  Masukan


& 3. pada

40
 Terapi kelompok jadwal
(psikoedukasi). kegiatan
 Terapi keluarga untuk
(supportif therapy, latihan
self terapygroup berkenalan
therapy). lebih dari 5
orang baru,
berbicara
saat
melakukan
kegiatan
sosial.

41
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, G.W. (2010). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 6. Jakarta: EGC

Shives. L. R (2012). Basic conscepts of Psychiatric mental health nursing. 9th ed.

Philadelphia: Lippincott Williams & wilkins

Videbeck, Sheila L. (2011) Psychiatric-mental health nursing / Sheila L. Videbeck;

[illustrations by Catchy J. Miller]. – 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams

& wilkins

Townsend, (2014) Essentials of psychiatric mental health nursing: concepts of care in

evidence-based practice/Mary C. Townsend. – 6th ed

42