Anda di halaman 1dari 3

DILEMA REGULASI PUBLIK KEBEBASAN BEREKSPRESI DAN TANGGUNG JAWAB

1. Alasan regulasi publik : ketika informasi selalu interpretasi :

Memang prioritas itu tidak bisa dimutlakkan. Hanya kesulitan muncul ketika realitas tertentu ingin
memaksakan diri menjadi opini entah secara halus dengan hegemoni atau secara kasar dengan
penekanan pemihakan yang demonstratif.

Dalam hal ini prinsip demokrasi harus memberi proiritas pada kepentingan public. Public tidak bisa
dipaksa untuk menerima informasi atau opini tanpa persetujuan mereka. Hanya saja berbagi teknik
presentasi, berkembangnya berbagi jenis media, dan beragam kesempatan dengan mudah akan
memberi sarana unruk menebus ke pemirsa, pembaca atau pendengar tanpa merasa di paksa.

Namun, sejauh mana hak itu efektif sangat di tentukan oleh dukungan regulasi. Regulasi tidak bisa
dibuat tanpa membertimbangkan hierarkisasi hak. Untuk kepentingan ini harus ada interpretasi dalam
kerangka suatu regulasi media mendasarkan pada prioritas hak individu.

2. Regulasi public dan pluralisme : Memperkuat Deontologi Profesi.

- Pluralisme terdiri dari dua kata prular = beragam dan isme = paham yang berarti beragam pemahaman.

- Dalam ilmu social Pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-
kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain.

- Dalam ilmu pengetahuan Pluralisme bisa diagrumentasikan bahwa sofat pluralisme proses ilmiah
adalah faktos utama dalam perumbuhan pesat ilmu pengetahuan.

- Etika Deontologi adalah pandangan etika normatif yang menilai moralitas suatu tindakan berdasarkan
kepatuhan pada peraturan.

Regulasi untuk menjamin pluralisme ini memiliki beragam bentuk menurut Libois:

a) Bisa dalam rangka menghindari dominasi suatu bidang terhadap yang lain dengan mengusulkan
pengorganisasian distribusi atau alokasi progam. Jangan sampai suatu media hanya didominasikan oleh
spektakularisasi informasi.

b) Menjamin oembedaan lingkup riil dengan kekhasan ekspresinya untuk tetap mendapatkan akses yang
cukup representative ke ruang publik.

c) Memungkinkan definisi politik menurut tatanan prioritas sehingga ruang publik menjadi tempat
berlangsungnya penentuan hierarkisasi nilai oleh masyarakat.
d) Memungkinkan untuk mempertahankan adanya pemisahan berbagai ranah dan menentukan bagian
atau hak masing-masing.

Regulasi publik terhadap media yang bersifat membatasi diharapkan lebih menekankan dimensi
strategis, yaitu bahwa etika komunikasi, termasuk deontology profesi, harus bisa diterjemahkan secara
efektif ke dalam realitas sesuai dengan situasi. Sedangkan Negara dalam regulasi media mengusahakan
agar terjadi optimalisasi interaksi atau hubungan antara persaingan pasar dan kesejahterahaan umum
(kebaikan publik), antara efiensi dan keadilan.

Optimalisasi itu dimaksudkan agar jangan sampai, dalam media, logika ekonomi melepaskan diri sama
sekali dari logika social sehingga satu-satunya penentuan media seakan hanya mencari keuntungan.

Kemungkinan lain regulasi publik ialah dengan membentuk komisi mandiri yang bukan bagian dari
pemerintah. Namun, pendanaan biasanya berasal dari pemerintah karena tugasnya dikaitkan langsung
dengan upaya menjamin kualitas pelayanan public dalam hal pemenuhan hak akan infromasi yang
benar.

3. Regulasi Prosedural

Prosedural menurut Hiebert dan Lefevre menggambarkan pengetahuan procedural sebagai


pengetahuan tentang prosedur tentang prosedur baku yang dapet diaplikasikan juka beberapa isyarat
tertentu disajikan.

Cara peliputan, pengolahan, dan presentai yang penuh rekayasa menonjol dalam televisi contoh
menarik adalah bagaimana sensor yang tidak tampak beroperasi dalam media televisi, seperti diangkat
oleh Pierre Bourdieu. Akses ke televisi harus dibayar dengan sensor topic yang dibicarakan sudah
ditentukan, syarat komunikasi sudah di batasi dengan ketat seperti menekankan bahwa waktu sangat
dibatasi dan wacana harus di singkat. Ada serangkaian mekanisme televisi yang sebetulnya merupakan
suatu bentuk kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik adalah kekerasan yang berlangsung dengan
persetujuan tanpa terungkap dari korbannya, tetapi juga tanpa disadari oleh pelakunya. Misalnya,
“serba-serbi” dalam televisi merupakan acara yang menghibur atau mengalihkan perhatian.

Menurut Bourdieu, berita di televisi mirip sekali dengan prinsip tukang sulap, yaitu justru menarik
perhatian kea rah lain dari hal sedang dilakukannya. Dalam hal informasi, pemirsa dibawah ke fakta yang
harus menarik semua orang. Maka, tidak boleh membuat shock siapa pun, berarti tidak ada yang
dipertaruhkan, yang tidak memecah belah, dan yang membawa ke konsensus.Regulasi publik menjadi
penting, dewasa ini, karena kecenderungan melemahnya pemaknaan realitas. Ketidakpedulian terhadap
makna ini tidak lepas dari tekanan atau obsesi pada teknin presentas sehingga mengorbankan pesan
pokok.
Rasionalitas instrumental membawa media terlalu menekankan sarana sehingga sarana justru menjadi
tujuan pada dirinya. Bila tekanan pada sarana, maka tujuan akan dikaburkan. Tanpa tujuan, suatu
tindakan atau kegiatan tidak lagi terikat pada nilai atau makna. Jadi, regulasi public mau mengerem
instrumentalisasi informasi yang terlalu berlebihan. Maka, menjadi penting diskusi tentang kriteria yang
mendasari kekhasan kebebasan pers.