Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Gambaran Umum Lokasi


2.1.1 Desa Ngayung
Desa Ngayung merupakan desa yang terletak pada Kecamatan
Maduran, Kabupaten Lamongan. Desa ngayung memiliki luas total 2,74
Km2 dengan jumlah dusun satu, jumlah Rukun Warga (RW) satu, dan
jumlah Rukun Tetangga (RT) adalah lima. Sebagian besar wilayah Desa
Ngayung adalah persawahan.
Batasan wilayah Desa Ngayung adalah sebelah utara berbatasan
dengan Desa Gumantuk, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Porodeso
dan Desa Sungegeneng, sebelah barat berbatasan dengan Desa Keboan,
dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Sungegeneng dan Desa
Latukan.

Gambar 2.1 Desa Ngayung


Sumber: google maps

2.1.2 Sejarah Desa Ngayung


2.1.2.1 Sejarah Desa Ngayung Berdasarkan Sudut Pandang Nama Desa
Ngayung identik dengan kata Ngrayung. Ngrayung dari asal kata
kayu dan rayung yang dapat dimaknai hidup bersama atau hidup bergotong
royong atau uyang uyung. Pengertian ini merujuk pada kebiasaan

4
5

masyarakat Desa Ngayung yang dalam setiap kegiatanya baik yang


bersifat sosial keagamaan maupun dalam mencari penghidupan selalu
mencerminkan kebersamaan.
Kebersamaan ini hampir tercermin dalam setiap kegiatan. Dalam hal
ada kegiatan sosial keagamaan misalnya tanpa diminta pun mereka dengan
mudahnya memberikan rizkinya dan juga tenaganya.
Dalam hal lain kebersamaan ini ada sedikit berkonotasi negative
yaitu dalam mencari penghidupan, kebersamaan itu ditunjukan oleh sikap
mengikuti para pendahulunya yang lebih dahulu pergi ke kota atau ke
daerah lain. Ketika satu atau dua orang telah berada di kota atau daerah
lain maka akan diikuti yang lain. Baik karena diajak atau berangkat usaha
sendiri. Mereka berbondong-bondang atau berduyung-duyung mengikuti
jejak langkahnya.

2.1.2.2 Sejarah Desa Ngayung Berdasarkan Sudut Pandang keberadaan Makam


mbah Kati Doyok atau syekh Abdul Kadir Hamid
Ada tempat atau makam yang dianggap keramat. Tempat itu
sekarang dihidupkan kembali dan dibangun dengan cukup mentereng.
Hanya saja, apa orang yang dimakamkan di tempat tersebut merupakan
orang pertama atau yang memberikan nama Desa Ngayung.
Dulu tempat itu pernah dikeramatkan, dijadikan pemujaan , karena
dianggap punya kelebihan-kelebihan yang luar biasa, kesaktian, yang bisa
mendatangkan madlorot dan atau manfaat. Menurut kepercayaan untuk
keselamatan desa diadakan sesaji dengan memotong ayam atau kambing.
Bahkan untuk kegiatan tersebut desa menyediakan kas Desa , yang disebut
dengan Sawah Wedusan. Sawah tersebut sekarang tinggal cerita
bersamaan matinya tempat tersebut karna dialihkan peruntuknya untuk
kepentingan pembangunan Pendidikan Keagamaan yaitu Madrasah
Ibtidaiyah ihyaudin.
6

2.1.3 Rumah Ibu Hj. Musripah


Rumah Ibu Hj. Musripah terletak di Desa Ngayung, RT 004 RW
001. Rumah Ibu Hj. Musripah terdiri dari hanya satu lantai dengan luas
tanah ± 810 m2, dan luas bangunan ± 240 m2.

Gambar 2.2 Lokasi Rumah Hj. Musripah


Sumber: google maps

Gambar 2.3 Rumah Hj. Musripah


Sumber: Data Pribadi
7

2.2 Rumah Joglo


2.2.1 Filosofi Rumah Joglo
Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional jawa dan
rumah adat joglo juga dapat diartikan sebagai jenis rumah adat suku jawa
yang terlihat sederhana dan digunakan sebagai lambang atau penanda
status sosial serta nilai kebudayaan, yang didalamnya mempunyai
keunikan dan ciri khas tersendiri serta fungsi yang berbeda. rumah joglo
mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa
empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang
berupa susunan balok yang disangga soko guru. Susunan ruangan pada
Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang
disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk
mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang
belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga.
Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri,
tengah, dan kanan.
Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya.
Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat
umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).
Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian
belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga
sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan
terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri
(Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata
pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang tersebut disebut
krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan
ranjang, kasur, bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam
pertama bagi pengantin baru.
Jadi dalam pemetaan ruang didalam rumah adat Joglo, meliputi tiga
pemetaan di dalam ruang utama yaitu :
8

1. Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau
terbuka, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu
bersikap ramah, terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu.
Pada umumnya pendopo tidak di beri meja ataupun kursi, hanya diberi
tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang
punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan
atau ngobrol terasa akrab rukun (rukun agawe santosa).

2. Pringgitan
Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk
memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa
dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri
(dewi padi) yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan
kebahagiaan. Menurut Rahmanu Widayat, pringgitan adalah ruang
antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan wayang
(ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara ruwatan
untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa
raksasa yang maha hebat).

3. Dhalem
Dalem atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang
pribadi pemilik rumah. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa
bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut
senthong. Pada masa dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga
kamar saja, dan peruntukkan kamar inipun otomatis hanya menjadi tiga
yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar kedua
kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan
perlengkapan tidur, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau
istirahat kaum perempuan. Kamar yang kedua atau yang tengah biasa
disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan
tempat pemujaan terhadap Dewi Sri. Senthong tengah atau krobongan
9

merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya. Di dalam


dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib serta
padi hasil panen pertama, DewiSri juga dianggap sebagai pemilik dan
nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang,
kasur, bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para
pengantin baru, hal ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan
Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta
asmara perkawinanDi dalam rumah tradisi Jawa bangsawan
Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam
benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti
yang sakral (suci).Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan
benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti
lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang perwujudannya
adalah Dewi Sri.

4. Krobongan
Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Dewi Sri tidak lepas dari
kehidupan mereka yang agraris. Dewi Sri merupakan dewi kesuburan
yang berperan penting dalam menentukan kesejahteraan masyarakat
agraris (para petani). Agar dalam berusaha lancar maka perlu
menyediakan tempat yang khusus di rumahnya untuk menghormati
Sang Tani.
Y.B. Mangunwijaya (1992 : 108) menjelaskan yang dimaksud
dengan Sang Tani adalah bukan manusia si petani pemilik rumah,
melainkan para dewata, atau tegasnya Dewi Sri.
Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang
bermakna gaib serta padi hasil panen pertama, Dewi Sri juga dianggap
sebagai pemilik dan nyonya rumah yang sebenarnya.
Di dalam krobongan terdapat ranjang, kasur, bantal, dan guling,
adalah kamar malam pertama bagi para pengantin baru, hal ini dimaknai
sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi
10

Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara perkawinan(Mangunwijaya,


1992: 108).
Di dalam rumah tradisional Jawa bangsawan Yogyakarta,
senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam benda-benda
lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral
(suci).
Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda
lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan,
kebahagiaan rumah tangga yang perwujudan-nya adalah Dewi Sri
(Wibowo dkk., 1987 : 63).

5. Gandhok dan Pawon


Ruangan di bagian belakang dinamakan gandhok yang
memanjang di sebelah kiri dan kanan pringgitan dan dalem. Juga
terdapat pawon yang berfungsi sebagai dapur dan pekiwan sebagai
wc/toilet. Ruangan-ruangan tersebut terpisah dari ruangan-ruangan
utama, apalagi dari ruangan yang bersifat sakral/suci bagi penghuninya.
Pola organisasi ruang dalam rumah tradisional Jawa dibuat
berdasarkan tingkatan atau nilai masing-masing ruang yang ter-urut
mulai dari area publik menuju area private atau sakral. Pembagian
ruang simetris dan menganut pola closed ended plan yaitu simetris
keseimbangan yang berhenti dalam suatu ruang, yaitu senthong tengah
(Indrani, 2005: 11).

2.2.2 Struktur Rumah Joglo


Joglo merupakan rumah tradisional Jawa khususnya Jawa Tengah,
yang umumnya terbuat dari kayu Jati (Tectona Grandis Sp.). Istilah Joglo
mengacu pada bentuk atapnya, mengambil filosofis bentuk sebuah
gunung. Pada mulanya filosfis bentuk gunung tersebut diberi nama atap
Tajug, tapi kemudian berkembang menjadi atap Joglo atau Juglo (Tajug
Loro = Dua Tajug ~ penggabungan dua Tajug). Dalam kehidupan manusia
Jawa -gunung sering dipakai sebagai idea bentuk yang dituangkan dalam
11

berbagai simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang berkenaan dengan


sesuatu yang sakral. Hal ini karena adanya pengaruh kuat keyakinan
bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap suci
dan tempat tinggal para Dewa.

Gambar 2.4 Struktur Tajug


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.5 Struktur Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Konstruksi atap Joglo ditopang oleh Soko Guru (tiang utama) yang
berjumlah 4 buah. Jumlah ini adalah merupakan simbol adanya pengaruh
kekuatan yang berasal dari empat penjuru mata angin, atau biasa disebut
konsep Pajupat. Dalam konsep ini, manusia dianggap berada di tengah
perpotongan arah mata angin, tempat yang dianggap mengandung getaran
12

magis yang amat tinggi. Tempat ini selanjutnya disebut sebagai Pancer
atau Manunggaling Kiblat Papat.

Gambar 2.6 Denah Rumah Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.7 Potongan Melintang Rumah Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.8 Potongan Memanjang Rumah Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
13

Gambar 2.9 Struktur Soko Guru Rumah Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Istilah Guru digunakan untuk menunjukan bagian utama (inti) dari


sebuah konstruksi Joglo. Soko Guru menopang sebuah konfigurasi balok
yang terdiri dari Blandar dan Pengeret yang disebut sebagai Pamidhangan
atau Midhangan.

Gambar 2.10 Sistem Purus dan Cathokan Tiang atau Saka Rumah Joglo
Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.11 Analisis Kolom pada Saka Guru


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
14

Menurut naskah "Kawruh Kalang" konfigurasi Blandar-Pengeret


inilah yang menjadi patokan, acuan, rujukan bagi perhitungan struktur
keseluruhan Joglo. Semua ukuran dan dimensi struktur serta bangunan
mengacu pada ukuran dan dimensi Blandar-Pengeret tersebut, berdasarkan
standar perhitungan tertentu yang disebut sebagai Petungan.
“Tembung midhangan punika mirit wujudipun angemperi
pundhaking griya, manawi mirid parlunipun tiyang anindakaken damel
griya (ukuraning griya) nama wau leresipun papundhen, dening kajeng
midhangan sakawan iji punika ingkang lajeng manjing nama: guru.
Wondene saka ageng sakawan winastan saka guru, leresipun: sakaning
guru, utawi saka ingkang nyanggi guru, amargi sasampuning wujud
catokan sakawan, sakatahing ukur bade pandamelipun babalungan ageng
alit saha panjang celak, tuwin tumpang-tumpangipun sadaya, sami
mendhet ukur saking salebeting gagelengan kajeng sakawan wau, boten
saged tilar utawi boten kenging kaempanan saking dugi-dugi kemawon."
"Di sini keempat batang kayu yang membentuk midhangan
(pamidhangan, balandar-pangeret) itu lalu mendapatkan sebutan yaitu
guru. Adapun keempat batang saka (tiang) yang besar-besar itu lalu
dinamakan sakaguru, yang lebih tepatnya adalah sakaning guru atau saka
ingkang nyanggi guru (saka yang menyangga guru). Penamaan ini
disebabkan oleh karena setelah terwujud menjadi empat buah cathokan
maka segenap pengukuran dalam membuat besar-kecilnya balungan griya
maupun segenap tumpang, sama-sama mengambil patokan ukuran pada
keempat batang balandar-pangeret tadi. Jadi, mengukur itu tidak boleh
sekadar menduga-duga atau asal mengukur semata."
Karena sifat keutamaan itulah maka konfigurasi Blandar-Pengeret
diistilahkan sebagai Guru. Sedangkan 4 buah tiang penopangnya disebut
sebagai Soko Guru atau Sakaning Guru (tiang yang menyangga Guru).

Hal-hal tersebut di atas mencerminkan manusia Jawa yang dapat


digolongkan sebagai golongan masyarakat archaic yang menempatkan
kosmologi sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya. Yang meyakini
kehidupan ini dipengaruhi kekuatan yang muncul dari dirinya sendiri
15

(Jagad Alit atau Mikrokosmos) dan kekuatan yang muncul dari luar
dirinya atau alam sekitarnya (Jagad Gede atau Makrokosmos). Sehingga
perwujudan dari konsep bentuk Rumah Joglo merupakan refleksi dari
lingkungan alamnya yang sangat dipengaruhi oleh geometric , yang
sepenuhnya dikuasai oleh kekuatan dari dalam diri sendiri; dan pengaruh
geofisik, yang sangat tergantung pada kekuatan alam lingkungannya.

Rumah Joglo memiliki struktur utama berupa struktur Rongrongan,


yang terdiri dari :
1. Umpak
2. Soko Guru
3. Sunduk
4. Sunduk Kili
5. Pengeret
6. Blandar
Tumpangsari merupakan pengakhiran dari struktur Rongrongan
ditopang oleh Beladar dan Pengeret. Tumpangsari merupakan susunan
balok menyerupai piramida, dan bisanya dihiasi oleh ukiran yang sangat
indah dan berfungsi menopang bagian langit-langit Joglo (pamindhangan).

Gambar 2.12 Struktur Rongrongan Joglo


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
16

Tumpangsari merupakan susunan balok bertingkat pada bangunan


Joglo. Secara struktural berfungsi sebagai penopang atap Joglo.
Sedangkan fungsi arsitektural -merupakan bagian dari langit-langit utama
struktur Rongrongan (Umpak-Soko Guru-Sunduk-Belandar).
Tumpangsari ditopang langsung oleh balok Blandar dan Pengeret.
Biasanya Tumpangsari dipenuhi oleh ukiran yang sangat indah dan
merupakan center pointbagi interior bangunan Joglo.

Gambar 2.13 Struktur Tumpangsari Dalam


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.14 Struktur Tumpangsari Luar


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
17

Tumpangsari terbagi menjadi 2 bagian yaitu Elar dan Elen,


dijabarkan sebagai berikut :
A. Elar
 Berada diposisi lingkar luar konfigurasi Blandar-Pengeret
 Berfungsi sebagai penopang usuk dan struktur atap lainnya
 Berjumlah ganjil yaitu 3 (tiga) atau 5 (lima).
B. Elen
 Berada diposisi lingkar dalam konfigurasi Blandar-Pengeret
 Berfungsi sebagai langit-langit struktur Rongrongan dan menopang
papan penutup langit-langit (Pamindhangan)
 Berjumlah ganjil yaitu 5 (lima), 7 (tujuh), atau 9 (sembilan).

Tumpangsari pada bangunan Joglo terbagi menjadi 2 grid persegi


empat yang sama dan simetris, yang dipisahkan dan ditopang tepat
ditengah-tengah oleh balok Dadapeksi.
Hubungan antara Soko Guru - Sunduk -Sunduk Kili menggunakan
sistim Purus. Sedangkan antara Soko Guru - Pengeret & Blandar
menggunakan sistim Cathokan.

Gambar 2.15 Analisis Purus Pada Saka Guru


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
18

Sistim persendian antara Umpak dan Soko Guru dapat berfungsi


untuk mengurangi getaran pada saat bencana gempa bumi. Sedangkan
sistem Purus & Canthokan yang bersifat jepit terbatas menjadikan atap
berlaku sebagai bandul yang menstabilkan bangunan saat menerima gaya
gempa (berlaku seperti pendulum).

Gambar 2.16 Analisis Sunduk


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.17 Purus Pada Sunduk


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html
19

Gambar 2.18 Dudur


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.19 Analisis Tumpang


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html

Gambar 2.20 Posisi dan Penampang Usuk


Sumber: https://www.mebelamara.com/2016/04/struktur-joglo.html