Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

"ADAB DAN IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN"

Diajukan untuk memenuhi salah satu Mata Kuliah fiqih ibadah 1

Dosen Pembimbing : Drs. Maksum, MA.

Disusun oleh :

Firmansyah (A02180045)

FAKULTAS AGAMA
UNIVERSITAS MATHLA'UL ANWAR BANTEN
TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “
ADAB DAN IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN”

Sebagai seorang muslim yang baik kita tentu tahu bahwa adab terhadap orang tua merupakan
sesuatu hal yang sangat penting. Karena, orang tua adalah orang yang mengenalkan kita pada
dunia dari kecil hingga dewasa. Dan setiap orang tua pun pasti mempunyai harapan terhadap
anaknya agar kelak menjadi anak yang sukses, berbakti kepada orang tua, serta menjadi lebih
baik dan sholeh, di samping itu juga tentunya dalam kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas
dari interaksi dengan yang ada di sekeliling kita, guru, tetangga, dan sesama makhluk Allah
SWT.

Maka dari itu, jika kita memang seorang muslim yang baik hendaknya kita selalu berbakti
kepada orang tua, melakukan apa yang telah diperintahkan oleh orang tua, dan pantang untuk
membangkang kepada orang tua, dan juga harus memperhatikan yang ada di sekeliling kita
agar terciptanya keharmonisan dalam kehidupan.

Namun di zaman dewasa ini banyak dari kita seperti lupa terhadap kewajiban kita terhadap
orang tua dan yang ada di sekeliling kita sebagai muslim yang baik, yaitu adalah kita harus
memiliki adab dan prilaku yang sempurna terhadap orang tua dan yang ada di sekeliling kita.
Makalah ini mengandung poin-poin penting bagaimana menjadi manusia yang beradab dalam
kehidupan baik terhadap orang tua, guru, tetangga, tamu, dan sesama manusia. Maka selain
sebagai upaya untuk mengerjakan tugas Aqidah Akhlaq, saya berharap bahwa tugas makalah ini
juga dapat dijadikan sebagai pengingat bagi setiap orang muslim yang membacanya akan
pentingnya adab dan prilaku yang baik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita.

Demikian makalah ini kami susun dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang posisi
bagi ummat manusia, dan tak lupa koreksi ataupun saran yang bersifat konstruktif dari para
pembaca dengan harapan hasil penyusunan kami lebih baik di kemudian hari.

Terima kasih

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… 2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………...... 3

BAB I PENDAHULUAN ……………………....………………………………………….4

A. LATAR BELAKANG……………….......……………………………………. 4

B. RUMUSAN MASALAH …………………............……………………………..4

C. TUJUAN PENULISAN……………………………..........…………………….4

BAB II PEMBAHASAN………………………………………...………………………. 5

A. Pengertian Adab…………………………………………..................................11

B. Adab terhadap Orang Tua……………………………………….....................11

C. Adab Terhadap guru…………………………………………………....……..11

D. Adab Terhadap Tetangga……………………….............................................11

BAB III Penutup…………………………………………………..................................12

A. KESIMPULAN…………………………….....................................................13
DAFTARPUSTAKA……………………………………………………….......14
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling hormat menghormati, saling
menghargai satu sama lain, dalam keluarga sangatlah penting di tanamkan abad dan
tatakrama yang sopan terhadap kedua orang dan santun apabila berbicara terhadap
keduanya.

Di zaman yang modern seperti sekarang ini telah banyak pergeseran tentang adab atau prilaku
sehingga menjurus kepada dekadensi moral, anak dengan orang tua tiada jarak yang
memisahkan seperti layaknya teman sebaya, murid dengan guru sudah tidak bisa lagi
dibedakan baik dalam perkataan, perbuatan ataupun prilaku dalam kehidupan sehari-hari yang
seakan-akan tidak mencerminkan prilaku seorang guru ataupun peserta didik.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah
islamiyyah yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai, menghormati. Dalam berkehidupan
saling berdampingan dalam satu kawasan ataupun daerah individualisme lah yang sering
dimunculkan di mana rasa gotong royong, membantu satu sama lain sudah sangat sulit sekali
kita temukan, terlebih di kota-kota besar yang memang notabene memiliki beragam etnis,
kebiasaan, dan budaya yang berbeda beda.

Dengan adanya makalah ini penyusun mencoba menjelaskan tentang pandangan islam tentang
adab/tatakrama/ prilaku yang seharusnya dijunjung tinggi dan diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam bergaul satu sama lain, dalam bidang ekonomi sosial budaya
dan lain sebagainya.

B. Perumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini rumusan masalah yang akan d kaji diantaranya:

· Bagaimana pengertian adab?

· Bagaimanakah adab seorang anak terhadap kedua orang tua?


· Bagaimanakah adab seorang anak terhadap guru?

· Bagaimanakah adab seorang anak terhadap tetangga?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya:

· Untuk mendiskripsikan pengertian adab.

· Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap kedua orang tua?

· Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap guru?

· Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap tetangga?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Adab

Menurut bahasa Adab memiliki arti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak.
M. Sastra Praja menjelaskan bahwa, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau kemuliaan
kebudayaan manusia. Sedangkan menurut istilah Adab adalah suatu ibarat tentang
pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah.

Pengertian bahwa adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya
seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang. Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa
mulia dan terhormat di sisi Allah dan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang
baik.

Seseorang akan menjadi orang yang beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan
dirinya pada sifat kehambaan yang hakiki. Tidak merasa sombong dan tinggi hati dan selalu
ingat bahwa apa yang ada di dalam dirinya adalah pemberian dari Allah swt. Sifat-sifat
tersebut telah dimiliki Rasulullah saw. Secara utuh dan sempurna.
Menurut Imam al-Ghazali akhlak mulia adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh para utusan Allah
swt. yaitu para Nabi dan Rasul dan merupakan amal para shadiqin. Akhlak yang baik itu
merupakan sebagian dari agama dan hasil dari sikap sungguh-sungguh dari latihan yang
dilakukan oleh para ahli ibadah dan para mutaqin.

Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan akhlak hendaknya didasarkan atas mujahadah


(ketekunan) dan latihan jiwa. Mujahadah dan riyadhah-nafsiyah (ketekunan dan latihan
kejiwaan) menurut al-Ghazali ialah membebani jiwa dengan amal-amal perbuatan yang
ditujukan kepada khuluk yang baik, sebagaimana kata beliau: Barangsiapa yang ingin dirinya
mempunyai akhlak pemurah, maka ia harus melatih diri untuk melakukan perbuatan-
perbuatan pemurah, yakni dermawan, dan gemar bersedekah. Jika beramal bersedekah
dilakukan secara istiqamah, maka akan jadi kebiasaan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah swt :

Artinya :

“... dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik,,,.”

Konsepsi pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan al-Ghazali tentang pentingnya
pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode pembentukan akhlak yang
utama. Pandangan al-Ghazali tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika
Serikat, John Dewey, yang dikutip oleh Ali Al Jumbulati menyatakan: Pendidikan moral
terbentuk dari proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid
secara terus-menerus.

B. Adab terhadap Orang Tua

Orang muslim meyakini hak kedua orang tua terhadap dirinya, kewajiban berbakti, taat, dan
berbuat baik kepada keduanya. Tidak karena keduanya penyebab keberadaannya hingga ia
harus berbalas budi kepada keduanya, tetapi karena Allah Azza wa Jalla mewajibkan taat,
menyuruh berbakti, dan berbuat bakti kepada keduanya. Bahkan, Allah Ta’ala mengaitkan hak
orang tua tersebut dengan hak-Nya yang berupa penyembahan kepada diri-Nya dan tidak
kepada yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-
Kulah kembalimu. (Luqman : 14)

Seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah yang berhak mendapatkan
pergaulanku yang baik?” Rasulullah SAW bersabda, “ Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,
“Siapa lagi?” Rasulullah SAW bersabda, “ Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi?”
Rasulullah SAW bersabda, “ Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi?” Rasulullah
SAW bersabda, “ Ayahmu”.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, menahan
hak, dan mengubur hidup anak perempuan. Allah membenci untuk kalian mengosip, banyak
bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang anak tidak bisa membalas ayahnya, kecuali ia menemukan ayahnya menjadi budak,
kemudian ia membelinya dan memerdekaannya” (Muttafaq Alaih)

Salah seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin berjihad, kemudian
beliau bertanya, “ Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya
keduanya masih hidup”, Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah izin kepada keduanya, kemudian
berjihadlah.”

Salah seorang kaum Anshar datang kepada Rasulullah SAW, kemudian berkata, “Wahai
Rasulullah, apakah aku masih mempunya kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku
kerjakan setelah kematian keduanya?” Rasulullah SAW bersabda, “Ya ada, yaitu empat hal :
Mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya,
memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambungkan sanak famili di mana engkau tidak
mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau
kepada keduanya setelah kematian keduanya.” (Diriwayatkan Abu Daud).

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya bakti terbaik ialah hendaknya seorang anak tetap menyambung hubungan
keluarga ayahnya setelah ayahnya menyambungnya.” (Diriwayatkan Muslim)
Setelah orang muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan menunaikannya
dengan sempurna karena mereka mentaati Allah Ta’ala dan merealisir wasiat-Nya, maka juga
menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya :

1. Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di
dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran terhadap syariat-Nya,
karena manusia tidak berkewajibab taak kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat
kepada Allah, berdasarkan dalil-dalil berikut :

“dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Sabda Rasulullah SAW,

“ Tidak ada kewajiban ketaatan bagi manusia dalam maksiat kepada Allah”

2. Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan


keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak
mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak
mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya
namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak berpergian kecuali
dengan izin dan kerelaan keduanya.

3. Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan
kemampuannya, seperti memberi makan-pakaian keduanya, mengobati penyakit keduanya,
menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalahkan untuk kebaikan keduanya.

4. Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunya hubungan kecuali dari


jalur kedua orang tuanya mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya,
melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman-teman keduanya.

C. Adab Terhadap guru

Sesungguhmya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan
keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat
(tanda) jelek dan jurang kehancurannya. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat
diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena
kurangnya adab. (Madarijus Salikin, 2/39)

Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya.
Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli
Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan
orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408)

Berikut ini beberapa adab yang selayaknya dimiliki oleh penuntut ilmu ketika menimba ilmu
kepada gurunya. Sebagai nasehat bagi kami, selaku seseorang yang masih belajar dan nasehat
bagi saudara-saudara kami seiman yang sedang dan ingin menimba ilmu. Allohul Muwaffiq.

1. Ikhlas sebelum melangkah

Pertama kali sebelum melangkah untuk menuntut ilmu hendaknya kita berusaha selalu
mengikhlaskan niat. Sebagaimana telah jelas niat adalah faktor penentu diterimanya sebuah
amalan. Ilmu yang kita pelajari adalah ibadah, amalan yang mulia, maka sudah barang tentu
butuh niat yang ikhlas dalam menjalaninya. Belajar bukan karena ingin disebut sebagai pak
ustadz, ?rang alim atau ingin meraih ba-iian dunia yang menipu.

Dalil akan pentingnya ikhlas beramal di antaranya firman Allah:

ِ ِ‫َو َما أُ ِمرُوا إِاَّل لِيَ ْعبُدُوا هَّللا َ ُم ْخل‬


‫صينَ لَهُ ال ِّدينَ ُحنَفَاء‬

Artinya :

“ Padahal mereka tidakdisuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan


keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus”.(QS. al-Bayyinah [98]: 5)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“ Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di
hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah
253, Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dalam al-Misykah 225)

Imam ad-Daruqutni berkata: “Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Alloh, akan tetapi ilmu
itu enggan kecuali untuk Alloh.” (Tadzkiratus Sami hal. 47, lihat Ma’alim fi Thoricj Tholibil
llmihal. 20).

Imam asy-Syaukani berkata: “Pertama kali yang wajib bagi seorang penuntut ilmu adalah
meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat
Alloh, yang dengannya diturunkan para Rosul dan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu
membersihkan dirinya dari tujuan-tujuan duniawi, atau karena ingin inencapai kemuliaan,
kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya.” (Adabut Tholab wa
Muntaha al-Arab hal. 21)

Apabila keikhlasan telah hilang ketika belajar, maka amalan ini (menuntut ilmu) akan
berpindah dari keutamaan yang paling utama menjadi kesalahan yang paling rendah!. (at-
Ta’liq as-Tsamin hal. 18)

2. Jangan mencari guru sembarangan

Ibnu Jama’ah al-Kinani berkata: “Hendaklah penuntut ilmu mendahulukan pandangannya,


istikhoroh kepada Alloh untuk memilih kepada siapa dia berguru. Hendaklah dia memilih guru
yang benar-benar ahli, benar-benar lembut dan terjaga kehormatannya. Hendaklah murid
memilih guru yang paling bagus dalam mengajar dan paling bagus dalam memberi
pemahaman. Janganlah dia berguru kepada orang yang sedikit sifat waro’nya atau agamanya
atau tidak punya akhlak yang bagus.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal. 86)

Bukan sebuah aib apabila kita menuntut ilmu dari orang alim yang masih muda. Imam Ibnu
Muflih berkata: “Fasal mengambil ilmu dari ahlinya sekalipun masih berusia muda.” (al-Adab
asy-Syari’ah 2/214)

Sahabat Abdulloh bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku dahulu membacakan ilmu
kepada beberapa orang muhajirin, di antara mereka ada Abdurrahman bin Auf.” (HR. Bukhori
6442).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini terdapat peringatan akan perlunya
mengambil ilmu dari ahlinya sekalipun masih berusia muda atau sedikit kedudukannya.”
(Kasyful Musykil, lihat Adab at-Tatalmudz hal. 16)

Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Orang yang bodoh itu tetap dikatakan rendah sekalipun dia
seorang syaikh. Dan orang yang berilmu itu tetap mulia sekalipun masih muda.” (Jami’ Bayanil
Ilmi, Adab at-Tatalmudz hal. 16)

3. Mengagungkan guru

Mengagungkan orang yang berilmu termasuk perkara yang dianjurkan. Sebagaimana


Rasululloh bersabda : “ bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghorrmti
orang yang tua, tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti hak ulama kami. (HR. Ahmad
5/323, Hakim 1/122. Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya


dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan
yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil
manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari
gurunya tersebut.” (al-Majmu’ 1/84)

4. Akuilah keutamaan gurumu

Khothib al-Baghdadi berkata: “Wajib bagi seorang murid untuk mengakui keutamaan gurunya
yang faqih dan hendaklah pula menyadari bahwa dirinya banyak mengambil ilmu dari
gurunya.” (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/196)

Ibnu Jamaah al-Kinani berkata: “Hendaklah seorang murid mengenal hak gurunya, jangan
dilupakan semua jasanya.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 90)

5. Doakan kebaikan

Rasululloh bersabda : “Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah
denganbalasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia
hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.”
(HR. Abu Dawud 1672, Nasa’i 1/358, Ahmad 2/68, Hakim 1/412 Bukhori dalam al-Adab al-
Mufrod no. 216, Ibnu Hibban 2071, Baihaqi 4/199, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 9/56. Lihat as-
Shohihah 254)

Imam Abu Hanifah berkata: “Tidaklah aku sholat sejak kematian Hammad kecuali aku
memintakan ampun untuknya dan orang tuaku. Aku selalu memintakan ampun untuk orang
yang aku belajar darinya atau yang mengajariku ilmu.” (Mana-qib Imam Abu Hanifah. Lihat
Adab at-Tatalmudz hal. 28)

Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang
masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah
wafat.” (Tadzkiroh Sami’ hal. 91)

6. Rendah diri kepada guru


Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah
dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan.”
(Tadzkiroh Sami’ hal. 88)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan kemuliaan dan kedudukannya yang agung,
beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata:
“Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama.” (as-Syifa 2/608) al-Khothib
telah meriwayatkan dalam kitab Jami’nya bahwa Ibnul Mu’taz berkata: “Orang yang rendah
diri dalam belajar adalah yang paling banyak ilmunya sebagaimana tempat yang rendah
adalah tempat yang paling banyak airnya.” (Adab at-Tatalmudz hal. 32)

7. Mencontoh akhlaknya

Hendaklah seorang penuntut ilmu mencontoh akhlak dan kepribadian guru. Mencontoh
kebiasaan dan ibadahnya. (Tadzkiroh Sami’ hal. 86) Qoshim bin Salam menceritakan: “Adalah
para murid Ibnu Mas’ud mereka belajar kepadanya untuk melihat akhlak, kepribadian dan
kemudian menirunya.” (Adab at-Tatalmudz hal. 40)

Bila pelajaran sudah dimulai

Bila pelajaran telah dimulai hendaklah bagi seorang penuntut ilmu memperhatikan hal-hal
berikut;

· Menghadirkan hati dan perhatian dengan seksama

Apabila telah hadir dalam majelis ilmu maka pusatkanlah perhatianmu untuk mendengar dan
memahami pelajaran. Jangan biarkan hati menerawang ke-mana-mana. Konsentrasi penuh,
karena sikap yang demikian akan membuat pelajaran lebih membekas dan terpahami.

Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaklah seorang murid ketika menghadiri pelajaran gurunya
memfokuskan hatinya dan ber-sih dari segala kesibukan. Piki-rannya penuh konsentrasi, tidak
dalam keadaan mengantuk, marah, haus, lapar dan lain seba-gainya. Yang demikian agar hati-
nya benar-benar menerima dan memahami terhadap apa yang dijelaskan dan apa yang dia de-
ngar.” (Tadzkiroh Sami’ hal. 96)

· Mengenakan pakaian yang bersih

Hal ini harus diperhatikan pula. Hendaklah seorang murid berpakaian yang sopan dan bersih.
Ingatlah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
sangat bersih pakaian dan keadaan dirinya. Umar bin Khoththob mengatakan: “Ketika kami
duduk di sisi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang kepada
kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat
padanya bekas perjalanan jauh.” (HR. Muslim 8, Abu Dawud 4695, Tirmidzi 2610, Nasa’i 8/97,
Ibnu Majah 63 dan selainnya.)

Karena kondisi yang bersih menandakan bahwa seorang murid siap menerima pelajaran dan
ilmu. Maka jangan salah-kan apabila ilmu tidak mere-sap dalam dada karena kondisi kita yang
kurang siap, pakaian penuh keringat, kepanasan dan sebagainya.

· Duduk dengan tenang

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata: “Duduklah dengan duduk penuh adab.
Jangan engkau luruskan kakimu di hadapannya, ini termasuk adab yang jelek. Jangan duduk
dengan bersandar, ini juga adab yang jelek apalagi di tempat belajar. Lain halnya jika engkau
duduk di tempat umum, maka ini lebih ringan.” (at-Ta’liq as-Tsamin hal. 181)

· Bertanya kepada guru

Ilmu adalah bertanya dan menjawab. Dahulu dikatakan, “Bertanya dengan baik adalah
setengah ilmu.” (Fathul Bari 1/142). Bertanya dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan
pergunakanlah bahasa yang santun lagi sopan. Jangan guru itu dipanggil dengan namanya,
katakanlah wahai guruku dan semisalnya. Karena guru perlu dihormati, jangan disamakan de-
ngan teman. Alloh berfirman;

ِ ‫اَل تَجْ َعلُوا ُدعَاء ال َّرسُو ِل بَ ْينَ ُك ْم َك ُدعَاء بَ ْع‬


ً ‫ض ُكم بَعْضا‬

Artinya :

“ Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu
kepada seba-hagian (yang lain)” (QS. an-Nur [24]: 63).

Ayat ini adalah pokok untuk membedakan orang yang punya kedudukan dengan orang yang
biasa. Harap dibedakan keduanya. (al-Faqih wal Mutafaqqih, Adab at-Tatalmudz hal. 52).

Perhatian. Sering kita jumpai sebagian para penuntut ilmu memaksa gurunya untuk menjawab
dengan dalil atas sebuah pertanyaan. Seolah-olah sang murid belum puas dan terus mendesak
seperti berkata kenapa begini, soya belum terima, siapa yang berkata demikian, semua ini
harus dihindari. Pahamilah wahai saudaraku, guru adalah manusia biasa, bisa lupa dan
bersalah. Apabila engkau pandang gurumu salah atau lupa dengan dalilnya maka janganlah
engkau memaksa terus dan jangan memalingkan muka darinya. Berilah waktu untuk
mendatangkan dalil di kesempatan lain. Jagalah adab ini, jangan sampai sang guru menjadi
jemu, marah hanya karena melayani pertanyaanmu.

Syaikh al-Albani berkata: “Kadangkala seorang alim tidak bisa mendatangkan dalil atas sebuah
pertanyaan, khususnya apabila dalilnya adalah sebuah istinbat hukum yang tidak dinashkan
secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah. Semisal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu
mendalam bertanya akan dalilnya. Menyebutkan dalil adalah wajib ketika realita menuntut
demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya acapkali ditanya harus menjawab Allah berfirman
demikian, Rosul bersabda demikian, lebih-lebih dalam perkara fiqih yang rumit yang
diperselisihkan. (Majalah al-Asholah edisi. 8 hal. 76. Lihat at-Ta’liq as-Tsamin hal. 188)

· Perhatikan keadaan gurumu

Memperhatikan keadaan guru merupakan perkara yang penting. Karena mengajar butuh
persiapan yang penuh. Jangan bertanya atau meminta belajar ketika kondisi guru tidak siap,
semisal sedang sibuk, banyak permasalahan, sedih dan sebagainya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Janganlah engkau meminta belajar kepadanya ketika
dia sibuk, sedang sedih, kelelahan, dan Iain-lain, karena hal itu akan menyebabkan dia malas
untuk menjelaskan pelajaran kepadamu.” (al-Majmu’ 1/86)

8. Membela kehormatan guru

Ketahuilah selayaknya bagi siapa saja yang mendengar orang yang sedang mengghibah kehor-
matan seorang muslim, hendaklah dia membantah dan menasehati orang tersebut. Apabila
tidak bisa diam dengan lisan maka dengan tangan, apabila orang yang mengghibah tidak bisa
dinasehati juga dengan tangan dan lesan maka tinggalkanlah tempat tersebut. Apabila dia
mendengar orang yang mengghibah gurunya atau siapa saja yang mempunyai kedudukan,
keutamaan dan kesholihan, maka hendaklah dia lebih serius untuk membantahnya. (Shohih al-
Adzkar 2/832, Adab at-Tatalmudz hal. 33)

9. Jangan berlebihan kepada guru

Guru adalah manusia biasa. Tidak harus semua perkataannya diterima mentah-mentah tanpa
menimbangnya menurut kaidah syar’iah. Orang yang selalu manut terhadap perkataan guru,
bahkan sampai membela mati-matian ucapannya adalah termasuk sikap ghuluw (berlebih-
lebihan). Apabila telah jelas kekeliruan guru maka nasehatilah, jangan diikuti kesalahannya.
Jangan seorang guru dijadikan tandingan bagi Alloh dalam syariat ini. Alloh berfirman;
‫ُوا إِلَـها ً َوا ِحداً الَّ إِلَـهَ إِالَّ هُ َو‬ ْ ‫وا أَحْ بَا َرهُ ْم َو ُر ْهبَانَهُ ْم أَرْ بَابا ً ِّمن دُو ِن هّللا ِ َو ْال َم ِسي َح ا ْبنَ َمرْ يَ َم َو َما أُ ِمر‬
ْ ‫ُوا إِالَّ لِيَ ْعبُد‬ ْ ‫اتَّ َخ ُذ‬
َ‫ُس ْب َحانَهُ َع َّما يُ ْش ِر ُكون‬

Artinya :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rohib-rohib mereka se-bagai Robb-Robb selain
Allah, dan (juga mereka menjadikan Robb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya
disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. at-Taubah [9]: 31)

Imam Mawardi rahimahullahmengatakan, “Sebagian para pengikut orang alim berbuat ghuluw
kepada gurunya. Hingga menjadikan perkataannya sebagai dalil sekalipun sebenarnya tidak
bisa dijadikan dalil. Meyakini ucapannya sebagai hujjah sekalipun bukan hujjah.” (Adab Dunya
hal. 49, Adab at-Tatalmudz hal. 38)

10. Bila guru bersalah

Sudah menjadi ketetapan yang mapan bahwasanya tidak ada seorang pun yang selamat dari
kesalahan. Salah merupakan hal yang wajar terjadi pada manusia. Rosululloh -SHI bersabda;

Seluruh bani Adam banyak bersalah. Dan sebaik-baiknya orang yang banyak bersalah adalah
yang bertaubat. (HR. Tirmidzi 2499, Ibnu Majah 4251, Ahmad 3/198, ad-Darimi 273, Hakim
4/244; Lihat Shohih Jami’us Shoghir 4515).

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang mempunyai ilmu dia akan mengetahui dengan
pasti bahwa orang yang mempunyai kemuliaan, mempunyai peran dan pengaruh dalam Islam
maka hukumnya seperti ahli Islam yang lain. Kadang-kala dia tergelincir dan bersalah. Orang
yang semacam ini diberi udzur bahkan bisa diberi pahala karena ijtihadnya, tidak boleh
kesalahannya diikuti, kedudukannya tidak boleh dilecehkan di hadapan manusia.” (I’lamul
Muwaqqi’in 3/295)’

1. Definisi Tetangga

Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu
Mandzur berkata: “ ‫ ْال ُم َجا َو َرة‬, ‫ ال ِج َوار‬dan ‫ ْال َجا ُر‬bermakna orang yang bersebelahan denganmu.
Bentuk pluralnya ٌ‫ ِج ْي َرة‬, ‫ أَجْ َوا ٌر‬dan ‫ان‬
ٌ ‫” ِج ْي َر‬. Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang
bersebelahan secara syar’i baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau
musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.
Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah
dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan
ketakwaannya serta yang sejenisnya.

Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, di antara pendapat mereka adalah:

1. Batasan tetangga yang mu’tabar adalah 40 rumah dari semua arah.

2. sepuluh rumah dari semua arah.

3. orang yang mendengar azan adalah tetangga.

4. tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja.

5. batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.

Yang lebih kuat, insya Allah, batasannya kembali kepada adat yang berlaku. Apa yang menurut
adat adalah tetangga maka itulah tetangga. Wallahu A’lam.

Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat
tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih
luas lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian,
tempat belajar dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian
juga teman perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan
setiap mereka memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya.

2. Wasiat Islam Terhadap Tetangga

ُ‫ت أَنَّهُ َسيُ َو ِّرثُه‬ ِ ‫صينِي ِجب ِْري ُل بِ ْال َج‬


ُ ‫ار َحتَّى ظَنَ ْن‬ ِ ‫َما زَا َل يُو‬

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga
tersebut akan mewarisinya.”

Hadits yang agung ini menunjukkan urgensi dan kedudukan tetangga dalam Islam. Tetangga
memiliki kedudukan arti penting dan hak-hak yang harus diperhatikan setiap muslim. Sehingga
dengan demikian konsep Islam sebagai rahmat untuk alam semesta dapat direalisasikan dan
dirasakan oleh setiap manusia.

Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah
menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhid-Nya serta berbuat bakti kepada kedua
orang tua, anak yatim dan kerabat, sebagaimana firman-Nya:
ِ ‫ار ِذي ْالقُرْ بَى َو ْال َج‬
‫ار‬ ِ ‫َوا ْعبُدُوا هللاَ َوالَتُ ْش ِر ُكوا بِ ِه َش ْيئًا َوبِ ْال َوالِ َد ْي ِن إِحْ َسانًا َوبِ ِذي ْالقُرْ بَى َو ْاليَتَا َمى َو ْال َم َسا ِكي ِن َو ْال َج‬
‫ت أَ ْي َمانُ ُك ْم إِ َّن هللاَ الَيُ ِحبُّ َمن َكانَ ُم ْختَاالً فَ ُخورًا‬ ِ ‫ب بِ ْال َجن‬
ْ ‫ب َوا ْب ِن ال َّسبِي ِل َو َما َملَ َك‬ ِ ‫ب َوالصَّا ِح‬ ِ ُ‫ْال ُجن‬

Artinya :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan


berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri.” (QS. Annisaa’: 36)

Hal ini menunjukkan wasiat dengan tetangga tersebut meliputi penjagaan, berbuat baik
kepadanya, tidak berbuat jahat dan mengganggunya, selalu bertanya tentang keadaannya dan
memberikan kebaikan kepadanya. Ini semua adalah bentuk perhatian dan motivasi syariat
dalam menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menetapkan pelanggaran kehormatan tetangga sebagai salah satu dosa terbesar dalam
sabdanya ketika ditanya:

Dosa apa yang terbesar di sisi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Menjadikan sekutu tandingan Allah, padahal Allah yang menciptakanmu.” Saya (Ibnu Mas’ud)
bertanya: “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Kemudian membunuh anakmu karena khawatir
dia makan bersamamu” lalu saya bertanya lagi: “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berzina
dengan istri tetanggamu.”

3. Hak-Hak Tetangga

Telah jelas tetangga memiliki hak yang besar dan kedudukan yang tinggi dalam islam. Hak-hak
mereka kalau dirinci akan sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya dapat dikembalikan
kepada empat hak yaitu:

· Pertama, berbuat baik (ihsan) kepada mereka.

Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karakteristik islam, demikian juga pada tetangga.
Imam Al Marwazi meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashriy pernyataan beliau: “Tidak
mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap
tetangga dengan sabar atas gangguannya.” Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya. Dan sebaik-
baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik pada tetangganya.”

Di antara ihsan kepada tetangga adalah memuliakannya. Sikap ini menjadi salah satu tanda
kesempurnaan iman seorang muslim.Di antara bentuk ihsan yang lainnya adalah ta’ziyah
ketika mereka mendapat musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan,
menjenguknya ketika sakit, memulai salam dan bermuka manis ketika bertemu dengannya dan
membantu membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akhirat serta memberi
mereka hadiah. Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‫يَا َرسُو َل هَّللا ِ إِ َّن لِي َجا َر ْي ِن فَإِلَى أَيِّ ِه َما أُ ْه ِدي قَا َل ِإلَى أَ ْق َربِ ِه َما ِم ْن ِك بَابًا‬

“Wahai Rasulullah saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi
hadiah? Beliau menjawab: kepada yang pintunya paling dekat kepadamu.”

· Kedua, sabar menghadapi gangguan tetangga.

Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan
menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek
mereka, khususnya kesalahan yang tidak disengaja atau sudah dia sesali kejadiannya.

Hasan Al Bashri berkata: “Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga
akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya.” Sebagian ulama
berkata: “Kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada pada empat hal, (1) senang dan
bahagia dengan apa yang dimilikinya, (2) Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya, (3)
Mencegah gangguan darinya, (4) Bersabar dari gangguannya.”

· Ketiga, menjaga dan memelihara tetangga.

Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: “Menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman. Orang
jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan
memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan; seperti hadiah, salam, muka manis
ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan mereka, menahan sebab-sebab yang
mengganggu mereka dengan segala macamnya baik jasmani atau maknawi. Apalagi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meniadakan iman dari orang yang selalu
mengganggu tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak
tetangga dan mengganggunya termasuk dosa besar.”

· Keempat, tidak mengganggu tetangga.


Telah dijelaskan di atas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam
islam. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan keras
upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman
mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah beliau menjawab: orang yang tetangganya
tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhori)

Demikian juga dalam hadits yang lain beliau bersabda:

ُ‫َم ْن َكانَ ي ُْؤ ِمنُ بِاهَّلل ِ َو ْاليَوْ ِم اآْل ِخ ِر فَاَل ي ُْؤ ِذ َجا َره‬

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetangganya.”

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang,
terhormat atau tercelanya nilai seseorang.

2. Adab terhadap orang tua adalah taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan
larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan
pelanggaran terhadap syariat-Nya, karena manusia tidak berkewajibab taak kepada manusia
sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, Hormat dan menghargai kepada keduanya,
merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik,
tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan
keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya
dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak
berpergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.

3. Adab terhadap guru adalah Jangan mencari guru sembarangan, Ikhlas sebelum
melangkah, Mengagungkan guru, Akuilah keutamaan gurumu, Doakan kebaikan, Rendah diri
kepada guru, Mencontoh akhlaknya, Membela kehormatan guru, Jangan berlebihan kepada
guru, dan Bila guru bersalah
4. Adab terhadap tetangga : berbuat baik (ihsan) kepada mereka. sabar menghadapi
gangguan tetangga, menjaga dan memelihara tetangga, dan tidak mengganggu tetangga.

DAFTAR PUSTAKA

DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari. 2006. Keistimewaan Akhlak Islam. Bandung:


________ Pustaka Setia

Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama Islam. Bandung:


________ Sinar Baru

Prof. Dr. Abdul Wahab khalaf, ‘’Hadits-Hadits Nabi’’, Gema Risalah, Perss, Bandung, 1996.
________ hal 197.

Syarifuddin Amir, ‘’MUTIARA HADITS’’, PT. LOGOS Wacana Ilmu. jakarta, 1997, hlm:124