Anda di halaman 1dari 16

MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

OPTIMALISASI KEGIATAN MANAJEMEN LALU LINTAS


GUNA MENAGGULANGI MASALAH KEMACETAN
DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KAMTIBCARLANTAS

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong kemajuan dan
peningkatan di segala bidang kehidupan, khususnya bidang transportasi yang tentunya
akan sangat berpengaruh terhadap timbulnya masalah kamtibmas dan keselamatan serta
kelancaran lalu lintas.
Krisis global yang terjadi saat ini telah berdampak terhadap negara-negara
dibelahan dunia akibat terpuruknya sistem ekonomi negara-negara liberalisme, hal ini
ditandai dengan ambruknya ekonomi negara Adi kuasa Amerika Serikat dan negara-
negara lainnya di Eropa, akibat dari buruknya pola hidup masyarakat yang sangat
konsumtif ditambah dengan buruknya pengelolaan ekonomi negara tersebut, dimana
antara belanja negara dengan pendapatan negara tidak sesuai, sehingga utang yang
ditanggung oleh negara menjadi berat, yang pada akhirnya berdampak pada semua sektor
kehidupan.
Dampak daripada adanya krisis global tersebut dirasakan pula oleh negara-negara
berkembangan termasuk Indonesia. Menurut data yang ada disebutkan bahwa Rasio utang
di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan kemampuan pendapatan nasional
bangsa Indonesia yaitu sebesar 35%1. Rasio ini juga dikatakan cukup tinggi bila
dibandingkan dengan dengan negara tetangga seperti Tahiland, Vietnam, maupun India.
Namun demikian dampak positip dari pada krisis ekonomi global tersebut juga
dirasakan oleh Indonesia yaitu ditandai dengan adanya peningkatan daya beli masyarakat
khususnya terhadap pembelian kendaraan bermotor yaitu terhadap roda 2 (dua) meningkat
sebesar 35% hingga bulan Maret 2010, sedangkan untuk kendaraan roda 4(empat)
1
Aviliani, bahan ajaran perkembangan perekonomian, 2009.
2

meningkat sebesar 73% sedangkan secara tahunan naik menjadi 90,1%2. Dengan adanya
data tersebut nampak bahwa perekonomian Indonesia masih menggeliat dan optimis dapat
pulih bahkan meningkat di tahun-tahun mendatang.
Namun dengan meningkatnya kendaraan bermotor tersebut khususnya di ibokota
negara (Jakarta) membawa dampak lain yaitu kemacetan lalu lintas, sehingga akibat
adanya penambahan kendaraan tersebut maka memperparah kemacetan di Ibu kota
sehingga mengganggu aktifitas pengguna jalan yang tidak hanya berhubungan dengan
masalah waktu (travel time) namun juga berpengaruh terhadap masalah lingkungan
(polusi). Data dari TMC Polda Metro Jaya menyebutkan bahwasannya jumlah
pertumbuhan kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 dalam waktu satu hari rata-
rata 2500 sampai 3000 unit kendaraan3.
Oleh karenanya untuk mengantisipasi hal tersebut diatas dibutuhkan suatu pola
penanganan kemacetan lalu lintas secara optimal, terpadu dan terintegrasi guna
meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan dalam rangka terwujudnya
kamseltibcarlantas.
2. Pokok Permasalahan
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka pokok permasalahan yang
dapat ditarik adalah : “Belum optimalnya penanganan kemacetan lalu lintas sehingga
berimplikasi pada belum terwujudnya kamseltibcarlantas bagi para pengguna jalan.
3. Pokok-pokok Persoalan
a. Kurangnya kemampuan dan pemahaman sumber daya manusia yang dimiliki
terkait permasalahan lalu lintas (kemacetan) yang ada.
b. Belum optimalnya pola (sistem dan metode) yang dilakukan di dalam penanganan
kemacetan lau lintas yang dilakukan selama ini.
4. Ruang Lingkup
Penulisan naskah karya perorangan (NKP) ini dibatasi pada upaya mengoptimalkan
Penanganan kemacetan lalu lintas akibat adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor
yang dilaksanakan oleh Direktorat lalu lintas polda Metro Jaya guna memberikan
pelayanan kepada pengguna jalan dalam rangka mewujudkan kamseltibcarlantas.

BAB II

2
Aviliani, bahan ajaran perkembangan perekonomian, 2009.

3
Data traffic Manajemen Center, Polda metro Jaya
3

KAJIAN KEPUSTAKAAN

1. Manajemen Lalu Lintas


Yang dimaksud dengan manajemen Lalu Lintas adalah pengelolaan dan
pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan optimalisasi penggunaan prasarana jalan
yang ada melalui pengecilan tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan
kepada angkutan (umum) yang efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar
sistem pergerakan. Dikatakan pula bahwasannya pembangunan jalan bukan merupakan
bagian daripada proses manajemen lalu lintas, pembangunan yang termasuk dalam
manajemen lalu lintas hanya terbatas pada penyempurnaan fasilitas yang ada akibat
diterapkannya suatu strategi dan instrumen (taktik) manajemen lalu lintas di lapangan.
(Rekayasa lalu lintas Tehnik sipil Universitas Widyagama Malang).
2. Pengguna Jalan
Yang dimaksud dengan pengguna jalan adalah orang yang menggunakan jalan
untuk berlalu lintas. (UU No 22 Tahun 2009).
3. Kelancaran Lalu lintas
Sedangkan yang dimaksud dengan kelancaran Lalu lintas adalah suatu keadaan
berlalu lintas yang bebas dari hambatan dan kemacetan di jalan. (UU No 22 tahun 2009).
4. Teori Analisa Swot

Teori analisa SWOT yang dikemukakan oleh Freddy Rangkuti adalah merupakan
sebuah konsepsi yang digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis
guna merumuskan suatu strategi. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi serta peluang dan ancaman
secara sistematis. Relevansi teori SWOT ini adalah sebagai sistematika identifikasi yang
dapat digunakan untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan
penyerapan anggaran secara optimal sesuai dengan kinerja yang ada yang sudah
direncanakan sebelumnya.

5. Perbandingan jumlah kendaraan dan panjang jalan di jakarta

Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA)


dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa
jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati
pada tahun 2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan
4

pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan
pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%. (Data dan analisis, Jica).

6. Indikator Ketahanan Sosial

Salah satu indikator di dalam mempertahankan adanya ketahanan sosial adalah


dengan melindungi masyarakat/warganya yang rentan (social exclusion) terhadap
gelombang perubahan sosial yang mempengaruhinya. (Achwan :2002).
5

BAB III
KONDISI SAAT INI

Pada bab ini penulis menguraikan gambaran tentang dampak yang terjadi akibat
adanya peningkatan daya beli kendaraan bermotor oleh masyarakat khususnya di wilayah
DKI Jakarta. Hal tersebut tentu saja sangat mempengaruhi kondisi lalu lintas di jalan raya
sehingga kemacetan nampak semakin parah. Kondisi demikian nampak diperparah dengan
belum adanya sistem pembatasan kendaraan serta penerapan manajemen lalu lintas yang
tepat dan terpadu dari seluruh instansi yang berwenang di bidang lalu lintas dan angkutan
Jalan ditambah dengan kurangnya sumber daya manusia (anggota Polri) yang mumpuni
baik dari segi kemampuan maupun prilaku. Beberapa kondisi tersebut diantaranya adalah:

1. Lemahnya sistem pembinaan sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh kesatuan
(Ditlantas) dalam menangani permasalahan lalu lintas khususnya kemacetan.
Pembinaan sumber daya manusia menjadi kunci pokok bagi keberhasilan
pelaksanaan tugas Polri di dalam menangani permasalahan kemacetan di Jakarta. Dengan
pembinaan sumber daya manusia yang baik maka akan menghasilkan personil-personil
yang handal di dalam melaksanakan tugasnya di lapangan sehingga penanganan
kemacetan dapat berjalan secara profesional sesuai aturan yang ada serta dapat
meningkatakan pelayanan kepada seluruh pengguna jalan yang ada.
Kurangnya kemampuan serta pengetahuan oleh anggota lalu lintas saat ini
meyebabkan kinerja anggota anggota lalu lintas tidak dapat berjalan optimal di dalam
mengatasi kemacetan, seperti keterbatasan kemampuan anggota di dalam memprediksi
meningkatnya volume kendaraan pada jam-jam tertentu, pemberian prioritas pada jenis
kendaraan tertentu (Motor lajur kiri) yang tidak memperhitungkan kapasitas jalan sehingga
justru menambah parah kemacetan dan membahayakan pengguna jalan lain, tidak adanya
upaya pemberian prioritas kepada Angkutan umum (publik transport) dalam kondisi macet
seperti contra flow, serta tidak konsistennya anggota di dalam melakukan penindakan
(tilang) yang cenderung masih terkesan tebang pilih serta masih ditemukannya laporan
pungli anggota kepada pengguna jalan .
Secara umum, Pembinaan sumber daya manusia yang dipersiapkan Ditlantas Polda
metro Jaya di dalam penanganan lalu lintas belum optimal, hal ini dapat dilihat dari:
6

a. Kurangnya anggota (perwira) yang memiliki keahlian di bidang transportasi (lalu


Lintas). Terhitung/terdata baru 2 personil yang telah mengikuti pendidikan S2
bidang Transportasi di UI dan Trisakti, meskipun mulai tahun 2007 pihak Ditlantas
Mabes Polri sudah menawarkan dan memberikan fasilitas maupun Beasiswa
kepada para Perwira untuk mengikuti Pendidikan Master baik di dalam maupun
Luar Negeri namun demikian peminatnya masih minim.
b. Kurangnya pembekalan serta arahan yang diberikan kepada seluruh anggota (baik
terhadap para perwiranya maupun Bintara) tentang pengetahuan berkaitan dengan
permasalahan lalu lintas di Kota jakarta serta solusi untuk mengatasinya yang
dipandang dari sudut keilmuan transportasi maupun sosisologi.
c. Kurangnya pembinaan dibidang rohani. Hal ini sangat erat hubungannya dengan
sikap prilaku dan mentalitas anggota di lapangan, dimana di dalam setiap
minggunya laporan dari Traffic Managemen Center (TMC) selalu ditemukan
adanya laporan anggota yang melakukan pungli di jalan raya di dalam rangka
melakukan penindakan (tilang).
2. Pola (sistem dan metode) penanganan masalah lalu lintas (kemacetan) yang
dilaksanakan saat ini.
Secara umum, pola penanganan masalah lalu lintas (kemacetan) yang
dilaksanakan saat ini oleh Ditlantas polda Metro Jaya masih belum optimal, terpadu dan
terintegrasi antar instansi yang ada, hal ini dapat dilihat dari :
a. Lemahnya sistem operasional rekayasa jalan yang dilakukan, sehingga kemacetan
jalan yang seharusnya sudah dapat terpredikasi tidak dapat diidentifikasi secara
optimal.
b. Lemahnya sistem koordinasi yang dilaksanakan saat ini, terkesan masing-masing
instansi berjalan sendiri-sendiri meskipun di dalam Undang-undang Lalu Lintas
yang baru sudah diamanatkan agar segera membentuk forum lalu lintas antar
instansi di tiap-tiap wilayah di seluruh Indonesia. Salah satu indikasi yang nampak
saat ini adalah belum adanya upaya pembatasan kendaraan yang nyata dari seluruh
instansi yang berwenang dan sebaliknya penambahan jumlah kendaraan semakin
meningkat dari hari ke hari terutama kendaraan roda dua.
c. Belum berjalannya secara optimal analisa dampak lalu lintas yang dilakukan
terhadap suatu rencana pembangunan pusat kegiatan (kantor, pertokoan, maupun
perumahan) yang berkontribusi terhadap terjadinya penambahan volume
kendaraan/bangkitan dan tarikan lalu lintas.
7

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1. Faktor Internal
a. Kekuatan
1) Adanya komitmen Dirlantas Polri dalam mencanangkan program akselerasi
reformasi birokrasi salah satunya program pembinaan SDM.
2) Adanya tuntutan reformasi dalam institusi Polri untuk mewujudkan
Personel Polri yang profesional.
3) Adanya pelatihan maupun kesempatan pendidikan di bidang transportasi
(lalu lintas) baik di dalam maupun luar negeri yang diselenggarakan oleh
Ditlantas Mabes polri setiap tahunnya.
4) Juklak dan juknis berkaitan dengan tata cara penanganan masalah lalu lintas
di jalan.
5) Kebijaksanaan pimpinan polri yang mengutamakan peningkatan kinerja
polri yang lebih professional di dalam memberikan pelayanan yang
maksimal kepada masyarakat (pengguna jalan) guna terwujudnya
kKamseltibcarlantas.

b. Kelemahan
1) Masih lemahnya kesadaran maupun minat anggota untuk mengikuti
pendidikan maupun pelatihan.
2) Anggota masih terlihat enggan untuk merubah kultur, masih sering terjadi
pelanggaran yang dilakukan oleh anggota di lapangan di dalam melakukan
penegakan hukum (pungli).
3) Masih lemahnya sistem dan metode (pola) penanganan kemacetan lalu yang
dilaksanakan oleh Direktorat lalu lintas polda metro Jaya .

2. Faktor Eksternal
a. Peluang
1) Meningkatnya daya kritis masyarakat dalam menyikapi profesionalisme dan
kinerja pimpinan Polri di kewilayahan, sehingga dapat dijadikan sebagai
8

salah satu sumber masukan bagi terlaksananya penanganan kemacetan lalu


lintas yang ada guna mewujudkan kamseltibcarlantas bagi pengguna jalan.
2) Meningkatnya fungsi kontrol dari masyarakat dan LSM yang mengharapkan
meningkatnya kinerja Polri yang lebih profesional di dalam memberikan
pelayanan kepada pengguna jalan.

b. Kendala
1) Masih rendahnya peran aktif masyarakat/tokoh masyarakat yang dilakukan
dalam rangka mendukung tugas Polri di dalam menaggulangi masalah
kemacetan di jalan.
2) Tidak seimbangnya peran media massa/media elektronik di dalam
memberikan berita yang cenderung menyoroti kekurangan atau hal-hal
negatif terkait penanganan masalah lalu lintas di jalan yang dilakukan oleh
Polri.
3) Masih rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme Polri.
4) Prilaku masyarakat yang kurang tertib (tidak disiplin) serta rendahnya
pengetahuan/pemahaman tentang berlalu lintas yang baik dan benar.
5) Pendapatan pajak dari sektor kendaraan bermotor masih dijadikan tumpuan
untuk menambah APBD daerah (khususnya DKI Jakarta).
9

BAB V
KONDISI YANG DIHARAPKAN

1. Adanya pembinaan sumber daya manusia yang optimal yang dilakukan oleh
Ditlantas dalam menangani permasalahan lalu lintas khususnya kemacetan.
Berkaitan dengan uraian sebelumnya, maka untuk dapat mengoptimalkan
penanganan kemacetan yang terjadi di kota Jakarta maka diperlukan suatu upaya sistem
pembinaan sumber daya manusia agar diperoleh para personil yang tangguh serta memiliki
kemampuan yang handal di dalam pelaksanaan tugas tersebut. Kondisi yang diharapkan
dalam pembinaan sumber daya manusia tersebut antara lain:

a. Adanya peningkatan kemampuan dan ketrampilan anggota/personil di Direktorat


lalu lintas baik Perwira maupun Bintara di dalam hal penanganan permasalahan
lalu lintas seperti kemacetan di jakarta. Adanya peningkatan kemampuan maupun
ketrampilan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja anggota di lapangan
di dalam meningkatkan pelayanan para pengguna jalan melalui metode manajemen
lalu lintas secara profesioanal sehinga terwujud kamseltibcarlantas. Diharapakan
para personil tersebut dapat memahami secara benar dan tepat tentang metode
manajemen lalu lintas berdasarkan teori yang tentunya disesuaikan dengan kondisi
sesungguhnya dilapangan.
b. Meningkatnya pemahaman personil baik perwira maupun bintara tentang hal yang
berkaitan dengan permasalahan maupun penyebab kemacetan lalu lintas di Jakarta
dari berbagi aspek baik ditinjau dari aspek keilmuan (transport engineering)
maupun dari aspek sosiologis secara integralistik. Dengan meningkatnya
pemahaman tersebut maka diharapkan personil dilapangan dapat memahami
penyebab-penyebab kemacetan secara luas serta dapat pula memahami bagaimana
mengatasi kemacetan itu sendiri secara profesional.
c. Diharapakan peningkatan kemampuan tersebut tidak hanya fokus terhadap hal yang
berkaitan dengan knowledge saja, akan tetapi perlu juga diimbangi dengan
perubahan attitude (sikap mental dan prilaku) selaku pelayan masyarakat/penggu
jalan sehingga mampu bertindak lebih arif dan bijaksana (humanis) untuk tidak
melakukan pelanggaran di jalan.
10

2. Pola (sistem dan metode) penanganan masalah lalu lintas (kemacetan) yang
dilaksanakan saat ini.
Diharapkan pola (sistem dan metode) penanganan kemacetan lalu lintas yang
diakibatkan oleh tidak terkendalinya jumlah kendaraan tersebut dapat dilaksanakan secara
terpadu antar seluruh unsur pembina maupun penyelenggara jalan serta Pemda dengan
tetap megutamakan penggunaan metode manajemen lalu lintas secara profesional dan
proporsional.
Pola penanganan kemacetan yang diharapkan tersebut antara lain :
a. Dengan meningkatkan (optimalisasi) sistem operasional rekayasa jalan yang
dilakukan, sehingga kemacetan jalan dapat terpredikasi dan dapat diidentifikasi
secara optimal.
b. Meningkatkan sistem koordinasi antar unsur pembina maupun penyelenggara jalan
yang ada (PU, DEPHUB) serta Pemda untuk bersama-sama membahas
permasalahan kemacetan yang salah yang salah satunya disebabkan karena tidak
terkendalinya penambahan jumlah kendaranaan perharinya baik roda dua maupun
roda empat sehingga diharapkan tercapai suatu kesepakatan dan solusi bersama
seperti apa yang tertuang di dalam Undang-Undang Lalu Lintas yaitu UU No 22
Tahun 2009.
c. Berjalannya mekanisme analisa dampak lalu lintas secara optimsl terhadap suatu
rencana pembangunan pusat kegiatan (kantor, pertokoan, maupun perumahan) yang
berkontribusi terhadap terjadinya penambahan volume kendaraan/bangkitan dan
tarikan lalu lintas.
11

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN MASALAH

Untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan tersebut maka perlu dilakukan serangkaian
upaya guna optimalnya penanganan kemacetan lalu lintas yang dilaksanakan dalam rangka
terciptanya kamseltibcarlantas bagi para pengguna jalan. Upaya-upaya tersebut diantaranya
adalah :

1. Upaya optimalisasi pembinaan sumber daya manusia oleh Ditlantas Polda Metro
jaya di dalam penanganan permasalahan lalu lintas (kemacetan).
a. Melaksanakan pelatihan tentang tata cara penanganan kemacetan melalui
manajemen lalu lintas dan mempersiapkan para perwiranya untuk megikuti
pendidikan Master bidang Transport Engineering. Untuk meningkatkan
kemampuan para personil yang ada terkait penanganan kemacetan yang terjadi
maka perlu dilakukan pelatihan tentang manajemen lalu lintas. Hal ini perlu
dilakukan agar para personil terampil dan mampu menangani masalah kemacetan
dengan menggunakan metode manajemen lalu lintas secara tepat dan profesional.
Sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwasannya manajemen lalu lintas adalah
suatu upaya pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan
optimalisasi penggunaan prasarana jalan yang ada melalui pengecilan tingkat
pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan (umum) yang
efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan. Oleh
karenanya materi yang perlu dilatihkan tersebut diantaranya adalah : kemampuan
anggota di dalam memprediksi meningkatnya volume kendaraan pada jam-jam
tertentu melalui instrumen soft ware (SCOOT), tata cara pemberian prioritas pada
jenis kendaraan tertentu (Motor lajur kiri) dengan memperhitungkan kapasitas
jalan, teori tentang persimpangan, tata cara kepada Angkutan umum (publik
transport) dalam kondisi macet seperti contra flow, dan tata cara melakukan
penindakan (tilang) secara profesioanl dan proporsional . Dengan adanya pelatihan
tersebut secara otomatis dapat pula melatih serta mempersiapkan para perwiranya
sebagai kader untuk mengikuti pendidikan lanjutan (master engineering) melalui
program Pendidikan yang dilaksanakan oleh Ditlantas babinkam Polri. Pelatihan
tersebut dapat dilaksanakan dengan mengikut sertakan para personil yang ada
12

melalui mekanisme Dikjur di Pusdik lantas maupun dengan mengadakan Short


Course (kursus singkat) minimal setiap 2 minggu sekali secara bergantian.

b. Dengan melaksanakan pembekalan (brain storming). Hal ini dapat dilakukan


melalui forum diskusi maupun seminar yang melibatkan semua anggota dari
perwira maupun bintara tentang pendalam pemahaman mengenai transportasi (lalu
lintas) dan permasalahannya yang dipandang dari berbagai sudut pandang baik itu
secara keilmuan maupun secara sosiologis. Hal ini perlu diberikan guna adanya
pemahaman yang konfrensif bahwasannya permasalahan lalu lintas yang ada
khususnya masalah kemacetan dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab baik yang
bersifat regulasi, disiplin dan prilaku berlalu lintas para pengguna jalan, maupun
kurangnya infrastruktur pendukung yang ada. Terkait fenomena tersebut diatas
maka perlu adanya pemahaman dari seluruh personil yang ada akan pentingnya
memaksimalkan manajemen Lalu lintas itu sendiri guna dapat memberikan
kesempatan kepada para pengguna jalan lain yang tidak memiliki kendaraan (sosial
exclusion) agar dapat diberikan kesempatan yang sama di dalam bertransportasi,
seperti : dengan memberikan prioritas kepada angkutan umum, pemberian prioritas
kepada para pajalan kaki dengan memberikan fasilitas/ruang khusus pejalan kaki
yang aman dan nyaman, maupun jalan/lajur khusus bagi para pesepeda maupun
kendaraan roda dua.
c. Pelatihan pengendalian emosi. Hal ini dimaksudkan agar kemampuan yang dimiliki
oleh anggota tersebut tidak hanya fokus terhadap hal yang bersifat knowledge
maupun skill saja akan tetapi perlu juga diimbangi dengan perubahan attitude
(sikap perilaku) serta mental para anggota agar para personil dilapangan
mempunyai ketangguhan mental di dalam menghadapi tekanan fisik maupun psikis
khususnya di dalam melakukan penindakan di jalan (tilang) sehingga dapat
mengurangi pelanggaran maupun komplain masyarakat/pengguna jalan. Pelatihan
pengendalian emosi tersebut dapat dilaksanakan minimal seminggu sekali dalam
bentuk kegiatan keagamaan (sesuai dengan agama masing-masing) baik itu
pengajian, ceramah agama, ESQ dan lain-lain.

2. Upaya optimalisasi penerapan pola (sistem dan metode) penanganan kemacetan


Meningkatnya daya beli kendaraan bermotor oleh masyarakat yang ada saat saat ini
selain dikarenakan faktor financial, hal tersebut juga disebabkan oleh beberapa hal, antara
13

lain: kurangnya sarana transportasi umum (public transport) baik dari segi kwalitas
maupun kwantitas, murahnya harga BBM dibandingkan dengan negara lain, mudahnya
persyaratan pembelian/kepemillikan kendaraan, tidak adanya aturan pembatasan
kendaraan dari pemerintah setempat, maupun masih tingginya gaya hidup konsumtif
(hedoisme) yang menganggap bahwa dengan memiliki kendaraan pribadi akan
meningkatkan gaya hidup (gengsi). Dalam kondisi demikian maka sudah berang tentu
jumlah kendaraan bermotor akan semakin bertambah dan tidak terkendali sehingga akan
mengakibatkan permasalahan lalu lintas khususnya kemacetan. Kondisi tersebut akan
semakin parah dikarenakan tidak seimbangnya penambahan jumlah ranmor dengan kondisi
(infrastruktur) jalan yang ada karena adanya keterbatasan ruang/lahan. Oleh karena
optimalisasi manajemen lalu lintas secara profesional adalah merupakan cara yang tepat
untuk dikembangkan saat ini .
untuk mengoptimalkan sistem penanganan kemacetan lalu lintas melalui
manajemen lalu lintas tersebut maka diperlukan pola (sistem dan metode) yang mampu
mengintegrasikan seluruh kemampuan yang ada sehingga dapat meningkatkan pelayanan
kepada para pengguna jalan dalam rangka terciptanya kamseltibcarlantas.
Upaya-upaya tersebut diantaranya adalah:
a. Dengan mengoptimalkan sistem operasional rekayasa lalu lintas jalan.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan Traffic managemen center (TMC)
yang dimiliki saat ini dengan menggunakan soft ware seperti SCOOT sehingga
mampu memprediksi peningkatan volume kendaraan yang akan terjadi setiap saat
dan dapat memantau serta memprediksi titik-titik (lokasi) yang dimungkinkan akan
segera terjadi penumpukan kendaraan. Dengan adanya identifikasi dini tersebut
maka dapat dilakukan upaya pemberian prioritas kendaraan tertentu seperti
kendaraan umum maupun dengan pengalihan arus serta memberikan masukan
kepada institusi lain (Dephub) untuk mengoptimalkan sistem traffic light yang ada
di tiap persimpangan. Pemberian prioritas terhadap pengguna jalan lain selain
kendaraan pribadi penting untuk dilakukan agar terjadi guna dapat men support
orang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Selain itu hal
tersebut juga akan melindungi hak-hak pengguna jalan lain yang tidak memiliki
kesempatan untuk membeli kendaraan bermotor sehingga terjadi keselarasan dan
keseimbangan sesuai seperti apa yang disebutkan di dalam teori ketahanan sosial.
b. Membentuk forum lalu lintas antar instansi pembina maupun penyelenggara lalu
lintas angkutan jalan dengan melibatkan unsur terkait seperti Pemda setempat
14

maupun pemda lain yang terletak dekat dengan kota Jakarta seperti Depok,
Tangerang, maupun Bogor seperti apa yang tertuang di dalam Undang-Undang
Lalu Lintas yaitu UU No 22 Tahun 2009. Hal tersebut perlu dilakukan sebab
permasalahan kemacetan yang disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan
tersebut tidak dapat diselesaikan oleh institusi kepolisian saja. Oleh karenanya
penguasaan lingstra melalui forum koordinasi tersebut sangat penting untuk
dilakukan. Dengan adanya forum tersebut diharapkan ditemukan solusi yang tepat
dalam rangka mengurangi jumlah kendaraan yang ada di jakarta seperti melalui
upaya pembatasan kendaraan, antara lain : peningkatan pajak progresif kepemilikan
kendaraan bermotor, peningkatan standard emisi gas buang terhadap jenis
kendaraan, road pricing pada jalur-jalur tertentu dan lain-lain. Upaya pembatasan
kendaraan tersebut nantinya juga harus diimbangi dengan peningkatan kwalitas
maupun kwantitas sarana transportasi umum serta peningkatan pelayanan bagi
penumpang yang ada seperti perbaikan halte, ketepatan waktu kedatangan dan
pemberangkatan (time schedule) serta peningkatan infrastruktur lain seperti
perawatan jalan, serta peningkatan tarif parkir yang ada sehingga diharapkan orang
enggan untuk menggunakan mobil pribadi untuk aktifas sehari-harinya.
c. Dibuatnya modul terkait pemberian rekomendasi berkaitan dengan Analisa
Dampak Lalu Lintas terhadap suatu perencanaan pembangunan pusat kegiatan baik
itu perkantoran, pertokoan, maupun perumahan. Dengan adanya modul tersebut
maka bangkitan/tarikan lalu lintas yang akan terjadi akabat adanya bangunan baru
tersebut dapat diprediksikan sebelumnya sehingga dapat dilakukan upaya-upaya
mitigasi yang optimal guna menghindari kemacetan yang berorientasi pada
kelestarian lingkungan hidup. Modul tersebut setidaknya berisikan tentang :
pembatasan jumlah lahan parkir yang akan disediakan oleh pengembang,
pemberian proritas bagi orang yang tidak memiliki kendaraan (pajalan kaki),
prioritas pemberhentian untuk kendaraan umum.
15

BAB VII
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan diatas maka dapat disusun suatu kesimpulan
yang merupakan jawaban atas pokok-pokok persoalan yang telah dirumuskan pada bab
terdahulu sebagai berikut:

a) Peningkatan kemampuan sumber daya manusia oleh kesatuan (Ditlantas) di dalam


menangani masalah kemacetan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan
penanganan kemacetan tersebut yang disebabkan oleh meningkatnya kendaraan
bermotor. Dengan semakin meningkatnya pemahaman serta kemampuan baik skill
maupun mentalitas anggota tersebut maka diharapkan dapat mengoptimalkan
kinerja anggota di lapangan dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna
jalan sehingga terwujud kamseltibcarlantas.
b) Optimalisasi penanganan kemacetan di jalan tersebut perlu pula didukung oleh
Pola (sistem dan metode) yang memadai agar mampu mengintegrasikan seluruh
kemampuan yang ada sehingga dapat menemukan solusi/pemecahan masalah yang
tepat di dalam mengatasi permasalahan kemacetan tersebut secara konfrehensif.

2. Rekomendasi
Sebagai bentuk masukan maka penulis memberikan beberapa rekomendasi yang
antara lain sebagai berikut:

a) Perlunya study banding terkait penggunaan teknologi transportasi dengan negara-


negara maju seperti Singapore, Australia, maupun Inggris guna pengembangan IT
yang ada pada Traffic Managemen Centre (TMC)

b) Perlunya pimpinan satuan (Dirlantas) untuk selalu berkoordinasi dengan instansi


terkait seperti Dephub, PU, maupun Pemda setempat untuk mendukung setiap
kegiatan/program pembatasan kendaraan guna dapat mengurangi jumlah
kendaraan.
16

DAFTAR PUSTAKA

Buku/Bahan pelajaran

Achwan, 2002, “Perkembangan Perekonomian”, Bahan Pelajaran Pasis sespim Polri Dikreg 50
TA 2010, Lembang.
Aviliani, 2009, “Perkembangan Perekonomian”, Bahan Pelajaran Pasis sespim Polri Dikreg 50
TA 2010, Lembang.

Freddy Rangkuti, “Teori Analisa SWOT”, Bahan Pelajaran Pasis Sespim Polri Dikreg 50 TA
2010, Lembang.

Jica, “Data dan Analisis”.


http://www.pdat.co.id/hg/political_pdat/2006/03/17/pol,20060317-01,id.html

Tehnik Sipil Universitas Widyagama Malang,” Diktat kuliah Rekayasa Lalu Lintas”
http://k12008.widyagama.ac.id/rl/diktatpdf/Bab9_Managemen_Lalu_Lintas.pdf

Perundang-Undangan

Undang-undang No 2 tahun 2002, Pasal 2 tentang Tugas Pokok Polri.

Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan jalan