Anda di halaman 1dari 11

1|Page

MAKALAH PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

PENGHITUNGAN NILAI HEMATOKRIT


PADA IKAN MAS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Makalah Praktikum Fisiologi Hewan Air

Disusun oleh :
KELOMPOK 23 dan 24 :
Yeni Nur Hafiffah 230110090053
Ruben Joey Saragih 230110090055
Hammi Iqomatul Haq 230110090057
Yuko Nala 230110090059
Naylaturohmah 230110090061
Franciscus Hutasoit 230110090063

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan


Universitas Padjajaran
Jatinangor - Sumedang
2010
KATA PENGANTAR
2|Page

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Penghitungan
nilai hematokrit ikan mas yang merupakan bagian dari tugas praktikum mata kuliah Fisiologi
Hewan Air.

Dalam pembuatan laporan akhir ini, penulis banyak mendapat kesulitan. Oleh karena
itu, penulis ingin menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan serta dukungannya dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini.

Dalam penyusunannya, penulis menyadari akan segala kekurangan yang ada


sehubungan dengan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh kami maka
kami mengucapkan maaf yang sebesar – besarnya apabila baik dalam dalam penulisan
maupun penyajian makalah ini terdapat banyak kesalahan. Dengan tangan terbuka kami akan
menerima segala saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.

Jatinangor, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI
3|Page

KATA PENGANTAR.....................................................................................................2
DAFTAR ISI....................................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN...........................................................................................................4
1.1 latar Belakang.............................................................................................................4

BAB II

ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA………………………………………….7

2.1 Alat………………………………………………………………………………….7

2.2 Bahan………………………………………………………………………………..7

2.3 Prosedur Kerja……………………………………………………………………....8

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................................9
3.1 Hasil Pengamatan…………………………………………………………………...9
3.2
Pembahasan………………………………………………………………………...10
BAB IV
PENUTUP......................................................................................................................11
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….......11
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................12
4|Page

BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Darah merupakan medium dalam sistem sirkulasi, dimana fungsinya mengedarkan


nutrisi esensial ke seluruh tubuh dan membawa sisa-sisa hasil metabolisme dan patogen
sebelum mencapai konsentrasi yang berbahaya. Darah ikan tersusun dari sel-sel darah yang
tersuspensi di dalam plasma yang diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Volume darah ikan
teleostei, heleostei, dan chondrostei sebanyak 3% dari bobot tubuh, sedangkan ikan
chondrocthyes 6.6% dari bobot tubuh. Darah terdiri dari cairan plasma dan sel-sel darah yaitu
sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Plasma
darah adalah suatu cairan jernih yang mengandung mineral-mineral terlarut, hasil absorbsi
dari pencernaan makanan, buangan hasil metabolisme oleh jaringan, enzim, antibodi serta gas
terlarut. Di dalam plasma darah terkandung garam-garam anorganik (natrium klorida, natrium
bikarbonat dan natrium fosfat), protein (dalam bentuk albumin, globulin dan fibrinogen),
lemak (dalam bentuk lesitin dan kolesterol), hormon, vitamin, enzim dan nutrient. Sel darah
ikan diproduksi di dalam jaringan hematopoietik yang terletak di ujung anterior ginjal dan
limpa. Berbeda dengan mamalia, pada ikan tidak ada sumsum tulang. Namun demikian, ikan
memiliki limfonodus. Pada ikan, darah dibentuk di dalam organ ginjal, limpa dan timus.
Secara umum sistem peredaran darah pada ikan mirip sistem hidraulis yang terdiri
atas sebuah pompa, pipa, katup, dan cairan. Meskipun, jantung teleostei terdiri atas empat
bagian. Namun pada kenyataanya mirip dengan satu silinder atau pompa piston tunggal.
Untuk menjamin aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan
tekanan. Tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lenih besar dari
tekanan arterionale. Akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi. Sistem
peredaran darah ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran
darah. Start dari jantung, darah menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Selanjutnya,
darah dialirkan ke dorsal aorta dan terbagi ke segenap organ-organ tubuh melalui saluran-
saluran kecil. Selain itu, sebagian darah dari insang kadang langsung kembali ke jantung. Hal
ini terjadi bilamana tidak semua output cardiac dibutuhkan untuk menuju ke dalam dorsal
aorta dan pembuluh eferen yang lain. Pada bagian lain, yaitu berawal dari insang pertama,
sebelum dihubungkan ke sistem vena. Peranan kedua organ ini mungkin sebagai ventilasi
kontrol dan untuk sekresi gas ke cairan mata. Dorsal aorta adalah sumber darah terbesar pada
tubuh. Dari sini darah di suplai ke kepala, otot badan, ginjal dan semua organ pencernaan
5|Page

melalui pembuluh kapiler. Ada tiga rute pengembalian jantung, yakni pertama, dari otak,
darah kembali ke jantungmelalui vena cardinal anterior yang berhubungan dengan vena
cardinal anterior yang berhubungan dengan vena cardinal umum. Di sini, juga bertemu darah
dari vena cava posterior, yakni darah dari vena caudal yang telah melalui sistem renal portal.
Kedua, dari organ visceral, darah kembali ke jantung melalui vena hepatik. Terakhir, dari
insang, darah dikembalikan ke jantung melalui vena branchial.
Hematokrit adalah volume sel darah yang dimampatkan atau Picked Cell Volume
(PCV). Apabila darah disentrifuge maka akan terbagi ke dalam dua bagian besar yaitu sel
darah dan plasma darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit) dan keeping darah (trombosit) sedangkan plasma darah merupakan bagian cairan
darah terdiri dari air protein, garam anorganik dan substansi organic bukan protein.
Penghitungan nilai hematokrit yaitu setelah darah diproses seperti yang akan dijelaskan di
dalam percobaan ini, dibaca dalam “Reading Chart Hematocrit “ dalam satuan %. Alifuddin
(1993) melaporkan bahwa hematokrit merupakan perbandingan antara plasma dengan
padatan darah. Perbandingan antara keduanya dibaca dengan pembaca mikrohematokrit
dalam satuan %. Hematokrit biasa disebut “packed cell volume” dan ditentukan melalui
pemusingan mikrohematokrit.
Ada 3 metode untuk menentukan nilai hematokrit, yaitu :
1. Darah dimasukkan ke dalam tabung Winstrobe yang mempunyai skala, kemudian diputar
dengan kecepatan 3000 putaran per menit selama setengah jam (sebelum dimasukkan ke
dalam tabung darah diberi antikoagulan terlebih dahulu.
2. Mikrohematokrit, pada metode ini digunakan tabung kapiler khusus, alat pemutar dan
papan skala untuk menentukan % volume sel darah merah. Kecepatan pemutaran adalah
11000 rpm selama 4 menit.
3. Hematokrit dapat dilakukan secara elektronik. Pada metode ini menggunakan alat darah
yang mampu meneruskan aliran, sedangkan sel darah merah bersifat menghambat aliran
listrik darah yang telah dicampur dengan antikoagulan dihisap pada tabung khusus dan
diselipkan pada alat baca. Dengan hanya menekan tombol, nilai hematokrit dapat dibaca
pada galvanometer.
Nilai hematokrit ikan teleostei berkisar antara 20-30 %, dan pada beberapa spesies
laut bernilai 42 % (Bond 1979). Nilai hematokrit Cyprinus carpio adalah 27.1 % (Houston &
De Wilde 1968 dalam Moyle & Cech 2004). Pada keadaan hipoksia akan menyebabkan sel
membengkak sehingga meningkatkan nilai hematokrit (Heath 1987).
6|Page

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk bisa menghitung nilai hematokrit dari ikan
mas.

Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Cypriniformes
Famili: Cyprinidae Gambar ikan mas:
Genus: Cyprinus
Spesies: C. carpio

BAB II.
ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA
2.1. Alat
1. Timbangan, untuk menimbang bobot tubuh ikan uji
2. Diseccting Kit, untuk mmbedah ikan uji
3. Penjepit arteri, untuk menjepit bagian saluran darah aorta ventralis
4. Pipa kapiler heparinized, untuk memampung sampel darah segar
7|Page

5. Sentrifuge hematokrit
Gambar Sentrifuge hematokrit :

6. Wax/malam lilin untuk menyumbat salah satu ujung pipa kapiler yang telah berisi
darah segar

7. “Hematocrit reading chart” papan pembaca nilai hematokrit (%)

2.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan mas.

2.3. CARA KERJA


Prosedur pengerjaan yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Setelah diambil salah satu ikan uji dari akuarium stok, ikan ditimbang lalu dicatat
bobotnya
2. pegang ikan uji dengan tangan kiri (kepala menghadap ke arah muka kita), tusuk
bagian anterior kepala ikan dengan sonde tepat di bagian otak depan, hingga terasa
ada rongga, putar sonde perlahan-lahan sehingga otaknya rusak dan ikan akan pingsan
8|Page

3. Bedah ikan pada bagian dekat insang dan sebagian perut bagian anterior, hingga
terlihat organ jantung yang berdenyut secara teratur (exposed organ jantung dengan
sinus venosus yang terlihat pucat)
4. Dengan menggunakan penjepit arteri, jepit aorta ventralis lalu biarkan beberapa saat
hingga sinus venosus terisi penuh oleh darah
5. Putuskan dengan menggunakan guntung, lalu siapkan dan dekatkan salah satu ujung
pipa kapiler sambil dibuka penjepit arteri secara perlahan-lahan dan hati-hati tampung
darah dalam pipa kapiler tersebut sampai ± ¾ volumenya.
6. Agar heparin yang terdapat dalam dinding sebelah dalam pipa kapiler tercampur
secara homogen, maka pipa kapiler yang telah berisi darah segar tersebut digoyang
dengan hati-hati ke kiri dan kanan serta diputar. Tanda bahwa darah sudah tercampur
secara homogen dengan heparin, darah tidak membeku, bisa bergerak disepanjang
kolom pipa kapiler.
7. Tutup salah satu ujungnya dengan menacapkan secara tegak lurus pada lapisan malam
lilin/wax yang telah disediakan
8. Siapkan sentrifuge hematokrit, lalu letakkan secara seimbang antara masing-masing
ppa kapiler (jangan terbalik meletakkan ujung pipa kapiler yang bertutup)
9. Sentrifuge selama 4 menit pada kecepatan 12.000 rpm
10. Setelah selesai disentrifuge, letakkan pipa kapiler yang sudah terbagi dua bagian besar
darah tersebut (plasma dan sel darah) pada “ Hematocrit Reading Chart” lalu
sesuaikan ketinggian plasma sebagai batas atas dan dasar sel darah sebagai batas
bawah, lalu tentukan dan baca nilai hematokrit pada batas atas dari sel darah (dalam
%)
11. Setelah selesai dibaca, kumpulkan pipa kapiler bekas tersebut dalam wadah terpisah
agar tidak membahayakan, serahkan kepada laboran agar bisa dibuang pada tempat
yang semestinya.

BAB III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan

Untuk mengetahui nilai hematokrit dalam percobaan ini digunakan dengan


menggunakan Sentrifugasi Hematokrit, yang kemudian hasil dari sentrifugasi tersebut
dibandingkan dengan nilai pada Hematokrit Reading Chart.
9|Page

Pengamatan pipa kapiler setelah dilakukan sentrifugasi selama 4 menit

No. Kelompok Berat ikan Hematokrit Plasma


(gram) (%) (%)
1 1 dan 2 60 13 39
2 3 dan 4 59 24 14
3 5 dan 6 78 29 0
4 7 dan 8 59 39 0
5 9 dan 10 53 23 0
6 11 dan 12 80 45 35
7 13 dan 14 40 35 65
8 15 dan 16 70 30 10
9 17 dan 18 65 25 75
10 19 dan 20 61 35 65
11 21 dan 22 80 10 60
12 23 dan 24 56 0 0
13 25 dan 26 64 20, 25 40, 40
14 27 64 60 40

3.2 Pembahasan

Nilai hematokrit adalah volume semua eritrosit dalam 100 mL darah dan disebut
dengan persen (%) dari volume darah tersebut. Biasanya nilai hematokrit ini ditentukan
dengan menggunakan darah vena atau darah kapiler. Dilihat dari data di atas dapat kita
bandingkan hasil setiap hematokrit tiap kelpmpok. Dilihat dari data di atas pada salah satunya
kelompok 1dan 2, yang mana berat ikan nya 60 gram memiliki hematokrit 13 % dan plasma
darahnya 39 %. Kelompok 11 dan 12, yang mana berat ikannya 80 gram memiliki hematokrit
sebesar 10 % dan plasma darah nya 60 %. Dapat di bandingkan bahwa berat ikan juga
mempengaruhi besar hematokrit dan plasma darah ikan. Kemudian bila kita lihat hasil
kelompok 23 dan 24, yang mana berat ikannya ialah 56 gram, memiliki hematokrit sebesar
0 % dan plasma 0 %. Kenapa demikian. Hal tersebut bisa saja terjadi, namun bukan hasil
yang benar-benar akurat. Karena setiap ikan memiliki hematokrit dan plasma yang bukan nol.
Sehingga hasil demikian dapat terjadi karena kesalahan prosedur kerja.

Bervariasinya nilai hematokrit pada setiap ikan di atas bisa disebabkan oleh beberapa
faktor :
10 | P a g e

 Keterbatasan dari sentrifugasi dengan menggunakan Sentrifugasi MikroHematokrit


baik itu karena kesalahan manusia ataupun karena keterbatasan alat.
 Mekanisme kerja praktikan yang kurang terampil.
 Laju metabolisme mempengaruhi nilai hematokrit dari suatu individu yang bervariasi
dengan cara hidup ikan dan spesies ikan.
 Tidak sempurnanya penutupan ujung pipa kapiler dengan malam/wax sehingga terjadi
hilangnya darah dari pipa kapiler setelah dilakukan sentrifugasidari udara (disebut
juga air breathing fish.

BAB IV.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Setiap ikan dapat diindentifikasi besar hematokritnya dan plasma darah nya bila
prosedur awal dalam pengambilan sample darah ikan benar hingga disentrifugasi dengan
benar pula. Maka akan di dapat hasil yang sesuai dengan bobot ikan tersebut. Nilai
hematokrit pada ikan menunjukkan persen sel darah merah dari sejumlah darah. Pada ikan
yang memiliki nilai hematokrit tinggi berarti memiliki banyak sel darah merah, atau ikan
yang memiliki laju metabolisme yang tinggi. Sehingga dapat dilihat hasil kelompok 27 yang
bobot ikannya 64 gram memiliki hematokrit paling besar yakni 60 %, dan plasma darah nya
11 | P a g e

40 % sehingga sel darah merah ikan tersebut sangat banyak dan memiliki laju metabolisme
yang tinggi.

Daftar Pustaka

 http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/3422/4/B08ram.pdf
 http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_mas
 http://kusukaikan.blogspot.com/2010/10/hematokrit.html