Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM

OLEH

I MADE MAHADIVA ADNYANA


17091110046

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA


PROGRAM PENDIDIKAN S1 KEPERAWATAN NERS
STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. MASALAH UTAMA
Perubahan isi pikir : waham

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1 DEFINISI
Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial
(Stuart dan Sunden, 2008 : 90).
Waham adalah suatu kepercayaan yang salah/ bertentangan dengan
kenyataan dan tidak tetap pada pemikiran seseorang dan latarbelakang sosial
budaya (Rowlins, 2011: 107)
Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pikiran seseorang
yaitu dengan menca,puri kemampuan pikiran diuji dan dievaluasi secara nyata
(Judith Heber, 2008: 722).
Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang
kebudayaan biarpun dibuktikan kemustahilannya itu (W. F.Maramis 2011 :
117).
Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan
perubahan isi pikir yang dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah
yang tidak sesuai dengan kenyataan. Keyakinan atau ide-ide klien itu tidak
dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau hal-hal yang bersifat
nyata
Proses berfikir meliputi proses pertimbangan (judgment), pemahaman
(comprehension), ingatan serta penalaran ( reasoning ). Arus idea simbul atau
asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang di bangkitkan oleh suatu
masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang
terorientasi pada kenyataan merupakan proses berfikir yang normal. Aspek
proses berfikir dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu bentuk pikiran, arus
pikiran dan isi pikir. Gangguan isi pikir dapat terjadi baik pada isi pikiran non
verbal maupun pada isi pikiran verbal diantaranya adalah waham. ( menurut
marasmis 2009 hal.133)
2 ETIOLOGI
Townsend (2008, hal 158) menagatakan bahwa ‘hal-hal yang
menyebabkan gangguan isi pikir : waham adalah ketidakmampuan untuk
mempercayai orang lain, panik, menekan rasa takut stress yang berat yang
mengancam ego yang lemah., kemungkinan factor herediter”.
Secara khusus factor penyebab timbulnya waham dapat diuraikan dalam
beberapa teori yaitu :
a. Factor Predisposisi
Menurut Townsend (2008, hal 146-147) factor predisposisi dari perubahan
isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi dua teori yang diuraikan
sebagai berikut :
1) Teori Biologis
a) Faktor-faktor genetic yang pasti mungkin terlibat dalam
perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki
anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara
kandung, sanak saudara lain).
b) Secara relative ada penelitian baru yang menyatakan bahwa
kelainan skizoprenia mungkin pada kenyataanya merupakan suaru
kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak.
Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel
pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderoita
skizoprenia.
c) Teori biokimia menyatakan adanya peningkata dupamin
neorotransmiter yang dipertukarkan mengahasilkan gejala-gejala
peningkatan aktifitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasi-
asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
2) Teori Psikososial
a) Teori sistem keluarga Bawen dalam Townsend (2008)
menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu
perkembangan disfungsi keluarga. Komflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan
menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas dan
suatu kondisi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu
hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara
orang tua dan anak-anak. Anak harus meninggalkan
ketergantungan diri kepada orang tua dan masuk kepada masa
dewasa, dimana di masa ini anak tidak akan mampu memenuhi
tugas perkembangan dewasanya.
b) Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami
psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh
akan kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang
membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu
membentuk rasa percaya tehadap orang lain.
c) Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari
suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu
hubungan saling mempengaruhi orang tua dan anak . karena ego
menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan itu pada
waktu kecemasan yang ekstrem mennjadi suatu yang maladaptive
dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan sekmen
diri dalam kepribadian.

b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (2008, hal 310) factor presipitasi dari
perubahan isi pikir : waham kebesaran yaitu :
1) Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan nerobiologis yang
maladaptive termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk
secara selektif menanggapi rangsangan.
2) Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress
yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan prilaku.
3) Pemicu gejala
Pemicu yang biasanta terdapat pada respon neurobiologist
yang maladaptive berhubungan denagn kesehatan lingkungan, sikap
dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur,infeksi,
keletihan, rasa bermusuhan atau lingkunag yang penuh kritik, masalah
perumahan, kelainan terhadap penampilan, stress agngguan dalam
berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan, pekerjaa, kemiskinan,
keputusasaan dan sebaigainya.

3 RESPON NEUROBIOLOGIS
Adapun rentang respon manusia terhadap stress yang menguraikan
tentang respon gangguan adaptif dan malladaptif dapat dijelaskan sebagai
berikut ( stuart dan sundeen, 2008 hal 302) :
Adaptif Rentang respon neurobiologis Maladaptif

- Pikiran logis serta - Kadang-kadang isi - Gangguan isi pikir :


persepsi akurat pikir terganggu ilusi waham, dan juga
- Emosi konsisten - Reaksi emosional gangguan sensori
dengan pengalaman berlebihan atau kurang persepsi : halusinasi
- Perilaku sesuai - Perilaku ganjil atau - Ketidakmampuan
dengan hubungan sosial tidak lazim untuk mengalami emosi
- Ketidakmampuan
berinteraksi dengan
lingkungan social

Dari rentang respon neurobiologis diatas dapat dijelaskan bila individu


merespon secara adaptif maka individu akan berfikir secara logis. Apabila
individu berada pada keadaan diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang
pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila individu tidak
mampu berfikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia
makan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir :
waham dan juga gangguan sensori persepsi : halusinasi
Agar individu tidak berespon secara maladaptive maka setiap individu
harus mempunyai mekanisme pertahanan koping yang baik. Menurut seorang
ahli medis dalam penelitiannya memberikan definisi tentang mekanisme
koping yaitu semua aktivita kognitif dan motorik yang dilakukan oleh
seseorang yangnn sakit untuk mempertahanakna intrgritas tubuh dan
psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak dna membatasi adanya kerusakan
yang tidak bisa dipulihkan ( dipowski, 2009). Mekanisme koping dapat
dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas, yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pad atindakan untuk memenuhi secara reakstik tuntunan
situasi stress.
1) Prilaku menyerang, digunakan untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan.
2) Prilaku menarik diri, digunakan baik secara fisik maupun psikologic
untuk memindahkan seseorang dari sumber stress.
3) Prilaku kompromi, digunakan untuk mengubah cara seseoprang
mengoprasikan, menmgganti tujuan atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal seseorang.
b. Mekanisme pertahana ego, merupakan mekanismne yang dapat
membantu mengatasi cenas ringan dan sedang, jika berlangsung pada
tingkat sadar dan melibatkan penipuan diri dan disorientasi realitas, maka
mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptive terhadap stress.
(Anonymous, 2009).
4 PSIKODINAMIKA
Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan
mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan
waham, menggunakan mekanisme pertahanan reaksi formasi, penyangkalan
dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan melawan
agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan
ketergantungan ditransformasikan menjadi kemandirian yang kokoh.
Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang
menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal
impuls yang tidak dapat diterima didalam dirinya sendiri.
Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan
menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas.
Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang
menggunakan fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka
yang terluka. Waham kebesaran merupakan regresi perasaan maha kuasa dari
anak-anak, dimana perasaan akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan
dihilangkan (Kaplan dan Sadock, 2008).
Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (2008) menggambarkan 7 situasi
yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan,
untuk mendapat terapi sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan
dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan kecemburuan,
situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah), situasi
yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain,
situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan
motivasi terhadap sesuatu.

5 JENIS-JENIS WAHAM
adapun jenis-jenis waham menurut Marasmis, stuart and sundeen (
2008) dan Keliat (2009) waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
a. Waham agama : keyakinan klien terhjadap suatu agama secara berlebihan
diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b. Waham kebesaran : klien yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki
kebesaran atau kekuatan khusus diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
c. Waham somatic : klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
teganggu dan terserang penyakit, diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
d. Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana
klien yakin bahwa ada seseorang atau kelompok orang yang berusaha
merugikan atau mencurigai dirinya, diucapkan beulang kali tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
e. Waham nihilistic : klien yakin bahwa dirinya sudah ridak ada di dunia
atau sudah meninggal, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
f. Waham bizar:
1) Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang dsisipkan di
dalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai
dengan kenyataan
2) Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut,
diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
3) Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari
luar.

6 TANDA DAN GEJALA WAHAM


Menurut Kaplan dan Sadock (2008), kondisi klien yang mengalami waham
adalah:
a. Status mental
1) Pada pemeriksaan status mental, menunjukan hasil yang sangat
normal, kecuali bila ada sistem waham abnormal yang jelas.
2) Mood klien konsisten dengan isi wahamnya.
3) Pada waham curiga, didapatkan perilaku pencuriga.
4) Pada waham kebesaran, ditemukan pembicaraan tentang peningkatan
identitas diri, mempunyai hubungan khusus dengan orang yang
terkenal.
5) Adapun sistem wahamnya, pemeriksa kemungkinan merasakan adanya
kualitas depresi ringan.
6) Klien dengan waham, tidak memiliki halusinasi yang menonjol/
menetap, kecuali pada klien dengan waham raba atau cium. Pada
beberapa klien kemungkinan ditemukan halusinasi dengar.

b. Sensori Dan Kognisi


1) Pada waham, tidak ditemukan kelainan dalam orientasi, kecuali yang
memiliki waham spesifik tentang waktu, tempat dan situasi.
2) Daya ingat dan proses kognitif klien adalah intak (utuh).
3) Klien waham hampir selalu memiliki insight (daya titik diri) yang
jelek.
4) Klien dapat dipercaya informasinya, kecuali jika membahayakan
dirinya. Keputusan terbaik bagi pemeriksa dalam menentukan kondisi
klien adalah dengan menilai perilaku masa lalu, masa sekarang dan
yang direncanakan.

7 PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Farmakoterapi
Tatalaksana pengobatan skizofrenia paranoid mengacu pada
penatalaksanaan skizofrenia secara umum menurut Townsend (2008),
Kaplan dan Sadock (2008) antara lain :
1) Anti Psikotik
Jenis- jenis obat antipsikotik antara lain :
a) Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premidikasi dalam anestesi, dan
mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal :
3×25 mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan
dosis tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.
b) Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik
menarik diri. Dosis awal : 3×1 mg, dan bertahap dinaikkan
sampai 50 mg/hari.
c) Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan
mania. Dosis awal : 3×0,5 mg sampai 3 mg.
Obat antipsikotik merupakan obat terpilih yang
mengatasi gangguan waham. Pada kondisi gawat darurat, klien
yang teragitasi parah, harus diberikan obat antipsikotik secara
intramuskular. Sedangkan jika klien gagal berespon dengan obat
pada dosis yang cukup dalam waktu 6 minggu, anti psikotik dari
kelas lain harus diberikan. Penyebab kegagalan pengobatan yang
paling sering adalah ketidakpatuhan klien minum obat. Kondisi
ini harus diperhitungkan oleh dokter dan perawat. Sedangkan
terapi yang berhasil dapat ditandai adanya suatu penyesuaian
sosial, dan bukan hilangnya waham pada klien.

2) Anti Parkinson
a) Triheksipenydil (Artane)
Untuk semua bentuk parkinsonisme, dan untuk menghilangkan
reaksi ekstrapiramidal akibat obat. Dosis yang digunakan : 1-15
mg/hari
b) Difehidamin
Dosis yang diberikan : 10- 400 mg/hari
 
3) Anti Depresan
a) Amitriptylin
Untuk gejala depresi, depresi oleh karena ansietas, dan keluhan
somatik. Dosis : 75-300 mg/hari.
b) Imipramin
Untuk depresi dengan hambatan psikomotorik, dan depresi
neurotik. Dosis awal : 25 mg/hari, dosis pemeliharaan : 50-75
mg/hari.

4) Anti Ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan
somatroform, kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk
meringankan sementara gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat-
obat yang termasuk anti ansietas antara lain:
- Fenobarbital         : 16-320 mg/hari
- Meprobamat        : 200-2400 mg/hari
- Klordiazepoksida    : 15-100 mg/hari

b. Psikoterapi
Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan hubungan
saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi kelompok.
Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang waham, dan tidak
boleh terus-menerus membicarakan tentang wahamnya. Terapis harus
tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian seteratur mungkin. Tujuan yang
dikembangkan adalah hubungan yang kuat dan saling percaya dengan
klien. Kepuasan yang berlebihan dapat meningkatkan kecurigaan dan
permusuhan klien, karena disadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat
dipenuhi. Terapis perlu menyatakan pada klien bahwa keasyikan dengan
wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu
kehidupan konstruktif. Bila klien mulai ragu-ragu dengan wahamnya,
terapis dapat meningkatkan tes realitas.
Sehingga terapis perlu bersikap empati terhadap pengalaman
internal klien, dan harus mampu menampung semua ungkapan perasaan
klien, misalnya dengan berkata : “Anda pasti merasa sangat lelah,
mengingat apa yang anda lalui, “tanpa menyetujui setiap mis persepsi
wahamnya, sehingga menghilangnya ketegangan klien. Dalam hal ini
tujuannya adalah membantu klien memiliki keraguan terhadap
persepsinya. Saat klien menjadi kurang kaku, perasaan kelemahan dan
inferioritasnya yang menyertai depresi, dapat timbul. Pada saat klien
membiarkan perasaan kelemahan memasuki terapi, suatu hubungan
terapeutik positif telah ditegakkan dan aktifitas terpeutik dapat dilakukan.
c. Terapi Keluarga
Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga klien,
sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan memperoleh
manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu perawatan klien.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. DATA YANG PERLU DIKAJI
MASALAH
NO. DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
KEPERAWATAN
1. Klien memberi kata-kata Mata merah, wajah agak Resiko tinggi mencederai diri,
ancaman, mengatakan merah, nada suara tinggi orang lain dan lingkungan
benci dan kesal pada dank eras, bicara
seseorang, klien suka menguasai, ekspresi
membentak dan marah, pandangan tajam,
menyerang orang yang merusak dan melempar
mengusiknya jika sedang barang-barang.
kesal, atau marah,
melukai / merusak
barang-barang dan tidak
mampu mengendalikan
diri

2. Klien mengungkapkan Flight of ideas, Kerusakan komunikasi : verbal


sesuatu yang tidak kehilangan asosiasi,
realistik pengulangan kata-kata
yang didengar dan kontak
mata kurang

3. Klien mengungkapkan Klien tampak tidak Perubahan isi pikir : waham


sesuatu yang diyakininya mempunyai orang lain,
( tentang agama, curiga, bermusuhan,
kebesaran, kecurigaan, merusak (diri, orang lain,
keadaan dirinya) lingkungan), takut,
berulang kali secara kadang panik, sangat
berlebihan tetapi tidak waspada, tidak tepat
sesuai kenyataan. menilai lingkungan /
realitas, ekspresi wajah
klien tegang, mudah
tersinggung

4. Klien mengatakan saya Klien terlihat lebih suka Gangguan konsep diri : harga diri
tidak mampu, tidak bisa, sendiri, bingung bila rendah
tidak tahu apa-apa, disuruh memilih alternatif
bodoh, mengkritik diri tindakan, ingin
sendiri, mengungkapkan mencederai diri/ ingin
perasaan malu terhadap mengakhiri hidup
diri sendiri

B. POHON MASALAH

Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Kerusakan
Perubahan isi pikir: waham komunikasi verbal

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

(Stuart, Gail W. 2008)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan isi pikir: waham
2. Risiko mencedrai diri sendiri dan lingkungan
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
4. Kerusakan komunikasi verbal

D. INTERVENSI KEPERAWATAN
DX PERENCANAAN
NO.
TGL KEPERAW TUJUAN
DX KRITERIA HASIL INTERVENSI
ATAN
Gangguan isi TUM: Klien dapat Setelah ... x interaksi klien: Bina hubungan saling
pikir: mengontrol a. Mau menerima percaya dengan klien:
Waham wahamnya kehadiran perawat di a. Beri salam
sampingnya. b. Perkenalkan diri,
TUK: b. Mengatakan mau tanyakan nama
1. Klien dapat menerima bantuan serta nama
membina perawat panggilan yang
hubungan c. Tidak menunjukkan disukai.
saling percaya tanda-tanda curiga c. Jelaskan tujuan
dengan d. Mengijinkan duduk interaksi
perawat disamping d. Yakinkan klien
dalam keadaan
aman dan perawat
siap menolong dan
mendampinginya
e. Yakinkan bahwa
kerahasiaan klien
akan tetap terjaga
f. Tunjukkan sikap
terbuka dan jujur
g. Perhatikan
kebutuhan.

2. Klien dapat Setelah.... x interaksi klien : Klien mampu


mengidentifik Klien menceritakan ide-ide mengidentifikasi
asi perasaan dan perasaan yang muncul perasaan yang mncul
yang muncul secara berulang dalam secara berulang
secara pikirannya. dengan:
berulang a. Bantu klien untuk
dalam pikiran mengungkapkan
klien. perasaan dan
pikirannya.
b. Diskusikan dengan
klien pengalaman
yang dialami
selama ini
termasuk
hubungan dengan
orang yang berarti,
lingkungan kerja,
sekolah, dsb.
c. Dengarkan
pernyataan klien
dengan empati
tanpa mendukung /
menentang
pernyataan
wahamnya.
d. Katakan perawat
dapat
3. Klien dapat Setelah .... x interaksi klien : Klien mampu
mengidentifika a. Dapat menyebutkan mengidentifikasi
si stressor / kejadian-kejadian stressor atau pencetus
pencetus sesuai dengan urutan wahamnya (triggers
wahamnya. waktu serta harapan / factor) dengan:
(Triggers kebutuhan dasar yang a. Bantu klien untuk
Factor) tidak terpenuhi mengidentifikasi
seperti : Harga diri, kebutuhan yang
rasa aman dsb. tidak terpenuhi
b. Dapat menyebutkan serta kejadian
hubungan antara yang menjadi
kejadian factor pencetus
traumatis/kebutuhan wahamnya.
tidak terpenuhi dengan b. Diskusikan dengan
wahamnya. klien tentang
kejadian-kejadian
traumatik yang
menimbulkan rasa
takut, ansietas
maupun perasaan
tidak dihargai.
c. Diskusikan
kebutuhan/harapan
yang belum
terpenuhi.
d. Diskusikan dengan
klien cara-cara
mengatasi
kebutuhan yang
tidak terpenuhi
dan kejadian yang
traumatis.
e. Diskusikan dengan
klien apakah ada
halusinasi yang
meningkatkan
pikiran / perasaan
yang terkait
wahamnya.
f. Diskusikan dengan
klien antara
kejadian-kejadian
tersebut dengan
wahamnya.
4. Klien dapat Setelah … x interaksi klien: Klien mamapu
mengidentifika menyebutkan perbedaan mengidentifikasi
si wahamnya pengalaman nyata dengan wahamnya dengan:
pengalaman wahamnya. a. Bantu klien
mengidentifikasi
keyakinannya yang
salah tentang situasi
yang nyata (bila
klien sudah siap)
b. Diskusikan dengan
klien pengalaman
wahamnya tanpa
berargumentasi
c. Katakan kepada
klien akan keraguan
perawat terhadap
pernyataan klien
d. Diskusikan dengan
klien respon
perasaan terhadap
wahamnya
e. Diskusikan
frekuensi, intensitas
dan durasi
terjadinya waham.
f. Bantu klien
membedakan situasi
nyata dengan situasi
yang dipersepsikan
salah oleh klien
5. Klien dapat Setelah … x interaksi : Klien mampu
mengidentifikas Klien menjelaskan mengidentifikasi dari
i konsekuensi gangguan fungsi hidup wahamnya dengan:
dari wahamnya sehari-hari yang diakibatkan a. Diskusikan dengan
ide-ide / fikirannya yang klien pengalaman-
tidak sesuai dengan pengalaman yang
kenyataan seperti : tidak
- Hubungan dengan menguntungkan
keluarga, sebagai akibat dari
- Hubungan dengan orang wahamnya seperti :
lain - Hambatan
- Aktivitas sehari-hari dalam
- Pekerjaan berinteraksi
- Sekolah dengan keluarga
- Prestasi, dsb - Hambatan
dalam
berinteraksi
dengan orang
lain
- Hambatan
dalam
melakukan
aktivitas sehari-
hari
b. Perubahan dalam
prestasi kerja /
sekolah
c. Ajak klien melihat
bahwa waham
tersebut adalah
masalah yang
membutuhkan
bantuan dari orang
lain
d. Diskusikan dengan
klien orang/tempat
ia minta bantuan
apabila wahamnya
timbul / sulit
dikendalikan.
6. Klien dapat Setelah … x interaksi klien : Klien mampu melakukan
melakukan Klien melakukan aktivitas teknik distraksi dengan:
teknik distraksi yang konstruktif sesuai a. Diskusikan
sebagai cara dengan minatnya yang hobi/aktivitas yang
menghentikan dapat mengalihkan fokus disukainya.
pikiran yang klien dari wahamnya. b. Anjurkan klien
terpusat pada memilih dan
wahamnya melakukan aktivitas
yang membutuhkan
perhatian dan
ketrampilan fisik
c. Ikut sertakan klien
dalam aktivitas fisik
yang membutuhkan
perhatian sebagai
pengisi waktu luang.
d. Libatkan klien
dalam TAK orientasi
realita
e. Bicara dengan klien
topik-topik yang
nyata
f. Anjurkan klien
untuk bertanggung
jawab secara peronal
dalam
mempertahankan/me
nungkatkan
kesehatan dan
pemulihannya.
g. Beri penghargaan
bagi
7. Klien 7.1 Setelah .... X interaksi Klien mendapat
mendapat Keluarga dapat dukungan keluarga
dukungan menjelaskan tentang : dengan:
keluarga. a. Diskusikan
a. Pengertian waham pentingnya peran
b. Tanda dan gejala serta keluarga
waham sebagai pendukung
c. Penyebab dan untuk mengatasi
akibat waham waham.
d. Cara merawat b. Diskusikan
klien waham potensi keluarga
untuk membantu
klien mengatasi
7.2 Setelah ... X interaksi waham.
keluarga dapat c. Jelaskan pada
mempraktekkan cara keluarga tentang :
merawat klien waham. - Pengertian
waham
- Tanda dan
gejala waham
- Penyebab dan
akibat waham
- Cara merawat
klien waham
d. Latih keluarga
cara merawat
waham.
e. Tanyakan
perasaan keluarga
setelah mencoba
cara yang dilatihkan
f. Beri pujian
kepada keluarga
atas
keterlibatannya
merawat klien di
rumah sakit.

8. Klien dapat 8.1 Setelah ……x interaksi Klien dapat


memanfaatkan klien menyebutkan; memanfaatkan obat
obat dengan a. Manfaat minum dengan baik dengan:
baik. obat a. Diskusikan
b. Kerugian tidak dengan klien
minum obat tentang manfaat dan
c. Nama,warna,dosis, kerugian tidak
efek terapi dan minum obat, nama ,
efek samping obat warna, dosis, cara ,
8.2.Setelah ……..x interaksi efek terapi dan efek
klien samping penggunan
mendemontrasikan obat
penggunaan obat dgn b. Pantau klien
benar saat penggunaan
8.3.Setelah ….x interaksi obat
klien menyebutkan c. Beri pujian jika
akibat berhenti minum klien menggunakan
obat tanpa konsultasi obat dengan benar
dokter d. Diskusikan
akibat berhenti
minum obat tanpa
konsultasi dengan
dokter
e. Anjurkan klien
untuk konsultasi
kepada
dokter/perawat jika
terjadi hal – hal
yang tidak di
inginkan .
E. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan keperawatan adalah tindakan keperawatan yang disesuaikan
dengan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dan disesuaikan dengan
kondisi klien.
Pelaksanaan keperawatan kepada klien dengan waham didasarkan pada
prinsip tindakan keperawatan, mengacu kepada rencana tindakan namun tetap
disesuaikan dengan kondisi klien dan berdasarkan pada SP.

STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Membantu orientasi realita 1 Mendiskusikan masalah yang dirasakan
2. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak keluarga dalam merawat klien
terpenuhi 2 Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
3. Membantu klien memenuhi kebutuhan
waham, dan jenis waham yang dialami
4. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian klien beserta proses terjadinya.
3 Menjelaskan cara-cara merawat klien
dengan waham.
SP2 SP 2
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1 Melatih keluarga mempraktikkan cara
klien merawat klien dengan waham
2. Berdiskusi tentang kemampuan yang 2 Melatih keluarga melakukan cara merawat
dimiliki
langsung kepada klien waham.
3. Melatih kemampuan yang dimiliki
4. Masukkan kedalam jadwal aktivitas
SP 3 SP 3
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1. Membantu keluarga membuat jadwal
klien aktivitas dirumah termasuk minum obat
2. Memberikan pendidikan kesehatan (discharge planning)
tentang penggunaan obat teratur.
2. Mendiskusikan sumber rujukan yang bisa
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian dijangkau keluarga.

F. EVALUASI
Setelah dilakukan interaksi selama didapatkan adanya perubahan dalam tingkah
laku klien.
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
2. Klien dapat mengidentifikasi perasaan yang muncul secara berulang dalam
pikiran klien.
3. Klien dapat mengidentifikasi stressor / pencetus wahamnya. (Triggers
Factor)
4. Klien dapat mengidentifikasi wahamnya
5. Klien dapat mengidentifikasi konsekuensi dari wahamnya
6. Klien dapat melakukan teknik distraksi sebagai cara menghentikan pikiran
yang terpusat pada wahamnya
7. Klien mendapat dukungan keluarga.
8. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk. 2010. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo.
Keliat Budi A. 2009. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC.
Maramis.2009. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 5. Bandung: EGC
NANDA. 2015. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2015-2017. Jakarta :
Prima Medika.
Stuart GW, Sundeen. 2008. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.).
St.Louis Mosby Year Book.
Stuart, Gail W. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Tim Direktorat Keswa. 2010. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.
Bandung: RSJP.
Townsend M.C. 2008. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman
untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC.
LEMBAR PENGESAHAN

Bangli, ..... Januari 2020


Mahasiswa

( )
NIM.

Mengetahui

Pembimbing Clinical Instructor Pembimbing Clinical Teacher

(____________________________) (____________________________)
NIP NIK