Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PERILAKU KEKERASAN

OLEH
I MADE MAHADIVA ADNYANA
17091110046

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA


PROGRAM PENDIDIKAN S1 KEPERAWATAN NERS
STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PERILAKU KEKERASAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. MASALAH UTAMA
Gangguan : Perilaku Kekerasan

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. DEFINISI
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan di mana sesorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. (Kelliat Budi Anna,
2008)
Perilaku kekerasaan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku
yang bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun pisikologis.
Perilaku kekerasn apabila bila tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian (Aziz R, dkk, 2009)
Perilaku kekerasan suatu keadaan dimana individu mengalami
perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri atau
iorang lain.
Perilaku kekerasan suatu keadaan dimana klien mengalami
perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan termasuk
orang lain, dan barang – barang. Perilaku kekerasaan dapat di bagi dua
menjadi perilaku kekerasaan secara verbal dan fisik. (Stuart dan Suden,
Hal. 95).

2. ETIOLOGI
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri:
harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang
pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,
merasa gagal mencapai keinginan.
Gambar Rentang Respon Marah (Yosep, 2012)
Adaptasi Maladaptif

Asertif Prustasi Pasif Agresif Amuk/perilaku kekerasan

Klien Klien gagal Klien Klien Perasaan marah dan


mampu mencapai merasa mengekspre bermusuhan yang kuat
mengungka tujuan tidak sikan secara dan hilang control,
pkan marah kepuasan/s dapat fisik, tapi disertai amuk merusak
tanpa aat marah mengungk masih lingkungan
menyalahka dan tidak apkan terkontrol,m
n orang lain dapat perasaann endorong
dan menemuka ya, tidak orang lain
memberikan nalternatifn berdaya dengan
kelegaan ya dan ancaman
menyerah.

Rentang Respon
a. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma
sosial budaya yang berlaku, dengan kata lain, individu tersebut
dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat
memecahkan masalah tersebut.
b. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan
masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan
lingkungan.
Menurut ( Yosep, 2012) rentang respon marah yaitu :
a. Asertif adalah : kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan
atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi
kelegaan pada individu dan tidak menimbulkan masalah.
b. Frustasi adalah: respon yang terjadi akibat gagal mencapai
tujuan karena tidak reakstis atau hambatan dalam proses
percakapan tujuan.
c. Pasif adalah : individu tidak mampu mengungkapkan
perasaannya, klien tampak pemalu, pendiam sulit diajak bicara
karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
d. Agresif adalah: perilaku yang menyertai marah dan merupakan
dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih
terkontrol. Perilaku yang tampak dapat berupa : muka kusam ,
bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
e. Ngamuk adalah: perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai
kehilangan kontrol diri , individu dapat merusak diri sendiri, orang
lain dan lingkungan.
3. JENIS – JENIS PERILAKU KEKERASAN
a. Pengabaian / Kekerasan Psikis
Orang tua yang seharusnya bertanggung jawab terhadap anak,
gagal menyediakan kebutuhan emosi anak secara tepat. Kebutuhan
emosi anak misalnya sentuhan, cinta dan pengasuhan.
Contoh : Meninggalkan anak sehari-hari dengan pengasuh
tanpa pengawasan, memberikan time out tidak mengenal batas usia,
meninggalkan/ membiarkan anak bermain sendiri dalam waktu yang
cukup lama bagi anak, tidak memperhatikan kebutuhan bermain anak
sesuai perkembangan usia, memaksa anak belajar tanpa
memperhatikan kemampuan kognitifnya mengatur 'ini itu' untuk anak
tanpa mempedulikan keinginannya sendiri, dll.
b. Kekerasan Fisik
Perlakuan kasar orang tua secara fisik terhadap anak, seperti
mencubit, menendang, memukul atau mengguncang. Kekerasan fisik
seringkali tidak memiliki batas yang jelas antara menyiksa dan
mendisiplinkan. Fetal alcohol syndrome, atau konsumsi alkohol
berlebihan, merokok, dll saat hamil hingga mengakibatkan bayi lahir
cacat, digolongkan sebagai kekerasan fisik terhadap anak.
Contoh : Menghukum "kenakalan" anak seperti menuang
sabun di kamar mandi, tidak mau makan, mengotori jemuran dan
menganggu adik dengan memukul. Kalau nakalnya di kamar mandi,
dipukul dengan gayung. Kalau tidak mau makan, dipukul dengan
sendok atau piring. Kalau menggangu adik, dipukul dengan mainan,
dll.
c. Kekerasan Emosi/Verbal.
Kekerasan yang ditujukan untuk mengendalikan secara verbal
dengan cara menakut-nakuti, mengancam, menumbuhkan rasa
bersalah, menghina/mencemooh, memaksa dan lain sebagainya.
Contoh :
1) Menakut-nakuti anak. “Jangan main di kamar mandi, nanti
digigit kecoa. Jangan keluar rumah sendirian, nanti diculik nenek
grandong.”
2) Membodohkan anak. “Aduh, dasar bego! Sudah ratusan kali ibu
bilang, taruh mainan di tempat semula! Bikin ibu darah tinggi.”
3) Melabel negatif. Mengatakan anak pemalas, pelupa, jorok”, dll.
4) Motivasi yang salah: “Memangnya kamu bisa? Ini nggak bisa, itu
nggak bisa! Paling pintar nangis”, dll.
d. Kekerasan Seksual
Kekerasan secara seksual yang dilakukan oleh orang dewasa
terhadap anak. Antara lain menyentuh bagian tubuh anak, anak
disuruh memegang alat kelamin hingga pemaksaan hubungan
seksual.contoh: anak dipaksa melakukan hubungan seksual dengan
tukang kebun rumah anak diajarkan memegang alat kelamin paman,
dll

4. TANDA DAN GEJALA


a. Fisik melotot/ pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup,
wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku
b. Verbal : mengancam, mengumpal dengan kata – kata kotor, berbicara
dengan nada keras, kasar, dan ketus
c. Perilaku : menyerang orang lain, melukai diri sendiri/ orang lain,
merusak lingkungan, amuk/agresif
d. Emosi : tidak adekuat, tidak am,an dan nyaman. Merasa terganggu,
dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin
berkelahi, menyalahkan, dan menuntut.
e. Intelektual : mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan,
dan tidak jarang mengeluarkan kata – kata bernada sarkasme.
f. Spiritual : merasa diri berkuasa. Merasa diri benar, keragu – raguan
tidak bermoral, dan kreaktivitas terhambat
g. Social : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasaan, ejekan,
dan sindiran
h. Perhatian : bolos, melarikan diri, dan melakukan penyimpangan
seksual

5. AKIBAT
Akibat dari perilaku kekerasan adalah resiko mencederai diri,
orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai diri merupakan suatu
tindakan yang kemungkinan dapat melukai/membahayakan diri, orang
lain dan lingkungan.
6. PSIKOPATOLOGI
Adapun beberapa hal yang menyebabkan munculnya gangguan
jiwa pada perilaku kekerasan yang dipengaruhi oleh faktor predisposisi
dan faktor presipitasi.
a. Faktor Predisposisi
Kaji faktor predisposisi dari perilaku kekerasan, antara lain :
1) Faktor Psikologi
Gegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif atau amuk.
2) Faktor Perilaku
Reinforcement yang diterima jika melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan, merupakan aspek yang menstimulasi
dan mengadopsi perilaku kekerasan.
3) Faktor Sosial Budaya
Budaya tertutup, dan membalas secara diam (pasif agresif) dan
kontrol sosial yg tidak pasti sehingga kekerasan itu seperti
permisive.
4) Faktor Bioneurologis
Kerusakan sistem limbik, lobus frontal, temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmiter.
b. Faktor Presipitasi
1) Klien
Kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan dan percaya diri
yg kurang.
2) Lingkungan
Ribut, padat, kritikan yg mengarah pada penghinaan dan
kehilangan.
3) Interaksi Sosial
Interaksi yg provokatif dan konflik.

7. MEKANISME KOPING
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada
penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung
dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.
(Stuart dan Sundeen, 2008).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul
karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada
klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis, 2015)
Kaji mekanisme koping yang sering digunakan pasien, meliputi :
a. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di
mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan
penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang
marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti
meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya
adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
b. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau
keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda
yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap
rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut
mencoba merayu, mencumbunya.
c. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan
masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci
pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut
ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci
orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan,
sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat
melupaskannya.
d. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila
diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang
berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya
seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan
orang tersebut dengan kasar.
e. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya
bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang
pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy
berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari
ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai
bermain perang-perangan dengan temannya.
8. PENATALAK SANAAN MEDIS
a. Terapi Somatik
Menurut (Depkes RI, 2009, hal 230) menerangkan bahwa
terapi Somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan
gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptife
menjadi perilaku adaktif dengan melakukan tindakan yang ditujukan
pada kondisi fisik klien, tetapi target terapi adalah perilaku klien .
b. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT)
adalah bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang
grand mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
ditempatkan pada pelipis klien. Terapi ini ada awalnya untuk
menangani skizofrenia membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya
dilaksanakan adalah tiap 2-3 hari sekali (seminggu 2 kali).

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN.
1. Pengumpulan data
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses dan merupakan
proses yang sistematis untuk mengumpulkan data, menganalisis data dan
menentukan diagnosa keperawatan ( Keliat, 2008).
Adapun data yang diperoleh pada klien dengan prilaku kekerasan
adalah sebagai berikut : menyatakan melakukan prilaku kekerasan,
mengatakan perasaan jengkel / kesal, sering memaksakan kehendak,
merampas atau memukul. Tekanan darah meningkat. Wajah memerah,
pupil melebar, mual, kewasapadaan meningkat disertai ketegangan otot,
pandangan mata tajam, sering menyendiri, harga diri rendah merasa
keinginan tercapai.
Pada proses pengkajian data penting yang perlu dikaji disesuaikan
dengan jenis perilaku kekerasannya yaitu :
a. Jenis Perilaku Kekerasan
1) Pengabaian / Kekerasan Psikis
Data Objektif
a) Murung
b) Suka menyendiri
c) Menangis
Data Subjektif
a) Klien mengatakan bahwa ia tidak diinginkan
b) Klien mengatakan bahwa ia sudah tidak berguna

2) Kekerasan Fisik
Data Objektif
a) Sikap kaku dan tegang
b) Agresif , agitasi
c) Mengamuk
d) Peningkatan aktifitas motorik
e) Mengepalkan tinju
f) Merusak benda sekitar
Data Subjektif
a) Klien mengatakan ingin memukul diri sendiri atau orang lain
b) Klien mengatakan ingin menyiksa diori sendiri atau orang lain

3) Kekerasan Emosi / Verbal


Data Objektif
a) Mata merah dan melotot
b) Sikap kaku dan tegang
c) Perasaan emosi
Data Subjektif
a) Klien mengatakan ingin mengancam orang lain
b) Klien mengatakan suka menghina/mencemooh orang lain

4) Kekerasan Seksual
Data Objektif
a) Hasrat/nafsu tinggi
Data Subjektif
a) Klien mengatakan suka dengan perilaku seksual
b) Klien mengatakan suka memaksa untuk melakukan perilaku
seksual
c) Klien mengatakan suka memegang bagian tubuh orang lain
dan disuruh untuk memegang alat kelaminnya
b. Isi Perilaku Kekerasan
Data dikaji dengan mananyakan seperti apa tekanan yang ia
rasakan pada perilaku kekerasan psikis, sikap/tindakan apa yang
timbul ketika marah pada perilaku kekerasan fisik, bagaimana emosi
atau perasaan amarah yang ia rasakan pada perilaku kerasan emosi ,
apa saja hal yang ada di pikirannya dan yang ia inginkan pada
perilaku kekerasan seksual.

c. Waktu dan Frekuensi Perilaku Kekerasan


Data dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan
pengalaman perilaku kekerasan muncul, berapa kali sehari,
pengalaman perilaku kekrasan muncul, bila mungkin klien diminta
menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi perilaku kekerasan
tersebut. Informasi ini penting unruk mengidentifikasi pencetus
perilau kekerasan menentukan bilamana klien perlu diperhatikan saat
mengalami perilaku kekerasan.

d. Situasi Pencetus Perilaku Kekerasan


Perlu mengidentifikasi situasi yang dialami klien sebelum
mengalami perilaku kekerasan. Data dapat dikaji dengan menanyakan
kepada klien peristiwa atau kejadian yang dialami sebelum perilaku
kekerasan muncul. Selain itu, juga bisa mengobservasi apa yang
dialami klien menjelang muncul perilaku kekerasan untuk
menvalidasi pernyataan klien.

e. Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana perilkau kekerasan telah
mempengaruhi klien bisa dikaji dengan menanyakan apa yang
dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman perilaku kekerasan.
Apakah klien bisa mengontrol stimulus perilaku kekerasan atau sudah
tidak berdaya terhadap perilaku kekerasan.

2. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji


a. Masalah Keperawatan : Perilaku Kekerasan
Data Subyektif :
1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
2) Klien suka mebentak dan menyerang orang lain yang
mengusiknya jika sedang kesal atau marah
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
Data Obyektif :
1) Mata merah,wajah agak merah
2) Nada suar tinggi dan keras, bicara menguasai, berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan trajam
4) Merusak dan melempar barang-barang

b. Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi sensori : Halusinasi


Data Subjektif :
1) Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan
dengan stimulus nyata
2) Klien mengatakan melihat gambar tanpa ada stimulus yang nyata
3) Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
4) Klien merasa makan sesuatu
5) Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
6) Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
7) Klien ingin memukul atau melempar barang-barang
Data Obyektif :
1) Klien berbicara dan tertawa sendiri
2) Klein bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
3) Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
4) Disorientasi

c. Masalah Keperawatan : Resiko mencederai diri dan orang lain


Data Subjektif :
1) Pertama klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
Data Obyektif :
1) Mata merah, wajah agak merah
2) Nada suara tinggi dan keras, bicara meguasai : berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam
4) Merusak dan melempar barang-barang

B. POHON MASALAH
Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain

Core Problem Perilaku Kekerasan

Ganguan persepsi sensori : halusinasi

(Pohon masalah Keliat, 2008: 6)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perilaku kekerasan
2. Resiko mencederai diri sendiri/orang lain
3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi

D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


NO DIAGNOSA PERENCANAAN
TGL.
DX. KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Perilaku Kekerasan TUM : 1. Setelah 3 x interaksi, 1. Bina hubungan saling percaya
Klien dapat kilen menunjukan dengan mengunakan prinsif
mengontrol atau tanda–tanda percaya komunikasi teraupeutik :
mengendalikan kepada perawat : a. Beri salam setiap interaksi
perilaku a. Wajah cerah b. Perkenalkan nama, nama
kekerasan. tersenyum panggilan dan tujuan
b. Ada kontak mata perawat berinteraksi
TUK : c. Mau berkenalan c. Tanya nama lengkap nama
1. Klien dapat d. Bersedia panggilan di sukai klien
membina menceritakan d. Buat kontrak yang jelas
hubungan perasaan e. Degarkan dengan penuh
saling percaya perhatian

2. Klien dapat 2. Setelah 3 x intraksi, 2. Bantu klien mengungkapkan


mengenal klien menceritakan perasaan marah
penyebab penyebab perilaku a. Motivasi klien untuk
perilaku kekerasaan yang di mencerita-kan penyebab
kekerasan yang lakukannya : rasa jengkel / kesal nya
di lakukannya a. Menceritakan b. Dengarkan tanpa menyela
penyebab perasaan atau memberi penilaian
jengkel/ marah sesaan setiap ungkapan
baik dari diri perasaan klien
sendiri maupun
lingkungan-nya

3. Klien dapat 3. Setelah 3 x interaksi, 3. Bantu klien mengungkapkan


mengidentifika klien menceritakan tanda – tanda perilaku
si tanda – tanda-tanda saat terjadi kekerasaan yang dialaminya :
tanda perilaku perilaku kekerasan : a. Motivasi klien untuk
kekerasan a. Tanda fisik: mata menceritakan kondisi fisik
merah, tangan saat perilaku kekerasaan
mengepal, ekspresi terjadi
tegang, dan lain- b. Motivasi klien
lain menceritakan kondisi
b. Tanda emosional : emosional saat terjadi
Perasaan marah, perilaku kekerasaan
jengkel, dan bicara c. Motivasi klien
kasar menceritakan hubungan
c. Tanda sosial : dengan orang lain saat
Bermusuhan yang terjadi perilaku kekerasaan
dialami saat terjadi
perilaku kekerasan
4. Klien dapat 4. Setelah 3 x interaksi, 4. Diskusikan dengan klien
mengidentifika klien menjelaskan: perilaku kekerasaan yang
si perilaku a. Jenis – jenis dilakukan selama ini:
kekerasaan eskpresi kemarahan a. Motivasi klien untuk
yang pernah di yang selama ini menceritakan jenis-jenis
lakukan dilakukan masalah yang pernah di
b. Perasan saat lakukan selama ini
melakukan b. Diskusikan denngan
kekerasaan pasien apakah dengan
c. Evektifitas cara tindakan tersebut masalah
yang di pakai akan terselesaikan.
dalam menyelesai-
kan masalah
5. Klien dapat 5. Setelah 3 x interaksi, 5. Diskusi dengan klien akibat
mengidentifika klien menjelaskan negative yang di lakukan
si akibat akibat tindakannya di kepada klien :
perilaku bagi : a. Diri sendiri
kekerasaan a. Diri sendiri b. Orang lain
b. Orang lain c. Lingkungan
c. lingkungan
6. Klien dapat 6. Setelah 3 x interaksi, 6. Diskusikan dengan klien :
mengidentifika klien: a. Apakah klien mau
si cara a. Menjelaskan cara mempelajari cara baru
kontruksi yang sehat untuk mengungkapkan
dalam mengungkapkan marah yang sehat
mengungkapka marah b. Jelaskan berbagai alternatf
n kemarahan pilihan untuk
mengungkapkan marah
selain perilaku keerasan
yang dilakukan klien
c. Jelaskan cara- cara
tersebut untuk
mengugkapkan marah
- Cara fisik : nafas
dalam, pukul batal,
atau olahrga
- Cara verbal :
Mengungkapkan
kepada orang lain
dirinya lagi kesal
- Cara social :
Latihan asertif dengan
orang lain
- Cara spritural:
Shalat, berdoa, zikir,
meditasi dan lain –
lain.
7. Klien dapat 7. Setelah 3 x interaksi, 7.1 Diskusikan cara yang akan
mendemotrasik klien memperagakan di pilih dan anjurkan klien
an cara cara mengontrol memilih cara yang
megontrol perilaku kekerasan: memungkinkan untuk
perilaku a. Fisik : mengungkap-kan
kekerasaan Tarik nafas dalam – kemarahan
dalam memukul 7.2 Latih klien memperagakan
batal/ kasur cara yang di pilih:
b. Verbal : a. Peragakan cara yang di
Menugkapkan pilih
perasaan kesal / b. Jelaskan manfaat cara
jengkel tanpa tersebut
kepada orang lain c. Anjurkan klien
tanpa menyakiti menirukan peraaga yang
c. Spritural : berdoa sudah di lakukan
sesuai agama d. Beri penguatan kepada
klien, perbaiki cara yang
masih belum sempurna
8. Klien dapat 8. Setelah 3 interaksi 8.1 Diskusikan pentingnya peran
dukungan dari dengan keluarga: dan dukungan keluarga
keluarga untuk a. Menjelaskan sebagi pendukung klien
mengontrol cara merawat untuk mengatasi perilaku
perilaku klien dengan kekerasaan
kekerasaan perilaku 8.2 Diskusikan potensi keluarga
kekerasaan untuk membantu klien
b. Mengungkapkan mengatasi perilaku
perasaan puas kekerasan
dalam merawat 8.3 Jelaskan pengertian,
klien penyebab, akibat dan cara
merawat klien perilaku
kekerasan yang dapat
dilakukan oleh keluarga
8.4 Peragakan cara merawat
klien
8.5 Beri kesempatan keluarga
untuk memperagakan ulang
8.6 Beri pujian kepada keluarga
setelah peragan
8.7 Tanyakan perasaan keluarga
setelah mencoba cara yang di
latih
9. Klien 9.1 Setelah 3 x interaksi 9.1 Jelaskan kepada klien :
menggunakan klien bisa a. Manfaat minum obat
obat sesuai menjelaskan b. Kerugian tidak minum
program yang a. Manfaat minum obat
telah obat c. Nama obat
ditetapkan b. Kerugian d. Bentuk dan warna obat
tidakminum obat e. Dosis yang di berikan
c. Nama obat f. Waktu pemakaian
d. Bentuk dan warna g.
obat h. Cara pemakaian
e. Dosis yang i. Efek yang di rasakan
diberikan 9.2 Anjurkan klien
f. Waktu pemakaian a. Meminta dan
g. Cara pemakaian menggunakan obat tepat
h. Efek yang pada waktu
dirasakan b. Melaporakan pada
perawat / dokter jika
9.2 Setelah 3 interaksi, mengalami efek yang
klien menggunakkan tidak biasa
obat sesuai program c. Beri pujian terhadap
kedisiplinan klien.
E. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan keperawatan adalah tindakan keperawatan yang
disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dan
disesuaikan dengan kondisi klien.
Pelaksanaan pada klien dengan gangguan perilaku kekerasan antara
lain membina hubungan saling percaya, mengenal penyebab perilaku
kekerasan yang di lakukan, dapat mengidentifikasi tanda – tanda perilaku
kekerasan, dapat mengidentifikasi perilaku kekerasaan yang pernah di
lakukan, dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasaan, dapat
mengidentifikasi cara kontruksi dalam mengungkapkan kemarahan, dapat
mendemotrasikan cara megontrol perilaku kekerasaan, dapat dukungan dari
keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasaan dan menggunakan obat sesuai
program yang telah ditetapkan
Pelaksanaan keperawatan kepada klien dengan perilaku kekerasan
didasarkan pada prinsip tindakan keperawatan, mengacu kepada rencana
tindakan namun tetap disesuaikan dengan kondisi klien dan berdasarkan pada
SP.
STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Mengidentifikasi penyebab PK 1 Mendiskusikan masalah yang
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK dirasakan keluarga dalam merawat
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan klien
4. Mengidentifikasi akibat PK 2 Menjelaskan pengertian PK, tanda dan
5. Menyebutkan cara mengontrol PK gejala, serta proses terjadinya PK
6. Membantu klien mempraktekkan 3 Menjelaskan cara merawat klien
latihan cara mengontrol fisik I dengan PK
7. Menganjurkan klien memasukan ke
dalam kegiatan harian
SP 2 SP 2
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1 Melatih keluarga mempraktikkan cara
klien merawat klien dengan PK
2. Melatih klien mengendalikan PK 2 Melatih keluarga mempraktikkan cara
dengan cara fisik II
merawat langsung kepada klien PK
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian
SP 3 SP 3
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1. Membantu keluarga membuat jadwal
klien aktivitas dirumah termasuk minum
2. Melatih klien mengendalikan PK obat (discharge planning)
dengan cara verbal 2. Menjelaskan pollow up klien setelah
3. Menganjurkan klien memasukkan
pulang.
dalam jadwal kegiatan harian
SP 4
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien
2. Melatih klien mengontrol PK dengan
cara spiritual
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian

SP 5
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien
2. Menjelaskan cara mengontrol PK
dengan

F. EVALUASI
Setelah dilakukan interaksi selama didapatkan adanya perubahan
dalam tingkah laku klien.
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal penyebab perilaku kekerasan yang di lakukannya
3. Klien dapat mengidentifikasi tanda – tanda perilaku kekerasan
4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasaan yang pernah di lakukan
5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasaan
6. Klien dapat mengidentifikasi cara kontruksi dalam mengungkapkan
kemarahan
7. Klien dapat mendemotrasikan cara megontrol perilaku kekerasaan
8. Klien dapat dukungan dari keluarga untuk mengontrol perilaku
kekerasaan
9. Klien menggunakan obat sesuai program yang telah ditetapkan

DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino
Gonohutomo, 2009
Carpenito, L.J. (2010), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktek Klinik,
Jakarta: EGC
Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 2008
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 2008
Keliat, B.A. (2008). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2 Jakarta: EGC
Maramis, W.K. (2015). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press.
Rajiman, W. (2008). Pedoman Penulisan Laporan dan Strategi Pelaksanaan,
Malang: Dep Kes RI.
Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.).
St.Louis Mosby Year Book, 2008
Suliswati, (2008). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP
Bandung, 2008
Townsend, M.C. (2009), Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: EGC
Yosep, I. (2012). Keperawatan Jiwa Bandung: Rafika Aditama

LEMBAR PENGESAHAN

Bangli, ..... Januari 2020


Mahasiswa

( )
NIM.

Mengetahui

Pembimbing Clinical Instructor Pembimbing Clinical Teacher

(____________________________) (____________________________)
NIP NIK