Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH

OLEH

I MADE MAHADIVA ADNYANA


17091110046

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA


PROGRAM PENDIDIKAN S1 KEPERAWATAN NERS
STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. MASALAH UTAMA
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. DEFINISI
Harga diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan
yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi
hubungan dengan orang lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi
dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri,
dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia (Stuart & Gail, 2009).
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri.
Pencapaian ideal diri atau cita-cita atau harapan langsung menghasilkan
perasaan bahagia (Keliat, 2010).
Harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga
diri rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (kritik diri
yang telah berlangsung lama) dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak
langsung. (Stuart & Sundeen, 2009).
Harga diri rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri
termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berdaya, pesimis,
tidak ada harapan dan putus asa (DEPKES RI, 2013).
Harga diri rendah merupakan evaluasi diri dan perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak langsung
diekspresikan (Towsend, 2011).
Jadi harga diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan
kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri yang terjadi
secara situasional (trauma) atau kronis (kritik diri yang telah berlangsung
lama) dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung.
2. ETIOLOGI
a. Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah seseorang sebagai berikut :
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realitis, kegagalan yang berulang,
kurang mempunyai tangguang jawab personal, ketergantungan pada
orang lain, ideal diri yang tidak realitis.
2) Faktor yang mempengaruhi perfoma peran adalah stereotip peran
gender, tuntutan peran kerja, harapan peran budaya.
3) Faktor yang mempengaruhi indentitas pribadi meliputi
ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya dan
perubahan struktur sosial.
b. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus dapat berasal dari sumber internal dan eksternal.
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.
2) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada tiga
jenis transisi peran :
a) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang
berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan
norma-norma budaya, nilai-nilai serta tekanan untuk
menyesuaikan diri.
b) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c) Transisi peran sehat-sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaan
sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh :
- Kehilangan bagian tubuh
- Perubahan ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh
- Perubahan fisik yang berhubungan dengan tumbuh kembang
normal
- Prosedur medis dan keperawatan.
3. RENTANG RESPON
Renspons harga diri rendah sepanjang sehat-sakit berkisar dari status
aktualisasi diri yang paling adaptif sampai status kerancuan identitas serta
depersonalisasi yang lebih maladaptif.

Rentang Respons Konsep Diri


Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi


diri positif rendah identitas

Rentang respons harga diri rendah (Stuart & Gail, 2009)

Respons adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma.
a. Respon adaptif meliputi :
1) Aktualisasi diri
Pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang
pengalaman yang sukses.
2) Konsep diri positif
Klien mampu pengalaman yang positif dalam perwujudan dirinya,
dapat mengidentifikasikan kemampuan dan kelemahan secara jujur
dalam menilai suatu masalah sesuai norma-norma sosial dan
kebudayaan suatu tempat jika menyimpang merupakan respon
maladaptive.
b. Respon Maladaptif :
1) Harga diri rendah
Transisi antara adaptif dan maladaptif sehingga individu cenderung
berpikir kearah negatif.
2) Kerancuan identitas
Suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai
identifikasi masa kanak-kanak ke dalam kepribadian psikososial
dewasa yang harmonis.
3) Depersonalisasi
Suatu perasaan tidak realistis dan merasa asing dengan diri sendiri.
Hal ini berhubungan dengan tingkat ansietas panik dan kegagalan
dalam uji realitas. Individu mengalami kesulitan memberikan diri
sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri terasa nyata dan asing
baginya.

4. PSIKODINAMIKA
Gangguan harga diri rendah menurut (Carpenito, 2009) dapat terjadi
secara: Kronis dan Situasional. Harga diri rendah kronis adalah keadaan
individu mengalami evaluasi diri negatif yang mengenai diri sendiri atau
kemampuan dalam waktu lama, misalnya kegagalan untuk memecahkan
suatu maslah atau berbagai stress berurutan dapat mengakibatkan harga diri
rendah kronik. Sedangkan harga diri rendah situasionl adalah suatu keadaan
ketika individu yang sebelumnya memiliki herga diri positif mengalami
perasaan negatif mengenai diri dalam berespons terhadap suatu kejadian
(kehilangan, perubahan).
Harga diri rendah biasanya terjadi karena adanya kritik diri sendiri
dan orang lain, yang menimbulkan penurunan produktifitas yang
berkepanjangan, yang dapat menimbulkan gangguan dalam berhubungan
dengan orang lain dan dapat menimbulkan perasaan ketidakmampuan dari
dalam tubuh, selalu merasa bersalah terhadap orang lain, mudah sekali
tersinggung atau marah yang berlebihan terhadap orang lain, selalu
berperasaan negatif tentang tubuhnya sendiri. Karena itu dapat menimbulkan
ketegangan peran yang dirasakan kepada klien yang mempunyai ganggaun
harga diri rendah. Haraga diri rendah juga selalu mempunyai pandangan
hidup yang pesimis dan selalu beranggapan mempunyai kelihan fisik,
pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemapuan yang
dimiliki, dapat menimbulkan penarikan diri secara sosial, yang dapat
menimbulkan kekhawatiran pada klien (Stuart & Gail, 2009).
Klien yang mempuyai ganggaun harga diri rendah akan mengisolasi
diri dari orang lain dan akan muncul perilaku menarik diri, gangguan sensori
persepsi halusinasi bisa juga mengakibatkan adanya waham (Stuart & Gail,
2009).

5. KLASIFIKASI
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang
negatif terahadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mecapai
keinginan. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan
dapat terjadi secara :
a. Situasional
Terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai
suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena
sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
1) Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis,
pemasangan kateter, pemeriksaan perneal).
2) Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai
karena dirawat/sakit/penyakit.
3) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya
berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan
tanpa persetujuan.
b. Kronik
Perasan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian
sakit dan dirawat akan menambah persepsi negarif terhadap dirinya.
Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat
ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien
gangguan jiwa.

6. TANDA DAN GEJALA


Manifestasi yang biasa muncul pada klien gangguan jiwa dengan
harga diri rendah, Fitria (2009) :
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimistis
d. Tidak menerima pujian
e. Penurunan produktivitas
f. Penolakan terhadap kemampuan diri
g. Kurang memperhatikan perawatan diri
h. Berpakaian tidak rapi selera makan berkurang tidak berani menatap
lawan bicara
i. Lebih banyak menunduk
j. Bicara lambat dengan nada suara lemah
7. MEKANISME KOPING
Mekanisme koping termasuk pertahanan jangka pendek atau jangka
panjang serta pengguanaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri
sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan.
a. Pertahanan jangka pendek mencangkup berikut ini :
1) Aktivitas yang memberikan pelarian sementara dan krisis identitas diri
(misalnya, konser musik, bekerja keras, menonton televisi secara
obsesif).
2) Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara (misalnya
ikut serta dalam klub sosial, agama, politik, kelompok, gerakan, atau
geng ).
3) Aktivitas sementara yang menguatkan atau meningkatkan perasaan
diri yang tidak menentu ( misalnya, olahraga yang kompetitif, prestasi
akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas).
4) Aktivitas yang merupakan upaya jangka pendek untuk membuat
identitas di luar dari hidup yang tidak bermakna saat ini (misalnya,
penyalahgunaan obat).
b. Pertahanan jangka panjang mencangkup berikut ini :
1) Penutupan identitas; adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh
orang terdekat tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, atau potensi
diri individu.
2) Identitas negatif; asumsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai dan
harapan yang diterima masyarakat.

Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi,


isolasi, proyeksi, pengalihan (displacement), splitting, berbalik marah
terhadap diri sendiri, dan amuk.

Semua orang memiliki sumber koping tanpa memerhatikan gangguan


perilakunya, mempunyai beberapa bidang kelebihan personal yang meliputi
(Stuart & Gail,2009):
a. Aktivitas olahraga dan aktivitas di luar rumah
b. Hobi dan kerajinan tangan
c. Seni yang ekspresif
d. Kesehatan dan perawatan diri
e. Pendidikan atau pelatihan
f. Pekerjaan, vokasi, atau posisi
g. Bakat tertentu
h. Kecerdasan
i. Imajinasi dan kreativitas
j. Hubungan interpersonal

8. PENATALAKSAANAAN
a. Penatalaksanaan Keperawatan
Keliat ( 2010 ) menguraikan empat cara untuk meningkatkan harga diri
yaitu :
1) Memberi kesempatan untuk berhasil
2) Menanamkan gagasan
3) Mendorong aspirasi
4) Membantu membentuk koping
b. Penatalaksanaan Medis
1) Clorpromazine ( CPZ )
- Indikasi untuk sindrom psikosis yaitu berat dalam kemampuan
menilai realitas, kesadaran diri terganggu, waham, halusinasi,
gangguan perasaan dan perilaku aneh, tidak bekerja, hubungan
sosial dan melakukan aktivitas rutin.
- Efek saamping : sedasi, gangguan otonomik serta endokrin.
2) Haloperidol ( HPL )
- Indikasi : berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas dalam
fungsi netral serta fungsi kehidupan sehari-hari.
- Efek samping : sedasi, gangguan otonomik dan endokrin.
3) Trihexyphenidyl ( THP )
- Indikasi : segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pascaa
enchepalitis dan idiopatik.
- Efeksamping : hypersensitive terhadap trihexyphenidyl, psikosis
berat, psikoneurosis dan obstruksi saluran cerna.
c. Terapi okupasi / rehabilitasi
Terapi yang terarah bagi pasien, fisik maupun mental dengan
menggunakan aktivitas terpilih sebagai media. Aktivitas tersebut berupa
kegiatan yang direncanakan sesuai tujuan ( Seraquel, 2010 )
d. Psikoterapi
Psikoterapi yang dapat membantu penderita adalah psikoterapi suportif
dan individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan
maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat ( Seraquel, 2010 )
e. Terapi psikososial
Rencana pengobatan untuk skizofrenia harus ditujukan padaa kemampuan
daan kekurangan pasien. Selain itu juga perlu dikembangkan terapi
berorientasi keluarga, yang diarahkan untuk strategi penurunan stress dan
mengatasi masalah dan perlibatan kembali pasien kedalam aktivitas.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. DATA YANG DIKAJI

MASALAH
NO. DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
KEPERAWATAN
1. a. Klien mengkritik dirinya a. Klien tampak menyendiri Gangguan Konsep
sendiri b. Klien tampak malu dan Diri : Harga Diri
b. Klien tidak percaya diri menunduk ketika diajak Rendah
c. Klien merasa tidak mampu berbicara
melakukan suatu hal c. Klien tampak bingung bila
d. Perasaan negatif mengenai disuruh memilih alternatif
diri sendiri. tindakan Gangguan dalam
e. Klien mengatakan bersedih berhubungan.
dan kecewa. d. Menarik diri secara personal.
f. Klien mengatakan pesimis e. Menarik diri secara sosial.
dalam menghadapi f. Menarik diri secara realitas.
kehidupan. g. Merusak diri sendiri dan
g. Klien mengatakan hal-hal orang lain.
yang negatif tentang h. Produktivitas
keadaan tubuhnya. menurun,bengong dan putus
h. Klien mengatakan : saya asa.
tidak bisa, tidak mampu,
bodoh, tidak tahu apa-apa.
i. Klien mengungkapkan
perasaan malu terhadap diri
sendiri
2. a. Klien mengatakan tidak a. .Menarik diri yaitu kurang Kerusakan Interaksi
mempunyai teman. spontan. Sosial
b. Klien mengatakan menolak b. Apatis (acuh terhadap
berhubungan dengan orang lingkungan).
lain. c. Ekspresi wajah kurang
c. Sukar didapat jika klien berseri.
menolak komunikasi, d. Tidak merawat diri, dan tidak
kadang hanya dijawab memperhatikan kebersihan
dengan singkat, ya atau diri.
tidak. e. Afek tumpul, menurun atau
tidak ada komunikasi secara
verbal.
f. Mengisolasi diri, tidak atau
kurang sadar dengan
lingkungan sekitarnya.
g. Intake makanan dan
minuman terganggu,aktifitas
menurun, kurang energi
(tenaga).
h. Harga diri rendah.
i. Gairah seksual menurun.
j. Ragu terhadap kenyakinan
3. a. Klien mengatakan a. Klien tampak ketergantungan Koping Individu
ketidakmampuan dan pada orang lain Tidak Efektif
meminta bantuan orang lain b. Tampak sedih dan tidak
b. Klien mengungkapkan malu melakukan aktivitas yang
dan tidak bisa bila diajak seharusnya dapat dilakukan.
melakukan sesuatu. c. Wajah klien tampak murung
c. Mengatakan tidak berdaya
dan tidak ingin hidup lagi.
4 a. Mengatakan malas mandi, a. Badan bau, pakaian kotor, Defisit Perawatan
. tak mau menyisir rambut, rambut dan kulit kotor, kuku Diri
tak mau menggosok gigi, tak panjang dan kotor, gigi kotor,
mau memotong kuku, tak mulut bau, penampilan tidak
mau berhias, tak bisa rapih, tak bisa menggunakan
menggunakan alat mandi / alat mandi.
kebersihan diri
5 a. Klien mengatakan hidup a. Kurangnya perhatian Manajemen regimen
. hanya sebatang kara. dari pihak keluarga. terapeutik tidak
b. Klien mengatakan tidak b. Tidak adanya efektif.
dipedulikan oleh keluarga. komunikasi antara keluarga
c. Klien mengatakan tidak mau dengan klien.
menggungkapkan perasaaan
kepada keluarganya

B. POHON MASALAH
Kerusakan Interaksi Sosial

Manajemen regimen Defisit


terapeutik tidak Gangguan Konsep Diri : Harga
Perawatan
efektif. Diri Rendah
Diri

Koping Individu Tidak Efektif

Dari pohon masalah diatas dapat disimpulkan masalah keperawatan yang


terdapat pada klien dengan Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah adalah
sebagai berikut :
1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
2. Kerusakan Interaksi Sosial
3. Koping Individu Tidak Efektif
4. Defisit Perawatan Diri
5. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
2. Kerusakan Interaksi Sosial
3. Koping Individu Tidak Efektif
4. Defisit Perawatan Diri
5. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif.
D. RENCANA KEPERAWATAN

NO PERENCANAAN
TGL DX KEP
DX TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Gangguan TUM : 1. Setelah .... kali 1. Bina hubungan
Konsep Klien memiliki interaksi, klien saling percaya dengan
Diri: konsep diri yang menunjukkan ekspresi menggunakan prinsip
Harga positif wajah bersahabat, komunikasi terapeutik:
Diri menunjukkan rasa a. Sapa klien
Rendah. TUK : senang, ada kontak dengan ramah, baik
1. Klien dapat mata, mau berjabat verbal maupun non
membina tangan, mau verbal
hubungan saling menyebutkan nama, b. Perkenalkan
percaya dengan mau menjawab salam, diri dengan sopan
perawat klien mau duduk c. Tanyakan
berdampingan dengan nama lengkap dan
perawat, maua nama panggilan
mengutarakan masalah yang disukai klien
yang dihadapi. d. Jelaskan
tujuan pertemuan
e. Jujur dan
menempati janji
f. Tunjukkan
sikap empati dan
menerima klien apa
adanya
g. Beri
perhatian dan
kebutuhan dasar
klien

2. Klien dapat 2. Setelah ... kali interaksi 2.1


mengidentifika klien menyebutkan: tentang:
si aspek positif a. Aspek a.
dan positif dan dimiliki klien,
kemampuan kemampuan yang keluarga,
yang dimiliki dimiliki klien lingkungan
b. Aspek b.
positif keluarga dimiliki klien
c. Aspek 2.2
positif lingkungan daftar tentang:
klien a. Aspek
positif klien,
keluarga,
lingkungan
b. Kemamp
uan yang dimiliki
klien
2.3
realistis, hindarkan
memberikan penilaian
yang positif

3. Klien dapat 3. Setelah......kali 3.1 Diskusikan dengan


menilai interaksi klien klien kemempuan yang
kemampuan menyebutkan dapat dilaksanakan
yang dimiliki kemampuan yang 3.2
untuk dapat dilaksanakan yang dapat dilanjutkan
dilaksanakan
4. Klien dapat 4. Setelah....kali 4.1 Rencana
merencanakan interaksi klien kan bersama klien
kegiatan sesuai membuat rencana aktivitas yang dapat
dengan kegiatan harian dilakukan setiap hari
kemampuan sesuai kemampuan
yang dimiliki klien:
a. Kegiatan mandiri
b. Kegiatan dengan
bantuan
4.2 Tingkata
n sesuai dengan
kondisi klien
4.3 Beri
contoh cara
pelaksanaan kegiatan
yang dapat klien
lakukan

5. 5. 5.1 Anjurkan
melakukan klien melakukan klien untuk
kegiatan sesuai kegiatan sesuai melaksanakan kegiatan
rencana yang dengan jadwal yang yang telah
dibuat dibuat direncanakan
5.2
dilaksanakan klien
5.3
yang dilakukan klien
5.4 Diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan kegiatan
setelah pulang.
6. Klien dapat 6. Setelah...kali 6.1 Beri
memanfaatkan interaksi klien pendidikan kesehatan
sistem memanfaatkan pada keluarga tentang
pendukung sistem pendukung cara merawat klien
yang ada yang ada dikeluarga dengan harga diri
rendah
6.2
memberikan dukungan
selama klien dirawat
6.3
menyiapkan
lingkungan di rumah

E. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan keperawatan kepada klien dengan harga diri rendah
didasarkan pada prinsip tindakan keperawatan, mengacu kepada rencana tindakan
namun tetap disesuaikan dengan kondisi klien.
Pelaksanaan keperawatan kepada klien dengan Gangguan Konsep Diri:
Harga Diri Rendah didasarkan pada prinsip tindakan keperawatan, mengacu
kepada rencana tindakan namun tetap disesuaikan dengan kondisi klien dan
berdasarkan pada SP.

STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek 1 Mendiskusikan masalah yang dirasakan
positif yang dimiliki klien keluarga dalam perawatan klien
2. Membantu klien menilai kemampuan 2 Memberikan pengertian, tanda dan gejala
klien yang masih dapat digunakan
hrga diri rendah yang dialami klien
3. Membantu klien memilih kegiatan yang beserta proses terjadinya
akan dilatih sesuai dengan kemampuan 3 Menjelaskan cara merawat klien dengan
klien harga diri rendah
4. Melatih klien sesuai kemampuan yang
dipilih
5. Memberikan pujian yang wajar terhadap
keberhasilan klien
6. Menganjurkan klien memasukan dalam
jadwal kegiatan harian

SP 2 SP 2
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1 Melatih keluarga mempraktikkan cara
klien merawat klien dengan harga diri rendah
2. Melatih kemampuan kedua 2 Melatih keluarga melakukan cara merawat
3. Menganjurkan klien memasukkan
langsung kepada klien harga diri rendah
kedalam jadwal kegiatan harian
SP 3
1. Membantu keluarga membuat jadwal
aktivitas dirumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Menjelaskan pollow up klien setelah
pulang.

F. EVALUASI
Evaluasi keperawatan adalah akhir dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk menilai hasil dari keseluruhan, dapat pula bersifat sumatif yaitu
evaluasi yang dilakukan pada akhir semua tindakan yang telah dilakukan.
Adapun hasil akhir dari klien dengan harga diri rendah setelah dilakukan
pelaksanaan keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
2. Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki.
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan.
4. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai rencana yang dibuat.
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Jual. (2009). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC, Jakarta.
Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Nuha Medika EGC
Kaplan, M.D. dan Sadock,M.D. (2008). Sinopsis Psikiatri (Edisi 7). Jakarta : Bina
Keliat, B.A. (2010). Gangguan Konsep Diri Pada Klien Gangguan Jiwa. Jakarta :
EGC
Maramis, W.F. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga Rupa
Aksara
Stuart dan Sundeen. (2009). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC.
Jakarta.
Stuart, W. Gail. 2009. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Suliswati. (2008). Konsep Dasar Keperewatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Townsend, Mary C. (2011). Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri
University Press
LEMBAR PENGESAHAN

Bangli, ..... Januari 2020

Mahasiswa

( )
NIM.

Mengetahui

Pembimbing Clinical Instructor Pembimbing Clinical Teacher

(____________________________) (____________________________)
NIP NIK