Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

OLEH

I MADE MAHADIVA ADNYANA


17091110046

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN JIWA


PROGRAM PENDIDIKAN S1 KEPERAWATAN NERS
STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. MASALAH UTAMA
Gangguan persepsi sensori : halusinasi

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. DEFINISI
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya
rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara,
bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu
(Hawari, 2008).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan
panca indera (Isaacs, 2009).
Persepsi merupakan tanggapan indera terhadap rangsangan yang
datang dari luar, dimana rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan
penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan dan perabaan.
Interpretasi (tafsir) terhadap rangsangan yang datang dari luar itu dapat
mengalami gangguan sehingga terjadilah salah tafsir
(missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antara lain karena
adanya keadaan afek yang luar biasa, seperti marah, takut, excited
(tercengang), sedih dan nafsu yang memuncak sehingga terjadi gangguan
atau perubahan persepsi (Triwahono, 2009).
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh /
baik (Stuart & Sundenn, 2008).
Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada
panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun.
(Maramis, hal 119)Dari pengertian diatas, maka penulis menyimpulkan
bahwa halusinasi merupakan suatu persepsi sensorik yang keliru dan
melibatkan panca indra yang dirasakan individu tanpa adanya stimulus
yang nyata.
2. ETIOLOGI
Menurut Mary Durant Thomas (2008), Halusinasi dapat terjadi
pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau
keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan
penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi dapat juga terjadi
dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik.
Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai
pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan
antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat
terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi
dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu
yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya
pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab
halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak
faktor yang mempengaruhinya seperti bagian dari faktor predisposisi dan
faktor presipitasi
a. Faktor Predisposisi
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan
dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai
dipahami.
2) Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya 
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak
mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri
dan lebih rentan terhadap stress.
3) Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan
Dimetyttranferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neutransmiter otak. Misalnya
terjadi ketidak seimbangan asetylcholin dan dopamin.
4) Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh
orang tua skizofrenia cendrung mengalami skizofrenia. Hasil
studi menunjukan bahwa faktor keluarga menunjukan hubungan
yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
5) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan pasien sangat
mempengaruhi respon dan kondisi psikologis pasien. Salah satu
sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan
orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan
dalam rentang hidup pasien.
6) Sosial Budaya
Secara umum pasien dengan gangguan  halusinasi timbul
gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan,
isolasi sosial, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak
berdaya.

b. Faktor Presipitasi
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak yang
mengatur proses inflamasi serta abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh
otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap
stresor lingkungan untuk menentukan tejadinya gangguan
perilaku.
3) Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menanggapi stressor.
3. RENTANG RESPON
Respon Adaptif Respon Maladaptif

- Pikiran logis - Pikiran kadang menyimpang -Kelainan pikiran


- Persepsi akurat - Ilusi - Halusinasi
- Emosi konsisten - Emosional berlebihan dengan - Tidak mamapu
Pengalaman kurang mengatur emosi
- Perilaku sosial - Perilaku ganjil - Ketidakteraturan
- Hubungan sosial - Menarik diri - Isolasi sosial
( Stuart, Gail wiscarz, 2008 )

a. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh
norma-norma sosial dan kebudayaan dengan kata lain bahwa
individu tersebut dalam batas normal. Respon ini meliputi :
1) Pikiran logis : pikiran yang mengarah pada kenyataan
2) Persepsi akurat : pandangan yang tepat pada kenyataan
3) Emosi konsisen dengan pengalaman : perasaan yang timbul
sesuai dengan yang terjadi.
4) Hubungan sosial : sesuai yang diharapkan pada masyarakat aau
lingkungan.

b. Respon Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon yang sudah menyimpang dari
norma-norma sosial dan kebudayaan. Respon ini meliputi :
1) Gangguan pikir/delusi : keyakinan atau penialian yang salah
dan tidak dapat dikoreksi, tidak sesuai dengan kenyataan dan
kepercayaan yang berlaku dalam lingkungan, masyarakat serta
budaya tempat tinggal individu tersebut.
2) Halusinasi : gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan
sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu persepsi panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar.
3) Perilaku disorganisasi : merupakan suatu perilaku yang tidak
sesuai atau tidak berarti.
4) Isolasi sosial : merupakan suatu kondisi kesendirian yang
dialami klien dan diterima sebagai ketentuan dalam seseorang
sebagai keadaan yang negaif atau mengancam.
4. PSIKOPATOLOGI
Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak
teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor
psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam
keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang
yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan
menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila
input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai
pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam
unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.
Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan
adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena
sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka
keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.

5. KLASIFIKASI
Halusinasi terdiri dari beberapa jenis, dengan karakteristik tertentu,
diantaranya :
a. Halusinasi pendengaran (akustik, audiotorik) : Gangguan stimulus
dimana klien mendengar suara- suara terutama suara – suara orang,
biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan
apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk
melakukan sesuatu.
b. Halusinasi penglihatan (visual) : Stimulus visual dalam bentuk
beragam seperti bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik,
gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks.
Bayangan bias bisa menyenangkan atau menakutkan.
c. Halusinasi penghidu (olfaktori) : Gangguan stimulus pada penghidu,
yang ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang
menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang – kadang
terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor,
kejang dan dementia.
d. Halusinasi peraba (taktil, kinaestatik) : Gangguan stimulus yang
ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus
yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah,
benda mati atau orang lain.
e. Halusinasi pengecap (gustatorik) : Gangguan stimulus yang ditandai
dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.
f. Halusinasi sinestetik : Gangguan stimulus yang ditandai dengan
merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau
arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. (Yosep Iyus, 2008)

6. TAHAPAN HALUSINASI
PERILAKU YANG DAPAT
TAHAP CIRI-CIRI
DIOBSERVASI
Comforting Klien yang berhalusinasi - Tersenyum lebar, menyeringai
Halusinasi mengalami emosi yang tetapi tampak tidak tepat
menyenangkan, intense seperti cemas, - Menggerakan bibir tanpa membuat
Cemas ringan kesepian, rasa bersalah, dan suara
takut dan mencoba untuk - Pergerakan mata yang cepat
berfokus pada pikiran yang - Respon verbal yang lambat seperti
menyenangkan untuk asyik
menghilangkan kecemasan. - Diam dan tampak asyik
Seseorang mengenal bahwa
pikiran dan pengalaman
sensori berada dalam
kesadaran control jika
kecemasan tersebut bisa
dikelola.
Comdemning Penngalaman sensori - Ditandai dengan kecemasan
Halusinasi menjijikan dan menakutkan. misalnya terdapat peningkatan
menjijikan, Klien yang berhalusinasi nadi, pernafasan dan tekanan
Cemas sedang mulai merasa kehilangan darah.
control dan mungkin - Rentang perhatian menjadi sempit
berusaha menjauhkan diri, - Asyik dengan penngalaman sensori
serta merasa malu dengan dan mungkin kehilangan
adanya pengalaman sensori kemampuan untuk membedakan
tersebut dan menarik diri dari halusinasi dengan realitas.
orang lain.
Controlling Klien yang berhalusinasi - Arahan yang diberikan halusinasi
Pengalaman menyerah untuk mencoba tidak hanya dijadikan objek saja
sensori berkuasa, melawan pengalaman oleh klien tetapi mungkin akan
Cemas berat halusinasinya. Isi halusinasi diikitu/dituruti
bisa menjadi - Klien mengalami kesulitan
menarik/meimkat. Seseorang berhubungan dengan orang lain
mungkin mengalami - Rentang perhatian hanya dalam
kesepian jika pengalaman beberapa detik atau menit
sensori berakhir. - Tampak tanda kecemasan berat
seperti berkeringat, tremor, tidak
mampu mengikuti perintah.
Conquering Pengalaman sensori bisa - Perilakku klien tampak seperti
Melebur dalam mengancam jika klien tidak dihantui terror dan panik
pengaruh mengikuti perintah dari - Potensi kuat untuk bunuh diri dan
halusinasi, halusinasi. Halusinasi membunuh orang lain
Panik mungkin berakhir dalam - Aktifitas fisik yang digambarkan
waktu empat jam atau sehari klien menunjukan isi dari
bila tidak ada intervensi halusinasi misalnya klien
terapeutik melakukan kekerasan, agitasi,
menarik diri atau katatonia
- Klien tidak dapat berespon pada
arahan kompleks
- Klien tidak dapat berespon pada
lebih dari satu orang
7. TANDA DAN GEJALA
a. Manurut Keliat 2008:
1) Bicara, senyum, tertawa sendiri.
2) Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
3) Tidak dapat membedakan hal nyata dan tidak nyata
4) Tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi
5) Sikap curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan
lingkungan ), takut.
6) Ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung.
b. Menurut Hamid (2008), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi
adalah sebagai berikut:
1) Bicara sendiri.
2) Senyum sendiri.
3) Ketawa sendiri.
4) Menggerakkan bibir tanpa suara.
5) Pergerakan mata yang cepat
6) Respon verbal yang lambat
7) Menarik diri dari orang lain.
8) Berusaha untuk menghindari orang lain.
9) Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
10) Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan
darah.
11) Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa
detik.
12) Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
13) Sulit berhubungan dengan orang lain.
14) Ekspresi muka tegang.
15) Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
16) Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
17) Tampak tremor dan berkeringa
18) Perilaku pan
19) Agitasi dan kataton
20) Curiga dan bermusuhan.
21) Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan
22) Ketakutan.
23) Tidak dapat mengurus diri.
24) Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan, disini peran
keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di RSJ
klien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga mempunyai peranan
yang sangat penting didalam hal merawat klien, menciptakan lingkungan
keluarga yang kondusif  dan sebagai pengawas minum obat
(Maramis,2009)
a. Farmakoterapi
1) Neuroleptika dengan dosis efektif bermanfaat pada penderita
skizoprenia yang menahun, hasilnya lebih banyak jika mulai
diberi dalam dua tahun penyakit.
2) Neuroleptika dengan dosis efektif tinggi bermanfaat pada
penderita dengan psikomotorik yang meningkat.
KELAS KIMIA NAMA GENERIK (DAGANG)
Fenotiazin Asetofenazin (Tidal) Klopromazin (Thorazine)
Flufenazine (Prolixine, Permiti)
Mesoridazin (Serentil) Perfenazin (Trilafon)
Proklorperazin (Compazine)
Promazin (Sparine) Tiodazin (Mellaril)
Trifluoperazin (Stelazine)
Trifluopromazine (Vesprin)
Tioksanten Kloprotiksen (Tarctan) Tiotiksen (Navane)
Butirofenon Haloperidol (Haldol)
Dibenzondiazepin Klozapin (Clorazil)
Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane)
Dihidroindolon Molindone (Moban)

b. Terapi kejang listrik


Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang
grandmall secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui
electrode yang dipasang pada satu atau dua temples, terapi kejang
listrik dapat diberikan pada skizoprenia yang tidak mempan dengan
terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5
joule/detik.

c. Psikoterapi dan Rehabilitasi


Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu
karena berhubungan dengan praktis dengan maksud mempersiapkan
klien kembali ke masyarakat. Therapy modalitas yang terdiri dari
Terapi aktivitas :

1) Terapi musik
Fokus : mendengar, memainkan alat musik, bernyanyi. Yaitu
menikmati dengan relaksasi musik yang disukai klien.
2) Terapi seni
Fokus : untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai
pekerjaan seni.
3) Terapi menari
Fokus pada : ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh
4) Terapi relaksasi
Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok
5) Terapi sosial
Klien belajar bersosialisasi dengan klien lain
6) Terapi kelompok
Terapi kelompok (Group therapy)
7) Terapi lingkungan
Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana di dalam keluarga
(home like atmosphere)

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. DATA YANG DI KAJI
MASALAH
NO. DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
KEPERAWATAN
1. a. Klien mengatakan sering a. Klien tampak sering Gangguan persepsi
mendengar suara-suara komat-kamit sensori: Halusinasi
gemuruh pada pagi dan Auditori.
malam.
b. Menyatakan kesal, b. Menyatakan kesal,
menyatakan senang dengan menyatakan senang
suara – suara. dengan suara – suara.
2. a. Klien mengatakan sering a. Melamun, menyendiri, Isolasi sosial : Menarik
menyendiri dan jarang pasif. diri.
mengobrol dengan teman atau
orang lain.
b. Klien mengatakan malas b. Interaksi dengan orang
berintraksi, ,mengatakan lain berkurang.
orang lain tidak mau
menerima dirinya, merasa
oang lain tidak selevel
dengan dia.
c. Curiga dengan orang lain, c. Mematung, mondar –
mendengar suara – suara. mandir tanpa arah, tidak
berinisiatif berhubungan
dengan orang lain.
3. a. Klien mengatakan susah a. Klien lesu dan pada Devrivasi Tidur.
untuk tidur tenang dan hanya kelopak matanya terdapat
dapat tertidur sebentar karena kantung mata.
suara yang terus menghantui.
b. Klien mengatakan b. Klien tampak tampak
mendengarkan suara tersebut ketakutan dan gelisah.
hampir setiap malam.
4. a. Klien mengatakan sering a. Klien bingung, kadang Resiko mencederai diri
mendengar bisikan-bisikan mengamuk dan memukul. sendiri, orang lain, dan
hingga membuatnya marah. lingkungan.
b. Klien mengatakan mendengar b. Tampak tegang saat
suara – suara, merasa orang becerita, pembicaraan
lain mengancam, kasar jika menceritakan
menganggap orang lain jahat. marahnya.

B. POHON MASALAH
Resiko mencederai diri sendiri,
orang lain, dan lingkungan.

Koping keluarga tidak Gangguan persepsi sensori : Deprivasi Tidur.


efektif Halusinasi Auditori.

Isoslasi sosial : Menarik diri.

Dari pohon masalah diatas dapat disimpulkan masalah keperawatan


yang terdapat pada klien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi adalah
sebagai berikut:
1. Gangguan persepsi sensori: Halusinasi
2. Isolasi sosial
3. Risiko mencederai diri sendiri
4. Deprivasi tidur
5. Koping keluarga tidak efektif

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa kepeawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan
data, mengatasi kebutuhan spesifik klien serta respon terhadap masalah dan
risiko dan diagnosa keperawatan yang muncul pada masalah gangguan
persepsi sensori halusinasi adalah sebagai berikut :
1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi
2. Isolasi sosial
3. Risiko perilakku kekerasan
4. Deprivasi tidur
5. Koping keluarga tidak efektif

D. RENCANA KEPERAWATAN
Perencanaan tindakan keperawatan menurut Keliat (2008 ) terdiri dari
tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan intervensi keperawatan.
Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama perubahan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran adalah sebagai berikut:

Nama Klien : Dx Medis :


RM No. : Ruangan :
NO DX PERENCANAAN
TGL
DX KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Gangguan sensori TUK: 1. Setelah 3 kali interaksi 1. Bina hubungan saling
persepsi: 1. Klien klien menunjukkan tanda- percaya dengan menggunakan
halusinasi dapat tanda percaya kepada prinsip komunikasi terapeutik:
(lihat/dengar membina perawat: a. Sapa klien
/penghidu hubungan a. Ekspresi wajah dengan ramah baik verbal
/raba/kecap) saling bersahabat maupun non-verbal
percaya. b. Menunjukkan rasa b. Perkenalkan
senang nama, nama panggilan dan
c. Ada kontak mata tujuan perawat berkenalan
d. Mau berjabat tangan c. Tanyakan nama
e. Mau menyebukan nama lengkap dan nama panggilan
f. Mau menjawab salam yang disukai klien
g. Mau duduk d. Buat kontrak
berdampingan dengan yang jelas
perawat e. Tunjukkan sikap
h. Bersedia jujur dan menepati janji
mngungkapkan setiap kali interaksi
masalah yang f. Tunjukkan sikap
dihadapai empati menerima apa adanya
g. Beri perhatian
kepada klien dan perhatikan
kebutuha dasar klien
h. Tanyakan
perasaan klien dan masalah
yang dihadapi klien
i. Dengarkan
dengan penuh perhatian
ekspresi perasaan klien.
2. Klien 2.1 Setelah 2 kali interaksi klien 2.1 Adakan kontak sering dan
dapat menyebutkan : singkat secara bertahap.
mengenal a. Isi 2.2 Observasi tingkah laku klien
halusinas b. Waktu terkait dengan halusinasinya
inya c. Frekuensi (dengar/lihat
d. Situasi dan kondisi /penghidu/raba/kecap ), jika
yang menimbulkab menemukan klien yang
halusinasi sedang halusinasi:
2.2 Setelah 2 kali interaksi klien a. Tanyakan apakah klien
menyatakan perasaan mengalami sesuatu
danresponnya saat (dengar/lihat
mengalami halusinasi : /penghidu/raba/kecap)
a. Marah b. Jika klien menjawab ya,
b. Takut tanyakan apa yang
c. Sedih sedang dialaminya.
d. Senang c. Katakan bahwa perawat
e. Cemas percaya klien
f. jengkel mengalami hal tersebut,
namun perawat sendiri
tidak mengalaminya
(dengan nada
bersahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi)
d. Katakan bahwa ada
klien lain yang
mengalami hal yang
sama
e. Katakan bahwa perawat
akan membantu klien
f. Jika klien sedang
berhalusinasi klarifikasi
tentang adanya
pengalaman halusinasi,
diskusikan dengan
klien:
1) Isi, waktu dan
frekuensi trejadinya
halusinasi (pagi,
siamg, sore ,
malam atau sering
dan kadangkadang)
2) Situasi dan kondisi
yang menimbulkan
atau tidak
menimbulkan
halusinasi
2.3 Diskusikan dengan klien apa
yang dirasakan jika terjadi
halusinasi dan beri
kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya
2.4 Diskusikan dengan klien apa
yang dilakukan untuk
mengatasi perasaan tersebut.
2.5 Diskusikan tentang dampak
yang akan dialami bila klien
menikmati halusinasinya
3. Klien 3.1 Setelah 1 kali interaksi klien 3.1 Identifikais bersama klien cara
dapat menyebutkan tindakan yang atau tindakan yang dilakukan
mengontr biasanya dilakukan untuk jika terjadi halusinasi (tidur,
ol mengendalikan marah, menyibukkan diri,dll).
halusinas halusinasinya. 3.2 Diskusikan cara yang
inya 3.2 Setelah 1 kali interaksi digunakan oleh kien:
klien menyebutkan cara a. Jika cara yang digunakan
baru mengontrl halusinasi adaftif beri pujian
3.3 Setelah 1 kali interaksi b. Jika cara yang digunakan
klien dapat memilih dan maladaptif diskusikan
memperagakan cara kerugian cara tersebut
mengatasi halusinasi 3.3 Diskusikan cara baru untuk
(dengar/lihat/penghidu/raba memutus/mengontrol
/kecap) timbulnya halusinasi:
3.4 Setelah 1 kali interaksi a. Katakan pada diri sendiri
klien melaksanakan cara bahwa ini tidak nyata
yang telah dipilih untuk (”saya tidak mau
mengendalikan dengar/lihat/penghidu
halusinasinya /raba/kecap pada saat
3.5 Setelah 1 kali pertemuan halusinasi)
klien mengikuti terapi b. Menemui orang lain
aktivitas kelompok (perawat/teman/anggota
keluarga) untuk
menceritakan tentang
halusinasinya
c. Membuat dan
melaksanakan jadwal
kegiatan sehari-hari yang
telah disusun.
d. Meminta keluarga,
teman, perawat menyapa
jika sedang berhalusinasi
3.4 Bantu klien memilih cara yang
sudah dianjurkan dan latih
untuk mencobanya
3.5 Beri kesempatan untuk
melakukan cara ynag dipilih
dan dilatih
3.6 Pantau pelaksanaan yang telah
dipilih dan dilatih jika
berhasil beri pujian
3.7 Anjurkan klien mengikuti
terapi aktivitas kelompok,
orientasi realita, stimulasi
persepsi.
4. Klien 4.1 Setelah...x pertemuan 4.1 Buat kontrak dengan keluarga
dapat keluarga, keluarga untuk pertemuan (waktu,
dukungan menyatakan setuju untuk tempat, topik)
dari mengikuti pertemuan 4.2 Diskusikan dengan keluarga
keluarga dengan perawat. (pada saat pertemuan
dalam 4.2 Setelah...x interaksi keluarga keluarga/kunjungan rumah)
mengontr menyebutkan pengertian, a. Pengertian halusinasi
ol tanda dan gejala proses b. Tanda dan gejal
halusinas terjadinya halusinasi dan halusinasi
inya tindakan untuk c. Proses terjadinya
mengendalikan halusinasi. halusinasi
d. Cara yang dapat
dilakukan klie dan keluarga
untuk memutus halusinasi
e. Obat-obatan halusinasi
f. Cara merawat anggota
keluarga yang halusinasi di
rumah (beri kegiatan,
jangan biarkan sendiri,
makan bersama, bepergian
bersama, memantau obat-
obatan dan cara
pemberiannya untuk
mengatasi halusinasi)
g. Beri informasi waktu
kontrol ke rumah sakit dan
bagaimana cara mencari
bantuan jika halusinasi tidak
dapat diatasi di rumah
5. Klien 5.1 Setelah 1 kali interaksi klien 5.1 Diskusikan dengan klien
dapat menyebutkan: tentang manfaat dan kerugian
memanfa a. Manfaat minum obat tidak minum obat, nama,
atkan b. Kerugian tidak minum warna, dosis, cara, efek terapi
obat obat dan efek samping penggunaan
dengan c. Nama, warna, dosis, obat
baik efek terapi dan efek 5.2 Pantau klien saat penggunaan
samping obat. obat
5.2 Setelah 1 kali interaksi klien 5.3 Beri pujian jika klien
mendemonstrasikan menggunaan obat dengan
penggunaan obat dengan benar
benar 5.4 Diskusikan akibat berhenti
5.3 Setelah 1 kali interaksi klien minum obat tanpa konsultasi
menyebutkan akibat dengan dokter
berhenti minum obat tanpa 5.5 Anjurkan klien untuk
konsultasi dokter konsultasi kepada dokter atau
perawat jika terjadi hal – hal
yang tidak diinginkan
E. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan keperawatan adalah tindakan keperawatan yang
disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dan
disesuaikan dengan kondisi klien.
Pelaksanaan pada klien dengan gangguan persepsi sensori Halusinasi
antara lain membina hubungan saling percaya, membantu klien mengenal
halusinasi, membantu klien cara mengontrol halusinasi, klien mendapat
dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya, klien dapat
memanfaatkan obat dengn benar.
Pelaksanaan keperawatan kepada klien dengan halusinasi didasarkan
pada prinsip tindakan keperawatan, mengacu kepada rencana tindakan namun
tetap disesuaikan dengan kondisi klien dan berdasarkan pada SP.
STRATEGI PELAKSANAAN
PASIEN KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi klien 1 Mendiskusikan masalah yang
2. Mengidentifikasi isi halusinasi klien dirasakan keluarga dalam perawatan
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien
klien 2 Memberikan pendidika kesehatan
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi tentang pengertian halusinasi, jenis,
klien halusinasi yang dalam klien, tanda, dan
5. Mengidentifikasi situasi yang dapat
gejala halusinasi
menimbulkan halusinasi klien
6. Mengidentifikasi respon klien
3 Menjelaskan cara merawat klien
terhadap halusinasi klien dengan halusinasi
7. Mengajarkan klien menghardik
halusinasi
8. Menganjurkan klien memasukan cara
menghardik ke dalam kegiatan harian
SP 2 SP 2
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1 Melatih keluarga mempraktikkan cara
klien merawat klien dengan halusinasi
2. Melatih klien mengendalikan 2 Melatih keluarga mempraktikkan cara
halusinasi dengan cara bercakap-cakap
merawat klien dengan halusinasi
dengan orang lain.
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegaitan harian
SP 3 SP 3
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1. Membantu keluarga membuat jadwal
klien aktivitas dirumah termasuk minum
2. Melatih klien mengendalikan obat (discharge planning)
halusinasi dengan cara melakukan 2. Menjelaskan pollow up klien setelah
kegiatan
pulang.
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
SP 4
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
klien
2. Memasukkan penkes tentang
penggunakan obat secara teratur
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian
F. EVALUASI
Setelah dilakukan interaksi selama didapatkan adanya perubahan
dalam tingkah laku klien.
1. Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
dengan perawat sehingga mempermudah dalam proses interaksi.
2. Saat halusinasinya muncul yaitu saat klien sendirian pada sore hari, klien
mampu menyebutkan tindakan yang bisa dilakukan seperti menghardik
atau menghindar, bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan
aktivitas secara mandiri.
3. Klien dapat mengenal jika halusinasi mulai muncul dan klien tahu
bagaimana cara mengontrol halusinasinya.
4. Klien mau mengungkapkan perasaannya setelah dilakukan interaksi dari
perawat kepada klien.
5. Klien tidak melakukan tindakan yang dapat melukai dirinya sendiri dan
orang lain. Sehingga menghindarkan klien dari resiko perilaku
kekerasan.
6. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara baik sehingga
menghindarkan klien dari isolasi social.
7. Klien mau memasukkan aktivitasnya untuk mengatasi dan menghindar
dari halusinasi yang dialami dalam jadwal aktivitas harian sehingga
perawat dapat mengontrol kegiatan yang klien lakukan selama perawat
dalam jam dinas ataupun tidak.
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan,Deden.Rusdi.2013.Keperawatan Jiwa, Konsep dan Kerangka Kerja


Asuhan Keperawatan Jiwa.Jogjakarta:Gosyen Publishing
Keliat, B.A ., Ria Utami P., Novi Helena (2008). Proses Keperawatan Kesehatan
Jiwa Edisi ke 2. Jakarta: EGC
Mansjoer, A. (2009) . Kapita selekta kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Stuart, G.W., dan Sundeen, S.J. (2008). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 3),
Jakarta : EGC.
Suliswati dkk, (2009). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Yosep, Iyus.2008 .Keperawatan Jiwa.Bandung:PT Refika Aditama
LEMBAR PENGESAHAN

Bangli, ..... Januari 2020

Mahasiswa

( )
NIM.

Mengetahui

Pembimbing Clinical Instructor Pembimbing Clinical Teacher

(____________________________) (____________________________)
NIP NIK