Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PRE-OPERATIF

Disusun oleh :

Dian Kuswantoro (1714401083)


Kholifatul Anisa Putri (1714401090)
Nurul Kamelia (1714401078)
Zellia Putri Hasti Pratiwi (1714401085)
Desti Anggraini (1714401099)
Erny Agustina (1714401071)
Nia Lestari (1714401067)
Zania Syefira (1714401101)

PRODI DIII JURUSAN KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
TAHUN AJARAN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa
kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi
rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan
hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori. Individu
dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup pula
pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau
umum. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang kian maju.
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.
Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman
pembedahan, yaitu? preoperative phase, intraoperative phase dan post operative phase.
Masing- masing fase di mulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula
dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing
mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yan dilakukan oleh
perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan.
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hapir
semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan
bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap
yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Tingkat keberhasilan
pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling
ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan
perawat) di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif.
Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis
pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut faktor pasien
merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tidakan pembedahan
adalah hal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan
hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal terebut diatas,
maka sangatlah pentig untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah – langkah 
perioperatif.  Tindakan perawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan
sangat berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep dasar operatif ?
2. Bagaimana askep preoperative ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami konsep dasar operatif.
2. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan preoperative.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR PERIOPERATIF


PENGERTIAN PERIOPERATIF
Perioperatif atau perioperasi merupakan tahapan dalam proses pembedahan yang
dimulai dari prabedah(preoperatif),  bedah (intraoperatif), dan pascabedah (postoperatif).
Praoperatif merupakan masa sebelum dilakukannya tindakan pembedahan yang dimulai
sejak ditentukannya persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien berada dimeja
bedah.

ASPEK LEGAL DALAM PEMBEDAHAN


            Aspek legal adalah hal yang penting dalam melaksanakan pembedahan untuk
mengantisipasi kemungkinan dampak yang terjadi. Melalui surat persetujuan
dilakukannya tindakan (informed consent),berbagai informasi mengenai sifat, prosedur
yang akan dilakukan, adanya pilihan terhadap prosedur pembedahan, serta resiko
terhadap pilihan dari pembedahan dapat diketahui oleh pasien. Informed consent pada
dasarnya bertujuan untuk melindungi pasien dari tindakan yang dilakukan, serta
melindungi tim pembedah dari pengaduan atau tuntutan hukum.
2.2  ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF
2.2.1 PRABEDAH
A.    Pengkajian Keperawatan
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam tahap prabedah adalah pengetahuan tentang
persiapan pembedahan dan pengalaman masa lalu, kesiapan psikologis, pengobatan yang
mempengaruhi kerja obat dan anestesi, seperti anti biotika yang berpontensi dalam
istirahat otot, antikoagulan yang dapat meningkatkan perdarahan, antihipertensi yang
mempengaruhi anestesi yang dapat menyebabkan hipotensi, diuretika yang berpengaruh
pada ketidak seimbanganpotasium, dan lain-lain. Selain itu terdapat juga pengkajian
terhadap riwayat alergi obat atau lainnya, status nutrisi, ada atau tidaknya alat protesa
seperti gigi palsu dan sebagainya.
Pemeriksaan lainnya yang dianjurkan sebelum pelaksanaan bedah adalah
radiografi thoraks, kapasitas vital, fungsi paru, dan analisis gas darah pada pemautan
sistem respirasi, kemudian pemeriksaan elektroradiogram, darah, leukosit, eritrosit,
hematokrit, elektrolit, pemeriksaan air kencing, albumin, blood urea nitrogen (BUN),
kreatin, dan lain-lain untuk menentukan gangguan sistem renal dan pemeriksaan kadar
gula darah atau lainnya untuk mendeteksi gangguan metabolisme.

Persiapan administrasi
Keluarga pasien yang akan dilakukan prosedur operasi wajib bertanggung jawab
membaca dan mendatangani surat izin operasi.
1. Persiapan Administrasi
a. Surat ijin operasi
b. Surat rawat atau pengantar
c. Keuangan
d. Penjadwalan operasi dan kolaborasi dengan dokter
2. Proses Keperawatan dan Klien Bedah
a. Pengkajian
a) Riwayat medis.
Pengkajian ulang riwayat kesehatan klien meliputi riwayat penyakit yang pernah diderita
dan alasan utama klien mencari pengobatan.
b) Pemeriksaan fisik
Berfokus pada data yang berhubungan dengan riwayat kesehatan klien dan sistem tubuh
yang akan dipengaruhi oleh pembedahan.
c) Kesehatan emosional
Perawat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan, konsep diri, citra diri, dan sumber
koping klien untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien.
d) Riwayat pembedahan
Pengalaman bedah sebelumnya mempengaruhi respon fisik dan psikologis klien terhadap
prosedur pembedahan.
e) Riwayat obat-obatan
Obat tertentu mempunyai implikasi khusus bagi klien bedah. Obat yang diminum
sebelum pembedahan akan dihentikan saat klien selesai menjalani operasi kecuali dokter
meminta klien untuk menggunakannya kembali.
f) Alergi
Perawat harus mewaspadai adanya alergi terhadap obat yang mungkin diberikan selama
fase pembedahan.
g) Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Pada klien perokok setelah pembedahan akan mengalami kesulitan dalam membersihkan
jalan nafas dari sekresi lender dan bagi klien pengguna alcohol dapat menyebabkan klien
memerlukan dosis anastesi lebih tinggi.
h) Budaya
Klien yang berasal dari budaya yang berbeda akan menunjukkan reaksi yang berebeda
tentang pengalaman operasi .
B.     Diagnosa Keperawatan
Hal yang perlu diperhatikan dalam diagnosis keperawatan prabedah adalah :
1.      Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap kematian.
2.      Takut berhubungan dengan dampak dari tindakan pembedahan atau anestesi.
3.      Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan atau menurunnya
nutrisi.
4.      Resiko terjadinya cedera berhubungan dengan defisit pengindraan.

C.    Perencanaan Keperawatan
Tujuan :
1.      Memperlihatkan tanda-tanda tidak ada kecemasan.
2.      Memperhatikan tanda-tanda tidak ada ketakutan.
3.      Resiko infeksi dan cedera tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
1.      Untuk mengatasi adanya rasa cemas dan takut, dapat dilakukan persiapan psikologis
pada pasien melalui pendidikan kesehatanm penjelasan tentang peristiwa yang mungkin
akan terjadi, dan seterusnya.
2.      Untuk mengatasi masalah risiko infeksi atau cedera lainnya dapat dilakukan dengan
persiapan prabedah seperti diet, persiapan perut, kulit, persiapan bernafas dan latihan
batuk, persiapan latihan kaki, latihan mobilitas, dan latihan lain-lain.

D.    Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan


1.        Pemberian Pendidikan Kesehatan Prabedah
Pemberian pendidikan kesehatan yang perlu dijelaskan adalah berbagai informasi
mengenai tindakan pembedahan, diantaranya jenis pemeriksaan yang dilakukan sebelum
bedah, alat-alat khusus yang diperlukan, pengiriman kekamar bedah, ruang pemulihan,
dan kemungkinan pengobatan setelah operasi.
2.        Persiapan Diet
Pasien yang akan dibedah memerlukan persiapan khudalam hal pengaturan diet.
Pasien boleh menerima makanan biasa sehari sebelum bedah, tetapi 8 jam sebelum bedah
tidak diperbolehkan makan, sedangkan cairan tidak diperbolehkan 4 jam sebelum bedah,
sebab makanan atau cairan dalam lambung dapat menyebabkan terjadinya aspirasi.
3.        Persiapan Kulit
Persiapan ini dilakukan dengan cara membebaskan daerah yang akan dibedah dari
mikroorganisme dengan cara menyiram kulit menggunakan sabun heksaklorofin
(hexacholophene) atau sejenisnya sesuai dengan jenis pembedahan. Bila pada kulit
terdapat rambut, maka harus dicukur.

4.        Latihan Bernafas dan Latihan Batuk


Cara latihan ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pengembangan paru
sedangkan batuk dapat menjadi kontraindikasi pada bedah intrakranial, mata, telinga,
hidung, dan tenggorokan karena dapat meningkatkan tekanan, merusak jaringan, dan
melepaskan jahitan. Pernafasan yang dianjurkan adalah pernafasan diagfragma, dengan
cara seperti dibawah ini :
a.       Atur posisi tidur semi fowler, lutut dilipat untuk thorak.
b.      Tempatkan tangan di atas perut.
c.       Tarik napas perlahan-lahan melalui hidung, biarkan dada mengembang.
d.      Tahan napas selama 3 detik.
e.       Keluarkan napas dengan mulut yang dimoncongkan.
f.       Tarik napas dan keluarkan kembali, lakukan hal yang sama hingga 3 kali, setelah napas
terakhir, batukkan untuk mengeluarkan lendir.
g.      Istirahat.

5.                 Latihan Kaki


Latihan ini dapat dilakukan untuk mencegah dan latihan dampak tromboplebitis.
Latihan kaki yang dianjurkan antara lain latihan memompa otot , latihan quadrisep, dan
latihan mengencangkan glutea. Latihan otot dapat dilakukan dengan mengontraksikan
otot betis  dan paha, kemudian istirahatkan otot kaki, dan ulangi hingga 10 kali. Latihan
quadrisep dapat dilakukan dengan cara membengkokkan lutut kaki rata pada tempat tidur,
kemudian luruskan kaki pada tempat tidur, dan ulangi hingga 5 kali. Latihan
mengencangkan glutea dapat dilakukan dengan cara menekan otot pantat, kemudian coba
gerakan kaki ke tepi tempat tidur, lalu istirahat dan ualangi sebanyak 5 kali.

6.                 Latihan Mobilitas


 Latihan mobilitas dilakukan untuk mencegah komplikasi sirkulasi, mencegah dekubitus,
merangsang peristaltik serta mengurangi adanya nyeri. Untuk melakukan latihan
mobilitas, pasien harus mampu menggunakan alat ditempat tidur, seperti menggunakan
penghalang agar bisa memutar badan, melatih duduk di sisi tempat tidur atau dengan cara
menggeser pasien ke sisi tempat tiduratau dengan cara menggeser pasien ke sisi tempat
tidur, melatih duduk diawali tidur fowler, kemudian duduk tegak dengan kaki
menggantung di sisi tempat tidur.

7.                 Pencegah Cedera


Untuk mengatasi risiko terjadi cedera, tindakan yang perlu dilakukan sebelum
pelaksanaan bedah adalah :
a.       Cek identitas pasien
b.      Lepaskan perhiasan pada pasien yang dapat mengganggu, misalnya cincin, gelang dan
lain-lain.
c.       Bersihkan cat kuku untuk memudahkan penilaian sirkulasi
d.      Lepaskan lensa kontak
e.       Lepaskan protesa
f.       Alat bantu pendengaran dapat digunakan jika pasien tidak dapat mendengar
g.      Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kencing
h.      Gunakan kaos kaki antiemboli bila pasien berisiko mengalami tromboplebitis

E.     Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah prabedah secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam memahami masalah atau kemungkinan yang terjadi pada intrah dan
pasca bedah. Tidak ada kecemasan, ketakutan, serta, tidak ditemukannya risiko
komplikasi pada infeksi atau cedera lainnya.
C
PERSIAPAN PASIEN OPERASI
A. Persiapan operasi secara umum
1. Persiapan administrasi
a. Surat ijin opersi
b. Surat rawat/pengantar
c. Keuangan
d. Penjadwalan operasi dan
kolaborasi dengan dokter.
2. Persiapan pasien
a. Penerimaan pasien dan
penanganan cemas
b. Puasa
c. Pelepasan protesa
d. Pencukuran dan huknah
e. Pemasangan infus penggntian
pakaian.
PERSIAPAN PASIEN OPERASI
A. Persiapan operasi secara umum
1. Persiapan administrasi
a. Surat ijin opersi
b. Surat rawat/pengantar
c. Keuangan
d. Penjadwalan operasi dan
kolaborasi dengan dokter.
2. Persiapan pasien
a. Penerimaan pasien dan
penanganan cemas
b. Puasa
c. Pelepasan protesa
d. Pencukuran dan huknah
e. Pemasangan infus penggntian
pakaian.
PERSIAPAN PASIEN OPERASI
A. Persiapan operasi secara umum
1. Persiapan administrasi
a. Surat ijin opersi
b. Surat rawat/pengantar
c. Keuangan
d. Penjadwalan operasi dan
kolaborasi dengan dokter.
2. Persiapan pasien
a. Penerimaan pasien dan
penanganan cemas
b. Puasa
c. Pelepasan protesa
d. Pencukuran dan huknah
e. Pemasangan infus penggntian
pakaian
PERSIAPAN PASIEN OPERASI
A. Persiapan operasi secara umum
1. Persiapan administrasi
a. Surat ijin opersi
b. Surat rawat/pengantar
c. Keuangan
d. Penjadwalan operasi dan
kolaborasi dengan dokter.
2. Persiapan pasien
a. Penerimaan pasien dan
penanganan cemas
b. Puasa
c. Pelepasan protesa
d. Pencukuran dan huknah
e. Pemasangan infus penggntian
pakaian