Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Ke : 9 Hari / Tanggal : Selasa / 21 April 2020

Mikrobiologi Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium BFMN


Nama Asisten :
1. Syarifah Aini/ D24160007
2. Martina Sihombing/ D24160021
3. Indri Agustiani/ D24160037
4. Laily Rinda Ardani / D24160057

ANALISIS FUNGI ANAEROB

Neneng Elviani Hediningsih


D24170062
Kelompok 3 / G2

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
BOGOR
2020
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proses pencernaan ruminansia tidak terlepas dari peran mikrobia rumen


yang sangat membantu dalam proses pencernaan dan penyediaan zat makanan dan
energi bagi ternak ruminansia tersebut. Hewan ruminansia merupakan hewan yang
memiliki sistem pencernaan yang lebih komleks, dalam mencerna pakan yang
masuk ruminansia dibantu oleh fermentasi mikroba yang terdapat dalam lambung.
Hewan ruminansia memiliki empat ruang lambung yang terdiri dari rumen,
reticulum, omasum dan abomasum yang mana didalamnya terdapat berbagai
mikroba rumen (Harti 2015). Ternak ruminansia terdapat empat jenis mikroba yang
menguntungkan yaitu bakteri, protozoa, jamur (fungi), dan virus pada kondisi
ternak yang sehat. Dari keempat jenis mikroba tersebut, bakteri mempunyai jenis
dan populasi tertinggi. Cacahan sel pergram isi rumen mencapai 1010–1011,
sedangkan populasi tertinggi kedua yaitu protozoa yang mencapai 105-106 cacahan
sel pergram isi rumen (Ogimoto dan Imai 1980). Mikroba rumen memiliki sifat
saling ketergantungan dan berintegrasi satu sama lainnya. Interaksi mikroba
memberikan kestabilan dan adaptasi yang baik dalam rumen Mikroorganisme
saling berperan dalam beradaptasi dengan pakan yang berbeda faktor dan
pembandingnya (Sihombing et al 2014). Jamur anaerob ditemukan di saluran
pencernaan domba, sapi dan kambing, serta di banyak hewan herbivora ruminansia
dan nonruminan yang diternak maupun yang hidup secara liar. Fungi ditemukan
pada tanaman yang memiliki partikel tanaman berserat dari digesta dan sebagai
zoospora renang bebas dalam fase cairan. Kehadiran populasi jamur besar pada
hewan yang mengkonsumsi rumput bersamaan dengan produksi enzim
pendegradasi serat yang sangat aktif menyebabkan jamur anaerob memiliki peran
penting dalam asimilasi pakan berserat. Beberapa tahun terakhir, tingkat kontribusi
jamur anaerob terhadap nutrisi ruminansia juga telah ditetapkan melalui studi
populasi jamur di rumen dan faktor makanan yang memengaruhi mereka (Gordon
dan Phillips 1998). Pertumbuhan mikroorganisme membentuk koloni dapat
dianggap setiap koloni yang tumbuh berasal dari satu sel, maka dengan menghitung
koloni dapat diketahui penyebaran. Praktikum kali ini mempelajari mengenai jamur
atau fungi yang terdapat didalam cairan rumen.

Tujuan

Praktikum bertujuan untuk mempelajari fungi rumen anaerob beserta


peranannya dalam pencernaan serat kasar.
TINJAUAN PUSTAKA

Cairan Rumen

Rumen sapi merupakan organ pencernaan yang berfungsi sebagai tempat


fermentasi makanan dalam jumlah yang banyak. Isi rumen terdiri atas mikroba
rumen, enzim-enzim, zat-zat makanan hasil perombaan mikroba rumen serta
vitamin dan mineral yang larut (Kamra 2005). Dalam rangka memanfatan cairan
rumen ada hal-hal yang perlu diketahui seperti kondisi optimum aktivitas enzim
ketika masih didalam rumen akan berbeda dengan kondisi optimum aktivitas enzim
bila sudah berada diluar tubuh sapi. Suhu didalam rumen dalam keadaan normal
rata-rata 38.54oC dengan pH berkisar antara 5,2-6,7 (Triarjo 2008). Mikroba di
dalam rumen sangat penting dalam menentukan produksi ternak ruminansia, karena
memungkinkan ternak ruminansia memanfaatkan pakan serat, pakan limbah yang
tidak bermanfaat bagi manusia menjadi bahan makanan yang bermutu tinggi.
Amonia adalah sumber nitrogen utama dan sangat penting untuk sintesis protein
mikroba rumen. Amonia hasil perombakan protein pakan di dalam rumen akan
digunakan sebagai sumber nitrogen utama untuk sintesis protein mikroba.
Konsentrasi N-NH3 dalam rumen merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan.
Kisaran konsentrasi NH3 yang optimal untuk sintesis protein mikroba rumen
berkisar 6 - 21 mMol (Suryani et al 2014).

Lactophenol Cotton Blue

Lacto-phenolcottonblue (LPCB) adalah pewarna yang secara rutin


digunakan di laboratorium mikrobiologi untuk menyiapkan tunggak basah kultur
jamur untuk pemeriksaan mikroskopis. Noda belum pernah digunakan sebelumnya
dalam persiapan tinja yang basah. Parija dan Prabakhar (1994) melaporkan untuk
pertama kalinya evaluasi dan penggunaan bahan pewarnaan sementara ini untuk
persiapan awal untuk persiapan tinja untuk demonstrasi parasit. Dudukan basah
LPCB disiapkan dengan mencampur setetes noda LPCB dengan sedikit volume
tinja pada kaca mikroskop dan menempatkan penutup kaca pada campuran. LPCB
mengandung 20 g kristal fenol, 20 ml asam laktat, 40 ml gliserol, 0,05 g kapas noda
biru, dan 20 ml air suling. Pewarnaan LPCB tampaknya menawarkan banyak
keunggulan dibandingkan tunggangan salin atau iodin basah. Satu masalah dengan
saline wet mounts adalah bahwa leukosit polimorfonuklear sering keliru untuk kista
E. histolytica, sedangkan makrofag (monosit) sering keliru untuk E. histolytica
trophozoites. Namun, pada LPCB wet mounts, karena sebagian besar leukosit
polimorfonuklear dilisiskan, seperti yang diamati dalam penelitian ini, trofozoit
berwarna biru dapat dengan mudah dideteksi dan diidentifikasi (Parija dan
Prabakhar 1994).
Fungi Rumen

Jamur anaerob pertama kali diisolasi dari ruminansia pada tahun 1970-an
dan setidaknya 50 spesies hewan herbivora yang berbeda menjadi inang jamur
anaerob di saluran pencernaan mereka. Saat ini, sembilan genera jamur anaerob
yang dibudidayakan telah diidentifikasi dengan banyak taksa tak berbudaya lainnya
yang diketahui dan semuanya termasuk dalam urutan Neocallimastigales dalam
filum Neocallimastigomycota. Sebanyak 29 spesies jamur anaerob yang telah
diidentifikasi menggunakan teknik yang tergantung pada kultur. Jamur rumen
anaerob memainkan peran penting dalam degradasi serat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa komunitas jamur anaerobik yang terpengaruh oleh spesies dan
asosiasi dinamis dari mereka adalah spesifik. Penelitian pertama ini mengeksplorasi
jamur rerata aerobik ineratif, yang dapat berperan sebagai pembentuk adonan yang
secara nyata mengidentifikasi degradasi jamur dalam jamur, tergantung pada teknik
budidaya tergantung pada budaya (Guo et al 2020).

MATERI DAN METODE

Materi

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung sentrifuse
atau polyethylene, rumput, NaCl 0.9%, formaldehyde, Lactophenol cotton blue,
mikroskop, kaca objek, tutup kaca objek dan kantong nilon.

Metode

Siapkan tabung polyethilen 10 ml, diberi lubang dengan diameter 1 mm,


kemudian siapkan tutup karet dan kantong nilon. Rumput yang telah disiapkan
dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam tabung polyethylene dan
ditutup rapat dengan penutup karet. Selanjutnya tabung berisi rumput dimasukkan
ke dalam rumen sapi fistula, diamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, kantong nilon
di dalam rumen dikeluarkan dan rumput didalamnya diambil dengan bantuan
penjepit. Cuci dengan cara direndam dan digoyangkan dalam larutan NaCl 0.9%,
kemudian dimasukkan ke dalam formaldehid untuk disimpan. Setelah itu, rumput
yang disimpan didalam formaldehid tadi diletakkan diatas kaca objek yang telah
dibersihkan dengan alcohol. Setelah itu kaca objek ditetesi lactophenol cottonblue
sampai tergenang. Setelah itu bilas dengan aquadest dan tutup dengan penutup kaca.
Kemudian kaca objek diamat dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali.
Populasi sporangium dihitung persatuan luas daun atau batang hijauan dalam kaca
objek yang diamati.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Jamur anaerob ditemukan di saluran pencernaan domba, sapi dan kambing,


serta di banyak hewan herbivora ruminansia dan nonruminan yang diternak maupun
yang hidup secara liar. Fungi ditemukan pada tanaman yang memiliki partikel
tanaman berserat dari digesta dan sebagai zoospora renang bebas dalam fase cairan.
Berikut merupakan gambar jamur yang dilihat pada mikroskop.

Gambar 1 fungi rumen (Gordon dan Phillips 1998)

Pembahasan

Transformasi metabolik dalam rumen dilakukan oleh bakteri, protozoa, dan


fungi sebagai penghuni ekosistem ini. Seiring perkembangan dari in vivo dan in
vitro studi meninggalkan sedikit keraguan bahwa jamur anaerob memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap metabolisme rumen, terutama dalam
pencernaan dan fermentasi selanjutnya dari bahan struktural tanaman. Fungi
anaerob mewakili kelompok baru organisme yang mendiami ekosistem rumen dan
memiliki siklus hidup bergantian antara bentuk flagellated motil (zoospore) dan
bentuk reproduksi vegetatif non-motil (thallus). Studi in vivo menunjukkan
kolonisasi luas bahan tanaman yang tersuspensi dalam rumen yang
mengindikasikan jamur memiliki peran dalam pencernaan serat (Douglas 1987).
Penelitian Purbowati et al (2014) melaporkan populasi jamur cairan rumen
sapi Jawa sebanyak 9.3 x 104 cfu/g lebih tinggi dari pada sapi PO yaitu 1.9 x 103
cfu/g. Menurut Arora (1989), konsentrasi bakteri pada sapi dapat mencapai 21 x
109/ml cairan rumen. Tingginya populasi jamur cairan rumen pada sapi Jawa
dibandingkan sapi PO disebabkan mikrobia ini selalu banyak terdapat dalam rumen
ternak ruminansia yang diberi ransum basal dengan kandungan serat kasar tinggi
seperti jerami. Hasil penelitian Lestari et al (2009) melaporkan bahwa sebagian
besar peternak sapi Jawa di Kelompok Tani Ternak (KTT) Lembu Lestari dan KTT
Cikoneng Sejahtera, Kecamatan Bandarharjo Kabupaten Brebes, memelihara sapi
di kandang (97%) dan pakan yang diberikan berupa jerami jagung, sedangkan
sisanya (3%) memberikan pakan berupa jerami padi atau rumput lapangan dan
campuran keduanya. Jamur ini mempunyai peranan penting dalam mencerna serat
kasar (Van Soest 1994), sehingga dapat meningkatkan konsumsi pakan.
Kemampuan konsumsi bahan kering (BK) sapi Jawa pada pemeliharaan in situ
cukup tinggi yakni 3,57-4,02% dari bobot badan (Lestari et al 2009). Kemampuan
konsumsi BK pakan pada sapi Jawa tersebut hampir sama dengan sapi Madura yang
dilaporkan Umar et al (2008) yaitu 3,61% bobot badan, namun lebih tinggi dari sapi
PO yang hanya mampu mengonsumsi pakan sebesar 3,03% bobot badan.
Jamur anaerob, meskipun persentase rendah (10-20%) dari mikroba ruminal
berdasarkan kelimpahan transkrip Rrna, namun memainkan peran penting dalam
degradasi serat, terutama karena efisiensi dan produksi sejumlah besar enzim
pengurai polisakarida untuk degradasi bahan tanaman. Selain itu, jamur rumen
memiliki aktivitas amilolitik dan proteolitik. Sistem rhizoidal mereka secara fisik
dapat menembus dinding sel tanaman dan mengeluarkan berbagai macam enzim
penurun polisakarida ekstraseluler dan ester asam fenolik untuk mendegradasi
lignoselulosa, akibatnya, melepaskan jumlah yang besar dari H2 yang harus dicoba
untuk dicoba oleh masyarakat. Dengan demikian, aktivitas jamur anaerob dapat
memiliki kemampuan untuk membentuk komposisi komunitas bakteri dan archaeal
dalam rumen dewasa, sebagai akibatnya, mempengaruhi efisiensi pemanfaatan dan
methanogenesis pemanfaatan serat (Guo et al 2020).

SIMPULAN

Populasi jamur besar pada hewan yang mengkonsumsi rumput bersamaan


dengan produksi enzim pendegradasi serat yang sangat aktif menyebabkan jamur
anaerob memiliki peran penting dalam asimilasi pakan berserat.

DAFTAR PUSTAKA

Arora S. P, 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi 1. Yogyakarta (ID)


: Gajah Mada University Press
Douglas OM. 1987. The rumen anaerobic fungi. FEMS Microbiology review. 46:
401-408
Gordon LRG, Phillips MW. 1998. The role of anaerobic gut fungi in ruminants.
Nutrition Research Reviews. 11: 133-168
Guo W, wang W, Bi S, Long R, Ullah F, Shafiq M, Zhou M, Zhang Y. 2020.
Characterization of Anaerobic Rumen Fungal Community Composition in
Yak, Tibetan Sheep and Small Tail Han Sheep Grazing on the Qinghai-
Tibetan Plateau. Jurnal MDPI. 10(144): 1-13
Harti S. 2015. Mikrobiologi Kesehatan. Yogyakarta(ID): CV. Andi Offset
Kamra DN. 2005. Special section microbial diversity:Rumen microbial ecosystem.
Current Sci 89(10):124-135
Lestari CMS, Soedarsono, Purnomoadi A, Pangestu E. 2009. Status nutrisi sapi
jawa yang dipelihara petani peternak Kecamatan Bandarharjo Kabupaten
Brebes (Studi Pendahuluan). Prosiding Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner 2009. Bogor(ID): Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan
Parija SC, Prabhakar PK. 1995. Evaluation of Lacto-Phenol Cotton Blue for Wet
Mount Preparation of Feces. Journal Of Clinical Microbiology. 33(4):
1019-1021
Purbowati E, Rianto E, Dilaga WS, Lestari CMS, Adiwinarti R. 2014. Karakteristik
cairan rumen, jenis, dan jumlah mikrobia dalam rumen sapi jawa dan
peranakan ongole. Buletin Peternakan. Vol.38(1): 21-26
Sihombing JE, Muslim G, Fauziah A, Abrar A, Fariani A. 2014. Aktivitas Proporsi
Berbagai Cairan Rumen dalam Mengatasi Tannin dengan Tehnik In Vitro.
J. Peternakan Sriwijaya. 3(1): 25-36
Suryani NN, Budiasa IKM, Astawa IPA. 2014. Fermentasi Rumen Dan Sintesis
Protein Mikroba Kambing Peranakan Ettawa Yang Diberi Pakan Dengan
Komposisi Hijauan Beragam dan Level Konsentrat Berbeda. J. Majalah
Ilmiah Peternakan. 17(2): 56-60.
Triarjo, Rianto S, Muchsin A, Muljono E. 2016. Analisis kerusakan centrifuge
(xd301) pada proses pemisahan uranil nitrat seksi 300 instalasi pcp. Jurnal
Badan Tenaga Nuklir Nasional. 16 (1): 13-20
Umar M, Arifin M, Purnomoadi A. 2011. Ruminal condition between Madura
cattle and Ongole Crossbred cattle raised under intensive feeding. J. Indon.
Trop. Anim. Agric. 36: 213-218
Van Soest PJ. 1994. Nutrtional Ecology of the Ruminant.. 2nd Ed., Ithaca:
Comstock Publishing Associates A division of Cornell University Press