Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MULTIKULTURAL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya. Negara Indonesia memiliki tiga kekayaan
yaitu kekayaan sumber daya alam, kekayaan budaya, dan jumlah penduduk nomor 4 terbesar di
dunia karna banyak nya penduduk di indonesia maka masyarakat juga memiliki banyak sekali
suku ras dan kebudayaan yang berbeda beda . Meskipun negara Indonesia hanya memiliki 1,3%
dari luas daratan akan tetapi memiliki 10% dari semua pepohonan yang berbunga, 12% dari
mamalia, 16% dari reptil dan amphibi, 7% dari semua burung dan lebih dari 25% ikan laut maupun
ikan air tawar.

Keberagaman yang sangat kompleks tersebut menjadikan negara Indonesia beragam budaya
yang multikultural. Multikultural yang ada di Indonesia seha- rusnya mengesampingkan SARA
yang seiring suatu golongan menganggap golongan dia yang paling baik. Hal tersebutlah yang
seharusnya dihilangkan, anggapan bahwa tidak ada suku atau budaya yang lebih baik dari budaya
mereka. Rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama harus ditingkatkan agar
perselisihan antar suku atau antar golongan tidak terjadi hanya ka- rena perbedaan yang beragam
jenis. Jika telah tumbuh rasa saling hormat dan menghargai antar sesama akan tercipta kerukunan
antar sesama dalam kehidupan sehari-hari semakin mudah dalam ke- hidupan masyarakat yang
beragam atau multikultural. Keberagaman juga mem- berikan dampak bagi bangsa Indonesia.
Masyarakat yang beragam tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pengel- olaannya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian, konsep dan ciri multikulturalisme ?
1.3. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa pengertian, konsep dan ciri multikulturalisme

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Multikulturalisme

Berasal dari kata multi (plural) dan kultural (tentang budaya), multi-kulturalisme
mengisyaratkan pengakuan terhadap realitas keragaman kultural, yang berarti mencakup baik
keberagaman tradisional seperti keberagaman suku, ras, ataupun agama, maupun keberagaman
bentuk-bentuk kehidupan (subkultur) yang terus bermunculan di setiap tahap sejarah kehidupan
masyarakat.
Istilah multikulturalisme secara umum diterima secara positif oleh masyarakat Indonesia.
Ini tentu ada kaitannya dengan realitas masyarakat Indonesia yang majemuk. Kemajemukan
masyarakat Indonesia terlihat dari beberapa fakta berikut: tersebar dalam kepulauan yang terdiri
atas 13.667 pulau (meskipun tidak seluruhnya berpenghuni), terbagi ke dalam 358 suku bangsa
dan 200 subsuku bangsa, memeluk beragam agama dan kepercayaan yang menurut statistik:
Islam 88,1%, Kristen dan Katolik 7,89%, Hindu 2,5%, Budha 1% dan yang lain 1% (dengan
catatan ada pula penduduk yang menganut keyakinan yang tidak termasuk agama resmi
pemerintah, namun di kartu tanda penduduk menyebut diri sebagai pemeluk agama resmi
pemerintah), dan riwayat kultural percampuran berbagai macam pengaruh budaya, mulai dari
kultur Nusantara asli, Hindu, Islam, Kristen, dan juga Barat modern.
Yang umumnya dikenal oleh masyarakat awam adalah multikultural-isme dalam bentuk
deskriptif, yakni menggambarkan realitas multikultural di tengah masyarakat (Heywood, 2007).
Parekh (1997) membedakan lima model multikulturalisme:
1. Multikulturalisme isolasionis, yaitu masyarakat yang berbagai kelompok kulturalnya
menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi minimal satu sama lain.
2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang
membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum
minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan
ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum
minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan mereka. Begitupun
sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini
2
diterapkan di beberapa negara Eropa.
3. Multikulturalisme otonomis, yaitu masyarakat plural yang kelompok-kelompok kultural
utamanya berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan meng-
inginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima.
Perhatian pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang
memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan
dan berusaha menciptakan suatu masyarakat yang semua kelompoknya bisa eksis sebagai
mitra sejajar.
4. Multikulturalisme kritikal/interaktif, yakni masyarakat plural yang kelompok-kelompok
kulturalnya tidak terlalu terfokus (concerned) dengan kehidupan kultural otonom, tetapi lebih
membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif
khas mereka.
5. Multikulturalisme kosmopolitan, yaitu masyarakat plural yang berusaha menghapus batas-
batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat tempat setiap individu tidak
lagi terikat kepada budaya tertentu, sebaliknya secara bebas terlibat dalam percobaan-
percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing
(Azra, 2007).

Selain multikulturalisme deskriptif, sebetulnya ada lagi multikulturalisme normatif, yakni


suatu sokongan positif, bahkan perayaan atas keragaman komunal, yang secara tipikal
didasarkan entah atas hak dari kelompok-kelompok yang berbeda untuk dihargai dan diakui, atau
atas keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh lewat tatanan masyarakat yang lebih luas
keragaman moral dan kulturalnya (Heywood, 2007: 313). Multikulturalisme normatif melibatkan
kebijakan sadar, terarah, dan terencana dari pemerintah dan elemen masyarakat untuk
mewujudkan multikulturalisme.
Menurut Parekh (2001), ada tiga komponen multikulturalisme, yakni kebudayaan,
pluralitas kebudayaan, dan cara tertentu untuk merespons pluralitas itu. Multikulturalisme
bukanlah doktrin politik pragmatik, melainkan cara pandang kehidupan manusia. Karena hampir
semua negara di dunia tersusun dari aneka ragam kebudayaan—artinya perbedaan menjadi
asasnya—dan gerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi semakin intensif,
maka multikulturalisme itu harus diterjemahkan ke dalam kebijakan multikultural sebagai politik
3
pengelolaan perbedaan kebudayaan warga negara.
Setidaknya ada tiga model kebijakan multikultural negara untuk menghadapi realitas
pluralitas kebudayaan.
Pertama, model yang mengedepankan nasionalitas. Nasionalitas adalah sosok baru yang
dibangun bersama tanpa memperhatikan aneka ragam suku bangsa, agama, dan bahasa, dan
nasionalitas bekerja sebagai perekat integrasi. Dalam kebijakan ini setiap orang— bukan kolektif
—berhak untuk dilindungi negara sebagai warga negara. Model ini dipandang sebagai penghancur
akar kebudayaan etnik yang menjadi dasar pembentukan negara dan menjadikannya sebagai masa
lampau saja. Model kebijakan multikultural ini dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekuasaan
otoritarian karena kekuasaan untuk menentukan unsur-unsur integrasi nasional berada di tangan
suatu kelompok elite tertentu.
Kedua, model nasionalitas-etnik yang berdasarkan kesadaran kolektif etnik yang kuat yang
landasannya adalah hubungan darah dan kekerabatan dengan para pendiri nasional (founders).
Selain itu, kesatuan bahasa juga merupakan ciri nasional-etnik ini. Model ini dianggap sebagai
model tertutup karena orang luar yang tidak memiliki sangkut paut hubungan darah dengan etnis
pendiri nasional akan tersingkir dan diperlakukan sebagai orang asing.
Ketiga, model multikultural-etnik yang mengakui eksistensi dan hak-hak warga etnik
secara kolektif. Dalam model ini, keanekaragaman menjadi realitas yang harus diakui dan
diakomodasi negara, dan identitas dan asal-usul warga negara diperhatikan. Isu-isu yang muncul
karena penerapan kebijakan ini tidak hanya keanekaragaman kolektif dan etnik, tetapi juga isu
mayoritas-minoritas, dominan-tidak dominan. Persoalannya menjadi lebih kompleks lagi karena
ternyata mayoritas tidak selalu berarti dominan, karena berbagai kasus menunjukkan bahwa
minoritas justru dominan dalam ekonomi. Jika kekuasaan negara lemah karena prioritas
kekuasaan dilimpahkan ke aneka ragam kolektif sebagai konsekuensi pengakuan negara, negara
mungkin diramaikan konflik-konflik internal berkepanjangan yang pada gilirannya akan
melemahkan negara itu sendiri.

4
5
2.2 Konsep multikulturalisme dan persebarannya

Walaupun multikulturalisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa Indonesia untuk
mendesain kebudayaan bangsa Indonesia, bagi orang Indonesia masa kini multikulturalisme
adalah sebuah konsep asing. Saya kira perlu ada lebih banyak tulisan oleh para ahli yang
kompeten mengenai multikulturalisme di media massa daripada yang sudah ada selama ini.
Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara
sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena
multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan
mengenai multikulturalisme akan—harus mau tidak mau—mengulas pula berbagai permasalahan
yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum,
kesempata kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-
prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.

Kalau kita melihat apa yang terjadi di Amerika Serikat dan di negara-negara Eropah
Barat sampai dengan Perang Dunia ke-2, masyarakat-masyarakat tersebut hanya mengenal
adanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan kulit putih yang Kristen. Golongan-golongan lainnya
yang ada dalam masyarakat-masyarakat tersebut dikategorikan sebagai minoritas dengan segala
hakhak mereka yang dibatasi atau dikebiri. Di Amerika Serikat, berbagai gejolak untuk
persamaan hak bagi golongan minoritas dan kulit hitam serta kulit berwarna mulai muncul di
akhir tahun 1950-an. Puncaknya adalah pada tahun 1960-an dengan dilarangnya perlakuan
diskriminasi oleh orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan berwarna di tempat-tempat
umum, perjuangan hak-hak sipil, dan dilanjutkannya perjuangan hak-hak sipil ini secara lebih
efektif melalui berbagai kegiatan affirmative action. Kegiatan ini membantu mereka yang
terpuruk dan minoritas, untuk dapat mengejar ketinggalannya dari golongan kulit putih yang
dominan di berbagai posisi dan jabatan dalam beragam bidang pekerjaan dan usaha (lihat
Suparlan 1999).

Di tahun 1970-an, upaya-upaya untuk mencapai kesederajatan dalam perbedaan


mengalami berbagai hambatan, karena corak kebudayaan kulit putih yang Protestan dan dominan
itu berbeda dari corak kebudayaan orang kulit hitam, orang Indian, atau pribumi Amerika, dan
berbagai kebudayaan bangsa dan sukubangsa yang tergolong minoritas sebagaimana
dikemukakan oleh Nieto (1992), dan tulisan-tulisan yang disunting oleh Reed (1997). Yang

6
dilakukan oleh para cendekiawan dan pejabat pemerintah yang pro demokrasi dan HAM, dan
yang anti rasisme dan

diskriminasi ialah menyebarluaskan konsep multikulturalisme dalam bentuk pengajaran dan


pendidikan di sekolah-sekolah di tahun 1970-an. Bahkan, dewasa ini anak-anak Cina, Meksiko,
dan berbagai golongan sukubangsa lainnya dapat belajar di sekolah dengan menggunakan bahasa
ibunya sampai tahap-tahap tertentu (Nieto 1992). Jika Glazer (1997) mengatakan bahwa ‘…we
are all multiculturalists now,’ dia menyatakan apa yang sebenarnya terjadi pada masa kini di
Amerika Serikat. Gejala tersebut adalah produk dari serangkaian proses-proses pendidikan
multikulturalisme yang dilakukan sejak tahun 1970-an.

Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana, melainkan sebuah ideologi yang harus
diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan
kesejahteraan hidup masyarakatnya. Multikulturalisme bukan sebuah ideologi yang berdiri
sendiri terpisah dari ideologi-ideologi lannya. Multikulturalisme membutuhkan seperangkat
konsepkonsep yang merupakan bangunan konsep-konsep untuk dijadikan acuan guna memahami
dan mengembangluaskannya dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk memahami
multikulturalisme, diperlukan landasan pengetahuan berupa bangunan konsep-konsep yang
relevan dengan, dan mendukung keberadaan, serta berfungsinya multikulturalisme dalam
kehidupan manusia. Bangunan konsep-konsep ini harus dikomunikasikan di antara para ahli
yang mempunyai perhatian ilmiah yang sama tentang multikultutralisme, sehingga terdapat
kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkan ideologi ini. Berbagai
konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah demokrasi, keadilan dan
hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, sukubangsa,
kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya,
domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan
(Fay 1996; Rex 1985; Suparlan 2002a).

2.3 Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural


Pernahkah kamu mendengar istilah multikultural? Istilah multicultural akhir-akhir ini
mulai diperbincangkan di berbagai kalangan berkenaan dengan merebaknya konflik etnis di
negara ini. Multikultural yang dimiliki Indonesia dianggap faktor utama terjadinya konflik.

7
Konflik berbau sara yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan yang terjadi di Aceh, Ambon,
Papua, Kupang, Maluku dan berbagai daerah lainnya adalah realitas yang dapat mengancam
integrasi bangsa di satu sisi dan membutuhkan solusi konkret dalam penyelesaiannya di sisi lain.
Hingga muncullah konsep multikulturalisme. Multikulturalisme dijadikan sebagai acuan utama
terbentuknya masyarakat multikultural yang damai. Lantas, apa itu multikultural dan
multikulturalisme?

1. Masyarakat Multikultural
Menurut C.W. Watson (1998) dalam bukunya Multiculturalism, membicarakan
masyarakat multikultural adalah membicarakan tentang masyarakat negara, bangsa, daerah,
bahkan lokasi geografis terbatas seperti kota atau sekolah, yang terdiri atas orang-orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan. Pada hakikatnya masyarakat
multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing
mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Dalam hal ini masyarakat multikultural
tidak bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial
antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup
berdampingan secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat
pada tiap etnisitas sosial dan politiknya. Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat multikultural
sangat mungkin terjadi konflik vertikal dan horizontal yang dapat menghancurkan masyarakat
tersebut. Sebagai contoh, pertikaian yang melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga
agama terjadi di berbagai negara mulai dari Yugoslavia, Cekoslavia, Zaire hingga Rwanda, dari
bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari Sri Lanka, India hingga Indonesia.
Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Hal ini terbukti di Indonesia memiliki
banyak suku bangsa yang masing-masing mempunyai struktur budaya yang berbedabeda.
Perbedaan ini dapat dilihat dari perbedaan bahasa, adat istiadat, religi, tipe kesenian, dan lain-
lain. Pada dasarnya suatu masyarakat dikatakan multicultural jika dalam masyarakat tersebut
memiliki keanekaragaman dan perbedaan.
Keragaman dan perbedaan yang dimaksud antara lain, keragaman struktur budaya yang berakar
pada perbedaan standar nilai yang berbeda-beda, keragaman ras, suku, dan agama, keragaman
ciri-ciri fisik seperti warna kulit, rambut, raut muka, postur tubuh, dan lain-lain, serta keragaman
kelompok sosial dalam masyarakat.

8
Sikap yang Harus Dihindari Untuk membangun masyarakat multikultural yang rukun dan
bersatu, ada beberapa nilai yang harus dihindari, yaitu:
a) Primordialisme artinya perasaan kesukuan yang berlebihan. Menganggap suku bangsanya
sendiri yang paling unggul, maju, dan baik. Sikap ini tidak baik untuk dikembangkan di
masyarakat yang multicultural seperti Indonesia. Apabila sikap ini ada dalam diri warga
suatu bangsa, maka kecil kemungkinan mereka untuk bisa menerima keberadaan suku
bangsa yang lain.
b) Etnosentrisme artinya sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan
kebudayaannya sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan
masyarakat dan kebudayaanyang lain. Indonesia bisa maju dengan bekal kebersamaan,
sebab tanpa itu yang muncul adalah disintegrasi sosial. Apabila sikap dan pandangan ini
dibiarkan maka akan memunculkan provinsialisme yaitu paham atau gerakan yang
bersifat kedaerahan dan eksklusivisme yaitu paham yang mempunyai kecenderungan
untuk memisahkan diri dari masyarakat.
c) Diskriminatif adalah sikap yang membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama warga
negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku bangsa, ekonomi, agama, dan lain-lain.
Sikap ini sangat berbahaya untuk dikembangkan karena bisa memicu munculnya antipati
terhadap sesame warga negara.
d) Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang
subjektif dan tidak tepat. Indonesia memang memiliki keragaman suku bangsa dan
masing-masing suku bangsa memiliki cirri khas. Tidak tepat apabila perbedaan itu kita
besar-besarkan hingga membentuk sebuah kebencian.

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan


dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam
multikulturalisme, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat Indonesia) dilihat sebagai
sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti
sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masing-masing suku bangsa
yang sangat jelas dan belum tercampur oleh warna budaya lain membentuk masyarakat yang
lebih besar.Ide multikulturalisme menurut Taylor merupakan suatu gagasan untuk mengatur

9
keberagaman dengan prinsip-prinsip dasar pengakuan akan keberagaman itu sendiri (politics of
recognition).

2.4 Faktor-FaktorPenyebabTimbulnya Masyarakat Multikultural


Pada dasarnya semua bangsa di dunia bersifat multikultural. Adanya masyarakat
multikultural memberikan nilai tambah bagi bangsa tersebut. Keragaman ras, etnis, suku,
ataupun agama menjadi karakteristik tersendiri, sebagaimana bangsa Indonesia yang unik dan
rumit karena kemajemukan suku bangsa, agama, bangsa, maupun ras. Masyarakat multikultural
Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada ideologi multikulturalisme atau
Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural, yang melandasi corak struktur masyarakat Indonesia
pada tingkat nasional dan lokal. Berkaca dari masyarakat multikultural bangsa Indonesia, kita
akan mempelajari penyebab terbentuknya masyarakatmultikultural.Cobalah perhatikan peta
Indonesia! Setelah melihatnya apa yang ada dalam benakmu? Terlihat Indonesia, sebagai
sebuah negara yang kaya akan khazanah budaya. Beribu-ribu pulau berjajar dari ujung
barat sampai ujung timur, mulai dari Sumatra hingga Papua. Setiap pulau memiliki suku bangsa,
etnis, agama, dan ras masing-masing. Keadaan inilah yang menjadikan masyarakat Indonesia
menjadi masyarakat multikultural. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bisa jadi merupakan sebuah
”monumen” betapa bangsa yang mendiami wilayah dari Sabang sampai Merauke ini memang
merupakan bangsa yang majemuk, plural, dan beragam. Majemuk artinya terdiri atas beberapa
bagian yang merupakan kesatuan, plural artinya lebih dari satu, sedangkan beragam artinya
berwarna-warni. Bisa kamu bayangkan bagaimana wujud bangsa Indonesia. Mungkin dapat
diibaratkan sebagai sebuah pelangi. Pelangi itu akan kelihatan indah apabila beragam unsur
warnanya bisa bersatu begitu pula dengan bangsa kita. Indonesia akan menjadi bangsa yang
damai dan sejahtera apabila suku bangsa dan semua unsure kebudayaannya mau bertenggang
rasa membentuk satu kesatuan. Kita mencita-citakan keanekaragaman suku bangsa dan
perbedaan kebudayaan bukan menjadi penghambat tetapi perekat tercapainyapersatuan
Indonesia.
Namun, kenyataan membuktikan bahwa tidak selamanya keanekaragaman budaya dan
masyarakat itu bisa menjadikannya pelangi. Keanekaragaman budaya dan masyarakat dianggap

10
pendorong utama munculnya persoalan-persoalan baru bagi bangsa Indonesia. Contoh
keanekaragaman yang berpotensi menimbulkan permasalahan baru sebagai berikut.

1. Keanekaragaman Suku Bangsa


Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan budaya yang luar
biasa banyaknya. Yang menjadi sebab adalah keberadaan ratusan suku bangsa yang hidupdan
berkembang di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Kita bisa membayangkan apa jadinya
apabila masing-masing suku bangsa itu mempunyai karakter, adat istiadat, bahasa, kebiasaan,
dan lain-lain. Kompleksitas nilai, norma, dan kebiasaan itu bagi warga suku bangsa yang
bersangkutan mungkin tidak menjadi masalah. Permasalahan baru muncul ketika suku bangsa itu
harus berinteraksi sosial dengan suku bangsa yang lain.

2. Keanekaragaman Agama

Letak kepulauan Nusantara pada posisi silang di antara dua samudra dan dua benua, jelas
mempunyai pengaruh yang penting bagi munculnya keanekaragaman masyarakat dan budaya.
Dengan didukung oleh potensi sumber alam yang melimpah, maka Indonesia menjadi sasaran
pelayaran dan perdagangan dunia. Apalagi di dalamnya telah terbentuk jaringan perdagangan
dan pelayaran antarpulau. Dampak interaksi dengan bangsa-bangsa lain itu adalah masuknya
beragam bentuk pengaruh agama dan kebudayaan. Selain melakukan aktivitas perdagangan, para
saudagar Islam, Hindu, Buddha, juga membawa dan menyebarkan ajaran agamanya. Apalagi
setelah bangsa Barat juga masuk dan terlibat di dalamnya. Agama-agama besar pun muncul dan
berkembang di Indonesia, dengan jumlah penganut yang berbeda-beda. Kerukunan antarumat
beragama menjadi idam-idaman hampir semua orang, karena tidak satu agama pun yang
mengajarkan permusuhan.

3. Keanekaragaman Ras

Salah satu dampak terbukanya letak geografis Indonesia, banyak bangsa luar yang bisa
masuk dan berinteraksi dengan bangsa Indonesia. Misalnya, keturunan Arab, India, Persia, Cina,
Hadramaut, dan lain-lain. Dengan sejarah, kita bisa merunut bagaimana asal usulnya.Bangsa-
bangsa asing itu tidak saja hidup dan tinggal di Indonesia, tetapi juga mampu berkembang
secara turun-temurun membentuk golongan sosial dalam masyarakat kita. Mereka saling
berinteraksi dengan penduduk pribumi dari waktu ke waktu. Bahkan ada di antaranya yang

11
mampu mendominasi kehidupan perekonomian nasional. Misalnya, keturunan Cina. Dari
keterangan-keterangan tersebut terlihat bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai kelompok
etnis, agama, budaya yang berpotensi menimbulkan konflik sosial.
Berkaitan dengan perbedaan identitas dan konflik sosial muncul tiga kelompok sudut pandang
yang berkembang, yaitu:
a) Pandangan Primordialisme
Kelompok ini menganggap perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika seperti suku, ras,
agama merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan kepentingan etnis maupun budaya.
b) Pandangan Kaum Instrumentalisme
Menurut mereka, suku, agama, dan identitas yang lain dianggap sebagai alat yang
digunakan individu atau kelompok untuk mengejar tujuan yang lebih besar baik dalam bentuk
materiil maupun nonmateriil.
c) Pandangan Kaum Konstruktivisme
Kelompok ini beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku, sebagaimana
yang dibayangkan kaum primordialis. Etnisitas bagi kelompok ini dapat diolah hingga
membentuk jaringan relasi pergaulan sosial. Oleh karena itu, etnisitas merupakan sumber
kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Bagi
mereka persamaan adalah anugerah dan perbedaan adalah berkah.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih
elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam suatu satu
kesatuan politik.
Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri dari
berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing. Dalam teorinya semakin banyak
perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi
dan proses peng-integrasianya juga susah. Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang
sudah saya jelaskan di atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi
pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara
seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.

3.2 Saran
Kami berharap masyarakat inndonesia bisa menjaga toleransi pada setiap manusia.
Mereka harus menyadari bahwa indnesia merupakan negara multikultural,indonesia memiliki
berbagai macam suku,ras,etnis dan agama. Kami berharap masyarakat dapat hidup
berdampingan dengan baik dan tidak adanya konflik antar masyarakat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Rustam Ibrahim : jurnal : PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Pengertian, Prinsip, dan


Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam : 2013

Parsudi suparlan : jurnal : menuju masyarakat indonesia yang multicultural

Buku sosiologi: mayarakat multikultural: Dra.kun maryati dan juju suryawati, S.Pd. : 2001

14

Anda mungkin juga menyukai