Anda di halaman 1dari 15

Judul Tugas

RINGKASAN I
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)

UU No. 15 Tahun 2014 Tentang tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) memuat
ketentuan terkait sistem manajemen kepegawaian secara keseluruhan, mulai dari
sistem perencanaan, pengadaan, pengembangan karier/promosi, penggajian, serta
sistem dan batas usia pensiun.

Selain itu dijelaskan juga hal-hal terkait sistem merit, yaitu sistem yang
mengedepankan prinsip profesionalisme/kompetensi, kualifikasi, kinerja,
transparansi, obyektivitas, serta bebas dari intervensi politik dan KKN. Sasaran
utama dari UU ASN adalah mewujudkan birokrasi yang profesional, kompeten,
berintegritas, memberikan pelayanan terbaik pada rakyat.

Pokok-pokok dari UU ASN adalah sebagai berikut:

I. Jenis, Status, dan Kedudukan Pegawai ASN

Jenis, Status, dan Kedudukan Pegawai ASN terdiri atas:

1. Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu Pegawai ASN yang diangkat sebagai
pegawai tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dan memiliki nomor
induk pegawai secara nasional; dan

2. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yaitu Pegawai ASN


yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian (PPK) sesuai dengan kebutuhan Instansi Pemerintah
dan ketentuan UU ASN.

II. Jabatan ASN

Jabatan ASN terdiri atas:

1. Jabatan Administrasi;
2. Jabatan Fungsional; dan
3. Jabatan Pimpinan Tinggi.

III. Hak dan Kewajiban

Dalam UU ASN, PNS berhak memperoleh:

1. Gaji, tunjangan, dan fasilitas;


2. Cuti;
3. Jaminan pensiun dan jaminan hari tua;
4. Perlindungan; dan
5. Pengembangan kompetensi.

Adapun PPPK berhak memperoleh:


1. Gaji dan tunjangan;
2. Cuti;
3. Perlindungan; dan
4. Pengembangan kompetensi

Sedangkan kewajiban ASN adalah:


1. Setia dan taat kepada Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, dan pemerintah
yang sah;
2. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
3. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
4. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;
6. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;
7. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;
8. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.

IV. Kelembagaan
Presiden selaku pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi dalam kebijakan,
pembinaan profesi, dan Manajemen ASN. Terkait hal menyelenggarakan
kekuasaan dimaksud, Presiden mendelegasikannya kepada:

1. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrrasi


(PAN-RB) berkaitan dengan kewenangan perumusan dan penetapan
kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi kebijakan, serta pengawasan atas
pelaksanaan kebijakan ASN;

2. Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) berkaitan dengan kewenangan


monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan Manajemen ASN untuk
menjamin perwujudan Sistem Merit serta pengawasan terhadap penerapan
asas kode etik dan kode perilaku ASN;
3. Lembaga Administrasi Negara (LAN) berkaitan dengan kewenangan
penelitian, pengkajian kebijakan Manajemen ASN, pembinaan, dan
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN; dan

4. Badan Kepegawaian Negara (BKN) berkaitan dengan kewenangan


penyelenggaraan Manajemen ASN, pengawasan dan pengendalian
pelaksanaan norma, standar, prosedur, dan kriteria Manajemen ASN.

V. Manajemen ASN

Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit, yang berdasarkan


pada kualifkasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa
membedakan latar belakang poltik, ras, warna kulit, agama, asal-usul, jenis
kelamin, status pernikahan, umum, atau kondisi kecacatan. Manajemen ASN ini
meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK.

Disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 itu, Presiden dapat


mendelegasikan kewenangan pembinaan Manajemen ASN kepada Pejabat yang
Berwenang di kementerian, sekretariat jendral/sekretariat lembaga negara,
sekretariat lembaga nonstruktural, sekretaris daerah/provinsi dan kabupaten/kota.

Pangkat dan Jabatan

Pasal 68 UU ASN menegaskan, PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan


tertentu pada Instansi Pemerintah berdasrkan perbandingan objektif antara
kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan
dengan kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dimiliki oleh yang
bersangkutan.

PNS juga dapat diangkat dalam jabatan tertentu pada lingkungan Tentara
Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri),
dengan pangkat atau jabatan yang disesuaikan dengan pangkat dan jabatan
di lingkungan instansi TNI dan Polri.

VI. Mutasi, Penggajian, dan Pemberhentian

Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara


disebutkan, setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) dapat dimutasi tugas dan/atau
lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar Instansi Pusat, 1 (satu) Instansi
Daerah, antar Instansi Daerah, antar Instansi Pusat dan Instansi Daerah, dank e
perwakilan Negara Kesatuan Republik Indonesia di luar negeri.

Mutasi PNS dalam satu Instansi Pusat atau Instansi Daerah dilakukan oleh
Pejabat Pembina Kepegawaian; antar kabupaten/kota dalam satu provinsi
ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan kepala Badan
Kepegawaian Negara (BKN); antar kabupaten/kota antar provinsi, dan antar
provinsi ditetapkan oleh Menteri PAN-RB setelah memperoleh pertimbangan
kepala BKN; mutasi PNS provinsi/kabupaten/kota ke Instansi Pusat atau
sebaliknya ditetapkan oleh Kepala BKN; dan mutasi PNS antar Instansi Pusat
ditetapkan oleh Kepala BKN.

VII. Pemberhentian

PNS diberhentikan dengan hormat karena:

1. Meninggal dunia;
2. Atas permintaan sendiri;
3. Mencapai batas usia pensiun;
4. Perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan
pensiun dini;
5. Tidak cakap jasmani danatau rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas
dan kewajiban.

Adapun PNS diberhentikan secara tidak hormat karena:

1. Melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 1945;


2. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan
jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan
dan/atau pidana umum;
3. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik;
4. Dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yng telah memiliki
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan pidana
penjara paling singkat 2 tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana.

VIII. Manajemen PPPK

Jenis jabatan yang dapat diisi PPPK diatur dengan Peraturan Presiden.
Selanjutnya, setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun kebutuhan jumlah dan
jenis jabatan PPPK berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja.

“Penyusunan kebutuhan jumlah PPPK sebagaimana dimaksud dilakukan


untuk jangka waktu minimal 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu)
tahun berdasarkan prioritas kebutuhan, dan ditetapkan dengan Keputusan
Menteri,” bunyi Pasal 94 Ayat (4) UU ASN.
UU ASN menegaskan, setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan
yang sama untuk melamar menjadi calon PPPK setelah memenuhi persyaratan.

IX. Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi

Untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan/atau madya, panitia seleksi
Instansi Pemerintah memilih 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1 (sayu) lowongan
jabatan. Tiga nama calon pejabat yang ter[ilih disampaikan kepada Pejabat
Pembina Kepegawaian. Selanjutnya, Pejabat Pembina Kepegawaian
mengusulkan 3 (tiga) nama calon sebagaimana dimaksud kepada Presiden.

Pasal 112 Ayat (4) UU ASN berbunyi:

“Presiden memilih 1 (satu) nama dari 3 (tiga) nama calon yang


disampaikan untuk ditetapkan sebagai pejabat pimpinan tinggi utama
dan/atau madya.”

Adapun untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi.
Selanjutnya, panitia seleksi memilih 3 (tiga) nama untuk setiap 1 (satu) lowongan
jabatan yang disanpaikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian melalui Pejabat
yang Berwenang (pejabat yang memiliki kewenangan menetapkan pengangkatan,
pemindahan, dan pemberhentian pegawai ASN).

Pasal 113 Ayat (4) UU ASN berbunyi:

“Pejabat Pembina Kepegawaian lalu memilih 1 (satu) dari 3 (tiga) nama


calon yang diusulkan dengan memperhatikan pertimbangan Pejabat
yang Berwenang untuk ditetapan sebagai pejabat pimpinan tinggi
pratama,”

Untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi madya di tingkat provinsi dilakukan oleh
Pejabat Pembina Kepegawian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi,
yang selanjutnya memilih 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1 (satu) lowongan
jabatan. Tiga nama calon itu diserahkan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian
untuk selanjutnya diusulkan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri
(Mendagri). Presiden akan memilih 1 (satu) nama dari 3 (tiga) nama calon yang
disampaikan untuk ditetapkan sebagai pejabat pimpinan tinggi madya.

Adapun pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama dilakukan oleh Pejabat


Pembina Kepegawaian dengan terlebih dahulu membentuk panitia seleksi.
Selanjutnya, panitia seleksi mengusulkan 3 (tiga) nama calon untuk setiap 1
(satu) lowongan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian melalui Pejabat yang
Berwenang. Pejabat Pembina Kepegawaian akan memilih 1 (satu) dari 3 (tiga)
nama calon untuk ditetapkan dan dilantik sebagai pejabat pembina tinggi
pratama.

Pasal 115 Ayat (5) UU ASN menyebutkan:

“Khusus untuk pejabat pimpinan tinggi pratama yang memimpin


sekretariat daerah kabupaten/kota sebelum ditetapkan oleh
bupati/walikota dikoordinasikan dengan gubernur,”

UU ASN menegaskan, Pejabat Pembina Kepegawaian dilarang mengganti


pejabat pimpinan tinggi selama 2 (dua) tahun terhitung sejak pelantikan pejabat
pimpinan tinggi, kecuali pejabat pimpinan tinggi tersebut melanggar ketentuan
peraturan perundang-undangan dan tidak lagi memenuhi syarat jabatan tertentu.
Selain itu, penggantian pejabat pimpinan tinggi utama dan madya sebelum 2
(dua) tahun dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Presiden.

“Jabatan pimpinan tinggi hanya dapat diduduki paling lama 5 (lima)


tahun, dan dapat diperpanjang berdasarkan pencapaian kinerja,
kesesuaian kompetensi, dan berdasarkan kebutuhan instansi setelah
mendapat persetujuan Pejabat Pembina Kepegawaian dan
berkoordinasi dengan KASN,” (Pasal 117 Ayat (1,2) UU ASN)

X. Pejabat Negara

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)


menegaskan, pejabat pimpinan tinggi madya dan pejabat pimpinan tinggi
pratama yang akan mencalonkan diri menjadi gubernur dan wakil gubernur,
bupati/walikota, dan wakil walikota wajib menyatakan pengunduran diri
secara tertulis dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak mendaftar sebagai
calon.

Adapun PNS yang diangkat sebagai pejabat negara menurut Pasal 123 Ayat
(1) UU ASN, diberhentikan sementara dari jabatannya, dan tidak kehilangan
status sebagai PNS.

Demikian pula PNS yang mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi Presiden
dan Wakil Presiden; ketua, wakil ketua, dan anggota DPR/DPRD; gubernur
dan wakil gubernur; bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota wajib
menyatakan pengunduran diri secara tertulis sebagai PNS sejak mendaftar
sebagai calon.

Menurut UU ASN, PNS yang tidak menjabat lagi sebagai pejabat negara
sebagaimana dimaksud pada Pasal 123 Ayat (1) dapat menduduki jabatan
pimpinan tinggi, jabatan administrasi, atau jabatan fungsional sepanjang
tersedia lowongan jabatan.

XI. Organisasi dan Penyelesaian Sengketa

Pegawai ASN berhimpun dalam wadah korps profesi Pegawai ASN Republik
Indonesia, yang memiliki tujuan menjaga kode etik profesi dan standar
pelayanan profesi ASN, dan mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu
bangsa.

Sementara untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akurasi pengambilan


keputusan dalam Manajemen ASN, menurut UU No. 5/2014 ini, diperlukan
Sistem Informasi ASN, yang diselenggarakan secara nasional dan
terintegrasi antar-Instansi Pemerintah.

Sistem Informasi ASN memuat seluruh informasi dan data pegawai ASN,
yang meliputi:

1. Data riwayat hidup;

2. Riwayat pendidikan formal dan non formal;

3. Riwayat jabatan dan kepangkatan;

4. Riwayat penghargaan, tanda jasa, atau tanda kehormatan;

5. Riwayat pengalaman berorganisasi;

6. Riwayat gaji;

7. Riwayat pendidikan dan latihan;

8. Daftar penilaian prestasi kerja;

9. Surat keputusan; dan

10.Kompetensi.

Menurut UU ASN, sengketa pegawai ASN diselesaikan melalui upaya


administratif, yang terdiri dari keberatan dan banding administratif. Keberatan
diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum
dengan memuat alasan keberatan, dan tembusannya disampaikan kepada
pejabat yang berwenang mengukum; adapun banding diajukan kepada
badan pertimbangan ASN.

XII. Ketentuan Peralihan


Pada Bab Peralihan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 disebutkan, pada saat
UU ini mulai berlaku, terhadap jabatan PNS dilakukan penyetaraan:

1. Jabatan eselon Ia kepala lembaga pemerintah non kementerian setara


dengan jabatan pimpinan tinggi utama;
2. Jabatan eselon Ia dan eselon Ib setara dengan jabatan pimpinan tinggi
madya;
3. Jabatan eselon II setara dengan jabatan pimpinan tinggi pratama;
4. Jabatan eselon III setara dengan jabatan administrator;
5. Jabatan eselon IV setara dengan jabatan pengawas; dan
6. Jabatan eselon V dan fungsional umum setara dengan jabatan pelaksana.
RINGKASAN II
Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen ASN

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang


Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP Manajemen PNS) adalah aturan pelaksanaan
ketentuan Pasal 17, Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal
57, Pasal 67, Pasal 68 ayat (7), Pasal 74, Pasal 78, Pasal 81, Pasal 85, Pasal 86
ayat (4), Pasal 89, Pasal 91 ayat (6), Pasal 92 ayat (4), dan Pasal 125 Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Manajemen Pegawai
Negeri Sipil adalah pengelolaan pegawai negeri sipil untuk menghasilkan pegawai
negeri sipil yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Manajemen PNS dalam PP Manajemen PNS diantaranya berisi ketentuan mengenai


penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan jabatan,
pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja, penggajian
dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan
hari tua, serta perlindungan.

PP Manajemen PNS ditetapkan pada tanggal 30 Maret 2017 di Jakarta oleh Bapak
Presiden Joko Widodo dan mulai berlaku pada tanggal 7 April 2017 setelah
diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM, Bapak Yasonna H. Laoly di Jakarta.

PP Manajemen PNS ditempatkan pada Lembaran Negara Republik Indonesia


Tahun 2017 Nomor 63. Penjelasan Atas PP Manajemen PNS ditempatkan dalam
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037.

Adapun isi keseluruhan dari PP Manajemen PNS adalah sebagai berikut:

 Bab I merupakan ketentuan umum PP Manajemen PNS;

 Bab 2 mengenai penyusunan dan penetapan kebutuhan jumlah dan jenis


jabatan PNS;

 Bab 3 mengatur pengadaan PNS;

 Bab 4 mengatur tentang pangkat dan jabatan PNS;

 Bab 5 mengatur tentang manajemen karier PNS, pengembangan karier,


pengembangan kompetensi, pola karier, mutasi, dan promosi;

 Bab 6 mengatur tentang penilaian kinerja dan disiplin PNS;

 Bab 7 mengatur tentang penghargaan PNS;

 Bab 8 mengatur tentang pemberhentian PNS;

 Bab 9 mengatur tentang penggajian tunjangan dan fasilitas PNS;


 Bab 10 mengatur tentang jaminan pensiun dan jaminan hari tua PNS;

 Bab 11 mengatur tentang perlindungan PNS;

 Bab 12 mengatur tentang cuti PNS;

 Bab 13 mengatur tentang ketentuan lain-lain;

 Bab 14 ketentuan peralihan;

 Bab 15 ketentuan penutup.

Selanjutnya, berikut ini merupakan ringkasan dari isi PP Manajemen PNS:

I. Penyusunan Dan Penetapan Kebutuhan PNS

Penyusunan dan penetapan kebutuhan PNS dilakukan oleh setiap instansi


pemerintah. Dijelaskan pada pasal pasal 5 sampai dengan pasal 11 terkait
pelaksanaan penyusunan kebutuhan PNS. Sedangkan terkait penetapan kebutuhan
dijelaskan pada pasal 12 sampai dengan 14.

Setiap Instansi Pemerintah menyusun kebutuhan jenis jabatan dan jumlah PNS
berdasarkan Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja, peta jabatan, dan
ketersediaan pegawai. Kegiatan penyusunan tersebut dilakukan untuk jangka waktu
5 tahun dan diperinci setiap tahun berdasarkan prioritas kebutuhan rencana strategi.
Penetapan kebutuhan PNS secara nasional setiap tahun anggaran ditetapkan oleh
Menteri PAN-RB, setelah memperhatikan pendapat Menteri Keuangan dan
pertimbangan teknis Kepala BKN.

II. Pengadaan PNS

Pengadaan PNS merupakan kegiatan untuk mengisi kebutuhan Jabatan


Administrasi dan/atau Jabatan Fungsional dalam suatu Instansi Pemerintah.
Pengadaan PNS di Instansi Pemerintah dilakukan berdasarkan penetapan
kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri. Pada pasal 19 sampai dengan pasal 45
dijelaskan secara rinci terkait tahapan pengadaan PNS.

Pengadaan PNS dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengumuman lowongan,


pelamaran, seleksi, pengumuman hasil seleksi, masa percobaan, dan pengangkatan
menjadi PNS. Peserta yang lolos seleksi diangkat menjadi calon PNS.
Pengangkatan calon PNS ditetapkan dengan keputusan Pejabat Pembina
Kepegawaian.

Calon PNS wajib menjalani masa percobaan. Masa percobaan dilaksanakan melalui
proses pendidikan dan pelatihan terintegrasi untuk membangun integritas moral,
kejujuran, semangat dan motivasi, nasionalisme dan kebangsaan, karakter
kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme
serta kompetensi bidang.

Masa percobaan bagi calon PNS dilaksanakan selama 1 (satu) tahun. Instansi
pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan kepada calon PNS selama
masa percobaan. Calon PNS yang diangkat menjadi PNS harus memenuhi
persyaratan lulus pendidikan dan pelatihan dan sehat jasmani dan rohani.

III. Pangkat dan Jabatan PNS

Terkait Pangkat dan Jabatan, menurut PP Manajemen PNS ini, pangkat merupakan
kedudukan yang menunjukkan tingkatan jabatan berdasarkan tingkat kesulitan,
tanggung jawab, dampak, dan persyaratan kualifikasi pekerjaan yang digunakan
sebagai dasar penggajian.“Pangkat sebagaimana dimaksud diatur dalam Peraturan
Pemerintah yang mengatur mengenai gaji, tunjangan dan fasilitas bagi PNS,” begitu
bunyi Pasal 46 ayat (2) PP tersebut.

Disebutkan pada pasal 47 bahwa Jabatan PNS terdiri atas: Jabatan Administrasi
(JA), Jabatan Fungsional (JF), dan Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT). Nomenklatur
Jabatan dan Pangkat JPT Utama dan JPT Madya, menurut PP ini, ditetapkan oleh
Presiden atas usul instansi Pemerintah terkait setelah mendapat pertimbangan
Menteri PAN-RB. Sementara nomenklatur Jabatan dan Pangkat JPT Pratama, JA,
dan JF untuk masing-masing satuan organisasi instansi pemerintah ditetapkan oleh
pimpinan instansi setelah mendapat persetujuan Menteri PAN-RB.

Pengisian Jabatan Pelaksana, JF keahlian jenjang ahli pertama, JF keterampilan


jenjang pemula, dan JF keterampilan jenjang terampil, menurut PP ini, dapat
dilakukan melalui pengadaan PNS. Adapun pengisian Jabatan administrator,
Jabatan pengawas, JF keahlian jenjang ahli utama, JF keahlian jenjang ahli madya,
JF keahlian jenjang ahli muda, JF keterampilan jenjang penyelia, JF keterampilan
jenjang mahir, dan/atau JPT, dapat dilakukan dengan rekrutmen dan seleksi dari
PNS yang tersedia, baik yang berasal dari internal instansi pemerintah maupun PNS
yang berasal dari instansi pemerintah lain.

Jenjang JA dari yang paling tinggi ke yang paling rendah pada pasal 50 disebutkan
terdiri atas: Jabatan Administrator, Jabatan Pengawas, dan Jabatan Pelaksana.
Setiap Jenjang Jabatan memiliki persyaratan masing-masing agar dapat diangkat
dalam jabatan tersebut yang dijelaskan pada pasal 54 dan pasal 55. Pada pasal 67
sampai dengan pasal 100 menjelaskan terkait jabatan fungsional. Peraturan ini
menjelaskan bahwa pejabat fungsional berkedudukan di bawah dan bertanggung
jawab secara langsung kepada Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Pejabat
Administrator, atau Pejabat Pengawas yang memiliki keterkaitan dengan
pelaksanaan tugas JF. Kategori JF terdiri atas: JF keahlian dan JF keterampilan.
Sedangkan jenjang JF keahlian terdiri atas: Ahli utama, Ahli madya, Ahli muda, dan
Ahli pertama. Jenjang JF keterampilan sebagaimana dimaksud, terdiri atas:
Penyelia, Mahir, Terampil, dan Pemula. Kriteria JF juga dijelaskan dalam peraturan
ini secara rinci.

Selanjutnya juga disebutkan pada pasal 98 “Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan


tugas dan pencapaian kinerja organisasi, pejabat fungsional dilarang rangkap
Jabatan dengan JA atau JPT, kecuali untuk JA atau JPT yang kompetensi dan
bidang tugas Jabatannya sama dan tidak dapat dipisahkan dengan kompetensi dan
bidang tugas JF”.

Selanjutnya dijelaskan juga bahwa setiap JF yang telah ditetapkan wajib memiliki
satu organisasi profesi JF dalam jangka waktu paling lama lima tahun terhitung sejak
tanggal penetapan JF, dan setiap pejabat fungsional wajib menjadi anggota
organisasi profesi JF. Selain itu pada PP Manajemen PNS ini dilakukan penyetaraan
terhadap jabatan PNS yaitu:

 Jabatan Eselon IA Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian setara


dengan Jabatan Pimpinan Tinggi Utama;
 Jabatan Eselon IA dan Eselon IB setara dengan Jabatan Pimpinan Tinggi
madya;
 Jabatan Eselon II setara dengan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama;
 Jabatan Eselon III setara dengan Jabatan Administrator;
 Jabatan Eselon IV setara dengan Jabatan Pengawas; dan
 Jabatan Eselon V dan Fungsional Umum setara dengan Jabatan Pelaksana.

IV. Manajemen Karier PNS

Manajemen karier pada instansi pemerintah disebutkan pada pasal 162 dan 163
dilakukan dengan menerapkan prinsip sistem merit untuk meningkatkan kompetensi,
kinerja, dan profesionalitas PNS. Setiap instansi pemerintah wajib memiliki Sistem
Informasi Manajemen Karier yang merupakan bagian terintegrasi dari Sistem
Informasi ASN. Manajemen karier menjelaskan mengenai pengembangan karier,
pengembangan kompetensi, pola karier, promosi, dan mutasi.

Pengembangan karier dilakukan berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian


kinerja, dan kebutuhan instansi pemerintah. Pengembangan karier PNS dijelaskan
secara rinci pada pasal 176 sampai dengan pasal 187. Manajemen pengembangan
dapat dilakukan melalui mutasi, dan/ atau promosi atau penugasan khusus. Setiap
PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam satu instansi pusat, antar-instansi
pusat, satu Instansi Daerah, antar-Instansi Daerah, antar-Instansi Pusat dan Instansi
Daerah, dan ke perwakilan NKRI di luar negeri. Mutasi dilakukan oleh PPK dalam
wilayah kewenangannya. Perpindahan PNS antarkabupaten/kota dalam satu
provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala BKN.

Mutasi PNS antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah
memperoleh pertimbangan Kepala BKN. Mutasi PNS daerah ke Instansi Pusat atau
sebaliknya, ditetapkan oleh Pejabat yang Berwenang setelah mendapatkan
pertimbangan teknis dari Kepala BKN. Mutasi PNS antar Instansi Pusat ditetapkan
oleh Kepala BKN.Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama
untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. Promosi Pejabat
Administrasi dan Pejabat Fungsional PNS dilakukan oleh PPK setelah mendapat
pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada instansi yang dibentuk oleh Pejabat
yang berwenang (PyB).

PNS dapat dipromosikan didalam dan/atau antar JA dan JF keterampilan, JF ahli


pertama, dan JF ahli muda sepanjang memenuhi persyaratan jabatan, dengan
memperhatikan kebutuhan organisasi. PNS yang menduduki Jabatan administrator
dan JF ahli madya dapat dipromosikan ke dalam JPT pratama sepanjang memenuhi
persyaratan jabatan, mengikuti, dan lulus seleksi terbuka, dengan memperhatikan
kebutuhan organisasi. PNS yang menduduki JF ahli utama dapat dipromosikan ke
dalam JPT madya sepanjang memenuhi persyaratan jabatan, mengikuti, dan lulus
seleksi terbuka, dengan memperhatikan kebutuhan organisasi.

Pengembangan kompetensi dijelaskan pada pasal 203 merupakan upaya untuk


pemenuhan kebutuhan kompetensi PNS dengan standar kompetensi jabatan dan
rencana pengembangan karier. Selanjutnya pengembangan kompetensi secara rinci
dijelaskan pada pasal 204 sampai dengan pasal 225. Pengembangan kompetensi
dilakukan pada tingkat instansi dan nasional. Pengembangan kompetensi bagi
setiap PNS dilakukan paling sedikit 20 (dua puluh) jam pelajaran dalam 1 (satu)
tahun. Pengembangan kompetensi menjadi dasar pengembangan karier dan
menjadi salah satu dasar bagi pengangkatan jabatan.

Pola karier merupakan pola dasar mengenai urutan penempatan dan/ atau
perpindahan PNS dalam dan antar posisi di setiap jenis Jabatan secara
berkesinambungan. Pola karier PNS terdiri atas pola karier instansi dan pola karier
nasional. Setiap Instansi Pemerintah menyusun pola karier instansi secara khusus
sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pola karier nasional sedangkan pola karier
nasional disusun dan ditetapkan oleh Menteri.