Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN PENDAHULUAN

MEMINDAHKAN PASIEN DAN MENGATUR POSISI

OLEH:

OKTA VERIDA ANDRIANI

04121003031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDERALAYA, 2016

1
A. Memindahkan Pasien
1. Pengertian memindahkan pasien
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas,
mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup
aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya (A.Aziz, 2006).
Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau
keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar,
duduk dan berjalan, hal ini salah satunya dsebabkan oleh berada pada
posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring.
Memindahkan pasien merupakan suatu kegiatan yang dilakukan pada
klien (pasien) dengan kelemahan fungsional untuk berpindah dari kursi
roda ke tempat tidur atau dari tempat tidur ke brangkar.

2. Tujuan
a. Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur atau sindrom disuse
b. Mempertahankan kenyamanan pasien
c. Mempertahankan kontrol diri pasien
d. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan(diagnostik, fisik, dll.)
e. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi
f. Memudahkan perawat yang akan mengganti seprei (pada pasien yang
toleransi dengan kegiatan ini), dan
g. Memberikan aktifitas pertama (latihan pertama) pada pasien yang tirah
baring (memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda).

2
MEMINDAHKAN PASIEN DARI KURSI RODA KE TEMPAT TIDUR

A. PENGERTIAN
Suatu kegiatan yang dilakuan pada klien dengan kelemahan kemampuan
fungsional untuk berpindah dari kursi roda ke tempat tidur.

B. TUJUAN
 Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur atau sindrom disuse
 Memberikan kenyamanan
 Mempertahankan kontrol diri pasien
 Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi
 Memudahkan perawat yang akan mengganti seprei (pada klien yang toleransi
dengan kegiatan ini)

C. PERSIAPAN MEMINDAHKAN KLIEN KEATAS TEMPAT TIDUR


 Kaji tingkat kenyamanan,toleransi aktivitas,kekuatan otot dan mobilisasi klien
 Tinggi kan tempat tidur dengan ketinggian yang nyaman untuk bekerja
 Pindahkan bantal dan alat bantu yang digunakan klien pada posisi sebelumnya
 Dapatkan bantuan tambahan bila diperlukan
 Jelaskan prosedur pada klien
 Cuci tangan
 Letakkan tempat tidur pada posisi datar dengan roda tempat tidur terkunci

D. PERSIAPAN LINGKUNGAN
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
a) Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif) menjaga privacy
pasien
b) Tutup pintu atau gorden

3
LANGKAH-LANGKAH MEMINDAHKAN KLIEN YANG TAK
BERDAYA KEATAS TEMPAT TIDUR (1 PERAWAT)

1. Lengkapi persiapan diatas


2. Letakkan klien bersandar dengan bagian kepala tempat tidur memudahkan
perawat mengkaji.berdiri di satu sisi tempat tidur kesejajaran tubuh dan
mengurangi tarikan gravitasi tubuh klien bagian atas mencegah kepala klien
membentur tempat tidur
3. Tempatkan bantal dibagian kepala tempat tidur
4. Mulai pada kaki klien. Hadapkan kaki tempat tidur pada sudut 450. Letakakan
kaki terbuka dengan kaki yang terdekat kepala dari tempat tidur di belakang kaki
yang lain. Fleksikan lutut dan pinggul yang diperlukan untuk membawa lengan
perawat setinggi kaki klien. Pindahkan berat badan perawat dari kaki depan ke
kaki belakang dan geser kaki pengaturan posisi dimuilai pada klien sejajar bagian
kepala tempat tidur kaki klien karena lebih ringan dan lebih mudah. Menghadap
arah gerakan menjamin keseimbangan yang tepat. Pemindahan berat badan
perawat mengurangi gaya yang diperlukan untuk menggerakan beban.gerakan
diagonal memungkinkan menarik sesuai arah gaya. Fleksikan lutut mendekati
pusat gravitasi dan menggunakan otot paha dari pada otot punggung.
5. Bergerak sejajar pada pinggul klien. Fleksi lutut dan pinggul yang diperlukan
untuk membawa lengan perawat setinggi pinggul mempertahan kan kesejajaran
tubuh perawat yang sesuai. Dekatkan klien objek sedekat mungkin dengan
perawat untuk dipindahkan dan rendahkan pusat gravitasi. Gunakan otot paha
daripada otot punggung.
6. Meluruskan kaki dan pinggul klien. Geser pinggul klien sejajar arah kepala tempat
tidur
7. Pindahkan kepala klien dan bahu klien secara parallel. Fleksikan lutut dan pinggul
yang diperlukan untuk membawa tinggi lengan dengan tubuh mempertahan kan
kesejajaran tubuh yang sesuai.

4
8. Masukkan lengan perawat yang terdekat bagian kepala tempat tidur kebawah
leher klien, dengan tangan memegang kebawah dan menyokong mempertahankan
kesejajaran tubuh dan mencegah cidera selama bahu pergerakan
9. Menyokong berat badan klien dan mengurangi friksi letakakan lengan perawat
yang lain dibawah punggung bawah klien
10. Geser tubuh, bahu, kepala dan leher klien secara diagonal kearah kepala
meluruskan kembali tubuh klien disis tempat tidur
11. Tinggikan sisi bergerak. Pindahkan kesisi tempat tidur yang lain dan melindungi
klien jatuh dari tempat tidur
12. Pusat klien ditengah tempat tidur, pindahkan tubuh pada ketiga bagian
mempertahan kan kesejajaran tubuh, memberikan ruang yang cukup dan yang
sama untuk bergerak,dan, member keamanan pada klien

MEMBANTU KLIEN PINDAH KEATAS TEMPAT TIDUR (1/2


PERAWAT)

1. Lengkapi persiapan
2. Letakkan klien bebaring pada bagian kepala tempat tidur memudahkan perawat
mengkaji kesejajaran tubuh.mengurangi tarikanàrata gravitasi pada tubuh klien
bagian atas mencegah kepala klien membentur tempat tidur
3. Letakkan bantal dikepala tempat tidur
4. Hadapkan kepala tempat tidur
a) Jika 2 perawat membantu klien setiap perawat harus meletakkan satu lengan
nya dibawah bahu klien,dan lengan lain berada dibawah paha
b) Posisi alternative.posisi satu perawat dibagian atas tubuh klien.lengan perawat
yang terdekat dengan bagian kepala tempat tidur harus berada dibawah kepala
klien dan berlawanan dengan bahu.lengan lain harus dibawah lengan terdekat
dari bahu klien.posisi perawat lain berada pada bagian bawah tubuh
klien.lengan perawat harus berada dibawah punggung bagian bawah dan
batang tubuh klien
5. Letakkan kaki terbuka dengan kaki terbuka dibagian kepala tempat tidur
dibelakang kaki yang lain

5
6. Minta klien untuk memfleksikan lututnya dengan kaki rata pada tempat
memudahkan klien mnggunakan otot femoral selama bergerak dengan tidur
mencegah hyperekstensi pada leher
7. Instruksikan klien untuk memfleksikan lehernya,miringkan dagu kearah dada
meningkatkan mobilisasi klien
8. Instruksikan klien untuk membantu dengan mendorong kakinya pada permukaan
tempat tidur
9. Fleksikan lutut dan pinggul perawat,bawa lengan bawah perawat lebih dekat
tempat tidur mempersiapakn klien pindah
10. Instruksikan klien untuk mendorong dengan tumit
11. Pada hitungan ketiga,goyang dan ubah berat dari kaki depan ke kaki menggoyang
memungkinkan perawat mencapai keseimbangan

6
MEMINDAHKAN KLIEN DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA

A. PENGERTIAN
Memindahkan klien diatas tempat tidur ke kursi roda untuk menjalani
prosedur atau tindakan tertentu

B. TUJUAN
 Menjalani prosedur perawatan tertentu
 Dipindahkan ke tempat atau ruangan tertentu

C. PERSIAPAN ALAT
 Sarung tangan (jika perlu)
 Kursi roda

D. LANGKAH PROSEDUR
1. Atur peralatan dengan tepat
a) Rendahkan posisi tempat tidur sampai pada posisi yang terendah
sehingga kaki klien dapat menyentuh lantai. Kunci semua roda tempat
tidur
b) Letakkan kursi roda sejajar dan sedekat mungkin dengan tempat tidur.
Kunci semua roda dari kursi roda
2. Siapkan dan kaji klien
a) Bantu klien pada posisi duduk di tepi tempat tidur
b) Kaji klien, apakah mengalami hipotensi postural, sebelum
memindahkannya dari tempat tidur
3. Berikan instruksi yang jelas kepada klien. Minta klien untuk :
a) Bergerak ke depan dan duduk di tepi tempat tidur
b) Condongkan tubuh ke depan mulai dari panggul

7
c) Letakkan kaki yang kuat di bawah tepi tempat tidur, sedangkan kaki
yan lemah berada di depannya
d) Letakkan tangan klien diatas permukaan tempat tidur atau diatas kedua
bahu perawat sehingga klien dapat mendorong tubuhnya sambil berdiri
(catatan : klien perlu diberi penjelasan untuk tidak meletakkan kedua
tangan pada leher perawat karena dapat menyebabkan cedera pada
perawat)
4. Siapkan posisi perawat dengan tepat
a) Berdiri tepat di depan klien. Condongkan tubh ke depan, fleksikan
pinggul, lutut dan pergelangan kaki. Lebarkan kaki anda, dengan satu
kaki di depan dan yang lainnya di belakang. Jika memungkinkan,
buatlah kaki klien sebagai cermin dari kaki perawat
b) Lingkari punggung klien dengan kedua tangan perawat
c) Tegangkan otot gluteal, abdominal, kaki dan lengan anda. Siap untuk
melakukan pergerakan
5. Bantu klien untuk berdiri, kemudian bergerak bersama-sama menuju kursi
roda
a) Dalam 3 hitungan, minta klien untuk menghentak dengan bagian kaki
belakang, kemudian menuju kaki bagian depan, ekstensikan
persendian pada ekstremitas bawah, dan dorong atau tarik dengan
kedua tangan, bersamaan dengan perawat menarik dengan kaki bagian
depan, menuju kaki bagian belakang, ekstensikan persendian pada
ekstremitas bawah, dan tarik klien tepat menuju pusat gravitasi
perawat pada posisi berdiri
b) Bantu klien pada posisi tegak untuk beberapa saat
c) Bersama-sama memutar atau mengambil beberapa langkah menuju
kursi roda
6. Bantu klien untuk duduk
a) Minta klien untuk membelakangi kursi roda, kemudian meletakkan
bagian kaki yang kuat di belakang kaki yang lebih lemah, menjaga
kaki yang lainnya tetap berada di depan, dan meletakkan kedua tangan
diatas lengan kursi roda atau tetap pada bahu perawat

8
b) Berdiri tepat di depan klien. Letakkan satu kaki di depan dan kaki yang
lainnya di belakang
c) Tegangkan otot gluteal, abdominal dan lengan
d) Dalam 3 hitungan minta klien untuk menggeser berat tubuhnya dengan
jalan memindahkannya ke kaki bagian belakang, merendahkan tubuh
sampai pada bagian tepi dari kursi roda dengan memfleksikan
persendian pada kaki dan lengan, bersamaan dengan perawat
menggeser berat tubuhnya dengan melangkah ke belakang dengan
menggunakan kaki depan dan merendahkan klien sampai diatas kursi
roda
7. Pastikan keselamatan klien
a) Minta klien untuk menggeser duduknya sampai pada posisi yang
paling aman dan nyaman
b) Turunkan tatakan kaki, dan letakkan kedua kaki klien diatasnya

9
MEMBANTU PASIEN BERPINDAH DARI TEMPAT TIDUR KE
KERETA DORONG (BRANKART)

A. Pengertian
Tindakan pemindahan pasien yang dilakukan oleh dua sampai tiga orang
perawat. Pemindahan ini dapat dari tempat tidur ke brankart atau tempat tidur
ke tempat tidur lain. Pemindahan ini biasanya dilakukan pada pasien yang
tidak dapat dan atau tidak boleh melakukan pemindahan sendiri. Hal yang
perlu disiapkan sama dengan pemindahan pasien dari tempat tidur ke kursi
roda.(Hidayat & Uliyah, 2004)

B. Tujuan
Memindahkan pasien dari ruangan ke ruangan lain untuk tujuan tertentu
(pemeriksaan diagnostik, pindah ruangan, dll.).(Firmansyah, Memindahkan
Pasien dari Tempat Tidur ke Brangkar, 2009)

C. Waktu Pelaksanaan
Aktivitas ini dilakukan pada pasien yang membutuhkan bantuan untuk
berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.(Hidayat & Uliyah, 2004)

D. Persiapan :
 Kaji kekuatan otot pasien,
 Mobilitas sendi
 Toleransi aktivitas
 Tingkat kesadaran
 Tingkat kenyamanan, dan
 Kemampuan untuk mengikuti instruksi.

E. Alat dan Bahan :


 Brankart atau tempat tidur, dan

10
 Bantal (bila perlu)

F. Cara Kerja :
1. Cuci tangan
2. Lakukan persiapan seperti disebut di atas,
3. Dua atau tiga perawat dengan tinggi badan kurang lebih sama yang berdiri
berdampingan menghadap tempat tidur pasien
4. Setiap orang bertanggung jawab untuk salah satu dari area tubuh pasien
(kepala dan bahu, panggul, paha, dan pergelangan kaki)
5. Masing-masing pasien membentuk dasar pijakan yang luas yang mendekat
ke tempat tidur di depan, lutut agak fleksi
6. Lengan pangangkat ditempatkan di bawah kepala dan bahu, panggul, paha
dan pergelangan kaki pasien, dengan jari jemari mereka menggenggam sisi
tubuh pasien
7. Pengangkat menggulingkan pasien kearah dada mereka
8. Pada hitungan ke-3, pasien diangkat dan digendong ke dada perawat
9. Pada hitungan ke-3 yang kedua, perawat melangkah ke belakang dan
menumpu salah satu kaki untuk mengarah ke brankart/tempat tidur lain,
dengan bergerak ke depan (bila perlu),
10. Perawat dengan perlahan menurunkan pasien ke bagian tengah
brankart/tempat tidur lain dengan memfleksikan lutut dan panggul mereka
sampai siku mereka pada setinggi tepi brankart/tempat tidur
11. Perawat mengkaji kesejajaran tubuh pasien, tempatkan pagar tempat tidur
pada posisi terpasang
12. Posisikan pasien pada posisi yang dipilih
13. Observasi pasien untuk menentukan respons terhadap pemindahan.
Observasi terhadap kesejajaran tubuh yang tepat dan adanya titik tekan
14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan, dan
15. Catat prosedur dalam catatan keperawatan

11
MEMINDAHKAN PASIEN DARI BRANKART KE TEMPAT TIDUR

A. Pengertian
Memindahkan klien dari atas brankart ke tempat tidur dengan maksud
tertentu

B. Tujuan
 Melaksanakan tindakan perawatan tertentu yang tidak dapat dikerjakan
diatas brankart
 Memindahkan klien pada tempat perawatan selanjutnya

C. Persiapan alat
Sarung tangan (jika perlu)

D. Langkah prosedur
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Atur brankart dalam posisi terkunci dan dekatkan dengan tempat tidur
3. Satu perawat berada disisi tempat tidur, sedangkan posisi dua perawat
yang lain di samping brankart
4. Silangkan tangan klien didepan dada
5. Gunakan pengalas dibawah tubuh klien untuk media mengangkat
6. Perawat yang berada di sisi tempat tidur, memegang dan siap menarik
pengalas
7. Dua perawat lain yang berada di samping brankart, mengangkat pengalas
dzn tubuh klien hingga mencapai tempat tidur
8. Jauhkan brankart
9. Atur posisi klien hingga merasa nyaman di tempat tidur

12
B. Mengatur Posisi

1. Pengertian mengatur posisi


Posturing / mengatur dan merubah posisi adalah mengatur pasien
dalam posisi yang baik dan mengubah secara teratur dan sistematik. Hal
ini merupakan salah satu aspek keperawatan yang penting. Posisi tubuh
apapun baik atau tidak akan mengganggu apabila dilakukan dalam waktu
yang lama. (potter dan perry, 2005).

2. Tujuan mengatur posisi


a.  Mencegah nyeri otot
b.  Mengurangi tekanan
c.  Mencegah kerusakan syaraf dan pembuluh darah superficial
d. Mencegah kontraktur otot
e. Mempertahankan tonus otot dan reflek
f.  Memudahkan suatu tindakan baik medic maupun keperawatan

3. Macam-macam pengaturan posisi pasien


a. Posisi Supinasi (Telentang)
Posisi supinasi adalah posisi pasien berbaring terlentang dengan kepala
dan bahu sedikit elevasi dengan menggunakan bantal.
Tujuan :
Agar menjadi lebih rileks
Mencegah kontroktur otot abdomen
Memudahkan pemeriksaan denyut nadi.
Indikasi :
Di lakukan pada ibu hamil muda
Dilakukan pada waktu pre dan post operasi
Kontra indikasi :
Pada klien dengan sesak nafas

13
Pada klien dengan fraktur lumbal

b. Posisi Lateral (Side-Lying)


Posisi lateral adalah posisi klien berbaring pada salah satu sisi bagian
tubuh dengan kepala menoleh ke samping.
Tujuan :
Untuk memperlancar peredaran darah ke otak
Memudahkan jalannya pembedahan pada posisi perut
Untuk kenyamanan pada waktu istirahat atau tidur
Untuk mengurangi tekanan kulit, kepala belakang, skapula, socrum,
tumit
Indikasi :
Pada klien yang mengalami shock.
Pada klien yang mengalami pembedahan daerah perut
Dilakukan pada klien yang sedang dilakukan pemeriksaan rectum dan
pemberian obat-obatan melalui anus
Mendengarkan nada tinggi dari murmur (BJ III) atau bunyi tambahan
yaiti dengan posisi lateral kiri
Kontraindikasi :
Pada klien yang mengalami gangguan pernapasan.

14
c. Posisi Dorsal Recumbent
Posisi dorsal recumbent adalah posisi terlentang dengan kedua kaki
ditekuk dan tumit atau telapak kaki menempel pada tempat tidur dan
kedua kaki direnggangkan.
Tujuan :
Agar klien merasa lebih nyaman.
Untuk mengurangi gangguan nyeri hebat
Indikasi :
Dilakukan pada ibu hamil
Dilakukan pada waktu melakukan vulva hygine
Kontraindikasi :
Dilakukan pada klien yang artritis karena terbatas untuk menekuk lutut
dan panggul

d. Posisi Trendelenberg
Posisi trendelenberg adalah memberikan posisi kepala lebih rendah
dari pada posisi kaki.
Tujuan :
Melancarkan peredaran darah keotak
Memudahkan jalannya pembedahan pada bagian perut.
Memudahkan untuk mengalirkan sekresi dari paru
Indikasi :
Dilakukan pada klien yang shock
Pada klien dengan pemasangan skin traksi pada kaki
Dilakukan pada klien yang mempunyai penyakit pembuluh daerah
peripheral

15
Kontraindikasi :
Pada klien yang mempunyai potensi peningkatan tekanan cranial.

e. Posisi Sims
Posisi sims adalah posisi dimana pasien berbaring miring ke salah satu
sisi, baik kekanan atau kekiri.
Tujuan :
Memudahkan untuk melakukan pemeriksaan rectum (pelepasan).
Memudahkan dalam melakukan suntikan
Untuk mengurangi tekanan kulit yang berlawanan dengan punggung.
Indikasi :
Klien yang tidak mampu mengeluarkan sputum dari mulut
Pada klien yang mempunyai secret yang banyak agar tidak masuk ke
paru-paru
Untuk pemeriksaan vagina atau rectum
Dilakukan pada pasien yang tidak sadar untuk mempemudahkan jalan
masuk air dari mulut klien
Pada ibu hamil atau punya tumor perut
Kontra indikasi :
Klien dengan kelainan sendi pada lutut dan panggul.

f. Posisi Lithotomi

16
Posisi Lithotomi adalah posisi dimana pasien terlentang dengan
mengangkat kedua kaki dan ditarik ke atas abdomen.
Tujuan :
Memudahkan untuk pemeriksaan daerah genetalia dan traktus
genetalia
Memudahkan masuknya speculum vagina
Indikasi :
Dilakukan pada klien untuk pemeriksaan kandung kemih
Dilakukan pada pemeriksaan girekologi
Kontraindikasi :
Pada klien dengan antritis berat.

g. Posisi Pronasi (Telungkup)


Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring di atas abdomen
atau tengkurap dengan kepala menoleh ke samping.
Tujuan :
Untuk kenyamanan pada waktu istirahat atau tidur.
Untuk menukar posisi guna mengurangi tekanan kulit
Untuk menjaga adanya kontra fleksi telapak kaki
Pada klien tidak sadar dapat memudahkan pengeringan lendir dari
mulut
Bila digunakan secara periodic, untuk membantu mencegah penekukan
kontruktur dari pinggang dan lutut
Mencegah hipereaksi tulang belakang
Indikasi :

17
Untuk klien yang baru sembuh dari pembedahan pada mulut atau
kerongkongan
Hanya dapat dilakukan pada klien yang punggungnya dapat diluruskan
secara tepat, dan dilakukan dalam waktu cepat
Kontraindikasi :
Tidak disarankan untuk orang yang bermasalah pada daerah servikal
atau lumbal tulang belakang
Untuk klien dengan masalah jantung dan pernafasan, karena akan
menyebabkan mati lemas, dan pembatasan perluasan dada.

h. Posisi Genu Pektoral (Knee-Chest)


Posisi klien dengan berlutut kedepan dengan kepala dan dada teratas
rileks pada tempat tidur.
Tujuan :
Memberikan pemaparan maksimal pada daerah rectal
Mempermudah pemeriksaan rectum
Indikasi :
Pemeriksaan rectum dan perineum wanita atau selama prostoskopi
(penempatan bidang visualisasi pada rectum).
Kotraindikasi :
Klien dengan artritis atau kelainan bentuk persendian lainnnya.

i. Posisi Fowler

18
Posisi duduk, dimana pasien istirahat diatas tempat tidur dengan tubuh
agak dinaikan keatas dan derajat ketinggian (75 – 90) derajat.
Tujuan : 
Memberikan perasaan senang
Membantu melancarkan keluarnya cairan
Mengurangi sesak nafas.
Indikasi :
Klien sesak nafas (penyakit jantung dan asma) atau gangguan
pernafasan
Klien dengan resiko ulkus
Klien yang sedang makan atau minum
Kontraindikasi : 
Fraktur tulang pelvis, post operasi abdomen
Faktur tulang belakang (vetebra lumbalis)

j. Posisi semi fowler


Yang dimaksud dengan sikap semi fowler adalah sikap dalam posisi
setengah duduk 15 derajat sampai dengan 60 derajat.
Tujuan :
Mobilisasi
Memberikan perasaan lega kepada klien yang sesak nafas
Memudahkan perawatan misalnya memberikan makan
Persiapan alat :
Bantal 1 sampai 3 buah
Bantal kecil
Guling
Sarung sandaran punggung

19
Sandaran punggung
Kalau ada tempat tidur yang bisa dinaikan bagian kepalanya
[orthopaedic bed]
Tempat tidur atau meja tilt
Indikasi :
Klien sesak nafas
Klien pasca operasi struma, hidung, thorax
Klien dengan penyakit tenggorakan yang memproduksi sputum, aliran
gelembung dan kotoran pada saluran pernafasan
Kontra indikasi :
Pada klien yang post operasi servikalis vertebra
Contusion serebri atau gegar otak
Comser (comusio seribri) atau memar otak.

k. Posisi ortopnea
Posisi ortopnea merupakan adaptasi dari posisi Fowler tinggi, klien
duduk di tempt tidur atau di tepi tempat tidur degan meja yang
menyilang di atas tempat tidur
Tujuan :
Memudahkan ekspansi paru untuk pasien dengan kesulitan bernafas
yang ekstrim dan tidak bisa tidur terlentang atau posisi kepala hanya
bisa pada elevasi sedang
Indikasi :
Pasien dengan sesak berat dan tidak bisa tidur terlentang.

20
l. Posisi dangling
Posisi klien dengan duduk diatas tempat tidur dan kaki berjuntai.
Tujuan :
Memberikan kenyamanan pada pasien setelah tidur lama
Memungkinkan pengeliatan terhadap kesimetrisan tubuh bagian atas
Indikasi :
Klien yang tidur di bed terlalu lama
Klien yang akan dilakukan pemeriksaan fisik
Kontraindikasi : 
Klien yang secara fisik yang tidak mungkin untuk duduk.

21
DAFTAR PUSTAKA

Elfin, Perry, Potter, 2000. Nursing Internention And Clinical Skills Second

Edition, St Louis, Missauri. Mosby. Inc.

Kozier, Barbara, 1995. Fundamental Of Nursing, California, Addison – Weskey

Publishing Company Company Concepts, Process And Practice

Darliana, Devi, dkk. 2014. Kebutuhan Aktivitas dan Mobilisasi. Fakultas

Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh

Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar Azis

Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM

WHO. 2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta: EGC

22
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi
roda
Tanggal Disahkan oleh
terbit Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Suatu kegiatan yang dilakukan pada klien dengan
1 PENGERTIAN kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah
dari tempat tidur ke kursi roda.(Firmansyah,
Memindahkan Pasien Ke Kursi, 2009).
1. Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur
2 TUJUAN atau sindrom disuse,
2. Mempertahankan kenyamanan pasien,
3. Mempertahankan kontrol diri pasien,
4. Memindahkan pasien untuk
pemeriksaan(diagnostik, fisik, dll.),
5. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi,
6. Memudahkan perawat yang akan mengganti
seprei (pada pasien yang toleransi dengan
kegiatan ini), dan
7. Memberikan aktifitas pertama (latihan pertama)
pada pasien yang tirah baring.
1. Pastikan identitas klien
3 PERSIAPAN 2. Kaji kondisi klien

23
PASIEN 3. Beritahu dan jelaskan pada klien/keluarganya
tindakan yang dilakukan
4. Jaga privasi klien
5. Posisi klien
4 PERSIAPAN 1. Kaji kekuatan otot pasien,
2. Mobilitas sendi,
3. Toleransi aktivitas,
4. Tingkat kesadaran,
5. Tingkat kenyamanan,
6.  Kemampuan untuk mengikuti instruksi.
7. Selalu kunci rem pada kedua roda kursi sebelum
anda memindahkan pasien ke kursi roda.
Naikkan sanggaan kaki sehingga pasien dapat
duduk di kursi roda. Turunkan sangaan kaki
ketika pasien berada di atas kursi roda.

5 PERSIAPAN 1. Kursi Roda,


ALAT 2. Handscun atau sarung tangan (jika perlu),
3. Sabuk pemindah (bila diperlukan),
4. Kursi roda (posisi kursi pada sudut 45 terhadap
tempat tidur, dikunci, angkat penyokong kaki, dan
kunci kaki tempat tidur),
5. Jelaskan prosedur pada pasien, dan
6. Tutup pintu atau pasang tirai.

1. Cuci tangan,
6 CARA 2. Lakukan persiapan yang telah disebutkan di
BEKERJA atas,
3. Bantu pasien untuk posisi duduk di tepi tempat
tidur, dan siapkan kursi roda dalam posisi
45 terhadap tempat tidur,
4. Pasang sabuk pemindah bila perlu,
5. Pastikan bahwa pasien menggunakan
sepatu/sandal yang stabil dan tidak licin,

24
6. Renggangkan kedua kaki Anda,
7. Fleksikan kedua panggul dan lutut Anda,
sejajarkan lutut Anda dengan lutut pasien,
8. Genggam sabuk pemindah dari bawah atau
rangkul aksila pasien dan tempatkan tangan
Anda di skapula pasien,
9. Angkat pasien sampai berdiri pada hitungan ke-
3 sambil meluruskan panggul dan tungkai Anda,
dengan tetap mempertahankan lutut agak fleksi,
10. Pertahankan stabilitas tungkai yang lemah atau
paralisis dengan lutut,
11. Tumpukan pada kaki yang jatuh dari kursi,
12. Instrusikan pasien untuk menggunakan lengan
yang memegang kursi untuk menyokong,
13. Fleksikan panggul dan lutut Anda sambil
menurunkan pasien ke kursi,
14.  Kaji pasien untuk kesejajaran yang tepat untuk
posisi duduk,
15. Posisikan pasien pada posisi yang dipilih,
16. Observasi pasien untuk menentukan respons
terhadap pemindahan. Observasi terhadap
kesejajaran tubuh yang tepat dan adanya titik
tekan,
17. Cuci tangan setelah prosedur yang dilakukan.
7 DOKUMENTAS 1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan
I jam pelaksanaan
2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)
di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

25
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
Memindahkan pasien dari dari tempat tidur ke
kereta dorong (Brankart)
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Tindakan pemindahan pasien yang dilakukan oleh dua
1 PENGERTIAN sampai tiga orang perawat. Pemindahan ini dapat dari
tempat tidur ke brankart atau tempat tidur ke tempat
tidur lain. Pemindahan ini biasanya dilakukan pada
pasien yang tidak dapat dan atau tidak boleh
melakukan pemindahan sendiri. Hal yang perlu
disiapkan sama dengan pemindahan pasien dari
tempat tidur ke kursi roda (Hidayat & Uliyah, 2004).
Memindahkan pasien dari ruangan ke ruangan lain
2 TUJUAN untuk tujuan tertentu (pemeriksaan diagnostik, pindah
ruangan, dll.)(Firmansyah, Memindahkan Pasien dari
Tempat Tidur ke Brangkar, 2009).
1. Pastikan identitas klien
3 PERSIAPAN 2. Kaji kondisi klien
PASIEN 3. Beritahu dan jelaskan pada klien/keluarganya
tindakan yang dilakukan
4. Jaga privasi klien
5. Posisi klien

26
4 PERSIAPAN 1. Kaji kekuatan otot pasien,
2. Mobilitas sendi,
3. Toleransi aktivitas,
4. Tingkat kesadaran,
5. Tingkat kenyamanan, dan
6. Kemampuan untuk mengikuti instruksi.

5 PERSIAPAN Brankart atau tempat tidur, dan bantal (bila perlu).


ALAT
1. Cuci tangan,
6 CARA 2. Lakukan persiapan seperti disebut di atas,
BEKERJA 3. Dua atau tiga perawat dengan tinggi badan
kurang lebih sama yang berdiri berdampingan
menghadap tempat tidur pasien,
4. Setiap orang bertanggung jawab untuk salah
satu dari area tubuh pasien (kepala dan bahu,
panggul, paha, dan pergelangan kaki),
5. Masing-masing pasien membentuk dasar
pijakan yang luas yang mendekat ke tempat
tidur di depan, lutut agak fleksi,
6. Lengan pangangkat ditempatkan di bawah
kepala dan bahu, panggul, paha dan
pergelangan kaki pasien, dengan jari jemari
mereka menggenggam sisi tubuh pasien,
7. Pengangkat menggulingkan pasien kearah
dada mereka,
8. Pada hitungan ke-3, pasien diangkat dan
digendong ke dada perawat,
9. Pada hitungan ke-3 yang kedua, perawat
melangkah ke belakang dan menumpu salah
satu kaki untuk mengarah ke brankart/tempat
tidur lain, dengan bergerak ke depan (bila
perlu),

27
10.  Perawat dengan perlahan menurunkan pasien
ke bagian tengah brankart/tempat tidur lain
dengan memfleksikan lutut dan panggul
mereka sampai siku mereka pada setinggi tepi
brankart/tempat tidur,
11. Perawat mengkaji kesejajaran tubuh pasien,
tempatkan pagar tempat tidur pada posisi
terpasang,
12. Posisikan pasien pada posisi yang dipilih,
13. Observasi pasien untuk menentukan respons
terhadap pemindahan. Observasi terhadap
kesejajaran tubuh yang tepat dan adanya titik
tekan,
14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

7 DOKUMENTAS 1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal


I dan jam pelaksanaan
2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3 Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

28
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
Mengatur posisi supinasi
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi supinasi adalah posisi pasien berbaring
1 PENGERTIAN terlentang dengan kepala dan bahu sedikit elevasi
dengan menggunakan bantal.
1. Untuk pasien pascaoperasi dengan anestesu
2 TUJUAN spinal.
2. Mengatasi masalah yang timbul akibat
pemberian posisi yang tidak tepat.
3 Indikasi 1. Di lakukan pada ibu hamil muda
2. Dilakukan pada waktu pre dan post operasi     
4 Kontra Indikasi 1. Pada klien dengan sesak nafas
2. Pada klien dengan fraktur lumbal
5 PERSIAPAN 1. Tempat tidur
ALAT 2. Bantal
3. Gulungan handuk
4. Bantalan kaki
5. Handscoen (jika diperkukan)
1.   Pastikan kebutuhan klien akan tindakan posisi
6 CARA supinasi
BEKERJA 2.   Persiapan klien
o  Sampaikan salam.
o  Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan, gunakan handscoen (jika perlu).

29
5.   Baringkan klien terlentang mendatar di tengah
tempat tidur.
6.   Letakkan bantal di bawah kepala dan bahu klien.
7.  Letakkan bantal kecil di bawah punggung pada
kurva lumbar, jika terdapat celah disana.
8.   Letakkan bantal di bawah kaki, mulai dari lutut
sampai tumit.
9.   Topang telapak kaki klien dengan menggunakan
bantalan kaki.
10. Jika klien sadar atau mengalami paralisis
ekstrimitas atas,elevasikan tangan dan lengan
bawah dengan menggunakan bantal.
11. Lepaskan sarung tangan.
12. Cuci tangan.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan
7 DOKUMENTAS jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)
di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi lateral

30
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi lateral adalah posisi klien berbaring pada salah
1 PENGERTIAN satu sisi bagian tubuh dengan kepala menoleh ke
samping.
1. Untuk memperlancar peredaran darah ke otak.
2 TUJUAN 2. Memudahkan jalannya pembedahan pada posisi
perut.
3. Untuk kenyamanan pada waktu istirahat atau
tidur.
4. Untuk mengurangi tekanan kulit, kepala
belakang, skapula, socrum, tumit.
3 Indikasi 1. Pada klien yang mengalami shock.
2. Pada klien yang mengalami pembedahan daerah
perut.
3. Dilakukan pada klien yang sedang dilakukan
pemeriksaan rectum dan pemberian obat-obatan
melalui anus.
4.  Mendengarkan nada tinggi dari murmur (BJ III)
atau bunyi tambahan yaiti dengan posisi lateral
kiri.
4 Kontra Indikasi Pada klien yang mengalami gangguan pernapasan.
5 PERSIAPAN Tempat tidur, Bantal kecil, Gulungan handuk, Sarung
ALAT tangan (jika diperlukan)
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi lateral
6 CARA 2.   Persiapan klien
BEKERJA -  Sampaikan salam
-   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan
3.   Persiapan lingkungan
o  Tutup gorden / pasang sampiran

31
o  Dekatkan alat-alat
4.   Perawat cuci tangan, gunakan sarung tangan jika
diperlukan
5.   Baringkan klien terlentang mendatar ditengah
tempat tidur
6.   Gulungkan hingga posisi miring
7.   Letakkan bantal dibawah kepala dan leher klien
8.  Fleksikan bahu dibawah paha dan posisikan ke
depan sehingga tubuhtidak menopang bahu tersebut
9.   Letakkan bantal dibawah lengan atas
10. Letakkan bantal dibawah paha dan kaki atas
sehingga ekstermitas bertumpu sacara paraler
dengan permukaan tempat tidur
11. Lepaskan bantal guling dibelakang punggung klien
untuk menstabilkan posisi
12. Lepaskan sarung tangan
13. Cuci tangan
14. Evaluasi respon klien
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi dorsal recubment
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi dorsal recumbent adalah posisi terlentang

32
1 PENGERTIAN dengan kedua kaki ditekuk dan tumit atau telapak kaki
menempel pada tempat tidur dan kedua kaki
direnggangkan.
Agar klien merasa lebih nyaman.
2 TUJUAN Untuk mengurangi gangguan nyeri hebat.
\\
3 Indikasi    Dilakukan pada ibu hamil.
   Dilakukan pada waktu melakukan vulva hygine
4 Kontra Indikasi Dilakukan pada klien yang artritis karena terbatas
untuk menekuk lutut dan panggul.
5 PERSIAPAN Tempat tidur dan Bantal
ALAT
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi dorsal
6 CARA recumbent
BEKERJA 2.   Persiapan klien
o   Sampaikan salam
oInformasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan
3.   Persiapan lingkungan
o Tutup gorden / pasang sampiran
o Dekatkan alat-alat
4.   Cuci tangan
5.   Pasang bantal di bawah kepala pasien
6.   Bantu pasien menekuk lutut dan melebarkan
kedua kaki
7.   Kedua telapak kaki tetap menapak pada tempat
tidur
8.   Kedua tangan pasien diletakkan kearah kepala
9.   Cuci tangan
10. Evaluasi respon klien
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan

33
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi trendelenberg
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi trendelenberg adalah memberikan posisi kepala
1 PENGERTIAN lebih rendah dari pada posisi kaki.
1. Melancarkan peredaran darah keotak.
2 TUJUAN 2. Memudahkan jalannya pembedahan pada
bagian perut.
3. Memudahkan untuk mengalirkan sekresi dari
paru.

3 Indikasi 1. Dilakukan pada yang shock.


2.  Pada klien dengan pemasangan skin traksi
pada kaki.
3. Dilakukan pada klien yang mempunyai
penyakit pembuluh daerah peripheral
4 Kontra Indikasi Pada klien yang mempunyai potensi peningkatan
tekanan cranial.
5 PERSIAPAN  Dua balok penopang kaki tempat tidur
ALAT Bantal
Tempat tidur khusus
1.    Pastikan kebutuhan klien akan posisi dorsal
6 CARA recumbent
BEKERJA \\\ 2.    Persiapan klien
o  Sampaikan salam
o  Informasikan kepada klien tentang tujuan dan prosedur

34
yang akan dilakukan
3.   Persiapan lingkungan
o   Tutup gorden / pasang sampiran
o   Dekatkan alat-alat
4.   Cuci tangan
5. Pasien dalam keadaan terbaring terlentang, pasang
bantal diantara kepala dan ujung tempat tidur
6.  Perawat mengangkat bagian kaki tempat tidur,
perawat lain memberi balok di bagian kaki tempat
tidur
7.  Pada tempat tidur khusus atur posisi pasien dengan
meninggikan bagian kaki pasien
8.   Cuci tangan
9.   Evaluasi respon klien
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan
7 DOKUMENTAS jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)
di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi sims
Tanggal Disahkan oleh
terbit Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi sims adalah posisi dimana pasien berbaring
1 PENGERTIAN miring ke salah satu sisi, baik kekanan atau kekiri.
1. Memudahkan untuk melakukan pemeriksaan
2 TUJUAN rectum (pelepasan).
2. Memudahkan dalam melakukan suntikan.

35
3. Untuk mengurangi tekanan kulit yang
berlawanan dengan punggung.
3 Indikasi 1. Klien yang tidak mampu mengeluarkan sputum
dari mulut.
2. Pada klien yang mempunyai secret yang banyak
agar tidak masuk ke paru-paru.
3. Untuk pemeriksaan vagina atau rectum.
4. Dilakukan pada pasien yang tidak sadar untuk
mempemudahkan jalan masuk air dari mulut
klien.
5. Pada ibu hamil atau punya tumor perut.
4 Kontra Indikasi Klien dengan kelainan sendi pada lutut dan panggul.

5 PERSIAPAN  Tempat tidur dan bantal


ALAT
1. Pastikan kebutuhan klien akan posisi sims
6 CARA 2. Persiapan klien
BEKERJA     Sampaikan salam
 Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan
3. Persiapan lingkungan
    Tutup gorden / pasang sampiran
 Dekatkan alat-alat
4. Cuci tangan
5.  Baringkan klien terlentang mendatar ditengah
tempat tidur
6. Gulingkan pasien hingga posisi miring yang
sebagian pada abdomen
7. Tempatkan bantal di bawah kepala pasien
8. Tempatkan bantal dibawah lengan atas yang
difleksikan yang menyokong lengan setinggi bahu.
Sokong lengan lain diatas tempat tidur
9. Tempatkan bantal dibawah tungkai atas yang

36
difleksikan yang menyokong tungkai setinggi
pinggul
10. Letakkan alat penopang dibawah telapak kai pasien
11. Cuci tangan
12. Evaluasi respon klien
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi lithotomi
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi Lithotomi adalah posisi dimana pasien
1 PENGERTIAN terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan ditarik
ke atas abdomen.
1. Memudahkan untuk pemeriksaan daerah genetalia
2 TUJUAN dan traktus genetalia.
2. Memudahkan masuknya speculum vagina.
3 Indikasi 1. Dilakukan pada klien untuk pemeriksaan kandung

37
kemih.
2.Dilakukan pada pemeriksaan girekologi
4 Kontra Indikasi Pada klien dengan antritis berat.

5 PERSIAPAN  Tempat tidur, bantal dan selimut kain penutup


ALAT
1. Pastikan kebutuhan klien akan posisi lithotomi.
6 CARA 2. Persiapan klien.
BEKERJA o   Sampaikan salam.
o   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.  Persiapan lingkungan.
o    Tutup gorden / pasang sampiran.
o    Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan.
5.   Pasien dalam keadaan berbaring / terlentang.
6.   Angkat kedua paha dan tarik ke atas abdomen.
7.   Tungkai bawah membentuk sudut 90˚ terhadap paha.
Letakkan bagian lutut / kaki pada penyangga kaki di
tempat tidur khusus untuk posisi lithotomi.
9.   Pasang selimut.
10.   Cuci tangan.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan
7 DOKUMENTAS jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)
di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi pronasi
Tanggal terbit Disahkan oleh

38
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring di
1 PENGERTIAN atas abdomen atau tengkurap dengan kepala menoleh
ke samping.
1. Untuk kenyamanan pada waktu istirahat atau
2 TUJUAN tidur.
2. Untuk menukar posisi guna mengurangi
tekanan kulit.
3. Untuk menjaga adanya kontra fleksi telapak
kaki.
4. Pada klien tidak sadar dapat memudahkan
pengeringan lendir dari mulut.
5. Bila digunakan secara periodic, untuk
membantu mencegah penekukan kontruktur
dari pinggang dan lutut.
6. Mencegah hipereaksi tulang belakang.
3 Indikasi 1. Untuk klien yang baru sembuh dari
pembedahan pada mulut atau kerongkongan.
2. Hanya dapat dilakukan pada klien yang
punggungnya dapat diluruskan secara tepat,
dan dilakukan dalam waktu cepat.
4 Kontra Indikasi 1. Tidak disarankan untuk orang yang
bermasalah pada daerah servikal atau lumbal
tulang belakang.
2. Untuk klien dengan masalah jantung dan
pernafasan, karena akan menyebabkan mati
lemas, dan pembatasan perluasan dada.
5 PERSIAPAN 1. Beberapa bantal / registin (sandaran
ALAT punggung).
2. Penyangga kaki
3. Tempat tidur

39
        1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi pronasi.
6 CARA 2.   Persiapan klien.
BEKERJA - Sampaikan salam
- Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan.
5.   Membantu pasien duduk.
6.  Menyusun bantal / memasang registin (sandaran)
dengan sudut semi fowler 15-45˚.
7.  Pada tempat tidur khusus atur posisi dengan
meninggikan bagian kepala pasien.
8.   Menaikkan pasien.
 Perawat berdiri di sebelah kanan
menghadap pasien.
 Menganjurkan pasien untuk menopang
badan dengan kedua lengan.
 Tangan kanan perawat membantu di bawah
ketiak dan tangan kiri di belakang
punggung pasien.
 Menganjurkan pasien  untuk mendorong
kepalanya kebelakang.
9.  Bila pasien tidak dapat membantu :
o  Dua perawat berdiri di kedua sisi tempat tidur.
o  Masing-masing perawat merentangkan satu tangan di
bawah bahu dan satu tangan di bawah pangkal
pah, saling berpegangan.
10.   Letakkan bantal kecil di bawah kepala klien.
11.   Tempatkan bantal tipis di punggung bawah pada
kurva lumbal bila dada celah.

40
12.   Tempatkan bantal tipis di bawah paha.
13.   Tempatkan bantal kecil di bawah pergelangan kaki.
14.   Topang telapak kaki klien dengan menggunakan
penyangga kaki / bantalan kaki.
15.   Cuci tangan.
16.   Evaluasi respon klien dan lakukan rencana tindak
lanjut.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
Mengatur posisi pronasi
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring di
1 PENGERTIAN atas abdomen atau tengkurap dengan kepala menoleh
ke samping.
1. Untuk kenyamanan pada waktu istirahat atau
2 TUJUAN tidur.
2. Untuk menukar posisi guna mengurangi tekanan
kulit.
3. Untuk menjaga adanya kontra fleksi telapak kaki.
4. Pada klien tidak sadar dapat memudahkan
pengeringan lendir dari mulut.

41
5. Bila digunakan secara periodic, untuk membantu
mencegah penekukan kontruktur dari pinggang
dan lutut.
6. Mencegah hipereaksi tulang belakang.
3 Indikasi 1. Untuk klien yang baru sembuh dari pembedahan
pada mulut atau kerongkongan.
2. Hanya dapat dilakukan pada klien yang
punggungnya dapat diluruskan secara tepat, dan
dilakukan dalam waktu cepat.
4 Kontra Indikasi 1. Tidak disarankan untuk orang yang bermasalah
pada daerah servikal atau lumbal tulang belakang.
2. Untuk klien dengan masalah jantung dan
pernafasan, karena akan menyebabkan mati lemas,
dan pembatasan perluasan dada.
5 PERSIAPAN 1. Beberapa bantal / registin (sandaran punggung).
ALAT 2. Penyangga kaki
3. Tempat tidur
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi pronasi.
6 CARA 2.   Persiapan klien.
BEKERJA - Sampaikan salam
- Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan.
5.   Membantu pasien duduk.
6.  Menyusun bantal / memasang registin (sandaran)
dengan sudut semi fowler 15-45˚.
7.  Pada tempat tidur khusus atur posisi dengan
meninggikan bagian kepala pasien.
8.   Menaikkan pasien.
 Perawat berdiri di sebelah kanan

42
menghadap pasien.
 Menganjurkan pasien untuk menopang
badan dengan kedua lengan.
 Tangan kanan perawat membantu di bawah
ketiak dan tangan kiri di belakang
punggung pasien.
 Menganjurkan pasien  untuk mendorong
kepalanya kebelakang.
9.  Bila pasien tidak dapat membantu :
o  Dua perawat berdiri di kedua sisi tempat tidur.
o  Masing-masing perawat merentangkan satu tangan
di bawah bahu dan satu tangan di bawah
pangkal paha, saling berpegangan.
10.   Letakkan bantal kecil di bawah kepala klien.
11.   Tempatkan bantal tipis di punggung bawah pada
kurva lumbal bila dada celah.
12.   Tempatkan bantal tipis di bawah paha.
13.   Tempatkan bantal kecil di bawah pergelangan kaki.
14.   Topang telapak kaki klien dengan menggunakan
penyangga kaki / bantalan kaki.
15.   Cuci tangan.
16.   Evaluasi respon klien dan lakukan rencana tindak
lanjut.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

43
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
MengaturPosisi Genu Pektoral (Knee-Chest)
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi Genu Pektoral (Knee-Chest) adalah Posisi klien
1 PENGERTIAN dengan berlutut kedepan dengan kepala dan dada
teratas rileks pada tempat tidur.
   Memberikan pemaparan maksimal pada daerah
2 TUJUAN rectal.
   Mempermudah pemeriksaan rectum.
3 Indikasi Pemeriksaan rectum dan perineum wanita atau selama
prostoskopi (penempatan bidang visualisasi pada
rectum).
4 Kontra Indikasi    Klien dengan artritis atau kelainan bentuk
persendian lainnnya.
5 PERSIAPAN  Tempat tidur, Selimut dan Sarung tangan.
ALAT
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi pectoral.
6 CARA 2.   Persiapan klien.
BEKERJA o  Sampaikan salam.
oInformasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan.
5.  Minta pasien untuk mengambil posisi menungging
dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada
matras tempat tidur.
6.   Pasang selimut untuk menutupi daerah perineal

44
pasien.
7.   Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
8.   Evaluasi respon klien.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
MengaturPosisi fowler
Tanggal terbit Disahkan oleh
Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi duduk, dimana pasien istirahat diatas tempat
1 PENGERTIAN tidur dengan tubuh agak dinaikan keatas dan derajat
ketinggian (75 – 90) derajat.
Memberikan perasaan senang.
2 TUJUAN    Membantu melancarkan keluarnya cairan.
   Mengurangi sesak nafas.

3 Indikasi    Klien  sesak nafas (penyakit jantung dan asma)


atau gangguan pernafasan.
   Klien  dengan resiko ulkus.
Klien yang sedang makan atau minum
4 Kontra Indikasi    Fraktur tulang pelvis, post operasi abdoment.
   Faktur tulang belakang (vetebra lumbalis).
5 PERSIAPAN  Tempat tidur dan penopang bantal
ALAT

45
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi fowler.
6 CARA 2.   Persiapan klien.
BEKERJA o   Sampaikan salam.
o   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.   Cuci tangan.
5.   Tinggikan kepala tempat tidur 75-90˚.
6.   Topangkan kepala di atas tempat tidur atau bantal
kecil.
7.  Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan
tangan bila pasien tidak dapat mengontrolnya
secara sadar/tidak dapat menggunakan tangan dan
lengan.
8.   Tempatka bantal tipis di punggung bawah
9.   Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah paha.
10. Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah pergelangan kaki.
11. Tempatkan papan kaki di dasar kaki pasien.
12. Turunkan tempat tidur.
13. Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat
kenyamanan dan titik potensi tekanan.
14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
15. Evaluasi respon klien.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan
7 DOKUMENTAS jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)
di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

46
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
MengaturPosisi semi fowler
Tanggal Disahkan oleh
terbit Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Yang dimaksud dengan sikap semi fowler adalah
1 PENGERTIAN sikap dalam posisi setengah duduk 15 derajat sampai
dengan 60 derajat.
Mobilisasi.
2 TUJUAN Memberikan perasaan lega kepada klien yang sesak
nafas.
Memudahkan perawatan misalnya memberikan
makan.
3 Indikasi Klien sesak nafas.
Klien pasca operasi struma, hidung, thorax.
Klien dengan penyakit tenggorakan yang
memproduksi sputum, aliran gelembung dan kotoran
pada saluran pernafasan.
4 Kontra Indikasi Pada klien yang post operasi servikalis vertebra.
Contusion serebri atau gegar otak.
Comser (comusio seribri) atau memar otak.
5 PERSIAPANALA  Tempat tidur dan penopang bantal
T
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi semi
6 CARA BEKERJA fowler.
2.   Persiapan klien.
o   Sampaikan salam.
o   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan

47
prosedur yang akan dilakukan.
3.   Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4. Cuci tangan.
5. Tinggikan kepala tempat tidur 45-60˚.
6. Topangkan kepala di atas tempat tidur atau bantal
kecil.
7. Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan
tangan bila pasien tidak dapat mengontrolnya
secara sadar/tidak dapat menggunakan tangan dan
lengan.
8.  Tempatka bantal tipis di punggung bawah
9.  Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah paha.
10. Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah pergelangan kaki.
11. Tempatkan papan kaki di dasar kaki pasien.
12. Turunkan tempat tidur.
13. Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat
kenyamanan dan titik potensi tekanan.
14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
15. Evaluasi respon klien.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTASI dan jam pelaksanaan
2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP
Standar Operasional Prosedur (SOP)
JUDUL
Mengaturortopnea
Tanggal Disahkan oleh

48
terbit Ka. Prodi PSIK

Hikayati
Nip
Posisi ortopnea merupakan adaptasi dari posisi
1 PENGERTIAN Fowler tinggi, klien duduk di tempt tidur atau di tepi
tempat tidur degan meja yang menyilang di atas
tempat tidur.
Memudahkan ekspansi paru untuk pasien dengan
2 TUJUAN kesulitan bernafas yang ekstrim dan tidak bisa tidur
terlentang atau posisi kepala hanya bisa pada elevasi
sedang.
3 Indikasi Pasien dengan sesak berat dan tidak bisa tidur
terlentang.
4 PERSIAPAN Tempat tidur, Bantal kecil, Gulungan handuk,
ALAT Bantalan kaki dan Sarung tangan jika diperlukan
1. Pastikan kebutuhan klien akan posisi ortopnea
5 CARA BEKERJA 2. Persiapan klien.
o   Sampaikan salam.
o   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan
prosedur yang akan dilakukan.
3.  Persiapan lingkungan.
o  Tutup gorden / pasang sampiran.
o  Dekatkan alat-alat.
4.  Cuci tangan.
5.  Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum
kepaa dinaikan.
6.  Tinggikan kepala tempat tidur 90˚.
7.  Letakkan bantal di bawah kaki, mulai dari lutut
sampai tumit.
8.  Pastikan tidak terdapat tekanan pad area poplitea
dan lutut dalam keadaan fleksi
9.   Letakkan gulungan handuk di samping masing-
masing paha.

49
10. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan
bantalan kaki.
11. Lepaskan saung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasikan tindakan.Gunakan bantal untuk
menyokong lengan dan tangan bila pasien tidak
dapat mengontrolnya secara sadar/tidak dapat
menggunakan tangan dan lengan.
13. Tempatkan bantal tipis di punggung bawah
14. Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah paha.
15. Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk di
bawah pergelangan kaki.
16. Tempatkan papan kaki di dasar kaki pasien.
17. Turunkan tempat tidur.
18. Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat
kenyamanan dan titik potensi tekanan.
19. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
20. Evaluasi respon klien.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
6 DOKUMENTASI dan jam pelaksanaan
2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk
SOAP

Standar Operasional Prosedur (SOP)


JUDUL
MengaturPosisi dangling
Tanggal Disahkan oleh
terbit Ka. Prodi PSIK

50
Hikayati
Nip
Posisi klien dengan duduk diatas tempat tidur dan kaki
1 PENGERTIAN berjuntai.
   Memberikan kenyamanan pada pasien setelah tidur
2 TUJUAN lama.
   Memungkinkan pengeliatan terhadap kesimetrisan
tubuh bagian atas.
3 Indikasi Klien yang tidur di bed terlalu lama.
   Klien yang akan dilakukan pemeriksaan fisik.
4 Kontra Indikasi Klien yang secara fisik yang tidak mungkin untuk
duduk.
5 PERSIAPAN  Tempat tidur
ALAT
1.   Pastikan kebutuhan klien akan posisi fowler.
6 CARA 2.   Persiapan klien.
BEKERJA o   Sampaikan salam.
o   Informasikan kepada klien tentang tujuan dan prosedur
yang akan dilakukan.
3.Cuci tangan.
4. Klien duduk diatas tempat tidur dengan kaki
menggantung dipinggir tempat tidur.
5. Beri sandaran untuk duduk.
6.Rapikan tempat tidur klien.
7.Mencuci tangan.
8. Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat
kenyamanan dan titik potensi tekanan.
9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
10. Evaluasi respon klien.
1. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal
7 DOKUMENTAS dan jam pelaksanaan
I 2. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan
objektif) di dalam catatan
3. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP

51
DAFTAR PUSTAKA

Darliana, Devi, dkk. 2014. Kebutuhan Aktivitas dan Mobilisasi. Fakultas


Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
Alimul Hidayat, A. Aziz. 2006. Pengantar  Kebutuhan Dasar Manusia Jilid 1.
Surabaya : Salemba Medika.
Alimul Hidayat, A. Aziz dan Uliyah, Musrifatul. 2004. Buku Saku Praktikum
Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC.

52