Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

(P-IV)

ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH

NAMA : AYU SUKMA TOFANNY

NIM : 19020200015

TANGGAL : 17 DESEMBER 2020

1. Tujuan Percobaan
Mempelajari teknik isolasi kafein dari daun teh dengan metode maserasi dan
ekstraksi cai-cair.
2. Dasar Teori
Keanekaragaman hayati Indonesia yang menjadikannya sebagai lahan utama
bagi mereka yang mengembangkan penemuan berbagai senyawa kimia yang
ditemukan di alam. Hal ini memerlukan penelitian khusus untuk melakukan isolasi
senyawa kimia yang terkandung pada bahan alam tertentu, guna untuk menambah
pengetahuan tentang proses isolasi dan senyawa kimia. Kandungan senyawa kimia
dalam bahan alam tertentu dapat digunakan dalam bidang kesehatan.Berbagai
tumbuhan dapat dijadikan sebagai sumber obat seperti kelompok sayur-sayuran,
buah-buahan, bumbu dapur dan bunga-bungaan serta tumbuhan liar (Zacky dalam
Isa 2008). Teh adalah suatu bahan pangan yang bisa diolah menjadi sebuah produk.
Menurut gold bery (1994) untuk mereduksi resiko kanker pencernaan degan
mengensumsi sepuluh cangkir atau lebih teh hijau. Kemudian dengan mengensumsi
teh hijau secara teratur, dua sampai empat gelas sehari dapat menstimulasi
terjadinya penurunan tekanan darah (Husain, 2014). Teh memiliki manfaat
diantranya dalam mencegah dan pengobatan penyakit karena bersifat anti bakteri
dan antioksidan (Dianita, 2015).
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian
sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil
zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran
bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali
dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis. Misalnya saja, karena
komponennya saling bercampur dengan sangat erat, peka terhadap panas, beda
sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah
(Brown, 1998). Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia
yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa
komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada
lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Brown, 1998).
Jenis-jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah :
a. Ekstraksi Cara Dingin
b. Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud rusak
karena pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolasi
c. Ekstraksi Cara Panas
d. Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan adanya panas
secara otomatis akan mempercepat proses penyarian dibandingkan cara dingin.
Metodanya adalah refluks, ekstraksi dengan alat soxhlet dan infusa.
Proses ekstraksi pelarut belangsung dalam tiga tahap, yaitu :
1. Pemebentukan kompleks tidak bermuatan yang merupakan golongan ektraksi
2. Distribusi dari kompleks yang terekstraksi
3. Interaksinya yang mungkin dalam fase organik (Khopkar, 2003). kafein
merupakan jenis alkaloid yang secara alamia terdapat dalam biji kopi, daun teh,
daun mete biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein
mememiliki berat molekul 194,19 gr/mol dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan ph
6,9 (larutan kafein 1% dalam air). Secara ilmiah, efek langsung dari kafein tehadap
kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti
menstimulasi pernapasan dan jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa
gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut jantung tak beraturan
(tachycardia) (Brown, 1998).
Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, terseir, atau
siklik. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah d ketahui yang merupakan golongan
senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya
sebagai bagaian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah golongan yang
sangat heterogen berkisar dari senyawasenyawa yang sederhana seperti coniine
sampai ke stsruktur pentasiklik strychnine. Bnyak alakaloid adalah terpenoid di
alam dan beberapa adalah steroid (Brown,1998).
Sublimasi merupakan cara yang digunakan untuk pemurnian senyawa –
senyawa organic yang berbentuk padatan.pemanasan yang dilakukan tehadap
senyawa organic akan menyebabkan terjadinya perubahan sebagai berikut: apabila
zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan tertentu
zat tersebut akan meleleh kemudian mendidih. Disini terjadi perubahan fase dari
padat ke cair lalu kefase gas.
Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan cair. Pada tekanan
dan temperature tertentu (pada titik didihnya) akan berubah menjadi fase gas.
Apabila zat tersebut pada suhu kamar berada dalam keadaan padat, pada tekanan
dan temperature tertentu akan lansung berubah menjadi fase gas tanpa melalui fase
cair terlebih dahulu. Zat padat sebagai hasil reaksi biasanya bercampur dengan zat
padat lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan zat-zat padat yang kita inginkan,
perlu dimurnikan terlebih dahulu. Prinsip proses ini adalah perbedaan kelarutan zat
pengotornya. Rekristalisai dapat dilakukan dengan cara melarutkan cuplikan
kedalam pelarut yang sesuai (Underwood,2002).
Teh kemasan merupakan salah satu produk minuman yang digemari
masyarakat. Jumlah kafein dalam produk minuman teh bervariasi tergantung
kepada cara pengeringan, tipe produk dan cara penyajiannya. Tiap orang rata–rata
meminum teh tiap hari tidak kurang dari 120 ml. Selain sebagai minuman yang
menyegarkan, teh telah lama diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh.
Diantaranya, mampu mencegah dan menyembuhkan beberapa penyakit, mulai dari
kanker, jantung koroner, diabetes, mengurangi stress, mempertahankan berat tubuh
ideal, menurunkan tekanan darah, pelembut kulit dan lain-lain. Sedangkan
konsumsi kafein yang berlebihan dapat menimbulkan beberapa dapat menyebabkan
gugup, gelisah, tremor, insomnia, hiperestesia, mual, dan kejang (Verawati, 2014 :
43-45).
3. Dasar Reaksi dan Perhitungan

4. Tinjauan Bahan
a. Daun teh kering
Teh adalah minuman yang mengandung kafeina, sebuah infusi yang dibuat
dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan
dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman
teh dibagi menjadi empat kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh
putih.
Istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-
rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile,
krisan dan jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.
Teh merupakan sumber alami kafeina, teofilin, dan antioksidan dengan
kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Cita rasa sedikit
pahit dari teh merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
b. Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat (disebut juga sebagai soda kue [bahasa Inggris: baking
soda], sodium bikarbonat, natrium hidrogen karbonat) adalah senyawa kimia
dengan rumus NaHCO3. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi bicnat.
Senyawa ini termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama.
Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk.
Natrium bikarbonat larut dalam air. Senyawa ini digunakan dalam roti atau kue
karena bereaksi dengan bahan lain membentuk gas karbon dioksida, yang
menyebabkan roti "mengembang".
c. Kalsium klorida
Kalsium klorida adalah senyawa anorganik, sebuah garam dengan rumus
kimia CaCl2. Ia adalah padatan kristal tak berwarna pada suhu kamar, sangat
larut dalam air.
Kalsium klorida sering dijumpai sebagai hidrasi padat dengan rumus umum
CaCl2(H2O)x dengan x = 0, 1, 2, 4, dan 6. Senyawa ini terutama digunakan
untuk penghilang es dan pengendali debu. Karena garam anhidrat adalah
higroskopis, ia digunakan sebagai desikan (bahasa Inggris: dessicant).
d. Klorofom
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform
dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, akan tetapi
penggunaanya sudah dilarang karena telah terbukti dapat merusak liver dan
ginjal. Kloroform kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di
laboratorium. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan bening, mudah
menguap, dan berbau khas.
Nama resmi : CHLOROFORM
Nama lain : Kloroform
RM/BM : CHCl3/119,38
Pemerian : Cairan tidak berwarna, mudah menguap.
Kelarutan : Larut dalam 2000 bagian air, etanol, eter.
Kegunaan : Sebagai eluen dan pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
e. Aquades
Nama rasmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai
rasa.
Kegunaan : Sebagai pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

5. Metodelogi Percobaan

a. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah hot plate stirrer, beaker glass, neraca
analitik, corong Buchner, corong pisah, klem dan statif, pengaduk gelas, labu
Erlenmeyer, dan corong gelas.

b. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah daun teh kering, natrium bikarbonat,
kalsium klorida, kloroform, aquades, dan kertas saring.
c. Prosedur Kerja
Destilasi Uap

• Hubungkan kondensor dengan


selang air•yang
Memasukkan 25 gram daun teh kering ke dalam beaker glass 500 mL
telah tersambung

•diMenambahkan
pompa air 20 gram natrium bikarbonat ke dalam beaker glass
• Masukkan filtrat hasil ekstraksi
tersebut
soxhlet dan batu didih ke dalam
• Menambahkan 250 mL air mendidih ke dalam beaker glass
labu distilasi
• Mengaduk sebentar dan diamkan selama 10 menit
• Nyalakan heating mantle, set
• Menyaring
temperatur pemanasan larutan
>70 oC tersebut dengan corong Buchner, pisahkan filtratnya

dan letakkan
• Lakukan destilasi pada labu Erlenmeyer
hingga seluruh
pelarut•n-heksana menguap
Mendinginkan filtrat yang diperoleh pada suhu kamar
• Lakukan• uji
Memindahkan ke dalam corong pisah, tambahkan 30 mL kloroform
indeks bias antara
pelarut dan filtrat pekat
• Mengocok corong pisah selama 5 menit, sambil membuka tutup kran
iri
corong pisah untuk mengeluarkan gas di dalamnya
• Mendiamkan sebentar hingga terpisah menjadi dua lapisan, pisahkan
bagian lapisan kloroform
• Mengulangi lagi proses ekstraksi dengan 30 mL kloroform
• Mengumpulkan fasa organik kloroform yang terbentuk ke dalam labu
erlenmeyer
• Menambahkan 1 gram kalsium klorida anhidrat ke dalam labu
Erlenmeyer, aduk selama 10 menit
• Menyaring filtrat yang diperoleh dengan corong gelas
• Menguapkan pelarut kloroformnya hingga diperoleh kristal
• Mengeringkan kristal yang diperoleh
• Menimbang kristal dan hitung rendemennya.
• Melakukan uji organoleptik pada kristal kafein yang diperoleh

Hasil
d. Rangkaian alat

6. Pembahasan

a. Prinsip Percobaan
Adapun prinsip dari percobaan ini yaitu pemisahan senyawa berdasarkan
perbedaan kepolaran dengan menggunakan metode ektraksi cair – cair (ECC)
atau partisi dengan pelarut air yang bersifat polar dan kloroform yang bersifat
non polar.
b. Analisa Prosedur
Kafein adalah suatu senyawa organik yang mempunyai nama lain 1,3,7-
trimetixanthin. Kafein mudah larut dalam air panas dan kloroform, tetapi sedikit
larut dalam air dingin, alkohol dan beberapa pelarut organik lainnya. Contohnya
teh yang kita minum dapat membuat kita lebih bersemangat dalam beraktivitas.
Pada percobaan ini yang dilakukan yaitu mengisolasi kafein dari teh.
Pertama-tama masukkan 5 gram teh ke dalam erlenmeyer kemudian
ditambahkan 20 mL aquadest untuk melarutkan senyawa kafein dalam teh dan
dipanaskan selama 20 menit untuk mempercepat proses pelarutan, kemudian
disaring filtrat, selanjutnya ditambahkan 2 gram natrium karbonat kemudian
dipanaskan selama 10 menit untuk mrngendapkan tannin yang terdapat dalam
teh kemudian saring panas-panas dan kemudian didinginkan. Dilakukan proses
ekstraksi cair-cair dengan cara filtrat dimasukkan kedalam corong pisah dan
tambahkan 25 mL kloroform untuk menarik senyawa kafein yang dilakukan
sebanyak 3 kali dan diambil lapisan kloroform kemudian digabung semua filtrat
dan diuapkan. Alasan tidak digunakan air pada saat ekstraksi cair-cair
karena ingin dilakukan pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan kepolaran
sesuai dengan prinsip partisi yaitu pemisahan berdasarkan pelarut yang tidak
saling bercampur
Pada uji kualitatif, kristal yang telah diuapkan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi
mayer dan apabila hasilnya positif berwarna kuning muda serta pereaksi
dragendorf positif berwarna orange. Namun, pada pengujian ini tidak dilakukan
karena terbatasnya waktu, alat serta bahan pada saat praktikum.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, % rendamen yang didapatkan yaitu
62,6 %, penentuan kadar ini didasarkan pada distribusi solut dalam hal ni kafein
dalam the antara dua fase yaitu fase organik dan fase air.
Adapun faktor-faktor kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan
tidak sesuai dengan prosedur antara lain : bahan yang digunakan sudah tidak
baik, alat-alat yang terkontaminasi dengan zat lain dan proses penimbangan
bahan.

7. Kesimpulan

a. Kafein dapat diperoleh dari bahan alam seperti the, kopi, coklat, atau koka
dimana kafein dapat dieroleh dengan metode ekstrasi
b. Ekstrasi dipengaruhi oleh sifat kelarutan dan kepolaran dari senyawa yang akan
diisolasi dan pereaksi yang digunakan
c. Kafein adalah suatu senyawa organic yang mempunysi nama lain 1, 3, 7 –
trimetixantin yang mudah larut dalam air panas dan kloroform tetapi sedikit
larut dalam air dingin, alcohol dan beberapa pelarut organic lainnya
d. Fungsi penambahan dari Na2SO4 anhidrat adalah mengikat air yang masih
terbawa dalam larutan kloroform – kafein, sehingga larutan bebas air
e. Fungsi kloroform adalah sebagai pelarut organic karena bersifat non polar
sehingga dapat mengikat kafein
f. Fungsi aseton panas adalah melarutkan kafein dan pengotor yang masih
tertinggal
g. Fungsi pemanasan pada Kristal murni adalah untuk mendapatkan Kristal murni
yang kering

8. Daftar Pustaka

Bialangi, N., & Musa, W. (2007). JA, Subarnas, A., Ischak, Netty.,(2008). Studi
Kandungan

Kimia dan Aktivitas Biologi Flavinoid dari Daun Tumbuhan Jarak Pagar (Jatropha
Curcas Linn) Asal Gorontalo, 2007-2008.

Djuramang, r. R., retnowati, y., & bialangi, n. (2017). Pengaruh ekstrak buah mengkudu

(morinda citrifolia) terhadap pertumbuhan staphylococcus aureus The Effect of Noni

Fruit Extracts (Morinda Citrifolia) on Staphylococcus aureus growth. GLASSER, 2(2).

Usman, A. D., Lukum, A., & Bialangi, N. (2009). Isolasi dan Karakterisasi Kitosan dari
Kulit

Udang Windu (Peneaus monodon) yang Dibudidayakan di Gorontalo. Jurnal Entropi,


5(01).

Idrus, R. B., Bialangi, N., & Alio, L. (2013). Isolasi dan Karakterisasi Senyawa
Alkaloid dari Biji Tumbuhan Sirsak (Annona muricata Linn). Sainstek, 7(01).

Gafur, M. A., Isa, I., & Bialangi, N. (2013). Isolasi dan identifikasi Senyawa Flavonoid
dari daun Jamblang (Syzygium cumini). Naskah Skripsi S, 1.

9. Jurnal
Wilantari dkk.
pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607
Jurnal Farmasi Udayana, Vol 7, No 2, Tahun 2018, 53-62

Isolasi Kafein Dengan Metode Sublimasi dari Fraksi Etil Asetat Serbuk Daun
Teh Hitam (Camelia sinensis)
P. D. Wilantari1, N. R. A. Putri1, D. G. P. Putra1, I. G. A. A. K. Nugraha1, Syawalistianah1, Prawitasari, D.N.D1.,
P. O. Samirana1

1Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Badung,
80361

E-mail: dessywilantari@gmail.com

ABSTRAK
Kafein memiliki efek farmakologis yaitu sebagai stimulan dari sistem saraf pusat dan metabolisme,
digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi keletihan fisik dan juga dapat meningkatkan
tingkat kewaspadaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil identifikasi dan profil kromatografi
senyawa kafein yang diisolasi dari fraksi etil asetat serbuk daun teh hitam (Camelia sinensis) dengan metode
sublimasi. Pemilihan sampel tanaman teh hitam berdasarkan atas pertimbangan kandungan kafein teh
yang lebih tinggi (2-5% dari berat kering) dibandingkan dengan kafein yang terkandung dalam biji kopi
(3% dari berat kering). Pemisahan kafein dari daun Camelia sinensis dilakukan dengan ekstraksi
menggunakan metode dekokta, fraksinasi dengan etil asetat, dan subfraksinasi dengan metode sublimasi.
Proses ekstraksi menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 22,3 %, dan dari keseluruhan proses didapatkan
rendemen isolate kafein sebesar 0.53%. Identifikasi dan uji kemurnian dilakukan dengan KLT
spektrofotodensitometri dengan fase diam plat aluminium silica gel GF254 dan fase gerak etil asetat :
metanol (97:3) didapatkan nilai Rf 0,42 dan didapatkan hasil korelasi (start, maks) sebesar 0,9998 dan
korelasi (maks, end) sebesar 0,999075.
Kata kunci: Teh (Camelia sinensis), kafein, fraksinasi, sublimasi, KLT spektrofotodensitometri
ABSTRACT
Caffeine has pharmacological effects as a stimulant from the central nervous system and
metabolism, is used well for treatment to reduce physical fatigue and can also increase alertness. This
study aims to determine the results of identification and chromatographic profile of caffeine compounds
isolated from ethyl acetate fraction of black tea leaf powder (Camellia sinensis) by sublimation method. The
selection of black tea plants is based on consideration of higher caffeine of tea (2-5% of dry weight) than
in coffee beans (3% of dry weight). The separation of caffeine from Camelia sinensis leaves was carried out
by extraction using the decocta method, fractionation with ethyl acetate, and subfractination using the
sublimation method. The extraction process produced extract yields of 22.3%, and from the whole
process the yield of caffeine isolates was 0.53%. Identification and purity tests were carried out by TLC-
spectrophotodensitometry with the stationary phase of aluminum silica gel GF254 plate and the mobile
phase of ethyl acetate: methanol (97: 3) obtained Rf value of 0.42 and the correlation results (start, max)
of 0.9998 and correlation (max, end) of 0.999075.
Keywords: Tea (Camellia sinensis), caffeine, fractination, sublimation, TLC- spectrophotodensitometry

53
1. PENDAHULUAN dari konsumsi kafein secara berlebihan antara lain
Teh (Camellia sinensis) yang masuk dalam kecemasan, insomnia, wajah memerah, diuresis,
famili Theaceae diyakini mempunyai manfaat gangguan saluran cerna, kejang otot, takikardia,
kesehatan, yakni memiliki khasiat sebagai anti- aritmia, peningkatan energi dan agitasi psikomotor.
inflamasi, anti oksidasi, anti alergi, dan anti Kafein dapat berinteraksi dengan siprofloksasin
obesitas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa dimana mengakibatkan terjadinya penurunan
senyawa aktif yang terdapat pada teh juga dapat metabolism hepatik kafein sehingga efek
mencegah berbagai penyakit, seperti mengurangi farmakologi kafein dapat meningkat (Sukandar
kadar kolesterol dan mencegah penyakit jantung dkk, 2008).
berpotensi sebagai antioksidan, dan dapat menjadi Dalam metode yang digunakan pemilihan
salah satu alternatif dalam menangani penyakit pelarut juga menjadi hal yang perlu
infeksi bakteri (Martono dan Setiyono, 2014). dipertimbangkan. Sehingga pada tahapan proses
Teh mengandung beberapa senyawa fraksinasi dengan ekstraksi cair-cair digunakan etil
metabolit sekunder terutama bagian daun. asetat sebagai fase organik. Dimana pada penelitian
Kandungan kimia daun teh sangat bervariasi Senol dan Aydin (2006) menggunakan kloroform
tergantung pada musim, kondisi tanah, perlakuan dan air ditemukan bahwa kloroform lebih efektif
kultur teknis, umur daun, dan banyaknya sinar dalam mengisolasi kafein dibandingkan dengan air.
matahari yang diterima (Pusat Penelitian Teh dan Namun penggunaan kloroform harus dibatasi
Kina [PPTK], 2008). Berdasarkan proses karena efek toksisitasnya. Komponen fenolik dapat
pengolahnya terdapat beberapa jenis teh salah diekstraksi dari bahan tumbuhan dengan
satunya teh hitam. Teh hitam adalah jenis teh yang menggunakan pelarut polar seperti air, metanol
dibuat melalui proses pelayuan, penggilingan, etanol aseton atau pelarut semi polar seperti etil
oksimatis dan pengeringan. Teh hitam memiliki asetat (Katja, 2008). Pelarut etil asetat bersifat semi
kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan polar yang memiliki titik didih yang relatif rendah
teh hijau (Rohdiana, 2015). yaitu 77oC sehingga mudah menguap (bersifat
Keberadaan alkaloid biasanya sebagai volatil), berwujud cairan yang tidak beracun, tidak
garam organik dalam tumbuhan dalam bentuk berwarna, dan memiliki aroma khas (Susanti,
senyawa padat berbentuk kristal dan kebanyakan 2012).
berwarna. Pada daun atau buah segar biasanya
keberadaan memberikan rasa pahit (Simbala, 2. BAHAN DAN METODE
2009). Kafein merupakan alkaloid putih dengan Bahan dan Alat
rumus senyawa kimia C8H10N4O2, dan rumus Bahan yang digunakan pada penelitian ini
bangun 1,3,7-trimethylxanthine (Isnindar et al.,2016). adalah serbuk daun C. sinensis yang ada di pasaran
Kafein memiliki efek farmakologi sebagai dan tidak mengalami dekafeinasi (Merk-X®),
stimulan dari sistem saraf pusat dan metabolisme, metanol p.a., etil asetat p.a., etanol 96% p.a.,
digunakan secara baik untuk pengobatan dalam akuades, kertas saring, Plat KLT Al Silika Gel GF
mengurangi keletihan fisik dan juga dapat 254, asam sulfat P, NaOH, Pereaksi Mayer,
meningkatkan tingkat kewaspadaan sehingga rasa Wagner, dan Dragendroff, kloroform p.a., N-
ngantuk dapat ditekan. Kafein juga merangsang heksan p.a., HCl, kalsium hidroksida, KI, I2 dan
sistem saraf pusat dengan cara menaikkan tingkat aseton P.
kewaspadaan, sehingga fikiran lebih jelas dan Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu
terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik. Rotary Evaprator, Gelas beker, Erlenmeyer,
Konsumsi kafein secara rutin dapat menyebabkan
terjadinya toleransi. Tanda-tanda dan gejala-gejala
Ekstraksi Cair-Cair
Pipet tetes, Corong kaca, Penjepit kayu, Lap,
Ekstrak air C. sinensis ditambahkan natrium
Pinset, Corong pisah, Hot plate (Corning PC 420
klorida 78 gram. Selanjutnya ditambahkan
D), Waterbath (MEMERT),
Ca(OH)2 sebanyak 1 gram. Selanjutnya disaring
Spektrofotodensitometri (CAMAG), Lampu UV
campuran ekstrak menggunakan kertas saring
254 dan 366 nm (CAMAG), Cawan Porselin,
dengan bantuan vakum. Dimasukkan filtrat dalam
Batang Pengaduk, Chamber (CAMAG), Botol vial,
corong pisah. Dilakukan ekstraksi cair-cair dengan
Aluminium Foil, Plastik Ikan, Blender (Miyako),
pelarut etil asetat 45 mL dengan pengulangan
Oven Binder, Timbangan analitik (ADAM AFP-
sebanyak 5 kali. Disatukan fraksi etil asetat dalam
360L).
tabung lalu diuapkan dengan rotary evaporator.
Metode
KLT Hasil Fraksinasi
Penyiapan Bahan Ekstrak air serbuk daun C. sinensis, fraksi etil
Bahan yang digunakan berupa serabut daun asetat, dan fraksi air masing-masing sebanyak 1 mL
C. sinensis siap konsumsi dalam kemasan kotak yang setelah diuapkan kemudian masing-masing
dapat dibeli di Toko Serba Ada (Toserba) Sumber ditambahkan 1 mL metanol untuk identifikasi
Jaya Puri Gading, Jimbaran, Kecamatan Kuta dengan KLT. Plat Al Silika Gel GF254 dipotong
Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Serabut daun C. dengan ukuran 5x10 cm. Fase gerak yang
sinensis merupakan serat kasar dari hasil digunakan adalah etil asetat: metanol: air
penggilingan daun C. sinensis. (100:13,5:10) (Mohammed and Al-Bayati, 2009).
Ekstraksi Setiap fraksi ditotolkan pada plat sebanyak 10 µL
Ekstraksi dilakukan dengan metode digesti dan dielusi sampai jarak 1 cm dari batas atas plat.
menggunakan 600 gram serbuk daun C. sinensis Diamati di bawah sinar UV pada panjang
dalam 1000 mL air bersuhu 90oC selama 30 menit. gelombang 254 nm dan 366 nm. Kemudian untuk
Campuran ekstrak kemudian disaring untuk mengidentifikasi ada tidaknya alkaloid kafein, dapat
memisahkan residu padatan serbuk C. sinensis. dilakukan dengan cara menyemprot plat KLT
Digabungkan diuapkan hingga volume air kurang setelah dielusi dengan campuran HCl 25%: Etanol
dari 200 mL 96% (1:1), kemudian dilanjutkan dengan
menyemprot plat dengan reagen iod yang terbuat
Skrinning Fitokimia dari 1 g KI dan 1 g Iod dilarutkan dalam 100 mL
Uji alkaloid dilakukan dengan metode Mayer etanol. Bercak yang positif kafein ditandai dengan
dan Wagner. Sampel sebanyak 3 mL diletakkan adanya bercak berwarna coklat gelap yang diamati
dalam cawan porselen kemudian ditambahkan 5 pada cahaya visibel (Mohammed and Al-Bayati,
mL HCl 2 M dan 5 mL aquades, lalu dipanaskan di 2009).
atas penangas air selama 2 menit. Dinginkan
sampel pada temperatur kamar dan disaring. Filtrat Kristalisasi Sublimasi
yang diperoleh dibagi 4 bagian A, B, C, dan D. Ditambahkan 10 mL aseton pada padatan
Filtrat A sebagai blanko, filtrat B ditambah pereaksi kering hasil fraksinasi, dan saring larutan dengan
Mayer, reaksi positif jika terbentuk endapan kertas saring. Diuapkan larutan aseton dengan hati-
menggumpal berwarna putih atau kuning. hati pada 56ºC. Sublimasi residu penguapan. Alat
Sedangkan filtrat C ditambah pereaksi Wagner, kristalisasi sublimasi terdiri atas hot plate, cawan
reaksi positif ditandai dengan terbentuknya porselen yang berisikan ekstrak padat yang ditutup
endapan berwarna coklat, dan filtrat D ditambah 3 dengan kertas saring dan corong kaca yang
tetes pereaksi Dragedroff, reaksi positif ditandai diletakkan terbalik. Ujung dari corong kaca ditutup
dengan terbentuknya endapan berwarna jingga dengan tissu basah agar uap tidak keluar. Bagian
(Agustina dkk., 2016; Simaremare, 2014). dinding dari corong kaca ditutup dengan tissu
dingin dan dijaga agar suhu corong kaca
tetap dingin (sebagai kondensor). Rangkaian alat 1. HASIL
kristalisasi sublimasi dipasang dengan baik, diatur Ekstraksi
suhu hot plate sebesar 2500C. Ditunggu hingga Serbuk daun C. sinensis yang digunakan
terbentuk kristal kafein yang berbentuk jarum sebanyak 600 gram dengan bobot rendemen
berwarna putih pada kertas saring. Dijaga selama ekstrak 134 gram (22,3%) dengan warna ekstrak
proses kristalisasi sublimasi uap pada corong kaca merah gelap kecoklatan.
tidak bocor dan corong kaca tetap dalam suhu Skrining Fitokimia
dingin. Kristal kafein yang diperoleh selanjutnya
ditimbang dan simpan dalam botol vial. Hasil skrinning fitokimia menggunakan
reagen Dragendoff yaitu terbentuknya endapan
KLT Dua Dimensi berwarna jingga, pada reagen Wagner terbentuknya
Sebanyak 1 mg isolat kristal kafein dilarutkan endapan coklat muda dan pada reagen Mayer tidak
dalam 1 mL metanol untuk identifikasi dengan ada endapan yang terbentuk.
KLT. Plat Al Silika Gel GF254 dipotong dengan
ukuran 10x10 cm. Fase gerak pertama yang Ekstraksi Cair-cair
digunakan yaitu campuran kloroform : aseton : Ekstraksi kafein menggunakan metode
metanol (20 : 3 : 2) sebanyak 10 ml. Fase gerak ekstraksi cair-cair menghasilkan 2 fase yaitu fase etil
kedua berupa campuran kloroform : metanol (9:1) asetat dan fase air. Lapisan etil asetat berada pada
sebanyak 10 ml. Sampel ditotolkan pada plat bagian atas sedangkan lapisan air berada pada
sebanyak 10 µL dengan jarak 1 cm dari bawah dan bagian bawah.
samping. Plat diletakkan pada chamber yang telah KLT Hasil Fraksinasi
jenuh lalu dielusi dengan fase gerak pertama sampai Pengamatan spot yang dihasilkan
jarak 1 cm dari batas atas plat. Kemudian dielusi menggunakan metode KLT pada 4 sampel
kembali dengan memutar 90o plat KLT dan dielusi penotolan menghasilkan data Rf pada pengamatan
menggunakan fase gerak kedua. Diamati di bawah UV 254 nm yaitu pada penotolan 1 menghasilkan
sinar UV 254 nm dan 366 nm. Hasil positif alkaloid 1 spot dengan Rf 0,57, pada penotolan 2
jika terdapat spot berwarna biru intensif pada menghasilkan 3 spot dengan Rf 0,57, 0,83, dan
pengamatan panjang gelombang 366 nm bila 0,96, pada penotolan 3 menghasilkan 2 spot
terdapat spot lain pada pengamatan uv 366 nm dengan Rf 0,57 dan 0,83, dan pada penotolan 4
menandakan adanya pengotor pada kristal kafein menghasilkan 1 spot dengan Rf 0,57. Sedangkan
(Murtadlo, dkk, 2013). pengamatan UV 366 nm pada penotolan 1 tidak
KLT Spektrofotodensitometri menghasilkan spot, penotolan 2, 3 dan 4
Isolat kristal kafein sebanyak 1 mg dilarutkan menghasilkan 1 spot dengan Rf 0,83.
dalam 1 mL campuran kloroform : metanol (1:1). Kristalisasi Sublimasi
Plat Al Silika Gel GF254 dipotong dengan ukuran Kristalisasi kafein menggunakan metode
2x10 cm. Plat dielusi dengan fase gerak pada sublimasi mendapatkan kristal sebanyak 3,18 gram
chamber yang telah jenuh. Diamati spektrum dalam atau 0,53% dengan warna putih, bentuk kristal
densitometer dengan panjang gelombang 274 nm. jarum, dan bau khas aromatik.
KLT Dua Dimensi
Pengamatan pada elusi pertama KLT dua
dimensi menghasilkan 1 spot dengan Rf 0,75 dan
pada elusi kedua menghasilkan 1 spot dengan Rf
0,3125.
Gambar 3. Hasil Pengamatan Plat KLT elusi
pertama dibawah UV 254 nm.

Gambar 1. Hasil Pengamatan Plat KLT dibawah


UV 254 nm.

Gambar 4. Hasil Pengamatan Plat KLT elusi


kedua dibawah UV 254 nm.

A B C D

Gambar 2. Hasil Pengamatan Plat KLT dibawah


UV 366 nm.

Gambar 5. Hasil Skrinning Fitokimia; A (pereaksi


Wagner), B (pereaksi Dragendoff), C (pereaksi
Mayer), dan D (blanko)
KLT Spektrofotodensitometri
A B C

Gambar 6. Hasil Pengamatan pada Plat KLT UV 254 nm (A), UV 366 nm (B), dan Sinar Tampak (C);
pada plat KLT menunjukan adanya spot kafein (a) dan fluoresensi dari pelarut (b)

A B

Gambar 7. Profil Kromatogram UV 274 nm (A), UV 254 nm (B), dan 366 nm (C)
A B

Gambar 8. Spektra kafein pada pustaka (Mirsa et al., 2009)(a); spektrum kafein pada praktikum
(b).

Tabel 1. Tabel Korelasi Spot Kafein


Track Rf Substansi R(start,max) R(max,stop)
1 0,42 Kafein 0,999800 0,999075

Gambar 9. Spektrum dari spot kafein pada start poin dengan peak maksimum dan peak maksimum
dengan end poin peak spot kafein
1. PEMBAHASAN jumlah senyawa yang akan terekstrak. Semakin
Tahap ekstraksi menggunakan air sebagai kecil ukuran partikel simplisia yang diekstrak, luas
pelarut didasarkan atas persentase rendemen yang permukaan kontak dengan pelarut semakin besar
dihasilkan lebih tinggi dibandingkan pelarut lain. sehingga senyawa yang kepolarannya sama dengan
Metode dekokta dipilih karena beberapa pelarut lebih optimal terekstrak atau tertarik
keuntungan yaitu pelarut yang digunakan murah, (Maulida dan Guntarti, 2015). Dengan metode ini,
proses cepat, dan sederhana (BPOM RI, 2010). perolehan rendemen ekstrak kental yang didapat
Sampel yang digunakan berupa serbuk yang adalah 22,3%.
bertujuan untuk memperluas bidang kontak antara Tujuan dari penambahan larutan asam pada
sampel dan pelarut ekstraksi. Pengecilan ukuran larutan uji ketika melakukan skrining fitokimia
partikel simplisia berpengaruh terhadap adalah untuk membuat suasana bersifat asam dan
mengubah seluruh bentuk alkaloid menjadi bentuk air (polar) dan pelarut organik (semi polar). Kafein
garam sehingga apabila diberikan pereaksi warna memiliki kepolaran yang mendekati pelarut
dapat bereaksi dengan garam alkaloid pada larutan organik, sehingga akan lebih larut dalam pelarut
organik dibandingkan dengan air. Faktor lain yang
uji (Dewi dkk., 2013). Hasil positif ditunjukkan
pada penambahan pereaksi Dragendorff dan mempengaruhi kepolaran pelarut adalah semakin
Wagner. Hasil positif uji alkaloid pada pereaksi besar nilai konstanta dielektrik suatu pelarut maka
semakin polar pelarut tersebut. Pelarut etil asetat
Wagner ditandai dengan terbentuknya endapan
coklat merah. Sama seperti pada reaksi alkaloid memiliki nilai konstanta dielektrik yang lebih tinggi
dengan pereaksi Mayer, pada perekasi wagner ini dibandingkan pelarut kloroform yaitu 6.0 sehingga
juga terjadi endapan kalium- alkaloid akibat dari etil asetat memiliki sifat lebih polar dibandingkan
adanya ion logam K+ yang membentuk ikatan pelarut kloroform dan dapat melarutkan kafein
lebih banyak. Selain itu etil asetat juga memiliki sifat
kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid.
Namun, hasil yang diperoleh pada skrining yang tidak toksik. Karena BJ air sebesar 1 g/ml,
fitokimia dengan pereaksi Mayer adalah larutan sedangkan BJ etil asetat adalah 0,8 g/ml sehingga
lapisan terbawah adalah fase air (Soraya N., 2008).
berwarna kuning muda tanpa endapan putih yang
menunjukkan bahwa ekstrak negatif mengandung Hasil yang diperoleh pada tahap identifikasi
alkaloid. Hasil positif alkaloid dengan uji dengan KLT fraksinasi ini adalah adanya spot
Dragendorff ditandai dengan terbentuknya berwarna coklat muda pada sampel kristal kafein,
endapan coklat muda sampai kuning. Endapan fase etil asetat dan fase air yang berwarna coklat. Rf
yang diperoleh masing-masing sebesar 0,57; 0,57;
tersebut adalah kalium alkaloid. Pada pembuatan
pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan 0,58. Berdasarkan nilai Rf yang didapat, diketahui
dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena sampel mengandung kafein karena hasil Rf sesuai
atau mendekati Rf dari standar kristal kafein yang
garam-garam bismut mudah terhidrolisis
membentuk ion bismutil (BiO+). juga ditotolkan.
Proses subfraksinasi dilakukan untuk
Ekstrak air yang diperoleh dari hasil ekstraksi
memisahkan senyawa kafein dari pengotor
sebelumnya diambil kemudian ditambahkan NaCl.
sehingga diperoleh isolat kafein yang lebih murni.
Penambahan NaCl berfungsi untuk menaikan
Metode subfraksinasi dilakukan dengan proses
polaritas air yang berarti menurunkan kelarutannya
kristalisasi sublimasi untuk memperoleh kristal
dalam pelarut organik. Selain itu, dalam ekstrak air
kafein secara langsung dan selektif untuk
yang diperoleh tidak hanya mengandung kafein
memisahkan kafein dari pengotornya dalam
tetapi terdapat pula senyawa lain yang ikut
ekstrak padat atau crude extract. Pada prosesnya
terekstraksi terutama senyawa tanin. Karena tanin
digunakan cawan porselen yang berisikan ekstrak
merupakan senyawa fenolik yang bersifat asam
padat yang ditutup dengan kertas saring yang mana
maka senyawa tanin ini diubah dahulu menjadi
kertas saring ini berfungsi untuk menyaring uap
garam dengan menggunakan Ca(OH)2 yang bersifat
yang terbentuk sehingga pengotor-pengotor tidak
basa sekaligus mengubah bentuk alkaloid kafein
ikut naik menuju kondensor dan kristal yang
seluruhnya menjadi alkaloid basa. Dengan
dihasilkan merupakan kristal kafein yang berwarna
mengubah tanin menjadi garamnya maka tanin
putih bersih. Corong kaca yang digunakan
akan berubah menjadi anion fenolik yang larut
diletakkan dalam posisi terbalik dan pada bagian
dalam air namun tidak larut dalam etil asetat.
ujung ditutup dengan tissue basah untuk mencegah
Penggunaan pelarut etil asetat bertujuan
uap keluar dari alat sublimasi. Dinding corong kaca
untuk memisahkan komponen kafein dari filtrat.
juga diselimuti dengan tissue yang basah untuk
Kafein merupakan senyawa polar yang larut dalam
menjaga kondisi di dalam corong seperti
tidak terdapat puncak dari kromatogram spot
kondensor, sehingga dengan adanya proses
analit, hanya terdapat 2 puncak yang merupakan
pendinginan ini maka uap akan berubah wujud
kromatogram dari pelarut atau pengotor. Deteksi
menjadi padatan dalam bentuk kristal (Sunardi,
kemudian dilanjutkan dengan melakukan scanning
2004).
plat pada spektrofotodensitometer pada panjang
Penggunaan hotplate ialah sebagai pemanas
gelombang maksimum kafein sebesar 274 nm dan
yang mana diatur suhunya sebesar 250°C.
pada rentang panjang gelombang 200-400 nm
Pemanasan ini bertujuan untuk mengubah bentuk
sehingga didapatkan data berupa spektrum dari
padat dari ekstrak menjadi bentuk uap dan akan
kafein dan dibandingkan dengan pustaka.
berubah bentuk menjadi padat apabila didinginkan.
Berdasarkan hasil spektra pada praktikum
Pemanasan dilakukan pada suhu 250°C untuk
menunjukan hasil yang sesuai dengan kafein pada
dapat menguapkan kafein karena kafein memiliki
pustaka jika dibandingkan sesuai pada gambar
titik didih sebesar 178°C dan pada suhu tersebut
Kemudian dilakukan scanning pada panjang
diharapkan yang dapat menguap hanya senyawa
kafein sehingga akan diperoleh kristal kafein. gelombang maksimum tersebut sehingga diperoleh
Bobot kristal kafein yang diperoleh yaitu sebanyak nilai Rf kafein sebesar 0,42. Hasil yang diperoleh
3,18 gr dari 600 gr serbuk teh dan rendemen kristal tersebut, apabila dibandingkan dengan penelitian
kafein yang diperoleh sebesar 0,53%. Mirsa et al. (2009) maka Rf yang diperoleh dari
kafein isolasi selama praktikum menunjukkan hasil
Identifikasi hasil subfraksinasi dilakukan
dengan metode KLT dua dimensi untuk mendekati dengan pustaka sebesar 0,39. Hal ini
menandakan bahwa senyawa yang diperoleh
memastikan bahwa kristal yang diperoleh
merupakan senyawa alkaloid kafein. Selain itu,
merupakan kristal kafein murni, yang mana pada
dilakukan juga uji kemurnian kafein dengan melihat
proses ini diharapkan hanya diperoleh satu spot
korelasi pada puncak spot kafein. Korelasi puncak
setelah dilakukan elusi dari dua arah dengan
dari spot kafein dibandingkan pada start point peak
campuran fase gerak yang berbeda.
kafein dengan puncak maksimum dari spot kafein
Proses elusi plat KLT dilakukan sebanyak
dua kali dengan arah yang berbeda (dua dimensi) dan peak maksimum dari spot kafein dengan end
poin peak spot kafein. Sehingga didapatkan hasil
dan menggunakan pelarut yang berbeda diperoleh
nilai Rf 0,3125 dan hanya terbentuk satu spot. Hal korelasi (start, maks) sebesar 0,9998 dan korelasi
(maks, end) sebesar 0,999075. Hal ini menunjukan
ini menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh
bahwa spot kafein yang didapatkan bebas pengotor
merupakan isolat tunggal karena tidak terdapat
spot lain, namun dapat pula dilakukan identifikasi karena korelasi yang didapatkan mendekati 1.
lebih lanjut untuk memastikan bahwa senyawa 1. KESIMPULAN
tunggal tersebut adalah kafein serta memastikan Pada penelitian ini ini berhasil diperoleh
kemurnian isolat yang diperoleh. senyawa alkaloid kafein dengan rendemen ekstrak
Profil kromatogram UV 254 nm dan panjang sebesar 22,3 %, dan rendemen isolat kafein sebesar
gelombang maksimum 274 nm pada KLT 0.53%. Nilai Rf 0,42 dan didapatkan hasil korelasi
spektrofotodensitometri didapatkan hasil berupa (start, maks) sebesar 0,9998 dan korelasi (maks,
4 puncak. Pada profil kromatogram tersebut terdiri end) sebesar 0,999075.
dari 1 puncak tinggi yang merupakan spot kafein, 2. UCAPAN TERIMAKASIH
puncak pertama merupakan kromatogram dari Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa
pelarut dan puncak lainnya merupakan karena atas berkat rahmat beliau penulis dapat
kromatogram dari pengotor maupun pelarut akibat menyelesaikan penelitian ini, serta terimakasih
elusi yang tidak sempurna. Sedangkan pada
pengamatan profil kromatogram UV 366 nm
Daun Tempuyung (Sonchus Arvensis Linn)
kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. dan Uji Sitotoksik Dengan Metode BSLT
(Brine Shrimp Lethality Test). Chem info. Vol
1. DAFTAR PUSTAKA 1(1): 379 – 385.
Agustina S., Ruslan, A. Wiraningtyas. 2016.
Skrining Fitokimia Tanaman Obat Di Pusat Penelitian Teh dan Kina. (2008). Petunjuk
Kabupaten Bima. Cakra Kimia (Indonesian E- teknis pengelolaan teh (p. 109). Gambung: Pusat
Journal of Applied Chemistry). Vol. 4(1): 71-76. Penelitian Teh dan Kina.

BPOM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal. Volume Rohdiana, D. 2015. Teh: Proses, Karakteristik dan
Kelima, Edisi Pertama. Jakarta: BPOM RI. Komponen Fungsionalnya. Food Review
Indonesia. Vol. 10 (1): 34-37
Isnindar, S. Wahyuono, S. Wadyarini dan
Yuswanto. 2016. Analisis Kandungan Kafein Simaremare, E. S. 2014. Skrining Fitokimia Ekstrak
Pada Ekstrak Buah Kopi Mentah Dari Etanol Daun Gatal (Laportea decumana
Perkebunan Merapi Daerah Istimewa (Roxb.) Wedd). Pharmacy. Vol. 11(01): 98-
Yogyakarta Menggunakan Spektrofotometri 107.
Uv-Vis. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi – Simbala, H.E.I., 2009, Analisis Senyawa Alkaloid
Unsrat. Vol. 5 No. 2, 187-190. Beberapa Jenis Tumbuhan Obat Sebagai
Matono B. dan R. T. Setiyono. 2014. Skrining Bahan Aktif Fitofarmaka, Pasific Journal, Vol.
Fitokimia Enam Genotipe Teh. J.TIDP . Vol. 1(4) : 489-494.
1(2), 63-68. Sukandar, E. Y., Andrajati, R., Sigit, J. I., Adnyana,
Misra, H., D. Mehta, B.K. Mehta, M. Soni and I. K., Setiadi, A. P. & Kusnandar. 2008. ISO
D.C. Jain. 2009. Study of Extraction and Farmakoterapi. Ikatan Sarjana Farmasi
HPTLC-UV Method for Estimation of Indonesia, Jakarta.
Kafeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Sunardi. 2004. Diktat Kuliah cara-cara pemisahan.
Granules. International Journal of Green Depok: Departemen Kimia FMIPA
Pharmacy Vol.3 Issue.1. Pp.47-51. Universitas Indonesia.
Mohammed, M. dan F. A. Al-Bayati. 2009. Susanti A.d, Ardiana D, Gumelar G.P, Bening
Isolation, Identification and Purification of Y.G. (2012). Polaritas Pelarut Sebagai
Caffeine frm Coffea arabica L. and Camellia Pertimbangan Dalam Pemilihan Pelarut Untuk
sinensis L.: A Combination Antibacterial Ekstraksi Minyak Bekatul Dari Bekatul
Study. International Journal of Green Pharmacy, Varietas Ketan (Oriza sativa glatinosa).
52-57. Simposium Nasional RAPI IX FT, 8-14.
Murtaldo, Y., D. Kusrini, E. Fachriyah. 2013.
Isolasi, Identifikasi Senyawa Alkaloid Total

Anda mungkin juga menyukai