Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

(P-VI)

Sintesis asam p-metoksi sinamat dari isolat kencur

NAMA : AYU SUKMA TOFANNY

NIM : 19020200015

TANGGAL : 24 DESEMBER 2020

1. Tujuan Percobaan
a. Mengenalkan biotranformasi EPMS menjadi APMS melalui reaksi kimia
b. Reaksi hidrolisis pada gugus ester menjadi asam karboksilat
2. Dasar Teori
Indonesia merupakan negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang
sangat besar. Pada kenyataannya kebutuhan masyarakat pada sektor pangan hingga
saat ini belum dapat terpenuhi dari pemanfaatan potensi tersebut Salah satu kendala
yang dihadapi para petani adalah serangan hama yang sulit dikendalikan Serangan
hama telah mengakibatkan penurunan hasil dan kerugian bagi para petani tiap
tahunnya,
Para petani di Indonesia pada umumnya menggunakan pestisida untuk
membasmi hama yang menyerang tanamannya. Namun penggunaan pestisida yang
ada meskipun efektif dalam membasmi hama tetapi menimbulkan kerugian karena
bersifat toksik terhadap tanaman dan dapat mengganggu keseimbangan ckosistem
terutama bila sisa-sisa pestisida mencemari lingkungan sekitarnya. Olch karena itu
dikembangkan metode pengatasan hama yang aman dan efektif dari bahan alami.
Salah satu senyawa yang potensial adalah sinamamida dan turunannya (Gill et al.
1995)
Sinamamida telah diketahui memiliki aktivitas sebagai repellent terhadap
hama, yang bekerja dengan cara menimbulkan bau dan rasa yang tidak disukai hama
pada tanaman sehingga hama tidak mau memakan tanaman tersebut Penggunaan
sinamamida untuk mengusir hama tidak akan merusak lingkungan karena tidak
bersifat toksik (Gill er al, 1995). Selain sebagai repellent, sinamamida diketahui
memiliki aktivitas sedatif-hipnotik (Heyningen, 1966), anti konvulsi, relaksasi otot,
anestesi lokal dan mikostatik (Hou, 2000). serta antikanker (Jiang. 2000)
Senyawa sinamamida diperoleh dari turunan asam sinamat yang merupakan
metabolit sekunder dari berbagai macam tanaman misalnya dari biji Clausena
lansium (Skeels) yang tumbuh di daratan Cina (Lin, 1988) Di Indonesia diketahui
bahwa tanaman yang banyak mengandung senyawa turunan asam sinamat adalah
kencur, yaitu pada bagian rimpang (Fahmi, 1987).
Kencur (Kaempferia galanga, L), adalah salah satu tanaman obat tradisional
Indonesia yang kaya akan kandungan kimia. Etil p-metoksisinamat merupakan
kandungan kimia yang utama dalam kencur Kandungan lainnya yaitu pati, mineral,
dan minyak atsiri berupa sineola, asam sinamat, etil ester asam sinamat, borneol,
kamfena, paracumarin, asam anisat, alkaloida dan gom (Ipteknet, 2005).
Isolasi etil p-metoksisinamat (EPMS) dari rimpang kencur dilakukan dengan
metode perkolasi menggunakan pelarut etanol 95%. Hasil isolasi yang berupa
cairan kemudian dipekatkan yang selanjutnya didinginkan dengan air es sehingga
didapatkan kristal berwarna putih. Kristal tersebut disaring dengan corong Buchner,
setelah itu dilakukan rekristalisasi dengan metanol-air Untuk mendapatkan asam p-
metoksisinamat (APMS), EPMS yang diperoleh selanjutnya dihidrolisis dengan
menggunakan larutan KOH 5% dalam etanol di atas penangas air dengan pendingin
balik selama 2 jam, lalu diasamkan dengan HCI pekat (Syahrani et al, 1987).
Sintesis amida dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan
menggunakan asil klorida, anhidrida asam, atau dengan mereaksikan senyawa asam
karboksilat, ester maupun garam karboksilat dengan amonia atau amina. Semua
reaksi tersebut merupakan reaksi substitusi nukleofilik (Solomons, 1997)
Reaksi substitusi nukleofilik ialah suatu reaks dimana satu atom nukleofil
disubstitusikan untuk mengganti atom, ion atau gugus lain Nukleofil umumnya
adalah spesi apa saja yang tertarik ke suatu pusat positif Jadi sebuah nukleofil ialah
suatu basa Lewis (Fessenden, 1986)
Metode pembentukan amida yang lain saat ini telah banyak dikembangkan
untuk memperoleh metode yang cepat dan mudah. Salah satu reagen yang sangat
berguna adalah senyawa N,N-disikloheksilkarbodiimida (DCC). DCC sebagai
pereaksi dalam pembentukan amida bereaksi dengan derivat asam karboksilat
mengikuti reaksi substitusi nukleofilik. Dengan menggunakan DCC maka tidak
diperlukan suhu yang tinggi untuk membebaskan air yang merupakan hasil reaksi
antara senyawa asam karboksilat dengan amina atau amonia, dan pelaksanaan
pengaktifan gugus karboksil serta penggandengan dengan amina atau amonia dapat
terjadi secara cepat dalam satu tahap reaksi pada suhu kamar. Selain itu
penghilangan hasil samping dapat dilakukan secara sederhana (Anonim,
1999;Bodanszky, 1998).
DCC merupakan suatu pereaksi gandeng karena dapat ditambahkan ke dalam
campuran komponen karboksil dan komponen amina. Oleh karena itu proses
pengaktifan dan penggandengan berlangsung secara serempak. Komponen amina
sebenarnya dapat bereaksi dengan karbodiimida namun laju reaksinya sangat
lambat jika dibandingkan dengan laju yang cepat yang terjadi pada adisi asam
karboksilat ke salah satu ikatan rangkap DCC, Adisi asam karboksilat ke
karbodiimida akan membentuk senyawa antara O-asil-isourea yang tidak perlu
dipisahkan. Gugus N C dalam O-asil-isourca mengakibatkan pengaktifan yang kuat
sehingga terjadi penggandengan dengan amina. Reaksi ini berjalan pada suhu
kamar dan bebas air. Air yang terbentuk pada proses reaksi akan diikat oleh DCC
dan membentuk hasil samping yaitu N.N-disikloheksilurea (DCU) yang tidak
terlarut sehingga mudah dihilangkan dengan penyaringan (Bodanszky, 1998).
3. Dasar Reaksi dan Perhitungan

Struktur Senyawa Etil p-metoksisinamat


4. Tinjauan Bahan
a. Serbuk rimpang kencur 250 g
Kencur merupakan tanaman tropis yang banyak dipelihara masyarakat di
Indonesia seperti terlihat pada gambar 5. Tanaman ini dapat digunakan sebagai
obat tradisional. Berdasarkan penelitian, kencur mengandung minyak atsiri
yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti batuk, masuk angin,
radang lambung, nyeri, tetanus dan panas dalam (Astuti dkk., 1996). Selain itu,
Menurut Sukmawati (2013), kencur juga memiliki manfaat yang dapat
mengobati penyakit hipertensi, asma, dan kejang otot.
Salah satu kandungan kencur yang paling utama adalah etil p-
metoksisinamat (Nugraha dkk., 2012) yang digunakan sebagai bahan baku
parfum (Chairul, 1996). Senyawa ini diperoleh melalui ekstraksi kencur
dengan etanol panas menghasilkan padatan dengan titik leleh 48-49 oC dan
rendemen sebesar 1,11% (Surbakti, 1990). Etil p-metoksisinamat dapat
dijadikan sebagai bahan dasar dalam mensintesis senyawa turunan asam
sinamat yang lain karena memiliki beberapa gugus yang reaktif seperti gugus
fenil, olefin, dan ester (Surbakti, 1990).
b. Etanol 96%
Rumus: C2H5OH
Titik didih: 78,37°C
Titik lebur: -114,1°C
Rumus kimia: C2H5OH
Kelarutan dalam air: tercampur penuh
Titik nyala: 13 °C (55.4 °F)
c. KOH 1 %
Kalium hidroksida dapat ditemukan dalam bentuk murni dengan
mereaksikan natrium hidroksida dengan kalium tidak murni. Hal ini biasanya
dijual sebagai pelet tembus pandang, yang akan menjadi lekat di udara karena
KOH merupakan higroskopis. Akibatnya, KOH biasanya mengandung
berbagai jumlah air (serta karbonat, lihat di bawah). Kelarutan dalam air
merupakan sangat eksotermik. larutan berair ini terkadang disebut cairan alkali
(lye) kalium. Bahkan pada suhu tinggi, padatan KOH tidak mengalami
dehidrasi dengan mudah.
Larutan kalium hidroksida dengan konsentrasi sekitar 0.5 sampai 2.0%
tersebut mengiritasi ketika bersentuhan dengan kulit, sedangkan konsentrasi
yang lebih tinggi dari 2% bersifat korosif.
d. Etanol 90%
Rumus: C2H5OH
Titik didih: 78,37°C
Titik lebur: -114,1°C
Rumus kimia: C2H5OH
Kelarutan dalam air: tercampur penuh
Titik nyala: 13 °C (55.4 °F)
e. H2SO4 Pekat
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, yang merupakan asam
mineral(anorganik) yang kuat. Zat ini larut(175) dalam air(228) pada semua
perbandingan. Asam sulfat 100% dapat dibuat namun ia akan melepaskan SO3
pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% umumnya
disebut sebagai asam sulfat pekat.

5. Metodelogi Percobaan

a. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas beaker 500 ml, sonikasi, corong
buchner, batang pengaduk, hot plate, magnetic stirrer, dan rotav.

b. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah serbuk rimpang kencur 250 g, etanol
96%, KOH 1 %, kertas saring, etanol 90%, dan H2SO4 Pekat.
c. Prosedur Kerja
Sintesis asam p-metoksi sinamat dari isolat kencur

• Hubungkan kondensor dengan selang air yang telah


1.ekstraksi EPMS
tersambung di pompa air

• Merendam
• Masukkan 250 serbuk
filtrat hasil ekstraksi kencur
soxhlet padadidih
dan batu pelarut etanol 90 %. Aduk merata dan
ke dalam
labu distilasi
sonikasi sebanyak 3 kali selama 3 menit
• Menyaring
• Nyalakan bunchner,
heating mantle, pisahakan
set temperatur anatara>70
pemanasan ampas
oC dan filtratnya

• destilasi
• Lakukan Menguapkanhingga filtratnya bias n-heksana
seluruh pelarut ada rotav menguap
gunakan rotav agar cepat menguap

• Lakukan2.ujiBiotransformasi
indeks bias antaraEPMS
pelarutmenjadi
dan filtratAPMS
pekat
iri
• Memfiltrat yang mengadung EPMS, ditambahkan 10 ml KOH 10 %.
• Memanaskan di hotplate sambil disterir pada suhu 60-80 °C selama 10
menit
• Kemudian memberikan H2SO4 pekat 2-5 tetes sampai terbentuk endapan
dilemari asam
• Menyaring Buchner dan serbuk yang diperoleh dilakukan porses
rekritalisasi dengan etanol 90 %

Hasil

d. Rangkaian alat
6. Pembahasan

a. Prinsip Percobaan
1. Metode Rrefluks yaitu isolasi atau hidrolisis senyawa berdasarkan pada
perbedaan kepolaran dan kelarutan pada pemanasan suhu tinggi.
2. Rekristalisasi yaitu pemurnian kristal yang tidak murni dengan
melarutkannya dalam pelarut panas yang dilanjutkan dengan pendinginan untuk
terjadi perubahan fasa menjadi kristal kembali.
3. Kromatografi Lapis Tipis yaitu pemisahan suatu senyawa berdasarkan
perbedaan kepolaran dan kecepatan migrasi sampel dengan pelarut yang
digunakan.
b. Analisa Prosedur
1. Isolasi Etil p-Metoksisinamat
Serbuk kencur sebanyak 30 gram dimasukkan ke dalam labu alas bulat,
kemudian ditambahkan dengan n-heksana sebanyak 200 mL. Campuran
direfluks dalam penangas air pada suhu 50oC selama 1 jam. Campuran
disaring ke dalam labu alas bulat dan dievaporasi sampai volume sekitar 10
mL. Didinginkan pada suhu kamar hingga terbentuk kristal warna putih lalu
pelarut didekantasi. Kristal direkristalisasi hingga diperoleh kristal murni
(diuji dengan KLT), dan ditentukan titik lelehnya. Kristal ditimbang dan
dihitung rendemennya. Kristal murni yang diperoleh dikarakterisasi
menggunakan spektrofotometer FT-IR.
2. Sintesis Asam p-Metoksisinamat
Etil p-metoksisinamat (2,42 mmol) sebanyak 0,5 gram dilarutkan dalam
etanol. Larutan direaksikan dengan 0,15 gram (4 mmol) natrium hidroksida
dalam kondisi refluks pada suhu 60oC selama tiga jam. Campuran hasil reaksi
ditambahkan dengan akuades sampai endapan larut. Larutan ditambahkan HCl,
15% secara tetes-tetes sampai terbentuk kembali endapan berwarna putih,
kemudian disaring. Endapan dicuci dengan akuades, dikeringkan dalam
desikator, kemudian diuji kemurniannya dengan KLT dan ditentukan titik
lelehnya. Endapan ditimbang, dihitung rendemennya, dan dikarakterisasi
menggunakan spektrorofotometer FT-IR.

7. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa


senyawa etil p-metoksisinamat dapat diisolasi dari rimpang kencur kaempferia galanga
L. menggunakan pelarut n-heksana pada kondisi refluks dengan rendemen sebesar
2,22%. Hidrolisis etil p-metoksisinamat dengan larutan basa dalam pelarut etanol
menghasilkan asam p-metoksisinamat demgan rendemen sebesar 72%. Konversi asam
p-metoksisinamat menjadi N-o-tolil pmetoksisinamamida melalui reaksi klorinasi dan
amidasi memberikan rendemen sebesar 35,58%. Hasil uji bioaktivitas N-o-tolil-p-
metoksisinamamida terhadap sel murin leukemia P-388 memberikan nilai IC50 sebesar
50,44 µg/mL dan dinyatakan aktif sebagai antikanker.

8. Daftar Pustaka

Alamsyah, N., Firdaus, Soekamto, N.H., 2016, Sintesis Senyawa N-o-tolil-


phidroksisinamamida dari Asam p-asetoksisinamat Melalui Konversi Tidak Langsung,
Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan Kimia Fakultas Maatematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Hasanuddin.

Ali, M.S., 2015, Modifikasi Struktur Senyawa Asam p-Metoksisinamat Melalui Proses
Nitrasi serta Uji Aktivitas Sebagai Antiinflamasi, Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah,
Jakarta.

Amalia, D., Ngadiwiyana, dan Fachriyah, E., 2013, Sintesis Etil Sinamat Dari
Sinamaldehid Pada Minyak Kayu Manis (Cinnamomun cassia) dan Uji Aktivitas
Sebagai Antidiabetes, Jurnal Sains dan Matematika, 21(4):108-113.

Asmi, N., Firdaus, dan Soekamto, N.H., 2016, Sintesis Senyawa N-(4-O-asetil
pkumaril)pirolidina dari Asam 4-O-asetil-p-kumarat Melalui Reaksi Asetilasi dan
Amidasi, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Astuti, Y., Sundari, D., dan Winarno, M.W., 1996, Tanaman Kencur (Kaempferia
galanga L.); Informasi Tentang Fitokimia dan Efek Farmakologi, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Farmasi, Jakarta.

9. Jurnal
Indo. J. Chem., 2005, 5 (3), 193 - 197 193

SYNTHESIS OF p-METHOXY-CYNNAMIL- p-METOXYCINAMATE


FROM ETHYL p-METHOXYCINAMAT WAS ISOLATED FROM DRIED RHIZOME
Kaempferia Galanga L AS SUNSCREEN COMPOUND

Sintesis p-Metoksisinamil p-Metoksisinamat dari Etil p-Metoksisinamat Hasil Isolasi


Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L) sebagai Kandidat Tabir Surya

Titik Taufikkurohmah
Department of Chemistry, Faculty of Mathematic & Natural Sciences, Surabaya State University,
Jl. Ketintang Surabaya, Indonesia (60231)

Received 25 Februari 2005; Accepted 27 April 2005

ABSTRACT

Synthesis of p-methoxy-cynnamil-p-methoxy-cinnamate, (PMS)2O from ethyl-p-methoxy-cinnamate


(EPMS) from dry rhizome of kaempferia galanga L as sunscreen compound have been done. Isolation of
EPMS was done by percholation using ethanol 96 % and recrystallitation using methanol to have 2.2 % yield.
Hydrolysis of EPMS using alcoholic KOH resulted methoxycinnamic acid (APMS) of 90.26 % yield. Reduction
EPMS using lithium aluminium hydride in dry ether would give p-methoxycinnamoyl alcohol (PMS-OH) of
41.98 % yield. Then reaction of p-methoxycinnamoyl chloride (PMS-Cl) and PMS-OH in chloroform would
produce p-methoxycinnamoyl p-methoxycinnamate ((PMS)2O) of 1.77 % yield. All compound were identified
by TLC and several spectrometry methodes i.e. U.V Vis, IR, 1H-NMR and GC-MS

Keywords: esther cinnamate, sunscreen, Kaempferia galanga.

PENDAHULUAN Secara alamiah kulit manusia telah


mempunyai sistim perlindungan terhadap sinar UV
Tabir surya adalah suatu senyawa yang yaitu penebalan stratum corneum, pembentukan
digunakan untuk menyerap sinar matahari secara melanin, dan juga pengeluaran keringat. Namun
efektif terutama daerah emisi gelombang UV pada penyinaran yang berlebihan sistim pertahanan
sehingga dapat mencegah gangguan pada kulit alamiah ini tidak mencukupi lagi sehingga
akibat pancaran secara langsung sinar UV tersebut menyebabkan beberapa gangguan pada kulit,
[1] karena itu diperlukanlah senyawa tabir surya untuk
Sinar matahari yang membahayakan kulit melindungi kulit dari radiasi UV secara langsung [3].
adalah radiasi ultraviolet dimana sinar ini dibedakan Senyawa tabir surya ada dua macam yaitu
menjadi tiga, yaitu sinar ultraviolet A (UV-A), UV-B senyawa yang melindungi secara fisik dan senyawa
dan UV-C yang ketiganya mempunyai panjang yang menyerap secara kimia. Adapun senyawa
gelombang dan efek radiasi yang berbeda. Sinar UV- yang melindungi secara fisik contohnya adalah
A dengan panjang gelombang 320 - 400 nm senyawa titanium oksida, petroleum merah dan
mempunyai efek penyinaran, dimana timbul seng oksida [4].
pigmentasi yang menyebabkan kulit berwarna coklat Ciri senyawa tabir surya yang menyerap secara
kemerahan. Sinar UV-B dengan panjang gelombang kimia adalah mempunyai inti benzena yang
290 - 320 nm memiliki efek penyinaran, dimana tersubstitusi pada posisi ortho maupun para yang
dapat mengakibatkan kanker kulit bila terlalu lama terkonjugasi dengan gugus karbonil. Senyawa-
terkena radiasi. Sinar UV-C dengan panjang senyawa tersebut antara lain turunan asam para
gelombang 200 - 290 nm yang tertahan pada lapisan amino benzoat (PABA), turunan salisilat, turunan
atmosfir paling atas dari bumi dan tidak sempat antranilat, turunan benzofenon, turunan kamfer dan
masuk ke bumi karena adanya lapisan ozon, efek senyawa-senyawa turunan sinamat. Senyawa
penyinarannya paling kuat karena energi radiasinya turunan sinamat yang telah digunakan sebagai tabir
paling tinggi di antara ketiganya yaitu dapat surya antara lain adalah oktil sinamat, etil 4-
menyebabkan kanker kulit dengan penyinaran yang isopropilsinamat, dietanolamin p-metoksisinamat,
tidak lama [2]. dan isoamil p-metoksisinamat [4]. Selain itu sebagai
senyawa tabir surya juga masih harus memenuhi

Titik Taufikkurohmah
H
OH- SOCl2
H3 C- O CH=CH C=O H3CO CH=CH-C=O H3CO CH= CH-C= O
OH Cl

O C 2 H5

Gambar 1 Reaksi pembentukan PMS-Cl


H
persyaratan yaitu senyawa tersebut tidak atau
sukar larut dalam air. Beberapa turunan sinamat H3CO CH=CH-C-OH + H3CO CH=CH-C=O

yang memenuhi persyaratan ini diantaranya oktil p- H Cl


metoksisinamat, isoamil p-metoksisinamat,
sikloheksil p-metoksisinamat, 2-etoksi etil p-
metoksisinamat, dietanolamin p-metoksisinamat
H
dan turunan-turunan lain dari sinamat yang
mempunyai rantai panjang dan sistim ikatan H3CO CH=CH-C-O-C-CH=CH OCH3
rangkap terkonjugasi yang akan mengalami HO
resonansi selama terkena pancaran sinar UV [1].

Berbagai jenis rempah-rempah diantaranya Gambar 2 Reaksi pembentukan (PMS)2O


kencur (Kaempferia galanga) selain digunakan
sebagai bumbu dapur juga dapat digunakan katalis asam sulfat membentuk senyawa asil klorida
sebagai obat-obatan tradisional karena khasiatnya dengan reaksi seperti pada Gambar 1.
dapat juga digunakan menjaga kesehatan dan Reaksi esterifikasi antara alkohol hasil reduksi
dapat menyembuhkan berbagai penyakit, antara EPMS dengan LiAlH4 dengan EPMS yang telah
lain sebagai penimbul rasa hangat, analgesik, ditransformasi pula menjadi bentuk asilnya yang
penyembuh bengkak-bengkak, obat batuk, merupakan senyawa antara dalam esterifikasi ini,
penambah nafsu makan dan lain-lain [5]. melalui reaksi seperti pada Gambar 2.
Berbekal keanekaragaman hayati (plasma Dengan rantai yang lebih panjang diharapkan
nutfah) kekayaan alam Indonesia, kimia sintesis senyawa hasil reaksi ini lebih baik sebagai tabir surya
dapat mengambil peran untuk melakukan karena kelarutannya dalam air makin kecil. Selain itu
transformasi senyawa bahan alam sehingga akan juga dengan adanya cincin aromatis dan gugus
memperkaya keanekaragaman kimia. Salah satu berikatan rangkap yang terkonjugasi dalam senyawa
senyawa bahan alam tersebut adalah etil p- tersebut digunakan untuk merubah dari bentuk asal
metoksisinamat (EPMS) yang diperoleh dari menjadi bentuk tereksitasi, yaitu dengan perubahan
rimpang kencur (K. galanga). Dengan demikian elektronik akibat proses delokalisasi [2].
diharapkan kelak dapat lebih meningkatkan nilai Esterifikasi antara alkohol hasil reduksi yang
ekonomis dari tanaman ini sehingga usaha mempunyai halangan ruang yang cukup besar
pembudidayaan tanaman ini akan menguntungkan dengan EPMS yang mengandung cincin fenil yang
petani kencur disatu sisi dan produsen kosmetik di juga mempunyai halangan ruang yang cukup besar
sisi lain. tentunya harus diperhitungkan kemungkinan kecilnya
Berdasarkan sintesis yang telah dilakukan persentase hasil.
oleh para peneliti terdahulu terhadap hasil isolasi
rimpang kencur yang berupa EPMS dimana METODE PENELITIAN
dilakukan penggantian gugus etil pada EPMS
dengan alkil yang lebih panjang dengan harapan Bahan
mengurangi toksisitas dan mengurangi Bahan yang digunakan adalah : etanol 96%,
kelarutannya dalam air, maka dicoba melakukan asam klorida, tionil klorida, kloroform,kalium
pengembangan sintesis EPMS dimana etil dalam hidruksida, asam sulfat pekat, natrium sulfat anhidrat,
EPMS digantikan oleh alkil yang terbentuk dari litium aluminium hidruksida, tetrahidrofuran.
EPMS itu sendiri. Lithium aluminium hidrida (LiAlH4) Alat
digunakan untuk merubah EPMS menjadi alkohol Alat yang digunakan untuk isolasi dan sintesis
melalui reaksi reduksi . terdiri dari Perkolator, rotary vacuum evaporator,
EPMS sebagai ester yang akan disubstitusi corong buchner, labu alas bulat leher tiga, refluks,
gugus etilnya dihidrolisis lebih dahulu menjadi asam penangas es, termometes, corong pisah dan
parametoksisinamat yang dilanjutkan dengan peralatan gelas, dan instrumen analisis UV-Vis, IR,
mereaksikan asam ini dengan SOCl2 dibantu NMR, MS
Prosedur Kerja Selanjutnya dimasukkan kloroform sehingga
Sintesis p-metoksisinamil p-metoksisinamat terbentuk suspensi, melalui corong pisah dimasukkan
dimulai dari isolasi EPMS dari rimpang kencur perlahan-lahan 0,203 mol atau 18 mL tionil klorida
dengan etanol 96 % dan melalui tahap-tahap : yang sebelumnya telah dikeringkan dengan Na2SO4
transformasi EPMS menjadi alkohol ( PMS-OH), anhidrat. Campuran dibiarkan pada suhu kamar 15
transformasi EPMS membentuk asam sinamat yang menit agar bereaksi, kemudian dipanaskan selama 3
dilanjutkan dengan mereaksikan asam ini dengan jam sambil diaduk dengan pengaduk magnet pada
tionil klorida membentuk asil klorida, dan tahap suhu 40-50oC sampai cairan berwarna hijau muda.
terakhir adalah mereaksikan kedua hasil Kelebihan tionil klorida dihilangkan dengan KOH
transformasi ini menjadi ester p-metoksisinamil p- alkoholis 5% dan diuapkan. Senyawa yang terbentuk
metoksisinamat ( PMS)2O. tidak diidentifikasi karena tidak stabil yang harus
Kedua reaksi transformasi dapat dilakukan segera direaksikan dengan alkohol untuk membentuk
bersama-sama atau dapat pula dilakukan satu ester.
persatu akan tetapi harus dijaga kondisinya agar Pembentukan ester (PMS)2O
tetap dalam bentuk aktif saat keduanya direaksikan. Alkohol yang sudah terbentuk dimasukkan ke
Isolasi EPMS dari rimpang kencur dalam erlenmeyer, selanjutnya tetes demi tetes
Lima kilogram rimpang kencur dicuci dengan dimasukkan asil klorida yang suhunya 50 oC.
air hingga bersih, ditiriskan lalu diiris-iris tipis agar Campuran ini selanjutnya didinginkan di dalam
mudah kering dengan pengeringan sinar matahari penangas es sambil diaduk-aduk, dibiarkan selama
tidak langsung atau diangin-anginkan. Setelah satu malam pada suhu kamar. Sisa gas diuapkan
kering didapatkan 900 g simplisia selanjutnya kemudian didinginkan sampai terbentuk kristal.
dihaluskan menjadi serbuk dan direndam dalam Kristal yang diperoleh dimurnikandengan
perkolator menggunakan pelarut etanol 96 % rekristalisasi dengan campuran metanol-air. Hasil
selama 24 jam. Cairan perkolat ditampung dan diidentifikasi.
residu direndam lagi sampai 3 kali atau sampai
diperoleh perkolat yang berwarna kuning pucat. Uji Kemurnian Senyawa Hasil Reaksi
Perkolat selanjutnya dipekatkan dengan rotary Untuk setiap produk reaksi dilakukan identifikasi
vacuum evaporator. Perkolat pekat selanjutnya dengan menggunakan KLT, spektro- fotometer UV-
didinginkan dengan penangas es hingga terbentuk vis, FTIR, 1H-NMR dan MS. Prosedur KLT diuraikan
kristal. Kristal yang diperoleh selanjutnya dicuci pada bagian berikut. Kristal hasil isolasi dilarutkan
dengan etanol dan direkristalisasi dengan metanol dalam metanol kemudian ditotolkan pada fase diam
hingga didapat kristal jarum yang tidak berwarna. silika GF 254, dimasukkan dalam bejana
kromatografi dan dielusi dengan eluen n-heksan:etil
Reduksi EPMS dengan LiAlH4 menjadi alkohol asetat:aseton (65:15:5). Eluen lain yang digunakan
Tiga gram (0,0146 ml) EPMS dimasukkan adalah n- heksana:etilasetat (4:1), dan n-heksana :
kedalam labu leher tiga yang sebelumnya dialiri gas kloroform : asam asetat glasial (5:4:2). Setelah elusi
nitrogen agar sistem bebas dari udara luar. selesai kemudian dikeringkan, dan diamati dengan
Tetrahidrofuran ditambahkan sebagai pelarut penampak noda lampu ultraviolet. Hasil reaksi
sebanyak 50 mL. Pereaksi LiAlH4 ditambahkan dikatakan murni bila diperoleh satu noda dengan
berlebih yaitu 0,15 mol lalu digoyang-goyang untuk beberapa eluen di atas. Demikian juga dilakukan hal
mengganti pengadukan. Setelah reaksi sempurna yang sama untuk senyawa hasil reaksi.
yaitu tidak terdapat gelembung gas maka
ditambahkan air tetes demi tetes sampai terbentuk HASIL DAN PEMBAHASAN
masa endapan yang stabil. Endapan disaring dan
filtrat dipisahkan, dikeringkan dengan Na2SO4 Analisis struktur (PMS)2O
anhidrat. Pelarut diuapkan dengan evaporator dan Pada penelitian ini dilakukan pembentukan
residu dimurnikan dengan destilasi sederhana ester (PMS)2O dengan mereaksikan asil klorida PMS-
menghasilkan produk murni, selanjutnya Cl dengan alkohol PMS-OH. Ester (PMS)2O ini
diidentifikasi. dimurnikan dengan rekristalisasi yang menggunakan
pelarut metanol-air sampai diperoleh kristal (PMS)2O.
Pembentukan asil kloerida PMS-Cl Mekanisme reaksi yang terjadi telah digambarkan
Tiga gram (0,0169 mol) EPMS dimasukkan pada Gambar 2.
labu alas bulat berleher tiga yang bebas udara luar (PMS)2O tersebut diuji kemurniannya dengan
. Pada masing-masing leher labu dipasang menggunakan kromatografi lapis tipis dengan fase
termometer, refluks pendingin dan corong pisah.
Tabel 1 Harga Rf dari (PMS)2O
Eluen Rf EPMS Rf APMS Rf PMS-OH Rf (PMS)2O
n-heksana:etil asetat:aseton 0,86 0,55 0,42 0,80
(65:15:5)
n-heksana:etil asetat (4:1) 0,65 0,16 0,05 0,73
n-heksana:kloroform:asam asetat 0,67 0,61 0,55 0,56
glasial (5:4:2)

Tabel 2 Data IR (PMS)2O


No  (cm-1) Interpre-
(PMS)2O (PMS)2O Pustaka[8] tasi
26 – 18 823,68 – 800 – -C-C- ulur
1178,61 1200
24 – 17 916,27 – 900 – -C-O eter
1246,13 1300 & ester
16 – 14 1307,85 – 1300 – -C-H tekuk
1415,88 1450
12,11 1512,33 & 1500 – -C=C- ulur
1579,84 1600
9 1711,01 1700 – -C=O ulur
1800
4–1 2704.44 – 2700 – -C-H ulur
3190,55 3300
Gambar 3 Spektra UV-Vis (PMS)2O
Tabel 3 Data 1H-NMR (PMS)2O
 (ppm) Jumlah Proton dari
Analisis (PMS)2O dilakukan dengan menggerus
(PMS)2O Proton
(PMS)2O bersama – sama pelet KBR, kemudian
2,878 2 -O-CH2-CH=CH- diperiksa serapannya pada bilangan gelombang 400
3,710 6 -O-CH3 – 4000 cm-1 dengan spektrofotometer Jasco FT/IR
4,340 2 -CH=CH-CO 5300. Data disajikan pada Tabel 2. Analisis
6,720 2 -CH=CH-CO menunjukkan bahwa (PMS)2O berupa ester. Hal ini
7,076 8 -C6H4- (aromatis) diperkuat dengan ditemukannya pita uluran C=O
pada daerah 1700 - 1800 cm-1; pita ulur C-H pada
diam silika gel 60 F254, sedangkan fase gerak n- daerah 2700 – 3300 cm-1; dan pita tekuk C-H pada
heksana:etil asetat:aseton = 65:15:5; n-heksana daerah 1300 – 1450 cm-1; pita ulur C-C pada rantai
:etil asetat = 4:1; n-heksana :kloroform:asam asetat karbonil pada daerah 800 – 1200 cm-1; pita ulur C=C
glasial = 5:4:2 dengan penampak noda lampu UV. pada daerah 1500 – 1600 cm-1; dan pita ulur C-O
Hasil KLT dengan beberapa fase gerak tersebut alkohol maupun eter pada daerah 900 – 1300 cm-1.
menunjukkan satu noda yang artinya (PMS)2O (PMS)2O dianalisis dengan alat spektrometer
murni secara kromatografi (Tabel 1). Uji jarak lebur resonansi magnet inti Hitachi FT-NMR R-1900
(PMS)2O dengan menggunakan Electrothermal menghasilkan spektrum seperti disajikan pada Tabel
Melting Point Apparatus dengan pipa kapiler, 3. Dari data spektrometri massa menunjukkan bahwa
memberikan data jarak lebur kristal pada 187-189 massa ester ini adalah 326 dimana muncul angka 327
oC dari tiga kali pengulangan. atau M++1. Fragmen massa pada nilai m/z 300
Pada identifikasi dengan spektrofotometer UV- menunjukkan pemutusan pada karbonil yaitu
Vis dihasilkan spektrum (PMS)2O yang memberikan lepasnya CO dari molekul sehingga terbentuk eter
tiga puncak serapan yakni pada maks 308 nm yang cukup stabil dan muncul sebagai puncak pada
(sinamoil), 226 nm (benzena) dan 208 nm (benzena m/z 300. Fragmen 213 berasal dari fragmen dengan
dengan ikatan terkonjugasi terbanyak). Dari nilai m/z 300 yang mengalami pemutusan atau
puncak–puncak serapan tersebut menunjukkan pelepasan satu cincin benzen dan digantikan
bahwa senyawa tersebut dapat digunakan sebagai kedudukannya oleh satu proton. Pola fragmentasi
kandidat tabir surya. dari (PMS)2O disajikan pada Gambar 4.
+ +
+

H3C H3C H3C H3C H3C


O O

O O + 2H
O

O O O O
O O
(m/ z = 181)

(m/z = 325) (m/ z = 327)

-CO + 4H - 2(OCH ) -CO + 2 H


3 2
+ +
H3C H3C

O O

.
..
O
(m/ z = 213)
(m/ z = 300)
Gambar 4 Pola fragmentasi dari(PMS)2O
Tabel 4 Persentasi (PMS)2O
No Mol PMS-Cl Berat hasil reaksi (PMS)2O (g) % hasil reaksi
Teoritis Reaksi (PMS)2O
1 0,0169 5,48 0,10 1,83
2 0,0169 5,48 0,09 1,64
3 0,0169 5,48 0,10 1,83
Rata – rata 1,77

Persentasi hasil sintesis dapat dilihat pada 4. Shaath N.A., 1990, Sunscreens, Development,
Tabel 4. Berdasarkan data analisis dengan alat Evaluation, and Regulatory Aspects, Marcel
spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer FT-IR, Dekker, INC, New York.
Spektrometer 1H-NMR dan spektrometer massa 5. Kusumaningati, S., 1994, Kaempferia Galanga L
menunjukkan bahwa senyawa tersebut adalah p- dalam Jamu, Makalah Seminar Nasional
metoksisinamil-p-metoksisinamat. Tanaman Obat Indonesia VI , Bandung.
6. Fessenden, RJ., and Fessenden, M.J., 1994,
KESIMPULAN Kimia Organik, edisi ketiga, (alih bahasa oleh A.
Hadyana Pudjaatmaka), Erlangga, Jakarta, p86.
1. Hasil reaksi antara sinamil alkohol dengan 7. Adams S. R., Jonhson J.R, and Wilcox C.F., 1970,
sinamoil klorida adalah ester p-metoksisinamil- p- Laboratory Experimens Inorganic Chemistry, 6th
metoksisinamat dengan persentasi hasil reaksi = edition, The MacMilan Company, London, p.76-
1,77 %. 78.
2. Ester p-metoksisinamil p-metoksisinamat hasil 8. Silverstein, R.M.,Bassler G.C., Mariel T.C., 1991,
reaksi dapat digunakan sebagai kandidat tabir Spectrometric of Identification of Organic
surya. Compounds, 5th ed, John Willey and Sons Inc,
New York.
DAFTAR PUSTAKA 9. Anonimus, 1987, Programme and Abstracts
1. Soeratri W., 1993, Studi Proteksi Radiasi UV Handbook, UNESCO Sub-Regional Seminar on
Sinar Matahari Tahap 1 : Studi Efektivitas Transformation and Synthesis Related to Natural
Protektor Kimia, Lembaga Penelitian Universitas Products, UNESCO, p27-28.
Airlangga, Surabaya 10. Hidayati N., 1997, Sintesa Oktil p-Metoksisinamat
2. Harry R.G., 1982, Harry’s Cosmeticology, 6th dan Etil Heksil p-Metoksisinamat dari Etil p-
edition, The Principle and Practice of Modern Metoksisinamat Hasil Isolasi Rimpang Kencur
Cosmetic, Leonard Hill Book, London. (Kaempferia Galanga L), Tesis, Universitas
3. Tanjung, M., 1997, Dari Isolasi dan Rekayasa Airlangga, Surabaya.
Senyawa Turunan Sinamat Kaempferia Galanga
L Sebagai Tabir Surya, Lembaga Penelitian
Universitas Airlangga.