Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN

IDENTIFIKASI ORDO CHILOPODA (LIPAN)

DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 3

NAMA : ABD HAIR A. HUSAIN ( 2320191021 )

: KARMITA HAMZAH ( 2320191011 )

: DINA RAHMATIKA ( 2320191032)

: PUTRI REGITAKATILI (2320191004 )

: SRI TINSIA HUSAIN (2320191023 )

: JUNELAN NINGSIH PANDJU (2320191013 )

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN

UNIVERSITAS BINA MANDIRI GORONTALO

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sembari
mengangkat tangan, bermohon kiranya memberikan rahmat dan kasih karunia-
Nya serta kelapangan berpikir dan waktu, sehingga penulis dapat menyusun
dan menyelesaikan laporan praktikum ini. Dengan judul “Pengamatan Morfologi
Lipan”. Laporan ini  disusun sebagai tugas yang diberikan oleh dosen pengajar
mata kuliah "Parasitologi”.
Diharapkan pembuatan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi
para pembaca dan dapat dijadikan salah satu ilmu yang bermanfaat. Penulis
menyadari masih banyaknya kekurangan dari penulisan hasil laporan ini, kritik
dan saran yang membangun sangat membantu penulis untuk mengurangi segala
kekurangan tersebut kedepannya. Dengan kerendahan hati, penulis berharap
laporan ini bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca. Aamiin.

Gorontalo, November 2020

Penyusun
DAFTRAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar belakang........................................................................................1
1. 2 Rumusan masalah..................................................................................2
1. 3 Tujuan Pratikum....................................................................................2
1. 4 Manfaat Pratikum..................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan tentang Arthropoda................................................................3
2.2 Tinjauan Lipan......................................................................................3
2.3 Morfologi Lipan....................................................................................4
2.4 Siklus Hidup..........................................................................................5
2.5 Klasisfikasi............................................................................................5
2.6 Sistem Organ.........................................................................................6
2.7 Masalah Klinis Gigitan Lipan...............................................................7
2.8 Pengobatan............................................................................................8
2.9 Pencegahan............................................................................................9
BAB III METODE KERJA
3.1 Alat........................................................................................................11
3.2 Bahan.....................................................................................................11
3.3 Prosedur Kerja.......................................................................................11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil......................................................................................................12
4.2 Pembahasan...........................................................................................12
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan...........................................................................................14
5.2 Saran......................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN DOKUMENTASI
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum Sitohistoteknologi dengan judul praktikum Identifikasi Ordo


Chilopoda (Lipan).

Nama Kelompok 3 : Abd. Hair Husain (2320191021)

Karmita Hamzah (2320191011)

Dina Rahmatika (2320191032)

Putri Regita Katili (2320191004)

Sri Tinsia Husain (2320191023)

Junelan Ningsih Pandju (2320191013)

Kelas : A (Semester 3)

Pada hari ini…………….tanggal………bulan…………………tahun 2020 telah


diperiksa dan disetujui oleh asisten, maka dengan ini dinyatakan diterima dan
dapat mengikuti percobaan berikutnya.

Gorontalo, November 2020

Asisten I Asisten II

Agusriyanto Yusuf, S. Pd., M. si Hendri Djafar


LEMBAR ASISTENSI

Laporan lengkap ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti praktikum
Sitohistoteknologi T.A 2020.

Nama Kelompok 3 : Abd. Hair Husain (2320191021)

Karmita Hamzah (2320191011)

Dina Rahmatika (2320191032)

Putri Regita Katili (2320191004)

Sri Tinsia Husain (2320191023)

Junelan Ningsih Pandju (2320191013)

Kelas : A (Semester 3)

No. Hari/Tanggal Koreksi Paraf

1. senin/ 9 - Sumber di
cantumkan dan
mengacu pada sumber
blog, harus jurnal atau
buku
- Hasil pengamatan di
cantumkan bukan
gambar downdload
dan dimasukan dalam
tabel

2. Selasa/ 10 - Hasil perbaikan di


cantumkan dalam
lembar asistensi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu masalah umum yang dihadapi dalam bidang kesehatan di
Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan angka pertumbuhan
yang cukup tinggi disertai tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang masih
rendah. Keadaan ini dapat menyebabkan lingkungan fisik dan biologis yang
tidak memadai sehingga memungkinkan berkembang biaknya vektor
penyakit. Binatang sebagai vektor penyakit tersebut, tidak hanya sebagai
perantara penularan penyakit, melainkan juga dapat merugikan kehidupan
manusia karena mengganggu secara langsung. (Widodo, H. 2015)
Arthropoda (arthros = sendi atau ruas dan podos = kaki) adalah hewan
yang memiliki kaki bersendi/beruas-ruas. Arthropoda merupakan filum
terbesar dari kingdom animalia. Jumlah spesiesnya lebih banyak dari filum-
filum lainnya. Arthropoda dapat ditemukan di berbagai habitat, antara lain di
air, di darat, di dalam tanah dan ada juga yang hidup sebagai parasit pada
hewan dan tumbuh-tumbuhan. (Widodo, H. 2015)
Arthropoda adalah hewan triploblastik, selomata (tubuh dan kaki
beruas-ruas) dan bilateral simetris. Tubuhnya terdiri atas kepala, dada, dan
abdomen yang keseluruhannya dibungkus oleh zat kitin dan merupakan
kerangka luar (eksoskeleton). Biasanya diantara ruas-ruas terdapat bagian
yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan. Pada
waktu tertentu kulit dan tubuh Arthropoda dapat mengalami pergantian kulit
(eksdisis).
Arthropoda adalah yang paling besar dalam dunia dan mencakup dan
hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara,
termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit.
Lipan atau kelabang (bahasa Inggris: centipede) adalah hewan
arthropoda yang tergolong dari kelas Chilopoda dan upafilum Myriapoda.
Kelabang adalah hewan metameric yang memiliki sepasang kaki di setiap
ruas tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk hewan
nocturnal.
Beranjak dari hal tersebut di atas, dalam laporan ini penulis buat untuk
mengetahui dan mempelajari morfologi lipan, dan mengetahui gejala klinis,
pengobatan dan pencegahan terhadap bahaya parasit tersebut ini.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah morfologi, pencegahan, pengobatan serta siklus hidup lipan ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui morfologi, gejala
klinis, cara pencegahan, pengobatan dan siklus hidup lipan.
1.4 Manfaat
Praktikum ini sangat bermanfaat karena dengan belajar serta mengamati
langsung morfologi lipan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Arthropoda
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, arthos yang artinya
segmen/ruas dan poda yang artinya kaki. Jadi, Arthropoda adalah hewan
berkaki ruas. Semua jenis hewan yang termasuk filum arthropoda memiliki
tubuh dan kaki yang berruas-ruas. Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai
rangka luarnya ( Agnestika, Intan Kartika. 2016).
Filum Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan
dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya.
Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku.
Empat dari lima bagian dari spesies hewan adalah Arthropoda, dengan
jumlah di atas satu juta spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang
mencapai awal Cambrian. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar,
darat, dan lingkungan udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan
parasit. Hamper 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah
Arthropoda. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida,
contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan (Agnestika, Intan Kartika.
2016).
Secara evolusi kelompok arthropoda merupakan hewan yang paling
berhasil dalam mengembangkan jenisnya . hampir 75% hewan dibumi ini
adalah arthropoda.
ciri penting lain adalah kelompok arthropoda tidak mempunyai
sertuktur tulang di dalam tubuhnya. Arthropoda mempunyai struktur dinding
badan keras yang menutupi tubuh bagian dalam tubuh yang biasanya disebut
aksosekeleton. Bagian paling luar mempunyai struktur yang paling keras
namun struktur ini masih memungkinkan pergerakan disetiap ruas. (Widodo,
2013).
2.2 Tinjauan Lipan (Scolopendromorpha)
Lipan atau kelabang (bahasa Inggris: centipede) adalah hewan
arthropoda yang tergolong dari kelas Chilopoda dan upafilum Myriapoda.
Lipan adalah hewan metamerik yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas
tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk hewan
nokturnal. Lipan mudah ditemukan di daerah yang diarsir seperti bagian
bawah daun-daun mati, batu, gua, hutan, dan bahkan bagian dalam rumah.
Mereka biasanya ditemukan di daerah iklim seperti padang pasir,
pegunungan, dan hutan. Mereka adalah arthropoda soliter (bila disatukan,
Anda melawan dengan kematian salah satu dari dua) dan malam. Pada siang
hari mereka pergi untuk mencari perlindungan di lahan basah dan gelap. Jika
cuaca terlalu basah atau terlalu kering, mereka mencari tempat lain untuk
datang berlindung di dalam rumah. Spesies yang hidup di zona beriklim
panas biasanya lebih kecil (hingga 10 cm) dari mereka menghuni daerah
khatulistiwa yang lembab, yang dapat melebihi 30 cm.
2.3 Morfologi Lipan
Tubuh terdiri atas kepala (cephalo) dan perut (abdomen) tanpa dada
(toraks), dan beruas-ruas, terdiri atas ± 10 hingga 200 segmen. Dibagian
kepala terdapat satu pasang antena sebagai alat peraba dan sepasang mata
tunggal (ocellus). Penambahan jumlah segmen terjadi pada tiap pergantian
kulit.
Tubuh agak gepeng, terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas
(15 –173 ruas). Tiap ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di
belakang kepala dan dua segmen terakhirnya. Pada segmen di belakang
kepala terdapat satu pasang “taring bisa” (maksiliped) yang berfungsi untuk
membunuh mangsanya. Pada kepala terdapat sepasang antena panjang yang
terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut. Hewan ini
memangsa hewan kecil berupa insecta, mollusca, cacing dan binatang kecil
lainnya, sehingga bersifat karnivora. Alat pencernaan makanannya sudah
sempurna artinya dari mulut sampai anus. Alat eksresi berupa dua buah
saluran malphigi. Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-
cabang dengan lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas. Habitat (tempat
hidup) di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk.
Kelas ini sering disebut Sentipede.
Gambar 2.3 Struktur Kelabang
2.4 Siklus Hidup
Di seluruh dunia ada sekitar 8000 spesies dengan 3000 yang sudah
diidentifikasi. Secara geografis, kelabang dapat hidup di berbagai wilayah
dari hutan tropis sampai gurun. Ini artinya populasi kelabang tersebar di
mana-mana. Spesies yang hidup di daerah khatulistiwa yang lembab, dapat
tumbuh hingga melebihi 30 cm. Berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya
yang pertumbuhan kelabang hanya sampai 10 cm.
Kelabang sangat membutuhkan air karena tubuh mereka mudah sekali
kehilangan cairan melalui kulit. Itulah alasannya, mengapa kelabang lebih
senang berada di lubang atau tempat yang gelap dan lembab.
Ketika siang hari, kelabang senang pergi mencari perlindungan di lahan
basah dan gelap. Jika cuaca terlalu basah ataupun terlalu kering, mereka
mencari tempat lainnya lagi, yakni datang berlindung di dalam rumah.
2.5 Klasifikasi
Scolopendra gigantea (Kelabang), merupakan arthropoda pemangsa
(predator cacing & serangga) yang memiliki ciri utama sebagai hewan
memiliki banyak kaki (pada setiap segmen, kecuali segmen di belakang
kepala dan dua segmen terakhirnya) serta bentuk tubuh yang pipih (terbagi
menjadi dua bagian yaitu kepala dan abdomen). berbagai literatur
mengklasifikasikan Kelabang kedalam kelas Myriapoda (Myria=banyak,
podos=kaki), ada juga literatur yang mengklasifikasikan kedalam kelas
Chilopoda. Menurut situs The Animal Diversity, Klasifikasi Scolopendra
gigantea (Kelabang) adalah sebagai berikut::
Scolopendra gigantea
KINGDOM : Animalia
FILUM : Arthropoda
KELAS : Chilopoda
ORDO : Scolopendromorpha
FAMILI : Scolopendridae
GENUS : Scolopendra
SPESIES : Scolopendra gigantea
2.6 Sistem Organ Myriapoda
Sistem Organ Keterangan
Saluran pencernaannya lengkap dan mempunyai
kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor dengan
Sistem pencernaan gigi beracun pada segmen pertama, sedangkan
Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah dan
daun-daunan.
Organ pernapasan berupa satu pasang trakea
berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas,
Sistem respirasi
kecuali pada Diplopoda terdapat dua pasang di
tiap ruasnya.
Sistem peredaran darahnya bersifat terbuka. Organ
transportasiberupa jantung yang panjang dan
terletak memanjang di bagian punggung tubuh.
Pada Chilopoda terdapat sepasang ostium di tiap
segmen, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua
pasang ostium di tiap segmen. Darah tidak
Sistem peredaran darah
berwarna merah karena tidak mengandung
hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang
larut dalam plasma. Dari jantung darah dipompa
ke dalam arteri ke tiap segmen, dan kembali ke
jantung lewat hemosoel (rongga tubuh yang
mengambil bagian dalam peredaran darah).
Organ ekskresi berupa dua pasang pembuluh
Sistem ekskresi Malpighi yang bertugas mengeluarkan cairan yang
mengandung unsur Nitrogen (N).
Sistem syarafnya disebut syaraf tangga tali dengan
alat penerima rangsang berupa satu pasang mata
Sistem syaraf
tunggal dan satu pasang antena sebagai alat
peraba.
Reproduksi secara seksual, yaitu dengan
Sistem reproduksi pertemuan ovum dan sperma (fertilisasi internal).
Myriapoda ada yang vivipar dan ada yang ovipar.
Tabel 2.6 Sistem Organ Kelabang
2.7 Masalah Klinis Gigitan Kelabang
Penanganan kelabang termasuk jenis hewan yang sangat ditakuti oleh
semua orang. Kelabang bisa ditemukan di berbagai kondisi rumah baik rumah
yang bersih atau kurang terawat. Kelabang akan berjalan dengan sangat cepat.
Biasanya kelabang bisa dibasmi dengan beberapa cara termasuk dengan
memukul dengan benda keras. Bagian yang paling menakutkan dari kelabang
adalah gigitan yang sangat menyakitkan. (Anonim. 2015)
Kelabang tertentu yang termasuk dalam kelas chilopoda memang sangat
berbahaya untuk manusia. Jenis kelabang ini bisa menyebarkan sebuah racun
yang disebut dengan “venom”. Racun ini diproduksi pada bagian dasar taring
kelabang. Bagian segmen tubuh kelabang yang pertama banyak mengandung
venom. Ketika kelabang menggigit kulit manusia maka kelenjar racun dari
kelabang akan menyemburkan racun melalui sebuah saluran bagian depan
taring kelabang yang berbentuk seperti jarum. Racun kelabang biasanya
memang tidak menyebabkan bahaya apapun untuk manusia, tapi yang paling
ditakuti adalah ketika kelabang menggigit dan menyebabkan rasa sakit yang
sangat parah. (Anonim. 2015)
Jenis kelabang lain yang menyebabkan racun adalah kelabang yang
termasuk dalam kelas maxillipeds. Ciri khas dari kelabang ini memiliki
bentuk kaki depan yang lebih melengkung di sekitar kepala dan ada rahang di
bagian belakang. Cara kelabang menyemburkan racun pada dasarnya sama
seperti jenis kelabang lainnya. Kelabang jenis ini sering tidak menyebabkan
rasa sakit yang terlalu parah sehingga hampir mirip seperti gigitan tawon.
(Anonim. 2015)
Meskipun racun tidak menyebabkan masalah pada orang yang digigit ,
namun gigitan kelabang bisa menyebabkan trauma yang parah. Bahaya
gigitan kelabang kecil belum bisa menembus kulit manusia karena taring
yang masih sangat lemah. Namun taring yang besar pada kelabang besar bisa
menyebabkan gigitan yang sangat sakit. Bahaya dari gigitan kelabang adalah
rasa sakit nyeri yang parah dan sulit untuk diatasi. Nyeri karena gigitan
kelabang bisa terjadi selama beberapa hari dan biasanya membuat orang yang
digigit menjadi frustasi. Namun gigitan kelabang sama sekali tidak
menyebabkan kematian mendadak meskipun bisa menderita beberapa jenis
gejala keracunan. (Anonim. 2015)
Rasa sakit yang parah biasanya terjadi untuk orang yang baru saja
digigit kelabang. Selain itu, pada bagian bekas gigitan kelabang sering
menjadi bengkak dan berwarna gelap. Gejala ringan atau rasa sakit yang
ringan biasanya akan sembuh selama dua hari, namun jika kelabang yang
menggigit terlalu besar maka rasa sakit bisa menjadi lebih lama. Beberapa
gejala lain dari gigitan kelabang adala sakit kepala, gangguan, pernafasan,
nyeri saat bernafas, penyebab dada sakit dan sesak, denyut jantung yang lebih
cepat, mual dan muntah, tubuh lemah.
2.8 Pengobatan
Ketika kelabang menggigit maka ada bagian jarum kecil yang ditusukan
pada permukaan kulit. Tusukkan inilah yang menyebabkan rasa sakit parah
saat terkena gigitan kelabang. Terlebih jika ukuran kelabang sudah besar,
maka rasa sakit bisa menjadi lebih parah. Namun, jika kondisi ini terjadi
maka bisa mengatasi reaksi sakit dengan cara:
1. Bersihkan daerah bekas gigitan kelabang dengan sabun yang mengandung
antiseptik.
2. Kompres dengan air panas atau air dingin pada bagian gigitan kelabang
untuk mengurangi rasa sakit pada bekas gigitan kelabang.
3. Gunakan obat-obatan anti nyeri apabila bekas gigitan kelabang
menimbulkan nyeri yang sangat parah.
4. Gunakan krim atau salep yang mengandung hidrokortison apabila bekas
gigitan kelabang menyebabkan penyakit kulit gatal dan ruam.
5. Jika ada infeksi dari bekas gigitan kelabang maka bisa menggunakan
beberapa jenis antibiotik yang didapatkan dari dokter.
6. Ruam atau jaringan kulit yang rusak pada biasanya bisa sembuh sendiri
namun menjaga kebersihan daerah sekitar gigitan kelabang sangat
diperlukan.
7. Bahaya gigitan kelabang juga bisa menyebabkan tetanus sehingga jika
Anda belum pernah mendapatkan vaksin untuk mengatasi tetanus maka
harus segera berkonsultasi ke dokter.
2.9 Pencegahan
Cara yang paling ampuh dalam memerangi kelabang adalah melakukan
langkah pencegahan sejak awal, karena bila kelabang berada dalam rumah
anda, maka tak banyak cara yang bisa anda lakukan, paling-paling
mengambil lipan tersebut dan meletakkannya di luar rumah serta
membunuhnya.
Ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mencegah lipan
bertempat tinggal di rumah anda.
1. Menjaga beberapa tempat agar tidak lembab
Lipan berkembang di lingkungan basah, mereka suka dengan daun
basah, tanah, karpet, yang pada dasarnya jika ada kelembaban yang
terbentuk di dekat atau di dalam rumah anda, ini akan memancing lipan
untuk datang ke rumah anda untuk menjadikannya sebagai tempat
tinggalnya, maka yang sebaiknya anda lakukan adalah memastikan
selokan di sekitar rumah anda, bisa menjauhkan terjadinya kelembaban
pada pondasi bangunan rumah anda segera menyapu daun yang jatuh dari
pohon, serta menjauhkannya dari rumah anda. Jauhkan tumpukan mulsa
basah dan tanah jauh dari rumah anda gunakan dehumidifier untuk
menjaga rumah anda tetap kering.
2. Segera dempul retakan yang terjadi pada pondasi dan tembok rumah.
Lipan ini adalah binatang yang sangat datar dan licin sehingga dengan
mudah menemukan jalan masuk ke rumah hanya melalui retakan kecil
pada rumah anda.
3. Tutup saluran atau ruang di sekitar kabel yang mengarah ke rumah.
4. Perbaiki kaca yang rusak dengan menambal atau menggantinya
5. Singkirkan binatang yang menjadi sumber makanan lipan dari rumah anda
jika anda menemukan lipan di rumah maka kemungkinan juga terdapat
hama kecil lainnya di rumah Anda karena lipan juga merupakan salah satu
predator untuk serangga kecil misalnya semut dan lalat buah. Tentunya
dengan menghilangkan serangga ini maka menghindarkan rumah anda
menjadi sebagai tempat prasmanan bagi lipan atau kelabang.
6. Semprotkan insektisida sepanjang tepi pondasi rumah.
BAB III
METODE KERA
3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
1. Kaca objek
2. Mikroskop
3. Pipet tetes
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
1. Larutan KOH
2. Kelabang / Lipan.
3.3 Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Meletakan lipan di kaca objek
3. Mengamati menggunakan mikroskop perbesaran 10x
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Berdasarkan pratikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil adalah
sebagai berikut :
No Sampel Gambar Keterangan
1 Lipan Lipan memiliki kaki
berjumlah banyak
dan antena yang
panjang di bagian
depan serta belakang
tubuhnya. Lipan
juga memiliki
segmen-segmen
yang panjang
sehingga menyerupai
kaki seribu. Lipan
hanya memiliki satu
pasang kaki .

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini kami melakukan pengamatan morfologi lipan.
Parasit ini adalah jenis filum arthropoda.
Lipan adalah predator dan akan membunuh dan mengkonsumsi
berbagai invertebrata lainnya seperti laba-laba, moluska, serangga, slaters
dan kelabang lainnya. Bila bertemu mangsanya, lipan akan menyerang
mangsanya dengan cara menggigit menggunakan kaki beracun yang
berguna untuk melumpuhkan mangsa. Mangsa biasanya bergerak kemudian
racun disuntikkan melalui taring dan kemudian dirobek-potong oleh rahang
dan bagian-bagian lunak dimakan.
Habitatnya Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat
di darat. Terutama di tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di
kebun dan di bawah batu-batuan. Habitatnya juga di bawah batu-
batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk. Kelas ini sering disebut
Sentipedes.
Bergerak cepat dan predator. Adakalanya merayap ke dalam ruang di
lokasi tersembunyi. Lebih menyukai tempat yang lembab. Mudah
kehilangan air jika mereka tidak memiliki kutikula lilin. Biasanya
ditemukan di luar ruangan, tapi dapat merayap ke dalam ruangan. Kelabang
adalah pemangsa dan mereka menggunakan antenanya untuk melacak
mangsanya. Seperti serangga, kelabang bernafas menggunakan sistem
trakea (bernafas lewat kulit).
Kelabang tumbuh dengan cara berganti kulit. Ada juga kelabang yang
dapat menumbuhkan satu buku tubuhnya setiap berganti kulit jadi misalnya
waktu lahir ia hanya memiliki 4 pasang kaki, seiring ia tumbuh dan berganti
ia akan terus menambahkan buku tubuh sehingga pada saat ia dewasa ia
memiliki 15 pasang kaki. Karena termasuk hewan berbisa, kelabang juga
dapat berbahaya bagi kita. Meskipun gigitan kelabang dewasa berukuran
besar dapat sangat menyakitkan, bisanya kemungkinan hanya menimbulkan
bengkak, demam dan lemas bagi orang dewasa. Menjadi berbahaya jika
yang digigit adalah anak kecil atau orang yang alergi terhadap sengatan
lebah. Tapi kebanyakan taring kelabang berukuran kecil bahkan tidak bisa
menembus kulit manusia

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat di simpulkan bahwa Arthropoda terbagi
menjadi empat kelas besar, yaitu Crustacea, Arachnoidea, Insecta, dan
Myriapoda.
Myriapoda, kelabang adalah hewan yang memiliki sepasang kaki di
setiap ruas tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk
hewan nokturnal (beraktivitas di malam hari). Contoh : lipan (kelabang),
luwing (kaki seribu).
5.2 Saran
Pada praktikum ini sebaiknya praktikan lebih bersungguh-sunguh
mencari tahu morfologi dan siklus hidup serta mengetahui tempat atau sarang
dari arthropoda karena beberapa arthropoda ini sangat bahaya dan beracun.
DAFTAR PUSTAKA
Agnestika, Intan Kartika. 2016. Peran Arthropoda dalam Ekosistem

Jasin, Maskoeri. 2017. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya

Najima, K. and Yamane, A. 1991. The Effect of Reforestation on Soil Fauna in


the Philippines. Philippines Journal of Science. 120 (1) : 1-9.

Adisoemarto, S. 1998. Kemungkinan Penggunaan Serangga Sebagai


IndikatorPengelolaan Keanekaragaman Hayati. Biota. Vol. III. (1) : 25–
33
Robert W. & Engemann, Joseph G. 1968. Invertebrate Zoology. The Macmillan
Company. New York.
Lampiran

Myriapoda Myriapoda

Anda mungkin juga menyukai