Anda di halaman 1dari 20

MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-56
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

GARIS BESAR SYSTEM CRI

System CRI mendeteksi kondisi dari engine ( putaran engine, sudut accelerator, suhu air pendingin,dsb ) dari bebera
sensor, dan menggunakan sebuah microcomputer untuk memuat semua control dari jumlah bahan bakar ya
disemprotkan, waktu penyemprotan bahan bakar, dan tekanan penyemprotan bahan bakar untuk mengoperasikan engi
pada kondisi yang optimal.

Komputer juga memuat self - dignosis dari komponen - komponen utama, dan jika terdapat ketidak normalan, komputer
akan mendiagnosa dan mengirimkan alarm untuk menginformasikan pada operator. Komputer ini juga mempunyai fail-sa
function untuk menghentikan engine sesuai dengan lokasi ketidaknormalan dan backup function untuk merubah meto
pengontrolan agar dapat memungkinkan untuk dioperasikan kembali.

STRUKTUR
System CRI dapat dibagi sesuai fungsinya yaitu fuel system dan control system.

1. Fuel system
Bahan bakar dengan tekanan tinggi yang dihasilkan oleh fuel supply pump mengalir melalui common rail dan
distribusikan ke masing-masing silinder.Awal dan akhir dari penyemprotan dikontrol / diatur dengan pembukaan d
penutupan nozzle needle valve dengan menggunakan sebuah electromagnetic valve didalam injektor.

Electronic control

Needle lift amount control


by electromagnetic valve
Control of discharge
amount

Fuel tank Fuel supply pump Common rail Injektor

2. Control system
ECU ( Engine Control Unit ) melakukan kontrol dengan mengkalkulasi berapa lama dan ketepatan / timing dari arus ya
dikirimkan ke injektor dengan menggunakan signal-signal dari sensor yang terpasang di engine dan beberapa bagian d
unit sehingga menginjeksikan jumlah yang sesuai pada timing injeksi yang sesuai.

Control system dan komponen elektrik dapat dijabarkan dalam sensor, komputer, dan aktuator.

Sensor system Computer Actuators


opening angle
of accelerator
Accelerator sensor Injector
(Fuel injection amount, fuel
(Engine speed) injection timing control)
NE revolusion sensor
(crank angle sensor)
(Cylinder Common rail
ECU
judgment
G revolusion sensor signal)
(cylinder judgment sensor)

Other sensors,switches Fuel supply pump


(Fuel injection pressure control)

11-57
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

STRUKTUR DAN FUNGSI SYSTEM CRI


System CRI terdiri dari fuel supply pump, common rail, dan injektor, sebuah ECU dan sensor-sensor yang
mengaturnya.
Fuel supply pump membangkitkan tekanan bahan bakar didalam common rail.Tekanan bahan bakar diatur oleh
jumlah bahan bakar yang dipompakan dari supply pump.Jumlah bahan bakar yang dipompakan diatur dengan
mengirimkan elektrik signal dari ECU ke switch PCV (discharge control valve)dari fuel supply pump ON-OFF.

Common rail menerima tekanan bahan bakar yang dibangkitkan fuel supply pump dan mendistribusikanya ke
masing masing silinder.Tekanan bahan bakar dideteksi oleh common rail fuel pressure sensor yang terpasang di
common rail.Sensor ini bekerja sebagai feed back kontrol untuk memastikan bahwa nilai tekananya sesuai
dengan perintah nilai tekanan yang di setel / set sesuai dengan kecepatan dan beban engine.
Tekanan bahan bakar dicommon rail melewati fuel injection pipes dari tiap silinder menuju ruang control chamber
dan ruang nozzle dari injektor.

Injektor mengatur jumlah bahan bakar yang diinjeksikan dan timing saat injeksi / penyemprotan bahan bakar.Ini
diatur dengan merubah TWV (Two- Way electromagnetic Valve) ON-OFF.Ketika TWV di-ON-kan ( dihubungkan
arus listrik),saluran bahan bakar terhubung sehingga bahan bakar bertekanan tinggi didalam control chamber
mengalir melalui orifice dan mengalir keluar.Needle valve bergerak keatas disebabkan oleh nozzle cracking
pressure yang bekerja akibat bahan bakar tekanan tinggi yang ada sisi nozzle,dan penyemprotan bahan bakar
dimulai.Ketika TWV di-OFF-kan (tidak dialiri arus listrik),control chamber menjadi saluran bahan bakar dengan
tekanan tinggi bekerja melalui orifice,sehingga needle valve bergerak turun dan penyemprotan fuel berakhir.
Oleh karena itu fuel injection timing diatur secara electronic dengan mengatur arus yang mengalir menuju
TWV,dan jumlah fuel yang diinjeksikan diatur dengan lamanya arus listrik yang mengalir ke TWV.

11-58
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN


1. Fuel supply pump

1) Garis besar
Fuel supply pump terdiri dari priming pump, feed pump, dan high pressure pump.Pump ini berfungsi
membangkitkan tekanan bahan bakar didalam common rail dengan mengatur jumlah bahan bakar yang
dipompakan.

2) Struktur
Dengan high pressure pump, pump control valve (discharge amount control valve) terpasang pada tiap silinder
untuk mengatur sistim supply dan jumlah bahan bakar yang dipompakan sama seperti in-line FIP yang
konvensional.
Dengan memakai cam dengan 3 tonjolan, jumlah yang diperlukan dari high pressure pump (silinder) ditekan
sepertiganya dari jumlah silinder engine.Dengan penambahan ini suplly ke common rail adalah sama jumlahnya
pada tiap waktu seperti jumlah saat penyemprotan bahan bakar, sehingga memungkinkan untuk mendapatkan
tekanan common rail yang halus dan stabil.
Bahan bakar yang disupply dari high pressure pump menuju common rail untuk tiap pump dibagi sbb:
No.1 high pressure pump (drive gear side) (4) melayani penurunan tekanan didalam common rail yang
diakibatkan injeksi bahan bakar dari silinder no.1, 3, dan 5, sedangkan no.2 high pressure pump (sisi feed pump)
(6) melayani silinder no.2, 4, dan 6 pada kondisi yang sama.

1. 3 -protrusion type cam 6. No.2 high pressure pump


2. Over flow valve 7. Priming pump
3. Drive gear 8. Feed pump
4. No.1 high pressure pump 9. G revolusion pump
5. PCV (discharge control valve)

11-59
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

3) Cara kerja
A. Selama plunger bergerak turun, PCV kondisi terbuka, sehingga bahan bakar tekanan rendah megalir
melalui PCV dan terhisap kedalam plunger chamber.
B. Bahkan ketika plunger mulai langkah keatas ketika tidak ada arus listrik mengalir ke PCV dan PCV masih
terbuka, fuel masih mengalir melalui PCV, sehingga tekanan bahan bakar tidak naik .
C. Ketika arus listrik dikirimkan ke PCV untuk menutup valve dengan timing yang sesuai dengan jumlah
discharge yang diperlukan, saluran return akan terputus, dan tekanan didalam plunger chamber naik.
Oleh sebab itu, saluran bahan bakar melalui delivery valve (check valve) dan akan mensupply ke
common rail.
Dengan kata lain, ketika PCV tertutup, pergerakan plunger keatas akan menjadi jumlah dischargenya,
dan dengan merubah timing penutupan PCV (plunger prestroke), jumlah discharge berubah dan tekanan
bahan bakar di common rail akan terkontrol.
D. Ketika cam melampaui akhir pergerakan keatas, plunger mulai bergerak turun dan tekanan didalam
plunger chamber turun. Ketika ini terjadi delivery valve tertutup dan menutup supply bahan bakar ke
common rail. Dengan ini arus listrik yang menuju ke PCV diputus, sehingga PCV terbuka dan bahan
bakar dengan tekanan rendah terhisap ke dalam plunger chamber. Dengan kata lain, akan kembali ke
kondisi A.

11-60
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

4) PCV (discharge control valve)


PCV bekerja untuk menyetel jumlah discharge bahan bakar dari fuel supply pump untuk menyetel tekanan bahan
bakar di common rail. Jumlah discharge yang dikirimkan ke common rail dari fuel supply pump ditentukan oleh
timing dari arus listrik yang dikirimkan ke PCV.

5) Feed pump
Feed pump dipasang pada fuel supply pump assembly. Pump ini menghisap bahan bakar dari fuel tank,
mengalirkanya ke high pressure pump chamber melalui fuel filter. Feed pump rotor digerakan oleh camshaft, dan
ketika outer/inner rotor mulai berputar secara berurutan, bahan bakar terhisap dari suction side dan dikeluarkan
pada saluran discharge sesuai dengan perubahan ukuran dari celah yang ditimbulkan antara outer dan inner
rotor.

2. Common rail

1) Struktur
Common rail bekerja untuk mendistribusikan bahan
bakar tekanan tinggi yang dihasilkan oleh high
pressure pump dan mengirimkanya ke injektor pada
masing-masing silinder. Common rail dilengkapi
dengan common rail fuel pressure sensor, flow
damper, dan pressure limiter.
Flow damper dilengkapi dengan fuel injection pipe
dan mengirimkan bahan bakar tekanan tinggi ke
injektor. Pipa dari pressure limiter diarahkan untuk
kembali ke fuel tank.

11-61
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

2) Flow damper
Flow damper meredam kejutan pressure didalam
high pressure piping dan bekerja untuk mensuplly
bahan bakar pada tekanan yang stabil ke injektor.
Jika ada kelebihan bahan bakar yang mengalir,
flow damper akan bekerja untuk menutup saluran
bahan bakar dan mencegah ketidak normalan
aliran bahan bakar.
Jika timbul ketidak normalan aliran, tekanan tinggi
akan bekerja di piston, sehingga piston dan ball
akan bergerak kekanan seperti terlihat pada
gambar dan akan kontak terhadap seat. Yang
akhirnya saluran bahan bakar tertutup.

3) Pressure limiter
Pressure limiter membuka jika terdapat tekanan
tinggi yang abnormal, dan bekerja untuk
membebaskan tekanan abnormal tersebut.
Pressure limiter membuka bila tekanan bahan
bakar di common rail mencapai ± 140 Mpa {1,430
kg/cm²} dan ketika tekanan turun ± 30 MPa {310
kg/cm²}, akan tertutup kembali dan bekerja untuk
mempertahankan tekanan.

11-62
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-62
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

4) Common rail fuel pressure sensor


Common rail fuel pressure sensor terpasang pada common rail dan mendeteksi tekanan bahan bakar. Sensor ini
adalah sebuah semi konduktor pressure sensor .Sensor ini menggunakan karakteristik silicon, yang mana akan
merubah tahanan listrik jika ada pressure bekerja padanya.

3. Injektor

1) Garis besar
Fungsi injektor adalah untuk menginjeksikan bahan bakar tekanan tinggi dari common rail sesuai signal dari ECU
kedalam injection chamber dari engine pada timing injection, jumlah bahan bakar yang diinjeksikan, perbandingan
injeksi bahan bakar, dan kondisi pengabutan yang optimal.
TWV (Two Way electromagnetic Valve) mengatur tekanan didalam control chamber dengan maksud untuk
mengatur awal dan akhir dari injeksi bahan bakar .
Orifice mengatur sudut pembukaan dari nozzle untuk mengatur perbandingan injeksi bahan bakar.
Hidrolik piston memindahkan tenaga ke needle valve dari nozzle sesuai pressure di control chamber.
Nozzle bekerja untuk mengabutkan bahan bakar.

11-63
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-63
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

2) Struktur
Injektor terdiri atas sebuah konvensional nozzle, 2-way electromagnetic valve, hidrolik piston, dan orifice
yang mengatur perbandingan injeksi bahan bakar.

1. Inlet connector 5. Outer body 10. Control chamber


2. Terminal 6. Inner valve Valve assembly 11. Command piston
3. Upper body 7. Valve body 12. Spring
4. Solenoid 8. OUT orifice 13. Pressure pin
9. IN orifice 14. Nozzle assembly

11-64
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

3) Cara kerja
TWV injector adalah 2-way valve dan terdiri atas inner valve (tetap) (4) dan outer valve (bisa bergerak)
(3).Terpasang presisi pada shaft yang sama. Keduanya membentuk inner dan outer seat, ketika TWV
diposisikan ON/OFF, satu dari kedua seat tadi akan terbuka.

i) No injection fuel
Ketika tidak ada arus listrik yang dikirimkan ke solenoid, outer valve (3) terdorong ke bawah oleh valve spring
dan tekanan bahan bakar, dan outer seat (5) tertutup.Tekanan tinggi dari common rail bekerja pada control
chamber (7), sehingga nozzle (8) tertutup dan tidak ada bahan bakar yang diinjeksikan.

ii) Start of fuel injection


Ketika arus listrik mulai mengalir ke TWV, outer valve (3) tertarik keatas oleh tenaga electromagnet dan outer
seat (5) terbuka. Akibatnya bahan bakar dari control chamber mengalir keluar melalui orifice (2) dan (6), nozzle
needle bergerak keatas, dan injeksi bahan bakar dimulai. Karena adanya orifice (2) dan (6), perbandingan
injeksi bahan bakar naik secara bertahap. Jika arus listrik terus dikirimkan, perbandingan injeksi bahan bakar
akan mencapai maximal.

iii) Completion of fuel injection


Jika arus listrik yang mengalir ke TWV diputus, outer valve (3) bergerak kebawah karena tekanan valve spring
dan tekanan bahan bakar, dan outer seat (5) tertutup. Ketika ini terjadi, bahan bakar tekanan tinggi di common
rail dengan cepat bekerja di control chamber, sehingga nozzle dengan cepat akan tertutup dan akhir dari injeksi
bahan bakar terlaksana dengan sangat cepat.

1. Hydraulic piston 7. Control chamber


2. Orifice 1 8. Nozzle
3. Outer valve
4. Inner valve A. Common rail (selalu pada tekanan tinggi)

11-65
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

5. Outer seat (18 - 130MPa{180 - 1,330kg/cm²})


6. Orifice 2 B. Bocor

11-65
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

4) Electric circuit diagram

11-66
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

4. Sensor dan relay

1) NE revolusion sensor (crank angle sensor)


Ketika signal lubang di fly wheel melewati sensor, arah
medan magnet yang melewati coil berubah dan
tegangan AC dibangkitkan didalam coil.
Signal lubang di fly wheel terbentuk tiap 7.5º, tetapi ada
3 tempat yang tidak terdapat lubang, sehingga total ada
45 signal lubang. Oleh sebab itu tiap 2 putaran engine,
mengeluarkan 90 pulsa. Dari signal ini kecepatan
engine dan crank angle tiap 7.5º terdeteksi.

2) G revolusion sensor (cylinder judgement sensor)


Sama seperti NE revolusion sensor, perubahan arah
medan magnet yang melewati coil digunakan untuk
membangkitkan tegangan AC.
Disc shaped gear terdapat pada tegah-tengah dari
camshaft high pressure pump yang mempunyai
potongan gigi (dibuat notch) tiap 120º,dengan keadaan
ini terdapat extra gigi pada satu titik. Karena, itu tiap 2
putaran engine, mengeluarkan 7 pulsa.
Kombinasi dari pulsa NE revolusion sensor dan pulsa G
revolusion sensor dikenali sebagai standar pulsa
silinder no.1.

11-67
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-67
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

3) Water temperature sensor


Water temperature sensor mendeteksi suhu air
pendingin engine dan mengirimkanya ke ECU.
Sensor ini menggunakan thermistor dimana
perubahan harga tahanan sesuai dengan
temperaturnya. Tegangan diberikan pada thermistor
dan mendeteksi dengan tegangan yang dibagi dalam
harga tahanan didalam komputer dan harga tahanan
dari thermistor.

4) Fuel temperature sensor


Fuel temperature sensor mendeteksi temperatur
bahan bakar dan mengirimkanya ke ECU. Sensor ini
menggunakan thermistor dimana perubahan harga
tahanan sesuai dengan temperaturnya. Tegangan
diberikan pada thermistor dan mendeteksi dengan
tegangan yang dibagi dalam harga tahanan didalam
komputer dan harga tahanan dari thermistor.

11-68
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

Controls
CRI system mengatur jumlah injeksi bahan bakar dan timing injeksi jauh lebih cocok daripada mechanical
governor dan timer yang digunakan pada FIP konvensional.
System control memuat perhitungan yang diperlukan didalam ECU dari signal dari sensor-sensor yang terpasang
pada engine dan unit, dan megatur timing dan seberapa lama arus listrik dikirimkan ke injektor sehingga dapat
terlaksana injeksi bahan bakar yang optimal pada timing yang optimal.

1. Fungsi control untuk jumlah injeksi bahan bakar


Fungsi ini untuk megatur jumlah injeksi bahan bakar menggantikan fungsi konvensional governor. Ini berfungsi
untuk mengatur injeksi bahan bakar sehingga jumlah injeksi bahan bakar yang optimal dapat terlaksana,
berdasarkan signal dari putaran engine dan sudut accelerator.

2. Funsi control untuk timing injeksi


Fungsi ini untuk megatur timing injeksi bahan bakar menggantikan fungsi konvensional timer. Ini berfungsi untuk
mengatur injeksi bahan bakar sehingga timing injeksi bahan bakar yang optimal dapat terlaksana, berdasarkan
signal dari putaran engine dan jumlah injeksi bahan bakar.

3. Fungsi control untuk tekanan injeksi bahan bakar (common rail fuel pressure control function)
Fungsi ini untuk mengatur tekanan injeksi bahan bakar (common rail fuel pressure control function) dengan
mengukur tekanan di common rail melalui common rail fuel pressure sensor. Fungsi ini memberi umpan balik ke
ECU dan mengatur jumlah discharge bahan bakar dari fuel supply pump.
Dengan mengatur tekanan balik sehingga sesuai dengan harga optimal yang di set (command value) sesuai
dengan putaran engine dan jumlah injeksi bahan bakar.

11-69
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-70
MECHANIC DEVELOPMENT SECTION IMM

11-70