Anda di halaman 1dari 20

RESUME PENDIDIKAN INKLUSIF

Istilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai mengemuka sejak tahun 1990, ketika


konferensi dunia tentang pendidikan untuk semua, yang diteruskan dengan pernyataan
salamanca tentang pendidikan inklusif pada tahun 1994.
Pendidikan inklusif memiliki prinsip dasar bahwa selama memungkinkan, semua anak
seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang
mungkin ada pada mereka.
Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman
seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994).
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua
murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak,
menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun
bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak
berhasil (Stainback, 1980). 
Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada
sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat
dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasidan atau penyesuaian, mulai
dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidikan dan kependidikan, sistem
pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.
Pendidikan inklusif telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa pertemuan
internasional mendasari pergerakan menuju pendidikan yang berkualitas bagi semua anak
melalui pendidikan inklusif. Landasan hukum dan landasan konseptual menjadi landasan bagi
gerakan menuju pendidikan inklusif di Indonesia adalah :
1. Deklarasi Hak Asasi Manusia (1948)
2. Konveksi Hak Anak (1989)
3. Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk semua (1990)
4. Persamaan Kesempatan bagi orang berkelainan (1993)
5. Pernyataan Salamanca tentang Pendidikan Inklusi (1994)
6. Komitmen Dasar mengenai Pendidikan untuk semua (2000)
7. Deklarasi Bandung (2004)
Konsep pendidikan inklusif muncul dimaksudkan untuk memberi solusi adanya perlakuan
diskriminatif dalam layanan pendidikan terutama bagi anak-anak penyandang cacat atau
anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Beberapa alasan penerapan Pendidikan Inklusif di Indonesia antara lain:
1. Semua anak mempunyai hak yang sama untuk tidak di-diskriminasi-kan dan
memperoleh pendidikan yang bermutu.
2. Semua anak mempunyai kemampuan untuk mengikuti pelajaran tanpa melihat
kelainan dan kecacatannya.
3. Perbedaan merupakan penguat dalam meningkatkan mutu pembelajaran bagi semua
anak.
4. Sekolah dan guru mempunyai kemampuan untuk belajar merespon dari kebutuhan
pembelajaran yang berbeda.

Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikut-sertakan


anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang
terdekat dengan tempat tinggalnya.
Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian
baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran
yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.
Manfaat pendidikan inklusif adalah :
1. Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan inklusif
sekaligus menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif.
2. Melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi
pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik
dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah.
3. Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan
masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran.
4. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu
pendidikan bagi semua anak.
Hal-hal yang harus diperhatikan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif :
1. Sekolah harus menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keaneka-
ragaman dan menghargai perbedaan.
2. Sekolah harus siap mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum
dan pembelajaran yang bersifat individual
3. Guru harus menerapkan pembelajaran yang interaktif.
4. Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya lain dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
5. Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan.
RESUME DISKUSI
SERTIFIKASI GURU KEAHLIAN GANDA

Program Keahlian Ganda adalah program pemberian tambahan kewenangan mengajar


bagi guru SMK/SMA yang mengajar mata pelajaran tertentu menjadi guru mata pelajaran
produktif di SMK pada kompetensi keahlian tertentu yang berbeda dengan kompetensi
keahlian sebelumnya, dan relevan dengan latar belakang pendidikannya.

Program Keahlian Ganda atau Program Sertifikasi Pendidik dan Sertifikasi Keahlian
Bagi Guru SMK/SMA, dilaksanakan merujuk pada Instruksi Presiden RI Nomor 9 tahun
2016, tentang Revitalisasi SMK. Program ini merupakan upaya untuk mengatasi kekurangan
guru mata pelajaran produktif di SMK. Program ini juga menjadi program prioritas
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Calon peserta Program Keahlian Ganda adalah guru yang mengajar mata pelajaran
adaptif, normatif, dan produktif di SMK serta guru mata pelajaran tertentu di SMA yang
memiliki permasalahan dengan pemenuhan beban mengajar 24 jam tatap muka per minggu.
Penjaringan calon peserta Program Keahlian Ganda melalui media online. Calon peserta yang
diundang maupun yang tidak diundang dan berminat mengikuti program ini dapat langsung
mendaftar ke laman http://keahlianganda.id. Bagi guru yang berminat namun tidak menerima
undangan dapat mendaftarkan diri secara manual dengan menggunakan NUPTK.

Program ini bertujuan untuk:


1. Membekali calon guru sasaran Program Keahlian Ganda dengan kompetensi keahlian
produktif sehingga mampu menjadi guru mata pelajaran produktif di SMK.
2. Memenuhi kebutuhan guru produktif di SMK khususnya untuk bidang
maritim/kelautan, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, serta teknologi dan
rekayasa.
3. Memberdayakan dan menata guru yang berlebih agar merata sesuai kebutuhan.
Manfaat program ini adalah :
1. Guru memperoleh sertifikat pendidik dan sertifikat keahlian pada kompetensi
keahlian produktif.
2. Proses pembelajaran di SMK diharapkan dapat lebih optimal.
3. Lulusan SMK mempunyai kompetensi yang sesuai dengan bidang keahlian sehingga
mampu bersaing di dunia kerja terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA).
Persyaratan untuk mengikuti keahlian ganda antara lain ;
1. Memiliki kualifikasi akademik minimal S-1/D-4.
2. Usia maksimal antara 45 sd 55 tahun sesuai dengan karakteristik kompetensi keahlian.
3. Guru dengan kondisi sebagai berikut:
a. Guru mengampu mata pelajaran
b. Guru mengampu mata pelajaran adaptif di SMK yang tidak tercantum dalam
kurikulum 2013, yaitu guru mata pelajaran IPA, IPS, Kewirausahaan, dan KKPI;
c. Guru mengampu mata pelajaran normatif di SMK yang berlebih yaitu guru
Matematika, PPKn, Penjas, dan Seni Budaya;
d. Guru SMA yang berlebih yaitu PPKn, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, Ekonomi,
Antropologi, dan TIK.
e. Guru produktif SMK lebih yang berlebih (yang kekurangan jam mengajar) sesuai
dengan sertifikat yang dimilikinya.
f. Guru produktif SMK yang paket/program keahlian yang diampunya tidak
diselenggarakan lagi di sekolahnya.
4. Mempunyai minat terhadap salah satu kompetensi pada program keahlian tertentu
tertentu, pada kelompok kemaritiman, pertanian, pariwisata, dan industri kreatif, serta
teknologi dan rekayasa.
5. Lulus tes bakat, khusus untuk pilihan minat pada paket keahlian seni/budaya dan
industri kreatif.
Terdapat lima kelompok bidang prioritas yang masuk dalam Program Keahlian Ganda,
yakni maritim/kelautan, pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, serta teknologi dan rekayasa.

Berikut alur proses pelaksanaan sertifikasi keahlian ganda


RESUME DISKUSI
“KENAKALAN REMAJA”

Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile
delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu
bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang".

Adapun penyebab kenakalan remaja, diantaranya sebagai berikut :

1. Faktor Internal
a. Krisis identitas
b. Kontrol diri yang lemah
2. Faktor Eksternal
a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih saying
b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan
c. Pengaruh dari lingkungan sekitar,
d. Tempat pendidikan

Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan baik di lingkungan sekolah


maupun keluarga, yaitu :

1. Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja


2. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja.
Kesulitan-kesulitan mana saja yang biasanya menjadi sebab timbulnya
pelampiasan dalam bentuk kenakalan.

Sedangkan apabila kenakalan remaja telah terjadi, maka tindakan yang dilakukan
diantaranya :

1. mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran. Dengan adanya


sanksi tegas pelaku kenakalan remaja tersebut, diharapkan agar nantinya si
pelaku tersebut “jera” dan tidak berbuat
2. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi, tindakan ini dilakukan setelah tindakan
pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu
RESUME DISKUSI
“SERTIFIKASI GURU”

Sertifikasi profesi guru adalah proses untuk memberikan sertifikat kepada guru yang
telah memenuhi standar kualifikasi dan standar kompetensi. Sertifikasi dilakukan oleh
perguruan tinggi penyelenggara pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan
ditetapkan oleh pemerintah. Kegiatan sertifikasi profesi guru meliputi peningkatan kualifikasi
dan uji kompetensi.

Uji kompetensi dilakukan melalui tes tertulis untuk menguji kompetensi professional
dan pedagogik dan penilaian kinerja untuk menguji kompetensi sosial dan kepribadian.
Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru dibarengi dengan peningkatan
kesejahteraan guru sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu
pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Sertifikasi guru bertujuan untuk:


1. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional,
2. Peningkatan proses dan mtu hasil-hasil pendidikan dan
3. Peningkatan profesionalisme guru.

Tingginya animo tenaga pendidik menghadapi sertifikasi guru tidak semata didorong
oleh motif untuk meningkatkan pelayanan pendidikan. Dalam ukuran tertentu, motif untuk
peningkatan pendidikan mungkin masih ada. Namun imajinasi yang tertanam dalam diri
banyak kalangan lebih berorientasi pada imajinasi ekonomi.

Rangkaian dari penafsiran tersebut melahirkan simpul bahwa uji sertifikasi adalah
ujian kenaikan kesejahteraan secara antri, bahwa tunjangan profesi seperti ini merupakan
bentuk kesejahteraan yang bergantung.

Bila kesejahteraan guru tergantung seperti ini akankah pelayanan pendidikan dapat
meningkat? Kualitas ketabahan dan ketahanan mental para guru akan menjadi jaminannya.
Tidak bisa dipungkiri, respons guru diawal pelaksanaan kebijakan uji sertifikasi memberikan
dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari guru. Hal yang paling mencolok, yaitu
menyuburnya gairah para guru untuk mengikuti berbagai kegiatan ilmiah di berbagai
lembaga atau perguruan tinggi. Tanpa berpikir mengenai biaya kegiatan, berbagai aktivitas
pengembangan profesi banyak yang diburu oleh kalangan guru, mulai dari kegiatan seminar,
symposium, ddiklat, atau pertemuan ilmiah lainnya. Dari fenomena memberikan harapan
besar, adanya peningkatan wawasan dan kemampuan guru dalam memahami tugas dan
kewajiban profesinya.

Dalam mencermati apa yang terjadi di lapangan ada sebagian pihak yang meragukan
kolerasi uji sertifikasi dengan peningkatan kualitas atau mutu pendidikan. Benarkah dengan
adanya sertifikasi guru, mutu dan kualitas layanan pendidikan akan meningkat? “Hal yang
harus diingat, uji sertifikasi guru itu untuk meraih tunjangan profesi bukan untuk
meningkatkan profesionalisme”, hal inipun mengindikasikan bahwa sinyalemen mengenai
adanya kegairahan guru dalam mempersiapkan diri mengikuti sertifikasi guru itu tidak
dilandasi oleh keinginannya untuk meningkatkan kompetnsi profesionalismenya, namun
lebih didorong oleh hasrat ekonomi merupakan sesuatu hal yang nyata.

Berdasarkan indikasi tersebut, tidak mustahil bila kemudian tujuan ideal pelaksanaan
sertifikasi guru pada dunia pendidikan akan sulit diwujudkan. Uji kompetensi tidak akan
mampu mendongkrak kompetesi dan profesionalisme tenaga pendidik. Hemat kata, belum
tampak ada satu jaminan mengenai adnya kolerasi positif antara sertifikasi profesi dengan
peningkatan profesionalisme.
RESUME DISKUSI
“PELAKSANAAN FULL DAY SCHOOL”

Munculnya sistem pendidikan full day school di Indonesia diawali dengan


menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak dipelopori oleh
sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel Islam. Dalam pengertian
yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran,
bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada system
pembelajarannya. Namun faktanya sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang
mahal, fasilitas yang lengkap dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-
tenaga pengajar yang “professional” walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin
kualitas pendidikan yang dihasilkan.

Full day school adalah sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang
dilakukan mulai pukul 06.45-15.00. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal
pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan
pendalaman materi.

Jika dilihat dari makna dan pelaksanaannya, full day school sebagian waktunya


digunakan untuk program pelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan
bagi siswa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini, Salim
berrpendapat berdasarkan hasil penelitian bahwa belajar efektif bagi anak itu hanya 3-4 jam
sehari (dalam suasana formal) dan 7-8 jam sehari (dalam suasana informal).

Metode pembelajaran full day school tidak melulu dilakukan di dalam kelas, namun


siswa diberi kebebasan untuk memilih tempat belajar. Artinya siswa bisa belajar dimana saja
seperti halaman, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.

Dengan mengikuti full day school, orangtua dapat mencegah dan menetralisir


kemungkinan dari kegiatan-kegiatan anak yang menjurus pada kegiatan yang negatif. Banyak
alasan mengapa full day school menjadi pilihan, antara lain:
a. Meningkatnya jumlah orangtua tunggal dan banyaknya aktifitas orangtua yang
kurang memberikan perhatian pada anaknya, terutama yang berhubungan dengan
aktifitas anak setelah pulang sekolah.
b. Perubahan sosial budaya yang tarjadi di masyarakat, dari masyarakat agraris
menuju ke masyarakat industri. Perubahan tersebut jelas berpengaruh pada pola
pikir dan cara pandang masyarakat.
c. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat sehingga jika tiddak
dicermati, maka kita akan menjadi korban, terutama korban teknologi
komunikasi.

Setiap sistem tidak mungkin ada yang sempurna, tentu memiliki keunggulan dan
kekurangan termasuk sistem full day school. Kombinasi antara fasilitas dan sistem
pendidikan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara efektif. Dengan demikian,
label full day tidak sebatas pada namanya saja. Namun dibuktikan dengan proses pendidikan
yang dikelola sesuai tujuan dan amanah undang-undang.
RESUME DISKUSI
“KURIKULUM 2013”

Pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana dalam


pembangunan bangsa dan karakter. Penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat
mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus
bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh
kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang jaman.

Oleh karena kurikulum dipandang sebagai salah satu unsur yang bisa memberikan
kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi
peserta didik, maka kurikulum  2013 perlu dikembangkan, dengan berbasis pada kompetensi
sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi:

1. Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang
selalu berubah;
2. Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri;
3. Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Beberapa kelebihan dan kekurangan dalam sistem Kurikulum 2013


a. Kelebihan
1. Dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran murid aktif, guru sebagai fasilitator
maupun motivator, semua aspek kehidupan bisa menjadi sumber pembelajaran,
serta melahirkan manusia pembelajar
2. Kurikulum 2013 melatih anak untuk lebih mandiri, kreatif, dan inovatif,
3. Kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan
membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini,
4. Penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong
anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan
terhadap lingkungannya.
b. Kekurangan
1. Kurikulum 2013 penuh kontradiksi,
2. Penggunaan ujian nasional (un) sebagai evaluasi standar proses pembelajaran
siswa aktif,
3. Kurikulum 2013 cocok untuk sekolah yang sudah maju dan gurunya punya
semangat belajar tinggi.
4. Sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit,
5. Kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai dan merata untuk
menjalankan kurikulum 2013.
RESUME DISKUSI
“SISTEM ZONASI PPDB”

Kebijakan zonasi dalam PPDB memiliki dampak-dampak langsung ataupun tidak


langsung yang terjadi dalam waktu pendek dan jangka panjang. Pertama, terbukanya akses
siswa rawan melanjutkan pendidikan untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Ini
merupakan dampak positif yang langsung bisa dirasakan.
Kebijakan zonasi membuka akses pendidikan bermutu pada keluarga-keluarga dengan
kemampuan sosial ekonomi pas-pasan yang umumnya berkorelasi dengan tingkat prestasi
akademis yang pas-pasan pula. Kedua, sekolah menjadi lebih heterogen jika dilihat dari profil
siswa, baik dari sisi latar belakang keluarga, tingkatan ekonomi, maupun kemampuan
akademis.
Heterogenitas dapat membuka wawasan komunitas sekolah (guru, karyawan, peserta
didik) tentang keragaman yang menjadi fondasi kebinekaan bangsa Indonesia. Ketiga, dari
sisi hak memperoleh pendidikan berkualitas, sistem zonasi membatasi minat, bakat, dan
preferensi individu peserta didik untuk memilih sekolah yang mereka inginkan. Persoalan ini
memang sudah diatasi dengan kebijakan kuota 5 persen untuk anak-anak berprestasi agar bisa
bersekolah di sekolah yang mereka inginkan tanpa melalui ketentuan zonasi. Namun, kuota
ini tetap saja membatasi aspirasi setiap siswa dan orangtua untuk memberikan hak pendidikan
yang berkualitas bagi putra-putri mereka.
Kebijakan zonasi dalam PPDB tidak hanya memiliki dampak, baik yang positif
maupun negatif, melainkan juga menyisakan persoalan yang harus diselesaikan dengan cepat
pada masa depan. Persoalan yang muncul bisa terjadi karena faktor demografis, psikologis,
dan budaya.
Pertama, dari sisi demografis, kebijakan zonasi alih-alih menghilangkan paradigma
sekolah elite dan bukan, justru dalam jangka panjang akan memperlebar jurang ketimpangan
kualitas. Sekolah-sekolah favorit dan elite umumnya berada di pusat kota. Harga tanah yang
tinggi di kota hanya akan terjangkau oleh keluarga-keluarga kaya yang umumnya sudah
sangat sadar akan arti penting pendidikan. Keluarga kaya tetap akan memperoleh layanan
pendidikan bermutu, sedangkan keluarga miskin, yang umumnya berada di pinggiran, juga
akan memperoleh akses pendidikan dengan kualitas pinggiran berdasarkan sistem zonasi.
Kedua, dari sisi psikologis, akan terjadi ketidaknyamanan. Guru merasa tidak nyaman
karena kemapanan dan stabilitas yang mereka rasakan selama ini terusik. Sekolah dengan
kualitas baik memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap peserta didik sehingga guru yang
terbiasa hanya mengelola anak-anak pandai dan bermotivasi tinggi akan mengalami frustrasi
ketika berjumpa dengan peserta didik dengan kualitas akademis yang jauh dari ekspektasi
mereka. Jika ini berlangsung terus, pada masa depan sekolah yang sudah baik malah menjadi
turun kualitasnya.
Ketiga, peserta didik dari kalangan miskin akan mengalami benturan kebudayaan di
sekolah baru. Siswa akan kaget dengan ekspektasi tinggi para guru dan kebiasaan-kebiasaan
belajar di sekolah baru. Jika tidak diatasi, persoalan ini akan menjadi kendala integrasi bagi
siswa dari latar belakang ekonomi dan kemampuan akademis yang rendah.
            Persoalan yang muncul akibat kebijakan zonasi memerlukan tanggapan dan sikap
yang segera harus dilakukan agar persoalan PPDB ini tidak membingungkan masyarakat luas.
Agenda pertama adalah pemerintah harus segera memastikan bahwa kualitas sekolah, baik di
kota-kota besar maupun di pedesaan, atau di pinggiran juga memiliki kualitas yang setara,
dari sisi sarana dan prasarana, pendidik dan tenaga pendidikan, serta kualitas pengajaran dan
pemelajaran. Kedua, pemerintah perlu merombak mentalitas para guru yang selama ini hanya
ingin mengajar di sekolah elite dan perkotaan yang memiliki peserta didik dengan
kemampuan akademis baik.
Guru perlu didorong agar memiliki komitmen pengajaran kepada semua peserta didik
tanpa diskriminasi. Paradigma pendidikan yang berpusat pada siswa perlu menjadi acuan
untuk menentukan pendampingan dan fasilitasi peserta didik dalam belajar sesuai dengan
minat, bakat, dan perbedaan cara belajar yang mereka miliki. Ketiga, beberapa pemerintah
daerah sudah memiliki mekanisme PPDB tersendiri. Mekanisme ini perlu segera
disinkronisasi agar selaras dengan peraturan baru PPDB.
RESUME DISKUSI
“PERLINDUNGAN PROFESI GURU”

Perlindungan terhadap profesi guru sebenarnya sudah ada payung hukumnya sejak
tahun 2005,pertama lahirnya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 1
ayat(1) dan Pasal 39. Perlindungan terhadap guru tersebut meliputi perlindungan hukum,
perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan kerja dan kesehatan serta hak atas
kekayaan intelektual .Kedua lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008,Tentang
Guru,pada pasal 40 ditegaskan bahwa guru berhak mendapat perlindungan dalam
melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah,
pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat.Dalam
usaha mencerdaskan anak bangsa guru harus memiliki kebebasan akademik untuk melakukan
pendekatan, metode,dan strategi mengajarnya bahkan metode untuk mendisiplinkan peserta
didiknya, berupa penghargaan maupun punishmen
Tapi mengapa akhir akhir ini banyak terjadi pelecehan dan pengkerdilan terhadap
profesi guru? Banyak guru dijebak dalam perkara hukum,diadukan ke aparat kepolisian
dengan dalih melanggar UUPA dan HAM.Karena mendisiplinkan peserta didiknya
menyebabkan para guru tersebut mendekam dalam penjara. Undang-undang Perlindungan
Anak (UUPA) dan HAM, yang dimaknai secara berlebihan pasca arus reformasi digunakan
sebagai senjata.Contohnya pada kasus yang terjadi pada ibu guru di Kabupaten Bantaeng
,mei 2016.Tidak lama kemudian terjadi pada bapak guru Dasrul dari Sulsel dan guru dari
Sukabumi yang dikeroyok oleh orang tua siswanya.Melalui medsos ramai reaksi keras
terhadap kasus ini,diantaranya dengan membandingkan pendidikan masa kini dan masa
lalu.Apakah metode mendidik masa lalu berbeda dengan masa kini?apakah kepercayaan orang
tua terhadap guru sudah makin terkikis?
Masyarakat juga tahu dahulu jika siswa mengadu ke orang tuanya karena dihukum
guru maka orang tua akan menambah hukumannya. Berbeda dengan saat ini, di mana orang
tua justru membela anaknya bahkan memenjarakan guru anaknya.Para guru pun menuntut
adanya undang-undang perlindungan guru yang mampu melindungi guru dalam melaksanakan
tugasnya. Sebenarnya UU guru dan PP74 sudah cukup memberikan perlindungan terhadap
guru namun implementasinya baru dimaknai seputar kesejahteraan guru yang berupa
TPG,akibatnya perlindungan terhadap guru selain kesejahteraan materi menjadi terabaikan
bahkan pada birokrasi pendidikan sendiri, para guru sering mendapat perlakuan tidak adil .
Perlindungan terhadap guru tersebut meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta
perlindungan keselamatan dan kesehatan, serta hak akan kekayaan intelektual.
1. Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat
tindakan dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak
lain, berupa: tin dak kekerasan, ancaman, baik fisik maupun psikologis, perlakuan
diskriminatif intimida si, dan perlakuan tidak adil
2. Perlindungan profesi
Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan hukubungan
kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian
imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan
terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam
bekerja.
3. Perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup perlindungan
terhadap resiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu
kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. termasuk rasa
aman bagi guru dalam bertugas.
4. Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual
Perlindungan HaKI dapat mencakup hak cipta atas penulisan buku,
makalah,karangan ilmiah,hasil penelitian,hasil penciptaan dan hasil karya seni
maupun penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta
sejenisnya, dan hak paten atas ha sil karya teknologi
Lahirnya PP No10 Tahun 2017 tentang Perlindungan bag iPendidik dan Tenaga
Kependidikan harus dapat memperkuat payung hukum yang ada,dan harus gencar
disosialisasikan kepada masyarakat luas.Dilain pihak gurupun harus merubah paradigma
mendidik disesuaikan dengan perkembangan zaman pada era digital dan menyesuaikan situasi
dan kondisi agar tidak berbenturan dengan UUKPA. Perlu implementasi yang konsisten dari
kebijakan mendikbud tersebut serta kemendikbud harus bisa mengayomi para guru agar guru
merasa aman dan nyaman dalam mendidik siswanya tidak dihantui rasa takut dipidana karena
memberikan sanksi kepada siswanya.Pada akhirnya para gurupun dapat mendidik siswanya
sesuai amanat undang-undang Guru dan Dosen, dan UUD 1945.
RESUME DISKUSI
“UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER”

     Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based


Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai
media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional
berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan.
Adapun kekurangan dan kelebihannya ialah....
Kelebihan:
 Sudah terlihat dari namanya, UNBK menggunakan komputer, jadi tidak perlu
menggunakan kertas. Ya, mungkin masih perlu penggunaan kertas untuk
coret-coretan. Bagaimanapun juga, penggunaan kertas bisa ditekan hingga
seminimum mungkin. Tidak perlu mencetak naskah soal. Tidak perlu
mencetak lembar jawaban. Bisa dikatakan UNBK cukup ramah lingkungan.
 Lebih simpel dalam proses pengaturan ruangan. Di sini, hanya diperlukan tiga
ruangan untuk menjadi tempat pelaksanaan UNBK. Jelas lebih sedikit
ketimbang ruangan yang diperlukan untuk UN PBT.
 Mempermudah manajemen pengawas ruangan. Karena ruangannya lebih
sedikit, otomatis pengawasnya lebih sedikit.
 Satu pelajaran setiap harinya membuat siswa punya waktu lebih banyak untuk
belajar di rumah. Jadi siswa bisa me-review ulang materi yang agak susah.
Selain itu, beberapa siswa memang merasa bahwa dua bidang pelajaran yang
diujikan sekaligus setiap harinya terlalu berat.
 Lumayan menghemat waktu pengerjaan. Dengan sistem UNBK, identitas
otomatis terisi. Kita hanya perlu login ke server
dengan username dan password yang sudah diberikan, lalu
memasukkan token yang dikirim dari pusat. Memilih jawaban pun lebih
sederhana, tinggal mengklik pilihan A – E.
Kekurangan:
 Pelaksanaan UNBK oleh pemerintah yang agak terburu-buru membuat ada beberapa
soal di UNBK yang rancu. Saya rasa hal itu terjadi karena pemerintah
dikejar deadlineuntuk membuat naskah soal, sehingga ada beberapa soal yang—
menurut saya—salah dalam tata bahasa. Hal ini sangat fatal, karena menimbulkan
miskonsepsi di antara para siswa.
 Masih karena terburu-buru, adanya ketidakseragaman antara UN komputer dan UN
kertas membuat terjadinya rawan kebocoran soal. Seperti yang kita ketahui, UN
berbasis kertas selesai lebih dahulu daripada UN komputer. Jadi, bisa saja soal UN
PBT bocor ke tangan para peserta UN berbasis komputer, apalagi soal keduanya
nyaris sama. Saat UNBK kemarin, gosipnya soal Kimia dan Matematika bocor,
sehingga pemerintah membuat soal Fisika yang benar-benar berbeda dari soal UN
berbasis kertas. Menurut saya, kalau pemerintah ingin menerapkan UNBK, tunggu
sampai semua sekolah siap. Jangan setengah-setengah. Atau kalau masih ingin
separuh-separuh, buat soal UNBK berbeda dengan soal UN PBT. Ah, bisa saja hal ini
dipaksakan karena ada kepentingan pribadi di balik penghematan biaya cetak dan
distribusi. Bisa saja. Yang tahu hanya mereka. Bukan bermaksud nyinyir, tetapi hal
semacam ini memang sering sekali terjadi. *out of topic*
 Satu pelajaran setiap harinya secara tidak langsung membuat siswa memforsir belajar
pada hari sebelumnya. Padahal, menurut saya, hari-hari sebelum ujian yang cukup
penting seperti ini lebih baik dihabiskan dengan bersantai agar pikiran bisa lebih
jernih. Ya, tidak masalah kalau ingin belajar, tetapi secukupnya saja
untuk refresh materi.
 UNBK yang dilaksanakan dalam tiga sesi bisa saja tidak cocok dengan siswa.
Misalnya, ada siswa yang bisa berpikir lebih baik pada pagi hari ketimbang siang hari
dan ada siswa lain yang kurang bisa berpikir di pagi hari karena ngantuk. Jika
mendapat sesi yang kurang sesuai dengan jam mereka dan belum terbiasa, tentunya
mereka akan sedikit kesusahan.
RESUME DISKUSI
“AKREDITASI”

Peningkatan mutu sekolah/madrasah mengacu pada Sistem Penjaminan Mutu


Pendidikan, yang mana sekolah/madrasah dibina dan dievaluasi untuk mencapai dan
mengukur ketercapaian acuan mutu yang telah ditetapkan. Pembinaan sekolah/madrasah
untuk mencapai acuan mutu satuan pendidikan diperankan oleh Lembaga Penjamin Mutu
Pendidikan (LPMP), dan evaluasi ketercapaiannya dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN S/M).

Evaluasi pencapaian sekolah/madrasah terhadap acuan mutu satuan pendidikan


dilakukan melalui Akreditasi. Kegiatan penilaian kelayakan berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan dan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

Sebagai badan evaluasi mandiri yang berwenang untuk menentukan capaian kualitas
sekolah/madrasah, BAN S/M memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu pendidikan.
Karena hasil evaluasi tersebut akan menjadi tolok ukur mutu pendidikan sekolah/madrasah
saat ini sekaligus menjadi dasar kebijakan Pemerindah dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan selanjutnya.

Akurasi hasil evaluasi sekolah/madrasah akan sangat berkontribusi terhadap akurasi


kebijakan Pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan selanjutnya. Artinya  BAN
S/M turut memiliki peran yang penting dalam keberhasilan mencetak generasi bangsa yang
lebih berkualitas.

Karena vitalnya hasil evaluasi pencapaian mutu sekolah/madrasah tersebut, pelaksanaan


akreditasi perlu diperbaiki secara berkelanjutan. Kekurangan yang perlu diperbaiki saat ini
adalah :

1. Penilaian akreditasi belum mampu memotret performa sekolah/madrasah yang stabil


(sustained performance). Performa sekolah cenderung sangat baik saat penilaian
akreditasi yang dilakukan selama beberapa hari, bahkan hanya 1 hari, dan kembali
menurun setelah tim penilai meninggalkan sekolah/madrasah.

2. Penilaian akreditasi cenderung “paper based assessment”. Kualitas dokumen


memiliki peran dominan dalam menentukan hasil akreditasi.
Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pelaksanaan akreditasi tersebut, dapat
dilakukan:

1. Perubahan pelaksanaan penilaian akreditasi dari single visit menjadi multy visits .


Visitasi dilakukan sebanyak 3-4 kali dalam 1 tahun, baik secara terjadwal maupun
tidak terjadwal. Menggunakan instrumen akreditasi, tim penilai secara periodik
memotret sustained performance.

2. Perubahan pelaksanaan penilaian akreditasi dari dokumen sekolah/madrasah


sebagai objek penilaian, menjadi instrumen pendukung penilaian. Misalnya penilaian
mengenai kerja sama sekolah dengan pihak eksternal. Sebaiknya yang menjadi poin
utama bukan dokumen kerja samanya, melainkan sejauh mana realisasi kerja sama
tersebut secara nyata berkontribusi terhadap kesuksesan program sekolah. Dokumen
kerja sama seperti MoU, SPK, dan sebagainya, merupakan instrumen pendukung bagi
tim penilai dalam ‘melacak’ keterlaksanaan dan efektivitas kerja sama tersebut.

Perbaikan-perbaikan pelaksanaan akreditasi tersebut akan meningkatkan akurasi hasil


akreditasi sekolah/madrasah, sebagai bentuk evaluasi satuan pendidikan dalam mencapai
mutu pendidikan.