Anda di halaman 1dari 40

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


TENTANG
BELA NEGARA

KEMAHIRAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG (KELAS A )


Sylvester Ricky Nadine Kwando
1887080

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas karunia
dan rahmat-Nya, penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Bela
Negara ini dapat diselesaikan dengan baik.

Bela Negara menjadi hal yang sangat penting dalam hal menjalankan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dalam hal ini bela negara merupakan salah satu bentuk upaya mempertahankan
kedaulatan negaranya.

Penyusunan Naskah Akademik ini dilakukan untuk memberikan pembenaran secara akademis
dan sebagai landasan pemikiran atas materi pokok Rancangan Undang-Undang dimaksud,
didasarkan pada hasil kajian dan diskusi terhadap substansi materi muatan yang terdapat di
berbagai peraturan perundang-undangan, serta kebutuhan hukum masyarakat akan pentingnya
Bela Negara di masyarakat.

Kelancaran proses penyusunan Naskah Akademik ini tentunya tidak terlepas dari keterlibatan
dan peran-peran dari seluruh pihak yang telah membantu penulis sehingga Naskah Akademik
ini dapat tersusun sedemikian rupa. Untuk itu, terimakasih atas keterlibatan pihak-pihak yang
telah membantu Penulis menyusun Naskah Akademik ini.

Naskah akademik ini tentu tidak luput dari kekurangan, untuk itu kritik dan masukan yang
konstruktif sangat Penulis harapkan dari seluruh pihak yang memiliki kepentingan dalam
rangka penyempurnaan. Harapan dari penulis sungguh besar agar naskah akademik ini dapat
menjadi bahan yang akan memberikan gambaran tentang pentingnya Rancangan Undang-
Undang tentang Bela Negara di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga Naskah Akademik ini bermanfaat bagi para pembacanya.

Bandung, November 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI ........................................................................................................................................ 3

BAB I ..................................................................................................................................................... 5

A. Latar Belakang.................................................................................................................................. 5

B. Identifikasi Masalah ........................................................................................................................ 9

C. Tujuan Dan Kegunaan Naskah Akademik ................................................................................ 9

D. Metode Penelitian ............................................................................................................................. 9

BAB II ................................................................................................................................................. 11

A. Kajian Teoritis ................................................................................................................................11

B. Kajian Asas atau Prinsip .............................................................................................................16

C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan serta Permasalahan yang dihadapi

Masyarakat....................................................................................................................................................18

D. Kajian Terhadap Kajian terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang akan diatur

Terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat .............................................................................................19

BAB III ............................................................................................................................................... 22

A. Peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan Bela Negara. .........................22

BAB IV ................................................................................................................................................ 27

A. Landasan Filosofis ..........................................................................................................................27

B. Landasan Sosiologis .......................................................................................................................29

3
C. Landasan Yuridis ...........................................................................................................................30

BAB V.................................................................................................................................................. 32

A. Arah dan Jangkauan Pengaturan ..............................................................................................32

B. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang...........................................32

BAB VI ................................................................................................................................................ 38

A. SIMPULAN......................................................................................................................................38

B. Saran/Rekomendasi .......................................................................................................................39

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 40

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah, yang memiliki kekuasaan
tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Suatu negara dianggap sebagai negara
yang berdaulat apabila memenuhi unsur yang meliput: 1) Memiliki rakyat; 2) Memiliki
wilayah kedaulatan; dan 3) Memiliki pemerintah yang berdaulat. Negara Kesatuan
Republik Indonesia merupakan negara hukum seperti yang tertuang di dalam Pasal 1
ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 telah tertuang salah satu tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yaitu
untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Dalam mewujudkan tujuan bernegara tersebut, maka pertahanan negara merupakan
faktor yang sangat hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup suatu negara.
Sebagai bangsa yang beradab bangsa Indonesia senantiasa menjunjung tinggi
perdamaian walaupun demikian bangsa Indonesia lebih mencintai kemerdekaan dan
kedaulatan negaranya. Penghormatan bangsa Indonesia dalam prinsip perdamaian
bukan berarti menjadi bangsa yang lemah dan melupakan kesiapan perangkat
pertahanan negara. Adagiumklasik mengatakan “civis pacem parra bellum”, jika ingin
damai maka harus siap untuk berperang. Mempersiapkan kekuatan pertahanan adalah
sebuah keniscayaan bagi bangsa yang menginginkan perdamaian karena dengan
pertahanan yang kuat maka akan menjadi efek gentar (deterrence effect) yang ampuh
untuk menahan keinginan negara lain melakukan konfrontasi.
Setiap negara memiliki tujuan nasional, dalam rangka tercapainya tujuan
nasional serta cita-cita bangsa Indonesia diperlukan sesuatu strategi nasional guna
untuk mewujudkan dinamika pertumbuhan area strategis nasional. Setiap negara harus
mempunyai strategi nasional, mengingat dinamika pertumbuhan area strategis tersebut
tidak hanya memberikan pengaruh positif berbentuk kesempatan, tetapi pula bisa
memberikan pengaruh negatif berbentuk ancaman, kendala, hambatan, serta tantangan,
ataupun yang diketahui bagaikan hakikat ancaman, untuk negara Republik Indonesia.

5
Secara geografis posisi Indonesia di antara benua Australia dan Asia merupakan
aspek spasial global yang dapat dijadikan sebagai daya tarik kerjasama antar negara
bersama dengan negara-negara ASEAN. Aspek geo-ekonomi dan politik Indonesia
berpengaruh besar pada perkembangan wilayah Indonesia baik wilayah darat, laut,
maupun udara. Melihat dari pengertian ancaman militer yaitu ancaman yang
menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai kerjasama di
berbagai bidang.
Negara Kesatuan Republik indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan
(archipelagic state) terbesar di dunia dengan 17.499 pulau dan luas perairain laut yang
mencapai 5,8 juta km2 dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Hal ini menyebabkan
Indonesia terletak pada posisi yang strategis dan dapat pula menjadi suatu ancaman
potensial bagi bangsa Indonesia jika masyarakat kurang waspada dalam bertindak.
Letak Indonesia dalam posisi silang menyebabkan semakin mudahnya akses bagi
bangsa-bangsa asing untuk memasuki mempunyai kemampuan yang membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Jika
diamati berbagai bentuk hubungan kerjasama dengan negara-negara lain sudah terjalin
salah satunya ASEAN, namun potensi konflik tetap saja ada. Misalnya, asap kebakaran
hutan di Indonesia yang menimbulkan penderitaan bagi rakyat tetangga, penembakan
kapal patroli indonesia oleh Malaysia, dan lain sebagainya. Dengan alasan tersebut
menguatkan perlu adanya penerapan wajib militer sebagai bentuk kewajiban dan
keikutsertaan warga negara dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara.
Pertahanan negara merupakan bentuk dari strategi nasional yang dapat
ditegakan dalam upaya strategi pertahanan negara yang dapat menjamin tegaknya
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus untuk merespon tantangan
pertahanan negara ke depan. Dalam bentuk terciptanya upaya pertahanan negara
tersebut dibutuhkannya peran dan keikutsertaan dari seluruh warga negara Indonesia
terutama bagi penerus bangsa. Hal yang paling mendasar dalam bentuk pertahanan
negara adalah kesadaran bela negara dari setiap lapisan masyarakat. Dalam
penyelenggaraan pertahanan negara, bangsa Indonesia menganut prinsip bahwa setiap
warga negara berhak dan terlibat aktif dalam membela serta mempertahankan
kemerdekaan dan kedaulatan negara, juga keutuhan wilayah dan keselamatan segenap
bangsa dari segala ancaman. Pembelaan terhadap negara yang diwujudkan dengan
keikutsertaan aktif dalam upaya pertahanan negara merupakan sikap, perilaku,
tanggung jawab, dan kehormatan yang dijiwai oleh kesadaran dan kecintaan kepada

6
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal tersebut tertuang secara eksplisit
dalam Pasal 27 ayat (3) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
Tidak seorang pun warga negara boleh dihindarkan dari kewajiban ikut serta dalam
pembelaan negara, kecuali ditentukan lain dengan Undang-Undang. Upaya pertahanan
negara harus didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara
sebagaimana tertuang dalam Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 “tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara” dan ayat (2) “usaha pertahanan dan keamanan negara
dilaksanakan melalui sistem pertahanan keamanan rakyat semesta oleh Tentara
Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kekuatan
utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung”.
Di dalam upaya pertahanan negara tersebut dibutuhkannya kesadaran bela
negara telah diamanatkan dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi “Setiap Warga Negara Berhak dan
Wajib ikut serta dalam upaya Pembelaan Negara. Selanjutnya dalam Pasal 30 ayat (1)
Undang- Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, berbunyi “Tiap-tiap Warga
Negara Berhak dan Wajib ikut serta dalam Usaha Pertahanan dan Keamanan Negara”.
Undang-Undang mengenai pertahanan negara tercantum juga di dalam Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, yang mengatur bahwa bela
negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada
NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan perilaku tersebut tidak
begitu saja muncul menjadi kesadaran setiap warga negara sejak lahir, sehingga perlu
ditumbuhkembangkan sejak dini serta senantiasa dipelihara dan dikembangkan secara
berkesinambungan melalui pembinaan kesadaran bela negara. Secara das sollen, bela
negara sebagai bagian dari pertahanan negara, menjadi faktor yang menentukan dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Negara tidak akan mampu survive
mempertahankan eksistensinya tanpa didukung oleh kontribusi warga negara. Negara
didirikan untuk kepentingan warga negara yang hidup di dalamnya dalam rangka
mencapai kesejahteraan bersama. Namun secara das sein, tidak selamanya kepentingan-
kepentingan yang bersifat mendasar tersebut terfasilitasi pengaturannya dengan produk
hukum, mengingat hukum tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik.

7
Upaya bela negara menjadi suatu hal yang sangat penting karena dilihat dari
kondisi keamanan dalam negeri masih berat untuk diselesaikan. Semakin banyaknya
konflik yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini seperti contohnya
konflik komunal, terorisme, radikalisme dan menguatnya gerakan separatisme di
beberapa daerah merupakan ancaman serius bagi keutuhan negara. Selain hal tersebut
kondisi ketertiban dan tingginya angka kriminalitas baik nasional maupun
transnasional, seperti perdagangan manusia, narkotika, pembajakan di laut, cyber
crime, illegal fishing dan korupsi yang masif dan membudaya menjadi pekerjaan rumah
yang tak kunjung selesai dan semakin marak. Hal tersebut diperkuat dengan semakin
melemahnya semangat kebersamaan (gotong royong) di berbagai aspek kehidupan,
apatisme rakyat seperti dirancang untuk mempercepat proses penghancuran entitas
negara.
“Bangsa Yang Kuat Adalah Bangsa Yang Mampu Menjaga Dan
Memperjuangkan Segenap Tumpah Darahnya Dari Segala Bentuk Intervensi Demi
Mempertahankan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” Maka perlu adanya
upaya negara untuk benar-benar dapat mempertahankan dan memperjuangkan
kedaulatannya dalam menciptakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat dan
berdaulat sehingga mampu memperjuangkan segala bentuk tumpah darahnya di
tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Wajib militer adalah kewajiban
bagi seorang warga negara untuk menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan
mengikuti pendidikan militer guna meningkatkan ketangguhan dan kedisiplinan
seorang itu sendiri. Wajib militer biasanya diadakan guna untuk meningkatkan
kedisiplinan, ketangguhan, keberanian dan kemandirian seseorang itu sebagai bentuk
upaya Bela Negara guna pertahanan nasional. Dengan adanya wajib militer ini maka:
1) membantu kekuatan pertahanan Negara dengan melibatkan warga negara sebagai
komponen cadangan dikarenakan posisi geografis Indonesia yang strategis; 2)
menimbulkan rasa patriotisme, nasionalisme, serta kedisiplinan di masyarakat; dan 3)
penerapan wajib militer sebagai bentuk bela negara yang diwajibkan oleh UUD RI
1945.
Sehingga dalam hal ini pengaturan mengenai bela negara sebagai bentuk
pertahanan negara sangat penting dan strategis dengan tujuan apabila negara
membutuhkan sumber daya nasional untuk menunjang kepentingan pertahanan negara
maka telah tersedia sumber daya nasional yang dapat mempertahankan kedaulatan
negara.

8
B. Identifikasi Masalah
Masalah yang akan diuraikan dalam Naskah Akademik tentang Bela Negara
mencakup 4 (empat) pokok masalah, yaitu:
1. Permasalahan apa yang dihadapi dalam upaya Bela Negara sebagai bentuk
Pertahanan Nasional?
2. Mengapa diperlukan penyusunan Rancangan Undang- Undang tentang Bela
Negara Untuk Pertahanan Nasional?
3. Aspek apa saja yang menjadi pertimbangan Filosofis, Sosiologis dan Yuridis
dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Bela Negara untuk
Pertahanan Nasional?
4. Apa sasaran yang ingin diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan dan
arah pengaturan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Bela Negara Untuk
Pertahanan Nasional ?

C. Tujuan Dan Kegunaan Naskah Akademik


Tujuan Penyusunan Naskah akademik:
1. Merumuskan Permasalahan apa yang dihadapi dalam upaya Bela Negara
sebagai bentuk Pertahanan Nasional
2. Merumuskan aspek apa saja yang menjadi pertimbangan Filosofis, Sosiologis
dan Yuridis dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Bela
Negara untuk Pertahanan Nasional
3. Merumuskan apa sasaran yang ingin diwujudkan, ruang lingkup pengaturan,
jangkauan dan arah pengaturan dalam Rancangan Undang-Undang tentang Bela
Negara Untuk Pertahanan Nasional ?

D. Metode Penelitian
Dalam penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang ini
digunakan pendekatan yuridis-normatif dengan pengolahan data berupa deskriptif-
analitis. Metode ini dilakukan melalui studi pustaka dengan menelaah data sekunder
yaitu:
a. Peraturan Perundang-undangan:
1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya.

9
2) Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih;
3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara;
4) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional
Indonesia;
5) Undang Undang Dasar Tahun 1945 :
- Pasal 27 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
- Pasal 30 ayat (1) mengamanatkan bahwa “ Tiap-tiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara”
b. Dokumen lainnya meliputi literatur-literatur yang terkait dengan permasalahan
yang dikaji berasal dari buku-buku, surat kabar, artikel internet, hasil kajian,
hasil penelitian, majalah hukum dan sebagainya.

10
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis
Secara geografis, letak suatu daerah dilihat dari kenyataannya di bumi atau
posisi daerah itu pada bola bumi dibandingkan dengan posisi daerah lain. Letak
geografis ditentukan pula oleh segi astronomis, geologis, fisiografis dan sosial budaya.
Berdasarkan letak geografisnya, kepulauan Indonesia di antara Benua Asia dan
Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dengan
demikian, wilayah Indonesia berada pada posisi silang, yang mempunyai arti penting
dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian.
Pada dasarnya geopolitik ialah suatu kajian yang mempelajari serta menguasai
dinamika politik suatu negara bersumber pada letak geografinya. Kajian tersebut
meliputi ulasan menimpa luas, letak, hawa serta sumber energi di sesuatu negeri yang
mempengaruhi terhadap ciri politik daerah tersebut. Geopolitik Indonesia dinamakan
Wawasan Nusantara, yang secara umum didefinisikan sebagai cara pandang dan sikap
bangsa Indonesia tentang dirinya yang bhineka, dan lingkungan geografinya yang
berwujud negara kepulauan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Sedangkan tujuannya adalah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan segenap aspek
kehidupan nasional dan turut serta menciptakan dalam ketertiban dan perdamaian
dunia.
Sementara itu, menurut Karl Haushoffer, geopolitik merupakan pemanfaatan
ilmu geografi untuk tujuan politik praktis. Geopolitik menjadi landasan ilmiah bagi
tindakan politik suatu negara dalam perjuangannya mempertahankan eksistensi dan
mendapatkan ruang hidup. Dalam perkembangannya, kajian geopolitik
mempertimbangkan kejadian- kejadian yang bersifat empirik di atas bumi. 1 Geopolitik
merupakan sebuah doktrin dasar bagi terbentuknya negara yang kuat dan tangguh. Ada
4 (empat) unsur yang perlu diperhatikan dalam kajian geopolitik: 2

1
Gearoid Ó Tuathail, Geopolitics Reader, (routledge, 2006), hlm 20
2
R.M. Sundardi, Pembinaan Ketahanan Bangsa, dalam rangka nemperkokoh keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. (Jakarta: PT Kuadernita Adidarma, 2004) hlm 177-189.

11
1) Ruang
Konsep ini merupakan konsep yang didasari oleh pemikiran Ratzel, yang
melihat bahwa negara akan membutuhkan wilayah yang memadai untuk dapat
menjalankan kegiatan politiknya. Konsepsi ruang merupakan inti utama dari
kajian geopolitik, karena akan berpengaruh terhadap pengaturan politik dan
keamanan di suatu negara.
2) Frontier
Frontier atau batas, dapat diartikan sebagai batas imajiner suatu negara yang
saling berdampingan. Batas antarnegara bersifat dinamis, atau dengan kata lain
dapat berubah-ubah sesuai dengan dinamika politik, pertahanan, dan keamanan
suatu negara. Karena itu, merupakan keharusan bagi suatu negara untuk
menjaga batas-batasnya.
3) Konsepsi Pengaruh dan Kekuatan Politik
Di era globalisasi ini, yang signifikan dalam kajian geopolitik tak hanya hal-hal
yang bersifat tradisional saja. Suatu negara perlu memiliki kemampuan untuk
mengembangkan pengaruhnya untuk dapat menangkal pengaruh kekuatan yang
dimiliki negara lain.
4) Keamanan Negara dan Bangsa
Untuk menjaga keamanannya, suatu negara perlu membangun pertahanan yang
komprehensif, baik itu dari segi fisik maupun dari segi sosial. Gagasan inilah
yang kemudian akan melahirkan konsep geostrategis (strategi pertahanan
negara yang didasari oleh kondisi geografis suatu negara).

Kebijakan Umum Pertahanan Negara telah menggariskan bahwa pengerahan


kekuatan pertahanan negara diselenggarakan sesuai dengan skala ancaman dan kondisi
tertentu yang berpengaruh terhadap kepentingan nasional. Pemaknaan ancaman
berdasarkan Kebijakan Umum Pertahanan Negara 3:
1) Menghadapi ancaman militer, pengerahan kekuatan pertahanan militer
diselenggarakan dengan menempatkan TNI sebagai komponen utama yang
didukung komponen cadangan dan pendukung.

3
Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2015 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2015-2019.

12
2) Menghadapi ancaman nonmiliter, pengerahan kekuatan pertahanan nirmiliter
diselenggarakan dengan menempatkan kementerian/lembaga di luar bidang
pertahanan dan Pemerintah Daerah sebagai unsur utama didukung oleh TNI dan
unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa. Unsur utama dimaksud adalah
kementerian/lembaga dan Pemerintah Daerah yang menangani urusan bidang
sesuai ancaman nonmiliter yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, keselamatan umum, teknologi, dan legislasi.
3) Menghadapi ancaman hibrida, dihadapi dengan pola pertahanan militer, dengan
kekuatan pertahanan nirmiliter yang diformasikan dalam komponen pendukung
sesuai hakikat dan eskalasi ancaman hibrida yang timbul.
4) Pengerahan kekuatan pertahanan negara dalam melaksanakan tugas perdamaian
dunia diselenggarakan oleh TNI dan kementerian/lembaga sesuai bidang tugas
dan fungsinya dalam misi perdamaian dunia berdasarkan mandat dari Dewan
Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa atau lembaga internasional sesuai dengan
kebijakan politik luar negeri Indonesia.
5) Pengerahan kekuatan pertahanan negara dalam menghadapi kondisi tertentu
untuk kepentingan nasional diselenggarakan oleh TNI dan unsur-unsur
pertahanan nirmiliter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam bidang pertahanan, sebuah negara yang sedang berkonflik atau


berkonfrontasi tidak hanya dapat melakukan perang konvensional. Pada dewasa ini
ancaman perang konvensional kemungkinan sangat kecil karena semakin
berkembangnya situasi dan kemajuan teknologi yang ada. Kondisi saat ini mendorong
terjadinya penggunaan jenis perang yang baru seperti perang asimetris, perang hibrida
dan perang Proxy.

Perang asimetris merupakan perang antar dua kekuatan yang tidak seimbang.
Perang asimetris disebut juga perang baru (new wars) dimana para tentara nasional
harus berhadapan dengan pemberontak yang berbaur dengan penduduk sipil. 4 Perang
hibrida atau kombinasi merupakan perang yang menggabungkan teknik perang
konvensional, perang asimetris, dan perang proxy untuk mendapat kemenangan atas
pihak lawan. Perang Proxy merupakan suatu konfrontasi antara dua kekuatan besar

4
http://journal.unair.ac.id/downloadfull/JAHI8810-d1ccd3c65ffullabstract.pdf diakses terakhir pada 1
November 2020.

13
dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara
langsung dengan alasan untuk mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada
kehancuran fatal. Indikasi adanya proxy war di antaranya adalah gerakan separatis,
demonstrasi massa dan bentrok antar kelompok dan juga dapat dilihat melalui berbagai
bentuk pemberitaan media yang provokatif, peredaran narkoba, penyebaran pornografi
serta seks bebas. Perang Proxy atau proxy war merupakan ancaman yang sangat besar
bagi bangsa dan negara Indonesia. 5

Sistem pertahan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia diatur


dalam Undang- Undang Dasar 1945 pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) sebagai berikut: 1)
Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”6; 2) Pasal 30 ayat (2) UUD 1945
berbunyi: “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan
Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama dan rakyat, sebagai
kekuatan pendukung.”7

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem pertahanan dan


keamanan negara Indonesia dilaksanakan dengan sistem rakyat semesta dengan Tentara
Nasional dan Kepolisian Republik Indonesia sebagai kekuatan utama dan rakyat
sebagai kekuatan pendukung. Sistem rakyat semesta yang dimaksud yaitu mengarahkan
seluruh potensi dan kekuatan serta kemampuan yang dimiliki dan dikerahkan secara
total dan integral oleh bangsa dan negara dalam rangka mencapai tujuan secara efektif,
efisien dan optimal.

Pertahanan dan keamanan negara yang dilaksanakan dengan sistem rakyat


semesta disusun dalam konsep bela negara. Bela negara adalah tekad, sikap dan
tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan yang
dilandasi oleh kecintaan pada tanah air serta kesadaran hidup berbangsa dan bernegara.
Bela negara juga diartikan sebagai suatu sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai
oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan

5
https://tniad.mil.id/danrem-132-sosialisasi-proxy-war-kepada-mahasiswa-fekon-untad/ diakses
terakhir pada 1 November 2020
6
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
7
Ibid

14
pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan
bernegara. Di dalam hal ini keikutsertaan warga negara dalam upaya pertahanan dan
keamanan negara adalah merupakan implementasi dari sistem pertahanan semesta yang
telah diatur oleh Undang-Undang yang melibatkan sumber daya manusia, sumber daya
alam dan sumber daya nasional lainnya. Penjelasan dalam UUD 1945 pasal 30 ayat (1)
ini adalah merupakan dasar hukum secara umum akan kewajiban warga negara ikut
dalam pertahanan dan keamanan negara. Bentuk pertahanan dan keamanan yang
dilakukan oleh warga negara sesuai dengan perannya sebagai komponen cadangan yang
dimana dalam hal ini seluruh lapisan masyarakat akan mengikuti wajib militer sebagai
upaya bela negara dalam pertahanan nasional.

Dalam hal ini berkaitan juga mengenai sistem pertahanan negara yang dimana
untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal tersebut harus mengerti hal yang mendasar
terlebih dahulu. Perang secara filosofis dan sosiologis, pada hakikatnya bertujuan untuk
membangun perdamaian. Jadi perang dan damai sebenarnya berada dalam satu rentang
logika yang sama. Jika damai diciptakan untuk merealisasikan kesejahteraan
masyarakat, maka demikian juga perang, ia dilakukan dengan alasan yang sama. 8
Sejarah mencatat bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang yang patriotis dan
militan dalam memperjuangkan tujuannya. Perang kemerdekaan adalah bukti sejarah,
ketika kekuatan Kolonial dengan persenjataan modern dan tentara yang profesional
berhasil dikalahkan oleh kekuatan semangat dan kesatupaduan seluruh rakyat.
Pengerahan seluruh sumber daya nasional mulai dari tentara, laskar-laskar rakyat, serta
segenap sumberdaya dan kemampuan yang dimiliki ditata dalam sistem bahu membahu
menjadi kekuatan pertahanan yang komprehensif. Konsep kesemestaan mampu
meningkatkan kemampuan pasukan milisi sejajar dengan pasukan militer profesional,
keunggulan tersebut seharusnya dipelihara dan menjadi sistem baku bagi pembangunan
kekuatan pertahanan negara. Dengan kata lain, sistem pertahanan yang bersifat semesta
merupakan sistem pertahanan yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
negara, baik itu sumber daya manusia, alam, dan buatan, sarana dan prasarana, wilayah,
teknologi untuk memenangkan sebuah peperangan. Sistem Pertahanan rakyat semesta
dapat berkembang dan berubah sesuai dengan kebutuhan dan strategi pertahanan,

8
Pof. Dr. der-soz. Gumilar RS .disampaikan pada seminar nasional . Perang semesta dan Penguatan
Bina Teritorial. 2015,

15
berbagai varian mungkin saja dikembangkan untuk menyesuaikan diri dengan model
ancaman kekinian.

Pertahanan negara saat ini sesungguhnya telah mengakomodir hal tersebut


melalui Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, dan ditegaskan dalam konstitusi bahwa
sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta, yaitu sistem
yang melibatkan seluruh sumber daya dan sarana prasarana nasional untuk usaha
pertahanan negara.

B. Kajian Asas atau Prinsip


1. Kesemestaan, merupakan asas yang diwujudkan dalam keikutsertaan seluruh
rakyat dalam perannya masing-masing, baik melalui pertahanan militer maupun
pertahanan nirmiliter, serta pemberdayaan segenap sumber daya nasional secara
maksimal dalam usaha pertahanan negara. Kesemestaan mengandung makna
totalitas bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan perang dan dalam
menyelenggarakan pertahanan negara dalam arti luas untuk mengamankan
eksistensi bangsa dan negara serta kepentingan nasional.9
2. Manfaat, merupakan asas yang dimana diutamakan pembangunan kekuatan
pertahanan yang harus memiliki manfaat ganda. Pembangunan pertahanan dan
kesejahteraan tidak bisa berjalan satu persatu, melainkan harus berjalan
bersamaan. Perkembangan intensitas ancaman pada hakikatnya membawa
perubahan atas titik berat kepentingan nasional. Sehingga dalam hal ini
diperlukannya peningkatan upaya untuk mewujudkan kepentingan keamanan
nasional dan kesejahteraan nasional.
3. Legalitas, merupakan asas yang dimana dibutuhkannya peran serta masyarakat
dan bangsa, pemanfaatan sumber daya, serta sarana dan prasarana dalam upaya
bela negara guna untuk mempertahanan negara yang akan dikembangkan
berdasarkan ketentuan hukum secara formal dan sah. Dalam hal ini upaya bela
negara yang dilakukan oleh generasi millenial berlandaskan oleh hukum yang
dimana hukum sendiri merupakan sebuah rambu-rambu demokrasi dalam
negara demokrasi yang di dalamnya mengatur mengenai hak serta kewajiban
warga negaranya yang diatur oleh aturan hukum. Pembedaan antara militer

9
Doktrin Pertahanan Negara. 2014. Jakarta. Kementrian Pertahanan Republik Indonesia

16
(kombatan) dan sipil (nonkombatan) harus didefinisikan dengan jelas.
Pengalihan status nonkombatan menjadi kombatan harus dengan mekanisme
legal yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia.
4. Kebersamaan dan gotong royong yang merupakan aspek kepentingan nasional
di bidang pertahanan dan keamanan. Di dalam hal ini, keikutsertaan seluruh
lapisan masyarakat terutama generasi millenial secara bersama-sama harus
memperoleh dan menggunakan kesempatan yang sama di dalam peran sertanya
untuk membela negara guna mempertahankan kedaulatan negara.
5. Efisiensi yang dimana merupakan suatu bentuk pengerahan kekuatan harus
disesuaikan dengan eskalasi spektrum ancaman. Di dalam hal ini seluruh
komponen bangsa merupakan sumber daya yang bisa dikerahkan kapan saja
berdasarkan kebutuhan sehingga negara tidak boleh tersandera dimana ketika
negara membutuhkan sumber daya tertentu ternyata tidak bisa dikerahkan
karena aturan yang tidak berbasis kepada efisiensi. Komponen Cadangan yang
dimana dalam hal ini akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat khususnya
generasi millenial yang akan mengikuti wajib militer guna sebagai upaya bela
negara dalam pertahanan nasional dan komponen tersebut harus dapat
dikerahkan untuk menanggulangi berbagai ancaman sesuai dengan eskalasi dan
spektrum sehingga terjadinya efisiensi dalam menangani ancaman tersebut.
6. Efektivitas yang dimana merupakan pengembangan kekuatan pertahanan
keamanan negara harus dijamin efektif. Penambahan kekuatan dilakukan
melalui mekanisme mobilisasi dan penyusutan kekuatan melalui mekanisme
demobilisasi, baik dalam ragam, jumlah maupun mutu. Kefektifan sangat
penting dalam membangun kekuatan. Penyiapan Komponen Pendukung,
pembentukan Komponen Cadangan serta Pembinaan Kesadaran Bela Negara
merupakan langkah strategis untuk mencapai keefektifan. Meningkatkan
kualitas sumber daya manusia agar berdisiplin dan memiliki jiwa militansi serta
patriotis perlu sarana yang tepat agar bermanfaat bagi penguatan negara.
7. Kejuangan yang dimana merupakan Penyelenggara negara dan seluruh rakyat
Indonesia harus memiliki mental, tekad, jiwa dan semangat pengabdian,
kerelaan berkorban, dan disiplin yang tinggi dengan lebih mengutamakan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan/atau golongan
yang dilaksanakan dengan penuh kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Bangsa
ini titisan pejuang, ketika negara lalai mengkanalisasi kekuatan, maka tak jarang

17
rakyat membuat saluran masing-masing. Laskar marak berkembang dengan
idiologi yang kontra produktif dengan penguatan kebhinekaan yang sedang
dibangun. Negara juga tidak pernah lagi mendefinisikan musuh bersama, di era
orde lama musuh bersama adalah kapitalisme dan imperialisme, di era orde baru
adalah komunisme.

C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan serta Permasalahan yang dihadapi


Masyarakat
Berdasarkan sejarah telah dibuktikan bahwa perjuangan rakyat semesta telah
menjadi strategi yang ampuh untuk menghadapi lawan sekuat dan sebesar apapun. Di
dalam hal ini kesatupaduan dari seluruh lapisan masyarakat khususnya generasi
millenial menjadi hal yang utama sebagai komponen yang nantinya akan mengikuti
wajib militer dalam bentuk upaya bela negara guna pertahanan nasional. Sebagai bagian
dari konsep pertahanan negara, istilah “Cadangan” sendiri mulai dikenal pada masa
demokrasi liberal (1950-1959) dengan nama Corps Tjadangan Nasional (CTN) yang
berfungsi untuk mobilisasi nasional. Pada masa Demokrasi Terpimpin, pengertian
konsep “Cadangan” sedikit berubah. Konsep ini merujuk pada militer sukarela atau
militer wajib.10
Orientasi dalam Pembentukan Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung adalah orientasi kebutuhan penguatan pertahanan negara bukan kebutuhan
politik rezim penguasa. Pembangunan pertahanan harus lebih komprehensif dengan
menjadikan Pembinaan Kesadaran Bela Negara sebagai pondasi. Pembangunan
kekuatan pertahanan tidak hanya hard power akan tetapi juga soft power.
Uraian sejarah perkembangan konsep “Cadangan” di atas memperlihatkan
bahwa pelibatan warga sipil sebagai kombatan adalah keharusan. Fakta historis,
khususnya pada masa awal kemerdekaan, menunjukan bahwa Komponen Cadangan
terbentuk secara spontan dan bertumpu pada prinsip kesukarelaan warga sipil untuk
membela negaranya dalam situasi mendesak. Sejatinya spontanitas tersebut merupakan
wujud rasa memiliki yang dalam terhadap negara, sekaligus hasrat kuat agar mereka
dapat menentukan masa depannya sendiri di masa mendatang.
Di dalam hal ini upaya bela negara yang dimaksud adalah untuk melibatkan
seluruh lapisan masyarakat khususnya generasi millenial untuk mengambil peran dalam

10
R Soebijono, Wadjib Militer , Jakarta: Penerbit Djambatan, hlm 32.

18
pertahanan nasional yang dimana generasi millenial tersebut harus mengikuti wajib
milter. Sehingga seluruh lapisan masyarakat khususnya generasi millenial pada saat
dibutuhkan selalu siap untuk dilibatkan dalam upaya pertahanan nasional.
Pada upaya bela negara guna pertahanan nasional ini terdapat berbagai
permasalahan yang dihadapi oleh sebagian atau bahkan seluruh lapisan masyarakat.
Permasalahan utama dari upaya bela negara ini adalah terletak pada permasalahan
ekonomi yang terjadi di Indonesia yang dimana apabila seseorang yang mengikuti
wajib militer dalam bentuk upaya bela negara tersebut dan ia merupakan tulang
punggung keluarga, jika ia mengikuti program wajib militer tersebut dalam jangka
waktu satu tahun maka bagaimana cara keluarga yang ditinggalkannya tersebut
memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehingga hal itu menimbulkan permasalahan di
dalam masyarakat.
Maka dalam upaya bela negara guna pertahanan nasional ini memiliki dampak
terhadap masyarakat yang dimana dapat mengurangi kekhawatiran akan jaminan hidup
sehari-hari, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kriminalitas, SARA,
kesewenangan penguasa, disintegrasi nasional, terorisme, perdagangan narkotika/obat
terlarang. Sehingga akan terciptanya kapasitas yang baik dan melahirkan keunggulan
daya saing dan visi kenegaraan yang sama. Pada saat ini banyak muncul organisasi
masyarakat yang bersifat kesukuan atau kelompok/golongan, potensi rakyat tersebut
harus ditanamkan nilai-nilai Bela Negara sehingga dapat disatukan visi kenegaraannya
dan sewaktu-waktu negara membutuhkan maka dapat bermanfaat bagi negara.

D. Kajian Terhadap Kajian terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang akan
diatur Terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat

Di dalam implikasi penerapan sistem baru terhadap Bela Negara guna


pertahanan nasional ini memiliki beberapa dampak terhadap berbagai aspek yaitu: 1)
Dampak terhadap masyarakat; 2) Dampak terhadap Kekuatan TNI; dan 3) Dampak
terhadap Negara.
Dalam implikasi penerapan sistem baru terhadap Bela Negara guna pertahanan
nasional ini membawa dampak terhadap masyarakat serta menimbulkan berbagai
permasalahan yang dihadapi seperti harus membangun kesiapan masyarakat yang
militan dan patriotis dengan kapasitas yang baik akan melahirkan keunggulan daya

19
saing dan visi kenegaraan yang sama. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa
harus dibangun rasa patriotis di dalam diri setiap lapisan masyarakat terutama generasi
millenial yang akan menjadi penerus bangsa. Komponen masyarakat ini diawali dengan
pembinaan kesadaran Bela Negara yang merupakan upaya pertahanan nasional
sehingga terhimpun dalam kekuatan yang bermanfaat bagi kepentingan negara.
Selama ini ketika negara abai tidak mengkanalisasi potensi rakyat maka proses
indoktrinasi dilakukan oleh berbagai kelompok/golongan dengan berbagai pemahaman
ideologi yang terkadang kontra produktif dengan kebhinekaan negara. Saat ini banyak
muncul organisasi masyarakat yang bersifat kesukuan atau kelompok/golongan,
potensi rakyat tersebut harus ditanamkan nilai-nilai Bela Negara sehingga dapat
disatukan visi kenegaraannya dan sewaktu-waktu negara membutuhkan maka dapat
bermanfaat bagi negara.
Selain membawa dampak terhadap masyarakat dalam implikasi penerapan
sistem baru terhadap Bela Negara guna pertahanan nasional ini membawa dampak juga
terhadap Kekuatan TNI yaitu sumber daya dari aspek manusia yang cukup besar
membutuhkan sistem tata kelola yang baik agar efektif untuk penguatan pertahanan
negara. Pendapat terkait pengelolaan upaya wajib militer terhadap seluruh lapisan
masyarakat terutama generasi millenial terbagi menjadi kubu pro dan kontra. Sebagian
masyarakat yang kontra berpendapat bahwa membangun komponen utama dengan
senjata yang modern dan personel yang profesional akan lebih baik dibanding
pembentukan upaya wajib militer bagi generasi millenial. Di sisi lain pihak yang pro
berpendapat bahwa membangun upaya wajib militer bagi seluruh lapisan masyarakat
terutama generasi millenial dengan didasari pembinaan bela negara bukan sekedar
membangun kekuatan pertahanan, akan tetapi sebuah proses pembangunan manusia
yang berkarakter dan menata kesiapan seluruh sumber daya dalam menghadapi
ancaman.
Tentara sebagai alat negara harus selalu mendapat dukungan dari seluruh rakyat
sebagai tulang punggung pertahanan, hal ini penting bagi TNI karena episentrum
kekuatan TNI tidak hanya pada tentara profesional dengan senjata yang canggih akan
tetapi juga pada kemanunggalan TNI dengan rakyat. Dengan terbangunnya upaya wajib
militer bagi seluruh lapisan masyarakat terutama generasi millenial maka jumlah
tentara reguler sebesar 476 ribu akan mendapat tambahan kekuatan potensi cadangan
yang berasal dari bonus demografi sejumlah 130 juta jiwa. Sehingga hal tersebut dapat
sangat membantu kekuatan TNI dalam pertahanan nasional.

20
Selain membawa dampak terhadap masyarakat dan kekuatan TNI, implikasi
sistem baru terhadap Bela Negara guna pertahanan nasional juga membawa dampak
bagi negara yang bersangkutan yaitu di dalam membentuk upaya wajib militer sebagai
bentuk Bela Negara, maka negara memerlukan dana yang besar untuk menerapkan
sistem pembinaan tersebut. Namun demikian, fungsi masyarakat terutama generasi
millenial tersebut yang telah mengikuti wajib militer tetap memiliki kontribusi
kekuatan yang cukup signifikan terhadap pertahanan.
Sebagai perbandingan di negara lain, Amerika Serikat membangun kekuatan
cadangan hanya dengan 1,6 % dari total anggaran pertahanan akan tetapi kontribusi
kekuatan cadangan sebesar 49% kekuatan pertahanan USA. Rusia membangun
kekuatan cadangan hanya 1,5 % anggaran pertahanan tetapi kontribusi kekuatan yang
diberikan mencapai 38%, China dengan 2,1 % anggaran menyumbangkan 45 %
kekuatan pertahanan. 11

11
Global Power military power index . Diakses pada November 2020..

21
BAB III

ANALISIS DAN EVALUASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. Peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan Bela Negara.


Bela Negara merupakan sebuah semangat berani berkorban demi tanah air, baik
harta bahkan nyawa sekalipun berani dikorbankan demi keutuhan negara kesatuan
Republik Indonesia. Menurut Kaelan dan Achmad Zubaidi,1 Bela Negara adalah tekad,
sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan
yang dilandasi oleh kecintaan terhadap tanah air serta kesadaran hidup berbangsa dan
bernegara. Bagi warga negara Indonesia, usaha pembelaan negara dilandasi oleh
kecintaan pada tanah air (wilayah nusantara) dan kesadaran berbangsa dan bernegara
Indonesia dengan keyakinan pada Pancasila sebagai dasar negara serta berpijak pada
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi negara.
Bentuk dari Bela Negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang
dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan
negara, sesuai dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2002. Wujud dari usaha Bela
Negara adalah kesiapan dan kerelaan setiap warga negara untuk berkorban demi
mempertahan kan kemerdekaan dan kelautan negara, kesatuan dan persatuan bangsa,
keutuhan wilayah dan yuridiksi nasional, dan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Perwujudan usaha Bela Negara dalam konteks perjuangan bangsa merupakan
kesiapan dan kerelaan setiap warga negara untuk berkorban demi mempertahankan
kemerdekaan, kedaulatan negara, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, keutuhan
wilayah nusantara dan yuridiksi nasional, serta nilai-nilai Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945. Kesemuanya itu merupakan kewajiban setiap warga negara yang
hidup di bumi Indonesia. Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar
1945 bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut.
Dalam usaha pembelaan negara” (pasal 27 ayat 3 UUD 1945). Pasal tersebut
memiliki dua makna, yakni :

22
a. Bahwa setiap warga negara memiliki hak sekaligus kewajiban dalam
menentukan kebijakan-kebijakan tentang pembelaan negara melalui lembaga-
lembaga perwakilan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.
b. Setiap warga negara harus turut serta dalam setiap usaha pembelaan negara,
sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-masing.

Semangat dan sikap Bela Negara tidak hanya dilakukan melalui peperangan
yang menghasilkan kemerdekaan saja, akan tetapi dapat ditunjukan dengan
menampilkan perilaku-perilaku dan sikap yang sesuai dengan kerangka ideologis dan
konstitusional bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Mengisi
kemerdekaan dapat dikatakan sebagai usaha Bela Negara, sebab melalui usaha-usaha
positif dalam mengisi kemerdekaan dapat membuat keberlangsungan Indonesia sebagai
sebuah negara dapat tetap dipertahankan dan senantiasa mampu menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa di tengah kerasnya tantangan globalisasi yang justru mengikis rasa
kebangsaan dan kecintaan warga negara terhadap tanah airnya.
Bela Negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh
kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Wujud dari
usaha Bela Negara adalah kesiapan dan kerelaan setiap warga negara untuk berkorban
demi mempertahankan : kemerdekaan dan kedaulatan negara, Kesatuan dan persatuan
bangsa, Keutuhan wilayah dan yuridiksi nasional dan Nilai-nilai Pancasila dan UUD
1945. Upaya Bela Negara selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan
kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran,
tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
Pembelaan negara bukan semata-mata tugas TNI, tetapi juga segenap warga negara
yang sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 27 ayat 3 UUD 1945, bahwa usaha
Bela Negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara. Hal ini menunjukkan
adanya asas demokrasi dalam pembelaan negara yang mencakup dua arti. Pertama,
bahwa setiap warga negara turut serta dalam menentukan kebijakan tentang pembelaan
negara melalui lembaga-lembaga perwakilan sesuai dengan UUD 1945 dan perundang-
undangan yang berlaku. Kedua, bahwa setiap warga negara harus turut serta dalam
setiap usaha pembelaan negara, sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-
masing.

23
Keikutsertaan warga negara dalam wujud upaya Bela Negara diselenggarakan
melalui Pendidikan Kewarganegaraan, Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib,
Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela dan secara
wajib. Pengabdian sesuai profesi (UU No.3 tahun 2002). Usaha pembelaan negara
bertumpu pada kesadaran setiap warga negara akan hak dan kewajibannya. Kesadaran
Bela Negara perlu ditumbuhkan secara terus menerus antara lain melalui proses
pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah dengan memberikan motivasi untuk
mencintai tanah air dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Motivasi setiap warga negara
untuk ikut serta membela negara Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara
lain pengalaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia, letak geografis Indonesia yang
strategis, kekayaan sumber daya alam, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
keadaan penduduk yang besar, dan kemungkinan timbulnya bencana perang.
Disamping itu setiap warga negara hendaknya juga memahami kemungkinan adanya
ancaman terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia, baik yang datang dari dalam
negeri maupun dari luar negeri yang masing-masing dapat berdiri sendiri atau saling
pengaruh mempengaruhi.
Saat ini ancaman dapat diartikan sebagai kekhawatiran akan jaminan hidup
sehari-hari, artinya ancaman telah bergeser bentuknya dari ancaman senjata menjadi
ancaman kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kelaparan, penyakit yang belum
ditemukan obatnya, kelangkaan lapangan kerja, tindakan kesewenangan penguasa,
kriminalitas, SARA, disintegrasi nasional, terorisme, perdagangan narkotika / obat
terlarang, masa depan generasi muda. Untuk itu, diperlukannya upaya pembelaan
negara berupa sistem pertahanan negara yang melibatkan berbagai komponen
pertahanan negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa membela negara tidak
hanya dengan memanggul bedil menjadi tentara, tetapi dapat dilakukan dengan
berbagai jenis kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh semua warga negara.
Pengaturan pokok mengenai Bela Negara dapat ditelusuri dalam UUD NRI
Tahun l945 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Dalam UUD NRI Tahun l945 Pasal 27 ayat (3) ditentukan bahwa “Setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Ikut serta dalam upaya
pembelaan negara tersebut, salah satunya diwujudkan dalam kegiatan penyelenggaraan
pertahanan negara sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2002, Pasal 9 ayat (1) bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”.

24
Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara, bentuk-bentuk usaha pembelaan negara dalam rangka
penyelenggaraan pertahanan dapat dilakukan melalui:

1) pendidikan kewarganegaraan;
2) pelatihan dasar kemiliteran secara wajib;
3) pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau
secara wajib; dan
4) pengabdian sesuai dengan profesi.

Yang dimana dalam hal ini bentuk-bentuk usaha pembelaan negara dalam
rangka penyelenggaraan pertahanan dapat dilakukan melalui 4 (empat) hal seperti yang
telah tertera di atas dan memiliki penjabaran sebagai berikut:
1) Pendidikan Kewarganegaraan. Artinya, untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
2) Pelatihan dasar kemiliteran. Artinya, selain TNI salah satu komponen warga Negara
yang mendapat pelatihan dasar militer adalah unsure mahasiswa yang tersusun
dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa).
3) Pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib
4) Pengabdian sesuai dengan profesi. Artinya pengabdian warga Negara yang
mempunyai tugas profesi tertentu untuk kepentingan pertahanan Negara termasuk
dalam menanggulangi atau memperkecil akibat yang ditimbulkan oleh perang,
bencana alam atau bencana lainnya.Warga Negara yang berprofesi sebagai medis,
tim SAR, PMI, bantuan social dan perlindungan masyarakat (Linmas) memiliki hak
dan kewajiban ikut serta dalam usaha pembelaan Negara.

Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep
ini adalah tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan
yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-
syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu
hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara.
Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras.

25
Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal
ancaman nyata musuh bersenjata.
Tantangan besar dalam sejarah adalah bagaimana mempertahankan
kelangsungan hidup kita sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di
bidang ekonomi sefta berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Oleh karena itu, Bela
Negara memiliki spektrum yang sangat luas di bebagai bidang kehidupan, mulai dari
politik, ekonomi, sosial dan budaya. Bela negara bisa diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari oleh setiap warga negara dari berbagai latar belakang profesi.
Sejarah mencatat bahwa Republik Indonesia bisa berdiri tegak sebagai negara-
bangsa yang berdaulat tidak lepas dari semangat bela negara dari seluruh kekuatan
rakyat, mulai dari prajurit TNI, petani, pedagang kecil, nelayan, ulama, santri, dan
elemen rakyat yang lain. Mereka telah berjuang, mengorbankan jiwa raganya untuk
membela tanah airnya dari para penjajah. Sejarah juga menunjukkan kepada kita semua
bahwa membela negara tidak hanya dilakukan dengan kekuatan senjata, akan tetapi
juga dilakukan oleh setiap warga negara dengan kesadarannya untuk membela negara,
melakukan upaya-upaya politik maupun diplomasi. Tantangan dan ancaman yang
dihadapi bangsa adalah panggilan bagi kita semua untuk bela negara. Semua anak
bangsa harus tergerak dan bergerak untuk bela negara sesuai dengan ladang
pengabdiannya masing-masing. Panggilan untuk bela negara bisa dilakukan oleh
seorang guru, seorang bidan, tenaga kesehatan, petani, buruh, profesional, pegawai
negeri sipil, pedagang, serta profesi lainnya. Bela negara bisa dilakukan melalui
pengabdian profesi di berbagai bidang kehidupan masing-masing.
Pengaturan mengenai Bela Negara, selain diatur dalam Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara juga terkait dengan Undang-Undang lain
seperti:

1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya.


2) Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih;
3) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia;
4) Undang Undang Dasar Tahun 1945 :
- Pasal 27 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
- Pasal 30 ayat (1) mengamanatkan bahwa “ Tiap-tiap warga negara berhak
dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”

26
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis

Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa


Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan-tujuan luhur
tersebut didasarkan pada Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa dan negara dan
Undang-Undang Dasar 1945. Pencapaian tujuan tersebut di atas dilakukan melalui
berbagai upaya pembangunan di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Upaya yang paling mendasar
adalah menemukan dan menerapkan cara yang paling efektif untuk menyadarkan warga
negara agar tergerak ikut serta dalam pembelaan negara. Dengan demikian pendidikan
kesadaran bela negara berperan penting untuk membangkitkan kesadaran setiap dan
seluruh warga negara akan hak dan kewajibannya dan semua potensi dirinya untuk
membela bangsa dan negara.

Selain melalui pendidikan, upaya membangun kesadaran bela negara dapat


dilakukan dengan pemberian motivasi dalam berbagai bentuk dan cara. Motivasi
mempunyai kekuatan tersendiri dalam mempengaruhi sikap dan pola pikir warga
negara. Motivasi itu dapat juga muncul secara spontan dalam diri para warga negara,
karena mereka menyaksikan langsung kemampuan negara dalam mengemban amanat
rakyat dan mereka melihat dan merasakan langsung bahwa negara sungguh-sungguh
bermanfaat bagi kehidupan mereka. Tanpa negara mereka tidak berdaya
mengembangkan dirinya. Kemampuan dan manfaat negara itu tampak di dalam inisiatif
negara negara menyediakan berbagai kebutuhan mereka, menyiapkan aneka fasilitas
yang memudahkan mereka meraih kesejahteraan hidup, melindungi mereka dari
berbagai ancaman, menciptakan iklim kebebasan, kesamaan, keadilan dan solidaritas.
Menyaksikan semuanya itu, mereka termotivasi untuk bangkit membela negara, dan
tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak memenuhi hak dan kewajibannya
membela negara, baik di masa damai maupun di masa perang.

27
Disisi lain, motivasi untuk membela negara dapat muncul, karena para warga
negara merasa terhormat jika mereka mengorbankan waktu,, tenaga dan pikirannya
bagi kepentingan umum bangsa dan negara. Bagi para warga negara. pengorbanan demi
pengabdian kepada bangsa dan negara merupakan suatu kehormatan dan kepercayaan.
Dengan begitu, setiap warga negara akan berusaha menjadi orang yang dengan sukarela
mau berkorban untuk bangsa dan negaranya. Namun demikian demi rasa keadilan dan
kepastian bagi mereka dalam menunaikan hak dan kewajibannya membela negara,
maka hal ihwal bela negara harus diatur dalam peraturan perundang-undangan. Singkat
kata, proses motivasi akan berhasil jika setiap warga negara dan seluruh warga negara
Indonesia selain mengenal dan memahami keunggulan dan kelebihan negara dan
bangsa Indonesia, juga sekaligus mengenal dan memahami kemungkinan ancaman,
gangguan hambatan dan hambatan terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia.
Dalam rangka itu amat bermanfaat jika dikemukakan bahan-bahan untuk memotivasi
sebagai berikut :

a. Pengalaman sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia;

b. Posisi geografis Nusantara yang strategis;

c. Keadaan penduduk (demografis);Kekayaan sumber daya alam yang melimpah;

d. Keanekaragaman budaya bangsa;

e. Perkembangan dan kemajuan Iptek;

f. Kemungkinan timbulnya perang.

Pengaturan sumber daya nasional untuk pertahanan negara adalah upaya


penting dan strategis negara dalam menata keteraturan untuk keefektifan sebuah sistem
pertahanan. Pelibatan sumber daya nasional untuk pertahanan negara bertujuan untuk
memperbesar dan memperkuat komponen utama. Ancaman terhadap eksistensi bangsa
dan negara di abad sekarang sudah tidak mungkin lagi diletakkan hanya pada fungsi
TNI. Namun idealnya TNI, sumber daya serta sarana prasarana lainnya merupakan
sumber kekuatan pertahanan negara yang siap digunakan kapanpun sesuai dengan
kebutuhan pertahanan negara.

28
B. Landasan Sosiologis

Landasan Sosiologis bagi pendidikan kesadaran bela negara bertumpu pada


negara sebagai kesatuan atau ikatan sosial terbesar yang memiliki kekuasaan tertinggi
atas bentuk-bentuk masyarakat lainnya, dan manusia (rakyat, warga negara) sebagai
makhluk sosial yang membentuk negara. Sebagaimana kita tahu, oleh kesosialannya,
manusia selalu mau atau tergerak untuk hidup bersama orang lain. Kecenderungan ini
menghasilkan berbagai tingkatan kesatuan atau ikatan sosial, mulai dari keluarga
sebagai unit terkecil masyarakat, lalu meluas kepada masyarakat, hingga bangsa dan
negara.

Di dalam ketentuan-ketentuan sosial itu, manusia individual berinteraksi


dengan sesamanya di dalam lingkungan sekitar tempat ia tinggal dan beraktivitas.
Dalam dunia modern dewasa ini, ia tidak saja berinteraksi dengan lingkungan
terdekatnya, tetapi juga dengan lingkungan seluas dunia melalui segala sarana teknologi
modern. Ia di satu pihak (dapat) mempengaruhi sesama dan masyarakat dengan pola
pikir dan seluruh sikap hidupnya, tetapi di pihak lain ia juga dipengaruhi oleh
masyarakat dengan paham-paham, nilai-nilai, dan norma-norma yang dianut
masyarakat, bangsa dan negara. Lingkungan tempat ia tinggal dan beraktivitas
menetapkan apa yang baik yang boleh dilakukan dan apa yang buruk yang tidak boleh
dilakukan. Ia akan diterima oleh lingkungan sosialnya sejauh ia mengakui dan
menghayati paham, nilai dan norma yang dianut masyarakat, serta turut serta dalam
berbagai tugas social demi terciptanya kebaikan umum. Sebaliknya ia akan ditolak jika
ia hidup dan bertingkah laku tidak selaras paham, nilai, dan norma yang dianut
masyarakat, dan dengan begitu tidak memberikan sumbangan apapun bagi kebaikan
umum masyarakat. Di dalam kesatuan-kesatuan social itu, manusia individual
menjalani proses personalisasi, proses penyempurnaan diri sebagai pribadi. Di sana
pula ia mewujudkan dimensi politis kehidupannya dengan melakoni peran-peran sosial
demi kebaikan umum masyarakat. Dengan peran-peran sosial itu serta seluruh
kehidupannya, ia membaktikan diri bagi kebaikan umum seluruh masyarakat, bangsa
dan negara.

Kondisi masyarakat yang multikultural ini memiliki suatu kelemahan, yaitu


rentan terhadap konflik horizontal yang mengakibatkan disintegrasi bangsa. Yang
dimaksud dengan konflik horizontal adalah konflik antar kelompok atau masyarakat

29
yang didasari atas adanya perbedaan identitas seperti suku, etnis, ras, dan agama.
Konflik horizontal yang bersifat massal biasanya diawali dengan adanya potensi
konflik yang kemudian berkembang dan memanas menjadi ketegangan, sampai
akhirnya pecah menjadi konflik fisik Salah satu konflik horizontal yang paling sering
terjadi di Indonesia adalah konflik etnik. Sebagai unit sosial dari masyarakat yang
multikultural, perbedaan antara kelompok etnik biasanya menimbulkan permasalahan
sendiri. Hal tersebut sejalan dengan ciri-ciri dari masyarakat majemuk, yaitu hidup
dalam kelompok-kelompok yang berdampingan secara fisik, tapi tersegregasi karena
perbedaan social.

Dalam konteks negara sebagai kesatuan atau ikatan sosial terbesar yang
dibentuk oleh rakyat atas dasar konsensus bersama, individu warga negara bertumbuh
dalam kesempurnaan dirinya sebagai manusia. Negara, sesuai tugas pokoknya,
menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan waragta negara mengembangkan
dirinya dan mengusahakan kesejahteraannya. Maka pada gilirannya, warga negara
mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu disamping hak-haknya, terhadap negara.
Salah satu hak dan kewajiban dasar warga negara adalah hak dan kewajiban membela
negara.

C. Landasan Yuridis

Dalam Pasal 27 ayat (3) UUD NKRI Tahun 1945 dinyatakan bahwa setiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Tidak
seorang pun warga negara boleh menghindar dari kewajiban ikut serta dalam
pembelaan negara, kecuali ditentukan dengan Undang-Undang. Ketentuan tentang hak
dan kewajiban bela negara termuat dalam :

a. Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 : “Setiap warga negara berhak
dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
b. Pasal 30 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar 1945 : “Tiap-tiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan negara dan usaha
pertahanan dan keamanan negara. Usaha pertahanan negara dilaksanakan
melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional
Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kekuatan utama
dan rakyat sebagai kekuatan pendukung”.

30
c. Pasal 68 Undang-Undang R.I. No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia:
“Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
d. Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang R.I. No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara : “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela
negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”.
e. Pasal 8 ayat (1) dan (2) Undang-Undang R.I. No. 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara: warga negara juga dapat diwajibkan/secara sukarela
menjadi anggota komponen cadangan dan anggota komponen pendukung,
sebagai salah satu wujud bela negara.
f. Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang R.I. No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara “Keikutsertaan warga negara dalam upaya Bela Negara sebagaimana
yang dimaksud ayat (1), diselenggarakan melalui :
1) Pendidikan Kewarganegaraan;
2) Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib;
3) Pengabdian sebagai Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau
secara wajib;
4) Pengabdian sesuai dengan profesi.
g. Pasal 3 Undang-Undang R.I. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional: “Tujuan pendidkan ialah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
yang demokratis dan bertanggung jawab sedangkan fungsi pendidikan ialah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencedaskan bangsa”

31
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI
MUATAN UNDANG-UNDANG

A. Arah dan Jangkauan Pengaturan

Sasaran penyusunan Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:

1) Sebagai upaya pemerintah untuk memaksimalisasi reformasi hokum terkait


pertahanan di Indonesia;
2) Merupakan manifestasi dari konsep pertahanan rakyat semesta sebagai bagian
dari grand strategi nasional dalam bidang pertahanan;
3) Membangun sistem pertahanan yang adaptif, visioner yang memiliki daya
tangkal dan disiapkan secara dini, terarah, serta berkelanjutan oleh negara untuk
menghadapi ancaman;
4) Membangun karakter masyarakat sebagai suatu bangsa Indonesia yang secara
sadar dan peduli untuk ikut serta dalam usaha bela negara;

B. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang

1. Ketentuan Umum
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1) Bela Negara adalah sikap dan perilaku serta tindakan warga negara yang
dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup
bangsa dan negara;
2) Sumber Daya Nasional adalah sumber daya manusia, sumber daya alam
dan buatan serta sarana dan prasarana nasional;
3) Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik

32
Indonesia dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman serta
gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara;
4) Sistem Pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang bersifat
semesta dengan melibatkan seluruh sumber daya nasional yang
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara
total, 80 terpadu, terarah, dan berkelanjutan untuk menegakkan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa
dari segala ancaman;
5) Sumber Daya Manusia adalah warga negara yang secara psikis dan fisik
dapat dibina dan disiapkan kemampuannya untuk mendukung kekuatan
pertahanan negara;
6) Sumber Daya Alam adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air dan
udara yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk
kepentingan pertahanan negara;
7) Sumber Daya Buatan adalah sumber daya alam yang telah ditingkatkan
daya gunanya untuk kepentingan pertahanan negara;
8) Sarana dan Prasarana Nasional adalah hasil budidaya manusia yang
dapat digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan
negara dalam rangka mendukung kepentingan nasional;
9) Warga Negara adalah warga negara Republik Indonesia;
10) Pembinaan Kesadaran Bela Negara adalah segala usaha, tindakan, dan
kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memberikan pengetahuan dan
menumbuhkembangkan sikap dan perilaku warga negara yang memiliki
kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia pada
Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan
negara, serta mempunyai kemampuan awal bela negara baik psikis
maupun fisik dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara;
11) Ancaman Militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan
bersenjata dan terorganisasi serta dinilai mempunyai kemampuan
membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan segenap bangsa;
12) Ancaman Hibrida adalah ancaman yang bersifat campuran dan
merupakan keterpaduan antara ancaman militer dan ancaman non
militer; dan

33
13) Ancaman Nonmiliter adalah ancaman yang menggunakan faktor-faktor
non-militer yang digolongkan ke dalam ancaman yang berdimensi
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keselamatan umum, teknologi
dan berdimensi legislasi, yang dinilai dapat membahayakan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa;
14) Wajib Militer adalah Wajib kewajiban bagi seorang warga negara untuk
menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan mengikuti
pendidikan militer guna meningkatkan ketangguhan dan kedisiplinan
seorang itu sendiri. Wajib militer biasanya diadakan guna untuk
meningkatkan kedisiplinan, ketangguhan, keberanian dan kemandirian
seseorang dan sebagai upaya bela negara guna pertahanan nasional; dan
15) Sistem Pertahanan Semesta adalah sistem pertahanan yang melibatkan
seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya

Di dalam hal ini terdapat materi muatan yang diatur sebagai upaya Bela
Negara dalam pertahanan nasional yaitu Pengelolaan Sumber Daya Nasional
untuk Pertahanan Negara bertujuan untuk mentransformasikan Sumber Daya
Nasional menjadi kekuatan pertahanan negara yang siap digunakan untuk
kepentingan pertahanan negara. Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk
Pertahanan Negara meliputi:
1) Pendidikan Kewarganegaraan; dan
2) Wajib Militer dalam upaya Bela Negara;

Sistem Pertahanan Negara merupakan sistem pertahanan semesta, yaitu


sistem pertahanan yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber
daya nasional lainnya. Sistem Pertahanan Negara harus dipersiapkan secara dini
oleh pemerintah serta diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan
berkelanjutan untuk menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah
dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman militer
menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan
didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Sistem
Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter menempatkan
lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai

34
dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-
unsur lain dari kekuatan bangsa. Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi
ancaman hibrida menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai Komponen
Utama.
Selain hal tersebut di dalam upaya wajib militer sebagai bentuk Bela
Negara ini meliputi materi muatan mengenai pendidikan kewarganegaraan yang
dimana pendidikan kewarganegaraan merupakan pendidikan untuk membentuk
karakter bangsa yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta
Kesadaran Bela Negara. Pendidikan kewarganegaraan diselenggarakan secara
nasional dalam bentuk pembinaan kesadaran bela negara yaitu pemberian
pengetahuan dan kemampuan bela negara guna mendukung sistem pertahanan
negara. Materi Pembinaan Kesadaran Bela Negara terdiri atas:
1) Nilai-nilai Dasar Bela Negara;
2) Sistem pertahanan negara; dan
3) Indikator keberhasilan Pembinaan Kesadaran Bela Negara

Secara umum adalah berkaitan dengan pemahaman secara komprehensif


tentang :

1) Mencintai tanah air;


2) Kesadaran berbangsa dan bernegara;
3) Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara;
4) Rela berkorban untuk bangsa dan Negara;
5) Memiliki kemampuan awal bela Negara; dan
6) Pembinaan Kesadaran Bela Negara diselenggarakan oleh

Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pemerintah


Daerah, BUMN/BUMD, BUMS dan Organisasi Kemasyarakatan sedangkan
Kementerian Pertahanan bertindak sebagai koordinator dan supervisi dalam
kegiatan pembinaan kesadaran bela Negara.

2. Ketentuan Pidana
Proses pidana hanya dilakukan apabila anggota Komponen Cadangan
dan Komponen Pendukung menolak tanpa alasan yang sah untuk dimobilisasi

35
pada saat negara membutuhkan keikutsertaan dalam pertahanan negara.
Komponen Cadangan aktif berstatus kombatan, dengan demikian pemidanaan
terhadap hal tersebut mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Militer. Beberapa pasal pemidanaan, antara lain:
a. Setiap anggota Komponen Cadangan yang tidak melaksanakan latihan
penyegaran pada saat dinas aktif pada saat latihan tanpa alasan yang sah
dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 bulan.
b. Setiap anggota Komponen Cadangan yang dengan sengaja tidak
mematuhi panggilan pada saat mobilisasi tanpa alasan yang sah dipidana
dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun 6 (enam) bulan.
c. Setiap pemilik dan/atau pengelola sumber daya alam, sumber daya
buatan serta sarana dan prasarana yang ditetapkan sebagai Komponen
Cadangan apabila dengan sengaja tidak menyerahkan sumber daya
alam, sumber daya buatan serta sarana dan prasarana yang dimilikinya
pada saat mobilisasi dipidana dengan pidana penjara paling lama 8
(delapan) tahun 6 (enam) bulan.
d. Setiap anggota Komponen Pendukung yang dengan sengaja tidak
mematuhi panggilan pada saat mobilisasi tanpa alasan yang sah dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun 8 (delapan) bulan
Setiap pemilik sumber daya alam dan atau sumber daya buatan serta
sarana dan prasarana nasional yang ditetapkan sebagai Komponen
Pendukung pada saat dimobilisasi menolak untuk digunakan bagi
pertahanan Negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 8
(delapan) tahun 6 (enam) bulan.
e. Setiap warga negara yang dengan sengaja tidak mematuhi panggilan
untuk menjadi anggota Komponen Cadangan pada saat darurat perang
tanpa alasan yang sah dipidana dengan pidana penjara paling lama 8
(delapan) tahun 6 (enam) bulan.

3. Ketentuan Penutup
Pada saat Undang-Undang tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional
untuk Pertahanan Negara ini mulai berlaku, maka:
a. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1997 tentang Mobilisasi dan
Demobilisasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997

36
Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3710);
b. Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 184,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3905); dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

37
BAB VI

PENUTUP

A. SIMPULAN

Bela negara merupakan sikap, tindakan, dan perilaku yang dilakukan atas
kesadaran sendiri dengan dilandasi pengabdian untuk melindungi dan menjaga
kedaulatan dan eksistensi negara. Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa
wajib memiliki nilai-nilai bela negara di dalam dirinya sebagai bekal untuk menjadi
pemimpin negara di masa yang akan datang. Dan semangat bela negara warga indonesia
mengalami penurunan karena kondisi dan situasi bangsa indonesia yang masih sarat
dengan berbagai masalah mulai dari derasnya pengaruh globalisasi dan berbagai
penjajahan gaya baru serta para penguasa yang hanya mementingkan hak pribadi.

Kesadaran bela negara merupakan suatu kewajiban dari setiap warga negara
indonesia. Hal ini merupakan sikap yang mutlak yang harus ada dalam setiap warga
negara indonesia. Bela negara oleh warga negara di berbagai bidang merupakan salah
satu cara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari berbagai ancaman baik
yang di luar negeri maupun dalam negeri negara indonesia.

Jiwa Nasionalisme yang besar dari setiap warga negara bisa menjadi senjata
ampuh dan sekaligus menjadi subjek dalam penerapan bela negara. Pemuda yang
semangat merupakan ujung tombak dari upaya tersebut karena semua proses itu hanya
bisa terjadi bila semua warga negara bisa menjadi masyarakat yang berwawasan luas
dan selalu aktif dalam menjaga kestabilan bangsa.

Bela negara merupakan awal mula untuk membentuk pemuda-pemuda generasi


bangsa yang terampil,kreatif,dan punya semangat juang yang tinggi sehingga ideologi
bangsa kita yaitu pancasila bisa selalu menjadi jalan untuk kehidupan melakoni
kehidupan era saat ini dimana globalisasi begitu mencengkram negara ini dari barbagai
aspek kehidupan.

Salah satu upaya Bela negara yang bisa dilakukan adalah lewat pendidikan dini
bagi para pelajar sehingga kesadaran mereka akan menjaga ideologi Pancasila sudah
kuat fondasinya dan tidak bisa terpengaruh lagi oleh pengaruh-pengaruh asing. Hal itu

38
merupakan kondisi awal yang harus diwujudkan dalam pencapaian tujuan nasional dan
Bela Negara.

Wajib militer ini merupakan sebagai langkah atau bentuk upaya setiap lapisan
negara terutama generasi millennial untuk memberikan perannya dalam Bela Negara
sebagai pertahanan nasional. Banyak pro dan kontra terhadap sistem wajib militer
tersebut dikarenakan terbatasnya anggaran maka dengan itu harus disusun skema yang
terbaik dan memungkinkan dari sisi penganggarannya. Metode terbaik Metode terbaik
untuk menghemat anggaran yaitu rentang usia 18-25 tahun saja dan kuota ditetapkan
dengan melakukan rekruitmen secara random melalui pengundian warga negara. Wajib
militer merupakan upaya mengimplementasikan jiwa patriotisme dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

B. Saran/Rekomendasi

1) Perlu untuk disusun Undang-Undang tentang Bela Negara sebagai landasan hukum
bagi negara dalam pelaksanaannya di Indonesia.
2) Karena kesadaran bela negara merupakan suatu kewajiban bagi seluruh elemen
bangsa Indonesia tanpa terkecuali dan mulai sekarang marilah kita semua bersama-
sama menumbuhkan kembali rasa semangat nasionalisme sejak dini terutama
kepada generasi muda bangsa Indonesia ini dengan metode yang sederhana dan
mudah dimengerti dan dipahami kemudian dijabarkan dalam suatu aturan
pelaksanaan untuk dijadikan pedoman bangsa Indonesia.

39
DAFTAR PUSTAKA

Buku

R.M. Sundardi, Pembinaan Ketahanan Bangsa, dalam rangka memperkokoh keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. (Jakarta: PT Kuadernita Adidarma, 2004) hlm 177-189.

R Soebijono, Wadjib Militer , Jakarta: Penerbit Djambatan, hlm 32.

Gearoid Ó Tuathail, Geopolitics Reader, (routledge, 2006), hlm 20

Doktrin Pertahanan Negara. 2014. Jakarta. Kementrian Pertahanan Republik Indonesia

Jurnal/Artikel

http://journal.unair.ac.id/downloadfull/JAHI8810-d1ccd3c65ffullabstract.pdf diakses terakhir


pada 1 November 2020.

https://tniad.mil.id/danrem-132-sosialisasi-proxy-war-kepada-mahasiswa-fekon-untad/
diakses terakhir pada 1 November 2020

Global Power military power index . Diakses pada November 2020.

Pof. Dr. der-soz. Gumilar RS .disampaikan pada seminar nasional . Perang semesta dan
Penguatan Bina Teritorial. 2015.

40

Anda mungkin juga menyukai