Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DASAR


ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.R
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI FEKAL (KONSTIPASI)

NAMA : IKA SETYASARI


NIM 202014062

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH SURAKARTA
2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang essensial dan
berperan penting untuk kelangsungan hidup manusia. Eleminasi dibutuhkan
untuk mempertahankan dalam keseimbangan fisiologis melalui pembuangan
sisa-sisa metabolisme. Sisa metabolisme berupa eleminasi tersebut terbagi
menjadi dua jenis yaitu berupa feses yang berasal dari saluran cerna disebut
eliminasi bowel/fekal/buang air besar (BAB) dan saluran perkemihan berupa
urine disebut eliminasi urine/buang air kecil (BAK), hal ini bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Eliminasi merupakan aktivitas
pokok yang harus dilakukan setiap manusia dan harus terpenuhi, bila tidak
terpenuhi akan menjadi berbagai macam gangguan yang berdampak pada pada
gangguan sistem pencernaan dan sistem perkemihan.
Adapun defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum, hal ini
juga disebut bowel movement (Harnawati, 2010). Frekuensi defekasi pada
setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali per hari hingga 2 atau 3 kali
per minggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang
peristaltik mendorong feses ke dalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris
dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk
defekasi.
Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi
tubuh yang normal. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah
pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Pola eliminasi dan kebiasaan
masing-masing orang berbeda karena fungsi usus tergantung pada
keseimbangan beberapa faktor. Klien sering meminta pertolongan dari perawat
untuk memelihara kebiasaan eliminasi yang normal, karena keadaan sakit dapat
menghindari mereka sesuai dengan program yang teratur. Oleh karena itu untuk
menangani masalah eliminasi klien, perawat harus mengerti proses eliminasi
yang normal dan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi.
B. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, etiologi, pathway dan
asuhan keperawatan teoritis gangguan eliminasi fekal konstipasi
2. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan eliminasi
fekal
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Gangguan Eliminasi Fekal
Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan di mana seorang individu
mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar,
mengakibatkan jarang buang air besar, keras dan feses kering. Untuk mengatasi
gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah, baik huknah tinggi
maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai ke
kolon descenden dengan menggunakan kanul rekti.
B. Masalah-Masalah Pada Gangguan Eliminasi Fekal
Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan antara lain:
1. Konstipasi, yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran
feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan
nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama,
sehingga banyak air diserap
2. Impaction, merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga
tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan
3. Diare, merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak
berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi
di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan
meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga
pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB
4. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan
udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai
dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma
spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara
mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik.
Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat.
5. Flatulens, yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus
meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas
keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang
menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh
bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang
menghasilkan CO2.
6. Hemoroid, yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa
internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan,
gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan
mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan
pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB
dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya
pasien mengalami konstipasi.
C. Anatomi dan Fisiologi Eliminasi Fekal
1. Mulut
Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan pada awal proses
pencernaan. Mengunyah dengan baik dapat mencegah terjadinya luka parut
pada permukaan saluran pencernaan. Setelah dikunyah lidah mendorong
gumpalan makanan ke dalam faring, dimana makanan bergerak ke esofagus
2. Esofagus
Esofagus adalah sebuah tube yang panjang. Sepertiga bagian atas
adalah terdiri dari otot yang bertulang dan sisanya adalah otot yang licin.
Permukaannya diliputi selaput mukosa yang mengeluarkan secret mukoid
yang berguna untuk perlindungan
3. Lambung
Pergerakan makanan melalui lambung dan usus dimungkinkan dengan
adanya peristaltic, yaitu gerakan kontraksi dan relaksasi secara bergantian
oleh otot yang mendorong substansi makanan dalam gerakan menyerupai
gelombang. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mengosongkan kembali
lambung setelah makan adalah 2 sampai 6 jam
4. Usus Halus
Usus halus terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum. Usus menerima
makanan yang sudah berbentuk chyme (setengah padat) dari lambung untuk
mengabsorbsi air, nutrient, potassium, bikarbonat, dan enzim
5. Usus Besar
Kolon terdiri dari sekum yang berhubungan langsung dengan usus
halus, kolon ascendent, transversum, descendent, sigmoid, dan
rectum.Fungsi utama kolon adalah absorbsi air dan nutrien, proteksi dengan
mensekresikan mucus yang akan melindungi dinding usus trauma oleh feses
dan aktivitas bakteri, dan menghantarkan sisa makanan sampai ke anus
dengan cara berkontraksi.
6. Anus
Anus berfungsi dalam proses eliminasi zat sisa. Proses eliminasi fekal
adalah suatu upaya pengosongan intestin. Pusat refleks ini terdapat pada
medula dan spinal cord. Refleks defekasi timbul karena adanya feses dalam
rektum.
D. Etiologi
1. Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses.
Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar
volume feses. Makanan tertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa
dicerna.
Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan,
di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. Makan yang teratur
mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu
keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama
setiap
hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan
makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon
2. Cairan
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika
pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine, muntah)
yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk
mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Dampaknya
chyme menjadi lebih kering dari normal, menghasilkan feses yang keras.
Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan
chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari
chyme
3. Meningkatnya stress psikologi
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit-
penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi
mempunyai komponen psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang
yang cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan
frekuensi diare. Depresi juga dapat memperlambat motilitas intestinal, yang
berdampak pada konstipasi
4. Kurang aktifitas, kurang berolahraga, berbaring lama
Pada pasien immobilisasi atau bed rest akan terjadi penurunan gerak
peristaltic dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam
waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras
5. Obat-obatan
Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap
eliminasi yang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis
yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian
morphin dan codein, menyebabkan konstipasi. Beberapa obat secara
langsung mempengaruhi eliminasi. Laxative adalah obat yang merangsang
aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. Obat-obatan ini
melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatan tertentu seperti
dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan
seringkali digunakan untuk mengobati diare
6. Usia
Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga
pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai
sistem neuromuskular berkembang, biasanya antara umur 2 – 3 tahun.
Orang dewasa juga mengalami perubahan pengalaman yang dapat
mempengaruhi proses pengosongan lambung. Di antaranya adalah atony
(berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat
berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses,
dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan
selama proses pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga
mengalami
penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak
pada proses defekasi
7. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan pada
spinal cord dan tumor
Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan
stimulus sensori untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisa membatasi
kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia
tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. Akibatnya, klien bisa
mengalami konstipasi. Atau seorang klien bisa mengalami fecal
inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkter ani.
E. Pathways

F. Manifestasi Klinis
1. Konstipasi
a. Menurunnya frekuensi BAB
b. Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan 3). Nyeri rektum
2. Impaction
a. Tidak BAB
b. Anoreksia
c. Kembung/kram
d. Nyeri rectum
3. Diare
a. BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk
b. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat
c. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan
meningkatkan sekresi mukosa.
d. Feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan
menahan BAB.
4. Inkontinensia Fekal
a. Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, 2). BAB encer dan
jumlahnya banyak
b. Gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal
cord dan tumor spingter anal eksternal
5. Flatulens
a. Menumpuknya gas pada lumen intestinal
b. Dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram
c. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus)
6. Hemoroid
a. Pembengkakan vena pada dinding rectum
b. Perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang
c. Merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi
d. Nyeri

G. Asuhan Keperawatan Teoritis


1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan identitas
penanggung jawab
b. Keluhan Utama (Alasan Dirawat di Rumah Sakit)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu
oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat
keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST
(Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji status kesehatan pasien saat dilakukannya pengkajian
d. Riwayat kesehatan dahulu (perawatan di rs terakhir)
Riwayat kesehatan dahulu terutama yang berkaitan dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal. Ataupun riwayat dirawat
di rumah sakit atau pembedahan.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji riwayat kesehatan keluarga untuk mengetahui apakah ada
penyakit keturunan di keluarga pasien
f. Pola Persepsi Dan Penanganan Kesehatan
Kaji persepsi pasien terhadap penyakitnya, dan penggunaan tembakau,
alkohol, alergi, dan obat-obatan yang dikonsumsi secara bebas atau resep
dokter
g. Pola Nutrisi/Metabolisme
Mengkaji diet khsusus yang diterapkan pasien, perubahan BB, dan
gambaran diet pasien dalam sehari untuk mengetahui adanya konsumsi
makanan yang mengganggu eliminasi urin atau fekal
h. Pola Eliminasi
Kaji kebiasaan defekasi dan/atau berkemih serta masalah yang dialami.
Ada atau tidaknya konstipasi, diare, inkontinensia, retensi, dan gangguan
lainnya. Kaji penggunaan alat bantu.
i. Pola Aktivitas/ Olahraga
Pola aktivitas terkait dengan ketidakmampuan pasien yang disebabkan
oleh kondisi kesehatan tertentu atau penggunaan alat bantu yang
mempengaruhi kebiasaan eliminasi pasien
j. Pola Istirahat Tidur
Kebiasaan tidur pasien dan masalah yang dialami
k. Pola Kognitif – Perseptif
Kaji status mental pasien, kemampuan bicara, ansietas,
ketidaknyamanan, pendengaran dan penglihatan.
l. Pola Peran Hubungan
Kaji pekerjaan pasien, sistem pendukung, ada/tidaknya masalah keluarga
berkenaan dengan masalah di rumah sakit
m. Pola Seksualitas/ Reproduksi
Kaji adanya masalah seksualitas pasien
n. Pola Koping – Toleransi Stres
Keadaan emosi pasien, hal yang dilakukan jika ada masalah, dan
penggunaan obat untuk menghilangkan stres
o. Pola Keyakinan-Nilai
Agama yang dianut pasien dan pengaruhnya terhadap kehidupan.
Pemeriksaan Fisik
a. Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder,
pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.
b. Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi jaringan
vagina
c. Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, terderness, adanya pembesaran skrotum.
d. Intake dan output cairan
- Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
- Kebiasaan minum di rumah.
- Intake, cairan infus, oral, makanan, NGT.
- Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui
ketidakseimbangan cairan.
- Output urine dari urinal, cateter bag, drainage ureterostomy,
sistostomi.
- Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau, kepekatan.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan urine (urinalisis):
1) Warna (N : jernih kekuningan)
2) Penampilan (N: jernih)
3) Bau (N: beraroma)
4) pH (N:4,5-8,0)
5) Berat jenis (N: 1,005-1,030)
6) Glukosa (N: negatif)
7) Keton (N:negatif)
8) Kultur urine (N: kuman patogen negatif).
Terapi
Terapi yang diberikan baik oral maupun parenteral yang diberikan dalam
pemenuhan atau gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal
2. Diagnosa Keperawatan
a.Konstipasi
b. Diare
c. Inkontinensia defekasi
d. Gangguan eliminasi urine
e. Inkontinensia urine
f. Retensi urine
3. Intervensi
Diagnosa NOC NIC

Konstipasi NOC: NIC :


berhubungan dengan - Bowl Elimination
- Fungsi:kelemahan otot - Hidration Manajemen konstipasi
abdominal, Aktivitas
fisik tidak mencukupi Setelah dilakukan tindakan - Identifikasi faktor- faktor
- Perilaku defekasi keperawatan yang menyebabkan
tidak teratur selama …. konstipasi konstipasi
- Perubahan lingkungan pasien teratasi dengan kriteria - Monitor tanda-
- Toileting tidak hasil: tanda ruptur
adekuat: posisi bowel/peritonitis
defekasi, privasi - Pola BAB dalam batas - Jelaskan penyebab dan
- Psikologis: depresi, normal rasionalisasi tindakan
stress emosi, gangguan - Feses lunak pada pasien
mental - Cairan dan serat - Konsultasikan dengan
- Farmakologi: antasid, adekuat dokter tentang
antikolinergis, - Aktivitas adekuat peningkatan dan
antikonvulsan, penurunan bising usus
- Hidrasi adekuat
antidepresan, kalsium - Kolaburasi jika ada tanda
karbonat,diuretik, besi, dan gejala konstipasi yang
overdosis laksatif, NSAID, menetap
opiat, sedatif. - Jelaskan pada
- Mekanis: pasien manfaat diet
ketidakseimbangan (cairan dan serat)
elektrolit, hemoroid, terhadap eliminasi
gangguan neurologis, - Jelaskan pada klien
obesitas, obstruksi pasca konsekuensi
bedah, abses rektum, menggunakan laxative
tumor dalam waktu yang lama
- Fisiologis: perubahan pola - Kolaburasi dengan ahli
makan dan jenis makanan, gizi diet tinggi serat dan
penurunan motilitas cairan
gastrointestnal, dehidrasi, - Dorong peningkatan
intake serat dan cairan aktivitas yang
kurang, perilaku makan optimal
yang buruk Sediakan privacy dan
DS: keamanan selama BAB
- Nyeri perut
- Ketegangan perut
- Anoreksia
- Perasaan tekanan
- pada rektum
- Nyeri kepala
- Peningkatan tekanan
abdominal
- Mual
- Defekasi dengan nyeri
DO:
- Feses dengan darah segar
- Perubahan pola BAB
- Feses berwarna gelap
- Penurunan frekuensi
BAB
- Penurunan volume feses
- Distensi abdomen
- Feses keras
- Bising usus
hipo/hiperaktif
- Teraba massa abdomen
atau rektal
- Perkusi tumpul
- Sering flatus
- Muntah
4. Implementasi
Pencegahan, pengaturan posisi dan intervensi mandiri. Tindakan
keperawatan mencangkup tindakan mandiri dan kolaborasi
Tindakan mandiri : aktivitas perawat yang dilakukan atau yang didasarkan
pada kesimpulan sendiri dan bahan petunjuk dan perintah tenaga kesehatan
lain. Tindakan kolaborasi: tindakan yang dilaksanakan atas hasil keputusan
bersama dengan dokter dan petugas kesehatan lain
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan yang
merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana ksehatan pasien
dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara melibatkan
pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatam Praktek. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Bharucha, A.E. (2007). Constipation. Best Practice & Research Clinical
Gastroenterelogy. Vol.21.No.4.
Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2007). Fundamentals of Nursing, Human Health and
Function. (4th ed). Philadelphia: Lippincott, Williams & wilkins.
Dameria, et al. (2015). Mengatasi Konstipasi Pasien Stroke dengan Masase
Abdomen dan Minum Air Putih Hangat. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Vol 18 no. 1
Potter & Perry. (2010). Fundamental of Nursing Buku 3: Edisi 7. Singapore:
Elsevier Ltd.
LAPORAN KASUS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. R
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI FEKAL (KONSTIPASI)

NAMA : IKA SETYASARI


NIM 202014062

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH SURAKARTA
2020/2021
BAB I
TEORI: KONSEP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
A. Konsep Fisiologi
1. Sistem Tubuh yang yang berperan dalam Eliminasi fekal
Eliminasi produk sisa yang teratur merupakan aspek yang penting
untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan
masalah pada system gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya. Telah
terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering, dalam jumlah besar,
karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya
insiden kanker kolorektal (Robinson dan Weigley dalam Fundamental
Keperawatan, 2006).
Organ saluran pencernaan dibagi menjadi dua bagian, yaitu: organ
saluran gastrointestinal bagian atas dan organ saluran gastrointestinal bagian
bawah.
a. Saluran gastrointestinal bagian atas
i) Mulut
Mulut merupakan jalan masuk yang dilalui makanan pertama kali
untuk sistem pencernaan. Rongga mulut dilengkapi dengan alat
pencernaan gigi dan lidah serta kelenjar pencernaan untuk membantu
pencernaan makanan. Secara umum, mulut terdiri dari 2 bagian atas
bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi , gigi, bibir, dan pipi,
dan rongga mulut bagian dalam yaitu rongga yang dibatasi sisinya
oleh tulang maksilaris, palatum, dan mandibularis di sebelah belakang
dan bersambung dengan faring. Palatum terdiri atas palatum durum
(palatum keras) yang tersusun atas tajuk – tajuk palatum dari sebelah
depan tulang maksilaris, serta terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput
lender. Di rongga mulut, makanan yang masuk akan dicerna secara
mekanik dengan cara dicabik dan dikunyah, serta secara kimiawi
melalui peran dari enzim di saliva.
ii) Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan ronggan mulut dengan
esophagus. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel). Di sini
juga terletak persimpangan antara jalan napas dan makanan, letaknya
di belakang rongga mulut, didepan ruas tulang belakang. Ke atas
bagian depan berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan
lubang yang disebut ismus fausium (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
iii)Esophagus
Begitu makanan memasuki bagian atas esophagus, makanan berjalan
melalui sfingter esophagus bagian atas, yang merupakan otot sirkular,
yang mencegah udara memasuki esophagus dan makanan mengalami
refluks (bergerak ke belakang) kembali ke tenggorok. Bolus makanan
menelusuri esofagus yang panjangnya kira-kira 25 cm. Makanan
didorong oleh gerakan peristaltik lambat yang dihasilkan oleh
kontraksi
involunter dan relaksasi otot halus secara bergantian. Pada saat bagian
esofagus berkontraksi di atas bolus makanan, otot sirkular di bawah
(atau di depan) bolus berkontraksi. Kontraksi-relaksasi otot halus yang
saling bergantian ini mendorong makanan menuju gelombang
berikuAnya. Dalam 15 detik, bolus makanan bergerak menuruni
esofagus dan mencapai sfingter esofagus bagian bawah. Sfingter
esofagus bagian bawah terletak diantara esofagus dan lambung (Potter
dan dan Perry, 2006).
iv)Lambung
Lambug merupakan organ pencernaan yang paling fleksibel karena
dapat menampung makanan sebanyak 1-2 liter. Fungsi utama dari
lambung adalah menyimpan makanan yang sudah bercampur dengan
cairan yang dihasilkan lambung (getah lambung). Makanan akan
masuk kedalam lambung dari esofagus melalui otot berbentuk cincin
yang disebut dengan sfingter. Sfingter ini dapat membuka dan
menutup dan berfungsi mencegah masuknya kembali isi lambung
kedalam esofagus. Sebelum makanan meninggalkan lambung,
makanan diubah menjadi materi semi cair yang disebut kimus. Kimus
lebih mudah dicerna dan diabsorbsi dari pada makanan padat. Klien
yang sebagian lambungnya diangkat atau yang memiliki pengosongan
lambung yang cepat dapat mengalami masalah pencernaan yang serius
karena makanan tidak di pecah menjadi kimus (Tarwoto dan
Wartonah, 2010).
b. Saluran gastrointestinal bagian bawah
i) Usus halus
Selama proses pencernaan normal, kimus meninggalkan lambung dan
memasuki usus halus. Usus halus merupakan sebuah saluran dengan
diameter sekitar 2,5 cm dan panjang 6 m. Usus halus dibagi menjadi
tiga bagian: duodenum, jejunum, dan ileum. Kimus bercampur dengan
enzim – enzim pencernaan saat berjalan melalui usus halus.
Segmentasi (kontraksi dan relaksasi otot halus secara bergantian)
mengaduk kimus, memecah makanan lebih lanjut untuk dicern. Pada
saat kimus bercmpur, gerakan peristaltic berikuAnya sementara
berhenti sehingga memungkinkan absorbs kimus berjalan perlahan
melalui usus halus untuk memungkinkan absorbs. Enzim di dalam
usus halus memecah lemak, protein dan karbohidrat menjadi unsure –
unsur dasar. Nutrisi hamper seluruhnya diabsorbsi oleh duodenum dan
jejunum. Ileum mengabsorbsi vitamin-vitamin tertentu, zat besi dan
garam empedu. Apabila fungsi ileum terganggu, proses pencernaan
akan mengalami perubahan besar (Potter dan dan Perry. 2006).
ii) Usus besar
Kolon merupakan usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus
halus. Ia memiliki panjang 1,5 meter dan berbentuk seperti huruf U
terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu: kolon asenden,
kolon tranversum dan kolon desenden.
iii)Rectum
Rectum meupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh.
Sebelum dibuang lewat anus, feses akan ditampung terlebih dahulu
pada baggian rectum. Apabila feses sudah siap dibuang, maka otot
sfingter rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus (Tarwoto
dan Wartonah, 2010).
c. Proses defekasi
Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut dengan
buang air besar atau proses pengeluaran sisa metabolisme berupa feses
dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Dolam
proses defekasi terjadi dua macam refleks yaitu :
a. Refleks defekasi intrinsiks
Refleks ini berawal dari feses yang masuk ke rectum sehingga
terjadi distensi rectum, yang kemudian menyebabkan rangsangan
pada fleksus mesentrikus dan terjadilah gerakan peristaltik. Setelah
feses tiba di anus, secara sistematis spinter interna relaksasi maka
terjadilah defekasi.
b. Refleks defekasi parasimpatis
Feses yang masuk ke rectum akan merangsang saraf rectum yang
kemudian diteruskan ke spinal cord. Dari spinal cord kemudian
dikembalikan ke kolon desenden, sigmoid dan rectum yang
menyebabkan intensifnya peristaltik, relaksasi spinter internal, maka
terjadilah defekasi.
Dorongan usus juga dipengaruhi oleh kontraksi otot abdomen,
tekanan diafragma, dan kontraksi oto elevator. Defekasi dipermudah oleh
fleksi otot femur dan posisi jongkok (Tarwoto dan Wartonah, 2006).
B. Definisi
Masalah yang umum pada eliminasi fekal antara lain: konstipasi, diare,
hemoroid, impaksi, inkontinensia, flatulen. Adapun yang akan dibahas oleh
penulis adalah masalah konstipasi.
Konstipsi adalah gangguan eliminasi yang diakibatkan oleh pngeluaran
feses yang lama atau keras dan kering. Biasanya disebabkan oleh pola defekasi
yang tidak teratur, penggunaan laksatif yang lama, stress psikologi, obat-
obatan, kurang aktivitas, dan usia. Adanya upaya mengedan saat defekasi
adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. Apabila motilitas usus halus
melambat, masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian
besar kandungan air dalam feses di absorbsi. Sejumlah kecil air ditinggalkan
untuk melunakkan dan melumasi feses. Pengeluaran feses yang kering dan
keras dapat menimbulkan nyeri pada rectum.
C. Karakteristik
Karakteristik dari konstipasi antara lain:
1. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur dan mengabaikan keinginan untuk
defekasi dapat menyebabkan konstipasi
2. Klien yang mengonsumsi diet rendah serat dalam bentuk lemak hewani
(mis: daging, telur) dan karbohidrat sering mengalami masalah konstipasi.
Asupan cairan yang rendah juga memperlambat peristaltik
3. Tirah baring yang panjang atau kurangnya olah raga yang teratur
menyebabkan konstipasiPemakaian laksatif yang berat menyebabkan
hilangnya refleks defekasi normal.
4. Obat penenang, zat besi, diuretik, antacid dalam kalsium atau aluminium
dapat menyebabkan konstipasi.
5. Lansia mengalami perlambatan peristaltik, kehilangan elastisitas otot
abdomen, dan penurunan sekresi mukosa usus. Lansia sering mengonsumsi
makanan rendah serat.
6. Konstipasi juga dapat disebabkan oleh kelainan saluran GI, seperti obstruksi
usus, ileus paralitik, dan diverticulitis (Potter dan Perry, 2006).
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Banyak faktor yang mempengaruhi proses eliminasi fekal, di antaranya di
bawah ini:
1. Faktor yang Meningkatkan Eliminasi
a. Lingkungan yang bebas stress
b. Kemampuan untuk mengikuti pola defekasi pribadi, privasi
c. Diet tinggi serat
d. Asupan cairan normal (jus buah, cairan hangat)
e. Olahraga (berjalan )
f. Kemampuan untuk mengambil posisi jongkok
g. Diberikan laksatif dan katartik secara tepat
2. Faktor yang Merusak Eliminasi
a. Stressemosional (ansietas atau depresi)
b. Gagal mencetuskan refleks defekasi, kurang waktu atau kurang privasi
c. Diet tinggi lemak, tinggi karbohidrat
d. Asupan cairan berkurang
e. Imobilitas atau tidak aktif
f. Tidak mampu jongkok akibat imobilitas, usia lanjut, deformitas
musculoskeletal, nyeri, dan nyeri selama defekasi
g. Penggunaan analgetik narkotik, antibiotic, dan anastesi umum, serta
h. Penggunaan katartik yang berlebihan
i. Usia
E. Tahapan-Tahapan
Proses defekasi yang normal memerlukan keadaan anatomi dan persafaran
yang normal dari rektum, otot puborektal dan sfingter ani. Rektum adalah organ
sensitif yang mengawali proses defekasi. Tekanan pada dinding rektum oleh
feses akan merangsang sistem saraf intrinsik rektum dan menyebabkan
relaksasi sfingter ani interna, yang dirasakan sebagai keinginan untuk defekasi.
Sfingter ani eksterna kemudian menjadi relaksasi dan feses dikeluarkan
mengikuti peristaltik kolon melalui anus. Apabila relaksasi sfingter ani interna
tidak cukup kuat, maka sfingter ani eksterna akan berkontraksi secara refleks
dan untuk selanjuAnya akan diatur secara volunter. Otot puborektalis akan
membantu sfingter ani eksterna sehingga anus mengalami konstriksi. Apabila
konstriksi berlangsung cukup lama, refleks sfingter ani interna akan
menghilang diikuti hilangnya keinginan defekasi.
Patofisiologi konstipasi berkaitan dengan banyak faktor. Borowitz, dkk.
melaporkan bahwa defekasi yang menyakitkan adalah pencetus dari konstipasi.
Nyeri saat defekasi akan membuat pasien cenderung menahan defekasinya.
Selama proses tersebut, mukosa rektum akan mengabsorbsi air dari feses,
sehingga feses menjadi keras dan besar. Hal ini akan mengakibatkan defekasi
menjadi semakin sulit. Karena suliAnya defekasi, terkadang dapat terjadi fisura
anal yang akan memperburuk nyeri. Hal ini akan membuat pasien semakin
berusaha untuk menahan defekasinya. Siklus retensi feses ini terjadi berulang-
ulang dan menjadi reaksi otomatisasi. Seiring berjalannya waktu, akumulasi
feses di rektum akan menyebabkan dilatasi rektum. Dilatasi rektum akan
menyebabkan kemampuan sensorik rektum berkurang bersama dengan
keinginan defekasi. Proses tersebut terjadi terus menerus dan mencetuskan
konstipasi.
F. Masalah/Gangguan yang Timbul pada Kebutuhan Dasar Manusia
Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan antara lain:
1. Konstipasi, yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran
feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan
nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama,
sehingga banyak air diserap
2. Impaction, merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga
tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan
3. Diare, merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak
berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi
di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan
meningkatkan sekresi mukosa. AkibaAnya feses menjadi encer sehingga
pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB
4. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan
udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai
dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma
spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara
mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik.
Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat.
5. Flatulens, yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus
meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas
keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang
menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh
bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang
menghasilkan CO2.
6. Hemoroid, yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa
internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan,
gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan
mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan
pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB
dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. AkibaAnya
pasien mengalami konstipasi.
G. Pengkajian pada Kebutuhan Dasar Manusia
Untuk mengkaji pola eliminasi dan menentukan adanya kelainan,
perawat melakukan pengkajian riwayat keperawatan, pengkajian fisik
abdomen, menginspeksi karakteristik feses, dan meninjau kembali hasil
pemeriksaan yang berhubungan.
a. Riwayat Keperawatan
Riwayat keperawatan memfasilitasi peninjauan ulang pola dan kebiasaan
defekasi klien. Gambaran yang klien katakana sebagai “normal” atau atau
“tidak normal” mungkin berbeda dari faktor dan kondisi yang cenderung
meningkatkan eliminasi normal.
i) Pola defekasi: Frekuensi, pernah berubah
ii) Perilaku defekasi: Penggunaan laksatif, cara memperthankan pola
iii) Deskripsi feses: Warna, bau, dan tekstur
iv) Diet: Makanan yang mempengaruhi defekasi, makanan yang biasa
dimakan, makanan yang dihindari, dan pola makanan yang teratur atau
tidak.
v) Cairan: Jumlah dan jenis minuman per hari
vi) Aktivitas: kegiatan yang sehari – hari
vii) Kegiatan yang spesifik
viii) Penggunaan medikasi: obat – obatan yag memengaruhi defekasi
ix) Stress: stress berkepanjangan atau pendek, koping untuk menghadapi
atau bagaimana menerima.
x) Pembedahan/penyakit menetap (Tarwoto dan Wartonah, 2006)
b. Pemeriksaan fisik
Perawat melakukan pengkajian fisik sistem dan fungsi tubuh yang
kemungkinan dipengaruhi oleh adanya masalah eliminasi.
i) Mulut
Pengkajian meliputi inspeksi gigi, lidah, dan gusi klien. Gigi yang buruk
atau struktur gigi yang buruk mempengaruhi kemampuan mengunyah
ii) Abdomen
Perawat menginspeksi keempat kuadran abdomen untuk melihat
warna, bentuk, kesimetrisan, dan warna kulit. Inspeksi juga mencakup
memeriksa adanya masa, gelombang peristaltik, jaringan parut, pola
pembuluh drah vena, stoma dan lesi. Dalam kondisi normal, gelombang
peristaltik yang terlihat dapat merupakan tanda adanya obstruksi usus.
Distensi abdomen terlihat sebagai suatu tonjolan abdomen ke arah
luar yang menyeluruh. Gas di dalam usus, tumor berukuran besar, atau
cairan di dalam rongga peritoneum dapat menyebabkan distensi.
Distensi abdomen terasa kencang dan kulit tampak tegang, seakan di
regangkan.
Perawat mengauskultasi abdomen dengan menggunakan stetoskop
untuk mengkaji bising usus di setiap kuadran. Bising usus normal tejadi
setiap 5 – 15 detik dan berlangsng selama setelah sampai beberapa
detik. Sambil mengauskultasi, perawat memperhatikan karakter dan
frekuensi bising usus. Peningkatan nada hentakan pada bising usus atau
bunyi “tinkling” ( bunyi gemerincing ) dapat terdengar, jika terjadi
distensi. Tidak adanya bising usus atau bising usus yang hipoaktif
( bising usus kurang dari lima kali per menit ) terjadi jika klien
menderita ileus paralitik, seperti yang terjadi pada klien setelah
menjalani pembedahan abdomen.Bsing usus yang bernada tinggi dan
hiperaktif ( bising usus 35 kali atau lebih permenit ) terjadi pada
obstruksi usus dan gangguan inflamasi.
Perawat mempalpasi abdomen untuk melihat adanya masa atau area
nyeri tekan. Penting bagi klien untuk rileks. Ketegangan otot-otot
abdomen mengganggu hasil palpasi organ atau masa yang berada di
bawah abdomen tersebut.
Perkusi mendeteksi lesi, cairan atau gas di dalam abdomen.
Pemahaman tentang lima bunyi perkusi juga memungkinkan identifikasi
struktur abdominal yang berada dibawah abdomen. Gas atau flatulen
menghasilkan bunyi timpani. Masa, tumor, dan cairan menghasilkan
bunyi tumpu dalam perkusi.
iii) Rectum
Perawat menginspeksi daerah di sekitar anus untuk melihat adannya
lesi, perubahan warna, inflamasi, dan hemoroid. Kelainan harus dicatat
dengan cermat. Untuk memeriksa rectum, perawat melakukan palpasi
dengan hati-hati. Perawat harus mempalpasi semua sisi dinding rectum
klien dengan metode tertentu untuk mengetahui adanya nodul atau
tekstur yang tidak teratur. Mukosa rectum normalnya lunak dan halus.
Mendorong jari telunjuk yang terlalu jauh dapat menyebabkan ketidak
nyamanan.
iv) Keadaan feses
Menginspeksi karakteristik feses, memberikan informasi tentang sifat
perubahan eliminasi. Setiap karakteristik feses dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor. Kunci dalam melakukan pengkajian ialah mengetahui
apakah ada perubahan tebaru yang terjadi. Klien adalah orang yang
paling tepat untuk ditanyai tentang hal ini.
c. Constipation Scoring System (CSS)
Penilaian pasien dengan masalah konstipasi dapat menggunakan
Constipation Scoring System (CSS) dengan indikator penilaian sebagai
berikut:
Frequency of bowel Checklist Time: minutes in Checklist
movement lavatory per attempt
0 1-2 times per 1-2 days 0 Less than 5
1 2 times per week 1 5-10
2 Once per week 2 10-20
3 Less than once per week 3 20-30
4 Less than once per month 4 More than 30
Difficulty: painful evacuation Checklist Assistance: type of Checklist
effort assistance
0 Never 0 Without
assistance
1 Rarely 1 Stimulative
laxative
2 Sometimes 2 Digital assistance
or enema
3 Usually Failure: unsuccessful Checklist
attempts for evacuation
per 24 hours
4 Always 0 Never
Completeness: feeling Checklist 1 1-3
incomplete evacuation
0 Never 2 3-6
1 Rarely 3 6-9
2 Sometimes 4 More than 9
3 Usually History: duration of Checklist
constipation (per year)
4 Always 1 0
Abdominal Pain Checklist 2 1-5
0 Never 3 5-10
1 Rarely 4 10-20
2 Sometimes 5 More than 20
3 Usually Total Score: 16
4 Always Minimum score, 0;
Maximum score, 30.
Untuk nilai konstipasi, rentang nilai sebesar 0–30. Di dalam kuesioner
CSS, terdapat 8 pertanyaan, yang mana ada 7 pertanyaan dengan nilai
maksimal 4, dan 1 pertanyaan dengan nilai maksimal 2. Bagi responden
yang
memiliki total nilai konstipasi di atas 15 dikategorikan mengalami
konstipasi, sedangkan responden dengan nilai konstipasi di bawah 15
dikategorikan tidak mengalami konstipasi (Agachan, et al., 1996)
d. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik menghasilkan informasi yang
bermanfaat untuk mempelajari masalah eliminasi. Analisa kandungan feses
di laboratorium dapat mendeteksi kondisi patologis seperti tumor,
perdarahan, dan infeksi.
Spesiemen feses. Perawat bertanggung jawab secara langsung untuk
memastikan bahwa spesimen diambil dengan akurat, diberi label dengan
benarpada wadah yang tepat, dan dikirim ke laboratorium tepat waktu.
Institusi menyediakan wadah khusus untuk tempat spesimen feses. Beberapa
pemeriksaan memerlukan penempatan spesimen didalam pengawetan kimia.
Pemeiksaan diagnostik meliputi kolonoskopi, endoskop fiberoptik, rontgen
dengan kontras.
H. Diagnosa Keperawatan Terkait
Gangguan eliminasi fekal: konstipasi. Kemungkinan berhubungan dengan:
1. Kelemahan otot abdomen
2. Eliminasi atau defekasi tidak adekuat (misalnya, tepat waktu, posisi saat
defekasi)
3. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur
4. Imobilisasi
5. Menurunnya aktifitas fisik.
6. Stress
7. Kurang privasi
8. Menurunnya mobilitas intestinal
9. Perubahan atau pembatasan diet
Adapun kemungkinan data yang ditemukan:
1. Menurunnya bising usus
2. Mual
3. Nyeri abdomen
4. Perasaan penuh atau tekanan pada rectum
5. Nyeri saat defekasi
6. Kelelahan umum
7. Adanya masa pada abdomen bagian kiri bawah
8. Perubahan konsistensi feses, frekuensi buang air besar
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
1. Anemia
2. Hipotirodisme
3. Dialysis ginjal
4. Pembedahan abdomen
5. Paralisis
6. Ceder spinal cord
7. Imobilisasi yang lama
Tujuan yang diharapkan
a. Pasien kembali ke pola normal dari fungsi fekal
b. Terjadi perubahan pola hidup untuk menurunkan factor penyebab
konstipasi.
I. Intervensi
Rencana keperawatan harus menetapkan tujuan dan criteria hasil
dengan menggabungkan kebiasaan atau rutinits eliminasi klien sebanyak
mungkin. Apabila kebiasaan menyebbkn masalah eliminasi, perawat
membantu klien untuk mempelajari pola eliminasi yang baru. Pola defekasi
bervariasi pada setiap individu. Karena alasan ini, perawat dan klien harus
banyak bekerja sama untuk merencanaka intervensi yang efektif.
Apabila klien tidak mampu melakukan suatu fungsi atau aktivitas, atau
mengalami kelemahan akibat penyakit, sangat penting melibatkan keluarga
dalam rencana asuhan keperawatan. Seringkali anggota keluarga memiliki
kebiasaan eliminasi yang sama tidak efektifnya dengan klien. Dengan
demikian, penyuluhan kepada klien dan keluarga merupakan bagian dari
rencana asuhan yang sangat penting (Potter dan Perry, 2006).
Tujuan perawatan klien dengan masalah eliminasi meliputi hal–hal
berikut:
1. Memahami arti dari eliminasi normal.
2. Mempertahankan asupan makanan dan minuman cukup
3. Membantu latihan secara teratur
4. Mempertahankan kebiasaan defekasi secara teratur
5. Mempertahankan defekasi secara normal
6. Mencegah gangguan integritas kulit
J. Sumber Pustaka
Agachan, et al. (1996). A Constipation Scoring System to Simplify Evaluation
and Management of Constipated Patients. Cleveland Clinic Florida.
A Potter, & Perry, A. G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, Dan Praktik, Edisi 4, Volume.2. Jakarta: EGC.
Borowitz, S.M., Cox, D.J., Tam, A., Ritterband, L.M., Sutphen, J.L.,
Penberthy, J.K. 2003. Precipitant of constipation during early
childhood. JAm Board Fam Med;16(3):213-8.
Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2007). Fundamentals of Nursing, Human
Health and Function. (4th ed). Philadelphia: Lippincott, Williams &
wilkins.
Wartonah, Tarwoto. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
BAB II
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
a. Nama : An. R
b. Usia : 16 tahun
c. Agama : Islam
d. Jenis Kelamin : Laki-Laki
e. Status : Belum Menikah
f. Pendidikan : Sekolah Menengah
g. Pekerjaan :-
h. Suku Bangsa : Jawa
i. Alamat : Jalan Honggopati CH. No. 10, Mojo,
Gayam, Sukoharjo
j. Tanggal Pengkajian : 24 November 2020
k. Diagnosa Medis : Konstipasi
2. Identitas Penanggung Jawab
a. Nama : Ny. S
b. Usia : 47 tahun
c. Hubungan dengan Pasien : Istri
d. Pekerjaan : Swasta
e. Alamat : Jalan Honggopati CH. No. 10, Mojo,
Gayam, Sukoharjo
3. Keluhan Utama
An.R mengeluh susah buang air besar (BAB) sudah lima hari, merasa peruAnya
penuh dan nyeri, An. R mengatakan kesulitan tidur sejak tiga hari yang lalu
karena pola buang air besarnya tidak lancar
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
An.R mengatakan lemas dan tidak nafsu makan karena jika makan khawatir
merasakan mulas di peruAnya. An. R memiliki kebiasaan pola defekasi
normalnya dua kali sehari, saat sakit pola defekasinya berkurang. An. R
terakhir defekasi pada tanggal 21 November 2020. An. R merasakan perutnya
penuh dan nyeri, skala nyeri 5, nyeri dirasakan sejak dua hari yang lalu, nyeri
cenut-cenut, nyerinya hilang timbul, nyeri dirasakan sewaktu-waktu/kadang-
kadang dengan durasi yang tidak menentu. Akibat kesulitan BAB yang
dialaminya, An. R mengatakan sulit untuk tidur, tidak bisa tidur pulas dan
selalu terbangun di malam hari
b. Riwayat Penyakit Dahulu
An. R mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya, tidak pernah
dirawat di rumah sakit dan tidak memiliki alergi obat-obatan maupun makanan
c. Riwayat Penyakit Keluarga
An. R mengatakan di keluarganya, tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti
hipertensi, Diabetes Mellitus dan penyakit keganasan lainnya.
5. Pola Kebiasaan Sehari – Hari
a. Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
An. R mengatakan jarang memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas atau
rumah sakit karena merasa jarang sakit. Jika sakit hanya minum obat yang
dibelinya di warung. Jika sakit, An.R mengatakan penyakiAnya akan sembuh
dengan sendirinya jika cukup istirahat
b. Pola Nutrisi
Sebelum sakit, An. R mengatakan pola makannya sebanyak 3x sehari, yakni
sarapan pagi, siang dan malam dengan masing-masing satu porsi piring, dan
minum air putih sebanyak 6-7 gelas sehari. Saat sakit, An. R mengatakan
mengurangi porsi makannya karena tidak nafsu makan dan khawatir merasa
mulas. Makan tetap 3x sehari namun masing-masing hanya setengah porsi
piring, dan minum air putih sebanyak 6-7 gelas sehari. An. R mengaku bahwa
jarang makan buah dan sayur, makan hanya dengan sedikit sayur sehingga
kurang serat. An. R juga jarang minum air putih yang cukup dalam sehari.
c. Pola Eliminasi
An. R mengatakan pola BAB sebelum sakit yakni 2x sehari dengan konsistensi
normal dan pola BAK-nya lancar (3-4x sehari). Namun setelah sakit, An. R
mengatakan pola BAB-nya menjadi tidak lancar, sering mengejan, konsistensi
feses keras, sedikit, sering merasa tidak tuntas jika BAB dan sudah lima hari
tidak BAB. Sedangkan untuk pola BAK-nya saat sakit, An. R mengatakan
normal
d. Pola Istirahat Tidur
An. R mengatakan sebelum sakit pola tidurnya normal yakni selama 6-7 jam
per hari. Namun saat sakit, An. R mengatakan sulit tidur dan hanya mampu
tidur selama 4-5 jam per hari
e. Pola Aktifitas Dan Latihan
Keterangan 0: Mandiri
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
1: Dengan alat bantu 2: Dibantu
Makan orang lain
dan Minum √
3: Dibantu orang lain dan alat
Mandi √ 4: Tergantung total
Toileting √
Berpakaian √
Berpindah √
f. Pola Kognitif
An. R tampak ramah, tenang dan kooperatif saat menjawab pertanyaan dari
perawat
g. Pola Hubungan Pasien
An. R mengatakan hubungan dengan keluarga sangat baik serta keluarganya
mendukung penuh apapun keputusan yang dibuatnya
h. Pola Seksual dan Reproduksi
An. R mengatakan tidak ada masalah di kesehatan seksual dan reproduksinya
i. Pola Konsep Diri
An. R mengatakan memiliki konsep diri yang positif dan memiliki peran
penting baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar. An. R
mengatakan memiliki pekerjaan sebagai Guru Matematika dan merasa senang
dan bersyukur akan pekerjaan tersebut
j. Pola Koping dan Toleransi Stress
An. R mengatakan jika sedang memiliki masalah, An. R akan segera bercerita
kepada anggota keluarga maupun orang yang dipercaya. An. R juga
melaksanakan kegiatan bersepeda di Minggu pagi sebagai upaya mengurangi
stress dan penat akibat pekerjaan
k. Pola Nilai dan Kepercayaan
An. R mengatakan rutin melaksanakan sholat berjamaah di rumah maupun di
masjid, dan tidak ada masalah di nilai dan kepercayaannya.
6. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum
An. R tampak lemas, menahan nyeri dan nampak kurang tidur
b. Kesadaran
Composmentis (GCS=15)
c. TTV
Tekanan darah : 110/80 mmHg (normal)
Nadi : 96 x/menit (normal)
RR : 22 x/menit (normal)
S : 36,5 0C
d. BB / TB
BB sebelum sakit : 60 kg ±3 bulan yang lalu
BB saat sakit : 58 kg
TB : 165 cm
IMT : BB 2 2
(TB ) = 58 2 = 21,3 kg/m (status nutrisi normal)
(1,65 )
7. Pemeriksaan Sistematis
a. Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala simetris, rambut beruban, kulit kepala lembab, tidak
ada ketombe
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
b. Mata
Inspeksi : Sklera tidak ikterik, fungsi penglihatan normal di jarak jauh namun
penglihatan kabur saat jarak dekat (presbiopi), bola mata simetris,
konjungtiva an-anemis, ada reaksi terhadap cahaya, menggunakan
alat bantu kaca mata jika membaca di jarak dekat
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
c. Hidung
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada sekret dan tidak ada polip
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, benjolan dan bengkak
d. Telinga
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada tanda abnormal, sedikit terdapat serumen
dan tidak ada lesi
Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
e. Mulut
Inspeksi : Gigi tampak sedikit kuning, rongga mulut bersih namun sedikit
kering, lidah bersih
Palpasi : Otot rahang kuat, tidak ada nyeri tekan
f. Leher
Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tyroid,
fungsi menelan baik
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ateri karotis teraba normal
g. Thorax
Inspeksi : Pengembangan dada An, R simetris antara thorax dekstra dan
sinistra, tidak ada lesi, RR: 22 x/menit, tidak ada retraksi dinding
dada, tidak ada penggunaan otot bantu nafas
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Auskultasi: Suara nafas vesikuler (normal)
Perkusi : Batas paru normal
h. Jantung
Inspeksi : Iktus cordis terlihat kuat angkat
Palpasi : Iktus cordis teraba
Auskultasi: Bunyi jantung I dan II
normal Perkusi : Batas jantung
normal
i. Abdomen
Inspeksi : Tidak ada lesi, perut tampak kurus dan terdapat distensi
Auskultasi: Terdengar bising usus 3x/menit (kurang dari normal)
Perkusi : Pekak
Palpasi : Terdapat sedikit nyeri tekan pada abdomen (skala nyeri 5, nyeri
hilang timbul, cenut-cenut, nyeri timbul sesaat setelah mengejan, nyeri
dirasakan sewaktu-waktu/kadang-kadang dengan durasi yang tidak menentu)
j. Genitalia
An. R mengatakan merasa nyeri di bagian rektal (skala nyeri 5, nyeri hilang
timbul dan cenut-cenut, nyeri timbul sesaat setelah mengejan, nyeri dirasakan
sewaktu-waktu/kadang-kadang dengan durasi yang tidak menentu). Nyeri
tersebut dirasakan setelah tadi mencoba mengejan saat BAB. An. R
mengatakan menolak dikaji lebih lanjut karena menjaga privasi
k. Ekstremitas
An. R masih memiliki fungsi muskuloskeletal dan tonus otot yang baik.
Kekuatan ekstremitas:
Kanan
555 555 Kiri

555 555
Keterangan:
0: Tidak mampu bergerak sama sekali
1: Hanya mampu menggerakkan ujung ekstremitas
2: Hanya mampu menggeser sedikit
3: Mampu menggerakkan tangan dengan bantuan, saat bantuan dilepaskan tangan ikut
jatuh
4: Kekuatan otot sedikit berkurang, mampu melawan gravitasi sesaat lalu jatuh
5: Kekuatan otot mampu melawan gravitasi
8. Constipation Scoring System (CSS)
Hasil assessment CSS pada An. R dengan menggunakan Wexner Constipation
Scoring System:
Frequency of bowel Checklist Time: minutes in Checklist
movement lavatory per attempt
0 1-2 times per 1-2 days 0 Less than 5
1 2 times per week 1 5-10
2 Once per week √ 2 10-20 √
3 Less than once per week 3 20-30
4 Less than once per month 4 More than 30
Difficulty: painful evacuation Checklist Assistance: type of Checklist
effort assistance
0 Never 0 Without
assistance
1 Rarely 1 Stimulative √
laxative
2 Sometimes √ 2 Digital assistance
or enema
3 Usually Failure: unsuccessful Checklist
attempts for evacuation
per 24 hours
4 Always 0 Never
Completeness: feeling Checklist 1 1-3
incomplete evacuation
0 Never 2 3-6 √
1 Rarely 3 6-9
2 Sometimes 4 More than 9
3 Usually √ History: duration of Checklist
constipation (per year)
4 Always 1 0
Abdominal Pain Checklist 2 1-5 √
0 Never 3 5-10
1 Rarely 4 10-20
2 Sometimes √ 5 More than 20
3 Usually Total Score: 16
4 Always Minimum score, 0;
Maximum score, 30.

Berdasarkan assesmen CSS di atas, An. R memiliki skor CSS sebesar 16 dari 30.
Berdasarkan CSS, An. R memiliki gejala konstipasi berupa pola defekasi satu kali
per minggu, kadang-kadang merasakan sakit saat mengejan, selalu merasa tidak
tuntas saat defekasi, kadang-kadang merasa nyeri perut, waktu yang dihabiskan di
toilet bisa selama 10-20 menit, sering mengonsumsi obat laksatif untuk membantu
melancarkan BAB, dalam 24 jam sebanyak 3-6 kali proses BAB tidak tuntas, serta
riwayat konstipasi setahun terakhir sebanyak 1-5 kali.
9. Pemeriksaan Penunjang
An. R tidak memiliki pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium
(darah, urin, feses), fluoroskopi, endoskopi, rontgen dada, USG, MRI maupun
CT- Scan
B. Analisa Data
NO TGL/ DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
JAM
1 Selasa, 24 DO: Penurunan Konstipasi
November a. Terdapat distensi abdomen motilitas
2020 pada An. R gastrointestinal
Pukul b. Bising usus An. R sebesar
09.30 3 x/menit (hipoaktif,
normalnya 5-30 x/menit) Penurunan
c. Perkusi pekak pada pengeluaran cairan
abdomen An. R di dalam usus
d. An. R tampak letih
e. Skor CSS An. R sebesar
16/30 Kenaikan
penyerapan cairan
DS: feses di dalam usus
a. An.R mengeluh susah
buang air besar (BAB)
sudah lima hari (terakhir Feses kering, keras
defekasi pada tanggal 21
November 2020)
b. An. R merasa peruAnya Feses tertahan di
penuh dan nyeri dalam usus & sulit
c. An. R mengatakan tidak dikeluarkan
nafsu makan karena jika
makan khawatir
merasakan mulas di Konstipasi
perutnya
d. An. R mengatakan pola
BAB-nya tidak lancar,
sering mengejan,
konsistensi feses keras,
sedikit, sering merasa
tidak tuntas jika BAB
2 Selasa, 24 DO: Asupan diet kurang Ketidakseimbangan
November a. Bising usus kurang dari nutrisi: Kurang dari
2020 normal kebutuhan tubuh
pukul b. Terdapat nyeri tekan saat Nafsu makan
09.40 palpasi di perut An. R menurun
c. Berat badan An. R
menurun dari 60 kg
Ketidakseimbangan
(sebelum sakit) menjadi nutrisi: Kurang dari
58 kg (saat sakit) kebutuhan tubuh

DS:
a. Saat sakit, An. R
mengatakan mengurangi
porsi makannya karena
tidak nafsu makan dan
khawatir merasa mulas
b. An. R mengatakan makan
tetap 3x sehari namun
masing-masing hanya
setengah porsi piring
c. An. R mengaku bahwa
jarang makan buah dan
sayur, makan hanya
dengan sedikit sayur
sehingga kurang serat.
An. R juga jarang minum
air putih yang cukup
dalam
sehari
3 Selasa, 24 DO: Gangguan Nyeri akut
November An. R tampak lemas dan eliminasi fekal
2020 pucat menahan nyerinya
pukul
Pola defekasi tidak
09.55 DS:
teratur
a. An. R mengatakan nyeri
di perut dan area rektalnya
b. P=An. R mengatakan
nyerinya hilang timbul
sesaat setelah mengejan Feses tertahan di
saat BAB dalam usus & sulit
c. Q=An. R mengatakan dikeluarkan
nyerinya terasa ”cenut-
cenut”
Akumulasi feses di
d. R=An. R mengatakan colon & rektal
nyerinya terasa di bagian
perut bawah dan di area
rektalnya Nyeri akut di
e. S=Skala nyeri An. R abdomen & rektal
sebesar 5
f. T=An. R mengatakan
nyerinya hilang timbul,
nyeri dirasakan sewaktu-
waktu/kadang-kadang
dengan durasi yang tidak
menentu

C. Diagnosa Keperawatan dan Prioritas Diagnosa


Diagnosa keperawatan pada An. R antara lain adalah:
1. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas gastrointestinal. Berdasarkan
NANDA 2018-2020, diagnosa keperawatan konstipasi (00011) dapat ditegakkan
jika terdapat tanda nyeri abdomen, anoreksia, perubahan pola defekasi, penurunan
volume feses, feses keras, bising usus hiperaktif/hipoaktif, nyeri pada saat
defekasi, mengedan saat defekasi dan perkusi abdomen pekak
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002) berhubungan
dengan asupan diet kurang. Berdasarkan NANDA 2018-2020, diagnosa
keperawatan tersebut dapat ditegakkan jika terdapat tanda nyeri abdomen,
penurunan berat badan, nafsu makan menurun dan bising usus hipoaktif
3. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan eliminasi fekal. Berdasarkan NANDA
2018-2020, diagnosa keperawatan nyeri akut (00132) dapat ditegakkan jika
terdapat tanda perubahan selera makan, ekspresi wajah nyeri, dan ada skor nyeri
berdasarkan assesmen nyeri PQRST.
Adapun prioritas diagnosa keperawatan pada An. R adalah konstipasi
berhubungan dengan penurunan motilitas gastrointestinal.
D. Perencanaan Tindakan Keperawatan
Terlampir
E. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan/Implementasi
Terlampir
F. Evaluasi
Terlampir
Lampiran
D. Perencanaan Tindakan Keperawatan
NO TGL/ DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL TTD/
JAM HASIL NAMA
1 Selasa, 24 Konstipasi Dalam 3x24 jam diharapkan a. Observasi TTV, manajemen fekal a. Status TTV, manajemen fekal dan
November berhubungan dengan masalah konstipasi teratasi dengan pasien (pola, frekuensi, bising usus berguna untuk
2020 penurunan motilitas kriteria hasil: konsistensi) serta bising usus intervensi selanjuAnya
pukul gastrointestinal a. Pola BAB dalam batas normal, pasien
11.00 yakni 1x sehari b. Edukasi pasien membuat jadwal b. Membantu pasien disiplin dalam
b. Feses lunak defekasi secara konsisten defekasi
c. Eliminasi feses tanpa mengejan c. Ajarkan pasien tentang penggunaan c. Obat laksatif mampu
yang berlebihan obat laksatif yang sesuai meningkatkan jumlah air dalam
d. Bising usus normal (5-30 feses sehingga feses menjadi lebih
x/menit) d. Ajarkan pasien tentang posisi lunak
defekasi d. Posisi defekasi mamapu
merangsang kontraksi otot perut
dan relaksasi otot spingter anal
sehingga membantu pengeluaran
e. Berikan foot massage & abdominal feses
massage e. Mampu meningkatkan pola
defekasi dan memberikan
kenyamanan pada pasien,
meningkatkan tekanan intra
abdominal sehingga mengurangi
mengejan
2 Selasa, 24 Ketidakseimbangan Dalam 3x24 jam diharapkan a. Buat perencanaan makan dengan a. Membantu pasien supaya disiplin
November nutrisi: kurang dari masalah ketidakseimbangan nutrisi pasien untuk dimasukkan ke dalam dalam makan dan minum
2020 kebutuhan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh jadwal makan
teratasi dengan kriteria hasil:
pukul berhubungan dengan Nafsu makan kembali normal b. Pantau TTV, bising usus, intake b. Untuk mengetahui pola nutrisi
11.15 asupan diet kurang yakni 3x sehari dengan porsi 1 dan output nutrisi serta berat badan pasien yang berguna untuk
piring penuh secara periodik intervensi selanjutnya
c. Berikan pendidikan kesehatan c. Meningkatkan pengetahuan
tentang pentingnya makanan tinggi pasien tentang pentingnya
serat makanan tinggi serat
d. Anjurkan pasien untuk cukup d. Air hangat mampu meningkatkan
makan dan minum air hangat 1,5-2 kerja usus sehingga mengurangi
liter per hari terutama di pagi hari konstipasi
3 Selasa, 24 Nyeri akut Dalam 3x24 jam diharapkan a. Lakukan cek TTV, cek bising usus a. Untuk memonitoring status nyeri
November berhubungan dengan masalah nyeri akut teratasi dengan dan pengkajian nyeri secara pasien yang berguna untuk
2020 gangguan eliminasi kriteria hasil: komprehensif termasuk lokasi, intervensi selanjuAnya
pukul fekal a. Pasien mampu mengontrol karakteristik, durasi, frekuensi,
11.30 nyeri kualitas dan faktor presipitasi
b. Nyeri berkurang menjadi skala b. Ajarkan tentang teknik relaksasi b. Untuk memberikan distraksi pada
3 nafas dalam nyeri pasien
c. Pasien merasakan nyaman dan c. Berikan kompress hangat di area c. Kompress hangat mampu
tidak tampak menahan nyeri nyeri membantu melancarkan peredaran
darah sehingga nyeri berkurang
d. Ajarkan pasien penggunaan obat d. Analgesik mampu menghambat
analgesik yang sesuai reseptor nyeri
E. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan/Implementasi
NO TGL/ JAM DIAGNOSA IMPLEMENTASI RESPON TTD/
NAMA
1 24/11/2020 I a. Mengobservasi TTV, bising usus, status nyeri dan manajemen DO:
12.30 fekal pasien (pola, frekuensi, konsistensi) a. An. R masih tampak lemas
12.45 I b. Mengedukasi pasien membuat jadwal defekasi secara konsisten b. An. R masih tampak menahan nyeri
12.55 I c. Mengajarkan pasien tentang penggunaan obat laksatif yang sesuai c. Berat badan An. R= 58 kg
d. Memantau intake dan output nutrisi serta berat badan secara d. An. R baru menghabiskan makan 1,5 porsi
13.00 II periodik piring (sejak pagi dan siang), minum
e. Membuat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke sebanyak 3 gelas belimbing sejak pagi
13.10 II dalam jadwal makan e. Bising usus An. R= 3 x/menit
f. Memberikan abdominal massage dan kompress hangat di perut f. TTV
13.15 III pasien TD= 110/80 mmHg \
Nadi= 90 x/menit
RR=22 x/menit
S=37 0C
g. An. R terlihat nyaman saat diberikan
abdominal massage
h. An. R terlihat nyaman dan berkurang
nyerinya saat diberikan kompress hangat

DS:
a. An. R mengatakan tadi pagi sudah BAB
namun belum lancar, BAB tidak tuntas,
feses keras dan sedikit
b. An. R mengatakan sudah mencoba BAB
namun tidak bisa, BAK lancar (2x sejak
pagi)
c. An. R bersedia untuk membuat jadwal
defekasi yang konsisten
d. An. R memahami penggunaan obat
laksatif yang sesuai
e. An. R bersedia membuat perencanaan
makan dan minum secara teratur
f. An. R mengatakan nyeri hilang timbul,
cenut-cenut, nyeri di abdomen dan rektal
setelah defekasi, skala nyeri 5
g. An. R bersedia diberikan kompress hangat
h. An. R mengatakan nyaman dan lega saat
diberikan abdominal massage
2 25/11/2020 III a. Melakukan cek TTV, auskultasi bising usus dan pengkajian nyeri DO:
12.30 secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, a. An. R sudah terpantau berkurang lemasnya
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi b. An. R masih tampak menahan nyeri
12.45 I b. Mengobservasi manajemen fekal pasien (pola, frekuensi, c. Berat badan An. R= 58 kg
konsistensi) d. Bising usus An.R= 3 x/menit
12.55 II c. Memantau intake dan output nutrisi serta berat badan secara e. TTV
periodik TD= 110/80 mmHg
13.00 III d. Mengajarkan pasien tentang teknik relaksasi nafas dalam Nadi= 88 x/menit
13.15 III e. Memberikan abdominal massage dan kompress hangat di area nyeri RR=20 x/menit
13.30 II f. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya makanan S=37 0C
tinggi serat f. An. R telah menghabiskan 2 porsi piring
makan (sejak pagi dan siang) namun
belum makan dengan cukup buah dan
sayur.
Minum sudah 3 gelas besar sejak pagi
g. An. R terlihat berkurang nyerinya setelah
diberikan tenik relaksasi nafas dalam,
abdominal massage dan kompress hangat
DS:
a. An. R mengatakan nyeri sudah cukup
berkurang, skala nyeri 3, nyeri di rektal
terutama saat mencoba BAB
b. An. R bersedia diajarkan teknik relaksasi
nafas dalam dan mampu
mempraktikannya
c. An. R mengaku masih mengonsumsi obat
laksatif sesuai anjuran
d. An. R bersedia diberikan abdominal
massage dan kompress hangat
e. An. R bersedia diberikan pendidikan
kesehatan tentang pentingnya makanan
tinggi serat
f. An. R mengaku sudah bisa BAB tadi pagi,
namun feses masih setengah keras. An. R
mengaku karena kemarin sudah
mengonsumsi obat laksatif
3 26/11/2020 III a. Melakukan cek TTV, auskultasi bising usus dan pengkajian nyeri DO:
12.30 secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, a. An. R sudah terpantau berkurang lemas
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi dan nyerinya
12.45 I b. Mengobservasi manajemen fekal pasien (pola, frekuensi, b. Berat badan An. R= 58 kg
konsistensi) c. Bising usus An.R= 3 x/menit
12.55 II c. Memantau intake dan output nutrisi serta berat badan secara d. TTV
periodik TD= 120/80 mmHg
13.00 I d. Mengajarkan pasien tentang posisi defekasi Nadi= 88 x/menit
13.15 I e. Memberikan foot massage & abdominal massage RR=20 x/menit
13.30 II f. Anjurkan pasien untuk cukup makan dan minum air hangat 1,5-2 S=37 0C
liter per hari terutama di pagi hari
e. An. R telah menghabiskan 2 porsi piring
makan (sejak pagi dan siang), serta makan
dengan cukup buah (buah naga, pepaya)
dan sayur sop. Minum sudah 4 gelas
belimbing sejak pagi
f. An. R terlihat nyaman dan perutnya
berkurang rasa begahnya setelah diberikan
abdominal massage dan foot massage

DS:
a. An. R mengatakan bahwa tadi pagi sudah
mampu BAB, masih setengah keras, masih
merasa mengejan
b. An. R mengatakan masih nyeri, namun
nyerinya jauh lebih berkurang
dibandingkan 2 hari yang lalu. Skala nyeri
3, nyeri di bagian rektal terutama setelah
defekasi
c. An. R bersedia diajarkan tentang posisi
defekasi
d. An. R bersedia diberikan foot massage dan
abdominal massage
e. An. R mengaku sudah membiasakan
makan cukup sayur dan buah, serta minum
air hangat di pagi hari
F. EVALUASI FORMATIF
NO TGL/ JAM DIAGNOSA EVALUASI TTD/
NAMA
1 24/11/2020 pukul Konstipasi berhubungan S: - An. R mengatakan masih belum bisa BAB lancar, feses keras, sedikit dan disertai nyeri
13.45 dengan penurunan motilitas rektal serta mengejan,
gastrointestinal - An. R terlihat nyaman saat diberikan abdominal massage
O: TTV
TD= 110/80 mmHg
Nadi= 90 x/menit
RR=22 x/menit
S=37 0C
Bising usus An.R= 3x/menit
A: Masalah konstipasi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi: S: An. R bersedia membuat perencanaan makan dan minum secara teratur
kurang dari kebutuhan O: An. R masih tampak lemas karena baru menghabiskan makan 1,5 porsi piring (sejak pagi
tubuh berhubungan dengan dan siang), minum sebanyak 3 gelas belimbing sejak pagi.
asupan diet kurang A: Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Nyeri akut berhubungan S: - An. R mengatakan nyeri hilang timbul, cenut-cenut, nyeri di abdomen dan rektal setelah
dengan gangguan eliminasi defekasi, skala nyeri 5. An. R
fekal - An. R bersedia diberikan kompress hangat
O: An. R masih tampak menahan nyeri
A: Masalah nyeri akut belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
2 25/11/2020 pukul Konstipasi berhubungan S: - An. R mengaku sudah bisa BAB tadi pagi, namun feses masih setengah keras. An. R
13.45 dengan penurunan motilitas mengaku karena kemarin sudah mengonsumsi obat laksatif
gastrointestinal - An. R terlihat nyaman saat diberikan abdominal massage
O: TTV
TD= 120/80 mmHg
Nadi= 88 x/menit
RR=20 x/menit
S=37 0C
Bising usus An.R= 3x/menit
A: Masalah konstipasi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi: S: An. R bersedia diberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya makanan tinggi serat
kurang dari kebutuhan O: An. R telah menghabiskan 2 porsi piring makan (sejak pagi dan siang) namun belum
tubuh berhubungan dengan makan dengan cukup buah dan sayur. Minum sudah 3 gelas besar sejak pagi
asupan diet kurang A: Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Nyeri akut berhubungan S: - An. R mengatakan nyeri sudah cukup berkurang, skala nyeri 3, nyeri di rektal terutama
dengan gangguan eliminasi saat mencoba BAB
fekal - An. R bersedia diberikan kompress hangat
O: An. R masih tampak menahan nyeri
A: Masalah nyeri akut belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
3 26/11/2020 pukul Konstipasi berhubungan S: - An. R mengatakan bahwa tadi pagi sudah mampu BAB, feses masih setengah keras, masih
13.45 dengan penurunan motilitas mengejan ketika BAB
gastrointestinal - An. R terlihat nyaman dan perutnya berkurang begahnya setelah diberikan abdominal
massage dan foot massage
O: TTV
TD= 110/80 mmHg
Nadi= 88 x/menit
RR=20 x/menit
S=37 0C
Bising usus An.R= 3x/menit
A: Masalah konstipasi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi: S: An. R mengaku sudah membiasakan makan cukup sayur dan buah, serta minum air hangat
kurang dari kebutuhan di pagi hari
tubuh berhubungan dengan O: An. R telah menghabiskan 2 porsi piring makan (sejak pagi dan siang), serta makan dengan
asupan diet kurang cukup buah (buah naga, pepaya) dan sayur sop. Minum sudah 4 gelas besar sejak pagi
A: Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
P: Hentikan intervensi

Nyeri akut berhubungan S: An. R mengatakan masih nyeri, namun nyerinya jauh lebih berkurang dibandingkan 2 hari
dengan gangguan eliminasi yang lalu. Skala nyeri 3, nyeri di bagian rektal terutama setelah defekasi
fekal O: An. R sudah terpantau berkurang lemas dan nyerinya
A: Masalah nyeri akut teratasi
P: Lanjutkan intervensi
G. EVALUASI SUMATIF
NO TGL/ JAM DIAGNOSA EVALUASI TTD/
NAMA
26/11/2020 pukul Konstipasi berhubungan S: - An. R mengatakan bahwa tadi pagi sudah mampu BAB, feses masih setengah keras, masih
13.45 dengan penurunan motilitas mengejan ketika BAB
gastrointestinal - An. R terlihat nyaman dan perutnya berkurang begahnya setelah diberikan abdominal
massage dan foot massage
O: TTV
TD= 110/80 mmHg
Nadi= 88 x/menit
RR=20 x/menit
S=37 0C
Bising usus An.R= 3x/menit
A: Masalah konstipasi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi: S: An. R mengaku sudah membiasakan makan cukup sayur dan buah, serta minum air hangat
kurang dari kebutuhan di pagi hari
tubuh berhubungan dengan O: An. R telah menghabiskan 2 porsi piring makan (sejak pagi dan siang), serta makan dengan
asupan diet kurang cukup buah (buah naga, pepaya) dan sayur sop. Minum sudah 4 gelas besar sejak pagi
A: Masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
P: Hentikan intervensi

Nyeri akut berhubungan S: An. R mengatakan masih nyeri, namun nyerinya jauh lebih berkurang dibandingkan 2 hari
dengan gangguan eliminasi yang lalu. Skala nyeri 3, nyeri di bagian rektal terutama setelah defekasi
fekal O: An. R sudah terpantau berkurang lemas dan nyerinya
A: Masalah nyeri akut teratasi
P: Hentikan intervensi

Anda mungkin juga menyukai