Anda di halaman 1dari 19

MINI PROJECT

EDUKASI GIZI DENGAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI INTERAKTIF


DALAM PROGRAM DOKTER KECIL
DI PUSKESMAS MAJA, KECAMATAN MAJA, MAJALENGKA

Disusun untuk menyelesaikan Program Internsip Kementerian Kesehatan RI

dr. Sonia Ayu Islami

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


PROGRAM DOKTER INTERNSIP
PUSKESMAS KECAMATAN MAJA
MAJALENGKA
TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usia sekolah merupakan usia yang paling optimal dan paling penting dalam
pembentukan perilaku seorang anak. Sebagai generasi penerus bangsa, penting untuk
dilakukan pembinaan terutama dalam hal kesehatan, dimana semakin dini usia akan
semakin tertanam dalam diri anak tersebut perilaku yang baik yang dapat dilaksanakan
dalam kehidupaannya. Sekolah dasar adalah sasaran yang paling strategis untuk
dilakukan intervensi ini.
Cara intervensi yang digalakkan oleh kementerian kesehatan salah satunya adalah
pembentukan dokter kecil. Ini adalah salah satu bagian dari program Usaha Kesehatan
Sekolah (UKS). Salah satu pendekatan dalam program UKS ini adalah melibatkan
partisipasi peserta didik sebagai penggerak gizi sehat dan seimbang. Permasalahan pada
tingkat sekolah dasar sebagian besar terletak pada rendahnya pengetahuan mengenai
bagaimana gizi sehat dan seimbang tersebut dapat diraih.
Dengan terbentuknya dokter kecil di sekolah dasar, diharapkan dapat memberi
contoh yang baik bagi siswa-siswa lain untuk dapat berperilaku sehat sehari-hari
terutama dalam aspek gizi yang baik. Selain itu, tujuan lainnya dari kegiatan dokter cilik
dapat tercapai, yakni untuk membantu petugas kesehatan, mengenali berbagai penyakit
secara dini, juga untuk mengamati kebersihan di lingkungan sekolah.
Diharapkan dengan adanya program dokter kecil di tingkat sekolah dasar dapat
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap kebersihan dan kesehatan.
Diharapkan juga bagi peserta didik yang tergabung dalam dokter kecil dapat menjadi
panutan bagi peserta didik lain dalam intervensi kesehatan di sekolah dasar, sehingga
pengetahuan dan ilmu yang didapat dapat disebarkan dan diamalkan oleh satu sekolah.
Di tahun 2019 ini, belum dilaksanakan program dokter kecil di wilayah kerja
Puskesmas Maja sehingga akan sangat bermanfaat bila pelatihan tersebut segera
diagendakan dengan melibatkan perwakilan siswa dari seluruh SD/MI/sederajat di
wilayah kecamatan Maja.

1.2. Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan beberapa
masalah, yaitu:
a. Tingkat pengetahuan siswa sekolah dasar belum maksimal mengenai
berbagai macam aspek kesehatan, salah satunya mengenai gizi sehat dan
berimbang
b. Belum diadakannya pelatihan program Dokter Kecil yang dapat menjadi
salah satu cara peningkatan tingkat pengetahuan, keaktivan dan
kemandirian siswa dalam meningkatkan derajat kesehatan dirinya dan
lingkungan

1.3. Tujuan
1.3.1. Meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai berbagai
macam aspek kesehatan, salah satunya mengenai gizi sehat dan berimbang
1.3.2. Mengadakan pelatihan program Dokter Kecil yang dapat menjadi salah
satu cara peningkatan tingkat pengetahuan, keaktivan dan kemandirian siswa
dalam meningkatkan derajat kesehatan dirinya dan lingkungan

1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Puskesmas
 Menjadi program unggulan puskesmas dalam peningkatan kesehatan
siswa sekolah dasar di wilayahnya.
 Menjadi dasar bagi pengembangan berbagai program puskesmas lainnya
yang berkaitan dengan sekolah dasar.

1.4.2. Bagi Penulis


 Menambah pengetahuan mengenai program kesehatan yang ada di
Puskesmas terutama yang berkaitan dengan sekolah dasar.
 Memperoleh pengalaman dan ilmu untuk diaplikasikan di masa depan.

1.4.3. Bagi Masyarakat


 Terselenggaranya program dokter kecil di Kecamatan Maja.
 Meningkatkan pengetahuan peserta didik dan masyarakat sekolah di
Kecamatan Maja terutama mengenai gizi sehat dan berimbang.
 Meningkatkan kesadaran dan peran serta sekolah dalam program
Puskesmas untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dokter Kecil


2.1.1. Pengertian
Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut
melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri,
teman, keluarga dan lingkungannya. Dokter kecil merupakan siswa yang terdiri dari kelas 4
dan 5 yang sudah melaksanakan pembinaan yang dilaksakan oleh puskesmas atau rumah
sakit setempat. Peserta didik yang ditentukan menjadi dokter kecil hendaknya memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang cukup agar dapat berperan sesuai diharapkan. Untuk
mencapai hasil yang optimal perlu dilakukan pelatihan bagi siswa Sekolah Dasar dan
Madrasah Ibtidaiyah terutama mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
PHBS di sekolah penting untuk dikenalkan pada usia sekolah juga guru dan masyarakat
sekitar lingkungan sekolah agar dapat tercipta sekolah yang bersih dan sehat. Peran aktif
semua warga sekolah sangat diharapkan agar kesadaran mengenai pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan dan perwujudan lingkungan yang sehat dapat tercapai. Materi
mengenai PHBS ini adalah salah satu materi yang paling penting dalam pembentukan dokter
kecil. Hal ini agar mereka mampu untuk mengajak semua warga sekolah dalam perwujudan
sekolah yang sehat.
Salah satu program dokter kecil adalah ikut partisipasi dalam kegiatan usaha kesehatan
sekolah (UKS). Menurut definisi, program UKS adalah upaya terpadu lintas program dan
lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seta membentuk perilaku hidup
sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah dan perguruan agama. Menurut UU RI no. 23
tahun 1992 tentang kesehatan Bab V bagian ketiga belas pasal 45 ayat 1: Kesehatan sekolah
diselenggarakan untuk meningkatkan ketidakmampuan hidup sehat peserta didik dalam
lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara
harmonis dan optimal menjadi sumber daya yang lebih berkualitas.

Di program UKS yang dilaksanakan ini, siswa tidak hanya dididik sebagai objek,
melainkan subjek layanan kesehatan, sehingga semua pihak dapat berperan mewujudkan
lingkungan sekolah yang sehat. Oleh karena itu, mereka perlu dibimbing untuk mengenal
masalah kesehatan dan kemampuan dalam mengatasi masalah tersebut. Upaya strategis
dalam melibatkan peran serta aktif masyarakat sekolah adalah melalui pendekatan
“kelompok teman sebaya”/peer group yang mempersiapkan peserta didik menjadi penggerak
hidup bersih dan sehat, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat di
sekitarnya.

2.1.2. Tujuan
Tujuan program dokter kecil adalah untuk meningkatkan partisipasi peserta didik dalam
program UKS. Program dokter kecil diharapkan menjadi penggerak hidup sehat di sekolah,
di rumah dan di lingkungannya. Peserta didik juga diharapkan dapat menolong dirinya
sendiri, teman dan lingkungan untuk hidup sehat.
2.1.3. Kriteria
1.    Telah menduduki kelas 3 dan 4 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah.
2.    Siswa kelas 3 dan 4 yang belum pernah mendapat pelatihan dokter kecil
3.    Berprestasi di sekolah
4.    Berbadan sehat
5.    Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab
6.    Berpenampilan bersih dan berperilaku sehat
7.    Berbudi pekerti baik dan suka menolong
8.    Di izinkan orang tua

2.1.4. Tugas dan Kewajiban


a. Selalu bersikap dan berperilaku sehat
b. Dapat menggerakan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan
usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.
c. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di
rumah
d. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan
di sekolah
e. Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan, antara lain: Pekan kebersihan,
pekan gizi, pekan penimbangan BB dan TB di sekolah, pekan kesehatan gigi, pekan
kesehatan mata, dan lain-lain.
2.1.5. Kegiatan
a. Menggerakan dan membimbing teman melaksanakan kebersihan dan sehatan pribadi,
pengukuran tinggi badan dan berat badan, penyuluhan kesehatan..
b. Membantu petugas kesehatan melaksanakan pelayanan kesehatan di sekolah seperti
distribusi obat cacing, vitamin, dll, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), dan
pertolongan pertama pada penyakit (P3P).
c. Pengenalan dini tanda-tanda penyakit
d. Pengamatan kebersihan Ruang UKS, warung sekolah dan lingkungan sekolah
e. Pengamatan kebersihan di sekolah seperti halaman sekolah, ruang kelas,
perlengkapan, persediaan air bersih, tempat cuci WC, kamar mandi, tempat sampah
dan saluran pembuangan termasuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk)
f. Melaporkan hal-hal khusus yang ditemuinya kepada guru UKS/kepala sekolah/guru
yang ditunjuk
g. Pencatatan dan pelaporan

2.1.6. Kurikulum
a. Sasaran Pelatihan dokter kecil adalah peserta didik sekolah dasar kelas 3 dan 4
dengan jumlah 10-20 orang.
b. Kompetensi dokter kecil, meliputi:
 Memahami program UKS dan dokter kecil
 Bersikap dan berperilaku sehat
 Membantu petugas kesehatan melaksanakan pelayanan di sekolah
 Melakukan pengenalan tanda-tanda penyakit
 Melakukan pengamatan kebersihan di sekolah
 Membuat laporan kegiatan dokter kecil

Berikut merupakan materi pelatihan dokter kecil yang harus diberikan:

Materi dasar Program UKS


Program dokter kecil
Materi inti Kesehatan lingkungan
 Lingkungan hidup manusia
 Rumah sehat
 Air dan kesehatan
 Air limbah dan kesehatan
 Sampah dan kesehatan
 Kotoran manusia dan kesehatan
Pencegahan penyakit menular
 Pencegahan penyakit menular langsung
 Pencegahan penyakit menular bersumber binatang
Kesehatan gigi dan mulut
 Bagian gigi dan mulut
 Penyakit gigi dan mulut
 Pencegahan penyakit gigi dan mulut
Kesehatan indera pengelihatan
 Menjaga kesehatan mata
 Mencegah penyakit mata
Kesehatan indera pendengaran
 Menjaga kesehatan pendengaran
 Pencegahan gangguan pendengaran dan penyakit
telinga
Imunisasi
Gizi
 Pengetahuan gizi dasar
 Kantin sekolah
 Pemantauan pertumbuhan peserta didik dengan
KMS-AS
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
NAPZA
Pemeriksaan kesehatan peserta
Materi penunjang Membangun komitmen belajar

Hasil yang diharapkan dari kegiatan dokter kecil adalah meningkatkan


pengetahuan, sikap dan perilaku bersih sehat pada peserta didik, juga memiliki
keterampilan dalam upaya pelayanan kesehatan yang sederhana. Selain itu mereka juga
diharapkan dapat bertindak sebagai teladan, penggerak dan pendorong hidup sehat serta
memiliki rasa kepedulian social. Para dokter kecil juga diharapkan dapat mengajak para
peserta didik lainnya untuk ikut tergerak dan terbiasa berperilaku hidup bersih dan sehat.
Para guru diharapkan dapat meningkatkan hubungan kerja sama antara mereka
dengan orang tua peserta didik dan petugas kesehatan dalam meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah, sehingga orang tua peserta didik juga
meningkat kesadarannya untuk berperilaku hidup bersih dan sehat bagi diri sendiri,
keluarga, dan lingkungannya serta mendukung dan berperan aktif dalam kegiatan
peningkatan kesehatan anak sekolah. Hasil luas yang diharapkan pada masyarakat dan
lingkungan nantinya adalah semua dapat hidup bersih dan sehat.

2.2. Pangan Beragam dan Bergizi Seimbang

2.2.1 Definisi
Pangan beragam dan bergizi seimbang merupakan pangan yang mengandung
zat tenaga, pembangun dan pengatur. Pangan sumber tenaga adalah pangan yang banyak
mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Pangan sumber zat pembangun terdapat
pada kelompok pangan hewani dan kacang-kacangan sedangkan pangan sumber zat
pengatur adalah semua jenis sayur-sayuran dan buah-buahan.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan tubuh sesuai dengan usia, jenis kelamin dan
aktivitas anak, maka pangan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, dan berimbang
antar kelompok pangan.

2.2.2 Rasionalisasi dan Manfaat


• Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi secara lengkap.
Apabila terjadi kekurangan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan maka
akan dilengkapi dari makanan yang lain.
• Pangan yang dikonsumsi harus dapat memenuhi kebutuhan tubuh secara fisiologis
dan psikologis. Untuk itu pangan yang disediakan harus mengandung zat-zat gizi yang
berfungsi sebagai: (1) sumber energi; (2) pertumbuhan; (3) memelihara dan
menggantikan sel-sel tubuh yang rusak serta mengatur metabolisme dan pertahanan
tubuh terhadap berbagai penyakit.
• Konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang serta aman dapat
meningkatkan pertumbuhan fisik dan kecerdasan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia.

2.2.3 Susunan dan Porsi Makan

Pangan yang beragam dan bergizi seimbang dalam hidangan sehari-hari, minimal harus
terdiri dari satu jenis makanan sumber zat tenaga, satu jenis sumber zat pembangun dan
satu jenis sumber zat pengatur sehingga terdiri dari 3 kelompok pangan (pangan pokok,
lauk pauk, sayur dan buah).
2.2.3 Poin-poin Penting
1. Mengonsumsi aneka ragam makanan
2. Mengonsumsi makanan untuk memenuhi kecukupan energi
3. Mengonsumsi makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan
energi
4. Membatasi konsumsi lemak dan minyak (1/4 kecukupan energi)
5. Menggunakan garam beryodium
6. Mengonsumsi makanan sumber zat besi
7. Membiasakan makan pagi
8. Minum air bersih yang aman dan dalam jumlah yang cukup
9. Melakukan aktivitas fisik secara teratur
10. Mengonsumsi makanan yang aman
11. Membaca label pada makanan yang dikemas

2.3 Makan Pagi

2.3.1 Rasionalisasi dan Manfaat


• Makan pagi/sarapan penting karena lambung kosong selama 8 jam sejak malam hari
• Makan pagi adalah kegiatan makan yang dilakukan di pagi hari sebelum anak
melakukan aktivitas seperti belajar dan bermain
• Makan pagi dapat membuat anak lebih berkonsentrasi dan dapat menerima pelajaran
dengan baik.
• Apabila anak tidak sempat makan pagi di rumah, anak dapat membawa bekal atau
dapat makan pagi di kantin sekolah. Oleh karena itu, kantin sekolah seyogyanya dapat
menyediakan makanan yang sehat, aman dan bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan
anak

2.3.2 Akibat tidak Makan Pagi

• Badan lemas, mengantuk dan pusing sehingga tidak dapat mengikuti pelajaran dengan
baik dan akibatnya prestasi belajar menurun
• Kebiasaan tidak makan pagi yang berlanjut akan menimbulkan masalah gizi, seperti
gizi kurang, anemia, dan lain-lain

2.3.3 Simulasi
• Makan pagi dapat menyumbang seperempat dari kebutuhan gizi sehari anak yaitu
sekitar 450-500 kilokalori (kkal). Makan pagi seyogyanya mengandung makanan pokok,
lauk pauk, sayur, buah dan dilengkapi dengan segelas susu
• Contoh menu makan pagi yang dapat menyumbangkan 467 kkal terdiri dari:
1. Bubur Ayam 1 porsi (175 gr)
2. Susu 1 gelas (200 ml)

• Anak sekolah membutuhkan gizi yang lebih banyak seiring dengan pertambahan usia
dan aktivitas fisik anak.
• Perbedaan jenis kelamin juga menunjukkan perbedaan kebutuhan gizi seorang anak,
dimana anak laki-laki cenderung membutuhkan gizi lebih banyak dibanding dengan
perempuan.
• Gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Kebutuhan gizi anak usia sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kelompok Umur
Anak SD SMP (12-15 tahun ) SMA ( 15-18 tahun )
AKG 7-9
10-12 tahun
Laki- Laki-
Laki- Perempuan Perempuan
tahun Perempuan laki laki
laki
Energi (kkal ) 1800 2050 2050 2400 2350 2600 2200
Protein (g) 45 50 50 60 57 65 55
Vitamin A (RE) 500 600 600 600 600 600 600
Vitamin C (mg) 45 50 50 75 65 90 75
Kalsium (mg) 600 1000 1000 1000 1000 1000 1000
Zat Besi (mg) 10 13 14 19 26 13 26
Yodium (ug) 120 120 120 150 150 150 150
BAB III
METODE

3.1. Desain
Desain studi: desain eksperimental
Bentuk studi: penyuluhan dan pembinaan mengenai Dokter Kecil kepada
peserta didik yang terpilih, serta pembentukan Dokter Kecil yang berfokus
pada aspek gizi sehat seimbang.

3.2. Waktu dan Tempat


Mini project ini dilaksanakan pada 4 Desember 2019 di aula Puskesmas Maja.
Sebelum diadakan pelatihan, terlebih dahulu diadakan pemberitahuan ke
sekolah-sekolah mengenai rencana pengadaan pelatihan ini yang direspon
dengan sangat baik, dilanjutkan dengan seleksi perwakilan kader dokter cilik
di tiap sekolah (mekanisme seleksi dikembalikan pada kebijakan masing-
masing sekolah). Setelahnya siswa dikumpulkan di tanggal tersebut untuk
diadakan pelatihan bersama.

November 2019 Desember 2019

No. Kegiatan I II III IV I II III IV

1 Evaluasi lapangan, inisiasi


acara

2 Diskusi, penetapan topik


mini project

3 Intervensi (pre test,


penguluhan program
dokter kecil terutama gizi
sehat, post test)

4 Penyusunan laporan hasil


intervensi

3.3. Langkah
 Peneliti bersama dengan pemegang program di Puskesmas Maja
melakukan evaluasi lapangan untuk menggali metode intervensi
terhadap masalah aktual yang terjadi di lapangan.
 Peneliti bersama dengan pemegang program di Puskesmas Maja
melakukan inisiasi dan persiapan pengadaan acara
 Peneliti melakukan sesi diskusi dengan dokter pembimbing berkenaan
mengenai pengadaan acara
 Peneliti bersama dengan pemegang program di Puskesmas Maja
memimpin pelaksanaan acara yang dilanjutkan dengan evaluasi hasil
intervensi
 Peneliti menyusun laporan hasil pelaksanaan acara

3.4. Pengolahan dan Penyajian Data


Kuesioner pre-test dan post-test yang digunakan pada mini project ini berupa
pertanyaan pilihan benar dan salah. Data yang didapatkan berupa data
kualitatif pengetahuan mengenai dokter kecil yang berfokus pada aspek gizi
sehat serta data kuantitatif yang menyajikan laporan jumlah dokter kecil yang
mengikuti kegiatan pembinaan. Analisis data dilakukan untuk melihat adanya
peningkatan bermakna sebelum dan sesudah intervensi serta untuk melihat
cakupan paparan pembinaan dokter kecil. Cakupan rendah jika persentase
rata-rata kehadiran 0%-35%, sedang jika 36%-70%, tinggi 71%-100%.

3.5. Strategi Kegiatan


Strategi yang digunakan dalam upaya pengikutsertaan siswa kelas empat dan
kelas lima SD/MI/Sederajat di kecamatan Maja sebagai dokter kecil adalah
berupa Penyuluhan mengenai program dokter kecil terutama pada aspek gizi
sehat dan berimbang.

3.6. Media Kegiatan


Media yang digunakan dalam melakukan intervensi adalah media elektronik
berupa slide presentasi dan video edukasi. Agar materi menjadi lebih mudah
masuk dan menarik hati siswa, diadakan juga kuis-kuis edukatif berhadiah alat
tulis serta simulasi penyuluhan oleh siswa untuk mengetahui hasil keluaran
pelatihan ini. Diharapkan peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan
sehingga bisa menjadi dokter kecil di lingkungan sekolah dengan bimbingan
Guru Penanggungjawab UKS dan Puskesmas.
3.7. Jadwal kegiatan

Jam Pelaksanaan Agenda


08.00-08.30 Absen kehadiran
08.30-09.00 Pembukaan
Pembacaan tata tertib
Pre-test
09.00-10.00 Pemberian Materi part 1
10.00-10.15 Pembagian snek
Permainan edukatif
Sesi Tanya jawab part 1
10.15-11.15 Pemberian Materi part 2
11.15-11.45 Kuis edukatif
Simulasi penyuluhan oleh dokter
kecil
11.45-12.00 Sesi Tanya jawab part 2
Post test
12.00-12.30 Makan bersama
Penutupan

Antisipasi keterlambatan pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan membuat motto


pelatihan dokter kecil berupa, “Tertib, Aktif dan Cekatan”. Diharapkan mobilisasi dan
transisi antar acara dapat dilakukan secara efektif dan efisien sehingga seluruh agenda
acara terlaksana sesuai jadwal.
BAB IV
HASIL

Jumlah peserta program dokter kecil kecamatan Maja terdiri dari 78 siswa, terdiri dari
2 perwakilan dari tiap SD/MI/sederajat di wilayah kerja Puskesmas Maja yang sedang
mengenyam pendidikan di bangku kelas 4-5 SD.

Tingkat pengetahuan peserta program Dokter Kecil Kecamatan Maja tentang


Dokter Kecil dengan Fokus Utama Aspek Gizi

Tingkat pengetahuan Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi

Rendah (Benar 1-4) - -

Sedang (Benar 5-7) 59 orang -

Tinggi (8-10) 19 orang 78 orang

Berdasarkan data yang telah diperoleh sebelum dilakukan intervensi, tidak ada dokter
kecil yang masuk kategori tingkat pengetahuan rendah. Sebanyak 59 orang (75,6%)
masuk dalam kategori tingkat pengetahuan sedang dan 19 orang (24,4%) masuk ke
dalam kategori tingkat pengetahuan tinggi.

Berdasarkan data yang telah diperoleh setelah dilakukan intervensi, tetap tidak ada
peserta dokter kecil yang masuk dalam kategori tingkat pengetahuan rendah.
Sedangkan peserta dokter kecil yang masuk dalam kategori tingkat pengetahuan
sedang berkurang menjadi 0 atau tidak ada sama sekali dan tingkat pengetahuan tinggi
naik menjadi 78 orang (100%).

Tingkat Kehadiran Peserta Pembinaan Dokter Kecil

Jumlah peserta pembinaan dokter kecil di kecamatan Maja sebanyak 78 siswa dari 39
undangan yang diberikan dengan kuota 2 perwakilan siswa per undangan sehingga
persentase kehadiran peserta dokter kecil di pelatihan ini adalah 100%.
BAB V

DISKUSI

Kegiatan mini project ini dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2019. Target
pembinaan dokter kecil pada mini project ini adalah perwakilan siswa kelas 4-5
SD/MI/sederajat dari tiap sekolah di wilayah kerja Puskesmas Maja yang berjumlah
39 sekolah. Didapatkan seluruh sekolah mengirimkan perwakilan dikarenakan
persiapan yang matang dan undangan yang sudah diberikan pada orang tua dan guru
yang berwenang jauh sebelum acara dilaksanakan. Dengan sistem perwakilan dari
tiap sekolah ini, diharapkan siswa yang terlatih dapat menjadi kader dokter kecil di
sekolahnya dan mampu membawa pengaruh baik pada siswa lainnya terutama di
bidang kesehatan. Diharapkan pula dengan adanya mini project ini, program dokter
kecil dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Pada kegiatan dokter kecil, diambil data kuesioner pre-intervensi dan post-
intervensi. Hasil pengambilan data tersebut menggambarkan pengetahuan dokter kecil
mengenai materi dokter kecil terutama mengenai aspek gizi sebagai fokus utama
pelatihan. Pada hasil sebelum intervensi, tidak ada dokter kecil yang masuk kategori
tingkat pengetahuan rendah, sebanyak 59 orang (75,6%) masuk dalam kategori
tingkat pengetahuan sedang dan 19 orang (24,4%) masuk ke dalam kategori tingkat
pengetahuan tinggi. Berdasarkan data yang telah diperoleh setelah dilakukan
intervensi, tidak ada peserta dokter kecil yang masuk dalam kategori tingkat
pengetahuan rendah maupun sedang sehingga seluruh peserta berhasil memasuki
tingkat pengetahuan tinggi.

Terdapat peningkatan hasil yang sangat baik dilihat dari 59 anak menjadi 78
anak yang termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi. Hal ini menggambarkan
bahwa penyuluhan dan pelatihan akan memberikan efek yang signifikan dalam
meningkatkan pengetahuan pada peserta didik. Dengan dilakukannya pelatihan ini
diharapkan dokter kecil dapat menjalankan fungsinya dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan evaluasi intervensi yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan:
1. Penyuluhan dan pelatihan terkait dokter kecil terbukti efektif dalam
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dokter kecil siswa kelas 4 dan 5 SD
kecamatan Maja terutama di bidang gizi.
2. Dengan hasil 100% siswa tergolong dalam pengetahuan tinggi, hal ini
menggambarkan bahwa peserta pelatihan dokter kecil kecamatan Maja sudah
mampu menjadi dokter kecil di sekolah terutama di bidang gizi.
3. Adanya dokter kecil di sekolah bermanfaat untuk peningkatan usaha kesehatan
di sekolah.
4. Para Dokter Kecil sudah menyadari dan diharapkan mampu melaksanakan
tugasnya secara mandiri baik di dalam dan di luar lingkungan sekolah.

6.2 Saran
1. Program dokter kecil sebaiknya dievaluasi secara rutin karena dari hasil yang
didapatkan pada mini project ini, program ini terbukti efektif dalam
meningkatkan ilmu pengetahuan siswa.
2. Kepala sekolah dan guru-guru wali kelas diharapkan dapat ikut aktif dalam
mendukung siswa dokter kecil yang sudah dilatih dan dilibatkan dalam
kegiatan kesehatan di lingkungan sekolah.
3. Evaluasi dalam bentuk pelaporan tertulis penting untuk dilaksanakan agar
kegiatan dokter kecil dapat lebih maksimal. Hal ini memerlukan kerjasama
yang lebih luas antara pihak puskesmas, sekolah, guru, dan siswa lainnya
dalam pelaksanaan dan pencatatannya, sehingga cakupan Program dokter kecil
dapat lebih optimal dan diharapkan nantinya dapat meningkatkan kesehatan
siswa di kecamatan Maja secara umum.
4. Bagi teman sejawat yang akan menindaklanjuti mini project ini, disarankan
untuk tetap melatih dan mengikutsertakan para dokter kecil yang sudah
terbentuk dalam kegiatan terkait kesehatan baik terkait upaya kesehatan
sekolah maupun program kesehatan dari Puskesmas dan Kementerian
Kesehatan. Untuk selanjutnya di kecamatan Maja agar pelatihan dilakukan
langsung di lapangan karena pemberian materi sudah diberikan. Diharapkan
teman sejawat juga dapat melatih para dokter kecil untuk dijadikan sebagai
role model untuk menyemangati teman-teman sebaya mereka untuk lebih
peduli, bukan hanya di aspek gizi, namun juga terhadap kesehatan secara
keseluruhan.
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

1. Petunjuk Teknis Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah. Konsultan Manajemen


Nasional Bidang Pengembangan Program. 2010.
2. Pedoman Pelatihan Dokter Kecil. Kementerian Kesehatan. 2011.
3. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar. 2012.
LAMPIRAN 1 – PRETEST POSTTEST

No
. Pernyataan Benar Salah
Pangan beragam dan bergizi seimbang merupakan pangan yang
1
mengandung zat tenaga, pembangun dan pengatur …  
2 Pangan sumber zat tenaga berupa sayur dan buah-buahan    
3 Usia dan jenis kelamin tidak mempengaruhi tingkat kebutuhan pangan    
Konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang serta aman
4
dapat meningkatkan pertumbuhan fisik dan kecerdasan    
5 Konsumsi lemak dan minyak mencakup setengah kecukupan energi    
Jika tidak sempat mengonsumsi sarapan, maka cukup dibalas dengan
6
makan siang dengan porsi lebih banyak    
Kebiasaan tidak makan pagi yang berlanjut akan menimbulkan masalah
7
gizi, seperti gizi kurang, anemia, dan lain-lain    
8 Makan pagi dapat menyumbang seperempat dari kebutuhan gizi sehari    
Label kemasan makanan bukan merupakan hal yang penting untuk
9
dibaca    
Tidak apa melakukan aktivitas fisik tidak teratur, asal langsung level
10
tinggi    
LAMPIRAN 2 – DOKUMENTASI