Anda di halaman 1dari 19

PENETUAN VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)

PRAKTIKUM FARMASI FISIKA II

Dosen Pengampu :
Drs. Azhari Rangga, M.App,.Sc
Rosita Kurniawati, S.Pd,.M.Sc

KELOMPOK 7
DIAN MERIANI
( 201901208 )

LABORATORIUM FARMASI FISIKA


PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
2020/2021
SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan YME, yang telah memberi rahmat dan
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan laporan akhir Praktikum Percobaan
Ke-IV dengan judul “ Penentuan Viskositas (Sistem non-Newtonian)”.

Dalam penyusunan dan penulisan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang saya hadapi.
Sehingga dalam penulisan laporan ini saya merasa masih banyak kekurangan baik dalam segi
penulisan maupun materi. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak saya
harapkan demi menyempurnakan laporan ini.

Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memberikan
informasi tentang materi terkait. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi motivasi bagi
kita semua.

Way Kanan, 11 Januari 2021.

DIAN MERIANI

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 2


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4
A.LATAR BELAKANG..................................................................................................................................4
B.RUMUSAN MASALAH..............................................................................................................................6
C.TUJUAN PENENTUAN..............................................................................................................................7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................................8

BAB III METODE PENELITIAN................................................................................................12


A.WAKTU DAN TEMPAT....................................................................................................................... ....12
B.ALAT DAN BAHAN.................................................................................................................................12
C.PROSEDUR PENENTUAN......................................................................................................................12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................................... 13


A.HASIL PENGAMATAN...........................................................................................................................13
B.PEMBAHASAN.........................................................................................................................................16

BAB V SIMPULAN......................................................................................................................17
A.SIMPULAN...............................................................................................................................................17
B.SARAN......................................................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................. ..19

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 3


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

BAB I PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Rheologi berasal dari bahasa yunani Rheo (Mengalir) dan Logos (Ilmu). Sir Isaac
Newton adalah yang pertama kali mengkonsepkan viskositas sehingga studi mengenai cairan
yang memiliki regangan yang bergantung pada viskositas disebut dengan mekanika fluida Non
newtonian. Istilah reologi pertama kali digunakan oleh Eugene C. Bingham, professor Lafayette
College pada tahun 1920, berdasarkan saran dari koleganya, Markus Reiner untuk menggunakan
alilran cairan dan deformasi dari padatan.

Ilmu ini mengacu pada zat yang memiliki struktur mikro yang kompleks,
seperti lumpur, suspensi, polimer, dan kaca, juga bahan lain seperti cairan tubuh (misal darah)
dan bahan biologis lainnya yang masuk ke dalam kategori benda semi-padat. Rheologi meliputi
pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan kedalam wadah, pemudahan sebelum digunakan,
apakah dicapai penuangan dari botol, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan
digunakan. Reologi digunakan untuk mendeskripsikan dan menilai deformasi dan perilaku aliran
material. Fluida mengalir dengan kecepatan berbeda dan padatan dapat berubah bentuk sampai
batas tertentu.

Rheologi sangat penting dalam farmasi karena penerapannya dalam formulasi dan
analisis dari produk-produk farmasi seperti : emulsi, pasta, krim, suspensi, losion, suppositoria,
dan penyalutan tablet yang menyangkut stabilitas, keseragaman dosis, dan keajekan hasil
produksi. Misalnya, pabrik pembuat krim kosmetik, pasta, dan lotion harus mampu
menghasilkan suatu produk yang mempunyai konsistensi dan kelembutan yang dapat diterima
oleh konsumen. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan
farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch.

Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah Sistem Newton dan
Sistem Newtonian. Fluida Newtonian dapat dicirikan dengan koefisien viskositas tunggal pada
temperatur tertentu. Sitem aliran Newtonian cenderung ideal, tidak dipengaruhi oleh kecepatan
geser pada suhu dan waktu tertentu sehingga nilai viskositasnya tetap sama. Sebagian besar
fluida, yang disebut dengan fluida non-Newtonian, menunjukan sifat perubahan viskositas
seiring dengan perubahan regangan-rata-rata (disebut dengan viskositas relatif). Ada tiga jenis
aliran dalam sistem ini, antara lain: aliran plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 4


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

Kata "viskositas" berasal dari bahasa Latin "viscum alba", berarti mistletoe putih.
Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan
maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk fluida), viskositas adalah
"Ketebalan" atau "pergesekan internal". Oleh karena itu, air yang "tipis", memiliki viskositas
lebih rendah, sedangkan madu yang "tebal", memiliki viskositas yang lebih tinggi.
Sederhananya, semakin rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga pergerakan dari fluida
tersebut.

Viscometer merupakan alat untuk mengukur level viscositas zat cair. Viscositas sendiri
adalah suatu ukuran tingkat kekentalan zat cair atau yang disebut fluida. Tingkat kekentalan
fluida sangat diperlukan supaya dapat mengetahui sifat aliran dari zat cair tersebut. Tingkat
viscositas diukur dengan menggunakan tabung silinder. Penggunaan viscometer sangat sering
digunakan alat laboratorium. Fungsinya adalah untuk mengukur zat cair dalam penelitian
laboratorium. Terdapat banyak jenis viscometer yang sering digunakan untuk penelitian.
Meskipun fungsi utama dari viscometer sebagai pengukur kekentalan zat cair namun setiap
viscometer juga memiliki fungsi lain yang berbeda satu sama lain.

Ada viscometer untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan zat cair untuk
mengalir dan mencapai tanda tertentu. Ada pula viscometer yang digunakan untuk mengukur
gaya gravitasi dan juga penghitungan gaya geseknya. Kemudian ada viscometer untuk mengukur
absolusitas viskositas zat cair.

Beberapa viscometer yang sering digunakan yaitu Viscometer Stormer yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat rheology dan viscositas zat cair dalam sistem Newton dan
juga Non Newton. Viscometer Stormer merupakan viscometer yang digunakan untuk mengukur
tingkat viksositas zat yang ada dalam cat. Viscometer Stormer sering digunakan oleh perusahaan
produk cat. Cara kerja viscometer ini mengukur melalui kecepatan rotasi zat cair. Viscometer
Stormer memiliki rotor pengaduk zat cair sebagai mekanik utamanya. Apabila rotor berputar
semakin cepat maka itu menandakan semakin banyaknya sampel shear stress yang ada di atas
yield value.

Simbol umum η, μ
Satuan SI Pa·s = (N·s)/m2 = kg/(s·m)
Turunan dari
besaran lainnya μ = G·t

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 5


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan mungkin dapat
dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida. Seluruh fluida (kecuali superfluida)
memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida yang tidak
memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal. Studi dari bahan yang mengalir
disebut Rheologi, yang termasuk viskositas dan konsep yang berkaitan. Viskositas dapat diukur
dengan berbagai tipe dari viskometer dan rheometer. Rheometer digunakan untuk fluida yang
tidak dapat ditentukan dengan nilai viskositas tunggal dan oleh karena itu memerlukan lebih
banyak parameter untuk ditetapkan dan diukur. Kontrol suhu yang dekat dari fluida sangat
penting untuk memperoleh pengukuran yang akurat, terutama pada bahan seperti pelumas, yang
viskositasnya dapat berlipat ganda dengan perubahan hanya 5 ° C.

B.RUMUSAN MASALAH

Mengetahui dan membandingkan viskositas cairan dengan emulsi dan tanpa emulsi.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 6


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

C.TUJUAN PENENTUAN

1. Menjelaskan arti rheologi dan viskositas.


2. Membedakan cairan Newtonian dan Non-Newtonian.
3. Menggunakan alat-alat laboratorium dalam menentukan viskositas suatu cairan.
4. Menentukan nilai viskositas suatu cairan non Newtonian (Emulsi dengan pengental dan emulsi
tanpa pengental).
5. Membandingkan nilai viskositas kedua cairan tersebut.
6. Menyelidiki hubungan antara besar w (beban) terhadap 𝜂 (viskositas).
7. Menyelidiki hubungan antara 𝑣 (kecepetan) terhadap 𝜂 (viskositas).
8.Menyelidiki hubungan antara w (beban) terhadap v (kecepatan).
9. Mengklasifikasikan kedua cairan tersebut termasuk ke dalam aliran plastis, dilatan, atau
pseudoplastis.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 7


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Istilah reologi, berasal dari bahasa Yunani Rheo (mengalir) dan Logos (ilmu),diusulkan
oleh Bingham dan Crawford (seperti dilaporkan oleh Fischer) untukmenggambarkan aliran-
aliran cairan dan deformasi dari padatan. Viskositasadalah suatu pernyataan tentang tahanan dari
suatu cairan untuk mengalir,semakin tinggi viskositas, semakin besar tahanan tersebut.(Sinko,
2011)

Viskositas adalah suatu pernyataan tentang tahanan dari suatu pernyataan tentang tahanan
dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas, semakin besar tahanan tersebut.
Seperti akan dijelaskan berikutnya, cairan sederhana (biasa) dapat dijelaskan dalam istilah
viskositas absolute. Akan tetapi, sifat-sifat reologi dispersi heterogen lebih kompleks dan tidak
dapat dinyatakan dengan suatu nilai tunggal. (Martin, farmasi fisika dan ilmu farmasetika, edisi
5,hal 706)

Jika zat diklasifikasikan menurut tipe alir dan diformasinya, maka pada umumnya zat
dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu: sistem newton dan sistemnon newton. Pemilihannya
tergantung dari apakah sifat alirnya sesuai dengan hukum alir newton atau tidak (Wijayanti,
2008).

Perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan yang dipisahkan oleh suatu jarak yang
sangat kecil (dr) adalah gradient kecepatan (velocity gradient)atau laju geser (rate of shear),dv/dr
Gaya per satuan luas, F’/A, yang diperlukan untuk menyebabkan aliran ini disebut tegangan
geser (shearing stress) dan diberi lambang F. Newton adalah orang pertama yang mempelajari
sifat-sifat aliran cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa semakin besar viskositas suatu
cairan, makin besar pula gaya per satuan luas (tegangan geser) yang diperlukan untuk
menghasilkan suatu laju geser tertentu . Laju geser diberi lambang G. Oleh sebab itu laju geser
harus berbanding langsung dengan tegangan geser (Sinko, 2011).

Kurva yang menggambarkan sifat alir dinamakan reogram. Reogram diperoleh dengan
menyatakan F terhadap G yang untuk sistem Newton memiliki suatu koefisien viskositas
konstan, yang tidak bergantung dari jumlah absolute tegangan geser yang terdapat atau dari
turunnya geseran yang berkuasa.Untuk menentukan viskositas cairan Newton dapat digunakan

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 8


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

semua alat pengukur viskositas, misalnya viskometer Ostwald, Hoppler, Brookfield, danStormer.
Satuan viskositas adalah poise, yaitu gaya gesek yang diperlukan untuk menghasilkan kecepatan
1 cm/dt antara 2 bidang paralel dari zat cair yang luasnya 1cm2 dan dipisahkan oleh jarak 1 cm
(Wijayanti, 2008).

Cairan Newtonian
Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran cairan secara
kuantitatif. Ia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan,Tegangan geser, Laju geser
makin besar pula gaya per satuan luas (tegangan geser) yang diperlukan untuk menghasilkan
suatu laju geser tertentu (Sinko, 2011).

Hukum Aliran Newton


Jika lapisan dasar ditempel pada tempatnya dan bidang puncak cairan digerakkan dengan
kecepatan konstan, setiap lapisan yang lebih rendah akan bergerak dengan suatu kecepatan yang
berbanding lurus dengan jarak dengan lapisan dasar yang diam. Perbedaan kecepatan antara dua
bidang cairan yangdipisahkan oleh suatu jarak yang sangat kecil adalah gradien kecepatan
(velocity gradient) atau laju geser (rate of shear). Gaya per satuan luas yang diperlukan untuk
menyebabkan aliran disebut tegangan geser (shearing stress).

Viskositas Kinematis
Viskositas kinematis adalah viskositas absolut dibagi dengan densitas cairan tersebut
pada temperatur tertentu. Satuan viskositas kinematis adalah stoke (s) dan centistoke (cs). Skala
sembarang untuk pengukuran viskositas digunakan dalam berbagai industri, skala-skala ini
kadang-kadang diubah dengan menggunakan tabel atau rumus tertentu.(Sinko, 2011)

Cairan Non-Newtonian
Sebagian besar produk farmasetik cair bukan merupakan cairan sederhana dan tidak
mengikuti hukum aliran Newton. Sistem ini disebut sistem non-Newton.Sifat non-Newton
biasanya ditunjukkan oleh dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi,
supensi cair, dan salep (Sinko, 2011).
Cairan non-Newtonian dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
1).Time Independent (Tidak Dipengaruhi Waktu)
a).Aliran Plastis Kurva aliran plastik tidak melalui titik nol tetapi agak memotong sumbu tekanan
geser (atau akan memotong jika bagiannya yang lurus diekstrapolasikan terhadap sumbu
tersebut) pada titik tertentu yang dinamakan yield value. Zat Bingham tidak akan mengalir

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 9


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

sampai tekanan geser yang diberikan padanya melampaui yield value tersebut. Pada tekanan-
tekanan di bawahnya zat tersebut akan berkelakuan sebagai zat yang elastik. Para ahli reologi
mengklasifikasikan zat-zat Bingham (yaitu zat yang mempunyai yield value) sebagai zat padat,
sedang zat yang mulai mengalir pada tekanan geser yang paling kecil didefinisikan sebagai zat
cair.Yield value merupakan suatu sifat yang penting dari sistem dispersi tertentu (Sinko, 2011).

b).Aliran Pseudoplastik Sejumlah besar produk farmasi, termasuk gom alam dan sintetik
misalnya dispersi cair dari tragakan, natrium alginat, metal selulosa dan karboksil-metilselulosa,
menunjukkan aliran pseudoplastis.Tidak ada yield value seperti yang terlihat pada zat plastik.
Tegangan geser berkurang dengan bertambahnya kecepatan geser. Pada bekerjanya gaya geser
yang lebih tinggi aliran yang mula-mula terhambat beralih menjadi sikap aliran ideal atau nyaris
ideal (bagian lurusdari kurva) viskositas turun dengan menaiknya kebutuhan geseran, sistem
tersebut menjadi lebih cair. Contoh bahan beraliran pseudoplastik ini adalah sediaan cair dari
turunan selulosa dan lendir tanaman dan suspensi konsentrasi rendah. Sifat pseudoplastik dapat
berubah pada suhu yang lebih tinggi atau pada penempatan konsentrasi bahan lainnya menjadi
kekentalan ideal (Wijayanti, 2008).

c).Aliran Dilatan dikarakteristikkan dengan menaikkan viskositas seiring dengan naiknya


kecepatan geser, karena itu juga disebut pemadatan aliran. Aliran ini merupakan kebalikan dari
aliran pseudoplastik. Aliran pseudoplastik sering kali dikenal sebagai shear thinning system, dan
aliran dilatan diberi istilah shear thickening system
(Sinko, 20011).

2.Time Dependent (Dipengaruhi Waktu)


a).Tiksotropi bisa didefinisikan sebagai suatu pemulihan yang isoterm dan lambat pada
pendiaman suatu bahan yang kehilangan konsistensinya karena shearing. Gejala tiksotropi sering
dikenal dengan shear thinning systems (aksi plastis dan pseudoplastis). Kurva menurun sering
kali diganti ke sebelah kiri dan kurva yang menaik menunjukkan bahan tersebut mempunyai
konsistensi lebih rendah pada setiap harga rate of shear pada kurva menurun dibandingkan
dengan Pada kurva menaik. Ini menunjukkan adanya pemecahan struktur dan juga shearthinning
yang tidak terbentuk kembali dengan segera jika stress tersebut dihilangkan atau
dikurangi.(Wijayanti, 2008)

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 10


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

b).Rheopeksi adalah suatu gejala dimana suatu sol membentuk suatu gel lebih cepat jika diaduk
perlahan-lahan atau kalau di shear dari pada jika dibiarkan membentuk gel tersebut tanpa
pengadukan. Dalam suatu sistem reopektis, gel tersebut adalah bentuk keseimbangan. Sedangkan
dalam anti tiksotropi keadaan keseimbangan adalah sol.

c). Antithiksotropi yang menyatakan kenaikan bukan pengurangan konsistensi pada kurva
menurun. Kenaikan dalam hal kekentalan atau hambatan (resisten)mengalir dengan
bertambahnya waktu shear ini telah di selidiki oleh Chong et. Al(Sinko, 2011)

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 11


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

BAB III METODE PENELITIAN


A.WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum penentuan kali ini dilaksanan pada hari Senin, 11 Januari 2021 bertempat di kediaman
mahasiswa masing-masing dikarenakan pandemi yang belum berakhir.

B.ALAT DAN BAHAN


Alat :
a).Viskometer stormer.
b).Anak timbangan.
c).Stopwatch.
d).Gelas beaker.
e).Batang pengaduk.

Bahan :
a).Emulsi dengan pengental.
b).Emulsi tanpa pengental

C.PROSEDUR PENENTUAN
a).Mencari viskositas untuk emulsi dengan pengental dan tanpa pengental.

𝑤
𝑛 = 𝑘𝑣 ( ) = ⋯ 𝑐𝑝
𝑣
𝑛 = 𝑣𝑖𝑠𝑘𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛.
𝑘𝑣 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑙𝑎𝑡 (52).
𝑤 = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 (𝑔).
𝑣 = 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 (𝑟𝑝𝑚).

b).Mencari kecepatan untuk emulsi dengan pengental dan tanpa pengental.

60 x D x 100 putaran

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 12


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A.HASIL PENGAMATAN.

1.Tabulasi data.
a). Tabel 1. Data Uji untuk Emulsi Tanpa Pengental
Beban t100 putaran (det) 1/t Kecepatan
NO 𝜂
w(g) t1 t2 t3 Rata-rata (D) v(rpm)
1 10 15,3 14,9 14,3 14,8 0,06 360 1.404
2 20 12,1 12,3 12,4 12,3 0,08 480 2.132
3 30 10,5 10,4 10,3 10,4 0,09 540 2.860
4 50 8,2 8,1 8,4 8,2 0,12 720 3.588
5 75 7,2 7,0 7,0 7,1 0,14 840 4.628
*) kolom kecepatan (v) diperoleh dengan rumus = 60 x D x 100 putaran
**) kolom 𝜂 dihitung dengan menggunakan rumus =

𝑤
𝑛 = 𝑘𝑣 ( ) = ⋯ 𝑐𝑝
𝑣

b). Tabel 2. Data Uji untuk Emulsi Dengan Pengental


Beban t100 putaran (det) 1/t Kecepatan
NO 𝜂
w(g) t1 t2 t3 Rata-rata (D) v(rpm)
1 10 20,8 20,0 20,1 20,4 0,04 240 2.132
2 20 16,7 16,7 17,0 16,8 0,05 300 3.432
3 30 14,3 13,8 13,6 13,9 0,07 420 3.692
4 50 11,1 11,0 10,9 11,0 0,09 540 4.784
5 75 8,9 8,8 8,7 8,8 0,11 660 5.876
*) kolom kecepatan (v) diperoleh dengan rumus = 60 x D x 100 putaran
**) kolom 𝜂 dihitung dengan menggunakan rumus =

𝑤
𝑛 = 𝑘𝑣 ( ) = ⋯ 𝑐𝑝
𝑣

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 13


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

2.Perhitungan.

a).Emulsi tanpa pengental.


• Mencari nilai D.
1
Rumus 𝑡
1 1 1
1.14,8 = 0,06 3. 10,4 = 0,09 5.7,4 = 0,14

1 1
2. .12,3 = 0,08 4. .8,2 = 0,12

• Mencari nilai kecepatan.


Rumus 60 x D x 100
1.60 x 0,06 x 100 = 360
2.60 x 0,08 x 100 = 480
3.60 x 0,09 x 100 = 540
4.60 x 0,12 x 100 = 720
5.60 x 0,14 x 100 = 840

• Mencari nilai viskositas.

𝑤
Rumus 𝑛 = 𝑘𝑣 ( 𝑣 ) = ⋯ 𝑐𝑝

10 50
1. = 52 . ( 360 ) 4. = 52 . ( 720 )
= 52 . 0,027 = 52 . 0,069
= 1,404 = 3,588

20 75
2. = 52 . ( 480 ) 5. = 52 . ( 840 )
= 52 . 0,041 = 52 . 0,089
= 2,132 = 4,628

30
3. = 52 . ( 540 )
= 52 . 0,055
= 2,860

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 14


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

b).Emulsi dengan pengental.


• Mencari nilai D.
1
Rumus 𝑡
1 1 1
1.20,4 = 0,04 3. 13,9 = 0,07 5.8,8 = 0,11

1 1
2. .16,8 = 0,05 4. .11,0 = 0,09

• Mencari nilai kecepatan.


Rumus 60 x D x 100
1.60 x 0,04 x 100 = 240
2.60 x 0,05 x 100 = 300
3.60 x 0,07 x 100 = 420
4.60 x 0,09 x 100 = 540
5.61 x 0,11 x 100 = 660

• Mencari nilai viskositas.

𝑤
Rumus 𝑛 = 𝑘𝑣 ( 𝑣 ) = ⋯ 𝑐𝑝

10 50
1. = 52 . ( 240 ) 4. = 52 . ( 540 )
= 52 . 0,041 = 52 . 0,092
= 2,132 = 4,784

20 75
2. = 52 . ( ) 5. = 52 . ( )
300 240
= 52 . 0,060 = 52 . 0,113
= 3,432 = 5,876

30
3. = 52 . ( 420 )
= 52 . 0,071
= 3,692

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 15


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

B.PEMBAHASAN

Rheologi dalam sediaan farmasi berguna untuk menentukan sifat alir dari suatu zat yang
digunakan untuk membuat Produk sediaan farmasi. Viskometer Stormer termasuk ke dalam
viskometer banyak titik yang dapat digunakan untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan
Newton dan non Newton. Pada percobaan ini digunakan cairan emulsi degan pengental dan
tanpa pengental sebagai cairan Newton yang dicari nilai viskositasnya Viskometer Stormer. Pada
Viskometer Stormer terdapat 3 komponen penting dalam pengukuran viskositas yaitu waktu,
putaran, dan beban. Sediaan farmasi yang baik adalah mempunyai sifat alir pseudoplastis, itu
dapat dilihat dari obat sirup yang perlu dikocok sebelum digunakan, jika dikocok dengan kuat
maka viskositas cairan tersebut akan turun, sehingga ini memudahkan sirup tersebut dituang.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 16


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

BAB V SIMPULAN
A.KESIMPULAN

Berdasarkan penentuan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :


1. Terdapat 5 nilai viskositas dari emulsi tanpa pengental yang diukur dengan viskometer
stormer yaitu :
Pada 3 titik beban yang menaik :
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 75 gram yaitu 4,628
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 50 gram yaitu 3,588
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 30 gram yaitu 2,860
Pada 2 titik beban yang menurun :
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 20 gram yaitu 2,132
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 10 gram yaitu 1,404

Nilai viskositas dari emulsi tanpa pengental tidak dapat dirata-ratakan karena mempunyai
perbedaan nilai yang berubah-ubah (selisihnya besar) sesuai dengan sifat aliran non
Newton.

2. Terdapat 5 nilai viskositas dari emulsi dengan pengental yang diukur dengan viskometer
stormer yaitu :
Pada 3 titik beban yang menaik :
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 75 gram yaitu 5,876
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 50 gram yaitu 4,784
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 30 gram yaitu 3,692
Pada 2 titik beban yang menurun :
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 20 gram yaitu 3,432
• Viskositas emulsi tanpa pengental pada beban 10 gram yaitu 2,132

Nilai viskositas dari emulsi dengan pengental tidak dapat dirata-ratakan karena
mempunyai perbedaan nilai yang berubah-ubah (selisihnya besar) sesuai dengan sifat
aliran non Newton.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 17


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

B.SARAN

Sangat dibutuhkan ketelitian untuk menghitung nilai viskositas, nilai kecepatan, dan nilai d
dalam praktikum kali ini jadi sangat disaran kan jangan sampai salah perhitungan.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 18


SEKOLAH TINGGI ILMU KESETAHAN ADILA

DAFTAR PUSTAKA
Martin, Alfred dkk. 1990, Farmasi Fisika edisi ketiga, Jakarta: UI-Press

Sinko, Patrick J. 2011. FarmasiFisika dan Ilmu Farmasetika Martin Edisi 5.EGC: Jakarta.

Wijayanti, Alfiah Wahyu. 2008.Uji Aktifitas Mikrolitik Infusa Daun Pare(Momordica charantia
L.) Pada Usus Sapi Secara In Vitro.Fakultas FarmasiUniversitas Muhammadiyah Surakarta:
Surakarta.

DIAN MERIANI “PENENTUAN SISTEM VISKOSITAS (SISTEM NON NEWTONIAN)” Page 19

Anda mungkin juga menyukai