Anda di halaman 1dari 15

RAGAM POLA MANAJEMEN BK

Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen BK


Dosen Pengampu: Asni, Dra., M.Pd.

Disusun oleh Kelompok 1:


FAKHIRA RIZKI SULANI 1701015075
AIDAH KHIRUNNISA 1801015050
NOVI MULYANI 1801015070
AN NABILA SYAN T 1801015100
AZIZAH NURUL ISNAINI 1801015175

4E

PROGRAM STUDI: BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT., atas berkat rahmat dan ridha-Nya penyusun
dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Manajemen BK. Shalawat beserta salam
semoga selalu berlimpah kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad Saw., kepada
keluarganya, para sahabat, dan kita umatnya, aamiin.

Pada kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan
kepada:
1. Ibu Asni, Dra., M.Pd., selaku Dosen Pengampu mata kuliah Manajemen BK yang telah
membimbing penyusun dalam menyelesaikan tugas pembuatan makalah “Ragam Pola
Manajemen BK”.
2. Pihak pustakawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Prof. DR. HAMKA.
3. Orang tua yang selalu mendoakan dan mendukung penyusun.
4. Teman-teman yang telah bekerja sama dalam meyelesaikan makalah “Ragam Pola
Manajemen BK”.

Semoga segala bentuk bantuan yang telah diberikan menjadi amal yang diridhai dan
dilipat gandakan oleh Allah SWT., penyusun pun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca, aamiin.

Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Jakarta, 14 Maret 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. 1


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 3


A. Latar Belakang ................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 5
C. Tujuan ............................................................................................................. 6

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 6


A. Dasar Pola Manajemen LMA ......................................................................... 7
B. Dasar Pola Manajemen POAC ....................................................................... 8
C. Dasar Pola MPMBS ....................................................................................... 9
D. Pola Manajemen PDIEE ................................................................................. 10

BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 12


A. Simpulan ........................................................................................................ 12
B. Saran ............................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan
Indonesia. Sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud RI) Nomor 111 Tahun 2014 tentang
Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Pasal 1 Ayat
1: “Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan
serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk
memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli untuk mencapai kemandirian dalam
kehidupannya”. Maka dapat dipahami bahwa pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di
sekolah bertujuan untuk membantu peserta didik dalam mencapai tugas perkembangannya
secara optimal dan kemandirian yang utuh.
Agar tujuan Bimbingan dan Konseling dapat tercapai, seyogyanya Bimbingan dan
Konseling memiliki manajemen yang baik. Menurut George R. Terry dalam buku
“Principles of Management” (Sukarna, 2011: 3), manajemen adalah pencapaian tujuan-
tujuan yang telah ditetapkan melalui atau upaya bersama orang lain. Manajemen pelayanan
Bimbingan dan Konseling diperlukan agar pelayanan menjadi terarah dan dapat dievalusi.
Hasil evaluasi itu digunakan untuk meningkatkan pelayanan selanjutnya.
Manajemen dalam Bimbingan dan Konseling terdapat empat dasar pola, yaitu: (1)
dasar pola manajemen LMA (Leading, Management, and Administration); (2) dasar pola
manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling); (3) dasar pola
MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah); dan (4) dasar pola PDIEE
(Planning, Designing, Implementating, Evaluating, and Enchancing).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, berikut rumusan masalah dalam makalah ini:
1. Bagaimana dasar pola manajemen LMA (Leading, Management, and Administration)?
2. Bagaimana dasar pola manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, and
Controlling)?
3. Bagaimana dasar pola MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah)?
4. Bagaimana dasar pola PDIEE (Planning, Designing, Implementating, Evaluating, and
Enchancing)?

1
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Bagaimana dasar pola manajemen LMA (Leading, Management, and Administration)?
2. Bagaimana dasar pola manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, and
Controlling)?
3. Bagaimana dasar pola MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah)?
4. Bagaimana dasar pola PDIEE (Planning, Designing, Implementating, Evaluating, and
Enchancing)?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Pola Manajemen LMA (Leading, Management, and Administration)


Dasar pola manajemen LMA yaitu (1) Leading; (2) Management; dan (3)
Administration. Leading kaitannya dengan Bimbingan dan Konseling (BK) ialah
pengorganisasian dalam BK, management yang dimaksud ialah manajemen BK, dan
administration yaitu pengadministrasian dalam BK. Berikut rincian dasar pola manajemen
LMA (Leading, Management, and Administration) dalam Bimbingan dan Konseling:
1. Leading (Pengorganisasian BK)
Organisasi adalah sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan
bersama. Pengorganisasian berarti suatu bentuk kegiatan yang menyangkut cara kerja,
prosedur kerja, dan pola atau mekanisme kegiatan, dalam hal ini yaitu kegiatan layanan
Bimbingan dan Konseling. Suatu organisasi pasti memiliki struktur atau bagian-bagian
di dalamnya. Tabel 1 merupakan contoh struktur organisasi dalam Bimbingan dan
Konseling:
Tabel 1

Manfaat pengorganisasian dalam BK yaitu; (1) agar setiap personel BK


menyadari tugas, peranan, kedudukan, wewenang dan tanggungjawab masing-masing;
(2) agar terhindar dari terjadinya tumpang tindih tugas diantara personel bimbingan; (3)
agar terjadi mekanisme kerja secara baik dan teratur; (4) agar tercapai kelancaran,
efisien, dan efektivitas pelaksanaan program layanan BK.

3
2. Management (Manajemen BK)
Secara umum, manajemen merupakan keseluruhan proses aktivitas yang
dilakukan oleh sekelompok manusia dalam suatu sistem organisasi dengan
menggunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Manajemen BK merupakan upaya mengelola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
dengan mendayagunakan semua sumber daya yang ada disekolah melalui pengaturan
dan koordinasi kepala sekolah serta kerja sama dari guru BK dan komponen sekolah
lainnya. Fungsi manajemen yaitu: (1) menciptakan suatu koordinasi dan komunikasi
tugas setiap personel dan antara personel organisasi; (2) mendorong setiap personel
melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien; dan (3) memudahkan pelaksanaan
analisis tanggungjawab setiap personel secara efektif.

3. Administration (Pengadministrasian BK)


Administrasi adalah kegiatan pengendalian kerjasama sejumlah orang secara
sistematis, terarah, dan berencana guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Tugas pokok administrasi BK yaitu merencanakan keseluruhan program
pendidikan di sekolah, mengkoordinasikan semua kegiatan supaya tujuan instusional
tercapai dan mengawasi pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan itu. Proses administrasi BK
menurut Slamet (1961) diantaranya adalah: (1) Kegiatan-kegiatan terencana dari orang-
orang / kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama; (2) Penyusunan
dan penggunaan tenaga manusia dan benda-benda secara sistematis untuk mencapai
tujuan tersebut dengan biaya yang berupa uang, tenaga dan waktu yang sedikit-dikitnya;
dan (3) Menetapkan kebijaksanaan, susunan organisasi dan pemakaian alat yang terdiri
dari manusia, benda-benda dan uang.

B. Dasar Pola Manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling)


George R. Terry dalam buku “Principles of Management” (Sukarna, 2011: 3),
menyatakan bahwa: “Management is the accomplishing of a predetemined obejectives
through the efforts of otherpeople” atau manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan melalui atau upaya bersama orang lain. George R. Terry membagi empat
fungsi dasar manajemen, yaitu: planning (Perencanaan), organizing (Pengorganisasian),
actuating (Pelaksanaan) dan controlling (Pengawasan), keempat fungsi manajemen ini
disingkat dengan POAC (Sukarna, 2011: 10).
Sejalan dengan hal itu, Prayitno (2009) mengemukakan bahwa terdapat empat pilar
kegiatan pengelolaan dalam Bimbingan dan Konseling (BK), yaitu: (1) Perencanaan

4
(Planning - P); (2) Pengorganisasian (Organizing - O); (3) Pelaksanaan (Actuating - A);
dan (4) Pengontrolan (Controlling - C). Berikut rincian pilar POAC dalam Bimbingan dan
Konseling yang dikemukakan Prayitno:
1. Perencanaan (Planning - P)
Perencanaan merupakan proses untuk mempersiapkan mengenai sistem, teknik,
strategi, metode, personalia, dan fasilitas yang akan digunakan dalam melaksanakan
kegiatan, sehingga tujuan yang diiginkan dapat tercapai. Perencanaan dalam Bimbingan
dan Konseling akan sangat menentukan proses dan hasil layanan Bimbingan dan
Konseling itu sendiri. Oleh karena itu, perencanaan harus dibuat secara matang dan
sistematis dari mulai penyusunan program hingga pelaksanaannya. Sebagai contoh,
konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung (berupa SATLAN dan
SATKUNG), mulai dari program tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan sampai
dengan harian. Berikut contoh skema perencanaan program BK:
Tabel 2.
Skema Perencanaan Program BK

5
2. Pengorganisasian (Organizing - O)
Pengorganisasian merupakan pengaturan lebih lanjut tentang jenis-jenis
pekerjaan, alokasi tugas, personalia yang menjalankan pekerjaan, biaya, dan penyediaan
fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Pengorganisasian dalam Bimbingan dan Konseling
dimaksudkan bahwa konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan
dilibatkan di dalam kegiatan. Unsur-unsur ini meliputi unsur personal (seperti peranan
pimpinan sekolah, wali kelas, guru, siswa, orang tua), sarana fisik dan lingkungan
(seperti ruangan, alat bantu seperti komputer, film, dan objek-objek yang dikunjungi),
urusan administrasi, dana, dll.

3. Pelaksanaan (Actuating - A)
Berdasarkan hasil perencanaan dan pengorganisasian langkah selanjutnya ialah
menggerakan seluruh sumber daya dalam aktivitas mencapai tujuan berdasarkan aturan
dan kebijakan yang telah diorganisasikan. Tindakan-tindakan yang memungkingkan
semua tugas dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya inilah yang disebut dengan
tahap pelaksanaan. Konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan Bimbingan
dan Konseling dan atau kegiatan pendukung berdasarkan perencanaan dan
pengorganisasian yang telah ditentukan sebelumnya.

4. Pengontrolan (Controlling - C)
Pengontrolan dalam Bimbingan dan Konseling berkenaan dengan bagaimana
melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling
mulai dari penyusunan rencana program hingga pelaksanaannya. Konselor mengontrol
praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan proses kegiatan serta
mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. Kegiatan ini melibatkan peran
pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan,
serta organisasi profesi.

C. Dasar Pola MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah)


Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) adalah model
manajemen yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong
pengambilan keputusan yang partisipatif yaitu melibatkan semua warga sekolah
berdasarkan kesepakatan bersama. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS) merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih
menekankan kepada kemandirian, profesionalitas dan kreatifitas sekolah.

6
Beberapa indikator yang menunjukan karakter dan konsep Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagai berikut:
1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
2. Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai
3. Sekolah memiliki kepimpinan yang kuat
4. Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru dan staf lainnya
termasuk siswa) untuk berprestasi.
5. Adanya pengembangan staf sekolah sesuai tuntutan IPTEK
6. Adanya pelaksanaan evaluasi terhadap berbagai aspek akademik dan administratif dan
pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu.
7. Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orangtua murid.

Hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang


mengedepankan pendekatan desentralistik profesional, maka ruang gerak konselor menjadi
leluasa. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Konselor didorong untuk
memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih
efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan Bimbingan dan
Konseling. Pemanfaatan internet sebagai bentuk perkembangan teknologi mendorong pula
penggunaannya dalam memberikan layanan konseling (Poin nomor 5). Penggunaan media
internet dalam Bimbingan dan Konseling disebut dengan istilah konseling elektronik.
Konsultasi melalui chat room WA merupakan salah satu contoh program inovasi layanan
BK. Pelaksanaan konsultasi (Konseling elektronik) tersebut tetap mengedepankan kode
etik profesional Guru BK dan asas kerahasiaan dalam konseling. Selain itu, kaitannya
dengan poin nomor 6, di dalam Bimbingan dan Konseling terdapat rencana operasional,
rencana evaluasi serta pelaporan dan tindak lanjut. Hal itu berguna untuk meningkatkan
mutu pembuatan program selanjutnya dan sebagai kegiatan pengawasan, sehingga
keseluruhan program kedepannya dapat berjalan lebih efektif dan mencapai tujuan.

D. Dasar Pola PDIEE (Planning, Designing, Implementating, Evaluating, and


Enchancing)
Menurut Schmidt (2008: 90) prosedur dalam penyusunan program Bimbingan dan
Konseling komprehensif adalah perencanaan (planning), perancangan (designing)
penerapan (implementating), evaluasi (evaluating). Sejalan dengan hal itu, menurut
Depdiknas (2007: 194), pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan

7
bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial,
klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan
preventif. Bidang garapan bimbingan dan konseling yang meliputi bidang pendidikan, karir
serta sosial-pribadi, dalam pelaksanaan melalui tahap-tahap planning (perencanaan) yang
diawali analisis kebutuhan baik analisis kebutuhan bimbingan pada siswa maupun analisis
lingkungan, designing (pendisainan), implementing (pelaksanaan), evaluating (penilaian),
dan enhancing (peningkatan) maka pendekatan ini lazim juga disebut BK komprehensif.
1. Perencanaan
Proses Perencanaan program Bimbingan dan Konseling di sekolah, seharusnya
dilakukan secara terbuka, bukan hanya guru Bimbingan dan Konseling, namun juga
melibatkan seluruh pihak yang memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan.
Schmidt (2008:90) pada tahap perencanaan yang dilakukan adalah berfokus pada
prosedur kepemimpinan dan keputusan, mengadakan asesmen pada siswa, orang tua,
dan guru, setelah itu merancang tujuan yang obyektif.

2. Perancangan (Designing)
Sebagai arahan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling
komprehensif Gysbres (2012: 140) ada enam tahap mewujudkan desain program BK
sebagai berikut:
a. Menentukan struktur program dasar dari program yang akan disusun, termasuk
menyusun struktur komponen dan menentukan komponen program.
b. Merancang kompetensi siswa berdasarkan isi wilayah dan tingkat sekolah.
c. Menegasan kembali dukungan kebijakan pengembangan program bimbingan dan
konseling.
d. Menetapkan parameter untuk alokasi sumber daya program.
e. Menempatkan semua keputusan secara tertulis dan mendistribusikan pedoman
pelaksanaan program kepada semua konselor dan para pengelola.

3. Penerapan (Implementating)
Gysbers (2012:224) beberapa rekomendasi aktualisasi program untuk perubahan,
pemimpin program bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan sumber daya
personil, sumber daya keuangan dan sumber daya politik program bimbingan dan
konseling:
a. Sumber Daya Personil

8
1) Mengimplementasikan rasio jumlah siswa : konselor yang direkomendasikan.
Untuk standart di Indoensia rasio konselor dengan siswa yaitu 1 : 150 siswa.
2) Mengembangkan deskripsi tugas konselor sekolah
3) Menetapkan tingkat peran dan tanggung jawab pemimpin program bimbingan
dan konseling.
4) Mengembangkan deskrisi tugas untuk semua personil yang terlibat dalam
program bimbingan dan konseling
5) Memperjelas hubungan dalam organisasi program bimbingan dan konseling.
b. Sumber Daya Keuangan
1) Menetapkan anggaran pada setiap bagian bimbingan
2) Mengekplorasi penggunaan sumber daya luar sekolah
3) Mengembangkan panduan sumberdaya komponen program bimbingan dan
konseling.
4) Menetapkan fasilitas standar bimbingan.

c. Sumber Daya Politik


1) Memperbaharui kebijakan dan prosedur yang ada
2) Memunculkan dukungan dari tingkatan konselor, pengelola dam guru
3) Bekerja dengan resistan terhadap staff pendukung
4) Bekerja dengan unsur penting yaitu orang tua bersangkutan

4. Evaluasi (Evaluation)
Gysbers (2012:353) mendefinisikan evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan
dan menganalisis tentang program atau intervensi dengan cara tertib untuk membuat
keputusan. Kaitannya dengan Bimbingan dan Konseling, evaluasi atau penilaian
dirancang oleh guru BK atau konselor untuk memperoleh informasi tentang efisiensi,
keefektifan dan dampak dari program serta layanan Bimbingan dan Konseling. Fungsi
penilaian adalah memberikan umpan balik bagi guru BK atau konselor untuk
memperbaiki atau mengembangkan program selanjutnya dan sebagai laporan
pelaksanaan program (LAPERPROG) kepada pimpinan sekolah, guru dan orang tua
murid tentang perkembangan peserta didik dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya.

5. Mendesain Ulang (Enchancing)


Berikut gambaran tentang proses desain ulang:

9
Tabel 3.

Tabel 11.1 Proses Desain Ulang Program


Penyusunan Terorganisir
o Ulasan sumber eksternal mengenai status bimbingan dan konseling
melalui guru di kabupaten / sekolah, hasil, dan data evaluasi program
o Komitmen untuk mendesain ulang
o Mengadakan bimbingan dan kepemimpinan dengan konseling tim
o Mengidentifikasi kebutuhan untuk desain ulang
o Mengembangkan rencana redesign
o Penilaian dari komite pengarah konseling, komite penasihat sekolah-
masyarakat
o Mengembangkan kebutuhan siswa sesuai strategi penilaian
o Kumpulkan masukan kebutuhan untuk perbaikan program
Perencanaan
o Peninjuan pengembangan program dan implementasi
o Konfirmasikan kembali komitmen untuk model program
o Menilai kebutuhan siswa dan klien lainnya
o Diskusikan informasi kontekstual baru
o Merevisi komponen struktural: pemikiran, asumsi, definisi
o Menganalisis data evaluasi sebagai penilaian status saat ini
Mendesain Ulang
o Merevisi desain kualitatif: prioritas untuk hasil mahasiswa,
menyeimbangkan untuk layanan klien, standar operasional untuk
komponen (pengiriman program), prioritas untuk digunakan konselor
kompetensi
o Merevisi desain kuantitatif: sesuai keseimbangan program dan rasio
Perencanaan Transisi
o Kumpulkan masukan untuk rancangan akhir dari program didesain
ulang
o Mengumpulkan data tambahan mengenai dimensi Program didesain
ulang
o Penulisan kembali kerangka bimbingan dan program konseling yang
komprehensif
o Daftar rekomendasi akhir untuk peningkatan program
o Merekomendasikan proses pengembangan program
Melaksanakan Program Setelah Desain Ulang
o Menganalisis transisi dan selanjutnya membuat kembali perencanaan
awal

10
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dasar pola manajemen LMA yaitu (1) Leading; (2) Management; dan (3)
Administration. Leading kaitannya dengan Bimbingan dan Konseling (BK) ialah
pengorganisasian dalam BK (Struktur organisasi BK), management yang dimaksud ialah
manajemen BK, dan administration yaitu pengadministrasian dalam BK.
Empat pilar kegiatan pengelolaan dalam Bimbingan dan Konseling (BK), meliputi:
(1) Perencanaan (Planning - P) berupa berupa SATLAN dan SATKUNG program; (2)
Pengorganisasian (Organizing - O) berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di
dalam kegiatan; (3) Pelaksanaan (Actuating - A) dalam praktik jenis-jenis layanan
Bimbingan dan Konseling dan atau kegiatan pendukung; dan (4) Pengontrolan (Controlling
- C) dalam bentuk penilaian hasil dan proses kegiatan serta mempertanggungjawabkannya
kepada stakeholders.
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan alternatif
baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian,
profesionalitas dan kreatifitas sekolah. Hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS) yang mengedepankan pendekatan desentralistik profesional, maka
ruang gerak konselor menjadi leluasa. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih
utama. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk
menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai
kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling.
Menurut Depdiknas (2007: 194), pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma
pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu BK komprehensif yang memiliki tahap-tahap
berupa planning (perencanaan) yang diawali analisis kebutuhan baik analisis kebutuhan
bimbingan pada siswa maupun analisis lingkungan, designing (pendisainan), implementing
(pelaksanaan), evaluating (penilaian), dan enhancing (peningkatan).

B. Saran
Sebagai calon guru BK atau konselor, kita hendaknya memahami berbagai macam
dasar pola manajemen dalam Bimbingan dan Konseling, agar di masa mendatang dapat
mengimplementasikannya dengan baik sehingga tujuan Bimbingan dan Konseling di
sekolah dapat tercapai.

11
DAFTAR PUSTAKA

Gysbers, N.C. & Henderson P. (2012). Developing and Managing Your School Guidance and
Counseling Program Fifth Edition. Alexandria : American Counseling Assosiation.

Prayitno, dan Erman A. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Schmidt, John J. 2008. Counseling in Schools: Comprehensive Programs of Responsive


Service for All Student. Boston: Pearson.

Sukarna. 2011. Dasar-dasar Manajemen. Bandung: CV Mandar Maju.

12

Anda mungkin juga menyukai