Anda di halaman 1dari 19

Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar Khas Riau.

Riau Berbagi - Rumah Selaso Jatuh Kembar  merupakan bangunan seperti rumah adat tapi
fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat.
Rumah Selaso Jatuh Kembar sering disebut juga dengan nama Balai salaso jatuh oleh warga
melayu Riau.

 
Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain Balairung
Sari, Balai Pengobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain.

Bangunan adat ini hanya tinggal beberapa rumah saja karena didesa-desa sekarang bila ingin
melakukan musyawarah dilakukan di rumah Penghulu, sedangkan yang menyangkut keagamaan
dilakukan di masjid.

Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan
dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan
dan musyawarah adat.
Rumah tradisional masyarakat Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri diatas
tiang dengan bentuk bangunan persegi panjang.

Dari beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya
sama, dan memiliki ukiran melayu seperti selembayung, lebah bergayut, pucuk rebung dll.
Selaso jatuh kembar sendiri bermakna rumah yang memiliki dua selasar (selaso, salaso) yang
lantainya lebih rendah dari ruang tengah.

1. Asal usul
Pada tahun 1971, pemerintah pusat hendak membangun TMII (Taman Mini Indonesia Indah)
dan tiap-tiap daerah harus menentukan satu jenis rumah adat untuk dibuatkan Anjungan rumah
adat sebagai representasi resmi rumah adat di daerah propinsi tersebut.

Saat itu Gubernur Riau adalah Arifin Ahmad membentuk tim 9 yang terdiri dari budayawan dan
pemikir Melayu. Tim 9 ini bertugas untuk mendesain dan membuat Rumah Adat Riau dengan
melakukan riset keliling Riau.

Kemudian lahirlah sebuah arsitektur rumah adat Riau dengan nama Selaso Jatuh Kembar.
Kemudian Rumah Selaso Jatuh Kembar dipopulerkan dan ditetapkan oleh Gubernur Riau Imam
Munandar sebagai Rumah Adat kebudayaan masyarakat Riau.
2. Komponen Yang Dimiliki Oleh Rumah Selaso Jatuh kembar

Rumah Adat Melayu Riau Selaso Jatuh Kembar saat ini lebih banyak digunakan sebagai Balai
Pertemuan, oleh karna itu tidak lagi dapat dikategorikan sebagai rumah tinggal.

Bangunan ini memiliki ciri khas Selasar yang lebih rendah dibandingkan ruang tengah sebagai
tempat berkumpul sehingga mendapatkan julukan Selasar yang jatuh (turun), selain itu setiap
komponen arsitektural bangunan rumah adat Melayu Riau memiliki nilai yang lebih dari sekedar
komponen bangunan saja, tetapi juga memiliki arti dan filosofi yang mendalam.

Komponen yang dimiliki oleh rumah adat Melayu Riau terdiri dari :
1. Atap
2. Loteng
3. Lobang Angin
4. Dinding
5. Lantai
6. Bendul
7. Pintu
8. Jendela
9. Tangga
10. Tiang
11. Tutup tiang
12. Kolong Rumah
13. Rasuk dan Gelang
14. Jenang
15. Sento
16. Alang
17. Kasau
18. Gulung-gulung
19. Tulang Bubung
20. Singap

1.) Atap

Atap rumah adat Melayu Riau terdiri dari silangan pada perabung (ujung atap) dan kaki atap, dua
bagian ini melengkung ke atas, namun lengkungan ujung perabung harus selalu lebih kuat
dibandingkan kaki atap.

Hiasan pada perabung atap disebut Sulo Bayung (Selembayung) dan kaki atap disebut Sayok
Layangan.

Sulo Bayung memiliki arti yang mendalam tentang hubungan manusia dan penciptanya, manusia
yang mengarungi kehidupan mengalami berbagai cobaan yang kadang menghanyutkan dan dapat
membawa manusia kedalam lembah yang kelam,

bentuk atap menyerukan kepada pemiliknya agar tidak melupakan ibadah sehingga pada akhir
kehidupannya dapat kembali kepada penciptanya dalam keadaan yang suci.

Sayok Layangan biasanya memiliki berbagai jenis ornamen, salah satunya adalah bulan sabit
yang bermakna memberikan penerangan, penerangan ini diharapkan dapat menyinari seisi rumah
dalam berbagai aspek kehidupan yang dijalaninya.

Material atap yang dahulu digunakan oleh masyarakat Melayu Riau adalah daun Rumbia yang di
ikatkan pada tulang atap menggunakan tali dari rotan, sedangkan perabung yang berat dipasak
pada atap dengan menggunakan nibung.

Material ini merupakan material yang mudah didapatkan di daerah Riau, dengan penggunaan
material ini membuat rumah penduduk terhindar dari sengatan panasnya matahari yang biasa di
alami oleh Masyarakat Melayu Riau karna secara geografis Riau terletak tepat pada garis
katulistiwa, berbeda dengan atap seng atau genteng yang digunakan oleh masyarakat pada saat
ini.

2.) Loteng (ruangan pada langit-langit)

Loteng pada rumah adat Melayu Riau terdiri dari 2 jenis, secara keseluruhan disebut Langsa dan
pada bagian dapur disebut Paran.

Tidak semua bagian rumah adat Melayu Riau diberi loteng, pada ruang tamu disebagian rumah
dibiarkan terbuka yang bertujuan jika suatu saat ada pernikahan, ruangan tersebut dapat
diletakkan pelaminan.

Loteng pada dasarnya seperti rumah-rumah di Eropa yang memiliki ruangan pada bagian
atapnya, pada rumah adat Melayu Riau ruangan ini digunakan pada saat-saat tertentu seperti
sebelum pernikahan sebagai tempat memingit wanita yang akan dinikahkan, Loteng digunakan
untuk mengintip ke ruangan tamu atau keluar rumah dan mendapat julukan "Anjungan
Mengintai".

Material utama sebuah Loteng adalah papan dari kayu keras seperti Merbau, yang kuat meskipun
lebih tipis dibandingkan Lantai.

Potongan papan untuk loteng juga lebih kecil dibandingkan lantai dan bertumpu pada rangka
yang dibuat dibawah atap.

3.) Lobang Angin

Lobang Angin yang lebih kita kenal sebagai Ventilasi merupakan bagian dari rumah yang dibuat
untuk mengalirkan udara baik dari dalam rumah keluar, maupun dari luar rumah kedalam.

Lobang angin pada rumah adat Melayu Riau mengambil bentuk simetris seperti persegi delapan,
enam, empat atau lingkaran, bentuk simetris ini dipengaruhi oleh keyakinan agama Islam yang
dimiliki masyarakat Melayu.

Lobang angin biasanya terdapat pada bagian atas pintu atau jendela rumah.
Lobang Angin dibuat dari kayu sungkai, sama seperti yang dipergunakan untuk Pintu dan
Jendela.

4.) Dinding

Dinding rumah adat Melayu Riau tidak seperti rumah-rumah pada saat ini, dinding rumah adat
Melayu Riau pada zaman dahulu dibuat miring 20' hingga 30'.

Kemiringan ini secara teknis memberikan aerodinamika pada rumah-rumah adat Melayu Riau
yang terletak dipinggiran sungai dan laut yang berangin cukup kencang.

Atap rumah yang menjulang dan dinding yang miring membelah angin keatas dan kebawah
rumah, angin yang menuju atas rumah dibuang ke langit dan bagian bawah terbuang lewat
kolong rumah.

Bentuk ini juga diyakini terinspirasi dari kapal hal ini terbukti dengan hiasan pada kaki dinding
yang mirip perahu atau lancang.

Pada bagian rumah tertentu seperti pada rumah Bubung Panjang, dinding dibuat sebatas bahu
orang duduk bersila.

Dinding rumah direkatkan pada Jenang, dalam merapatkan dinding bagian yang cekung
dimasukkan kedalam bagian yang lurus sehingga papan itu benar-benar tidak tembus cahaya atau
angin.

Pada bangunan rumah adat bagi pemuka masyarakat digunakan teknik Lidah Pian yakni
penyusunan papan dengan papan yang lain saling bertemu rapat dan berhimpit,

menggunakan kayu keras dan tidak berserabut. Khususnya pada Rumah Lontik, dinding dibuat
dua lapis, bagian dalam dan bagian luar.

Meskipun bagian luar rumah dindingnya miring, pada bagian dalam tetap dibuat lurus, dinding-
dinding tersebut tidak menggunakan rangka dinding, tetapi diletakkan pada balok kayu yang di
Purus tempat menanam dinding dan disebut Jenang.

Bagian depan balok tersebut dibuat melengkung ke atas dan jika disambung diberi ukiran
sehingga bentuknya seperti perahu.

5.) Lantai

Pada bagian utama lantai bangunan rumah adat Melayu Riau dibuat sangat rapat, sedangkan pada
bagian dapur dibuat agak jarang.

Lantai yang terbuat dari kayu Nibung diletakkan pada bagian belakang rumah atau kamar mandi
dan tempat-tempat yang sering terkena air.

Lantai sebagian besar dibuat dari kayu meranti, medang, atau punak. Susunannya dibuat sejajar
dengan Rasuk dan Melintang diatas Gelegar yang ujungnya dibatasi oleh Bandul.

Ketinggian lantai biasanya ditentukan berdasarkan tinggi tiang rumah dengan rasio 20cm hingga
60cm. Berbeda dengan rumah adat Melayu pada umumnya, rumah adat Pondok Pisang Sesikat
menggunakan lantai yang terbuat dari kulit kayu.

6.) Bendul
Bendul merupakan batas ruangan dan batas lantai yang terbuat dari kayu yang tidak boleh
bersambung karna berfungsi sebagai penguat dan pengikat pada ujung-ujung lantai.

7.) Pintu

Pintu disebut juga dengan Ambang atau Lawang. Pada bangunan rumah adat Melayu Riau pintu
dibagi menjadi dua jenis, yang pertama adalah pintu yang menguhubungkan bagian dalam rumah
dengan bagian luar rumah, yang kedua adalah pintu yang menghubungkan bagian-bagian dalam
rumah.

Pintu yang menghubungkan bagian kamar-kamar didalam rumah disebut pula dengan Pintu
Malim atau Pintu Curi,

pintu ini berfungsi sebagai jalan yang digunakan terutama jika ada tamu di ruang utama sehingga
pengguna pintu tersebut tidak perlu berlalu lalang didepan tamu. Pintu tersebut hanya dapat
digunakan oleh orang rumah atau keluarga terdekat.

Pintu merupakan panel yang terbuat dari kayu pilihan dan diberi ornamen tertentu dan terdapat
Lobang Angin pada bagian atasnya, sedangkan pada bagian bawahnya diberi kisi-kisi agar anak-
anak tidak terjatuh.

8.) Jendela

Dalam bahasa Melayu, Jendela disebut Tingkap atau Pelinguk yang bentuknya mirip dengan
pintu dengan satu atau dua daun jendela yang diberi kisi-kisi dan diberi panel setinggi 30cm
hingga 40cm. Tinggi Jendela dari Lantai biasanya dibuat berdasarkan ergonomi atau adat istiadat
daerah setempat.

9.) Tangga

Tangga rumah adat Melayu Riau biasanya dibuat berjumlah ganjil sesuai dengan tinggi atau
rendahnya rumah tersebut dari permukaan tanah, rumah yang memiliki anak Tangga berjumlah 5
anak tangga merepresentasikan 5 rukun Islam.

Pada tangga terdapat tiang tangga yang berbentuk persegi atau bulat yang biasanya dilengkapi
dengan tangan Tangga dan diberi ornamen berupa kisi-kisi larik atau Papan Tembus.

Tangga rumah adat Melayu biasanya terletak pada samping rumah untuk menghindari
pandangan langsung menuju rumah, namun banyak pula rumah adat yang meletakkannya di
bagian depan rumah.

Anak tangga dan tangan tangga biasanya dibuat dari kayu Nibung atau kayu keras lainnya yang
tahan terhadap serangan cuaca, terutama air karna pada saat air pasang atau musim penghujan
yang menyebabkan ketinggian air sungai bertambah, tangga akan sering terendam oleh air.

Pada permulaan anak tangga dimulai dengan batu, atau kayu keras yang disandingkan pada
sebelah kanannya dengan Tempayan (wadah) air untuk mencuci kaki bagi yang akan memasuki
rumah.

10.) Tiang

Bentuk Tiang rumah adat Melayu merepresentasikan berbagai filosofi, tiang-tiang rumah adat
tersebut biasanya berbentuk persegi 4, 6, 7, 8, 9 Persegi 4 dan 8 melambangkan 4 atau 8 penjuru
angin, dengan harapan rumah tersebut mendapatkan rezeki dan berkah dari berbagai penjuru,

persegi 6 melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam dengan harapan penghuni rumah
tersebut dapat konsisten menjalankan perintah Agama, sedangkan persegi 7 melambangkan 7
tingkatan Surga dan Neraka dan persegi 9 disebut dengan Tiang Rangkaye yang menunjukkan
kemampuan ekonomi pemiliknya.

Banyaknya Tiang utama pada rumah menandakan luasnya rumah tersebut, tiang-tiang biasanya
dipancang dengan jarak 3 meter.

4 Tiang paling utama pada rumah adat Melayu Riau yang berbentuk persegi panjang disebut
Tiang Seri, sedangkan Tiang yang terletak diantara Tiang Seri pada bagian depan rumah disebut
Tiang Penghulu atau Tiang Tuo, jumlah Tiang Utama pada dasarnya hanya 24 buah yang
disusun 4 X 6.

Jumlah selain Tiang Utama boleh ditentukan sendiri oleh yang mendirikan rumah yang biasanya
tetap berjumlah genap.
g rumah tidak boleh ada sambungan hingga keujung atas tiang dan menggunakan kayu Kulim,
Tembesu, Resak dan Punak yang merupakan jenis-jenis Kayu Keras.

Tiang-tiang rumah biasanya memiliki panjang dari tanah hingga lantai mulai dari 1 meter hingga
2.5 meter, ketinggian lantai yang ditunjang oleh tiang-tiang ini merespon posisi rumah dari bibir
sungai atau laut, semakin dekat dengan laut atau sungai maka semakin tinggi pula rumah
tersebut.

Rumah adat Melayu Riau yang bertiang rendah disebut dengan rumah Bagan sedangkan rumah
adat yang digunakan untuk tempat tinggal sementara atau mencari ikan disebut dengan Rumah
Sudung-sudung.

Pada Rumah Pondok Pisang Sesikat Tiang rumahnya juga dibuat Tinggi dan digunakan untuk
beristirahat sementara di Ladang, rumah ini juga disebut dengan Pondok Ladang.

11.) Tutup Tiang

Tutup tiang adalah pengunci Tiang-tiang penyangga rumah, Tutup Tiang yang menghubungkan
Tiang-Tiang Seri disebut Tutup Tiang Panjang, sedangkan yang menghubungkan tiang-tiang lain
disebut Tutup Tiang Pendek.

12.) Kolong Rumah


Kolong rumah selain merupakan hasil dari respon arsitektural rumah adat Melayu Riau terhadap
kondisi geografisnya, juga memiliki berbagai fungsi seperti tempat menyimpan berbagai stok
seperti kayu bakar untuk memasak pada musim panas.

Selain itu pada saat sungai surut, kolong rumah juga menjadi bengkel untuk memperbaiki dan
menyimpan perahu atau sampan.

13.) Rasuk dan Gelegar

Rasuk dapat dikatakan sebagai pasak, yang berbentuk persegi dan menembus tiang, dibeberapa
tempat di Riau disebut juga dengan nama Gelegar Jantan atau Gelegar Induk,

Gelegar juga disebut sebagai Rasuk Anak dan dipasang melintang Rasuk Induk yang terbuat dari
Tembusu, Kayu Resak atau Kulim. Rasuk yang besar disebut dengan Rasuk Induk dan yang
kecil adalah Rasuk Anak.

14.) Jenang

Fungsi utama Jenang adalah penyambung dinding dan merekatkan Rasuk ke Tutup Tiang dan
diruncing bulatkan ujungnya.

15.) Sento

Kayu-kayu yang menguhubungkan antar Jenang disebut Sento, atau disebut juga anak Jenang
yang ukurannya lebih kecil dari Jenang. Kedua ujung Sento dipahatkan kedalam Jenang.

16.) Alang

Alang merupakan kayu yang dipasang melintang diatas Tutup Tiang yang berfungsi sebagai
Gelegar Loteng atau balok tarik dibawah kuda-kuda dan berukuran sama dengan Tutup Tiang
atau lebih kecil sedikit.

17.) Kasau

Kasau adalah kaki kuda-kuda atap dan dapat difungsikan sebagai pengikat atap

18.) Gulung-gulung

Gulung-gulung biasanya berbentuk persegi yang dipasang sejajar dengan tulang bubung dan
diletakkan di atas Kasau.

19.) Tulang Bubung

Tulang bubung merupakan kayu yang berbentuk persegi yang menjadi pertemuan ujung Kasau
dan ujung atau sebelah atas. Diatasnya dipasang Peraung yaitu atap yang menjadi penutup ujung
atap paling atas.
20.) Singap

Singap juga disebut sebagai Teban Layer atau Bidai. Bagian ini dapat dibuat bertingkat dan
dapat pula difungsikan sebagai Lobang Angin. Pada bagian yang menjorok luar disebut sebagai
Teban Layer atau lantai Alang atau Undan-undan.

3. Ciri-Ciri

Rumah Selaso Jatuh Kembar adalah sejenis bangunan berbentuk rumah (dilingkupi dinding,
berpintu dan jendela) tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah
atau rapat secara adat karena “rumah” ini tidak memiliki serambi atau kamar.

Jika dideskripsikan, denah rumah Selaso Jatuh Kembar hanya memiliki Selasar di bagian depan.
Tengah rumah pada bagian tengah dengan bersekat papan antara selasar dan telo.

Kemudian bentuk rumah mengecil pada bagian telo yang berguna sebagai tempat makan, dll,
pada bagian belakang terdapat dapur.
Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah,
karena itu dikatakan Salaso Jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi
hiasan terutama berupa ukiran.

Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini
diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung yang mengandung makna pengakuan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selasar dalam bahasa melayu disebut dengan Selaso.

Selaso jatuh kembar sendiri bermakna rumah yang memiliki dua selasar (selaso, salaso) yang
lantainya lebih rendah dari ruang tengah.

Dari keragaman bentuk rumah tradisional yang terdapat di Riau, ada kesamaan jenis dan gaya
arsitektur.

Dari jenisnya, rumah tradisional masyarakat Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang
berdiri diatas tiang dengan bentuk bangunan persegi panjang.

Dari beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya
sama, dan memiliki ukiran melayu seperti selembayung, lebah bergayut, pucuk rebung dll.

Keumuman berikutnya terletak pada arah rumah tradisional masyarakat Riau yang dibangun
menghadap ke sungai. Ini terjadi karena masyarakat tardisional Riau menggunakan sungai
sebagai sarana transfortasi.

Maka tak heran jika kita akan menemukan banyak perkampungan masyarakat Riau terletak di
sepanjang pinggiran sungai Siak, Mandau, Siak Kecil dan pada anak sungai di pedalam lainnya.

Karena tipographi pemukiman masyarakat Riau yang demikian, maka kita akan mendapati
pangkalan tempat menambatkan perahu dan juga tempat mandi di muka rumah masing-masing.

Selain itu, hingga tahun 70-an, kampung-kampung tersebut tidak mengenal batas-batas tertentu,
seperti halnya perkampungan masyarakat pantai.

Kampung-kampung mereka biasanya dinamai berdasarkan nama sungai atau tumbuhan yang
terdapat di sana. Namun hari ini tentunya telah dibuatkan sarana adminstrasi seperti Balai Desa,
dll dengan istilah “pemekaran”.

4. Corak Ornamen Rumah.

Rumah adat ini dihiasi dengan corak dasar Melayu Riau yang umumnya bersumber dari alam,
yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa.
Benda-benda itulah yang direka-reka dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya
seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau
dimodifikasi sehingga tak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya menggunakan
namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.

Corak yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Kalau
dilihat sejak jaman dahulu, corak gaya arsitektur bangunan dan seni ukir masyarakat Riau sangat
kuat dipengaruhi oleh corak Hindu-Budha. Peralihan gaya pada corak ini karena pada umumnya
masyarakat Riau telah beragama Islam.
  

Corak Itik Pulang Petang


Sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus pada hal-hal yang berbau berhala.
Kelahiran tulisan melayu (aksara arab) dan corak seni ukir flora masyarakat Melayu Riau dahulu
dilatarbelakangi oleh perkembangan Agama Islam mulai dari jaman kerajaan Malaka.
Corak hewan yang digunakan umumnya yang mengandung sifat tertentu atau yang berkaitan
dengan mitos atau kepercayaan setempat. Corak semut beriring bermakna sifat semut yang rukun
dan tolong-menolong.

Corak lebah, disebut lebah bergantung, bermakna sifat lebah yang selalu memakan yang bersih,
kemudian mengeluarkannya untuk dimanfaatkan orang ramai (madu).

Corak naga berkaitan dengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan
sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan
corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula.

Selain itu ada pula corak yang bersumber dari bentuk-bentuk tertentu seperti wajik (Belah
ketupat), lingkaran, kubus, segi, dan lain-lain.

Di samping itu, ada juga corak kaligrafi yang diambil dari kitab Alquran. Pengembangan corak-
corak dasar itu, di satu sisi memperkaya bentuk hiasan. Di sisi lain, pengembangan itu juga
memperkaya nilai falsafah yang terkandung di dalamnya.

5. Ragam Ornamen.

Bangunan BALAI ADAT MELAYU RIAU pada umumnya diberi ragam hiasan, mulai dari
pintu,jendelah,vetilasi sampai kepuncak atap bangunan,ragam hias disesuaikan dengan makna
dari setiap ukiran.
Selembayung

Selembayung disebut juga “ selo bayung “ dan “tanduk buang” adalah hiasan yang terletak
bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan.pada bangunan balai adat melayu ini setiap
pertemuan sudut atap di beri selembayung yang terbuat dari ukiran kayu.

Lambai lambai

Lambai-lambai adalah hiasan pada bagian atas pintu dan jendelah, melambangkan sikap ramah
tamah.

Klik-klik
Hiasan Klik klik disebut kisi-kisi dan jerajak pada jendelah dan pagar.

Referensi
rumah adat riau, rumah adat kepulauan riau, nama rumah adat riau, gambar rumah adat riau, rumah adat provinsi riau, rumah adat riau disebut, rumah
adat riau adalah, rumah adat kepulauan riau dan penjelasannya, rumah adat suku riau, gambar rumah adat, rumah adat, foto rumah adat, rumah adat
tradisional, rumah panggung berasal dari, rumah tradisional, rumah adat daerah, gambar rumah tradisional, lukisan rumah adat, gambar gambar rumah
adat, rumah adat 34 provinsi beserta gambarnya, rumah adat panggung, menggambar rumah adat, rumah adat sumbar, gambar rumah adat 34 provinsi,
rumah adat selaso jatuh kembar, pakaian adat 34 provinsi beserta gambarnya, kliping rumah adat, rumah riau, rumah selaso jatuh kembar, rumah adat
dari riau, rumah adat beserta daerahnya, rumah selaso jatuh kembar, rumah adat selaso jatuh kembar, rumah melayu selaso jatuh kembar, nama rumah
adat melayu, rumah rumah adat
ruas.ub.ac.id/index.php/ruas/article/download/117/132
Rumah Adat Kepulauan Riau

ASSALAMUALAIKUM WR.WB
Gan... ane kali ini akan menjelaskan tentang rumah adat kepulauan riau. ane akan
share tentang filosofi dan foto-foto tentang rumah adat ini. Ayo... tunggu apalagi check it
out

Yang pertama kita lihat dulu fotonya gann. Nama rumah adat kep.riau adala h  Rumah
Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ini dia foto-fotonya
Nah tadi kan udah liat foto dari  Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Sekarang kita liat gambar
arsitektur  Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar

Gambar rencana  Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar

Gambar denah  Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar


Miniatur  Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar

Nah tadi kan kita udah liat foto-foto rumah ada kep.riau. Sekarang kita coba intip yukk filosofi rumah
tersebut.
1. Asal-Usul
Rumah melayu selaso merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi
Riau, Indonesia. Selain nama Rumah melayu selaso, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Rumah
melayu selaso atau disebut juga lancang/pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu,
bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh
bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama
Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.

Rumah lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan
binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah
sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang
kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga
untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan
bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.

Dinding luar Rumah Lancang seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok
tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan ukiran pada sudut-sudut
dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak
semelengkung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung
diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan ornamen pada keempat sudut
cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.

Keberadaan Rumah Lancang, nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat Kampar
dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu merupakan ciri khas masyarakat
Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik) merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi
arsitektur terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat, dari Lima Koto menuju wilayah
Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris,
Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses
akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses akulturasi tersebut nampak dari keunikan
Rumah Lancang yang sedikit banyak berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau
Kepulauan.

Rumah lontik yang dapat juga disebut rumah lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung keatas, agak
runcing seperti tanduk kerbau. Sedangkan dindingnya miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau
lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan-sesama. Rumah adat lontik diperkirakan dapat
pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera
Barat. Tangga rumah biasanya ganjil.

Nah itu dia tadi bahasan tentang rumah adat riau. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan agan semua
Mohon maaf bila ada kesalahan atau kekeliruan. Semua manusia pasti mempunyai kesalahan, nah bagaimana
caranya agar kita jadi sukses. Kita harus belajar dari "KESALAHAN", belajar dari kesalahan itulah kita akan mejadi
lebih baik

http://bonopangestu.blogspot.co.id/2014/10/rumah-adat-kepulauan-riau.html