Anda di halaman 1dari 9

SATUAN DALAM MUSIK

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal berbagai macam satuan alat ukur
untuk mengukur sesuatu. Kalau kita ingin mengukur panjang suatu benda, maka
kita dapat menggunakan ukuran dalam centimeter, meter, kilometer dsb.;
demikian juga dalam mengukur hal-hal lain seperti mengukur waktu dengan
menggunakan satuan jam, menit, detik, atau menimbang berat sebuah benda
dengan menggunakan ukuran kilogram, gram, dsb. Demikian juga pada musik.
Ditinjau dari ilmu bentuk musik, sebuah komposisi terdiri dari unit-unit atau
satuan-satuan. Nama dari satuan-satuan tersebut ialah: figur/ujud, motif, semi
frase, frase, periode dan bagian. Ini merupakan satuan-satuan yang bertingkat
dimana figur/ujud merupakan satuan yang terkecil, hingga bagian sebagai
satuan yang terbesar. Secara teoritis, sebuah bagian dapat terdiri dari periode-
periode (mungkin juga hanya sebuah periode atau sebaliknya, lebih dari dua
periode), sebuah periode terdiri dari frase-frase (mungkin juga hanya sebuah
frase), demikian seterusnya.
Dalam kenyataannya tidak jarang terjadi tumpang tindih atau absennya sebuah
unit. Sebagai contoh dalam sebuah frase tidak terdapat semi frase (atau dapat
dikatakan bahwa semi frasenya tumpang tindih dengan motif). Sangat sering
terjadi dimana motif tumpang tindih dengan semi frase, atau sebuah periode
tumpang tindih dengan bagian.
Jadi secara teoritis demikian:

Kenyataannya mungkin saja terjadi kondisi seperti ini:

Atau mungkin saja ada yang berpendapat demikian:


FRASE

Dari semua unit yang ada dapat dikatakan bahwa frase merupakan unit yang
terpenting. Frase merupakan pungtuasi atatu ‘titik-koma’ musik. Frase-frase
musik yang dimainkan dengan benar akan sangat menambah kewajaran bunyi
musik yang dihasilkan, menambah jelas ‘napas’ alur musik yang dimainkan.
Dapat dikatakan bahwa fungsi praktis dari frase dalam musik pada dasarnya
tidak berbeda dengan kalimat pada bahasa.
Hal di atas ini menjadi alasan dimana pembahasan akan dimulai dari unit frase,
bukan dari unit-unit lainnya. Ada 4 ciri utama sebuah frase. Demikian ciri-ciri
tersebut:
1. Diakhiri kadens.
2. Biasanya terdiri dari 4 birama.
3. Biasanya berhubungan dengan frase lain.
4. Terdapat pada musik-musik homophoni.

1. Diakhiri kadens.
Kadens berasal dari bahasa latin cadere, yang berarti ‘jatuh’. Kadens merupakan
‘tempat istirahat’ diakhir frase. Paling tidak ada dua cara untuk mendapat efek
istirahat, yaitu dengan memanfaatkan aspek durasi maupun aspek harmoni.
Memanfaatkan aspek durasi dapat dilakukan dengan cara menggunakan nada
panjang, atau tanda istirahat. Intinya, ‘area renggang’ (nada-nada panjang atau
istirahat) diantara ‘area padat’ (nada-nada dengan harga nada yang relatif kecil)
cenderung memberi efek ‘istirahat’ pada ‘area renggang’.

(Contoh notasi)
Pemanfaatan aspek harmoni untuk memberi efek ‘istirahat’, baik efek ‘istirahat
penuh’ maupun ‘menggantung’, dilakukan dengan memanfaatkan progresi/gerak
akor tertentu. Pada musik tonal kita mengenal empat macam kadens harmoni
dengan nama sebagai berikut:

Kadens Otentik ( V – I ) terbagi atas kadens otentik sempurna dan kadens


otentik tidak sempurna. Ciri dari kadens otentik sempurna dimana akor I
sebagai akor terakhir (disebut juga akor kadens) bukan dalam posisi akor
pembalikan/inversi.dan melodi atau sopran pada nada tonika. Kalau akor terakhir
dalam posisi akor pembalikan atau melodi atau sopran bukan pada nada tonika
disebut sebagai kadens otentik tidak sempurna. Secara umum kadens otentik
memberi kesan ‘titik’ atau ‘selesai’.

Contoh

Kadens tengah ( .... – V ) memberi efek ‘koma’ atau ‘tidak selesai’,


‘menggantung’. Pada dasarnya akor terakhir tidak harus akor V (dominan). Akor-
akor lainnya yang memberi efek ‘ tidak selesai’ dapat dimasukan dalam katagori
kadens tengah ini. Misalnya saja, .... – IV, ..... –II, .... – bVII, dsb.
Kadens plagal ( IV – I ) memberi efek selesai, namun tidak sekuat kadens
otentik. Kadens plagal ini relatif lebih jarang digunakan daripada kadens otentik.

Akor dominan (V) mempunyai kecenderungan menuju akor I ( V – I ). Ini


merupakan kondisi yang paling alami. Pada kadens menyimpang atau deseptif
( V - ...., selain akor I ) kondisi alami ini sengaja dihindari sehingga memberi efek
‘tidak terduga’. Contoh kemungkinan kadens menyimpang seperti misalnya saja
V – bIII, atau V – bVI.

Sebenarnya alur melodi turut menunjang ‘efek pada kadens. Ada nada-nada
yang memberi efek ‘selesai’/’titik’, ada juga nada-nada yang memberi efek
‘menggantung’/’koma’. Berikut ini gambaran dari tendensi dari nada-nada
tersebut.
Nada yang mempunyai efek ‘selesai’/’titik’:
DO (tegas)
MI (cukup tegas)
SOL (kurang tegas, bahkan dapat berefek ‘tidak selesai’/ ‘koma’).

Nada yang mempunyai efek ‘tidak selesai’/ ‘koma’:


SI (tegas)
FA (tegas)
RE (kurang tegas)
LA (kurang tegas)
SOL (kurang tegas, bahkan dapat berefek ‘selesai’/’titik’).
2. Biasanya terdiri dari 4 birama
Empat birama merupakan jumlah yang paling umum. Kadang-kadang tempo
lagu dapat mempengaruhi jumlah biramanya. Dalam tempo yang lambat bisa
saja sebuah frase hanya terdiri dari 2 birama saja, sebaliknya dalam tempo yang
cepat malah dapat mencapai 8 birama. Selain itu terdapat frase irregular dimana
jumlah biramanya bukan 4, 2 ataupun 8 tapi 3, 5, 6 atau 7. Frase irregular ini
akan dibahas kemudian.
3. Biasanya berhubungan dengan frase lain.
Pada umumnya sebuah frase tidak berdiri sendiri, tapi berpasangan dengan
sebuah frase lain, bahkan mungkin saja berpasangan dengan beberapa frase
lain. Pasangan dari frase-frase ini memungkinkan terjadinya satuan yang lebih
besar seperti periode, kelompok frase, atau mungkin saja periode ganda. Hal ini
akan dibicarakan kemudian.
4. Terdapat pada musik-musik homophoni.
Pada musik-musik yang bertekstur homophoni terdapat jalur melodi utama
dimana jalur-jalur lainnya ‘mengabdi’ pada jalur melodi ini. Dengan demikian
‘titik-koma’ musik untuk semua jalur menjadi bersamaan juga. Hal ini membuat
mudah dalam menelusuri frase-frase di dalamnya.
Kondisinya berbeda pada musik-musik yang bertekstur poliphoni. Pada musik
poliphoni setiap jalur suara memiliki kebebasannya masing-masing dalam
mulainya (entry) maupun dalam berakhirnya. Dengan kata lain, setiap jalur
mempunyai frase-frase dengan ‘titik-koma’ yang berbeda-beda tempat.
Selain itu pada musik-musik poliphoni terdapat prinsip dasar tema dan
pengembangannya yang agak berbeda dengan musik-musik homophoni.
Sebagai contoh saja, pada musik homophoni tema lebih dikembangkan dari
motif/motif-motif, sedang pada musik poliphoni figur sangat sering berperan
sebagai tema (atau lebih sering subjek). Contoh lainnya, dalam musik poliphoni
cara pengolahan ‘imitasi terus menerus’ yang terjadi pada unit-unit musik,
terutama pada figur-figur, dapat dikatakan lebih berperan daripada konsep frase.
Akibatnya seringkali sebuah alur nada-nada tidak cukup memenuhi syarat
sebagai sebuah frase. Lebih jauh tentang musik poliphoni ini akan dibahas
kemudian
Frase anteseden dan konsekwen
Telah kita ketahui bahwa frase biasanya berhubungn dengan frase lain.
Hubungan antara frase ini saling melengkapi. Ada semacam relasi ‘aksi-reaksi’,
‘pernyataan awal - akibat dari pernyataan awal’ dalam hubungan frase-frase ini
yang dikenal dengan istilah frase anteseden (antecedent) dan frase konsekwen
(consequent). Frase anteseden sebagai sebuah ‘pernyataan/aksi’, dan frase
konsekwen sebagai ‘reaksi’/’respon’/’akibat dari pernyataan awal’.
Contoh notasi

Umumnya frase anteseden sebagai suatu pernyataan mempunyai karakter ‘tidak


selesai’/ ‘koma’. Walaupun tidak terlalu tepat, ada yang menyebutnya juga
sebagai frase pertanyaan. Umumnya frase konsekwen sebagai suatu respon dari
frase anteseden mempunyai karakter ‘selesai’ atau ‘titik’. Tidak jarang disebut
sebagai frase jawaban.

Untuk mencapai efek ‘titik’ dan ‘koma’ digunakanlah potensi dari kadens. Berikut
ini pemanfaatan kadens yang biasanya dilakukan.
Sudah tentu terdapat pengecualian-pengecualian. Paling tidak ada tiga
pengecualian dari kondisi di atas, yaitu:
1. Frase anteseden berakhir dengan kadens otentik. Dalam hal ini umumnya
frase konsekwennya menggunakan kadens setengah, atau mungkin juga
modulasi ke kunci yang baru dengan menggunakan kadens otentik.

Contoh
2. Frase konsekwen pada bagian kedua dari lagu tiga bagian biasanya berisi
kadens setengah. Nanti akan disinggung lebih jauh, bahwa bagian ketiga
merupakan pengulangan dari bagian pertama. Sebuah lagu biasanya
dimulai dengan menggunakan akor I, berarti bagian ketiga akan dimulai
dengan akor I juga. Agar wajar masuk ke bagian ketiga (engan asumsi
awalnya berisi akor I), maka digunakan akor V sebelum masuk ke bagian
ketiga tersebut.

3. Dalam periode ganda. Hal ini juga akan disinggung lebih lanjut di
belakang, namun sebagai gambaran kira-kira demikian kadens yang
terjadi didalamnya.