Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN HIPOGLIKEMI PADA NEONATUS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian
Hipoglikemi adalah kondisi ketidaknormalan kadar glokosa serum yang rendah.
Keadaan ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa dibawah 40 mg/dL setelah
kelahiran berlaku untuk seluruh bayi baru lahir, atau pembacaan strip reagen oxidasi
glukosa darah. Hanya 20% hipoglikemia bersifat simptomatik, yaitu hipoglikemia yang
disertai gejala neurologis dan gejala tersebut akan hilang setelah pemberian glukosa,
tetapi kerusakan otak masih mungkin terjadi dan gejala akan terlihat kemudian. Pada
hipoglikemia berat gejala menyarupai asfiksia.Pada bai baru lahir dengan kejang atau
jitteriness hendaknya dilakukan pemeriksaan Dextrostix berulang.
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar
glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena ketidakseimbangan
antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom
hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas,
gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung
meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia). (Nabyl, 2009)
Nilai kadar glukosa darah/plasma atau serum untuk diagnosis hipoglekemia pada
berbaga ikelompok umur anak:

Kelompok umur Glucosa<mg/dl Darah plasma/serum


Bayi/anak <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml
Neonatus <20 mg/100 ml <25 mg/100 ml
BBLR <20 mg/100 ml <25 mg/100 ml
BCB <30 mg/100 ml <35 mg/100 ml
0-3 hari <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml
3 hari <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml
Hipoglikemi pada neonatus :

1. Untuk setiap neonatus manapun, kadar glukosa<40-45 mg/dl dianggap tidak normal
2. Menurut WHO hipoglikemi adalah bila kadar glukosa/gulan darah<47 mg/dl.
3. Gejala sering tidak jelas/asimptomatik, semua tenaga kesehatan perlu mewaspadai
kemungkinan adanya hipoglikemi.
4. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah konsekuensi yang serius.

B. Etiologi

Hipoglikemia bisa disebabkan oleh:


 Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pancreas
 Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita
diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya
  Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal
 Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.
Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu :
a. Dosis suntikan insulin terlalu banyak.
Saat menyuntikan obat insulin, anda harus tahu dan paham dosis obat yang anda
suntik sesuai dengan kondisi gula darah saat itu. Celakanya, terkadang pasien tidak
dapat memantau kadar gula darahnya sebelum disuntik, sehingga dosis yang
disuntikan tidak sesuai dengan kadar gula darah saat itu. Memang sebaiknya bila
menggunakan insulin suntik, pasien harus memiliki monitor atau alat pemeriksa gula
darah sendiri.
b. Lupa makan atau makan terlalu sedikit.
Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja lambat dua
kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan.Kadar insulin dalam
darah harus seimbang dengan makanan yang dikonsumsi.Jika makanan yang anda
konsumsi kurang maka keseimbangan ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.
c. Aktifitas terlalu berat.
Olah raga atau aktifitas berat lainnya memiliki efek yang mirip dengan insulin. Saat
anda berolah raga, anda akan menggunakan glukosa darah yang banyak sehingga
kadar glukosa darah akan menurun. Maka dari itu, olah raga merupakan cara terbaik
untuk menurunkan kadar glukosa darah tanpa menggunakan insulin.
d. Minum alkohol tanpa disertai makan.
Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati sehingga kadar glukosa darah akan
menurun.
e.  Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari.
Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan anda mengkonsumsi obat
diabetes pada malam hari terutama yang bekerja secara lambat. Jika anda salah
mengkonsumsi obat misalnya anda meminum obat insulin kerja cepat di malam hari
maka saat bangun pagi, anda akan mengalami hipoglikemia.
f. Penebalan di lokasi suntikan.
Dianjurkan bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin agar merubah lokasi
suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam waktu lama pada lokasi yang
sama akan menyebabkan penebalan jaringan. Penebalan ini akan menyebabkan
penyerapan insulin menjadi lambat.
g. Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.
Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang dianjurkan. Anda
harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan obat sebaiknya disuntik atau
diminum sehingga kadar glukosa darah menjadi seimbang.
h. Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.
Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan glukosa oleh
usus.Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran darah dibandingan dengan
glukosa. Insulin yang kadung beredar ini akan menyebabkan kadar glukosa darah
menurun sebelum glukosa yang baru menggantikannya.
i.  Gangguan hormonal.
Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon glukagon. Hormon
ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon ini maka
pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.
j. Pemakaian aspirin dosis tinggi.
Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi melebihi dosis 80 mg.
k. Riwayat hipoglikemia sebelumnya.
Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih terasa dalam
beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa baikan tetapi belum menjamin
tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.

C. Faktor Resiko Hip[oglikemi


1. Bayi dari ibu dengan dibetes melitus (IDM)
2. Neonatus yang besar untuk massa kehamilan (BMK)
3. Bayi prematur dan lebih bulan
4. BBLR yang KMK/bayi kembar dapat terjadi penurunan cadangan glikogen hati
dan lemak tubuh
5. Bayi sakit berat karena meningkatnya kebutuhan metabolisme yang melebihi
cadangan kalori
6.   Neonatus yang sakit atau stress (sindrom gawat napas, hipotermia)
7. Bayi dengan kelainan genetik/gangguan metabolik (penyakit cadangan glikogen,
intoleransi glukosa)
8. Neonatus puasa
9. Neonatus dengan polisitemia
10. Neonatus dengan eritroblastosis
11. Obat-obat maternal misalnya steroid, beta simpatomimetik dan beta blocker
Faktor predisposisi terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat pengobatan
insulin atau sulfonylurea: (Mansjoer A, 1999)
1) Faktor-faktor yang berkaitan dengan pasien
 pengurangan/keterlambatan makan
  kesalalahan dosis obat
  latihan jasmani yang berlebihan
 penurunan kebutuhan insulin
 penyembuhan dari penyakit
 nefropati diabetic
  hipotiroidisme
 penyakit Addison
 hipopituitarisme
 hari-hari pertama persalinan
 penyakit hati berat
 gastro paresis diabetic
2) Faktor-faktor yang berkaitan dengan dokter
 pengendalian glukosa darah yang ketat
  pemberian obat-obat yang mempunyai potensi hiperglikemik
  penggantian jenis insulin

D. Patofisiologi
Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama bergantung pada
glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar.Saat jumlah glukosa terbatas, otak dapat
memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di astrosit, namun itu dipakai dalam
beberapa menit saja.Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak sangat tergantung
pada suplai glukosa secara terus menerus dari darah ke dalam jaringan interstitial dalam
system saraf pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf tersebut.
Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun, maka akan
mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental seseorang
telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah 65 mg/dl (3.6 mM).
Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55 mM), sebagian besar
neuron menjadi tidak berfungsi sehingga dapat menghasilkan koma.
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah
insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat,
protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis.
§   dehidrasi
§   kehilangan elektrolit
§   asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang
pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali, kedua factor ini
akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang
berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan
elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang di tandai oleh urinaria
berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. penderita
ketoasidosis diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400
hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode waktu 24 jam.
Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi asam-asam
lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi badan keton oleh hati,
pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang berlebihan sebagai akibat
dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut,
badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam sirkulasi darah, badan keton akan
menimbulkan asidosis metabolic.
Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik
akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti
perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak
tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan
fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi, sakit
kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta lidah, bicara
pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional,
penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping
gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.
Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat
berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia
yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi,
serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran
(Smeltzer. 2001).

PathWay Hipoglikemia

E. Manifestasi klinis
a. Jitteriness
b. Sianosis
c. Kejang atau tremor
d. Letargi dan menyusui yang buruk
e. Apnea
f. Tangisan yang lemah atau bernada tinggi
g. Hipotermia
h. RDS
i. Refleks hisap bayi kurang
j. Gerakan mata berputar/nistagmus
k. Keringat dingin
l. Pucat
m. Muntah
n. Apatis
F. Klasifikasi Hipoglikemia
Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:
a. Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun
normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga terjadi
hiperinsulin.
b.  Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi
mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan
glikogen.
c. Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi
peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.
d. Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau
metabolisme insulin terganggu.
G. Pemeriksaan Diagnostic

1. Gula darah puasa


Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi glukosa 75 gram
oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post prandial
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2 jam
3. HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar gula darah
yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3
bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal
antara 4- 6%. Semakin tinggi maka akan menunjukkan bahwa orang tersebut
menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu
5. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi

H. Penatalaksanaan
a. Glukosa Oral 
Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan pemeriksaan glukosa darah
kapiler, 10-   20 gram glukosa oral harus segera diberikan. Idealnya dalam bentuk
tablet, jelly atau 150- 200 ml minuman yang mengandung glukosa seperti jus buah
segar dan nondiet cola. Sebaiknya coklat manis tidak diberikan karena lemak dalam
coklat dapat mengabsorbsi glukosa. Bila belum ada jadwal makan dalam 1- 2 jam
perlu diberikan tambahan 10- 20 gram karbohidrat kompleks.Bila pasien
mengalami kesulitan menelan dan keadaan tidak terlalu gawat, pemberian gawat,
pemberian madu atau gel glukosa lewat mukosa rongga hidung dapat
dicoba.            
b. Glukosa Intramuskular
Glukagon 1 mg intramuskuler dapat diberikan dan hasilnya akan tampak dalam 10
menit. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang
merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di
dalam hati.Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan
gula darah dalam waktu 5-15 menit. Kecepatan kerja glucagon tersebut sama
dengan pemberian glukosa intravena. Bila pasien sudah sadar pemberian glukagon
harus diikuti dengan pemberian glukosa oral 20 gram (4 sendok makan) dan
dilanjutkan dengan pemberian 40 gram karbohidrat dalam bentuk tepung seperti
crakers dan biscuit untuk mempertahankan pemulihan, mengingat kerja    1 mg
glucagon yang singkat (awitannya 8 hingga 10 menit dengan kerja yang
berlangsung selama 12 hingga 27 menit). Reaksi insulin dapt pulih dalam waktu5
sampai 15 menit.Pada keadaan puasa yang panjang atau hipoglikemi yang diinduksi
alcohol, pemberian glucagon mungkin tidak efektif.Efektifitas glucagon tergantung
dari stimulasi glikogenolisis yang terjadi.

c. Glukosa Intravena
Glukosa intravena harus dberikan dengan berhati- hati. Pemberian glukosa dengan
konsentrasi 40 % IV sebanyak 10- 25 cc setiap 10- 20 menit sampai pasien sadar
disertai infuse dekstrosa 10 % 6 kolf/jam.

I. Pencegahan Hipoglikemi
 Menghindari factor resiko yang dapat dicegah, contohnya hipotermi
 Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling penting.
 Jika bayi tidak mungkin menyusu, mulailah pemberian minum dengan
menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam setelah lahir.
 Neonats yang beresiko tinggi harus dipantau nilai glikosanya sampai asupannya
penuh dari 3x pengukuran normal sebelum pemberian minum berada diatas
45mg/dl
 Jika ini gagal, terapi intravena dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar
glukosa dipantau.

J. Perawatan Hipoglikemi
Kebutuhan glukosa>12mg/kg/menit menunjukkan adanya hiperinsulinisme. Keadaan ini
dapat diperbaiki dengan
 Hidrokortison 5 mg/kg IV atau IM setiap 12 jam
 Glucagon 200 mg IV (segera atau infus berkesinambungan 10 mg/kg/jam)
 Diazoxide 10mg/kg/hari setiap 8 jam menghambat sekresi insulin pancreas.

K. Pengkajian Primer Hipoglikemi


a) Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bernafas dengan bebas,ataukah
ada secret yang menghalangi jalan nafas. Jika ada obstruksi, lakukan :
 Chin lift/ Jaw thrust
 Suction
 Guedel Airway
   Instubasi Trakea

b) Breathing
Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan :
  Beri oksigen
 Posisikan semi Flower
c) Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah
 Cek capillary refill
 Auskultasi adanya suara nafas tambahan
 Segera Berikan Bronkodilator, mukolitik.
 Cek Frekuensi Pernafasan
 Cek adanya tanda-tanda Sianosis, kegelisahan
 Cek tekanan darah
 Penilaian ulang ABC diperlukan bila kondisi pasien tidak stabil
d) Disability
Menilai kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respon
terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Kaji pula tingkat mobilisasi
pasien.Posisikan pasien posisi semi fowler, esktensikan kepala, untuk
memaksimalkan ventilasi.Segera berikan Oksigen sesuai dengan kebutuhan, atau
instruksi dokter.

L. Pengkajian sekunder Hipoglikemi

Data dasar yang perlu dikaji adalah :


1. Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering
hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain
sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.
2. Riwayat :
 ANC
 Perinatal
 Post nata
 Imunisasi
 Diabetes melitus pada orang tua/ keluarg
 Pemakaian parenteral nutrition
   Sepsis
 Enteral feeding
 Pemakaian Corticosteroid therapi
  Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika
 Kanker
3. Data fokus
Data Subyektif:
 Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
 Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
 Rasa lapar (bayi sering nangis)
 Nyeri kepala
 Sering menguap
 Irritabel
Data obyektif:
 Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
 Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat
irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma
  Plasma glukosa < 50 gr/
Pengkajian head to toe
 Data subyektif :
 Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat penyakit sekarang
  Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori,infeksi
atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang berhubungandengan faktor-
faktor psikologis dan social, obat-obatan atau terapi lainyang
mempengaruhi glikosa darah, penghentian insulin atau obat
antihiperglikemik oral.
Data Obyektif
 Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus
ototmenurun, gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan takipnea
pada keadaan istrahat atau aktifitasLetargi/disorientasi, koma
 Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas
dankesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yanglama,
takikardia.Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi
yangmenurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit
panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung
 Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
 Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasanyeri/terbakar,
kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeritekan abdomen,
diare.Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat
berkembangmenjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin
berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus
lemahdan menurun, hiperaktif (diare)
 Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet,
peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badanlebih
dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid)Tanda :
Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensiabdomen, muntah,
pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhanmetabolik dengan peningkatan
gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
 Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada
otot, parestesi, gangguan penglihatanTanda : Disorientasi, mengantuk,
alergi, stupor/koma (tahap lanjut),gangguan memori (baru, masa lalu),
kacau mental, refleks tendondalam menurun (koma), aktifitas kejang
(tahap lanjut dari DKA).
 Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)Tanda : Wajah
meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
 Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen
(tergantung adanya infeksi/tidak)Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa
sputum purulen, frekuensi pernapasan meningkat
 Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulitTanda : Demam, diaphoresis, kulit
rusak, lesi/ulserasi, menurunnyakekuatan umum/rentang gerak,
parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium
menurun dengan cukup tajam)
 Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi)Masalah impoten pada pria,
kesulitan orgasme pada wanita
 Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke,
hipertensi.Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid,
diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar
glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai
pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam
pengaturan diit, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadapglukosa
darah.

M. Diagnosa Keperawatan Yang mungkin Muncul


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Asma adalah sebagai
berikut:
1. resiko ketidakseimbangan kadar glukosa darah berhubungan dengan kadar glukosa
plasma rendah.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan reflek
hisap bayi lemah.
3. PK: Hipoglikemia
4. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.
5. Resiko Keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan peningkatan
pengeluaran keringat.
6. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan hipoglikemi pada otot.

N. Asuhan Keperawatan

No Diagnosa  Kep NOC / Tujuan NIC / Intervensi


1.1. Resiko  Cek serum glukosa sebelum dan
ketidakseimbangan setelah makan
kadar glukosa  Monitor : kadar glukosa, pucat,
darah berhubungan
dengan kadar keringat dingin, kulit yang
glukosa plasma lembab
rendah.  Monitor vital sign
 Monitor kesadaran
 Monitor tanda gugup,
irritabilitas
 Lakukan pemberian susu manis
peroral 20 cc X 12
 Analisis kondisi lingkungan
yang berpotensi menimbulkan
hipoglikemi.
 Cek BB setiap hari
 Cek tanda-tanda infeksi
 Hindari terjadinya hipotermi
 Lakukan kolaborasi pemberian
Dex 15 % IV

2. Ketidakseimbangan NOC NIC


nutrisi kurang dari  Nutritional status Nutrition management
kebutuhan tubuh  Nutritional status: food  Kaji adanya alergi makanan
berhubungan and fluid  Kolaborasi dengan ahli gizi
dengan reflek hisap  Intake untuk menentukan jumlah kalori
bayi lemah.  Nutritional status: dan nutrisi yang dibutuhkan
nutrient intake pasien
 Weight control  Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
Kriteria hasil: vitamin C
 Adanya peningkatan  Berikan subtansi gula
berat badan sesuai  Yakinkan diet yang dimakan
dengan tujuan mengandung tinggi serat untuk
 Berat badan ideal mencegah konstipasi
sesuai dengan tinggi  Berikan makanan yang terpilih
badan (sudah dikonsultasikan dengan
 Mampu ahli gizi)
mengidentifikasi
 Ajarkan pasien bagaimana
kebutuhan nutrisi
membuat cataan makanan harian
 Tidaka ada tanda
 Monitor jumlah nutrisi dan
malnutrisi
kandungan kalori
 Menunjukkan
peningkatan fungsi  Berikan informasi tentang
pengecapan dari kebutuhan nutrisi
menelan  Kaji kemampuan pasien untuk
 Tidak tejadi penurunan mendapatkan nutrisi yang
berat badan yang dibutuhkan
berarti
Nutrition monitoring
 BB pasien dalam batas normal
 Monitor adanya penurunan berat
badan
 Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
 Monitor kulit kering dn
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam dan mudah patah
 Monitor mual muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein,Hb, dan dkadar Ht
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan dn
kekeringan jaringan konjungtiva
 Monitor kalori dan intake nutrisi
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papilla lidh dan
cavitas oral
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
 Berikan informasi tentang
heamolitik desaese of the
newborn. Diskusikan kenyataan
bahwa terapi tergantung pada
tipe dan beratnya penyakit.
 Kaji tingkat pengetahuan
keluarga pasien tentang penyakit
yang diderita
 Beri penjelasan pada keluarga
klien tentang penyakit dan
kondisi bayi sekarang
 Minta keluarga klien mengulangi
kembali tentang materi yang
telah diberikan
3 PK: Hipoglikemia Setelah dilakukan tindak-  Pantau kadar gula sebelum
an keperawatan  selama … pemberian obat hipoglikemia
Populasi resiko x 24 jam, perawat akan  Pantau tanda gejala hipoglikemia
tinggi : menangani dan  Jika klien dapat menelan berikan
- DM meminimalkan episode jus jeruk, cola, atau jahe setiap
- Nutrisi Parenteral hipoglikemia dngan 15 menit sampai kadar gula
- Sepsis gejala : meningkat diatas 69 mg/dl
- Terapi  Kadar gula <70 mg/dl  Jika klien tidak dapat menelan
Kortikosteroid  Kulit lembab dingin, berikan glucagon SC atau 50 ml
- Hiperglikemia pucat glukosa 50% IV
- Hiupoglikemia  Takikardi  Periksa kadar gula darah setelah
hiperfungsi kelenjar  Gelisah 1 jam pemberian terapi glukosa
adrenal  Tidak sadar  Konsul dengan ahli gizi untuk
 Mudah mengantuk pemberian kudapan atau
 Tidak terkoordinasi kabohidrat yang lebih kompleks

4. Resiko terjadi NOC NIC


infeksi  Immune status Infection control (control infeksi)
berhubungan  Knowledge: infection  Bersihkan lingkungan setelah
dengan penurunan control dipakai pasien lain
daya tahan tubuh.  Risk control  Pertahankan teknik isolasi
           Kriteria hasil:  Batasi pengunjung bila perlu
 Penularan Klien bebas  Intruksikan pada pengnjung
dari tanda dan gejala untuk mencuci tangan saat
infeksi berkunjung dan setelah
 Mendeskripsikan berkunjung meninggalkan pasien
proses penularan  Gunakan sabun antimikroba ntuk
penyakit, factor yang mencuci tangan
mempengaruhi  Cuci tangan setiap sebelum dan
penularan serta sesudah tindakan keperawatan
penatalaksanaannya
 Gunakan baju, sarung tangan
 Menunjukkan
sebagai pelindung
kemampuan untuk
 Pertahankan lingkungan aseptic
mencegah timbulnya
selama pemasangan alat
infeksi
 Jumlah leukosit dalam  Ganti letak IV perifer dan line
batas normal central dan dressing sesuai
 Menunjukkan perilaku dengan petunjuk umum
hidup sehat  Gunakan kateter intermiten
untuk menrunkan infeksi
kandung kemih
 Tingkatkan inatake nutrisi
 Berikan terapi antibiotic bila
perlu

Infection protection
 Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan local
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap
infeksi
 Batasi pengunjung
 Sering pengunjung terhadap
penyakit menular
 Pertahankan teknik asepsis pada
pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kulit pada
area epidema
 Infeksi kulit dan membrane
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainaase
 Inpeksi kondisi luka/insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
 Dorongan masukkan cairan
 Dorong istirahat
 Intruksikan pasien untuk minum
antibiotic sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari
infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kltur positif
2.    
14. 

5. Resiko NOC NIC


Keseimbangan  Fluid balance Fluid management
cairan dan elektrolit  Hydration  Timbang popok/pembalut jika
berhubungan  Nutrional status: food diperlukan
dengan peningkatan and fluid  Pertahankan catatan intake dan
pengeluaran  Intake output yang akurat
keringat. Kriteria hasil  Monitor status hidrasi
 Mempertahankan (kelembaban membrane mukosa,
urine output sesuai nadi adekuat,tekanan darah
dengan usia dan BB, ortostatik), jika diperlukan
BJurine normal, HT  Monitor vital sign
normal  Monitor masukkan
 Tekanan makanan/cairan dan hitung
darah,nadi,suhu tubuh intake kalori harian
dalam batas normal  Kolaborasikan pemberian cairan
 Tidak ada tanda IV
dehidrasi  Monitor status nitrisi
 Elastisitas turgor kulit  Berikan cairan IV pada suhu
baik, membrane ruangan
mukosa lembab, tidak  Dorng masukkan oral
ada rasa haus yang
 Berikan penggantian nasogastric
berlebihan
sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Tawarkan snack (jus buah, buah
segar)
 Kolaborasi dokter jika ada tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
 Atur kemungkinan transfuse
 Persiapan untuk transfuse
Hipovolemia management
 Monitor status cairan termasuk
intake dan output cairan
 Pelihara IV line
 Monitor tingkat Hb dan
hematocrit
 Monitor tanda vital
 Monitor respon pasien terhadap
penambahan cairan
 Monitor berat badan
 Dorong pasien untuk menambah
intake oral
 Pemberian cairan IV monitor
adanya tanda dan gejala
kelebihan volume cairan
 Monitor adanya tanda gagal
ginjal
6. Keterbatasan gerak n  Bantu pemenihan kebutuhan
dan aktivitas           sehari-hari
berhubungan             Lakukan fisiotherapi
dengan hipoglikemi
pada otot.  Ganti pakaian bayi secara teratur
(
dan atau jika kotor dan basah.

7. Ketidak efektifan NOC NIC


termoregulasi Hidration Temperature regulation (pengaturan
berhubungan Adherence behavior suhu)
dengan hipoglikemi Immune status  Monitor suhu minimal tiap 24
Risk kontrol jam
Risk detection  Rencanakan monitoring suhu
Kriteria hasil: secara kontinyu
 Kesimbangan antara  Monitor TD, Nadi,RR
produksi panas, panas  Monitor warna kulit dan suhu
yang diterima dan kulit
kehilangan panas  Monitor tanda hipotermi dan
 Seimbang antara hipertermi
produksi panas, panas  Tingkatkan intake cairan dan
yang diterima dan nutrisi
kehilangan panas
 Selimuti pasien untuk mencegah
selama 28 hari
hilangnya kehangatan tubuh
pertama kehidupan
 Ajarkan pasien cara mencegah
 Kesimbangan basa
keletihan akibat panas
bayi baru lahir
 Temperatur stabil:  Diskusikan tentang pentingnya
36,5-37Oc pengaturan suhu dan
 Tidak ada kejang kemugkinan efek negative dari
 Tidak ada perubahan kedinginan
warna kulit  Beritahu tentang indikasi
 Glukosa darah stabil terjadinya keletihan dan
 Pengendalian penanganan emergency yang
beresiko: hipertermi diperlukan
 Pengendalian resiko:  Ajarkan indikasi dari hipotermi
hypotermia dan penanganan yang diperlukan
 Pengendalian resiko:  Berikan antipiretik jika perlu
proses menular
 Pengendalian resiko:
paparan sinar
matahari

DAFTAR PUSTAKA
Nining. 2009. Koma Hipoglikemia. Dimuat dalam http://ns-nining.blogspot.com/2009/07/koma-
hipoglikemi.html
_________. 2010. Askep Hipoglikemia. Dimuat dalam http://blog.ilmukeperawatan.com/askep-
hipoglikemia.html
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Joanne C. McCloskey. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). Mosby-Year Book
Judith M. Wilkinson. 2005. Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Intervention
and NOC Outcomes. Upper Saddle River: New Jersey

BAB II
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian dan Data Subjektif


I. Identitas klien
Nama : By Ny. E
TTL/Jam : 26 Januari 2017/09:00 Wib
Usia : 3 hari
Anak Ke : 3 dari 3 bersaudara
Jenis Kelamin : Perempuan
Nama Ayah : Tn.Tatang
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : SMA
Nama Ibu : Ny. Tursinah
Umur : 27 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Tanggal Pengkajian : 28 Januari2017
Tanggal masuk RS : 28 Januari 2017
No RM : 108955
Alamat : Kihapi Barat RT/RW 09/03 desa Leuwigajah Kecamatan
Cimahi Selatan
Dx Medis : Hipoglikemi
II. Keluhan Utama
Keluarga mengatakan bayi baru lahir usia2 hari dengan keluhan bayinya gemetar,
tangisannya lemah, pucat, timbul keringat dingin, dan bayi malas menyusu.
III. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
a. Prenatal
Klien adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara.Ibu klien mengatakan kehamilannya
tidak direncanakan.Keluhan selama kehamilan tidak ada.Ibu klien juga
mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obatan selama hamil.Kontrol
kehamilan ada yaitu sebanyak 3 kali.Ibu klien mengatakan tidak pernah
mendapat imunisasi TT, hanya mendapat kapsul vitamin A sebanyak 1 kali.
b. Intranatal
Klien lahir melalui persalinan spontan. Persalinan ditolong oleh bidan
setempat dengan usia kehamilan cukup bulan (± 38 minggu) atau aterm. Ibu
klien mengatakan tidak dapat mengingat berapa lama proses persalinan.
Penggunaan alat khusus seperti vacum, dan forcep untuk membantu proses
persalinan tidak ada, komplikasi persalinan tidak ada.
c. Neonatal
BB klien waktu lahir 4000 gram, bayi termasuk SMK, Panjang badan (ibu
lupa). ASI diberikan 48 jam setelah kelahiran. Sebagai pengganti ASI, klien
mendapat 8x30 cc susu formula.
d. Postnatal
Klien dirawat di rumah bidan selama 2 hari.Perubahan berat badan tidak
diketahui.
IV. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien masuk RSU Kasih Bunda Padang pada tanggal 28Januari 2017 pukul 08:00
WIB dengan keluhan bayinya malas menyusu disertai gemetar, tangisannya
lemah, pucat, timbul keringat dingin.
V. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan memiliki riwayat penyakit diabetes atau penyakit gula yang
diderita oleh ibu sebelum hamil hingga saat hamil. Dan ibu mengatakan tidak
mempunyai penyakit kelamin, darah tinggi, hepatitis, TBC, asma dan HIV/AIDS
begitu pula dengan keluarganya.
VI. Riwayat Laktasi
Ibu mengatakan bayinya kesulitan minum ketika di beri ASI sejak lahir, daya
hisapnya pun lemah. Ketika disusui bayi terlihat malas dan tertidur.
VII. Riwayat Eliminasi
Bayi BAB 2 kali sehari. Dan BAK 7 kali dalam sehari.
VIII. Riwayat Imunisasi
Ibu mengatakan bayinya telah mendapat imunisasi Hb0 pada umur 1 hari.
IX. Data Objektif
1. Keadaan umum Keadaan Umum : Bayi terlihat lemas dan mengantuk
Tanda-tanda vital :
Nadi : 134 x/menit
Pernapasan : 65 x/menit
Suhu : 36 °C
2. Ukuran antropometri
BB : 4000 gram
LK : 35 cm
LILA : 10 cm
PB : 52 cm
LD : 34 cm
X. Pemeriksaan Fisik
a.     Kepala : Tidak ada moulase , tidak ada caput succadenum, tidak ada
cephalhematom, ubun-ubun lunak, tidak cekung/cembung, tampak verniks
di kulit kepala.
b.      Telinga : Simetris, letak sejajar dengan ujung mata.
c.       Mata : Mata tidak kering, konjungtiva merah muda, sklera putih, gerakan
mata berputar.
d.       Hidung : Tidak ada napas cuping hidung, tidak ada ronchi dan wheezing,
pernapasan belum teratur.
e.        Mulut : Tidak ada labiopalatoskizis, reflek hisap lemah
f.       Leher : Pergerakan leher tampak ekstensi bila badan diangkat, tidak ada
fraktur klavikula, tidak ada pembesaran abnormal.
g.       Dada : Normal, payudara dan puting susu simetris, bunyi nafas dada
vaskuler, tidak terdengan bunyi jantung ke tiga.
h.       Abdomen : Bentuk normal. Tidak ada pembesaran hepar, keadaan tali pusat
masih basah dan tidak ada tanda infeksi.
i.         Punggung : Tidak ada spina bifida.
j.         Genital : Jenis kelamin perempuan, labia mayora menutupi labia minora
k.        Anus : Berlubang dan sudah mengeluarkan mekonium.
l.         Kulit : Terdapat verniks kaseosa sedikit, warna kulit merah tidak keriput,
turgor kulit jelek, tidak ada pembengkakan dan tidak ada tanda lahir.
m.      Ekstremitas
·     Atas : Gerakan tangan lemah, jari-jari tangan lengkap, dan tidak ada
kelainan.
·      Bawah : Gerakan kaki lemah, jari-jari lengkap, dan tidak ada kelainan.
n.        Reflek
-   Reflek moro : ada
-    Reflek rooting : lemah
-     Reflek sucking : lemah
-     Reflek swallowing : ada
-      Reflek tonik neck : ada
-      Reflek babinsky : ada
XI. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium, GDS bayi : 39 mg/dl
( <180 mg/dl )
Hb: 11,2
Leukosit: 20.300
Ht: 45
Tromosit: 230 ribu
XII. Data Tambahan
GDS ibu : 250 mg/dl
B. Analisa Data

N Data Etiologi Masalah


O
1. Data Subjektif Resiko
 Keluarga mengatakan ketidakseimbangan
bayinya gemetar, kadar glukosa darah
tangisannya lemah, pucat, berhubungan dengan
timbul keringat dingin, dan kadar glukosa plasma
bayi malas menyusu. rendah.
Data Objektif:
 GDS bayi : 39 mg/dl
( < 180 mg/dl )
 Nadi : 134 x/menit
 Pernapasan : 65
x/menit
 Suhu : 36 °C
 Bayi lemas dan mengantuk
2. Data Subjektif: Resiko Ggn
 Ibu mengatakan bayinya Keseimbangan cairan
kesulitan minum ketika di
beri ASI sejak lahir dan elektrolit
 daya hisapnya pun lemah berhubungan dengan
 Ketika disusui bayi terlihat
malas dan tertidur. peningkatan
Data Objektif: pengeluaran keringat
Bayi terlihat lemas dan
mengantuk
3. Data subjektif: Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
 Ibu bayi mengatakan bayi
kebutuhan tubuh
kesulitan minum sejak lahir berhubungan dengan
reflek hisap bayi
 reflek hisap bayi lemah
lemah.
Data objektif
 reflek hisap lemah
4. Data Subjektif Ketidakefektifan
 ibu bayi mengatakan bayi termoregulasi
keringat dingin berhubungan dengan
Data objektif hipoglikemi
 akaral dingin
5. Data Subjektif Resiko terjadi infeksi
berhubungan dengan
 -
penurunan daya tahan
Data Objektif tubuh.
 Hb: 11,2
 Leukosit: 20.300
 Ht: 45
 Tromosit: 230 ribu

C. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko ketidakseimbangan kadar glukosa darah berhubungan dengan kadar glukosa
plasma rendah.
2. Resiko Keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan peningkatan
pengeluaran keringat.
3. Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan hipoglikemi
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan reflek
hisap bayi lemah.
5. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.
6. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan hipoglikemi pada otot.
D. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa  Kep NOC / Tujuan NIC / Intervensi


1.1. Resiko  Cek serum glukosa sebelum dan
ketidakseimbangan setelah makan
kadar glukosa  Monitor : kadar glukosa, pucat,
darah berhubungan
dengan kadar keringat dingin, kulit yang
glukosa plasma lembab
rendah.  Monitor vital sign
 Monitor kesadaran
 Monitor tanda gugup,
irritabilitas
 Lakukan pemberian susu manis
peroral 20 cc X 12
 Analisis kondisi lingkungan
yang berpotensi menimbulkan
hipoglikemi.
 Cek BB setiap hari
 Cek tanda-tanda infeksi
 Hindari terjadinya hipotermi
 Lakukan kolaborasi pemberian
Dex 15 % IV

2. Ketidakseimbangan NOC NIC


nutrisi kurang dari  Nutritional status Nutrition management
kebutuhan tubuh  Nutritional status: food  Kaji adanya alergi makanan
berhubungan and fluid  Kolaborasi dengan ahli gizi
dengan reflek hisap  Intake untuk menentukan jumlah kalori
bayi lemah.  Nutritional status: dan nutrisi yang dibutuhkan
nutrient intake pasien
 Weight control  Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
Kriteria hasil: vitamin C
 Adanya  Berikan subtansi gula
peningkatan berat badan  Yakinkan diet yang dimakan
sesuai dengan tujuan mengandung tinggi serat untuk
 Berat badan ideal mencegah konstipasi
sesuai dengan tinggi badan  Berikan makanan yang terpilih
 Mampu (sudah dikonsultasikan dengan
mengidentifikasi ahli gizi)
kebutuhan nutrisi
 Ajarkan pasien bagaimana
 Tidak ada tanda
membuat cataan makanan harian
malnutrisi
 Menunjukkan  Monitor jumlah nutrisi dan
peningkatan fungsi kandungan kalori
pengecapan dari menelan  Berikan informasi tentang
 Tidak tejadi kebutuhan nutrisi
penurunan berat badan  Kaji kemampuan pasien untuk
yang berarti mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan

Nutrition monitoring
 BB pasien dalam batas normal
 Monitor adanya penurunan berat
badan
 Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
 Monitor kulit kering dn
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam dan mudah patah
 Monitor mual muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein,Hb, dan dkadar Ht
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan dn
kekeringan jaringan konjungtiva
 Monitor kalori dan intake nutrisi
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papilla lidh dan
cavitas oral
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
 Berikan informasi tentang
heamolitik desaese of the
newborn. Diskusikan kenyataan
bahwa terapi tergantung pada
tipe dan beratnya penyakit.
 Kaji tingkat pengetahuan
keluarga pasien tentang penyakit
yang diderita
 Beri penjelasan pada keluarga
klien tentang penyakit dan
kondisi bayi sekarang
 Minta keluarga klien mengulangi
kembali tentang materi yang
telah diberikan
4. Resiko terjadi NOC NIC
infeksi  Immune status Infection control (control infeksi)
berhubungan  Knowledge: infection  Bersihkan lingkungan setelah
dengan penurunan control dipakai pasien lain
daya tahan tubuh.  Risk control  Pertahankan teknik isolasi
           Kriteria hasil:  Batasi pengunjung bila perlu
 Penularan Klien bebas  Intruksikan pada pengnjung
dari tanda dan gejala untuk mencuci tangan saat
infeksi berkunjung dan setelah
 Mendeskripsikan berkunjung meninggalkan pasien
proses penularan  Gunakan sabun antimikroba ntuk
penyakit, factor yang mencuci tangan
mempengaruhi  Cuci tangan setiap sebelum dan
penularan serta sesudah tindakan keperawatan
penatalaksanaannya
 Gunakan baju, sarung tangan
 Menunjukkan
sebagai pelindung
kemampuan untuk
 Pertahankan lingkungan aseptic
mencegah timbulnya
selama pemasangan alat
infeksi
 Jumlah leukosit dalam  Ganti letak IV perifer dan line
batas normal central dan dressing sesuai
 Menunjukkan perilaku dengan petunjuk umum
hidup sehat  Gunakan kateter intermiten
untuk menrunkan infeksi
kandung kemih
 Tingkatkan inatake nutrisi
 Berikan terapi antibiotic bila
perlu

Infection protection
 Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan local
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap
infeksi
 Batasi pengunjung
 Sering pengunjung terhadap
penyakit menular
 Pertahankan teknik asepsis pada
pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kulit pada
area epidema
 Infeksi kulit dan membrane
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainaase
 Inpeksi kondisi luka/insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
 Dorongan masukkan cairan
 Dorong istirahat
 Intruksikan pasien untuk minum
antibiotic sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari
infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kltur positif
2.    
14. 

5. Resiko NOC NIC


Keseimbangan  Fluid balance Fluid management
cairan dan elektrolit  Hydration  Timbang popok/pembalut jika
berhubungan  Nutrional status: food diperlukan
dengan peningkatan and fluid  Pertahankan catatan intake dan
pengeluaran  Intake output yang akurat
keringat. Kriteria hasil  Monitor status hidrasi
 Mempertahankan (kelembaban membrane mukosa,
urine output sesuai nadi adekuat,tekanan darah
dengan usia dan BB, ortostatik), jika diperlukan
BJurine normal, HT  Monitor vital sign
normal  Monitor masukkan
 Tekanan makanan/cairan dan hitung
darah,nadi,suhu tubuh intake kalori harian
dalam batas normal  Kolaborasikan pemberian cairan
 Tidak ada tanda IV
dehidrasi
 Monitor status nitrisi
 Elastisitas turgor kulit
 Berikan cairan IV pada suhu
baik, membrane
ruangan
mukosa lembab, tidak
ada rasa haus yang  Dorng masukkan oral
berlebihan  Berikan penggantian nasogastric
sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Tawarkan snack (jus buah, buah
segar)
 Kolaborasi dokter jika ada tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
 Atur kemungkinan transfuse
 Persiapan untuk transfuse
Hipovolemia management
 Monitor status cairan termasuk
intake dan output cairan
 Pelihara IV line
 Monitor tingkat Hb dan
hematocrit
 Monitor tanda vital
 Monitor respon pasien terhadap
penambahan cairan
 Monitor berat badan
 Dorong pasien untuk menambah
intake oral
 Pemberian cairan IV monitor
adanya tanda dan gejala
kelebihan volume cairan
 Monitor adanya tanda gagal
ginjal
7. Ketidak efektifan NOC NIC
termoregulasi Hidration Temperature regulation (pengaturan
berhubungan Adherence behavior suhu)
dengan hipoglikemi Immune status  Monitor suhu minimal tiap 24
Risk kontrol jam
Risk detection  Rencanakan monitoring suhu
Kriteria hasil: secara kontinyu
 Kesimbangan antara  Monitor TD, Nadi,RR
produksi panas, panas  Monitor warna kulit dan suhu
yang diterima dan kulit
kehilangan panas  Monitor tanda hipotermi dan
 Seimbang antara hipertermi
produksi panas, panas  Tingkatkan intake cairan dan
yang diterima dan nutrisi
kehilangan panas
 Selimuti pasien untuk mencegah
selama 28 hari
hilangnya kehangatan tubuh
pertama kehidupan
 Ajarkan pasien cara mencegah
 Kesimbangan basa
keletihan akibat panas
bayi baru lahir
 Diskusikan tentang pentingnya
 Temperatur stabil: pengaturan suhu dan
36,5-37Oc kemugkinan efek negative dari
 Tidak ada kejang kedinginan
 Tidak ada perubahan  Beritahu tentang indikasi
warna kulit terjadinya keletihan dan
 Glukosa darah stabil penanganan emergency yang
 Pengendalian diperlukan
beresiko: hipertermi  Ajarkan indikasi dari hipotermi
 Pengendalian resiko: dan penanganan yang diperlukan
hypotermia  Berikan antipiretik jika perlu
 Pengendalian resiko:
proses menular
 Pengendalian resiko:
paparan sinar
matahari