Anda di halaman 1dari 1

Ketamin perioperatif untuk analgesia akut dan lebih

Abstrak
Ada beberapa perhatian mengenai penggunaan ketamin untuk analgesia perioperatif.
Artikel terbaru menunjukkan ketamin dosis rendah membuat perhatian kembali pada
penguunaan obat untuk nyeri akut. Perhatian lain mengenai efek ketamin sebagai
antidepresan juga membuat aplikasi di luar kamar operasi. Dalam artikel ini, kami akan
meninjau: sejarah penggunaan ketamin; farmakologi ketamin; bukti pada penggunaan
ketamin perioperatif analgesia; seleksi ketamin pada penelitian ketamin, diskusi mengenai
keamanan dan efek samping pada infus ketamin melewati kamar operasi, dan terakhir,
ketamin sebagai opsi terapi pada penyakit psikiatri.

Gambaran historis
Pada tahun 1965, Domino, Chodoff, dn Corssen mempublikasi penemuan mereka dari
penggunaan CI-581, yang akhirnya disebut sebagai ketamin, pada 20 orang tahanaan
‘sukarelawan’. Penelitian berikutnya menunjukkan penggunaan ketamin sebagai agen
induksi begitu juga anestesi tunggal pada prosedur pembedahan minor. Saat ini ketamin
dikenal sebagai ageni anestesi intravena Bersama dengan thiopental, propofol. Efek
samping ketamin membatasi pengunaannya sebagai agen anestesi tunggal pada sebagian
besar pembedahan. Efek samping ini didasarkan pada tulisan Domino dkk:

Saat periode pemulihan subjek menunkukkan reaksi psikiatri. Beberapa kembali dengan
orientasi tempat dan waktu dengan tidak ada perbedaaan, beberapa ditandai dengan
perubahan pada mood dan afek, beberapa menjadi gelisah dan agresif dan lainnya menjadi
apatis. Sebagian besr subjek merasa mati rasa, pada kejadian ekstrim terasa sebagai tanpa
tangan atau kaki, atau merasa telah meninggal. Saat disentuh dan digerakkan, stimulus
tersebut ditangkap. Semua subjek munujukkan nystagmus dan ataxia. Penurunan ketajaman
penglihatan ditandai. Reaksi lain ditandai dengan perasaan terasing dan isolasi, negative,
permusuhan, apatis, mengantuk, hipnogenik, perilaku motorik berulang

Kadang-kadang beberapa subjek mengalami mimpi dengan pengalaman hidup yang jelas
atau halusinasi yang nyata. Beberapa diantaranya melibatkan memori dari program televisi
atau pengalaman pada beberapa hari sebelumnya, atau saat dengan keluarga di rumah atau
berada di luar angkasa dan sebagainya. Beberapa fenomea ini terasa nyata, sehingga subjek
tidak dapat memastikan bahwa hal ini benar-benar tidak terjadi.

Oleh karena itu, dalam praktik klinis anestesiologis harus selalu waspada dan
memperhatikan efek samping seperti delirium, halusinasi dan mimpi buruk, hipersalivasi,
nystagmus, hipertensi dan takikardia serta disforia. Efek anesthesia general ketamin
dimediasi oleh N-methyl-D-Aspartate (NMDA) reseptor antagonis. Mekanisme aksi potensial
lainnya termasuk reseptor opioid mu, kappa, delta. Ketamin sering dirujuk sebagai
antagonis dari potensiasi bergantung frekuensi dari respon nyeri atau fenomena wind up.
Klasifikasi dari ketamin sebagai