Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

KEPUTUSASAAN

Dosen Pengampu :
Reni Nurhidayah,S.Kep.,Ns.,M.Kep

Nama Kelompok :
1. Cici Aprillia (1811B0010)
2. Delta Seviana (1811B0014)
3. Elon Bora Bili (1811B0024)

INSTITUT ILMU KESEHATAN STRADA INDONESIA


FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

Kediri, 15 Oktober 2020

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................1
DAFTAR ISI.............................................................................................................................2
BAB I : PENDAHULUAN.......................................................................................................3
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah.......................................................................................................3
1.3. Tujuan..........................................................................................................................4
BAB II : TINJAUAN TEORI..................................................................................................5
2.1. Definisi........................................................................................................................5
2.2. Etiologi Keputusasaan.................................................................................................5
2.3. Manifestasi Klinis........................................................................................................5
2.4. Akibat Keputusasaan...................................................................................................7
2.5. Pencegahan..................................................................................................................8
2.6. Penatalaksanaan Medis................................................................................................9
BAB III : PENUTUP..............................................................................................................11
3.1. Kesimpulan................................................................................................................11
3.2. Saran..........................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................12

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keputusasaan menggambarkan individu yang tidak melihat adanya kemungkinan untuk
memperbaiki hidupnya dan bersih keras mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang
dapat membantunya.
Keputusasaan berbeda dengan ketidakberdayaan orang yang putus asa tidak melihat
adanya solusi untuk permasalahannya atau tidak menemukan cara untuk mencapai apa
yang diinginkannya. Sebalikya orang yang tidak berdaya masih dapat menemukan
alternatif atau untuk masalah tersebut, tetapi tidak mampu melakukan sesuatu untuk
mewujudkannya karena kurangnya kontrol dan sumber yang tersedia.
Perasaan tidak berdaya yang tidak kunjung hilang dapat menimbulkan keputusasaan.
Keputusasaan biasanya terkait dengan duka cita, depresi, dan keinginan untuk bunuh diri.
Untuk individu dengan resiko bunuh diri perawat juga harus menggunakan resiko bunuh
diri.
Setiap orang pernah mengalami keputusasaan dalam hidupnya. Hal ini muncul dalam
berbagai bentuk dan merupakan sejenis perasaan yang lebih sering dan lebih umum
dirasakan daripada dilaporkan. Keputusasaan sering terlihat pada mereka yang cenderung
kaku dan tidak fleksibel baik dalam pikiran, perasaan maupun perilaku.
Keputusasaan adalah keadaan dimana seseorang atau individu tidak mampu
memandang kehidupan ke arah yang lebih baik dan cenderung putus asa akan segala
kemampuannya dan kebanyakan ungkapan klien mengarah ke situasi kehidupan tanpa
harapan dan terasa hampa.
Dari semua cobaan dan kesulitan yang kita alami di dalam hidup, mungkin yang
paling berbahaya ialah keputusasaan. Terkadang pengalaman keputusasaan ini dinamakan
malam yang gelap dalam jiwa kita. Bila mengalami keputusasaan kita seperti merasa
bahwa semua jenis terang sirna dan pergi, lalu kita sendiri sedang berdiri di dalam
kegelapan. Barangkali dapat menjadi satu penghiburan kecil kalau masing – masing dari
kita menyadari dan mengakui bahwa setiap orang mengalami keputusasaan pada waktu
dan tempat tertentu di dalam hidup, tanpa kecuali.

1.2. Rumusan Masalah


1) Apa yang dimaksut dengan keputusasaan?
2) Bagaimana etiologi keputusasaan?
3) Apa saja penyebab keputusasaan?

3
4) Bagaimana cara penanganan masalah keputusasaan?
1.3. Tujuan
1) Mampu memahami dan menjelaskan definisi keputusasaan.
2) Mampu memahami dan menjelaskan etiologi keputusasaan.
3) Mampu memahami dan menjelaskan penyebab keputusasaan.
4) Mampu memahami dan menjelaskan cara penanganan masalah keputusasaan.

4
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Definisi
Keputusasaan adalah kondisi individu yang memandang adanya keterbatasan atau
tidak tersedianya alternative pemecahan pada masalah yang di hadapi (SDKI, 2016)
Keputusasaan adalah Kondisi subjektif yang ditandai dengan individu memandang
hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada alternatif atau bahkan tidak ada alternatif atau
pilihan pribadi dan tidak mampu memobilisasi energi demi kepentingan sendiri (NANDA
2009, hal 216).
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupannya
terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki
harapan tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak
menemukan solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau
siapapun tidak akan bisa membantunya
2.2. Etiologi Keputusasaan
Beberapa faktor penyebab orang mengalami keputusasaan yaitu :
a. Faktor kehilangan
b. Kegagalan yang terus menerus
c. Faktor Lingkungan
d. Orang terdekat ( keluarga )
e. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
f. Adanya tekanan hidup
g. Kurangnya iman
2.3. Manifestasi Klinis
a. Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam,
berlebihan dan berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal
yang mustahil isyarat verbal tentang kesedihan.
Contoh ungkapan :
- “Lebih baik saya menyerah karena saya tidak mampu memperbaiki keadaan.”
- “Masa depan saya seolah suram.”
- “Saya tidak dapat membayangkan masa depan saya 10 tahun kedepan.”
- “Saya sadar bahwa saya tidak pernah mendapatkan apa yang saya inginkan
sebelumnya.”
- “Rasanya saya tidak mungkin menggapai kepuasan dimasa yang akan datang.”

5
1) Fisiologis :
- Respon terhadap stimulus melambat
- Tidak ada energy
- Tidur bertambah
2) Emosional :
- Individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan
perasaannya tapi dapat merasakan
- Tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan
tuhan
- Tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
- Hampa dan letih
- Perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
- Tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
3) Individu Memperlihatkan :
- Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan
- Penurunan verbalisasi
- Penurunan afek
- Kurangnya ambisi, inisiatif, serta minat.
- Ketidakmampuan mencapai sesuatu
- Hubungan interpersonal yang terganggu
- Proses pikir yang lambat
- Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya sendiri.
4) Kognitif :
- Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan
membuat keputusan
- Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah
yang dihadapi saat ini
- Penurunan fleksibilitas dalam proses piker
- Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
- Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
- Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang
ditetapkan
- Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan
- Tidak dapat mengenali sumber harapan
6
- Adanya pikiran untuk membunuh diri.
b. Minor ( mungkin ada )
1) Fisiologis
- Anoreksia
- BB menurun
2) Emosional
- Individu marasa  putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
- Merasa berada diujung tanduk
- Tegang
- Muak ( merasa ia tidak bisa)
- Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
- Rapuh
3) Individu Memperlihatkan
- Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara
- Penurunan motivasi
- Keluh kesah
- Kemunduran
- Sikap pasrah
- Depresi
4) Kognitif
- Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
- Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa dating
- Bingung
- Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
- Distorsi proses pikir dan asosiasi
- Penilaian yang tidak logis
2.4. Akibat Keputusasaan
Akibat yang dapat ditimbulkan dari terjadinya keputusasaan yaitu :
1) Stres
2) Depresi
3) Galau
4) Sakit
5) Pola hidup yang tidak teratur
6) Letih, Lesu, Lemah; disebabkan karena faktor psikis

7
7) Hilang kesempatan yang ada, karena ketika kesempatan itu datang ia sibuk dengan
rasa putus asa yang ada.
8) Trauma; tidak lagi memiliki keberanian dan kemampuan untuk melakukan hal yang
sama karena takut akan mengalami rasa putus asa untuk yang kedua kalinya.
9) Gila; akibat jangka panjang yang umumnya terjadi pada sebagian orang
10) Sakit; diawali dengan makan yang tidak teratur, tidur terlalu larut, beban pikiran yang
berlebihan.
11) Kematian; beberapa mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dan tidak hanya karena
sakit yang berkepanjangan namun juga karena faktor psikis yang berlebihan.
2.5. Pencegahan
Di bawah ini ada beberapa cara mencegah timbulnya keputusasaan yaitu :
1) Berbaik sangkalah kepada ALLAH,Ingat bahwa setiap yang kita alami ada
hikmahnya. Semua ini hanyalah sebuah cobaan dan bukti kecintaaan tuhan kepada
kita.
2) Berpikir bahwa tidak ada kegagalan yang abadi, karena kita bisa mengubahnya
dengan ber buat hal-hal baru.
3) Tetapkan tindakan kita dalam keadaan apapun kita tetap bisa memilih tindakan atau
mengubah kebiasan lama dan mencari jalan untuk mengatasi masalah yg tengah kita
hadapi
4) Bersikap lebih fleksibel, kehidupan tidak selalu seperti yang di harapkan. Apabila kita
dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru maka ketegangan kita kan berkurang.
5) Kembangkan tindakan yang kreatif. Tanyakan pada diri sendiri "KESEMPATAN
APA BAGI SAYA DI SINI ? JALAN MANA YANG TERBUKA BAGI SAYA ?"
6) Evaluasi setiap situasi. Pikirkan segala tindakan sebelum bertindak agar bisa di
dapatkan pemecah masalah yang baik.
7) Lihat sisi positifnya. Kegagalan memang  merupakan pengalaman yang menyakitkan.
Tapi daripada  memikirkan kerugian yang kita alami, lebih baik fokuskan pada apa
yang telah kita pelajari.
8) Bertanggung jawab. Jangan salah kan orang lain  jika gagal,tapi perhatikan baik-baik
masalah nya dan cobalah memahaminya. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana
mengatasinya?
9) Pelihara selera humor dan tertawa memang tidak segera memecahkan masalah,tetapi
akan membantu kita melihat masalah secara perspektif. Hal itu bagaikan cahaya
dalam kegelapan.

8
10) Ingatlah bahwa kegagalan adalah guru yang paling berharga kita bisa belajar tentang
bagaimana kita bisa gagal dan bagaimana kita mengatasi sebuah kegagalan.
2.6. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis pada orang yang mengalami keputusasaan yaitu :
a. Psikofarmaka
Terapi dengan obat-obatan sehingga dapat meminimalkan gangguan keputusasaan.  
b. Psikoterapi
Adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan
terapi psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas
sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi  ini bermacam-
macam bentuknya antara lain psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan
dorongan, semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan semangat
juangnya.
Psikoterapi Re-eduktif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang
yang maksudnya memperbaiki kesalahan  pendidikan di waktu lalu, psikoterapi
rekonstruktif dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah
mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit,
psikologi kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya
pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai
moral etika. Mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, dsbnya.
Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang
terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri, psikoterapi keluarga
dimaksudkan untuk memulihkan penderita dan keluarganya.
c. Terapi Psikososial
Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi
dengan lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak
tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban keluarga. Penderita selama
menjalani terapi psikososial ini hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat
psikofarmaka.
d. Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa.
Dari penelitian didapatkan kenyataan secara umum komitmen agama berhubungan
dengan manfaatnya di bidang klinik. Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual

9
keagamaan seperti sembahyang, berdoa, mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan,
ceramah keagamaan, kajian kitab suci dsb.
e. Rehabilitasi
Program rehabilitasi penting dilakukan sebagi persiapan penempatan kembali
kekeluarga dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi)
rehabilitasi misalnya di suatu rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan
berbagai kegiatan antara lain; terapi kelompok, menjalankan  ibadah keagamaan
bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik berupa olah raga, keterampilan, berbagai
macam kursus, bercocok tanam, rekreasi, dsbnya.
Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara
berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu evaluasi sebelum penderita
mengikuti program rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita akan dikembalikan
ke keluarga dan ke masyarakat.

a. Intervensi;
1) Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan skala koma glascow
Rasional: Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran.
2) Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah.
Rasional: autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan.

3) Pertahankan keadaan tirah baring.


Rasional: aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan Tekanan
Intra Kranial (TIK).
4) Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi
anatomis (netral).
Rasional: menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan
meningkatkan sirkulasi/ perfusi serebral.
5) Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin)
Rasional: meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan
selanjutnya dapat mencegah pembekuan.
b. Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas

10
Rasional: mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan
informasi bagi pemulihan
2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring)
Rasional: menurunkan resiko terjadinya trauma/ iskemia jaringan.
3) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua
ekstremitas
Rasional: meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu
mencegah kontraktur.
4) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
Rasional: dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak
menjadi lebih terganggu.
5) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan
ambulasi pasien.
Rasional program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan
kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam
keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.
c. Intervensi;
1) Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi
Rasional: Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator
dari derajat gangguan serebral
2) Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana
Rasional: melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik
3) Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut
Rasional: Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik
4) Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat)
Rasional: bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi
pesan yang dimaksud
5) Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli terapi wicara.
Rasional: untuk mengidentifikasi kekurangan/ kebutuhan terapi.
d. Intervensi;
1) Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin, tajam/ tumpul,
rasa persendian.

11
Rasional: penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan
perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap keseimbangan.
2) Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh
Rasional: adanya agnosia (kehilangan pemahaman terhadap
pendengaran, penglihatan, atau sensasi yang lain)
3) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu
benda untuk menyentuh dan meraba.
Rasional: membantu melatih kembali jaras sensorik untuk
mengintegrasikan persepsi dan interprestasi stimulasi.
4) Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi
bagian tubuh tertentu.
Rasional: penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu
dalam mengintergrasikan kembali sisi yang sakit.
5) Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang
pendek.
Rasional: pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang
perhatian atau masalah pemahaman.

12
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupannya
terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki
harapan tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak
menemukan solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau
siapapun tidak akan bisa membantunya
3.2. Saran
Pembaca diharapkan banyak membaca referensi lain terkait masalah psikososial :
keputuasaan. Hal ini dimaksudkan agar pembaca lebih memahami terkait masalah klien
dengan gangguan psikososial. Selain itu pembaca juga dapat mencari informasi terkait
jurnal penatalaksanaan terbaru pada klien dengan masalah keputusasaan.

13
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Astri, W. S. (2018). ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA NY. D DENGAN
KEPUTUSASAAN DAN MANAJEMEN ASUHAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
SOSIALISASI SESI I (KEMAMPUAN MEMPERKENALKAN DIRI) DI KELURAHAN
PARAK GADANG TIMUR RW 07 AIR CAMAR (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).
Keliat, B. A., & Akemat. (2010).Model praktek keperawatan Jiwa Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

14

Anda mungkin juga menyukai