Anda di halaman 1dari 50

PENGARUH PEMBERIAN DISCARD PLANING TERHADAP KESIAPAN PULANG

KE RUMAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT GRANDMED


LUBUK PAKAM TAHUN 2020

PROPOSAL

OLEH :

Irma Deliana
NIM: 16.11.040

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA
LUBUK PAKAM TAHUN 2020
Lembar Persetujuan

Proposal Penelitian ini Dengan Judul :

PENGARUHDI RUMAH SAKIT GRANDMED LUBUK PAKAM


TAHUN 2020

Yang Dipersiapkan dan Diseminarkan Oleh :

Irma Deliana
NIM. 16.11.040

Telah Disetujui Untuk Diseminarkan Dihadapan Peserta Seminar Komisi Penguji


Proposal Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Dan Fisioterapi
Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Lubuk Pakam, 2020

Pembimbing

Rahmad Gurusinga S.Kep.Ns, M.Kep


NIK.01.11.11.10.1985
Kata Pengantar

Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena rahmat

dan Karunian-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian dan

penulisan proposal yang berjudul “Pengaruh Pemberian Discard Planing

Terhadap Kesiapan Pulang ke Rumah Pada Pasien Hipertensi di Rumah

Sakit Grandmed Lubuk Pakam Tahun 2020”.

Dalam penyusunan proposal ini saya banyak memperoleh bimbingan,


bantuan, saran dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasi yang sebesar –
besarnya ke pada:
1. Drs. Johannes Sembiring, M.Pd, M.Kes, selaku ketua yayasan Medistra Lubuk
Pakam.
2. Drs. David Ginting, M.Pd, M.Kes, selaku rektor Institut Kesehatan Medistra
Lubuk Pakam.
3. Kuat Sitepu, S.Kep, Ns, M.Kes, selaku dekan program studi fakultas
keperawatan dan fisioterapi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
4. Dr. Arif Sujatmiko, selaku direktur Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam
yang telah memberikan izin ke pada peneliti untuk melakukan penelitian di
Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam.
5. Tati Murni Karokaro, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku ketua program studi ilmu
keperawatan fakultas keperawatan dan fisioterapi Institut Kesehatan Medistra
Lubuk Pakam.
6. Dian Anggrianty, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku sekretaris program studi ilmu
keperawatan Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
7. Kardina Hayati, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku wali tingkat IV program studi ilmu
keperawatan Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam, yang selalu
memberikan motivasi dalam penyusunan proposal.
8. Rahmad Gurusinga S.kep,Ns, M.Kep selaku dosen pembimbing yang telah
banyak memberikan bimbingan, masukan dan arahan selama penulisan
proposal ini.
9. Kepada yang teristimewa, orang tua peneliti ayahanda Iwan dan ibunda
Jumiarna yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moril maupun
materil, serta mendoakan peneliti selama proses pendidikan sehingga peneliti
semangat dalam menyelesaikan pendidikan.
10. Kepada keluarga – keluarga saya yang telah memberikan semangat kepada
saya selama mengerjakan proposal ini.
11. Kepada rekan – rekan Mahasiswa/i Khususnya program studi ilmu
keperawatan Inkes Medistra Lubuk Pakam tingkat lv, yang telah banyak
memberikan motivasi semangat serta dukungan ke pada peneliti.
Peneliti menyadari bahwa yang di sajikan dalam proposal ini mungkin
terdapat banyak kekurangan yang harus di perbaiki, maka peneliti mengharapkan
kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun. Akhir kata peneliti
berharap semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja, serta untuk
kemajuan ilmu pengetahuan.

Lubuk Pakam, Juni 2020


Peneliti

Irma Deliana
NIM. 16.11.040
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL..........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................
DAFTAR SKEMA.........................................................................................

BAB I PENDAUHULUAN........................................................................... 1
1.1. Latar belakang........................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah.................................................................................. 4
1.3. Tujuan Penilitian.................................................................................... 4
1.3.1. Tujuan Umum...................................................................................... 4
1.3.2. Tujuan Khusus.................................................................................... 4
1.4. Manfaat Penelitian................................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 6


2.1. STROKE.................................................................................................. 6
2.1.1. Pengertian............................................................................................ 6
2.1.2. Anatomi................................................................................................ 7
2.1.3. Etiologi.................................................................................................. 8
2.1.4. Tanda dan Gejala................................................................................ 9
2.1.5. Klasifikasi............................................................................................. 11
2.1.6. Patofisiologi.......................................................................................... 14
2.1.6.1. Patofisologi Stroke Non Hemoragik................................................. 15
2.1.7. Plastisitas.............................................................................................. 15
2.2. Cylindrical Grip..................................................................................... 17
2.2.1. Pengertian Cyindrical Grip Movement............................................. 17
2.2.2. Standar Operasional Pelaksanaan Cylindrical Grip Movement.... 17
2.3. Anatomi Terapan dan Biomekanik Sendi Tangan dan Jari –jari..... 18
2.3.1 Tulang.................................................................................................... 18
2.3.2. Sendi Pembentuk pergelenagan jari – jari........................................ 19
2.3.3 Biomekanik sendi pergerakan dan jari – jari radio carpal.............. 19
2.3.4. Muscular............................................................................................... 21
2.3.4.1. Kelompok Ekstrinsik....................................................................... 22
2.3.4.2.Kelompok Intrinsik........................................................................... 24
2.3.5. Arteri.................................................................................................... 26
2.3.6. Sayaraf.................................................................................................. 26
2.4. Hand Dynamometer............................................................................... 26

2.5. Kerangka Konsep Penelitian................................................................. 30


BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 31
3.1. Jenis Rancangan dan Rancangan Penelitian....................................... 31
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................ 32
3.3. Populasi dan Sampel.............................................................................. 33
3.3.1. Populasi Penelitian.............................................................................. 33
3.3.2 Sampel Penelitian................................................................................. 33
3.4. Teknik Sampling..................................................................................... 34
3.5. Metode Pengumpulan Data
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi belum diketahui factor penyebabnya, namun ditemukan

beberapa factor risiko. Banyak factor yang dapat memperbesar risiko atau

kecenderuangan seseorang menderita hipertensi, diantaranya ciri-ciri individu

seperti umur, jenis kelamin dan suku, factor genetic serta factor lingkungan yang

meliputi obesitas, stres, konsumsi garam, merokok. Tekanan darah tinggi atau

hipertensi sering kali disebut sebagai silent killer (pembunuh diam-diam). Karena

termasuk penyakit yang paling mematikan dengan 70% penderita hipertensi tidak

mengetahui dan merasakan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan.

Menurut data WHO, diseluruh dunia, sekitar 972 juta jiwa atau 26,4% penghuni

bumi mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi

29,2% ditahun 2025. Dari 972 juta jiwa pengidap hipertensi, 333 juta jiwa berada

dinegara maju dan 639 sisanya berada di Negara berkembang, termasuk

Indonesia. Berdasarkan data Dapartemen Kesehatan Indonesia, prevalensi

hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dan populasi pada usia 18 tahun keatas

sekitar 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya

mengakibatkan penyakit jantung, gagal ginjal, dan kebutaan [ CITATION Yon16 \l

1033 ].

Berdasarkan WHO standar tekanan darah dianggap normal bila kurang

dari 135/85 mmhg. Sedangkan dikatakan hipertensi bilalebih dari 140/90 mmhg,

dan diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi. Namun bagi Indonesia,

1
banyak dokter berpendapat bahwa tekanan darah yang ideal sekitar 110-120/80-90

mmhg. Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik

terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik menyebabkan besarnya

kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard bahkan walaupun

tekanan diastoliknya dalam batas normal. Hipertensi menjadi masalah kesehatan

masyarakat yang serius, karena jika tidak terkendalikan berkembang dan

menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Akibatnya bisa fatal karena sering

timbul kompliksi [ CITATION Yun18 \l 1033 ].

Dalam perawatan setelah pulang keluarga dan diberi informasi atau

edukasi oleh perawat untuk perawatan pasien, yang terdiri dari berbagai disiplin

ilmu yang bermanfaat bagi pasien dan keluarga dalam pencegahan pemulihan

penyakit. Peran perawat dirumah sakit adalah bekerja sebagai pemberi pelayanan

kesehatan secara professional karena perawat berperan sebagai pengelolah kasus

dan pelaksana perawatan pasien. Sebelum pulang perawat memberikan pelayanan

berupa pelayanan perawatan sebelum pulang yaitu discharge planning hipertensi

dengan memberikan informasi dan mengajarkan keluarga tentang bagaimana

pasien mengatur pola makan, meminum obat secara teratur dan benar, datang

control kerumah sakit tepat waktu dan lain-lain [ CITATION yas19 \l 1033 ]

Perencanaan pulang atau discharge planning merupakan proses yang

dinamis agar tim kesehatan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk

menyiapkan pasien melakukan perawatan mandiri dirumah. Perencanaan pulang

akan menghasilkan sebuah hubungan yang terintegrasi yaitu antara perawatan

yang diterima pada waktu dirumah sakit dengan perawatan yang diberikan setelah
pasien pulang. Perawatan dirumah sakit akan bermakna jika dilanjutkan dengan

perawatan dirumah. Discharge planning yang belum berjalan optimal dapat

mengakibatkan kegagalan dalam program perencanaan perawatan pasien dirumah

yang akan berpengaruh terhadap tingkat ketergantungan pasien, dan tingkat

keparahan pasien saat dirumah. Perencanaan pulang bertujuan untuk membantu

pasien dan keluarga dapat memahami permasalahan dan upaya pencegahan yang

harus ditempuh sehingga dapat mengurangi resiko kekambuhan. Pemberian

informasi yang adekuat melalui program discharge planning dapat meminimalkan

kejadian yang tidak diinginkan, sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan

oleh perawat kepada pasien dan keluarga sangat dibutuhkan untuk merencanakan

kesiapan pemulangan. perawat bertanggung jawab untuk membuat rujukan yang

sesuai dan memastikan bahwa semua informasi yang sesuai telah disediakan

untuk orang-orang yang akan terlibat dalam perawatan pasien tersebut termasuk

keluarganya. Pasien dan keluarganya harus mengetahui bagaimana cara

memanajemen pemberian pemberian perawatan dirumah dan apa yang diharapkan

didalam memperhatikan masalah fisik yang berkelanjutan karena kegagalan untuk

mengerti pembatasan atau implikasi kesehatan (tidak siap menghadapi

pemulangan) dapat menyebabkan pasien terjadi peningkatan komplikasi.

Kesiapan merupakan suatu sikap psikologis yang dimiliki seseorang sebelum

melakukan sesuatu, dimana kesiapan ini dapat dipengaruhi oleh dirinya sendiri

atau oleh pihak luar [ CITATION Dev17 \l 1033 ]

Hasil studi pendahuluan dengan melakukan wawancara kepada 5 perawat

yang bekerja di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam didapatkan bahwa


discharge planning atau perencanaan pulang dilakukan pada saat pasien akan

pulang yang berupa petunjuk pasien pulang. Pemberian discharge planning

meliputi informasi yang berkisar tentang waktu kontrol, cara minum obat,

pemberian surat rujukan, surat sakit, dan perubahan gaya hidup yang harus

dilakukan. Pemberian health education kepada pasien dan keluarga masih bersifat

incidental yaitu jika ada pertanyaan dari pasien atau keluarganya saja dan belum

dikemas dalam format pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Discharge planning yang efektif seharusnya dimulai pada saat pasien

mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan

baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat

kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang “Pengaruh penerapan discharge planning Terhadap Kesiapan

Pulang Kerumah Pada Pasien Hipertensi Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk

Pakam.

1.1 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah

pada penelitian yaitu “Adakah Pengaruh Pemberian Discharge Planning terhadap

Kesiapan Pulang Kerumah pada Pasien Hipertensi di RS Granmed Lubuk Pakam

tahun 2020”?
1.2 Tujuan penelitian

1.2.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pemberian Discharge Planning

terhadap Kesiapan Pulang Kerumah pada Pasien Hipertensi di RS Granmed

Lubuk Pakam tahun 2020.

1.2.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui Kesiapan Pulang Kerumah sebelum dilakukan

Discharge Planning) pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Grandmed

Lubuk Pakam tahun 2020

2. Untuk mengetahui Kesiapan Pulang Kerumah sesudah dilakukan

Discharge Planning) pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Grandmed

Lubuk Pakam tahun 2020

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Bagi rumah sakit

Sebagai bahan masukan dalam pelaksanaan penerapan discharge planning

pada pasien dengan penyakit hipertensi, dan diharapkan bermanfaat bagi

perawat agar dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penerapan discharge

planning pada pasien hipertensi sehingga kemampuan keluarga dalam

memberikan perawatan meningkat

1.4.2 Bagi profesi keperawatan

Ikut berperan serta dalam pengembangan ilmu keperawatan bidang

manajemen khususnya discharge planning sebagai salah satu tindakan

keperawatan mandiri.
1.4.4 Bagi Institusi pendidikan

Penelitian ini dapat bermanfaat untuk di pergunakan sebagai bahan bacaan

di perpustakaan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan

tekanan darah diatas normal atau peningkatan abnormal secara terus menerus

lebih dari suatu periode, dengan tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan

diastolik diatas 90mmHg. (Aspiani, 2014)

2.1.2 Etiologi

Hipertensi Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua

golongan menurut (Aspiani, 2014) :

a. Hipertensi primer atau hipertensi esensial Hipertensi primer atau hipertensi

esensial disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.

Faktor yang memengaruhi yaitu : (Aspiani, 2014)

1. Genetik Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi,

beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini. Faktor genetik ini tidak

dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang memliki tekanan

darah tinggi.

2. Jenis kelamin dan usia Laki - laki berusia 35- 50 tahun dan wanita

menopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. Jika usia

bertambah maka tekanan darah meningkat faktor ini tidak dapat

dikendalikan serta jenis kelamin laki–laki lebih tinggi dari pada

perempuan.
3. Diet Konsumsi diet tinggi garam secara langsung berhubungan dengan

berkembangnya hipertensi. Faktor ini bisa dikendalikan oleh penderita

dengan mengurangi konsumsinya, jika garam yang dikonsumsi

berlebihan, ginjal yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan

cairan lebih banyak dari pada yang seharusnya didalam tubuh.

Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan peningkatan pada volume

darah. Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang

menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan

tekanan darah didalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan

tekanan darah meningkat.

4. Berat badan Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat

badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25% diatas BB ideal)

dikaitkan dengan berkembangnya peningkatan tekanan darah atau

hipertensi.

5 Gaya hidup Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan

pola hidup sehat dengan menghindari faktor pemicu hipertensi yaitu

merokok, dengan merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap

dalam waktu sehari dan dapat menghabiskan berapa putung rokok dan

lama merokok berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi

alkohol yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat

meningkatkan tekanan darah pasien sebaiknya jika memiliki tekanan

darah tinggi pasien diminta untuk menghindari alkohol agar tekanan


darah pasien dalam batas stabil dan pelihara gaya hidup sehat penting

agar terhindar dari komplikasi yang bisa terjadi.

b. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder terjadiakibat penyebab yang jelas.salah satu contoh

hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskular rena, yang terjadiakibat stenosi

arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat

aterosklerosis.stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjalsehingga

terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasn renin, dan

pembentukan angiostenin II. Angiostenin II secara langsung meningkatkan

tekanan darahdan secara tidak langsung meningkatkan sintesis andosteron

danreabsorbsi natrium. Apabiladapat dilakukan perbaikan pada stenosis,atau

apabila ginjal yang terkena diangkat,tekanan darah akan kembalike normal

(Aspiani, 2014).

2.1.3 Patofisiologi

Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curah

jantung) dengan total tahanan prifer. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari

perkalian antara stroke volume dengan heart rate (denyut jantug). Pengaturan

tahanan perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon.

Empat sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara

lain sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin

angiotensin dan autoregulasi vaskular (Udjianti, 2010).

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

terletak di vasomotor, pada medula diotak. Pusat vasomotor ini bermula pada
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna

medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat

vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui

sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Titik neuron preganglion melepaskan

asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh

darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi

pembuluh darah (Padila, 2013).

Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi

respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu dengan

hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan

jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Padila, 2013). Meski etiologi hipertensi

masih belum jelas, banyak faktor diduga memegang peranan dalam genesis

hiepertensi seperti yang sudah dijelaskan dan faktor psikis, sistem saraf, ginjal,

jantung pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin, angiotensin, sodium, dan

air (Syamsudin, 2011).

Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon

rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan

aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan

vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat

memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah (Padila, 2013).

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran keginjal,

menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I

yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini

14 menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan

peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cendrung mencetuskan

keadaan hipertensi (Padila, 2013).

2.1.4 Tanda dan Gejala Hipertensi

Tanda dan gejala utama hipertensi adalah (Aspiani, 2014) menyebutkan

gejala umum yang ditimbulkan akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak

sama pada setiap orang, bahkan terkadang timbul tanpa tanda gejala. Secara

umum gejala yang dikeluhkan oleh penderita hipertensi sebagai berikut:

a. Sakit kepala

b. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk

c. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh

d. Berdebar atau detak jantung terasa cepat

e. Telinga berdenging yang memerlukan penanganan segera

Menurut teori (Brunner dan Suddarth, 2014) klien hipertensi mengalami

nyeri kepala sampai tengkuk karena terjadi penyempitan pembuluh darah akibat

dari vasokonstriksi pembuluh darah akan menyebabkan peningkatan tekanan

vasculer cerebral, keadaan tersebut akan menyebabkan nyeri kepala sampe

tengkuk pada klien hipertensi.

2.1.5 Klasifikasi Hipertensi

Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah tekanan darah

sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80
mmHg. Seseorang yang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari

140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Tabel 1

Klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa sebagai patokan dan diagnosis
hipertensi (mmHg)
Kategori Tekanan Darah
Sistolik Diastolic
Normal < 120 mmHg <80 mmHg
Prehipertensi 120-129 mmHg <80 mmHg
Hipertensi stage I 130-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage II ≥ 140 mmHg ≥ 90 mmHg
(Sumber : American Heart Association, Hypertension Highlights 2018 : Guideline For The

Prevention, Detection, Evaluation And Management Of High Blood Pressure In Adults 2013)

Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer

dan hipertensi sekunder (Aspiani, 2014). Hipertensi primer adalah peningkatan

tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi

merupakan hipertensi primer. Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan

berkembangnya hipertensi primer adalah genetik, jenis kelamin, usia, diet, berat

badan, gaya hidup. Hipertensi sekunder adalah peningkatan tekanan darah karena

suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan

tiroid. Dari 10% kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder. Faktor pencetus

munculnya hipertensi sekunder antara lain: penggunaan kontrasepsi oral,

kehamilan, peningkatan volume intravaskular, luka bakar dan stres (Aspiani,

2014).

2.1.6 Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam

jangka panjang akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh sampai organ

yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi yang dapat terjadi

pada penderita hipertensi yaitu : (Aspiani, 2014)

a. Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di

otak dan akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang

terpajan tekanan darah tinggi.

b. Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik

tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila

membentuk 12 trombus yang bisa memperlambat aliran darah melewati

pembuluh darah. Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan

oksigen miokardium tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia

jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan hipertrofi ventrikel dapat

menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel

terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko

pembentukan bekuan.

c. Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi.

Penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung

akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi.

Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa, banyak cairan tertahan

diparu yang dapat menyebabkan sesak nafas (eudema) kondisi ini

disebut gagal jantung.


d. Ginjal tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal.

Merusak sistem penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat

membuat zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui

aliran darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh.

2.2 Konsep Discharge Planning

2.2.1 Pengertian Discharge Planning

Discharge planning merupakan proses berkesinambungan guna

menyiapkan perawatan mandiri pasien pasca rawat inap. Proses identifikasi dan

perencanaan kebutuhan keberlanjutan pasien ditulis guna memfasilitasi pelayanan

kesehatan dari suatu lingkungan ke lingkungan lain agar tim kesehatan memiliki

kesempatan yang cukup untuk melaksanakan discharge planning. Discharge

planning dapat tercapai bila prosesnya terpusat, terkoordinasi, dan terdiri dari

berbagai disiplin ilmu untuk perencanaan perawatan berkelanjutan pada pasien

setelah meninggalkan rumah sakit. Sasaran pasien yang diberikan perawatan

pasca rawat inap adalah mereka yang memerlukan bantuan selama masa

penyembuhan dari penyakit akut untuk mencegah atau mengelola penurunan

kondisi akibat penyakit kronis. Petugas yang merencanakan pemulangan atau

koordinator asuhan berkelanjutan merupakan staf rumah sakit yang berfungsi

sebagai konsultan untuk proses discharge planning dan fasilitas kesehatan,

menyediakan Pendidikan kesehatan, memotivasi staf rumah sakit untuk

merencanakan serta mengimplementasikan discharge planning. Misalnya, pasien

yang membutuhkan bantuan sosial, nutrisi, keuangan, psikologi, transportasi


pasca rawat inap. (Nursalam, 2016; The Royal Marsden Hospital, 2014; Potter &

Perry, 2005; Discharge Planning Association, 2016 ).

2.2.2 Tujuan Discharge Planning

Discharge planning merupakan kolaborasi antara keperawatan, pasien dan

keluarga pasca rawat inap, yang bertujuan untuk menyiapkan kemandirian pasien

dan keluarga secara fisik, psikologis, social, pengetahuan, keterampilan perawatan

dan sistim rujukan berkelanjutan. Hal tersebut dilaksanakan untuk mengurangi ke

kambuhan, serta menukar informasi antara pasien sebagai penerima layanan

dengan perawat selama rawat inap sampai keluar dari rumah sakit (Nursalam,

2016).

Menurut The Royal Marsden Hospital (2014) tujuan discharge planning

adalah mempersiapkan pasien atau keluarga secara fisik dan psikologis untuk

ditransfer ke lingkungan yang disetujui, memberikan informasi baik tertulis

maupun lisan kebutuhan pasien dan pelayanan kesehatan, mempersiapkan fasilitas

yang digunakan,dan proses perpindahan yang nyaman, serta mempromosikan

tahap kemandirian aktivitas perawatan kepada pasien, orang orang yang ada di

sekitar pasien.

2.2.3. Manfaat Discharge Planning

Discharge planning bermanfaat dalam menurunkan jumlah kekambuhan,

menurunkan perawatan kembali di rumah sakit dan ke ruang kedaruratan yang

tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa, membantu klien untuk memahami

kebutuhan setelah perawatan di rumah sakit, serta dapat digunakan sebagai bahan

dokumentasi keperawatan (Doengoes, Moorhouse & Murr, 2016).


Menurut Nursalam 2016, manfaat Discharge Planning adalah memberikan

tindak lanjut secara sistematis guna memberikan perawatan lanjutan pada pasien,

mengevaluasi pengaruh dari rencana yang telah disusun dan mengidentifikasi

adanya kekambuhan atau perawatan baru yang dibutuhkan serta membantu

pasien supaya mandiri dan siap untuk melakukan perawatan di rumah.

2.2.4. Prinsip Discharge Planning

Prinsip yang diterapkan dalam Discharge Planning menurut Nursalam,

2016 yaitu pasien merupakan sasaran dalam Discharge Planning sehingga perlu

pengkajian nilai keinginan dan kebutuhan pasien berdasarkan pengetahuan dari

tenaga atau sumber daya maupun fasilitas yang tersedia di masyarakat. Kemudian

kebutuhan tersebut akan dikaitkan dengan masalah yang mungkin timbul pada

saat pasien keluar dari rumah sakit. Melalui pengkajian tersebut diharapkan dapat

menurunkan resiko masalah yang timbul pasca rawat inap. Perencanaan pulang

dilakukan secara kolaboratif pada setiap tatanan pelayanan kesehatan dan

dibutuhkan kerja sama yang baik antar petugas.

The Royal Marsden Hospital (2014), mengemukakan Discharge planning

merupakan proses multidisiplin terlatih yang mempertemukan kebutuhan pasien

dengan pelayanan kesehatan. Prosedur discharge planning dilakukan secara

berkesinambungan pada semua pasien kemudian selanjutnya akan dirujuk pada

suatu komunitas atau layanan kesehatan yang aman dan adekuat untuk

menentukan keberlanjutan perawatan antar lingkungan. Selain itu diperlukan

informasi mengenai penyusunan pemulangan antara tim kesehatan dengan pasien


yang disediakan dalam bentuk perawatan berkelanjutan tertulis dengan

mempertimbangkan kepercayaan dan budaya pasien.

Departemen Kesehatan R.I (2008) menjabarkan bahwa prinsip discharge

planning diawali dengan melakukan pengkajian pada saat pasien masuk rumah

sakit guna mempermudah proses identifikasi kebutuhan pasien. Merencanakan

pulang pasien sejak awal dapat menurunkan lama masa perawatan sehingga

diharapkan akan menurunkan biaya perawatan. Discharge planning disusun oleh

berbagai pihak yang terkait antara lain pasien, keluarga, dan care giver

berdasarkan kebutuhan pasien dan keluarga secara komprehensif. Hal ini

memungkinkan optimalnya sumber-sumber pelayanan kesehatan yang sesuai

untuk pasien setelah rawat inap. Prinsip discharge planning juga meliputi

dokumentasi pelaksanaan yang dikomunikasikan kepada pasien dan keluarga

dalam kurun waktu 24 jam sebelum pasien keluar dari rumah sakit.

2.2.5 Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan discharge planning

Menurut penelitian Radiatul (2017) berberapa faktor perawat yang

mempengaruhi pelaksanaan discharge planning yaitu motivasi yang dimiliki oleh

perawat dan cara yang komunikatif dalam penyampaian informasi kepada pasien

dan keluarga sehingga informasi akan lebih jelas untuk dapat dimengerti oleh

pasien dan keluarga. Pengetahuan perawat merupakan kunci keberhasilan dalam

pendidikan kesehatan. Pengetahuan yang baik akan mengarahkan perawat pada

kegiatan pembelajaran pasien dan keluarga, sehingga dapat menerima informasi

sesuai dengan kebutuhan.


Menurut Potter & Perry (2005) faktor yang mempengaruhi keberhasilan

dalam pemberian pendidikan kesehatan yang berasal dari pasien sebagai berikut:

a. Motivasi

Motivasi merupakan keinginan pasien untuk belajar. Apabila

motivasi pasien tinggi, maka pasien akan antusias untuk mendapatkan

informasi tentang kondisinya dan perawatan tindak lanjut untuk

meningkatkan kesehatannya.

b. Sikap positif Sikap positif pasien terhadap penyakit dan perawatan

akan mempermudah pasien untuk menerima informasi ketika

dilakukan pendidikan kesehatan.

c. Emosi Emosi stabil akan mempermudah pasien menerima informasi

yang disampaikan, sedangkan perasaan cemas atau perasaan negatif

lainnya dapat mengurangi kemampuan pasien untuk menerima

informasi.

d. Usia Tahap perkembangan yang berhubungan dengan usia berperan

dalam penerimaan informasi yang akan disampaikan. Semakin dewasa

usia, maka kemampuan menerima informasi semakin baik karena

didukung oleh pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

e. Kemampuan belajar Kemampuan belajar seringkali berhubungan

dengan tingkat pendidikan yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang maka kemampuan dalam menerima informasi

dapat lebih mudah.


f. Kepatuhan Kepatuhan pasien adalah perilaku pasien sesuai dengan

ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan dari pendidikan

kesehatan yang telah disampaikan. Kepatuhan dari pendidikan

kesehatan tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

keberhasilan dari discharge planning.

g. Dukungan Dukungan dari keluarga dan orang sekitar sangat

mempengaruhi proses percepatan kesembuhan seorang pasien.

Keluarga akan melanjutkan perawatan pasien dirumah setelah pasien

dipulangkan. Memberikan informasi kesehatan kepada keluarga dapat

membantu mempercepat proses kesembuhan pasien dan dukungan

yang baik akan mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan

kesehatan dan juga mempengaruhi keberhasilan discharge planning.

2.2.6. Keberhasilan Discharge Planning

Potter & Perry (2005) mengemukakan bahwa keberhasilan tindakan

discharge planning dapat dilihat dari kemampuan pasien dalam tindakan

keperawatan lanjutan secara aman dan realistis setelah keluar rumah sakit dan

dapat dilihat dari kesiapan untuk menghadapi pemulangan Ada beberapa indikator

untuk menilai keberhasilan dalam Discharge Planning antara lain: bahwa pasien

dan keluarga dapat memahami diagnosa, antisipasi tingkat fungsi, obat-obatan dan

pengobatan ketika pulang, antisipasi perawatan tingkat lanjut, dan respons jika

terjadi kegawatan, Pendidikan khusus pada keluarga dan pasien untuk memastikan

perawatan yang tepat setelah pasien pulang, terlaksananya koordinasi dengan

sistem pendukung di masyarakat, untuk membantu pasien dan keluarga membuat


koping terhadap perubahan dalam status kesehatan, serta melakukan relokasi dan

koordinasi sistem pendukung atau memindahkan pasien ke tempat pelayanan

kesehatan lain.

2.2.7. Unsur Discharge Planning

Menurut Discharge Planning Association (2008) mengemukakan bahwa

unsur perencanaan pemulangan meliputi informasi pemberi layanan, waktu,

tanggal, dan lokasi untuk kontrol, pengobatan di rumah yang mencakup resep obat

baru, daftar obat yang harus tersedia saat di rumah dan yang harus dihentikan.

Form informasi obat pada Discharge Planning berisi daftar nama obat, dosis,

frekuensi dan efek samping yang dapat terjadi pada pasien. Selain itu, pada form

discharge planning juga berisi tentang kebutuhan pemeriksaan penunjang medis

yang dianjurkan beserta persiapannya. Informasi mengenai pilihan gaya hidup,

perubahan aktivitas dan latihan, diet yang dianjurkan dan pembatasannya,

petunjuk perawatan diri misalnya perawatan luka, pemakaian obat juga dapat

dituliskan dalam form discharge planning.

2.2.8. Pemberi Layanan Discharge Planning

Proses Discharge planning dilakukan secara komprehensif yang

melibatkan seluruh pemberi layanan kesehatan dalam memberikan layanan

kesehatan kepada pasien, juga melibatkan pasien beserta keluarga bisa juga

dengan antara pelayanan kesehatan dan social (The Royal Marsden Hospital,

2014). Koordinator asuhan berkelanjutan adalah staf rumah sakit yang berfungsi

sebagai konsultan untuk proses Discharge planning yang menyediakan fasilitas

kesehatan, pendidikan kesehatan, dan memotivasi karyawan supaya dapat


merencanakan dan mengimplementasikan Discharge planning (Discharge

planning Association, 2016).

2.2.9. Penerima Discharge Planning

Pasien rawat inap memerlukan Discharge planning untuk perawatan

lanjutan saat berada dirumah (Discharge planning Association, 2016), tetapi

beberapa pasien beresiko tidak dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan

lanjutan, contohnya pasien penderita penyakit terminal atau pasien dengan

kecacatan permanen (Rice, 1992 dalam Perry & Potter,2006). Pasien dan anggota

keluarga harus mendapatkan informasi tentang rencana pemulangan sebelum

keluar dari rumah sakit sehingga diharapkan dapat melakukan perawatan lanjutan

dengan optimal (Medical Mutual of Ohio, 2008). Menurut Standar nasional

Akreditasi Rumah Sakit (2018) rumah sakit menetapkan kreteria pasien yang

menerima Discharge planning antara lain: umur , tidak adanya mobilitas, perlu

bantuan medik dan keperawatan terus menerus, serta bantuan melakukan kegiatan

sehari hari.

2.3 Konsep Kompetensi Perawat dalam Melaksanakan Discharge Planning

2.3.1. Pengertian Kompetensi Perawat

Kompetensi perawat merupakan kemampuan seorang perawat yang dapat

terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam

menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan standar kinerja (performance)

yang di tetapkan . Kompetensi perawat di kelompokkan menjadi 3 ranah utama

yaitu (PPNI,2005):
1. Praktik profesinal ,etis, legal dan peka budaya Bertanggung gugat

terhadap praktek profesional, melaksanakan praktik keperawatan secara

etis, peka terhadap budaya dan melaksanakan praktek secara legal.

2. Pemberian asuhan dan menejeman asuhan keperawatan Menerapkan

prinsip prinsip pokok dalam pemberian dan manajemen asuhan

keperawatan, melakukan pengkajian keperawatan, menyusun rencana

keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana,

mengevaluasi asuhan tindakan keperawatan, menggunakan komunikasi

terapeutik dan hubungan interpersonal dalam pemberian pelayanan,

menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman, serta

menggunakan delegasi dan supervisi dalam pelayanan asuhan

keperawatan.

3. Pengembangan Profesional Melaksanakan peningkatan profesional

dalam praktik keperawatan, meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan

keperawatan serta mengikuti pendidikan berkelanjutan sebagai wujud

tanggung jawab profesi.

Menurut permenkes No. 40 tahun 2017 bahwa pengembangan jenjang

karir perawat dilaksanakan melalaui penempatan perawat pada jenjang yang

sesuai dengan kompetensinya, jenjang karir merupakan jalur mobilitas vertikal

yang di tempuh melaluli peningkatan kompetensi, dimana kompetensi tersebut

diperoleh dari pendidikan formal berjenjang, pendidikan informal yang sesuai/

relevan maupun pengalaman praktik yang di akui. Dan kompetensi perawat klinis

di rumah sakit dideskripsikan sesuai level jenjang karir perawat klinis (PK I-PK
V). Kompetensi perawat klinis 1 adalah melakukan keperawatan dasar di bawah

bimbingan, Perawat klinis 2 melakukan asuhan keperawatan holistik secara

mandiri, perawat klinis 3 kompetensi melaksanakan asuhan keperawatan

komperhensi, perawat klinis 2 dan 4 mempunyai kompetensi kompleks.

2.3.2. Prosedur Pelaksanaan Discharge Planning

Prosedur pelaksanaan Discharge planning meliputi kebutuhan fisik pasien,

psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Menurut Perry &Potter (2006), terdiri

tiga fase, yaitu akut, transisional, dan pelayanan berkelanjutan. Fase akut

perhatian utama medis berfokus pada usaha discharge planning, kebutuhan

pelayanan akut selalu terlihat saat fase transisional tetapi tingkat urgensinya

semakin berkurang, pasien mulai dipersiapkan untuk pulang dan merencanakan

kebutuhan perawatan masa depan, sedangkan fase pelayanan berkelanjutan,

pasien telah mampu dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas perawatan

berkelanjutan yang dibutuhkan setelah pulang. Menurut Slevin, (2010).

Pelaksanaan discharge planning di rumah sakit dilakukan berdasarkan 5 tahapan :

pertama adalah seleksi pasien yaitu di prioritaskan pada pasien yang

membutuhkan discharge planning, kedua yaitu pengkajian Discharge planning

meliputi 4 area yang potensial, yaitu pengkajian fisik dan psikososial, status

fungsional, kebutuhan healt heducation dan konseling, tahap ketiga perencanaan

yang disebut dengan metode “METHOD” diskusi dengan keluarga, kolaborasi

dengan tim kesehatan lainnya, tahap ke empat adalah sumber daya pasien dan

keluarga dengan mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, keuangan, perawatan oleh

keluarga, layanan perawatan profesional, serta tahap terakhir atau tahap kelima
yaitu implementasi dan evaluasi tentang pendidikan kesehatan, memulai proses

rujukan, dokumentasi dan evaluasi kreiteria hasil.

Prosedur Discharge planning ( Perry & Potter) terdiri dari:

1. Pengkajian

Proses pengumpulan, verifikasi dan komunikasi data yang

berhubungan dengan pasien (Potter & Perry, 2005).

a. Pengkajian dilakukan sejak waktu penerimaan pasien, tentang

kebutuhan pelayanan kesehatan untuk pasien pulang dengan

menggunakan riwayat keperawatan, rencana perawatan, dan

pengkajian kemampuan fisik dan fungsi kognitif yang dilakukan

secara terus menerus;

b. Mengkaji kebutuhan pendidikan kesehatan untuk pasien dan

keluarga yang berhubungan dengan proses penyakit, obat-obatan,

prosedur cara perawatan, pencegahan faktor risiko atau hal-hal

yang harus dihindarkan akibat dari gangguan kesehatan yang

dialami, dan komplikasi yang mungkin terjadi;

c. Bersama pasien dan keluarga, mengkaji faktor-faktor lingkungan

rumah sehingga mengganggu perawatan diri ( fasilitas rumah,

kamar mandi );

d. Berkoordinasi dengan dokter dan disiplin ilmu yang lain, mengkaji

perlunya rujukan untuk mendapatkan perawatan di rumah atau di

tempat pelayanan yang lain atau support sisitem:


e. Kaji penerimaan terhadap masalah kesehatan dan larangan yang

berhubungan dengan masalah kesehatan tersebut atau pemahaman

pasien terhadap penjelasan dari fisioterpi dan ahli gizi:

f. Konsultasi dengan tim kesehatan lain tentang berbagai kebutuhan

pasien setelah pulang

2. Diagnosa Keperawatan

Fungsi diagnostik keperawatan merupakan pusat dari peran perawat,

diagnosa keperawatan bersifat indifidu sesuai dengan kebutuhan pasien. Disusun

setelah melakukan pengkajian discharge planning, dikembangkan untuk

mengetahui kebutuhan pasien dan keluarga. Diagnosa keperawatan yang sering

muncul: kecemasan, kurang pengetahuan perawatan diri dan stres, disusun sesuai

problem, etiologi (penyebab), support sistem (faktor pendukung discharge

planning), dengan menentukan tujuan yang relevan, yaitu sebagai berikut, 1).

pasien akan memahami masalah dan implikasinya; 2). pasien akan mampu

memenuhi kebutuhan individunya; 3). lingkungan rumah akan menjadi aman; 4).

tersedia sumber perawatan kesehatan di rumah;

3. Perencanaan

Perencanaan berfokus pada kebutuhan pengajaran yang baik untuk

persiapan pulang pasien, yang disingkat dengan METHOD yaitu:

a. Medication (obat) Pasien diharapkan mengetahui jenis, jumlah obat yang

dilanjutkan pasca rawat inap.


b. Environment (lingkungan) Dalam proses discharge planning dibutuhkan

lingkungan yang nyaman serta fasilitas kesehatan yang baik untuk proses

perawatan setelah rawat inap.

c. Treatment (pengobatan) Perawat memastikan bahwa pengobatan dapat

berlanjut setelah pasien pulang, yang dilakukan oleh pasien dan anggota

keluarga.

d. Health Teaching (pengajaran kesehatan). Sebelum pasien dijadwalkan

untuk pulang, sebaiknya diberikan edukasi tentang kondisi kesehatannya

serta perawatan kesehatan tambahan.

e. Outpatient Referal. Pasien sebaiknya mengenal pelayanan dari rumah sakit

atau komunitas lain diluar rumah sakit yang dapat meningkatkan

perawatan berkelanjutan.

f. Diet Pasien Perawat sebaiknya memberikan edukasi tentang pola makan

yang sebaiknya dikonsumsi oleh pasien.

4. Implementasi

Implementasi dalam Discharge planning adalah pelaksanaan rencana

pengajaran referal. Seluruh pengajaran yang diberikan harus didokumentasikan

pada catatan perawat dan ringkasan pulang (discharge summary). Intruksi tertulis

diberikan kepada pasien, penatalaksanaan dilakukan persiapan sebelum hari

pemulangan pasien dan pada hari pemulangan. Demontrasi ulang harus

memuaskan, pasien dan pemberi perawatan harus memiliki keterbukaan dan

melakukannya dengan alat yang digunakan dirumah. Antara lain:


a. Anjurkan cara-cara merubah pengaturan fisik di rumah sehingga

kebutuhan pasien dapat terpenuhi;

b. Berikan informasi tentang sumber-sumber pelayanan kesehatan di

masyarakat kepada pasien dan keluarga;

c. Lakukan pendidikan untuk pasien dan keluarga sesegera mungkin

setelah pasien dirawat dirumah sakit. Pasien dapat diberikan pamflet

atau buku;

5. Evaluasi

Evaluasi sangat penting dalam proses discharge planning digunakan

untuk persiapan pasien pulang, Perencanaan dan penyerahan harus diteliti dengan

cermat untuk menjamin kualitas dan pelayanan yang sesuai. Untuk evaluasi

kesiapan pasien perlu di lakukan tindakan pada hari kepulangan diantaranya:

a. Biarkan pasien dan keluarga bertanya atau berdiskusi tentang berbagai

isu yang berkaitan dengan perawatan di rumah;

b. Menanyakan kepasien dan keluarga tentang pengetahuan tentang semua

proses discharge planning yang telah di terimah.

c. Perikasa order pulang dari dokter tentang resep, perubahan tindakan

pengobatan, atau alat-alat khusus yang diperlukan;

d. Menentukan pasien atau keluarga telah mengatur transportasi untuk

pulang ke rumah;

e. Tawarkan bantuan ketika pasien berpakaian dan mempersiapkan seluruh

barang-barang pribadinya untuk dibawa pulang;

f. Periksa seluruh barang pasien agar tidak tertinggal;


g. Berikan pasien resep atau obat-obatan sesuai instruksi dokter;

h. Hubungi bagian administrasi untuk mengurus keuangan pasien;

i. Gunakan alat bantu untuk membawa barang-barang pasien dan untuk

mobilisasi pasien (kursi roda);

j. Bantu pasien pindah dari kursi roda;

k. Bantu pasien pindah dari kursi roda ke kendaraan dan bantu untuk

memindahkan barang-barang pasien;

l. Beritahu ke bagian lain tentang waktu pemulangan pasien;

m. Catat kepulangan pasien pada format ringkasan;

n. Dokumentasi status masalah kesehatan saat pasien pulang.

o. Evaluasi apakah pasien dapat menjelaskan penyakit yang diderita,

pengobatan yang dibutuhkan, tanda-tanda fisik atau gejala yang harus

dilaporkan kepada tim medis, dapat mendemonstrasikan

penatalaksanaan pengobatan dilanjutkan di rumah, serta memastikan

hambatan yang membahayakan pasien di rumah sudah diperbaiki.

2.3.4 Kualitas Discharge Planing

Menurut Imbalo (2007) kualitas tidak lepas dengan mutu yang merupakan

keseluruhan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya

dalam memuaskan kebutuhan konsumen, baik berupa kebutuhan yang dinyatakan

maupun kebutuhan yang tersirat. Kata kualitas mengandung banyak definisi dan

makna, diantaranya yaitu: 1). mutu adalah kualitas; 2). kesesuaian; penggunaan,

persyaratan atau tuntunan; 3). melakukan segala sesuatu secara sistematis; 4).

kepuasan pasien; dalam arti pasien itu sendiri maupun keluarganya. Discharge
Planning atau perencanaan pulang merupakan salah satu bentuk pelayanan

keperawatan profesional yang dinamis dan sistematis dari penilaian, persiapan,

serta koordinasi yang dilakukan untuk memberikan kemudahan pengawasan

pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial sebelum dan sesudah pasien pulang.

Discharge planning akan menghasilkan sebuah hubungan yang terintegrasi yaitu

antara perawatan yang diterima pada waktu di rumah sakit dengan perawatan yang

diberikan setelah pasien pulang. Perawatan dirumah akan bermakna jika

dilanjutkan dengan perawatan di rumah. Namun, sampai saat ini discharge

planning bagi pasien yang dirawat belum optimal karena peran perawat masih

terbatas pada pelaksanaan kegiatan rutinitas saja, yaitu hanya berupa informasi

tentang jadwal kontrol ulang (Nursalam, 2016). Hal ini dapat menyebabkan

menurunnya kualitas discharge planning tersebut. Discharge planning dikatakan

baik apabila prosesnya yang terpusat, terkoordinasi, terdiri dari berbagai disiplin

ilmu dan dilakukan sesuai dengan prosedur. Sebaliknya, apabila ada dari prosedur

yang tidak dijalani maka discharge planning dikatakan tidak baik. Maka untuk

meningkatkan kualitas discharge planning diperlukan pelayanan kesehatan

discharge planning yang terstruktur atau sesuai dengan prosedur.

2.4 Konsep Kesiapan Pulang Pasien

2.4.1. Defenisi dan Komponen Kesiapan

Kesiapan berdasar kamus psikologi adalah “tingkat perkembangan dari

kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktekkan

sesuatu”(Chaplin, 2006, halaman 419). Sedangkan Oemar Hamalik (2008,


halaman 94) “kesiapan adalah tingkatan atau keadaan yang harus dicapai dalam

proses perkembangan perorangan pada tingkatan pertumbuhan mental, fisik,

sosial dan emosional”. Menurut Martinsusilo (2007), komponen utama dari

kesiapan yaitu kemampuan dan keinginan. Kemampuan merupakan pengetahuan,

pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki seorang ataupun kelompok untuk

melakukan kegiatan atau tugas tertentu. Keinginan adalah keyakinan, komitmen,

dan motivasi untuk menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu. Kombinasi dari

kemampuan dan keinginan yang berbeda yang ditunjukkan seseorang pada tiap-

tiap tugas yang diberikan itu adalah kesiapan. Menurut Slameto (2013,113)

kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk

memberikan respon atau jawaban dalam cara tertentu terhadap suatu situasi,

penyesuaian pada suatu saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk

memberi respon.

2.4.2. Prinsip-prinsip Kesiapan

Menurut Slameto (2013, 115) prinsip- prinsip kesiapan antara meliputi:

semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruh mempengaruhi,

kematangan jasmani dan rohani untuk memperoleh manfaat dari pengalaman,

pengalaman pengalaman mempunyai pengaruhi yang positif terhadap kesiapan,

dan kesiapan merupakan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode

tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.

2.4.3. Faktor-faktor Kesiapan

Beberapa faktor kesiapan menurut Slameto (2013, 113) terdiri dari 3 aspek

yaitu aspek yang pertama kondisi fisik, mental, dan emosional, aspek kedua yaitu:
kebutuhan-kebutuhan, motif, dan tujuan, aspek yang ketiga adalah ketrampilan,

pengetahuan dan pengertian lain yang telah dipelajari. Ketiga aspek tersebut akan

mempengaruhinya dan memenuhi berbuat sesuatu atau jadi berbuat sesuatu,

konidisi fisik diantarannya; lelah, keadaan, alat indera dan yang permanen ( cacat

tubuh) serta kondisi mental yaitu kecerdasan. Faktor lain menurut penelitihan

Serawati (2015) adalah umur, tingkat pendidikan, pengetahuan, sistem dukungan

sosial dan pelayanan kesehatan.

2.4.4. Tingkat Kesiapan

Martinsusilo (2007) membagi tingkat kesiapan berdasarkan kuantitas

keinginan dan kemampuan bervariasi yaitu :

1. Tingkat kesiapan 1(R1)

Tidak mampu dan tidak ingin, Yaitu tingkatan tidak mampu dan

hanya memiliki sedikit komitmen dan motivasi. Tidak mampu dan

ragu, yaitu tingkatan tidak mampu dan hanya memiliki sedikit

keyakinan.

2. Tingkat kesiapan 2(R2) Tidak mampu tetapi berkeinginan, yaitu

tingkatan yang memiliki sedikit kemampuan tetapi termotivasi dan

berusaha. Tidak mampu tetapi percaya diri, yaitu tingkatan yang

hanya memiliki sedikit kemampuan tetapi tetap merasa yakin.

3. Tingkat kesiapan 3(R3)

Mampu tetapi ragu, yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan untuk

melaksanakan suatu tugas tetapi tidak yakin dan khawatir untuk

melakukannya sendiri.Mampu tetapi tidak ingin, tingkatan yang


memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas tetapi tidak ingin

menggunakan kemampuan tersebut.

4. Tingkat kesiapan 4(R4)

Mampu dan ingin, yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan untuk

melakukan tugas seringkali menyukai tugas tersebut.Mampu dan yakin,

yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas

dan yakin dapat melakukannya seorang diri.

Menurut Wess et al, (2007). kesiapan Pulang merupakan gambaran

kemampuan meninggalkan fasilitas kesehatan, serta mengembangkan 4 dimensi

kesiapan pulang yaitu: status pribadi untuk mengetahui kondisi fisik emosionel

pasien, kedua Tentang pengetahuan yaitu mengetahui berapa jumlah informasi

yang diterima tentang perawatan, ketiga kemampuan yaitu kemampuan

menangani kebutuhan perawatan pribadi dan medis, yang keempat yaitu

dukungan yang diharapkan. Berdasarkan hal di atas disimpulkan bahwa kesiapan

pasien menghadapi pemulangan adalah kemampuan ,pengetahuan, pengalaman,

dan keterampilan untuk melakukan aktifitas atau kegiatan yang diajarkan serta

dianjurkan oleh perawat dan klinisi lain, pasien mengetahui pengobatan,

tandatanda bahaya, aktivitas yang dilakukan, serta perawatan lanjutan di rumah

(The Royal Marsden Hospital, 2014)


2.5 Kerangka Teori

1. Keluarga merupakan entry point dalam Faktor-faktor yang


pemberian pelayanan kesehatan di mempengaruhi kesiapan
masyarakat :

2. Asuhan keperawatan keluarga 1. Kematangan


difokuskan pada peningkatan kesehatan
2. Kecerdasan
anggota keluarga melalui perbaikan
dinamika hubungan internal keluarga, 3. Minat
struktur, dan fungsi keluarga
4. Motivasi
3. Proses keperawatan keluarga meliputi :
5. Kesehatan
pengkajian, diagnosis keperawatan,
intervensi, implementasi, dan evaluasi. 6. Lingkungan

Perencanaan pulang (faktor – faktor yang


perlu dikaji) :

1. Pengetahuan pasien dan keluarga


tentang penyakit, terapi, dan perawatan
kesiapan keluarga
yang diperlukan
dalam merawat
2. Kebutuhan psikologis dan hubungan pasien stroke
interpersonal di dalam keluarga paska akut

3. Pemenuhan kebutuhan aktivitas hidup


sehari-hari seperti makan, minum,
eleminasi, istirahat tidur, berpakaian,
kebersihan diri dll

4. Fasilitas yang ada dirumah dan


harapan pasien setelah dirawat
Sumber : Price & Wilson, 2006, Smeltzer & Bare, 2002, Discharge Planning Assosiation, 2008,
Nursalam, 2013, Alligood & Tomey, 2006, Taufik, 2007

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan model konseptual tentang bagaimana teori

berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah

yang penting dalam penelitian [ CITATION Sug17 \l 1033 ]

Variable Independen (Bebas) Variabel dependen (Terikat)

Penerapan perencanaan kesiapan pasien pulang


pulang (discharge kerumah
planning)

Keterangan :

: Variable yang diteliti

: Mempengaruhi

2.6 Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan

penelitian yang harus dibuktikan kebenarannya dengan fakta empiris dari hasil

penelitian yang dilakukan, [ CITATION Sis17 \l 1033 ]. Hipotesis dalam penelitian

ini adalah ada Pengaruh Discharge Planning Terhadap Kesiapan Pulang Kerumah

Pada Pasien Hipertensi Di Rumah Sakit Granmed Lubuk Pakam Tahun 2020.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, dengan rancangan

penelitian Quasy experimental menggunakan pendekatan One Grup Pretest

Posttest yaitu rancangan ini tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi

paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan

menguji perubahan – perubahan yang terjadi setelah adanya experimen [ CITATION

Not101 \l 1033 ]Dalam penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh

pemberian discharge planning. Dengan discharge planning rutin yang diberikan di

RS Grandmed Lubuk Pakam terhadap kesiapan pulang kerumah pada pasien

hipertensi.Bentuk rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut:

01 X 02

02-01

Skema 3.1 Desain Penelitian

keterangan:

1 : Kesiapan Pasien Pulang sebelum perlakuan

X : Perlakuan

02 : Kesiapan Pasien Pulang sesudah perlakuan

3.2 Waktu Dan Tempat penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit GranMed Lubuk Pakam. Adapun

alasan peneliti memilih tempat penelitian ini adalah:

a. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan adanya peningkatan angka kejadian

Hipertensi baik rawat inap maupun rawat jalan secara reguler yang berjumlah

40 orang.

b. Belum pernah dilakukan penelitian yang sama sebelumnya di Rumah Sakit

GranMed Lubuk Pakam.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dari bulan maret 2020 sampai dengan bulan juni 2020.

N
Waktu
o Kegiatan
Januari Febuari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan
Judul
2 Persiapan
Proposal
3 Ujian
proposal
4 Perbaikan
Proposal
5 Pengumpula
n
Data
6 Pengolahan
Data
7 Analisa data
8 Ujian skripsi
9 Perbaikan
Skripsi
10 Pengumpula
n
Laporan

Tabel: 3.1 Rencana Kegiatan Penelitian


3.3 Populasi Dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti [ CITATION

Not101 \l 1033 ]. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah semua keluarga penderita

Hipertensi yang dirawat di RS Grandmed Lubuk Pakam yang belum diketahui.

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari jumlah populasi atau dengan kata lain

sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti[ CITATION Ari10 \l 1033 ] Besar sampel

ditentukan berdasarkan rumus:

N Z² P (1-P)
n=
N G² + Z²P (1-P)
= 40(1,96)². 0,5(1-0,5)

40(0,1)2 + (1,96)². 0,5(1-0,5)

= 28,35 = 28 responden

Dimana:

n : Besar sampel

N : Jumlah Populasi

Z : Nilai Z pada derajat kemaknaan (biasanya 95% = 1,96)

P : Proporsi, bila peneliti tidak mengetahui besarnya P dalam

populasi, maka P=0,5

G : Galat baku jauhnya dari rata-rata, ditetapkan 1,960 (Tingkat


kepercayaan 95 %)

3.1.2 Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan Non Probability Sampling

yaitu dengan metode Purposive Sampling yaitu pengambilan sampel dari semua subyek yang

datang dan memenuhi kriteria pemilihan sampai jumlah subyek terpenuhi[ CITATION Sas14 \l

1033 ]

Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

1. Keluarga yang sama yang sering ditemui peneliti pada saat penelitian dilakukan, dan yang

nantinya akan merawat pasien dirumah

2. Keluarga dari pasien hipertensi yang mengalami serangan pertama

3. Usia keluarga 18-60 tahun

4. Pendidikan keluarga minimal SMA

5. Bersedia diteliti dan menandatangani informed consent

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:

1. Keluarga dengan latar belakang bidang kesehatan

2. Keluarga dari pasien hipertensi yang mengalami serangan ulang

3. Keluarga dari pasien yang masih dalam kondisi kritis

3.5 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar discharge planning,

Quesioner dan checklist .

3.6 Variabel dan Defenisi Operasional

Adapun bentuk dari pada variabel dan defenisi operasional dari penelitian ini dapat dilihat

pada tabel berikut:


Tabel 3.2. Variabel dan Definisi Operasional

N Defenisi Operasional
Variabel Kategori & kriteria Alat ukur Skala
o
1 Variabel Kegiatan perencanaa 1. Kelompok Format -
independent pulang yang dilakukan eksperimen discharge
: secara bertahap yaitu diberikan planning
Penerapan dari pengkajian, discharge
discharge diagnosis keperawatan, planning
planning intervensi, 2. Kelompok
implementasi, evaluasi control diberikan
dengan memfokuskan discharge
pada kebutuhan fisik planning oleh
pasien, untuk perawat ruangan
membantu keluarga sesuai standar RS
pasien hipertensi
mengidentifikasi
kebutuhan dan rencana
perawatan lanjutan
yang dilakukan sejak
pasien masuk ruang
perawatan sampai
pulang (KRS)

2 Variabel Kemampuan anggota 1. siap jika Lembar Interval


dependent: keluarga pasien pengetahuan kuesioner
Kesiapan hipertensi yang dan & Checlist
pasien mencakup pengetahuan keterampilan
pulang tentang proses responden baik
hipertensi dan (nilai > mean)
keterampilan 2. tidak siap jika
melakukan perawatan pengetahuan
lanjutan dirumah atau
meliputi ketrampilan keterampilan
tentang pemenuhan responden ada
kebutuhan sehari-hari yang tidak baik
(ADL) (nilai mean <
mean)
Data pengetahuan
diperoleh dengan
menggunakan
kuesioner yang berisi
20 item soal yang
mencakup pengertian,
penyebab tanda dan
gejala serta cara
perawatan penyakit
hipertensi. Jika jawaban
benar diberi skor 1 dan
jika jawabab salah
diberi skor 0

Data keterampilan
diperoleh dengan
menggunakan checklist
yang berisi 15 item

3.7 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini, dilakukan dengan teknik pengukuran secara

observasional terhadap suhu tubuh.

3.7.1. Data Primer

1. Data primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, baik dari individu atau

perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa

dilakukan peneliti. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini

menggunakan tehnik observasi.

2. Data sekunder

Data sekunder sering disebut juga metode penggunaan bahan dokumen, karena dalam

hal ini peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi meneliti dan

memanfaatkan data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain.


3.8 Pengolahan Data

Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan

dengan menggunakan cara – cara tertentu diantaranya:

3.8.1 Editing

Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data yang diperoleh.

3.8.2 Coding (Memberi Kode)

Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapan datanya kemudian

diberi kode oleh peneliti sebelum diolah.

3.8.3 Data Entry (Memasukkan Data)

Data Entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam tabel atau

database komputer.

3.8.4 Data Cleaning

Pemerikasaan kembali terhadap semua data yang telah dimasukkan kedalam program

komputer untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya.

3.9Analisa Data

Setelah tahap pengolah data telah dilakukan maka selanjutnya maka selanjutnya dilakukan

analisa terhadap data. Analisa data suatu penelitian, biasanya melalui prosedur bertahap antara

lain [ CITATION Not101 \l 1033 ]

3.9.1 Analisis Univariat

Tujuan dari analisa univariat adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

masing – masing variabel yang diteliti secara sederhana.

3.9.2 Analisis Bivariat


Analisis ini diperlukan untuk menjelaskan atau mengetahui apakah ada pengaruh atau

perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen. Analisis

bivariat dilakukan setelah karakteristik masing – masing variabel diketahui. Data dianalisis

untuk untuk perhitungan bivariat yang pada penelitian ini menggunakan uji paired t-test dengan

taraf signifikan tingkat kepercayaan 95% (p≤ α = 0,05). Pembuktian ini dilakukan untuk

membuktikan hipotesa ada pengaruh pemberian discharge planning terhadap kesiapan pulang

kerumah pada pasien hipertensi apabila p ≤ α = 0,05 dan dibantu dengan menggunakan program

komputerisasi dan program statistik SPSS.