Anda di halaman 1dari 44

PRESENTASI KASUS

Sepsis Neonatorum

Oleh:
Mariska Nada Debora
112017238

Tutor :
dr. Martaviani B, M.Kes, Sp.A

Moderator :
dr. Erita Ilyas, Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
JAKARTA
PERIODE 6 Agustus 2018 – 13 Oktober 2018
BAB I
STATUS PEMERIKSAAN PASIEN

Identitas Pasien
- Nama Pasien : An. A.K
- Jenis Kelamin : Perempuan
- Usia / Tanggal Lahir : 27 hari / 20 Juli 2018
- No. Rekam Medis : 89 – 97 – XX
- Agama : Islam
- Pekerjaan : Dibawah umur
- Alamat : Jl. Mangga Besar
- Tanggal Masuk Rumah Sakit : 20 Juli 2018 pukul 22.14 WIB

Anamnesis : dilakukan secara alloanamnesis dan dari hasil data rekam medik

Keluhan utama : sesak napas

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pada tanggal 20 Juli 2018 pukul 02.20 WIB, lahir bayi perempuan dari ibu 29 tahun
G4P3A0 dengan tindakan section caesaria atas indikasi ketuban pecah dini 5 jam, janin
presentasi kaki-kepala dan gameli. Air ketuban berwarna putih keruh jumlahnya banyak dan
berbau amis. Saat lahir bayi merintih, tidak langsung menangis, gerak tidak aktif, mukosa
mulut sianosis dan kemerahan, pada thorax tampak retraksi, sesak dan terdapat napas cuping
hidung, kemudian dilakukan resusitasi dan bayi dihangatkan, keadaan bayi membaik, gerak
aktif tetapi menangis tidak adekuat, bayi kemudian dipasang CPAP FiO2 30% PEEP 7,
umbilical infus dan OGT. Bayi diberikan injeksi Neo K 1 mg IV, salep mata ODS
Kemicetine, injeksi ampicilin sulbactam 2x40 mg IV, injeksi gentamicin 1x5mg IV/36 jam.
Bayi dicek GDS one touch didapatkan hasil 9 mg/dL kemudian diberi D10% 2 cc, GDS
menjadi 60 mg/dL dan loading NaCl 10 cc dalam ½ jam.
Satu hari perawatan di NICU, keadaan bayi stabil. Infus diganti menjadi PG 1 31
ml/jam, CPAP FiO2 diturunkan menjadi 25% PEEP 5, pasien juga diberi injeksi Aminophilin
2x2,3mg IV untuk mencegah Apnea of prematurity.
Dua hari masa perawatan, pada kedua ekstremitas bayi tampak hematom dan kulit
ikterik dari kepala sampai perut bagian atas (kramer 1-2), dari hasil pemeriksaan bilirubin
didapatkan bilirubin total 17.20 mg/dL, bilirubin direk 2.23 mg/dL dan bilirubin indirek
14.47 mg/dL.
Tiga hari masa perawatan, bayi pasien masih sesak dan retraksi masih ada, CPAP
diganti menjadi CNO FIO2 25% PEEP 5 untuk mencegah distress napas. Pada OGT
didapatkan residu berwarna coklat kehitaman, serta bayi tampak kembung dan distensi, bayi
diberikan injeksi Rantin 3x1mg IV dan injeksi Neo K IM. Selain itu dilakukan
penatalaksanaan untuk mengatasi hiperbilirubinemia dengan fototerapi 1 lampu dan transfusi
FFP 1x10cc (pemberian distop hari ke empat masa perawatan). Infus juga diganti menjadi PG
2 4,2cc/jam. Bayi juga diberikan injeksi albumin 20% 3x6cc karena dari hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan albumin 1.9 mg/dL.
Enam hari masa perawatan, sesak dan retraksi mulai berkurang sehingga CNO diganti
menjadi HFN FiO2 25% flow 7. Pasien juga diberi transfusi FFP 3x10 ml dan PRC 1x20 ml
untuk mengatasi gangguan pembekuan darah dan anemia, dikarenakan dari hasil
laboratorium PT dan APTT memanjang dan kadar Hb menurun. Pemberian antibiotik
sebelumnya, diganti menjadi injeksi ceftazidime 2x50 mg dan injeksi amikin 1x7 mg/24 jam.
Delapan hari masa perawatan, HFN 21% flow 7 turun bertahap menjadi flow 6,3. Dari
hasil pemeriksaan kultur darah dan resistensi obat didapatkan hasil biakan Acinetobacter
baumanii dan pasien sensitif terhadap antibiotik meropenem sehingga antibiotik sebelumnya
diganti menjadi meropenem 3x45 mg dan injeksi metronidazole 2x8,5 mg.
Enam belas hari masa perawatan, bayi diberi myostatin 3x1cc untuk mencegah infeksi
jamur dan probiotik interlac 1x5 tetes per oral.

Dua puluh enam hari masa perawatan bayi diberi tambahan obat prokinetik erisanbe
3x0,5 cc per oral dan untuk mencegah AOP injeksi aminofilin distop, dan ganti caffeine
sitrat 22 mg (loading dose) 24 jam kemudian caffeine sitrat 5,5 mg.

Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga dan lingkungan sekitar :


Orang tua pasien dan kakak pasien tidak memiliki riwayat sakit sebelumnya. Nenek
pasien menderita diabetes mellitus. Kembaran pasien meninggal pada usia 24 hari karena
syok septik
Riwayat kehamilan
Ibu pasien dengan G4P3A0 hamil 28 minggu berusia 29 tahun dengan antenatal care
secara rutin ke dokter kandungan. Selama kehamilan tidak ada keluhan. Riwayat muntah
berlebihan dan kenaikan berat badan yang terlalu cepat disangkal. Ibu pasien juga mengaku
tidak mengalami kejang sepanjang kehamilan. Ibu pasien mengatakan selama hamil
mempunyai riwayat anemia dengan Hb 8,89%, tetapi tidak ada riwayat dilakukan transfusi
darah. Pasien mengatakan tidak merokok, meminum minuman beralkohol. Sepanjang
kehamilan tidak ada perdarahan atau cairan lainnya yang keluar dari vagina. Ibu pasien hanya
minum vitamin dan asam folat yang diberikan oleh dokter.

Riwayat kelahiran

Pada 20 Juli 2018, bayi lahir secara spontan dengan section caesaria di RSPAD Gatot
Soebroto Jakarta dari perempuan usia 29 tahun G4P3A0 dengan usia kehamilan 28 minggu,
atas indikasi ketuban pecah dini 5 jam, janin presentasi kaki-kepala dan gamelli. Air ketuban
berwarna putih keruh, banyak dan berbau amis. APGAR score 5/6, Skor downes 1/1/1/1/2 =
6 (gawat napas). Jenis kelamin perempuan, berat badan lahir 930 gram, panjang badan 36 cm,
lingkar kepala 25 cm, lingkar dada 20 cm, lingkar perut 19 cm, lingkar bahu 23 cm. Setelah
lahir, tanda-tanda vital bayi adalah nadi 250x/menit, pernafasan 68x/menit, suhu 35°C. Saat
lahir, bayi merintih, bayi tidak langsung menangis, menangis tidak adekuat, gerak tidak aktif,
mukosa mulut sianosis dan kemerahan, pada thorax tampak retraksi, sesak, sianosis dan
terdapat napas cuping hidung. Kulit turgor baik, tidak pucat, tidak kuning dan tidak ada
kejang. Capillary refill > 3 detik.

Riwayat Tumbuh Kembang :

Mengikuti objek dengan mata :+


Bereaksi terhadap suara/bunyi :+

Riwayat Makanan

Umur ASI/PASI Buah/Biskuit Bubur Susu Nasi Tim


0 – 2 bulan ASI - - -
Susu BBLR
Riwayat Imunisasi

Imunisasi dasar dan imunisasi tambahan belum dilakukan

Riwayat Keluarga

Anak ke 4 dari 5 bersaudara

No. Tanggal Lahir (Usia) Jenis Kelamin Kondisi saat ini Keterangan
(sehat/lahir
mati/abortus/meninggal)
1. 31 Desember 2018 Laki-laki Sehat
(9 tahun)
2. 5 Februari (4,5 tahun) Laki-laki Sehat
3. 21 Mei 2017 Laki-laki Sehat
(1,4 tahun)
4 20 Juli 2018 (27 hari) Perempuan Sakit
5 20 Juli 2018 (24 hari) Perempuan Meninggal Syok septik

Riwayat Sosial Ekonomi : tempat tinggal keluarga pasien adalah rumah milik sendiri
dengan kondisi rumah bersih, ventilasi ada dan baik, terdiri dari 4 kamar, 3 kamar mandi,
ruang tamu, ruang tengah, dapur dan ruang makan. Lingkungan rumah juga bersih.

Identitas Orang Tua


Data Orang Tua Ayah Ibu
Nama Tn. I.M Ny. I.S
Umur 32 tahun 29 tahun
Perkawinan ke 1 1
Usia saat menikah 22 tahun 19 tahun
Pendidikan SMK SMK
Pekerjaan Karyawan swasta Ibu rumah tangga
Pangkat - -
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Sunda Sunda
Riwayat Penyakit - -

B. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada tanggal 16/08/2018 jam 12.00 WIB


Pasien bayi perempuan usia 17 hari dengan :
Keadaan umum : tampak sakit sedang, gerakan aktif, tangisan kuat
Frekuensi denyut jantung : 130 x/menit, kuat angkat, isi cukup, irama regular dan ekual
..pada keempat ekstremitas
Suhu : 37.0°c diukur pada axilla
Pernapasan : 50x/menit, regular, tidak tampak retraksi, tipe pernapasan
………………..abdominothoraxal
Saturasi oksigen : 97%
BBL / BBS : 930 gram / 1.080 gram

Berat badan : 1.080g


Panjang badan : 38 cm
Lingkar kepala : 27 cm
Lingkar dada : 22 cm
Lingkar perut : 23 cm
Lingkar bahu : 24 cm

Refleks neonatus:

Refleks mencari (rooting) : (+)


Refleks menggenggam (grasping) : (+)
Refleks menghisap (sucking) : (+)
Refleks moro : (+)

Gizi (menurut grafik WHO untuk perempuan usia 0-5 tahun)

BB/U : 1,08 / 27 = (-z-score < -3)


TB/U : 38/ 27 = (-z-score < -3)
IMT/U : 1,08 / (3,8)2 = 0,07 (-z-score < -3)
Kesimpulan : perawakan sangat pendek, gizi buruk dan sangat kurus

Kelainan Mukosa/Kulit/Subkutan Menyeluruh

 Pucat : tidak pucat


 Sianosis : tidak sianosis
 Ikterik : tidak ikterik
 Perdarahan : tidak ada perdarahan
 Edema generalisata : tidak ada
 Perabaan kulit : tidak teraba kasar, akral hangat
 Turgor : baik

Kelenjar Getah Bening

 Leher : tidak teraba pembesaran


 Submandibula : tidak teraba pembesaran
 Supraklavikula : tidak teraba pembesaran
 Axilla : tidak teraba pembesaran
 Inguinal : tidak teraba pembesaran
 Lainnya :-

Kepala : normocephal, tidak ada cephal hematom, tidak ada caput


succadaenum
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
THT : Napas cuping hidung tidak ada
Mulut : Langit-langit intak, mukosa tidak sianosis
Thorax : Datar, simetris, tidak ada retraksi, tidak ada lesi, pergerakan
dada simetris kanan kiri.

Paru-paru
Inspeksi : kanan : simetris, retraksi tidak ada, tidak terlihat adanya massa
: kiri : simetris, retraksi tidak ada, tidak terlihat adanya massa
Palpasi : kanan : tidak ada retraksi, tidak ada massa
: kiri : tidak ada retraksi, tidak ada massa
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : kanan : suara napas vesikular, tidak ada wheezing, tidak ada ronkhi
: kiri : suara napas vesikular, tidak ada wheezing, tidak ada ronkhi

Jantung
Inspeksi : pulsasi iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : teraba iktus cordis pada sela iga V linea midclavicula kiri, tidak kuat
angkat, tidak ada thrill
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I-II murni regular, tidak ada gallop, tidak ada murmur

Abdomen:
Inspeksi : tampak cembung, tidak tampak kemerahan, tidak ada lesi
Auskultasi : bising usus positif (normoperistaltik)
Palpasi : dinding perut supel, turgor kulit baik, tidak teraba pembesaran organ
………..lien dan hepar
Perkusi : tidak dilakukan

Ekstremitas : inspeksi : tidak ada deformitas, tidak ada edema, akrosianosis


: palpasi : tidak ada krepitasi, Capillary refill time < 3 detik
Kulit : tampak merah muda dan transparan

New Ballard Score

Ballard Score : Total skor 10 (28 minggu)


-1 0 1 2 3 4 5
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan di RSPAD GATOT SOEBROTO
(23/07/2018)

JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN


KIMIA KLINIK
Analisis Gas Darah :
 pH  7.443  7.37-7.45
 pCO2  19.6  33-43 mmHg
 pO2  109.0  71-104 mmHg
 Bikarbonat (HCO3)  13.5  22-29 mmol/L
 Kelebihan basa (BE)  -8.9  (-2) – 3 mmol/L
 Saturasi O2  98.9  94-98%

1. Leukopenia (TLC < 5000/mm3)

2. leukositosis sel darah putih > 20.000

3. jumlah neutrophil absolut (ANC) < 1500

neutrophil (I/T) ratio (>0.2)

4. CRP positif
5. kultur : kultur diambil sebelum

antibiotoka diberikan.

(25/07/2018)

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Hasil pemeriksaan :

1. Pemeriksaan radiografi toraks proyeksi AP


- Jantung kesan tidak membesar, CTI = 0.44 (N: 0.50-0.60)
- Aorta dan mediastinum superior tidak melebar
- Trakea di tengah. Kedua hilus tidak menebal
- Tampak bayangan lusensi mengelilingi mediastinum dan jantung
- Tampak streaky infiltrate di suprahilar, perihilar dan parakardial bilateral
- Kedua hemidiafragma licin. Kedua sinus kostofrenikus lancip
- Tulang kesan intak
- Terpasang OGT dengan tip setinggi vertebrae T8-9, proyeksi esofagus

Kesan :

- Bayangan lusensi mengelilingi mediastinum dan jantung, suspek pneumomediastinum


- Streaky infiltrate di suprahilar, perihilar dan parakardial bilateral, DD/HMD
- Ukur jantung normal
- OGT dengan tip proyeksi esofagus
- Tidak tampak pneumothoraks dan emfisema subkutis

2. Pemeriksaan radiografi Abdomen polos


- Preperitoneal fat line sisi kanan-kiri suram
- Psoas line dan kontur ginjal tertutup udara usus
- Udara usus minimal dengan distribusi asimetris
- Tampak dilatasi usus dan penebalan dinding-dinding usus
- Tidak tampak bayangan batu radioopak di proyeksi traktur urinarius
- Tulang-tulang kesan intake

Kesan :

- Udara usus minimal dengan distribusi asimetris disertai dilatasi usus dan penebalan dinding-
dinding usus, sesuai gambaran NEC
(28/07/2018)

No. Jenis Antibiotik MIC Hasil


R S I
1 Piperacillin/Tazobactam, MIC >=128 R
2 Cefepime, MIC >=64 R
3 Ceftriaxone, MIC >=64 R
4 Ceftazidime, MIC >=64 R
5 Meropenem, MIC 1 S
6 Cefazolin, MIC >=64 R
7 Gentamycin, MIC >=16 R
8 Ciprofloxacin, MIC >=4 R
9 Trimetropime/Sulfamethoxazole, >=320 R
MIC
10 Tigecycline, MIC 4 I
11 Ampicillin Sulbactam, MIC >=32 R
12 Amikacin, MIC >=64 R
R = Resisten S = Sensitif I = Intermediate

(02/08/2018)

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Hasil pemeriksaan : telah dilakukan pemeriksaan USG kepala, dengan hasil sbb :

- tampak fissure interhemisphere di tengah


- keadaan hemisphere kanan dan kiri simetris
- tidak tampak pelebaran sistem ventrikel
- tidak tampak adanya lesi fokal pada parenkim
- fissure dan sulci normal
- Kesan : tidak tampak perdarahan ataupun lesi patologis lain pada USG Kepala
tidak tampak hydrocephalus

(07/08/2018)

PEMERIKSAAN ECHOCARDIOGRAPHY

Hasil pemeriksaan : situs solitus, AV VA concordance, balance 4 chambers, all PV drains to LA, no
ASD/VSD/PDA seen, left aortic arch, no CoA, good biventricular function

Kesimpulan : normal heart

(13/08/2018)

Jenis pemeriksaan : kultur darah + resistensi


Jenis bahan : darah
Sediaan langsung : tidak ditemukan adanya kuman
Resistensi test : tidak dilakukan
IV. Resume

Bayi lahir dengan tindakan section caesaria dari perempuan 29 tahun G4P3A0 atas
indikasi ketuban pecah dini 5 jam, janin presentasi kaki-kepala gameli, dengan usia
kehamilan 28 minggu dengan berat badan lahir 930 gram. Ketuban berwarna putih keruh dan
berbau amis. APGAR score 5/6, hasil skor downes menunjukkan bayi mengalami gawat
napas. Setelah lahir tanda-tanda vital bayi adalah nadi 250x/menit, pernafasan 48x/menit,
suhu 35°C, bayi merintih, tidak langsung menangis, gerak tidak aktif, mukosa mulut sianosis
dan kemerahan, pada thorax tampak retraksi, sesak, sianosis dan terdapat napas cuping
hidung. Dari hasil pemeriksaan kultur darah didapatkan hasil biakan bakteri Acinetobacter
baumannii.

V. Diagnosis banding

- Sepsis neonatal ec Acinetobacter baumanii


- Neonatus kurang bulan- sesuai masa kehamilan
- Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR)-Prematur, UG 28 minggu
- Apnea of Prematurity
- Necrotizing enterocolitis
- Respiratory Distress Syndrome ec prematuritas, HMD grade I
- GI Tract bleeding
- Hipoglikemia
- Hyperbilirubinemia
- Gangguan pembekuan darah

VI. Diagnosis kerja

- Sepsis neonatal ec Acinetobacter baumanii


- Neonatus kurang bulan- sesuai masa kehamilan
- BBLASR-Prematur, UG 28 minggu
- Riwayat hipoglikemia transien berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah post transfusi

VII. Anjuran Pemeriksaan

- Pemeriksaan darah lengkap


- Pewarnaan gram
- Kultur darah
- Kadar rasio IT
- Cek fungsi hati
- Cek fungsi ginjal
VIII. Penatalaksanaan

Non medikamentosa :

- Rawat inkubator (jaga T 36,5-37,5oC)


- Terapi O2
- ASI on demand

Medikamentosa :

- Atasi kebutuhan cairan 150 cc/kgBB/hari. tdd : IVFD PG 2 5ml/jam, ASI


12x11ml/OGT
- Atasi infeksi : inj meropenem 3x50 mg IV
- Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5 mg puv p.o
- Cegah jamur sistemik : micostatin drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc minum)
- Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o (stop)
- Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o

IX. Prognosis

- Quo ad Vitam : Dubia ad bonam


- Quo ad Functionam : Dubia ad bonam
- Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam
X. Catatan Perjalanan Penyakit
16/08/18 S: Bayi tidak demam, tidak sesak, tidak - Atasi kebutuhan cairan
Hari menggunakan alat bantu napas. Bayi 150cc/kgBB/hari = 165cc/hari.
perawatan ke minum tidak muntah, tidak kembung. tdd : oral ASI 12x12cc
27 BAB dan BAK ada. (130,9cc/kgBB/hari) stop! Jadi
GDS : 58 mg/dL 12x10cc ; IVFD PG2 1cc/jam ;
O: Keadaan umum: gerak aktif Bila gula darah < 50 mg/dL bolus
Menangis kuat. D10% 2,5 cc
Suhu: 37.0 ˚C - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
Nadi: 120x/menit mg puv p.o
RR: 50x/menit - Atasi gangguan pembekuan darah
BBL/BBS: 930 gr/ 1080 gr : transfusi cryo 3x12cc (2),
Sat O2 : 93% transfuse FFP 3x12cc (2)
UP/US: 27 hari/ 27 hari - Cegah jamur sistemik : micostatin
Kepala: normocephali drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
Mata: Konjungtiva anemis (-), minum)
Sklera ikterik (-) - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
THT: sekret (-), NCH (-) - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab
Thorax: simetris, retraksi (-) Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Cor: Bunyi jantung I-II regular, cairan, toleransi minum, cek GDS dan
murmur (-), gallop (-) lingkar perut tiap pagi, monitoring BB tiap
Pulmo: Suara nafas vesikuler, hari
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: cembung, supel, BU (+) Hasil kultur darah ke 3 (13-8-2018)
………..normal, LP 26 cm
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia (riwayat
fototerapi)
- Riwayat gangguan pembekuan darah post
transfuse
- NKB-SMK SC, UG 28 minggu (UK 32
minggu
17/08/2018 S: Bayi tidak demam, tidak sesak, tidak - IVFD GG2 5cc/jam
Hari menggunakan alat bantu napas. Bayi - ASI 12x10ml/OGT
perawatan ke minum tidak muntah, tidak kembung. - Atasi infeksi : inj meropenem
28 BAB dan BAK ada. 3x50 mg IV (1) s/d 7 hari
O: Keadaan umum: gerak aktif - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
Menangis kuat. mg puv p.o
Suhu: 36.9 ˚C - Atasi gangguan pembekuan darah
Nadi: 136x/menit : transfusi cryo 3x12 cc (3),
RR: 56x/menit transfusi FFP 3x12 cc (3)
BBL/BBS: 930 gr/ 1300 gr - Cegah jamur sistemik : micostatin
Sat O2 : 98% drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
UP/US: 28 hari/ 28 hari minum)
Kepala: normocephali - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Mata: Konjungtiva anemis (-), - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
Sklera ikterik (-)
THT: sekret (-), NCH (-) Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab cairan, toleransi minum, cek GDS dan
Thorax: simetris, retraksi (-) lingkar perut tiap pagi, monitoring BAB
Cor: Bunyi jantung I-II regular, dempul atau tidak, monitoring BB tiap hari
murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: cembung, supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia (riwayat
fototerapi)
- Riwayat gangguan pembekuan darah post
transfuse
18/08/18 S: Bayi tidak demam, tidak sesak, tidak - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari menggunakan alat bantu napas. Bayi cc/kgBB/hari. tdd : IVFD PG 2
perawatan ke minum tidak muntah, tidak kembung. naikkan menjadi 5ml/jam, ASI
29 BAB dan BAK ada. 12x10ml/OGT
GDS : 49 mg/dL - Atasi infeksi : inj meropenem
O: Keadaan umum: gerak aktif 3x50 mg IV (2) s/d 7 hari
Menangis kuat. - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
Suhu: 37.2 ˚C mg puv p.o
Nadi: 140x/menit - Atasi gangguan pembekuan
RR: 48x/menit darah: transfusi cryo selesai,
BBL/BBS: 930 gr/ 1210 gr transfusi FFP selesai
UP/US: 29 hari/ 29 hari - Cegah jamur sistemik : micostatin
Sat O2 : 96% drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
Balance : - 37 cc/Diuresis 4,7 cc minum)
UK : 32-33 minggu - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Kepala: normocephali - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
Mata: Konjungtiva anemis (-),
Sklera ikterik (-) Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
THT: sekret (-), NCH (-) cairan, toleransi minum, cek GDS dan
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab lingkar perut tiap pagi, monitoring BAB
Thorax: simetris, retraksi (-) dempul atau tidak, monitoring BB tiap hari
Cor: Bunyi jantung I-II regular,
murmur (-), gallop (-) Cek DL, PT, APTT, albumin batal
Pulmo: Suara nafas vesikuler, Monitoring hasil kultur darah ke 2
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah post
transfusi
19/07/18 S: Bayi tidak demam, tidak sesak. Bayi - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari minum tidak muntah, tidak kembung. cc/kgBB/hari. tdd : IVFD PG 2
perawatan ke BAB dan BAK ada. 5ml/jam, ASI 12x11ml/OGT
30 GDS : 49 mg/dL - Atasi infeksi : inj meropenem
O: Keadaan umum: gerak aktif 3x50 mg IV (3) s/d 7 hari
Menangis kuat. - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
Suhu: 37.2 ˚C mg puv p.o
Nadi: 138x/menit - Cegah jamur sistemik : micostatin
RR: 48x/menit drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
BBL/BBS: 930 gr/ 1210 gr minum)
UP/US: 30 hari/ 30 hari - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Sat O2 : 96% - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
UK : 32-33 minggu
Kepala: normocephali Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Mata: Konjungtiva anemis (-), cairan, toleransi minum, cek GDS dan
Sklera ikterik (-) lingkar perut tiap pagi, monitoring BB tiap
THT: sekret (-), NCH (-) hari
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab
Thorax: simetris, retraksi (-) Monitoring hasil kultur darah ke 2
Cor: Bunyi jantung I-II regular,
murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
20/08/18 S: Bayi tidak demam, tidak sesak. Bayi - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari minum tidak muntah, tidak kembung. cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x12 cc/OGT selang
31 GDS : 56 mg/dL seling dengan SGM BBLR +
O: Keadaan umum: gerak aktif D10% 11 cc (ASI HMP ½ sachet)
Menangis cukup kuat. - Atasi infeksi : inj meropenem
Suhu: 37.0 ˚C 3x50 mg IV (5) s/d 7 hari
Nadi: 142x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
RR: 55x/menit mg puv p.o
BBL/BBS: 930 gr/ 1220 gr - Cegah jamur sistemik : micostatin
UP/US: 32 hari/ 32 hari drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
UK : 32-33 minggu minum)
Sat O2 : 99% - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Kepala: normocephali (stop)
Mata: Konjungtiva anemis (-), - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
Sklera ikterik (-) - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
THT: sekret (-), NCH (-) senin)
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab - Vitamin : zamel 1x0,3cc
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: Bunyi jantung I-II regular, Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
murmur (-), gallop (-) cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Pulmo: Suara nafas vesikuler, pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
ronkhi (-), wheezing (-) monitoring BB tiap hari
Abdomen: cembung, supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
21/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x12 cc/OGT selang
32 GDS : 67 mg/dL seling dengan SGM BBLR +
O: Keadaan umum: gerak aktif D10% 11 cc (ASI HMP ½
Menangis kuat. sachet). IVFD PG2 2ml/jam
Suhu: 37.0 ˚C - Atasi infeksi : inj meropenem
Nadi: 142x/menit 3x50 mg IV (4) s/d 7 hari
RR: 44x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
BBL/BBS: 930 gr/ 1220 gr mg puv p.o
UP/US: 32 hari/ 32 hari - Cegah jamur sistemik : micostatin
UK : 32-33 minggu drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
Sat O2 : 93% minum)
Kepala: normocephali - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Mata: Konjungtiva anemis (-), (stop)
Sklera ikterik (-) - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
THT: sekret (-), NCH (-)
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Thorax: simetris, retraksi (-) cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Cor: Bunyi jantung I-II regular, pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
murmur (-), gallop (-) monitoring BB tiap hari
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: cembung, supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
22/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x12 cc/OGT selang
33 GDS : 49 mg/dL seling dengan SGM BBLR +
O: Keadaan umum: gerak aktif D10% 11 cc (ASI HMP ½ sachet)
Menangis kuat. - Atasi infeksi : inj meropenem
Suhu: 37.0 ˚C 3x50 mg IV (6) s/d 7 hari
Nadi: 144x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
RR: 49x/menit mg puv p.o
BBL/BBS: 930 gr/ 1185 gr - Cegah jamur sistemik : micostatin
UP/US: 33 hari/ 33 hari drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
UK : 32-33 minggu minum)
Kepala: normocephali - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
Mata: Konjungtiva anemis (-), senin)
Sklera ikterik (-) - Vitamin : zamel 1x0,3cc
THT: sekret (-), NCH (-)
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Thorax: simetris, retraksi (-) cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Cor: Bunyi jantung I-II regular, pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
murmur (-), gallop (-) monitoring BB tiap hari
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: cembung, supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Neonatal sepsis ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
23/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x16 cc/OGT selang
34 O: Keadaan umum: Bayi tertidur seling dengan SGM BBLR +
Suhu: 36.7 ˚C D10% 16 cc (ASI HMP ½ sachet)
Nadi: 147x/menit - Atasi infeksi : inj meropenem
RR: 40x/menit 3x50 mg IV (7) s/d (7) (selesai)
BBL/BBS: 930 gr/ 1550 gr - Cegah jamur sistemik : micostatin
UP/US: 37 hari/ 37 hari drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
UK : 32-33 minggu minum)
Sat O2 : 94% - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
Kepala: normocephali mg puv p.o
Mata: Konjungtiva anemis (-), - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
Sklera ikterik (-) senin)
THT: sekret (-), NCH (-) - Vitamin : zamel 1x0,3cc
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab
Thorax: simetris, retraksi (-) Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Cor: Bunyi jantung I-II regular, cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
murmur (-), gallop (-) pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
Pulmo: Suara nafas vesikuler, monitoring BB tiap hari
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
24/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x16 cc/OGT selang
35 GDS : 67 mg/dL seling dengan SGM BBLR +
O: Keadaan umum: tangis cukup kuat, gerak D10% 16 cc (ASI HMP ½ sachet)
………..cukup aktif - Atasi infeksi : inj meropenem
Suhu: 37.0 ˚C 3x50 mg IV (7) s/d (7) selesai
Nadi: 146x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
RR: 50x/menit mg puv p.o
BBL/BBS: 930 gr/ 1280 gr - Cegah jamur sistemik : micostatin
Sat O2 : 92 – 95% drop 3x1 cc ( 0,5 cc oles, 0,5 cc
UP/US: 35 hari/ 35 hari minum)
UK : 32-33 minggu - Prokinetik : erisanbe 3x0,5ml p.o
Kepala: normocephali - Probiotik : interlac 1x5 tetes p.o
Mata: Konjungtiva anemis (-), - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
Sklera ikterik (-) senin)
THT: sekret (-), NCH (-) - Vitamin hepatoprotektor : zamel
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab drop 1x0,3cc
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: Bunyi jantung I-II regular, Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
murmur (-), gallop (-) cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Pulmo: Suara nafas vesikuler, pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
ronkhi (-), wheezing (-) monitoring BB tiap hari
Abdomen: cembung, supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
Diuresis 3,5cc; balance cairan -10cc
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
25/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x16 cc/OGT selang
36 O: Keadaan umum: Bayi tertidur, gerak aktif seling dengan SGM BBLR +
Suhu: 37.2 ˚C D10% 16 cc (ASI HMP ½ sachet)
Nadi: 143x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
RR: 42x/menit mg puv p.o
BBL/BBS: 930 gr/ 1550 gr - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
UP/US: 36 hari/ 36 hari senin)
UK : 32-33 minggu - Vitamin : zamel 1x0,3cc
Sat O2 : 97%
Kepala: normocephali Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Mata: Konjungtiva anemis (-), cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Sklera ikterik (-) pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
THT: sekret (-), NCH (-) monitoring BB tiap hari
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: Bunyi jantung I-II regular,
murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah
26/08/18 S: Bayi tenang, tidak demam, tidak sesak. - Atasi kebutuhan cairan 150
Hari Bayi minum tidak muntah, tidak cc/kgBB/hari = 180 cc/hari, tdd :
perawatan ke kembung. BAB dan BAK ada. oral (ASI 12x16 cc/OGT selang
37 O: Keadaan umum: Bayi tertidur seling dengan SGM BBLR +
Suhu: 36.7 ˚C D10% 16 cc (ASI HMP ½ sachet)
Nadi: 147x/menit - Atasi AOP : Caffein citrate 1x5,5
RR: 40x/menit mg puv p.o
BBL/BBS: 930 gr/ 1550 gr - Inj vit K 1 mg IM (setiap hari
UP/US: 37 hari/ 37 hari senin)
UK : 32-33 minggu - Vitamin : zamel 1x0,3cc
Sat O2 : 94%
Kepala: normocephali Monitoring : KU, TTV, diuresis, balance
Mata: Konjungtiva anemis (-), cairan, toleransi minum, cek GDS tiap
Sklera ikterik (-) pagi, monitoring BAB dempul atau tidak,
THT: sekret (-), NCH (-) monitoring BB tiap hari
Mulut : Tidak sianosis, bibir lembab
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: Bunyi jantung I-II regular,
murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Suara nafas vesikuler,
ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+)
………..normal
Hepar tidak teraba, limpa tidak
teraba
Ekstremitas: Akral hangat,
CRT< 3 detik
A:
- Sepsis neonatal ec Acinetobacter
baumanii
- Prematur, BBLASR, UG 28 minggu/UK
32-33 minggu
- Riwayat hipoglikemia berulang
- Riwayat AOP
- Riwayat NEC
- Riwayat RDS ec prematuritas, HMD
grade I
- Riwayat GIT bleeding
- Riwayat hyperbilirubinemia
- Riwayat gangguan pembekuan darah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pendahuluan

Sepsis pada neonatus masih merupakan masalah yang belum terpecahkan dalam
pelayanan dan perawatan neonatus. Di negara berkembang hampir sebagian besar neonatus
yang dirawat mempunyai kaitan dengan masalah sepsis dan di negara berkembangpun sepsis
tetap merupakan sebuah masalah. Selain itu sepsis memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas
yang tinggi. Dalam laporan WHO yang dikutip Child Health Research Project Special
Report : Reducing Perinatal and Neonatal Mortality ( 1999 ), dikemukakan bahwa 42%
kematian neonatus terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran pernafasan,
tetanus neonatorum, sepsis, dan infeksi gastrointestinal. 1

Sepsis merupakan respon inflamasi tubuh terhadap suatu infeksi. Infeksi tersebut bisa
berupa infeksi lokal maupun sistemik dan dapat disebabkan oleh bakteri, virus, parasit,
ataupun jamur. Respon inflamasi yang ditimbulkan dapat menyebabkan terjadinya kegagalan
organ yang merupakan penyebab kematian dari sepsis. 2

Definisi

Sepsis neonatorum adalah sindrom klinis dengan gejala infeksi sistemik dan diikuti
dengan bakteremia pada bulan pertama kehidupan. Salah satunya menurut The International
Sepsis Definition Conferences (ISDC,2001), sepsis adalah sindrom klinis dengan adanya
Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan infeksi. 1

Definisi SIRS pada neonatus ditegakkan bila ditemukan 2 dari 4 kriteria dalam tabel.
Salah satu di antaranya adanya kelainan suhu atau leukosit.

Usia Neonatus Suhu Laju Nadi Laju Nafas Jumlah Leukosit x


Permenit Permenit 103/mm3
Usia 0-7 hari >38,5°C atau > 180/<100 >50 >34
<36,5 °C
Usia 7-30 hari >38,5°C atau > 180/<100 >40 >19,5 atau <5
<36,5 °C
Tabel 1.1 Kriteria SIRS3

Kriteria Definisi
Infeksi Terbukti infeksi (proven infection) bila ditemukan kuman
penyebab, atau tersangka infeksi (suspected infection) bila
terdapat sindrom klinis (gejala klinis dan penunjang lain)
Sepsis SIRS disertai infeksi yang terbukti atau tersangka
Syok Sepsis Sepsis dan disfungsi organ kardiovaskular
Klasifikasi

Dari sisi waktu terjadinya, sepsis dibagi menjadi sepsis awitan dini dan lanjut.4,5

Awitan Dini
usia bayi < 72 jam, didapat saat persalinan, penularan vertikal dari ibu ke bayi dan jenis
bakteri: basil gram negatif, E.coli, klebsiella, Enterococcus, group B streptococcus dan
coagulase negative staphylococci
Awitan Lambat
usia bayi > 72 jam, didapat dari lingkungan, didapatkan secara nosokomial atau dari rumah
sakit dan jenis bakteri: basil gram negative, pseudomonas, klebsiella, MRSA, coagulase
negative staphylococci, Acinetobacter sp. dan coagulase negative

Epidemiologi
Angka kejadian/insidens sepsis di negara berkembang cukup tinggi yaitu 1,818 per
1000 kelahiran hidup dengan angka kematian sebesar 12-68%, sedangkan di negara maju
angka kejadian sepsis berkisar antara 3 per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian
10,3%. Di Indonesia, angka tersebut belum terdata. Data yang diperoleh dari Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo Jakarta, dalam periode Januari - September 2005, angka kejadian
sepsis neonatorum sebesar 13,68% dengan angka kematian sebesar 14,18%. 6

Faktor Resiko7

Terjadinya sepsis neonatorum dipengaruhi oleh faktor risiko pada ibu dan bayi.

Faktor risiko ibu:


 Ketuban pecah dini dan ketuban pecah lebih dari 18 jam. Bila ketuban pecah lebih
dari 24 jam, kejadian sepsis pada bayi meningkat sekitar 1% dan bila disertai
korioamnionitis, kejadian sepsis akan meningkat menjadi 4 kalinya.
 Infeksi dan demam (>38°C) pada masa peripartum akibat korioamnionitis, infeksi
saluran kemih, kolonisasi vagina oleh Streptokokus grup B (SGB), kolonisasi perineal
oleh E. coli, dan komplikasi obstetrik lainnya.
 Cairan ketuban hijau keruh dan berbau.
 Kehamilan multipel.
 Persalinan dan kehamilan kurang bulan.
 Faktor sosial ekonomi dan gizi ibu.
Faktor risiko pada bayi:
 Prematuritas dan berat lahir rendah.
 Dirawat di Rumah Sakit.
 Trauma pada proses persalinan.
 Prosedur invasif seperti intubasi endotrakeal, pemakaian ventilator, kateter,
infus, pembedahan, akses vena sentral, kateter intratorakal
 Asfiksia neonatorum.
 Cacat bawaan.
 Tidak diberi ASI
 Pemberian nutrisi parenteral
 Perawatan di bangsal intensif bayi baru lahir yang terlalu lama.
 Perawatan di bangsal bayi baru lahir yang overcrowded
 Buruknya kebersihan di NICU.

Etiologi

Pola kuman penyebab sepsis pun berbeda-beda antar negara dan selalu berubah dari
waktu ke waktu. Bahkan di negara berkembang sendiri ditemukan perbedaan pola kuman,
walaupun bakteri Gram negatif rata-rata menjadi penyebab utama dari sepsis neonatorum.
Oleh karena itu pemeriksaan pola kuman secara berkala pada masing-masing klinik dan
rumah sakit memegang peranan yang sangat penting.1,10

Di RSCM telah terjadi 3 kali perubahan pola kuman dalam 30 tahun terakhir. Di
Divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM pada tahun 2003, kuman
terbanyak yang ditemukan berturut-turut adalah Acinetobacter sp, Enterobacter sp,
Pseudomonas sp. Data terakhir bulan Juli 2004-Mei 2005 menunjukkan Acinetobacter
calcoacetius paling sering (35,67%), diikuti Enterobacter sp (7,01%), dan Staphylococcus sp
(6,81%). 9

Tabel perubahan pola kuman penyebab sepsis neonatorum berdasarkan kurun waktu :
Patofisiologi

Selama dalam kandungan janin relatif aman terhadap kontaminasi kuman karena
terlindung oleh berbagai organ tubuh seperti plasenta, selaput amnion, khorion, dan beberapa
faktor anti infeksi pada cairan amnion. Walaupun demikian kemungkinan kontaminasi kuman
dapat timbul melalui berbagai jalan yaitu :1,8,9
 Infeksi kuman, parasit atau virus yang diderita ibu dapat mencapai janin melalui
aliran darah menembus barier plasenta dan masuk sirkulasi janin. Keadaan ini
ditemukan pada infeksi TORCH, Triponema pallidum atau Listeria dll.
 Prosedur obstetri yang kurang memperhatikan faktor a/antisepsis misalnya saat
pengambilan contoh darah janin, bahan villi khorion atau amniosentesis. Paparan
kuman pada cairan amnion saat prosedur dilakukan akan menimbulkan amnionitis dan
pada akhirnya terjadi kontaminasi kuman pada janin.
 Pada saat ketuban pecah, paparan kuman yang berasal dari vagina akan lebih berperan
dalam infeksi janin. Pada keadaan ini kuman vagina masuk ke dalam rongga uterus
dan bayi dapat terkontaminasi kuman melalui saluran pernafasan ataupun saluran
cerna. Kejadian kontaminasi kuman pada bayi yang belum lahir akan meningkat
apabila ketuban telah pecah lebih dari 18-24 jam.
 Setelah lahir, kontaminasi kuman terjadi dari lingkungan bayi baik karena infeksi
silang ataupun karena alat-alat yang digunakan bayi, bayi yang mendapat prosedur
neonatal invasif seperti kateterisasi umbilikus, bayi dalam ventilator, kurang
memperhatikan tindakan a/anti sepsis, rawat inap yang terlalu lama dan hunian terlalu
padat, dll.

Bila paparan kuman pada kedua kelompok ini berlanjut dan memasuki aliran darah,
akan terjadi respons tubuh yang berupaya untuk mengeluarkan kuman dari tubuh. Berbagai
reaksi tubuh yang terjadi akan memperlihatkan pula bermacam gambaran gejala klinis pada
pasien. Tergantung dari perjalanan penyakit, gambaran klinis yang terlihat akan berbeda.
Patofisiologi sepsis terdiri dari aktivasi inflamasi, aktivasi koagulasi, dan gangguan
fibrinolisis. Hal ini mengganggu homeostasis antara mekanisme prokoagulasi dan
antikoagulasi.

1. Respon inflamasi
Respon sepsis terhadap bakteri Gram negatif dimulai dengan pelepasan
lipopolisakarida (LPS), yaitu endotoksin dari dinding sel bakteri. Lipopolisakarida
merupakan komponen penting pada membran luar bakteri Gram negatif dan memiliki
peranan penting dalam menginduksi sepsis. Lipopolisakarida mengikat protein spesifik dalam
plasma yaitu lipoprotein binding protein (LPB). Selanjutnya kompleks LPS-LPB ini
berikatan dengan CD14, yaitu reseptor pada membran makrofag. CD14 akan
mempresentasikan LPS kepada Toll-like receptor 4 (TLR4) yaitu reseptor untuk transduksi
sinyal sehingga terjadi aktivasi makrofag.
Organisme diatas, memicu kaskade sepsis yang dimulai dengan pelepasan mediator
inflamasi sepsis. Mediator inflamasi primer dilepaskan dari sel-sel akibat aktivasi makrofag.
Kerusakan utama akibat aktivasi makrofag terjadi pada endotel dan selanjutnya akan
menimbulkan migrasi leukosit serta pembentukan mikrotrombi sehingga menyebabkan
kerusakan organ. Aktivasi endotel akan meningkatkan jumlah reseptor trombin pada
permukaan sel untuk melokalisasi koagulasi pada tempat yang mengalami cedera. Cedera
pada endotel ini juga berkaitan dengan gangguan fibrinolisis. Hal ini disebabkan oleh
penurunan jumlah reseptor pada permukaan sel untuk sintesis dan ekspresi molekul
antitrombik. Selain itu, inflamasi pada sel endotel akan menyebabkan vasodilatasi pada otot
polos pembuluh darah.

2. Aktivasi Inflamasi dan Koagulasi 1,8,9

Pada sepsis terlihat hubungan erat antara inflamasi dan koagulasi. Mediator inflamasi
menyebabkan ekspresi faktor jaringan atau Tissue Factor (TF). Ekspresi TF secara langsung
akan mengaktivasi jalur koagulasi ekstrinsik dan melalui lengkung umpan balik secara tidak
langsung juga akan mengaktifkan jalur instrinsik.
Terdapat kaitan antara jalur ekstrinsik dan intrinsik dan hasil akhir aktivasi kedua
jalur tersebut adalah pembentukan fibrin.

3. Gangguan Fibrinolisis 1,8,9

Fibrinolisis adalah respons homeostasis tubuh terhadap aktivasi sistem koagulasi.


Penghancuran fibrin penting bagi angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru),
rekanalisasi pembuluh darah dan penyembuhan luka
Sepsis mengganggu respons fibrinolisis normal dan menyebabkan tubuh tidak mampu
menghancurkan mikrotrombi. TNF-α menyebabkan supresi fibrinolisis akibat tingginya kadar
PAI-1 dan menghambat penghancuran fibrin. Hasil pemecahan fibrin dikenal sebagai fibrin
degradation product (FDP) yang mencakup D-dimer, dan sering diperiksa pada tes koagulasi
klinis. Mediator proinflamasi (TNF-α dan IL-6) bekerja secara sinergis meningkatkan kadar
fibrin, sehingga menyebabkan trombosis pada pembuluh darah kecil hingga sedang dan
selanjutnya menyebabkan disfungsi multi organ.
Disseminated intravascular coagulation (DIC) atau Pembekuan intravaskular
menyeluruh ( PIM ) merupakan komplikasi tersering pada sepsis. Konsumsi faktor
pembekuan dan trombosit akan menginduksi komplikasi perdarahan berat. PIM secara
bersamaan akan menyebabkan trombosis mikrovaskular dan perdarahan. Pada pasien PIM,
kadar PAI-1 yang tinggi dihubungkan dengan prognosis buruk.

Gambaran Klinis
Janin yang terkena infeksi akan menderita takikardia, lahir dengan asfiksia dan
memerlukan resusitasi karena nilai Apgar rendah. Setelah lahir, bayi tampak lemah dan
tampak gambaran klinis sepsis seperti hipo/hipertermia, hipoglikemia dan kadang-kadang
hiperglikemia. Selanjutnya akan terlihat berbagai kelainan dan gangguan fungsi organ tubuh.
Selain itu, terdapat kelainan susunan saraf pusat (letargi, refleks hisap buruk, menangis lemah
kadang-kadang terdengar high pitch cry, bayi menjadi iritabel dan dapat disertai kejang),
kelainan kardiovaskular (hipotensi, pucat, sianosis, dingin dan clummy skin). Bayi dapat pula
memperlihatkan kelainan hematologik, gastrointestinal ataupun gangguan respirasi
(perdarahan, ikterus, muntah, diare, distensi abdomen, intoleransi minum, waktu
pengosongan lambung yang memanjang, takipnea, apnea, merintih dan retraksi).11
Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Kuman
A. Kultur Darah

Sampai saat ini pemeriksaan biakan darah merupakan baku emas dalam menentukan
diagnosis sepsis. Pemeriksaan ini mempunyai kelemahan karena hasil biakan baru akan
diketahui dalam waktu minimal 3-5 hari. Hasil kultur perlu dipertimbangkan secara hati-hati
apalagi bila ditemukan kuman yang berlainan dari jenis kuman yang biasa ditemukan di
masing-masing klinik. Kultur darah dapat dilakukan baik pada kasus sepsis neonatorum
awitan dini maupun lanjut. 10

Pemberian antibiotik pada sebagian besar ibu hamil untuk mencegah persalinan
prematur diduga sebagai penyebab tidak tumbuhnya bakteri pada media kultur. Selain itu
hasil kultur juga dipengaruhi oleh kemungkinan pemberian antibiotik sebelumnya pada bayi
yang dapat menekan pertumbuhan kuman. Hasil kultur negatif palsu juga dapat disebabkan
akibat sedikitnya jumlah sampel darah yang diperiksa. Penghitungan jumlah koloni bakteri
pada bakteremia membutuhkan minimal 1mL darah. Hasil kultur positif palsu dapat terjadi
akibat kontaminasi saat pengambilan sampel.10

B. Pewarnaan Gram

Pemeriksaan dengan pewarnaan Gram ini dilakukan untuk membedakan apakah


bakteri penyebab termasuk golongan bakteri Gram positif atau Gram negatif. 13

2. Pemeriksaan Hematologi

Beberapa parameter hematologi yang banyak dipakai untuk menunjang diagnosis


sepsis neonatorum adalah sebagai berikut: 14

A. Hitung trombosit

Pada bayi baru lahir jumlah trombosit yang kurang dari 150.000/μL jarang ditemukan
pada 10 hari pertama kehidupannya. Pada penderita sepsis neonatorum dapat terjadi
trombositopenia (jumlah trombosit kurang dari 150.000/μL)14

B. Hitung leukosit dan hitung jenis leukosit


Pada sepsis neonatorum jumlah leukosit dapat meningkat atau menurun, leukositosis
atau leukopenia < 5000 atau >30.000, walaupun jumlah leukosit yang normal juga dapat
ditemukan pada 50% kasus sepsis dengan kultur bakteri positif. Pemeriksaan ini tidak
spesifik. Bayi yang tidak terinfeksi pun dapat memberikan hasil yang abnormal, bila
berkaitan dengan stress saat proses persalinan. Jumlah total neutrofil (sel-sel PMN dan
bentuk imatur) lebih sensitif dibandingkan dengan jumlah total leukosit (basofil, eosinofil,
batang, PMN, limfosit dan monosit). 14

C. Rasio neutrofil imatur dan neutrofil total (rasio I/T).

Pemeriksaan ini sering dipakai sebagai penunjang diagnosis sepsis neonatorum.


Semua bentuk neutrofil imatur dihitung, dan rasio maksimum yang dapat diterima untuk
menyingkirkan diagnosis sepsis pada 24 jam pertama kehidupan adalah 0,16. Pada
kebanyakan neonatus, rasio turun menjadi 0,12 pada 60 jam pertama kehidupan. Sensitivitas
rasio I/T berkisar antara 60-90%, dan dapat ditemukan kenaikan rasio yang disertai
perubahan fisiologis lainnya; oleh karena itu, rasio I/T ini dikombinasikan dengan gejala-
gejala lainnya agar diagnosis sepsis neonatorum dapat ditegakkan. Pemeriksaan hematologi
sebaiknya dilakukan serial agar dapat dilihat perubahan yang terjadi selama proses infeksi,
seperti trombositopenia, neutropenia, atau peningkatan rasio I/T.15

D. Pemeriksaan kadar D-dimer.

D-dimer merupakan hasil pemecahan cross-linked fibrin oleh plasmin. Oleh karena
itu, D-dimer dipakai sebagai petanda aktivasi sistem koagulasi dan sistem fibrinolisis. Pada
sepsis, kadar D-dimer meningkat tetapi pemeriksaan ini tidak spesifik untuk sepsis karena
peningkatannya juga dijumpai pada DIC oleh penyebab lain seperti trombosis, keganasan dan
terapi trombolitik.15

a. Pemeriksaan C-reactive protein (CRP)

C-reactive protein (CRP) merupakan protein yang disintesis di hepatosit dan muncul
pada fase akut bila terdapat kerusakan jaringan. Sekresi CRP dimulai 4-6 jam setelah
stimulasi dan mencapai puncak dalam waktu 36-48 jam dan terus meningkat sampai proses
inflamasinya teratasi. Cut-off yang biasa dipakai adalah 10 mg/L. Pemeriksaan kadar CRP
tidak direkomendasikan sebagai indikator tunggal pada diagnosis sepsis neonatorum, tetapi
dapat digunakan sebagai bagian dari septic work-up atau sebagai suatu pemeriksaan serial
selama proses infeksi untuk mengetahui respon antibiotik, lama pengobatan, dan/atau
relapsnya infeksi. 16

b. AGD, elektrolit dan glukosa

Pada pemeriksaan AGD pada kasus sepsis, nilai serum laktat dapat menjadi indikator
hipoperfusi jaringan. Peningkatan serum laktat menunjukkan adanya hipoperfusi jaringan
yang signifikan akibat perubahan metabolisme tubuh dari aerob menjadi anaerob.12

c. Test fungsi hati dan ginjal

Fungsi hati dinilai dengan mengukur kadar bilirubin, alkali fosfatase, SGOT dan juga
SGPT dalam darah. Fungsi ginjal dinilai dengan mengukur kadar kretinin dan BUN dalam
serum. Kedua-dua pemeriksaan in bertujuan untuk deteksi dini kemungkinan kegagalan
organ akibat dari sepsis yang dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti MDOS.12

d. Status koagulasi

Test PT dan PTT dilakukan pada kasus sepsis untuk mengukur ada tidaknya DIC.
DIC adalah salah satu komplikasi yang terjadi akibat dari sepsis yang menggangu sisptem
koagulasi tubuh.18

3. Pencitraan

Pemeriksaan radiografi toraks dapat menunjukkan beberapa gambaran, misalnya: 4

- Menunjukkan infiltrat segmental atau lobular, yang biasanya difus, pola


retikulogranular, hampir serupa dengan gambaran pada RDS (Respiratory Distress
Syndrome).
- Efusi pleura juga dapat ditemukan dengan pemeriksaan ini.
- Pneumonia. Penting dilakukan pemeriksaan radiologi toraks karena ditemukan pada
sebagian besar bayi, meninggal akibat sepsis awitan dini yang telah terbukti dengan
kultur.

Pemeriksaan CT Scan diperlukan pada kasus meningitis neonatal kompleks untuk melihat
hidrosefalus obstruktif, lokasi obstruksi dan melihat infark ataupun abses. 5
USG kepala pada neonatus dengan meningitis dapat menunjukkan ventrikulitis, kelainan
ekogenesitas parenkim, cairan ekstraselular dan perubahan kronis. Secara serial, USG kepala
dapat menunjukkan progresivitas komplikasi.16

Diagnosis

Dalam menentukan diagnosis diperlukan berbagai informasi antara lain :

 Faktor Resiko
 Gambaran Klinik
 Pemeriksaan Penunjang

Ketiga faktor ini perlu dipertimbangkan saat menghadapi pasien karena salah satu
faktor saja tidak mungkin dipakai sebagai pegangan dalam menegakkan diagnosis pasien.
Faktor resiko sepsis dapat bervariasi tergantung awitan sepsis yang diderita pasien. Pada
awitan dini berbagai faktor yang terjadi selama kehamilan, persalinan ataupun kelahiran
dapat dipakai sebagai indikator untuk melakukan elaborasi lebih lanjut sepsis neonatal.
Berlainan dengan awitan dini, pada pasien awitan lambat, infeksi terjadi karena sumber
infeksi yang terdapat dalam lingkungan pasien.

Seorang bayi memiliki risiko sepsis bila memenuhi dua kriteria mayor atau satu kriteria
mayor ditambah dua kriteria minor. Kriteria tersebut yaitu:1

Tabel. Faktor Risiko Sepsis1

FAKTOR RISIKO MAYOR FAKTOR RISIKO MINOR

Ketuban pecah dini >18 jam Ketuban pecah dini >12jam


Demam intrapartum >38 C Demam intrapartum >37,5 C
Korioamnionitis Skor APGAR rendah
Ketuban berbau BBLSR
Denyut jantung janin >160 x/menit Usia kehamilan <37 minggu
Kembar
Keputihan
Infeksi Saluran kemih

Seperti diungkapkan sebelumnya, diagnosis infeksi sistemik sulit ditegakkan apabila


hanya berdasarkan riwayat pasien dan gambaran klinik saja. Pemeriksaan penunjang tersebut
dapat berupa pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan khusus lainnya. Langkah tadi
disebut Septic work up dan termasuk dalam hal ini pemeriksaan biakan darah yang
merupakan gold standard diagnosis sepsis. Interpretasi hasil kultur perlu pertimbangan
dengan hati-hati khususnya bila kuman yang ditemukan berlainan jenis dari kuman yang
biasa ditemukan di klinik tersebut. Selain itu hasil kultur diperngaruhi pula oleh
kemungkinan pemberian antibiotika sebelumnya atau adanya kemungkinan kontaminasi
kuman nosokomial.

Untuk mengenal kelompok kuman penyebab infeksi secara lebih cepat dapat
dilakukan pewarnaan gram. Tetapi cara ini tidak mampu menetapkan jenis kuman secara
lebih spesifik.

Pemeriksaan lain dalam septic work up tersebut adalah pemeriksaan komponen-


komponen darah. Pada sepsis neonatal, trombositopenia dapat ditemukan pada 10 – 60 %
pasien. Jumlah trombosit biasanya kurang dari 150.000 dan terjadi pada 1 – 3 minggu setelah
diagnosis sepsis ditegakkan.

Sel darah putih dianggap lebih sensitif dalam menunjang diagnosis ketimbang hitung
trombosit. Enam puluh pasien sepsis biasnya disertai perubahan hitung neutrofil. Rasio antara
neutrofil imatur dan neutrofil total ( rasio I/T ) sering dipakai sebagai penunjang diagnosis
sepsis neonatal. Sensitivitas rasio I/T ini 60 – 90 %, karenanya untuk diagnosis perlu disertai
kombinasi dengan gambaran klinik dan pemeriksaan penunjang yang lain.

Penatalaksanaan

1. Terapi Antibiotika

Pemberian antibiotika segera setelah satu jam ditegakkan diagnosis sepsis dan
pengambilan kultur darah. Terapi antibiotika empiris spectrum luas dosis inisial penuh, satu
atau beberapa obat berdasarkan dugaan kuman penyebab dan dapat berpenetrasi ke dalam
sumber infeksi. Pada keadaan dimana fokus infeksi tidak jelas, maka antibiotika harus
diberikan pada keadaan penderita mengalami perburukan, status imunologik yang buruk,
adanya kateter intravena berdasarkan dugaan kuman penyebab dan tes kepekaan.5

Evaluasi pemberian antibiotika dilakukan sesudah 48-72 jam berdasarkan data klinis
dan mikrobiologi dengan mempergunakan antibiotika spectrum sempit untuk mengurangi
resistensi bakteri, menurunkan toksisitas dan biaya. Lama pemberian antibiotika 7-10 hari
dipandu oleh respon manifestasi klinis. Antibiotik diberikan sebelum kuman penyebab
diketahui. Terapi dilakukan selama 10-14 hari. Bila terjadi meningitis antibiotik diberikan
selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk meningitis. 18

Terapi yang diberikan untuk sepsis neonatal yaitu dengan memberikan antibiotik
spektrum luas sambil menungggu biakan darah dan uji resitensi.18

1. Lini pertama :
- Amoxyclav (dosis IV, IM : 50 mg/Kg/dosis)
 Usia Gestasi < 37 ≤28 hari  tiap 12 jam
>28 hari  tiap 8 jam
 Usia Gestasi ≤ 7 hari  tiap 12 jam
> 7 hari  tiap 8 jam
- Gentamisin (dosis iv, IM 5 mg/Kg/dosis)

Berat < 1200 g

 Usia ≤ 7 hari  48 jam


 Usia 8 sampai 30 hari  36 jam
 Usia > 30 hari  24 jam

Berat ≥ 1200 g

 Usia ≤ 7 hari  36 jam


 Usia > 7 hari  24 jam

2. Lini Kedua
- Piperacilin tazobactam (dosis 50 mg/KgBB/dosis dapat ditingkatkan menjadi 75
mg/KgBB/dosis
 ≤ 7 hari  tiap 12 jam
 > 7 hari  tiap 6-8 jam
 Amikasin (dosis : 7,5 mg/KgBB/dosis)
 Usia gestasi < 28 minggu 36 jam
 Usia gestasi 28 sd 29 minggu 24 jam
 Usia gestasi 30 sd 35 minggu 18 jam
 Usia gestasi ≥ 36 minggu 12 jam

3. Lini Ketiga
- Meropenem (dosis 20 sampai 40 mg per KgBB/dosis)
 Usia ≤7 hari tiap 12 jam
 Usia > 7 hari tiap 8 jam
Pemberian Fresh Frozen Plasma (FFP)

Pada bayi dengan sepsis, pemberian FFP biasanya diberikan apabila ditemukan
gangguan koagulasi. Gangguan koagulasi yang sering dihadapi pasien adalah Koagulasi
Diseminasi Intravaskular/KID (Disseminated Intravascular Coaagulation/DIC). Di samping
faktor koagulasi, FFP juga mengandung antibodi, komplemen, dan protein lain seperti C-
reactive protein dan fibronectin. Walaupun FFP mengandung antibodi protektif tertentu,
namun dalam dosis 10 mL/kg, jumlah antibodi tidak adekuat untuk mencapai kadar proteksi
pada tubuh bayi. Pada pemberian secara kontinyu (seperti 10 mL/kg setiap 12 jam), kadar
proteksi baru dapat dicapai. 20

Selain itu, dapat pula diberikan terapi tambahan untuk mengatasi berbagai defisiensi dan
belum matangnya fungsi pertahanan tubuh bayi baru lahir, serta mengatasi perubahan yang
terjadi dalam perjalanan penyakit, dan cascade inflamasi pada pasien sepsis neonatal. Terapi
tersebut antara lain20 :

1. Pemberian immunoglobulin secara intavena (Intravenous Immunoglobulin – IVIG)


2. Tindakan transfusi tukar

Komplikasi

Komplikasi sepsis neonatorum antara lain ialah meningitis, neonatus dengan


meningitis dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus dan/atau leukomalasia periventrikular,
hipoglikemia, asidosis metabolik, koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan
intrakranial dan pada sekitar 60 % keadaan syok septik akan menimbulkan komplikasi Acute
Respiratory Distress Syndrome (ARDS).20

Prognosis

Dengan diagnosis dini dan terapi yang tepat, prognosis pasien baik, tetapi bila tanda
dan gejala awal serta faktor risiko sepsis neonatorum terlewat, akan meningkatkan angka
kematian. Rasio kematian pada sepsis neonatorum 2–4 kali lebih tinggi pada bayi kurang
bulan dan bayi cukup bulan. Rasio kematian pada sepsis awitan dini adalah 15 – 40 % (pada
infeksi SBG pada SAD adalah 2 – 30 %) dan pada sepsis awitan lambat adalah 10 – 20 %
(pada infeksi SGB pada SAL kira – kira 2 %). 8

Pencegahan
a. Pada masa antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi,
pengobatan terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu, asupan gizi yang memadai,
penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin,
rujukan segera ketempat pelayanan yang memadai bila diperlukan.24,25,26
b. Pada saat persalinan
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik, yang artinya dalam
melakukan pertolongan persalinan harus dilakukan tindakan aseptik. Tindakan intervensi
pada ibu dan bayi seminimal mungkin dilakukan (bila benar-benar diperlukan).
Mengawasi keadaan ibu dan janin yang baik selama proses persalinan, melakukan
rujukan secepatnya bila diperlukan dan menghindari perlukaan kulit dan selaput lendir.
24,25,26

c. Sesudah persalinan
Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal,
pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap
bayi menggunakan peralatan tersendiri, perawatan luka umbilikus secara steril. Tindakan
invasif harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Menghindari
perlukaan selaput lendir dan kulit, mencuci tangan dengan menggunakan larutan
desinfektan sebelum dan sesudah memegang setiap bayi. Pemantauan bayi secara teliti
disertai pendokumentasian data-data yang benar dan baik. Semua personel yang
menangani atau bertugas di kamar bayi harus sehat. Bayi yang berpenyakit menular di
isolasi, pemberian antibiotik secara rasional, sedapat mungkin melalui pemantauan
mikrobiologi dan tes resistensi. 24,25,26

Kesimpulan

Sepsis pada neonatus masih merupakan masalah yang belum dapat dipecahkan yang
karena bersifat multifaktorial, mulai dari faktor ibu, janin, maupun dari pelayanan rumah
sakit. Sepsis neonatorum juga merupakan masalah yang sulit didiagnosa karena pada
neonatus, respon sistem imun tubuhnya tidak selalu menimbulkan gejala seperti sepsis pada
anak yang lebih besar. Tanda dan gejala klasik sepsis pada neonatus mencakup takikardi,
takipneu, leukositosis atau leukopeni, dan hipertermi atau hipotermi. Selain itu bila
didapatkan sepsis berat dapat ditemukan disfungsi organ-organ tertentu, seperti jantung, hati,
paru-paru, ginjal, dan sebagainya. Ketika kegagalan organ sudah mencapai derajat tertentu,
akan menyebabkan terjadinya septik syok yang dapat segera menyebabkan sindrom disfungsi
multiorgan yang berakhir pada kematian bila tidak mendapatkan penatalaksanaan yang tepat.
Penatalaksanaan sepsis pada umumnya mencakup eradikasi infeksi dengan antibiotika
selektif, terapi adjuvant untuk mendukung status organ neonatus.

BAB III

ANALISIS KASUS

Bayi A, putri keempat Ny. I.S yang dilahirkan pada tanggal 20 Juli 2018 di RSPAD
Gatot Soebroto. Bayi lahir dengan berat badan 930 gram dan usia gestasi adalah 28 minggu.
Hal ini menunjukkan bahwa pasien merupakan bayi prematur dan BBLASR.

Pada bayi ini didiagnosa sepsis, berdasarkan kriteria mayor adalah denyut jantung janin
menetap >160x/menit, ketuban berbau dan kriteria minor nilai apgar rendah 4/6, BBLSR
<1500 gram, usia gestasi < 38 minggu dan kehamilan ganda. Didapatkan 2 mayor dan 4
minor sehingga pasien memiliki resiko sepsis. Berdasarkan faktor risiko dari ibu didapatkan
KPD 5 jam dengan ketuban berwarna putih keruh dan berbau amis, kehamilan multiple,
persalinan dan kehamilan kurang bulan dan faktor risiko dari bayi adalah prematuritas dan
berat lahir rendah, dirawat di rumah sakit, penggunaan alat seperti pemakaian ventilator,
kateter dan infus, terdapat asfiksia neonatorum, dan pemberian nutrisi parenteral.
Selain itu dari hasil pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir, pada perjalanan awal penyakit
didapatkan TTV HR 250x/menit, RR 68x/menit, suhu 35°C. Bayi A mengalami hipotermi
yaitu suhu 35 derajat celcius pada usia 1 hari dan gambaran klinis lain yang terdapat pada
Bayi A yang terkait dengan gejalan non spesifik sepsis adalah manifestasi gangguan
pernafasan yang ditunjukkan dengan adanya retraksi. Hal ini menunjukkan adanya gangguan
fungsi sistem organ pernapasan dari perjalanan sepsis yang terjadinya <72 jam sehingga bayi
dicurigai menderita sepsis awitan dini. Dan dilakukan pemeriksaan septic workup didapatkan
beberapa hal yang memenuhi kriteria diagnosis sepsis neonatorum yaitu leukosit : 3910/uL ;
1660/uL ; 2720/uL, trombosit: 650.000/uL ; 969.000/uL; 612.000/uL dan CRP : 1.8 mg/dL
dan dari hasil pemeriksaan kultur darah didapatkan bakteri Acinetobacter baumanii.

Acinetobacter baumanii adalah basil gram negatif aerob pleomorfik (mirip dengan
tampilan Haemophilus influenzae pada pewarnaan gram) umumnya terisolasi dari lingkungan
rumah sakit dan pasien yang dirawat di rumah sakit. Infeksi akibat bakteri ini sering terlibat
dalam berbagai infeksi nosokomial pada saluran kemih, infeksi luka operasi, infeksi
pembuluh darah, ventilator associated pneumonia (VAP) dan meningitis khususnya pasien
dengan sistem imun rendah yang berada di intensive care unit (ICU), dimana bakteri ini
sering ditemukan pada infeksi nosocomial dan penyebab infeksi sistemik di ruang perawatan
intensif yang paling sering ditemukan, terutawa pada sepsis awitan lama.

Terdapat ketidaksesuaian antara gejala klinis dengan temuan hasil kultur darah pada
Bayi A. Berdasarkan awitan instabilitas suhu yang terjadi di hari pertama dan gejala klinis
lainnya, keadaan Bayi A dapat diklasifikasikan ke dalam sepsis awitan dini. Namun,
berdasarkan hasil kultur darah, ditemukan jenis bakteri yang sering menjadi etiologi pada
sepsis awitan lama. Padahal, klasifikasi sepsis neonatal tergantung dari dua hal yaitu waktu
paparan kuman dan macam kuman penyebab infeksi. Sehingga tidak dapat dipastikan
klasifikasi sepsis pada Bayi T tergolong awitan dini atau awitan lambat.

Sebelum didapatkan hasil kultur darah, Bayi A mendapatkan terapi antibiotik lini
pertama berupa ampisilin dan gentamisin. Setelah dipastikan jenis bakteri penyebab sepsis
yaitu Acinetobacter baumanii yang merupakan golongan bakteri gram negative dan hasil
pemeriksaan resistensi antibiotik, maka antibiotik diganti menjadi meropenem yang
merupakan first choice untuk infeksi Acinetobacter baumanii, diberikan dengan dosis 10-40
mg/kgBB/hari setiap 8 jam.

Selain antibiotik, Bayi A juga mendapatkan terapi perawatan inkubator untuk


menjaga stabilisasi suhu. Pada pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan radiologis didapatkan
hasil bayangan lusensi mengelilingi mediastinum dan jantung, suspek pneumomediastinum.
Streaky infiltrate di suprahilar, perihilar dan parakardial bilateral, DD/HMD. Bayi A juga
mendapatkan terapi oksigen dengan Continous Positive Airway Pressure (CPAP) yang
berguna untuk mempertahankan tekanan positif pada saluran napas neonatus selama
pernapasan spontan.

Daftar Pustaka

1. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson Textbook of Pediatrics, Ilmu Kesehatan Anak,


edisi ke 18. Sepsis dan Meningitis Neonatus. Jakarta : EGC, 2004, hal 653-663.
2. John Mersch, MD, FAAP : Neonatal Sepsis ( Sepsis Neonatorum ). Page was last
modified June 20th, 2011. Page available at
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=98247
3. John Mersch. Neonatal Sepsis (Sepsis Neonatorum). Medicinet;2011

4. The Merck Manuals Online Medical Library. Neonatal Sepsis (Sepsis Neonatorum);
2009

5. Rohsiswatmo R. Tatalaksana Sepsis Neonatorum. Media Aesculapius.2007;6(1)


6. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. Rudolph ’s Pediatrics, Buku Ajar Pediatri
Rudolph, edisi ke 20. Sepsis dan Meningitis Pada Neonatus. Jakarta : EGC, 2006, hal
601-610
7. Ann L Anderson-Berry, MD : Neonatal Sepsis. Page was last modified February 23 rd,
2010. Page available at http://emedicine.medscape.com/article/978352-overview
8. Kosim Sholeh et al. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama, cetakan kedua. Sepsis
Pada Bayi Baru Lahir. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010, hal 170-187
9. John Mersch, MD, FAAP : Neonatal Sepsis ( Sepsis Neonatorum ). Page was last
modified June 20th, 2011. Page available at
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=98247
10. Markum A.H. Prematuritas dan retardasi pertumbuhan intrauterine. Dalam: buku ajar
Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I, Cet.3.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;1996:h.221-36

11. Sumarmo,Gama Herry, Hadinegoro Sri Rezeki. Sepsis dan syok septic. Buku ajar
ilmu kesehatan anak . infeksi dan penyakit tropic. Ikatan dokter anak Indonesia,
Jakarta 2002 : 391-398

12. Aminullah, Asril, dkk. Penatalaksanaan Sepsis Neonatorum. Jakarta. Departemen


Kesehatan Republik Indonesia: 2007.

13. Powell KR. Sepsis dan Syok. Dalam: Nelson, Behrman, Kliegman, Arvin (editor).
Ilmu Kesehatan Anak. Vol 2.ed 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.
Hal 869 – 870

14. Sankar MJ, Ramesh A, dkk. Sepsis In The Newborn. Division of Neonatologi
Department of Pediatrics. Accessed August 2018. Available from URL
http://www.newbornwhocc.org/pdf/sepsis_innewborn.pdf

15. Family Practice Notebook. Neonatal Sepsis. August 2018. Available from URL
http://www.fpnotebook.com/Nicu/ID/NntlSps.htm

16. Harianto A. Sepsis Neonatorum. SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
UNAIR Surabaya. Accessed August 2018. Available from URL
http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-
tsyz266.htm
 

17. Hassan, Rusepno, et al (ed). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FK UI. Jakarta. 1985

18. Hegar, badriul. Tribowo, partini., Irfan, evita bermansah. Update in Neonatal
Infections. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM ; Jakarta : 1- 127

19. Sepsis Neonatal. Diakses pada Agustus 2018. Diunduh dari


http://www.emedicine.medscape.com

20. Nelson. Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak, Ed.
15, Vol. 1, Jakarta: EGC, 1996; 562-72

21. Sepsis Neonatal. Diakses pada Agustus 2018. Diunduh dari http://www.idai.or.id

22. Ann A.B. Neonatal Sepsis. Medscape; 2015. Page available at


https://emedicine.medscape.com/article/978352-overview
23. Committee on Fetus and Newborn : Levels of Neonatal Care Pediatrics 2004;h.114
24. Tim Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.
25. Departemen Kesehatan RI. 2007. Penatalaksanaan Sepsis Neonatorum. Available in :
www.buk.depkes.go.id/index.php
26. WHO. 2008. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta : WHO Indonesia.