Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH PUBLIC SPEAKING TERHADAP PRESENTASI

MAHASISWA IUQI BOGOR

Penelitian ini kami buat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode
Penelitian

Dosen pengampu: Akhmad Saoqillah, S.Sos.I., M.Si.

Disusun oleh

Halim Safrudin
Restu Amaludin Barko
M. Rizky Waluya
M. Putra Agustin
Fajar Maulana

FAKULTAS: DAKWAH & KOMUNIKASI ISLAM


INSITUT UMMUL QURO AL ISLAMI

BOGOR 2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan
Penelitian tentang “Pengaruh Public Speaking Terhadap Presentasi Mahasiswa
IUQI Bogor”  untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Penelitian di Institut
Ummul Quro Al-Islami. Makalah ini diperoleh dari sumber-sumber yang
berkaitan dengan materi kami dari media internet dan dari buku Referesnsi
lainnya.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar mata kuliah
Sejarah Peradaban Islam Bapak Akhmad Saoqillah, S.Sos.I., M.Si. atas bimbingan
dalam mata kuliah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya teman satu
kelompok yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.
Semoga bimbingan yang telah diberikan dapat bermanfaat bagi kami sebagai
bekal masa depan.

Kami mengharapkan dengan membaca makalah ini dapat memberi


manfaat bagi kita semua, Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar bisa menjadi bahan
koreksi diri penulis untuk menjadi yang lebih baik dikemudian hari.

Bogor, 10 Nopember 2020

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dunia kemahasiswaan merupakan wilayah kehidupan baru bagi


remaja usia antara 18 hingga 21 tahun, terutama bagi siswa yang baru lulus
dari pendidikan SMA dan memutuskan untuk melanjutkan studi di Perguruan
Tinggi. Dimana awal kehidupan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi,
individu (remaja) dihadapkan pada banyak perubahan, salah satunya adalah
perubahan yang terkait dengan kehidupan mandiri dan keberanian untuk lebih
berani mengemukakan pendapat di hadapan publik.

Berbicara di depan umum atau Public Speaking merupakan salah satu


hal yang ditakuti Sebagian orang termasuk mahasiwa. Banyaknya mahasiswa
yang kurang percaya diri untuk berbicara di depan umum. munculnya gejala
seperti gugup, terbata-bata dala berbicara, keringat dingn, bahkan ada
mahasiswa yang nge-blank saat presentasi, Padahal Public Speaking
merupakan salah satu kemapuan yang penting untuk dikuasai mahasiswa
terutama dalam mempersentasikan mata kuliahnya dikelas. Selain itu,
Sebagai mahasiswa yang akan terjun ke masyarakat dituntut untuk menguasai
Public Speaking. Public speaking bisa dikuasai dengan latihan berbicara di
depan banyak orang. kalau kita sering melatih diri dan mempersiapkan
dengan baik, Public Speaking bisa menjadi hal yang tidak menyeramkan bisa
karena terbiasa. Untuk itulah pentingnya kemapuan public speaking untuk
mahasiswa. Dan mahasiswa IUQI harus di latih untuk terbiasa berbicara di
depan umum, itulah salah satu cara untuk melatih Public Speaking.

Mengapa hal ini terjadi, karena metode atau model pembelajaran dan
metode pengajaran di Perguruan Tinggi sangat berbeda dengan metode
pengajaran di SMA yang lebih bersifat satu arah, dari guru kepada siswa.
Sedangkan model pengajaran di Perguruan Tinggi adalah menggunakan
metode Belajar Aktif (active learning) dua arah. Oleh karena itu dalam proses
belajar mengajar di Perguruan Tinggi mahasiswa dituntut untuk mempunyai
kepercayaan diri Public Speaking yang baik. Tampil berbicara di depan
umum (Public Speaking) sampai sekarang tampaknya masih menjadi momok
bagi sebagian mahasiswa. Bahkan di depan kelas saja tidak semua mahasiswa
memiliki keberanian untuk berbicara.

Kepercayaan diri mahasiswa untuk tampil berbicara di depan umum


(Public Speaking) masih sangat kurang. Dalam dunia perkuliahan,
kepercayaan diri dalam melakukan Public Speaking sangat dibutuhkan oleh
mahasiswa, khusunya dalam melakukan tugas-tugas kuliah seperti presentasi
di depan kelas. Oleh sebab itu, perlu banyak latihan untuk meningkatkan
kepercayaan diri dalam Public Speaking. Salah satu faktor penyebab
kurangnya kepercayaan diri dalam melakukan Public Speaking adalah
kemampuan interaksi sosial yang rendah.

Dalam buku Psikologi Komunikasi, Rakhmat (2005) mengemukakan


apabila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan untuk
mengkomunikasikan gagasannya pada orang lain dan menghindar untuk
berbicara di depan umum karena takut orang lain akan menyalahkannya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh kelompok 5 pada beberapa mahasiswa
Institut Ummul Quro Al-Islami mendapatakan beberapa hasil penelitian,
diantaranya:

Ilmu Public Speaking adalah solusinya untuk mengatasasi hal itu,


Maka dari itu penting pelatihan atau pengetahuan Public Speaking untuk
mahasiswa/i IUQI, mengapa demikian agar mahasiswa mampu
menyampaikan gagasan dan materinya dengan baik. Sehingga orang yang
mendegarkan paham dan mengerti. Dan mahasiswa menjadi pembicara yang
terbaik, baik dalam presentasi, pidato atau menjadi seorang pembawa acara.
Karena mahasiswa harus selalu siap ditunjuk kapan pun untuk berbicara di
depan umum.

Interaksi sosial dapat terjadi apabila dua individu atau kelompok


terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap
pertama dari terjadinya hubungan sosial. Sedangkan komunikasi merupakan
penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran serta reaksi terhadap
informasi yang disampaikan. Komunikasi juga merupakan kegiatan rutin
yang dilakukan manusia dalam berbagai situasi baik dalam kegiatan
kelompok, pembicaraan dalam rapat atau dalam suatu pertemuan lainnya.

Salah satu bentuk komunikasi yang sering dilakukan mahasiswa di


lingkungan perguruan tinggi terutama yang berkaitan dengan tugas akademik
adalah komunikasi atau berbicara di depan kelas, seperti diskusi materi atau
mempresentasika tugas. Selain itu bentuk komunikasi lain adalah berbicara di
depan umum atau Public Speaking, seperti debat terbuka atau pidato.
Interaksi sosial yang baik dengan komunikasi yang baik selama di kelas
(perkuliahan) akan membuat kepercayaan diri Public Speaking mahasiswa
tumbuh dengan baik. Tetapi bagi mahasiswa baru untuk menjalin interaksi
sosial tersebut terkadang terasa sulit karena mereka harus menyesuaikan diri
dengan lingkungan belajar yang baru.

Penyesuaian diri menuntut kemampuan mahasiswa untuk hidup dan


bergaul secara wajar terhadap lingkungan barunya. Penyesuaian diri juga
merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa dan
mental individu. Penyesuaian diri inilah yang membuat mahasiswa baru
terkadang sulit untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sekelas/luar
kelasnya sehingga bagi sebagian mahasiswa akan sulit untuk memiliki
kepercayaan diri Public Speaking.

Siti Farhiyah mahasiswa semester 3 KPI berpendapat bahwa Publik


Speaking amat sangat penting, apalagi dengan status kita sebagai Mahasiswa,
mahanya siswa. Mahasiswa yang suatu saat akan berperan aktif dalam
masyarakat, turun langsung untuk mengabdi pada masyarakat, dan berperan
aktif dalam menyampaikan isi hati masyarakat. Kalau kita tidak percaya diri
dalam melakukan Public Speaking kita tidak akan berhasil dalam mengabdi
pada masyarakat, karena pendekatan itu awalnya dari sebuah ucapan dan
perkataan. Sebagian Mahasiswa IUQI memiliki kemampuan dalam berbicara
didepan khalayak ramai sudah banyak yang terlatih. Karena banyak juga yang
sudah biasa mengabdi di ponpesnya, bahkan sudah ada yang menjadi Guru
atau Pendidik di Sekolah/Yayasan. Ditambah lagi ada dukungan dari UKM
yang berperan aktif dalam meningkatkan tingkat percaya dirinya Mahasiswa
IUQI.

Menurut saudara Ismail Marzuki, mahsiswa Ekonomi Syariah


semester 3 IUQI berpendapat bahwa Klo menurut saya sediri public speaking
itu penting karena untuk bekal di masa depan. Kemudian Sebagian besar
mahasiswa IUQI belum menguasai Sepenuhnya.

Menurut saudara Restu barko seorang Profesinal mc dan seorang tutor


public speaker sekaligus mahasiswa KPI semester 3. Public Speaking itu
penting untuk mahasasiwa, melihat banyak mahasiswa IUQI yang kesulitan
dalam menyampaikan materi saat presentasi, seperti gugup, gemetaran
bahkan, berbicara terbata-bata, dan takut untuk melihat audience saat
melakukan presentasi.

1.2 Batasan masalah

Dalam Penelitian ini, kami membahas mengenai Pentingnya Public


Speaking terhadap presentasi mahasiswa di IUQI Bogor. Penelitian ini hanya
membahas tentang Public Speaking khusus mahasiswa IUQI Bogor saja agar
pembahasan tidak melebar dari topik penelitian kami.

1.3 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan suatu


masalah sebagai berikut:

1) Bagaimana ?

2) Bagaimana pengaruh Public Speaking terhadap presentasi mahasiswa?

1.4 Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui pengaruh rasa percaya diri mahasiswa melakukan


presentasi didepan umum.
2) Untuk mengetahui Ilmu Public Speaking

1.5 Manfaat Penelitian


1) Memberikan rasa percaya diri mahasiswa dalam melakukan presentasi
didepan umum.
2) Menambah khazanah keilmuan Public Speaking bagi mahasiswa

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan mengunakan metode kuantitatif.

Note:

1. Masalah (cari solusi) dengan metode?


2. Metode penelitian

BAB II LANDASAN TEORI


1 Pengertian Public Speaking dan Sejarahnya

Public Speaking merupakan jenis komunikasi publik yang pada


dewasa ini telah menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang guna
mencapai tujuan hidupnya, hal ini dikarenakan hampir sebagian besar
aktifitas dan kepentingan (jika tidak dikatakan seluruhnya) hubungan
kemanusiaan di atas muka bumi ini dilakukan dengan cara komunikasi verbal
(lisan).

Komunikasi lisan ini merupakan karunia Tuhan yang paling berharga


bagi manusia yang membedakannya dengan binatang. Dengan kemampuan
lisannya manusia dapat berhubungan satu sama lain, apalagi zaman sekarang
teknologi sudah sangat maju sehingga kemampuan berbicara manusia ini bisa
ditransfer lewat media elektronik dan bisa dinikmati, di dengar dan disaksikan
oleh manusia di seluruh dunia ini, sehingga kominukasi lisannya melewati
batas teritorial dan wilayah.

Lama sebelum lambang-lambang tulisan digunakan, orang sudah


menggunakan bicara sebagai alat komunikasi. Bahkan setelah tulisan
ditemukan sekalipun, bicara tetap lebih banyak digunakan. Ada beberapa
kelebihan berbicara yang tidak dapat digantikan dengan tulisan. Bicara lebih
akrab, lebih pribadi (personal), lebih manusiawi. Tidak mengherankan bila
ilmu bicara telah dan sedang menjadi perhatian manusia (Jalaludin Rahmat,
1:2011).

Ilmu bicara ini pada perkembangan berikutnya dikenal dengan sebutan


retorika. Kata retorika menurut (Morisson dan Andi Corry Wardhani: 2009)
saat ini sering dinilai negatif karena menunjukkan orang yang hanya
mengungkapkan kata-kata kosong, tapa disertai dengan tindakan nyata.
Namun, pada masa lalu, retorika mengacu pada tindakan positif yang
dipelajari orang. Studi mengenai retorika sudah dimuali sejak lama sekali dan
diperkirakan orang sudah mempelajari retorika di Yunani pada masa lima
abad sebelum masehi. Komunikasi sebagai disiplin ilmu, bahkan baru
dianggap ada setelah munculnya retorika yang secara luas didefinisikan
sebagai human symbol use dan pada awalnya, retorika hanya memperhatikan
pada persuasi.

Pada zaman sekarang ini retorika (seni atau kepandaian berpidato)


lebih dikenal dengan istilah public speaking, sebutan ini tentu saja terkait
dengan kemajuan perkembangan komunikasi yang sangat dinamis dan cepat.
Public speaking merupakan ilmu berbicara di depan umum, berani berbicara
di depan publik, berbicara di depan publik atau sejumlah orang atau umum
merupakan kegiatan yang pada dasarnya dilakukan dalam rangka komunikasi.
Sedangkan tujuannya adalah menyampaikan pikiran dan perasaan kepada
orang lain agar mereka mengikuti kehendak kita.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat tiga bagian inti, yaitu:

1. Ethos (ethical), yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia
berkomunikasi.
2. Pathos (emotional), yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat
dipahami dengan pendekatan psikologi massa.
3. Logos (logical), yaitu pemilihan kata ataukalimat atau ungkapan oleh
pembicara (Saefudin Zuhri, 2010).
Sementara itu public speaking dari segi etimologi berarti berbicara di
depan umum. Public mempunyai arti umum sedangkan speaking mempunyai
arti berbicara.

Kemampuan bicara bisa merupakan bakat. Tetapi, kepandaian bicara


yang baik memerlukan pengetahuan dan latihan. Orang sering memperhatikan
cara dan bentuk pakaian yang dikenakannya, agar kelihatan pantas, tetapi ia
sering lupa memperhatikan cara dan bentuk pembicaraan yang diucapkanya
supaya kedengaran baik. Retorika sebagai ilmu bicara sebenarnya diperlukan
setiap orang. Bagi ahli komunikasi atau komunikator retorika adalah conditio
sine qua non (Jalaludin Rahmat, 2:2011).

Berbicara di depan publik merupakan salah satu hal yang paling


penting dalam kehidupan kita. Untuk itu, berbicara di depan publik
merupakan salah satu seni berkomunikasi. Ada lima komponen atau unsur
penting dalam komunikasi yang harus kita pertimbangkan.

Lima unsur tersebut meliputi; pengirim pesan (sender), pesan


dikirimkan (message), pesan dikirimkan melalui channel (delivery channel
atau medium), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback)
(Saefudin Zuhri, h. 23-24 :2010).

2 Public Speaking sebagai suatu proses komunikasi

Komunikasi adalah proses pengalihan makna antar pribadi manusia


atau tukar berita dalam sistem informasi. Aspek-aspek komunikasi retoris,
antara lain:

1. Seorang pembicara menyampaikan kepada seorang pendengar sebagai


kawan bicara atau pelanggan dengan maksud menjual sesuatu.
2. Memberikan argumen terhadap isi pembicaraan.
3. Sambil mendengar dan mempertimbangkan argumen dari pendengar.

Faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikasi retoris adalah;


Pertama, pada komunikator, yaitu:
1. Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi itu
sendiri.
2. Sikap komunikator.
3. Pengetahuan umum.
4. Sistem sosial.
5. Sistem kebudayaan.

Kedua, faktor pada pesan dan medium,yaitu:


1. Elemen pesan.
2. Struktur pesan.
3. Isi pesan dan proses penyamapain pada khalayak (Saefudin Zuhri, 2014).

Komunikasi pada dasarnya berupaya bagaimana kita meraih perhatian,


cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggung jawab, dan respon positif
dari orang lain.
Komunikasi pada dasarnya berupaya bagaimana kita meraih perhatian,
cinta kasih, minat, kepedulian, simpati tanggung jawab dan respon positif dari
orang lain. Namun untuk mencapai kondisi-kondisi tadi tidaklah mudah,
diperlukan suatu kepandaian berkomunikasi dengan memahami teori-teori
komunikasi agar komunikator mampu memahami komunikan dengan baik.
Di samping itu, seorang komunikator juga harus bisa menyeimbangkan antara
apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuat (sesuai dengan sikap dan
prilakunya).

Kesesuaian kata dan perbuatan itu merupakan prinsip komunikasi.


Seorang komunikator tidak hanya pandai berbicara tetapi dibuktikan secara
konsisten dengan perbuatan. Prinsip ini sangat sesuai bila kita kaitkan dengan
prinsip dasar Nabi Muhammad sebagai seorang nabi dan seorang da’i
(retoris), beliau memiliki kemampuan berkomunikasi yang hebat dan baik
(tabligh), seorang yang cerdas (fathonah), seorang yang jujur (shidiq), dan
dapat dipercaya (amanah), sehinggadalam menyampaikan pesan dakwahnya
akan terlihat kesungguhannya, tidak dibuat-buat, dan tidak mengurangi atau
menambahkan (Enjang AS dan Aliyudin, 48: 2009).