Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENGARUH EPISTEMOLOGI
DALAM PENDIDIKAN RA

Dosen Pembimbing : Sirotjul Muntholib, M.Pd.I


Disusun Oleh : Tika Retnosari (18723070)
Semester : III

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah


FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

STKIP NURUL HUDA TANAH MERAH C


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah


memberikan taufiq, rahmat serta hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah
yang berjudul Pengaruh Epistemologi dalam Pendidikan RA ini dapat selesai tepat
pada waktunya.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sirotjul
Muntholib, M.Pd.I., selaku dosen pengampu yang telah membimbing dan
memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini. Kami juga mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis mohon maaf apabila ada kesalahan ataupun kekurangan dalam
makalah yang dibuat ini. Semoga makalah yang penulis buat ini dapat bermanfaat
untuk pengetahuan kita semua. Untuk tercapainya kesempurnaan makalah ini,
kami mohon kritik dan saran dari teman-teman yang membacanya.

Belitang, Oktober 2019

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 2
C. Tujuan.......................................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI


A. Pengertian Epistemologi........................................................... 3
B. RA (Raudatul Athfal)............................................................... 4
C. Pengaruh Epistemologi dalam RA............................................ 4

BAB III TANTANGAN


A. Harapan...................................................................................... 7
B. Ungkapan Epistemologi............................................................. 8

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 10
B. Saran ........................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Epistemologi merupakan bagaimana cara-cara memperoleh pengetahuan
yang benar (ilmu), dari penjelasan sebelumnya diketahui bahwa tahun-tahun
pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis
dalam hal tumbuh kembang anak baik fisik, mental, maupun psikososial, lembaga
pendidikan berguna untuk membantu anak berkembang secara optimal sesuai
dengan tugas perkembangannya maka dibutuhkan serangkaian program yang
bertujuan memberikan pengalaman belajar untuk anak. Serangkaian program yang
dirancang oleh para pendidik dengan menggunakan berbagai acuan perkembangan
anak disebut dengan kurikulum. Pengertian lain menyebutkan kurikulum
merupakan rencana kegiatan atau dokumen tertulis yang mencakup strategi untuk
mencapai tujuan. Sementara menurut NAEYC, pengertian kurikulum dapat
dijabarkan dengan melihat arti dalam proses pelaksanaannya terlebih dahulu,
antara lain :
1. Rencana kegiatan yang berisi pengembangan seluruh area perkembangan
anak: fisik, emosional, bahasa, seni, dan kognitif
2. Mencakup bahasan yang luas meliputi seluruh disiplin ilmu : sosial,
intelektual, dan konsep diri anak
3. Dibangun atas pengetahuan yang sudah siap dipelajari dan dilaksanakan
anak (aktivitas pengetahuan utama) untuk menghubungkan pengetahuan
mereka dan menerima konsep serta keterampilan baru.
4.  Menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran untuk
membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi, membuat hubungan
yang bermakna dan memberi kesempatan untuk menggali perkembangan
konseptual
5. Mengembangkan pengetahuan & pemahaman; proses; dan keterampilan
untuk digunakan dan diterapkan serta untuk mempelajari pengetahuan

1
6. Berisi pengembangan intelektual, penemuan inti pembelajaran, dan alat
penerimaan ilmu yang berbeda sesuai dengan gaya belajar anak
7. Memberi kesempatan anak untuk mengembangkan budaya dan bahasa
keluarganya sambil mengembangkan kemampuan dalam bersosialisasi
dengan budaya dan bahasa di sekitarnya
8. Berisi tujuan yang realistik dan dapat dicapai oleh sebagian besar anak
pada usianya
9. Menggunakan teknologi dan bersifat filosofis dalam proses pembelajaran
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pengaruh
epistemology dalam RA (Raudhatul Athfal).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Epistemologi ?
2. Beri penjelasan tentang Raudhatul Athfal (RA)?
3. Sebutkan pengaruh Epistemologi dalam Raudhatul Athfal (RA)?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Epistemologi.
2. Untuk mengetahui tentang Raudhatul Athfal (RA).
3. Untuk mengetahui pengaruh epistemologi dalam Raudhatul Athfal (RA).

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Epistemologi
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat
dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme berarti
pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Dengan
demikian epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenahi
pengetahuan. Epistimologi dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang
benar (teori of knowledges). Epistimologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau
kebenaran pengetahuan. 1[1]
Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk
membedakannya dengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika umum).
Filsafat pengetahuan (Epistimologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang
mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Epistomogi merupakan bagian dari
filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan
asal mula pengetahuan, batas – batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan.
Objeck material epistimologi adalah pengetahuan . Objek formal epistemologi
adalah hakekat pengetahuan. 2[2]
Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan
filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan
seperti apa pengetahuan tersebut. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa
logika, yaitu: analogi, silogisme, premis mayor, dan premis minor.
Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:
1. Rasionalisme   :  Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.

1)
1 Mujamil Qomar, Epistimologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional hingga Metode
Kritik.( Jakarta : Erlangga, 2005) h. 22
2)
Ibid., hal. 23

3
2. Empirisme       : Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat
diindra karena ilmu atau pengalam impiris.

B. RA (Raudatul Athfal)
Raudhatul Athfal (RA) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak
usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program
pendidikan umum dan pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia empat
tahun sampai enam tahun.3[3]
RA, sebagai lembaga pendidikan anak usia dini berciri khas Islam
memainkan peranan penting bagi perkembangan generasi umat Islam karena pada
lembaga inilah pembinaan terhadap anak dengan penanaman iman dan takwa
kepada Allah SWT dilakukan secara intensif. Stimulasi terhadap potensi anak
dilakukan secara Islami sehingga anak tidak hanya mendapatkan bekal agar siap
untuk belajar pada tingkat dasar akan tetapi juga belajar untuk mengenal dan
mencintai agamanya.
Terdapat beberapa faktor penting dalam kesuksesan pendidikan, termasuk
dalam RA, di antaranya adalah kurikulum, pendidik, peserta didik, metode, dan
sarana-prasarana. Mengingat pentingnya peranan kurikulum dalam proses
pembelajaran, dalam makalah ini penyusun membatasi kajian pada kurikulum RA.

C. Pengaruh Epistemologi dalam RA


Melalui epistimologi, selain seseorang dapat mengetahui proses
tersusunnya suatu ilmu, juga memiliki kemampuan untuk menemukan dan
menyusun ilmu tersebut. Dengan epistimologi diharapkan dapat menumbuhkan
kesadaran bahwa jangan sampai seseorang puas dengan sekedar memperoleh
pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh
pengetahuan, dan dengan cara demikian seseorang bukan hanya menjadi
konsumen ilmu yang bersifat pasif, melainkan menjadi produsen ilmu yang aktif,

33)Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak & Raudhatul Athfal, Jakarta: Pusat


Kurikulum, Balitbang Depdiknas: 2003

4
kreatif dan dinamis, serta akan menjadi seorang pengikut, melainkan menjadi
seorang penemu. 4[4]
Melalui epistimologi, seseorang tidak lagi disuguhi sebuah ilmu yang
sudah jadi dan siap pakai, melainkan diberikan wawasan dan sekaligus
pengalaman dalam mengkonstruksi sebuah ilmu. Untuk itu setiap disiplin ilmu
harus memiliki epistimologi. Kekokohan sebuah ilmu selanjutnya ditentukan pula
oleh kekohan epistimologinya. Jika dibandingkan dengan ilmu fiqh, maka
epistimologi merupakan ushul fiqih dan qawa’id fiqhiyah-nya. Kekokohan ilmu
fiqih ditentukan oleh ushul fiqh dan qawa’id fiqhiyahnya.
Dalam epistimologi dikenal dengan sebuah cara untuk mendapatkan suatu
ilmu, maka di dalam pendidikan mulai dari perencanaan sampai penerapan
pendidikan harus dilaksanakan secara benar, tepat dan ilmiah. Pendidikan tidak
bisa dilaksanakan secara pengalaman, oleh karena itu di dalam mengkaji sebuah
sistem proses pendidikan harus adanya hasil dari suatu kajian yang mendasar.
Model sebuah pendidikan merupakan proses yang sangat bermakna di dalam
pencerdasan bangsa. Pedoman yang dilaksanakan merupakan sebuah mekanisme
bagi para pelaksana baik dari tingkat pusat sampai pada guru yang sebagai pusat
tombak pendidikan.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah disadari oleh pemerintah. Anak
mendapatkan jaminan hidup untuk tumbuh dan berkembang secara baik
sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945 Pasal 28B Ayat (2):
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Untuk dapat tumbuh dan berkembang secara baik, anak memerlukan
stimulasi yang tepat bagi setiap potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat diperoleh
dalam pendidikan. anak-anak juga merupakan warga Negara yang berhak
mendapat pendidikan sebagaimana yang ditetapkan oleh UUD 1945 Pasal 31
Ayat 1:
Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.
4)
4 Syamsul Afandi, S.S., ‘Rekonstruksi Epistimologi Pendidikan Islam,” dalam  Ari Dwi
Haryono dan Qurroti A’yuni, Pendidikan Dasar Islam, (Malang;Bani Hasyim Press, 2010), 70-71.

5
Pendidikan yang dimaksud oleh pasal di atas dijelaskan dalam UUD 1945
Pasal 31 Ayat (2) :
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan pasal ini, maka pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah maupun masyarakat bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan
ketakwaan serta akhlak mulia. Maka, “cerdas” sebagaimana disebut di atas tidak
dapat dipisahkan dari nilai-nilai spiritual. RA, sebagai pendidikan anak usia dini
berbasis Islam, merupakan upaya pengenalan dan penanaman keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia. Dengan demikian pengaruh epistemology bagi
pendidikan di RA sangat penting sekali karena menjadi dasar pendidikan akhlak
bagi setiap anak.

6
BAB III
TANTANGAN

A. Harapan
Epistimologi sebagai Solusi Mengatasi Problema Pendidikan Islam dalam
Dunia Pendidikan
Selama ini telah banyak gagasan dan pemikiran yang ditawarkan para
ahli untuk mengatasi kelemahan dan berbagai masalah pendidikan Islam
sebagaimana tersebut. Namun berbagai upaya tersebut dipandang belum
mendasar dan masih parsial. Upaya yang bersifat mendasar dan strategis untuk
mengatasi masalah tersebut adalah melalui konsep epistimologis yang
dibangun berdasaran ajaran Islam. Menurut Iqbal, sebagaimana dikutip
Abdullah Idi dan Toto Sumarto, bahwa guna mengatasi pendidikan Islam
perlu dilakukan dengan rekonstruksi  yang diberi landasan filosofis
epistimologis. 5[5] Pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, dewasa ini,
dihadapkan pada problematika filofis epistimologis yang tak kunjung usai.
Epistimologi atau paradigma ilmu pendidikan Islam itu adalah suatu
konstruksi pengetahuan yan memungkinkan kita memahami realitas ilmu
pendidikan sebagai mana Islam memahaminya. Kontruksi pengetahuan itu
dibangun oleh nilai-nilai Islam dengan tujuan agar kita memiliki hikmah
(wisdom) yang atas dasar itu dibentuklah praktik pendidikan yang sejalan
dengan nilai-nilai normatif Islam. Pada tarap ini, paradigma Islam
epistimologi pendidikan Islam menuntut adanya disain besar tentang ontologi
epistimologi dan aksiologi pendidikan Islam. Fungsi paradigma ini pada
dasarnya untuk membangun perspektif Islam dalam rangka memahami realitas
ilmu pendidikan Islam dengan ditopang oleh kontruk pengetahuan yang
menempatkan wahyu sebagai sumber utamanya, yang pada gilirannya
terbentuk struktur transendental sebagai referensi untuk menafsirkan realitas

5)
5 Lihat Abdullah Idi & Toto Sumarto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Tiara
Wacana, 2006), cet. I, hal. xi.

7
pendidikan. 6[6] Islam sebagai paradigma ilmu pendidikan juga memiliki arti
kontstruksi sistem pendidikan yang didasarkan atas nilai-nilai universal Islam,
dengan berpijak pada tauhid, prinsip kesatuan makna kebenaran dan prinsip
kesatuan sumber sistem. Dari prinsip-prinsip tersebut selanjutnya ditanamkan
elemen-elemen pendidikan sebagai world view (Pandangan Keduniaan Islam)
terhadap pendidikan. 7[7]
Jika disepakati bahwa epistimologi pendidikan merupakan salah satu
solusi yang paling fundamental dalam mengatasi pendidikan terutama pada
pendidikan dasar ana-anak (RA).

B. Ungkapan Estimologi
Raudhatul Athfal (RA) sebagai lembaga pendidikan Islam anak usia dini
di Indonesia, diatur  dalam UU tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Republik Indonesia. Peran Raudhatul Athfal (RA) dalam Islam sesuai dengan
konsep Al-Qur`an dan Hadis yang membicarakan pendidikan anak sejak lahir
sampai akhir kehidupan manusia, dari rentang waktu perjalanan hidup manusia
salah satu masa yang dilalui adalah ketika usia dini. Dalam perspektif kajian Islam
pendidikan memenuhi tiga aspek kehidupan sebagai dasar pembentukan
kepribadian anak yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Selain Al-Qur`an dan Hadis,
pakar psikologi juga banyak menuliskan hasil penelitiannya tentang pertumbuhan
dan perkembangan anak usia dini. Pada sisi pertumbuhan dan perkembangan usia
dini, pendidikan memperhatikan aspek fisik, kognitif, emosional, sosial, bahasa
dan perkembangan agama. Oleh karena itu, peran penting Raudhatul Athfal (RA)
dalam pendidikan anak usia dini adalah sebagai lembaga pendidikan yang
menanamkan dasar-dasar agama, ilmu dan kreatifitas sebagai bekal mereka di
masa depan.

66 )Lihat Abdul Mujib dan Jusup Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Prenada
Media, 2006), cet. I, hal. 2
7)
Lihat Abdul Mujib dan Jusup Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Prenada
Media, 2006), cet. I, hal. 2

8
Epistemologi Pendidikan Islam adalah upaya, cara, atau langkah-langkah
untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan yang berdasarkan Alquran dan As-
Sunah. Pengaruh pendidikan Barat terhadap pendidikan Islam yaitu hanya maju
secara lahiriyah, tapi kering secara rohaniyah. Ukuran hasil pendidikan hanya
dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang diserap peserta didik, tetapi tidak
pada kesadaran diri peserta didik untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan yang
dimilikinya. Sistem pendidikan Islam harus menempatkan Alquran maupun As-
Sunah sebagi pemberi petunjuk ke arah mana proses pendidikan digerakkan.
Pembaharuan epistemologi pendidikan Islam seharusnya dikembangkan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan Islam harus mampu
melahirkan ilmuwan yang berfikir kreatif, otentik dan orisinal, tidak dengan cara
mengingat atau mengulang tetapi dengan cara berfikir. Dalam upaya membangun
epistemologi pendidikan Islam seharusnya para pakar dan pemegang kebijakan
dalam pendidikan Islam mengadakan pembaharuan secara komprehensif terhadap
metode atau pendekatan yang dipakai membangun pendidikan Islam.

9
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Problem epistemologi pendidikan anak-anak merupakan permasalahan
urgen yang perlu dipertegas dalam mengurai “kegagalan pendidikan”.
Epistemologi lebih penting dari pada sekedar ontologi ataupun aksiologi, karena
epistemologi menjadi sarana memperbincangkan bagaimana pendidikan
dilakukan. Sedangkan hakekat pendidikan dan untuk apa dilakukan telah
terkonstruk secara establish melalui telaah ontologi dan aksiologi. Kenapa harus
dengan tawaran epistimologi pendidikan RA? Hal ini disebabkan pendekatan
epistemologi pendidikan anak secara Barat-centris hanya memiliki kontribusi
pada peningkatan rasionalitas yang tidak diimbangi dengan kultur moralitas anak
didik yang mengakibatkan “dekadensi moral”. Secara historis pendidikan di RA
telah mendata fakta interaksi pendidikan anak dari berbagai kurun sejarah masa
lampau yang dinarasikan melalui contoh teladan para nabi dan rasul beserta orang
saleh. Fakta historis pendidikan anak ini sangat relevan didekati dengan perspektif
epistemologi.
Pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat
bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.
Maka, “cerdas” sebagaimana disebut di atas tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai
spiritual. RA, sebagai pendidikan anak usia dini berbasis Islam, merupakan upaya
pengenalan dan penanaman keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Dengan
demikian pengaruh epistemology bagi pendidikan di RA sangat penting sekali
karena menjadi dasar pendidikan akhlak bagi setiap anak.

B. Saran
Epistemologi pendidikan Islam di RA menggambarkan proses pendidikan
yang harmonis, dialogis, penuh dengan uswah (teladan) dan mempertimbangkan
emosional serta rasional anak didik. Pendidikan anak diarahkan pada kekokohan

10
akidah sebagai landasan kehidupan, dilanjutkan dengan penguatan ibadah sebagai
realisasi atas akidah, serta kesalehan sosial sebagai standar kesalehan ibadah.

11
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi & Toto Sumarto. 2006. Revitalisasi Pendidikan Islam.Yogyakarta :


Tiara Wacana.

Abdul Mujib dan Jusup Mudzakir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:Prenada
Media.

Mujamil Qomar. 2005. Epistimologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional


hingga Metode Kritik. Jakarta : Erlangga.

Syamsul Afandi, S.S. 2010. Rekonstruksi Epistimologi Pendidikan Islam, dalam 


Ari Dwi Haryono dan Qurroti A’yuni, Pendidikan Dasar Islam,
Malang;Bani Hasyim Press.

Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak & Raudhatul Athfal. Jakarta: Pusat


Kurikulum, Balitbang Depdiknas : 2003

UUD 1945 Amandemen Keempat

12