Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas Makalah ini
dengan baik. Saya mengucapkan terimakasih kepada Guru Pembimbing karena
telah memberikan arahan sehingga tugas ini dapat selesai dengan sebaik-baiknya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
Saya mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.
Atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih, semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca.

Belitang, Agustus 2019

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


..........................................................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................................. 1
Rumus Masalah ............................................................................................... 3
Tujuan............................................................................................................... 3
Manfaat ............................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN
Penafsian Yang Beraneka Ragam..................................................................... 5
Masalah sebab, Motif dan Pengaruh Pada Kausalitas Sejarah......................... 8
Masalah Pengaruh ............................................................................................ 10
Gerak Sejarah ................................................................................................... 10

BAB III PENUTUP


Kesimpulan ...................................................................................................... 13

ii
iii
MAKALAH
TENTANG KAUSALITAS

DISUSUN
OLEH :
1. MELANI
2. HERA M
3. WAHYU N
4. DEVI Y
5. YANTI P
6. ULFA R
7. KHOIRUL
8. WILI S

KELAS : X. IPA 1

GURU PEMBIMBING :
ANITA BONITA, S.Pd

SMA NEGERI 1 BUAY MADANG TIMUR


KABUPATEN OKU TIMUR
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kausalitas atau hukum sebab-akibat dalam sejarah merupakan hal yang
tidak dapat dinafikan. Hal ini terbukti bahwa kondisi sosial, politik, ekonomi, dan
kondisi seluruh aspek kehidupan manusia pada masa ini di tentukan kondisi
kehidupan manusia pada masa lalu. Demikian juga kehidupan manusia pada masa
yang akan datang sangat tergantung pada kehidupan manusia dimasa ini.
Dalam sebuah seminar seorang Profesor Sosiologi mengatakan bahwa
dalam membangun keilmuan terdapat empat pilar pokok yang harus ada di
dalamnya, meskipun dalam filsafat ada dua. Keempat pilar keilmuan tersebut
yaitu penomena, konsep, generalisasi dan teori. Adapun tugas keilmuan adalah
mencari sebab dan akibat dari penomena sosial tersebut (atau dikenal dengan
hukum kausalitas).
Dengan mencari kausalitas dari sebuah penomena sosial yang menjadi
kajian kita maka kita akan mengetahui makna dibalik makna, sehingga yang kita
dapatkan bukan hanya mengetahui bahwa pacar kita suka warna pink, namun apa
yang menyebabkan sang pujaan hati  suka dengan warna tersebut.
Karena kita akan mencari makna dibalik makna yang tersembunyi, maka
strategi analisis data (bukan metode analisis data) yang digunakan dalam hal ini
bisa berupa strategi analisis data kualitatif-verifikatif dan strategi grounded
research, atau mungkin pula bisa menggunakan strategi analisis data deskriptif-
kualitatif yang sekedar menggambarkan penomena. Namun proses terakhir
cendrung untuk hanya pengungkapan penomena tentang pertanyaan apakah,
dimana, dan kapan.
Ketiga proses analisis data di atas sudah pasti yang dapat memberikan
makna di balik penomena yang tampak adalah proses analisis yang pertama dan
dan proses analisis yang kedua, sedangkan proses analisis yang ketiga hanya dapat
memberikan gambaran. Lebih lanjut sang profesor mengatakan bahwa yang masih
menggunakan pertanyaan apakah adalah Sejarah dan Bahasa sehingga keduanya
bukan bertujuan untuk mengembangkan keilmuan, jadi keduanya juga bukan ilmu

v
melainkan seni, berbeda dengan sosiologi, antopologi, ekonomi dan lain-lain yang
bertujuan untk mengembangkan keilmuan, sehingga rumpun kajian tersebut
adalah ilmu dan bukan hanya pengetahuan. Jadi kesimpulan sang profesor yang
mungkin tidak pernah membaca metodologi sejarah atau perkembangan
metodologi sejarah bahwa sejarah adalah pengetahuan atau seni bukan ilmu untuk
membangun keilmuan.
Setelah mendengar secara langsung pernyataan sang professor tadi, saya
kembali teringat dengan beberapa buku yang pernah saya abaca yang berkaitan
dengan sejarah sebagai ilmu dan rivalitas sejarah dan bidang studi sosiologi yang
tidak pernah akur padahal merupakan bidang studi serumpun yang sangat
bertetangga dekat.
Bagaimana rivalitas dan saling ketidak pengertian antara sosiolog dan
Sejarwan dapat kit abaca pada bukunya Peter Burke yang berjudul Sejarah dan
Teori Sosial. Saling tuduh yang berlebihan dapat kita simak pada pernyataan
Sejarawan yang mengatakat bahwa “sosiologi adalah ilmu icak-icak yang
mempersulit orang untuk memahami realitas sosial yang sudah jelas”.
Sedangkan Sosiolog menyambutnya dengan menuduh Sejarawan hanya sebagai
seorang kolektor bangunan yang belum tentu bahan yang mereka sediakan akan
terpakai oleh seorang Sosiolog.
Terkait dengan hukum sebab akibat yang harus ada dalam ilmu sosial
tersebut sehingga baru dikatakan sebuah ilmu, dan mengatakan sejarah bukan
ilmu melainkan seni perlu kita diskusikan, walaupun tempat yang saya sediakan
ini sangat singkat. Karena apa yang saya tulis ini merupakan jawaban saya
terhadap tuduhan bahwa sejarah bukan ilmu, tentu dengan alasan yang sebisa
mungkin saya akan jelaskan menurut paradigm keilmuan saya.
Dalam ilmu alam hukum sebab akibat ini memang sudah jelas adanya, hal
ini sama dengan generalisasi dalam ilmu alam tersebut. Misalnya jika besi
dipanaskan maka akibatnya akan meleleh dan semua besi yang di panaskan akan
meleleh. Hal ini bukan saja penerangan adanya generalisasi dalam ilmu alam
namun secara tidak langsung sebab akibat yang di timbulkan.

vi
Sedangkan dalam ilmu sosial, sudah barang tentu penomena sosial yang
sama di tempat yang berbeda tidak akan menghasilkan akibat yang sama. Jadi
hubungan sebab akibat dalam ilmu sisi lain bukan berupa sebab akibat mutlak
melainkan sebab akibat yang berintaeraksi, malahan tidak jelas mana sebab dan
mana akibat yang ditimbulkan.
Beberapa hal tentang pencarian sebab dari sebuah penomena sosial sebagai
jawaban dari pertanyaan kemengapaan yang merupakan tingkatan pertanyaan
bahwa kita sedang bermain dalam ranah keilmuan memang tidak menjadi
masalah. Namun yang menjadi permasalahan bagi saya adalah pernyataan bahwa
sejarah bukan ilmu sehingga tidak akan dapat membangun keilmuan. Pada
kesemmpatan ini saya tidak akan membahas mengenai kenapa sejarah dikatakan
sebagai ilmu dan bilamana sejarah dikatakan seni. Namun yang menjadi titik
perhatian saya berkisar pada ranah kemengapaan dalam ilmu sejarah. Untuk lebih
memahami kausalitas sejarah, berikut akan dikemukakan tentang penafsiran
kausalitas yang beraneka ragam, masalah sebab, motif, dan pengaruh, serta gerak
sejarah.

A. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Pengertian Kausalitas
2. Metode Induksi Mill
3. Kekeliruan dalam penalaran Kausalitas

B. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui arti Kausalitas,
metode-metode yang digunakan sehingga tidak adanya kekeliruan dalam
Penalaran Kausalitas.

C. Manfaat
Adapun manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
a. siswa dapat mengetahui Kausalitas yang ternyata ada dalam masyarakat

vii
b. Menguasai berbagai macam metode dan mampu memanfaatkan metode-
metode tersebut menjadi sebuah penalaran yang jelas, efektif dan mudah
dimengerti
c. Ketepatan dalam Penalaran Kausalitas.

viii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penafsiran yang beraneka ragam

Louis Gottschalk memberikan penjelasan tentang penafsiran yang


beraneka regam dengan mengibaratkan sejarahwan dengan musikus. Komposisi
musik lebih cermat daripada kata-kata yang dijelaskan dan diucapkan. Instrumen-
instrumen musik merupakan alat yang secara mekanis lebih akurat untuk
memproduksi maksud seorang komponis dari pada pikiran, tangan, atau manusia
untuk memproduksi pikiran seorang saksi.
Pemusik seakan-akan merupakan sejarawan yang menginterpretasikan
pencapaian pada masa lampau yang bersifat terspesialisasi.begitu juga halnya
dengan aktor, dalam interpretasinya, para seniman terdapat berbagai kemungkinan
tekanan dan variasi. Berdasarkan uraian singkat di muka, dapat diketahui bahwa
pada penafsiran sejarah sudah tersimpul penafsiran sosial. Itulah sebabnya ilmu
sejarah sebetulnya masuk ke dalam keluarga besar ilmu-ilmu sosial. Penafsiran
sejarah dapat dimaknai sebagai penafsiran terhadap gejala-gejala sosial yang
dijumpai manusia secara nyata / riil / empiris dan memiliki hubungan fungsional
atau interdependensi.
Perlu ditambahkan di sini bahwa penafsiran sejarah bukan hanya untuk
(ilmu) hukum saja. Penafsiran sejarah bukan hanya meliputi peraturan
perundang-undangan belaka, melainkan ke segenap aspek kehidupan manusia
yang nyata, konkrit, dan partikular.
1. Contoh kausalitas sejarah dapat dijumpai pada sejarawan yunani kuno yang
lama tinggal di romawi, yaitu dalam karyanya "the histories'. teori besarnya
disebut "teori siklus" yang menunjukkan terjadinya cause and effect [sudah
dengan sendirinya bercorak causaal genetische].
2. Contoh penafsiran sejarah dapat dijumpai dalam karya-karya niccolo
machiavelli [ilmuwan politik italia modern] yang berjudul "il principe" dan
"discorsi sulla prima deca di tito livio". machiavelli membangun
argumentasinya berdasarkan bahan-bahan dari zaman lampau sampai ke

ix
zamannya sendiri, lantas mempergunakan penafsiran sejarah demi pemecahan
masalah/problem solving yang dihadapi italia pada masa hidupnya.
menurutnya, sejarah membuktikan bahwa negara-negara di dunia; sejak
dahulu hingga kalau bukan republik berarti kerajaan.
3. Kalangan sejarawan yang bereaksi terhadap filosof abad ke-19 yang masing-
masing menganggap dirinya telah menemukan keterangan betul satusatunya
mengenai perubahan sejarah, dapat disebut ''kaum pluralisme” setidak-
tidak`nya sejak zaman Voltaire sebagai reaksi terhadap macam sejarah yang
hanya mencacat peristiwa-peristiwa besar dan perbuatan orang-orang
terkemuka telah terdapat mereka yang menganjurkan sesuatu ''sejarah baru''
yang akan meliputi perkembanganperkembangan sosial, budaya, politik dan
ekonomi yang merupakan pola beragam umat manusia, perkembangan
peradaban yang perbanyak segi ''.
4. Mengenai keseluruhan masa lampau manusia ini tersirat anggapan bahwa ada
terdapat beberapa pengatruran merupakan salah satu macam yang merupakan
satusatrunya yang betul. sejarah cenderung untuk memberikan interprestrasi
yang pluralis mengenai sebab.

Memang keterangan morfologis mengenai pertumbuhan dan kemunduran


bahwa yang menganut interprestasi epistemologis yaitu yakni suatu yang
mengurutkan budaya yang berbeda-beda sesuai dengan pengetahuann yang lebih
tinggi yang menjadi sumbernya minus kepercayan kepada kemajuan yang tidak
terbatas. kemunduran budaya-budaya yang tidak memiliki yang tidak memiliki
iman yang menyelamatkan karena beranggapan bahwa akal membawa benih
kehancuran begitu kehancuran bagi proses hidup hidup beradab dan arena mencari
suatu kepercayaan yang tidak sepenuhnya didukung akal.tetapi didalam rangka
filsafat morfologis mererka meliputi segalanya itu, mereka memberi tempat bagi
satu rangkain sebab-sebab yang lebih kecil.
Konsep kausalitas sangat berpengaruh dalam sejarah, tanpa kausalitas
sejarah akan menjadi ilmu yang memuat hal kronologis saja. Namun  penggunaan
kausalitas harus dibatasi oleh dua hal yaitu :

x
1. Batas jangkauan masa lampau dan akan dicari hubungannya dengan
peristiwa lain
2. Batas jumlah faktor yang berpengaruh, dianggap tetap karena tidak
diperiksa (Gotstschalk,1975:164)
3.

Jadi, Kusalitas adalah suatu rangkaian peristiwa (I) yang mendahului


peristiwa yang menyusul (II).

Penyebab kausalitas:
a. Sebab langsung : jangka pendek
 sebagai suatu kebetulan penggerak
 bukan merupakan suatu sebab yang sungguh-sungguh
 hanya merupakan suatu titik dalam suatu peristiwa
 dalam hal ini sebab langsung merupakan petunjuk yang baik untuk
menemukan anteseden yang lebih tepat diberi sebutan “sebab-sebab”

b. Sebab tidak langsung : banyak faktor


 merupakan hal sangat kompleks karena dapat didasarkan berbagai faktor
 memerlukan filosofi sejarah, teori sebab musabab dalam sejarah,
generalisasi

xi
B. Masalah sebab, motif, dan pengaruh pada kausalitas sejarah
Masalah sebab menjadi inti bahasan dari peristiwa sejarah. Sejarah
cenderung untuk berbicara tentang sebab langsung dan sebab tidak langsung.
Sebab langsung adalah awal peristiwa yang dapat diamati secara langsung
misalnya : sebab langsung perang dunia 1 adalah peristiwa pembunuhan pangeran
putra mahkota austria di saravejo, Bosnia. Sebab langsung perang dunia I adalah
invasi terhadap polandia oleh tentara nazi zerman. Sebab tak langsung merupakan
awal peristiwa yang tidak dapat diamati secara langsung contohnya: dalam
peristiwa perang dunia I dan II terdapat aspek politik kekuasaan, anarki dunia,
persaingan komersial persenjataan dan lain- lain.
Menentukan sebab langsung dari satu peristiwa relatif lebih mudah, namun
sering pula terjadi perbedaan pendapat antara sejarawan untuk menentukan titik
tolak dari pada gerakan besar misalnya, untuk menentukan kapan dimulainya
penjajahan belanda di indonesia, ada yang mengatakan sejak tahun 1596 yaitu
sejak kornelis de houtman mendarat di banten dan ada yang mengatakan sejak di
tanda tanganinya pelakat pendek oleh raja- raja di indonesia.
Sebab langsung kadang kadang mempunyai sifat kebetulan, tetapi bukan
merupakan suatu sebab yang sungguh sungguh. Sebab langsung hanyalah
merupakan suatu titik dalam rantai peristiwa. Dalam fungsi ini sebab langsung
merupakan petunjuk untuk menentukan antiseden- antiseden yang lebih tepat
untuk diberi sebuah sebutan sebab.
Suatu kebetulan yang lain akan mempunyai akibat yang sama karena faktor
yang menentukan masih terus berlangsung. Masalah- masalah sebab tak langsung
tampak apabila sejarawan mendiskusikan akan seringnya terjadi perselisihan
paham karena ketegangan kausal mengenai peristiwa – peristiwa hanya
didasarkan pada filsafat sejarah padahal filsafat sejarah itu tidak ada.
Akhirnya perbedaan paham mengenai interpretasi tidak hanya terjadi pada
kalangan sejarawan melainkan juga di kalangan ilmu- ilmu yang lain. Masalah
motif pemikiran mengenai motivasi manusia erat hubungannya dengan pemikiran
sebab musabab sejarah. Harus di akui bahwa masalah sebab-musabab sejarah pada
pokoknya masih belum di pecahkan. dan dalam taraf perkembangan sekarang
dalam pengetahuan kita, suatu pertimbangan mengenai benar atau salah, cerdas

xii
atu tidak cerdas, mencukupi atau tidak mencukupi baik atu buruk, besar atau
kerdilnya filsafat-filsafat sejarah, niscayalah di dasarkan atas criteria yang masih
di perdebatkan. Banyak sejarawan masih mengambil sikap nihilities mengenai
filsafat-filsafat di dalam sejarah semuanya itu buruk ;baiklah kita tolak semuanya.
Tetapi nihilitisme semacam itu berbahaya, bahayanya tidak hanya terletak
pada ketiadaan bentuk dari pada apa yang mereka tulis (karena nihilitisme tidak
mengajukan criteria apapun untuk seleksi , penyusunan dan tekanan )melainkan
juga bahaya ketiadaan arti (karma data yang di tempatkan sematamata dalam urut-
urutan kronologis dan alfabetis yang merupakan satu-satunya susunan yang
mungkin, tanpa sesuatu filsafat akan cenderung hanya merupakan penyataan
mengenai apa, tanpa keterangan mengenai mengapa, bagaimana, dan untuk apa
baik atau buruk). Tetapi jika sejarawan-sejarawansemacam itu kebingungan, maka
sebagian dari pada kesalahan terletak pada para sarjana ilmu-ilmu sosial dan para
filsuf. Sejarah sebagai geschichtswissenschaft (yakni sebagai cabang pengetahuan
yang mengenai peristiwa-peristiwa lampau) tidak merumuskan prinsip-prinsip
umum.
Agaknya belum ada teori umum mengenai motivasi yang telah disusun
oleh sarjana- sarjana ahli personalitas mereka maupun bagi sarjana sejarah.
Tomas dan inantechi mengetengahkan 4 keinginan sebagai berikut“ setiap
individu mempunyai varietas yang luas daripada keinginan- keinginan yang dapat
dipenuhi dengan menggabungkannya ke dalam masyarakat”. Diantara pola umum
keinginannya dapat kita sebutkan :
1. Hasrat untuk pengalaman baru untuk rangsangan segera
2. Hasrat akan pengakuan, termasuk tanggapan rasa dan penghargaan sosial
umumyang diteguhkan oleh alat- alat mulai dari pameran perhiasan sampai
kepada demonstrasi kemampuan melalui prestasi ilmiah.
3. Hasrat untuk berkuasa yang diungkapkan dengan hak milik tirani domestik
depotisme politik yang didasari atas naluri kebencian tapi dapat
disublimasikan menjadi ambisi yang terus- menerus didalam kungkungan
tabu stabil.

xiii
C. Masalah pengaruh
Dalam ilmu-ilmu sosial kedalaman ilmu pengetahuan ditunjukkan sejauh
mana ilmuwannya dapat menggali sebab-musabab (sebab-akibat/kausalitas)
fenomena yang ditelitinya. Oleh karena sifatnya nomotetis, maka mereka berusaha
mencari sebab-musabab yang umum melalui fenomena-fenomena tertentu,
sehingga menjadi hukum kausalitas yang permanen di manapun dan dalam waktu
yang lama. Dalam perkembangannya kemudian melahirkan suatu teori, yang
dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena kongkret yang ditemui.
Untuk mempertahankan rerlevansinya, teori-teori dalam ilmu sosial itu
diverifikasikan secara terus menerus, sehingga menjadi kuat, yang kemudian
disebut sebagai teori agung. Teori-teori ini digunakan untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang ada sekarang maupaun untuk memprediksi fenomena
yang akan datang.
Masalah pengaruh ini dalam ilmu sejarah dapat diartikan sebagai efek
yang tegas dan membentuk pikiran dan prilaku manusia baik perorangan maupun
secara kelompok. Dalam suatu peristiwa, pengaruh dapat berarti dorongan atau
bujukan dan bersifat abstrak karena tidak ada suatus standar untuk mengukurnya
sehingga dapat diterima secara umum, dan kadang- kadang akan mudah
menghasilkan kekeliruan atau setidaknya terdapat ketidaksepakatan antara
sejarawan.
Apakah interpretasi seseorang mengenai suatu sebab, pemgaruh dan
motivasi adalah benar, mungkin hanya merupakan persoalan keyakinan batiniah
dan bukan pesimpulan persoalan logis berdasarkan kesaksian, dan oleh karena itu
sangat mudah diperdebatkan.

D. Gerak Sejarah
Pada gerak sejarah ini masih banyak yang harus kita temukan dari
beberapa hal-hal tersebut yang merupakan bagian dari kausalitas sejarah.
Gerak sejarah adalah suatu alur yang menggambarkan bagaimana jalannya
proses sejarah, yakni berupa suatu pola kejadian dalam berbagai peristiwa
kehidupan manusia. Sudah sejak lama bahwa sejarah dianalogikan sebagai suatu
ilmu yang mempelajari mengenai masa lalu. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah,

xiv
namun juga sebenarnya sejarah tidaklah sepenuhnya seperti itu.Sejarah menjadi
sangat menarik karena di dalamnya terdapat banyak hal yang justru tidak dimiliki
oleh kehidupan bangsa pada saat ini. Sejarah bukan hanya membicarakan masa
lalu, akan tetapi sejarah memiliki sebuah esensi dimana sejarah mampu
memberikan fakta dan pemahaman kepada generasi saat ini untuk melihat apa
yang telah dibuat oleh generasi pendahulunya.
Teori- teori sejarah beranggapan bahwa sejarah itu merupakan suatu gerak
yang tumbuh dan berkembang secara evolusi, yaitu perbahan secara alami. Karena
menggambarkan peristiwa masa lampau secara berurutan. Urutan atas seccession
merupakan pokok teori untuk menggambarkan gerak sejarah. Prof. Berling dalam
“filsafat dewasa ini” mengatakan bahwa sejarah ialah cerita dari kemajuan yang
menjadi masalah sekarang ialah faktor- faktor yang menentukan gerak evolusi.
Masalah menimbulakan beberapa teori.
a) Gerak sejarah bagi masyarakat yang bersahaja ditentukan oleh kebudayaan
animisme dan dinamisme.
b) Dalam kebudayaan politheisme, gerak sejarah ditentukan oleh dewa- dewa
c) Dalam kebudayaan monotheisme, gerak sejarahnya ditentukan oleh tuhan
d) Gerak sejarah yang ditentukan oleh hukum alam yang teori ini berkembang
menjadi filsafat determinisme
e) Gerak sejarah yang ditentukan oleh manusia itu sendiri
f) Gerak sejarah yang ditentukan oleh materi
Moh. Ali dalam “Pengantar ilmu sejarah indonesia” menggambarkan
gerak sejarah sebagai berikut :

Jiwa besar
Manusia

Khalayak

Gerak sejarah
disebabkan oleh

Tuhan
Dewa
Kekuatan
Kekuatan dari
masyarakat
luar
Nasib

xv
Untuk memudahkan masalah pokok gerak sejarah ialah bahwa masalah itu
harus dipandang sebagai masalah kusus mengenai manusia. Sejarah adalah sejarah
manusia, peran sejarah hanya manusia, penyusunan sejarah adalah manusia, dan
peminat sejarah pun adalah manusia juga.
a. Manusia bebas menentukan nasib sendiri
b. Manusia tidak bebas menentukan nasibnya, nasib manusia ditentukan oleh
kekuatan diluaar pribadinya
Paham bahwa manusia itu otonom dalam filsafat disebut determinisme.
Secara ringkas dalam garis besar konsepsi gerak sejarah ini dapat diterangkan
sebagai berikut :
a. Pandangan sosial yang individulaistis cenderung pada anggapan bahwa
kerja individulah yang menggerakkan perkembangan umat manusia.
b. Gerak sejarah merupakan kesadaran umat manusia
c. Pengaruh alam terhadap kehidupan manusia
d. Teori evolusionisme
e. Pengaruh historis materialisme

xvi
BAB III
PENUTUP

Dalam ilmu sosial hukum sebab-akibat tidak dapat ditegakkan secara penuh,
terlebih lagi dalam ilmu sejarah yang ilmuwannya tidak dapat mengamati secara
langsung peristiwa yang sudah lampau. Betapapun seringnya
sejarawa  mengamati, meneliti, dan merekonstruksi fakta-fakta, kiranya akan sulit
untuk dapat merumuskan sebab-sebab umum. Hal ini dikarenakan sejarawan
terkendala dengan subjektifnya, harus menurunkan fakta-fakta dari dokumen yang
dinilai eviden. Kemudian dengan imajinasinya sejauh mungkin dalam sejarah
sejarawan merekonstruksi fakta menjadi sejarah.
Masalah pengaruh ini dalam ilmu sejarah dapat diartikan sebagai efek
yang tegas dan membentuk pikiran dan prilaku manusia baik perorangan maupun
secara kelompok. Dalam suatu peristiwa, pengaruh dapat berarti dorongan atau
bujukan dan bersifat abstrak karena tidak ada suatus standar untuk mengukurnya
sehingga dapat diterima secara umum, dan kadang- kadang akan mudah
menghasilkan kekeliruan atau setidaknya terdapat ketidaksepakatan antara
sejarawan.
Teori- teori sejarah beranggapan bahwa sejarah itu merupakan suatu gerak
yang tumbuh dan berkembang secara evolusi, yaitu perbahan secara alami. Karena
menggambarkan peristiwa masa lampau secara berurutan.
Oleh karena subjektifitas yang melekat pada sejarawan, mengakibatkan
sebab-sebab itu menjadi beranekarangam dan subjektif pula sifatnya, sehingga
sulit untuk mengeneralisasikanya. Dalam mengatasi permasalahan ini sejarawan
harus dapat memilih dengan tepat dan mampu memberikan argumentasi yang
meyakinkan. Dalam hal ini sejarawan harus memilih sebab mana yang akan
dijadikan titik berat dalam penelitiannya. Oleh karena itu hal ini harus sudah
ditentukan pada waktu memilih dan menilai fakta sejarah, sehingga dalam
eksplanasinya semuanya sudah tersedia. Dengan demikian akan dihasilkan
laporan penelitian / penulisan sejarah yang ilmiah.

xvii