Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

MAKELAR

Dosen Pengampu : BETTI JUHANDI, M.Pd.I

Disusun Oleh :
NUR HADI IHSAN

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)


MISBAHUL ULUM GUMAWANG
2020/2021
KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah, segala puji bagi Allah karena berkat rahmat, nikmat,
hidayah, serta inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Makelar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang
telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar dalam penyusunan Makalah ini banyak kesalahan serta
kekhilafan. Untuk itu, kami harapkan kritik dan saran dari pembaca agar
kedepannya makalah ini bisa lebih baik lagi. Atas kesalahan dan kekhilafan yang
kami lakukan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya
dan kepada Allah kami mohon ampun, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua. Amin.

Belitang, November 2020

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 2
C. Tujuan......................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Makelar (Samsarah)................................................ 3
B. Hukum Makelar dalam Islam.................................................... 3
C. Rukun dan Sayarat Samsarah.................................................... 5

BAB III KESIMPULAN................................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Selaku makhluk sosial,manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam
mengisi kehidupannya. Betapa banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara
membeli atau menjual barang mereka. Adapula di antara yang karena kondisinya
tidak memungkinkan untuk turun kepasar menemui penjual atau pembeli. Maka
dalam keadaan yang demikian, diperlukan bantuan orang lain yang berprofesi
sebagai makelar yang menerima upah atau komisi.
Dalam berbagai aktifitasekonomi,kehadiran makelar mampu menambah
kegiatan aktifitas perekonomian dengan mengalami kemudahan dalam pemenuhan
barang-barang kebutuhan. Tidak jarang seorang makelar mampu menghubungkan
antara penjual dan pembeli tanpa menghadirkan keduanya dalam satu akad atau
dalam suatu transaksi perjanjian yang dibuat keduanya. Tetapai makelarlah yang
membuat pengikatan janji tersebut dalam menghubungkan keduanya.Dikarenakan
tugas makelar ialah menjadi penghubung dan perantara barang dari si pemilik
barang dengan calon pembeli.
Dalam aktifitas seorang makelar tidak terikat dengan suatu barang,seperti
yang kita ketahui sekarang yaitu sebutan dengan mekelar tanah. Orang yang
menjadi perantara antara pemilik tanah dengan calon pembeli. Namun terkadang
istilah makelar hanya tertuju pada hal-hal yag berbau tanah saja atau tertuju
padanya. Tetapi semua kegiatan dan aktifitas ekonomi yang menghubungkan
antara penjual dengan pembeli, maka ia disebut dengan makelar.
Dalam transaksi bisnis sekarang lebih terasa dibutuhkan, dibanding pada
masa-masa sebelumnya. Hal ini disebabkan karena rumitnya transaksi bisnis saat
ini, seperti contoh dalam bisnis eksport, import, bisnis grosir hingga bisnis retail,
semua itu menjadikan makelar (broker) sangat penting dalam memainkan peranan
kegiatan ekonomi.

iv
B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan Pengertian Makelar / Calo (Samsarah)?

2. Jelaskan Hukum Makelar / Calo dalam Islam?

3. Jelaskan Rukun dan Sayarat Makelar / Calo (Samsarah)?

C. Tujuan

1. Mengetahui Pengertian Makelar / Calo (Samsarah)

2. Mengetahui Hukum Makelar / Calo dalam Islam

3. Mengetahui Rukun dan Sayarat Makelar / Calo (Samsarah)


 

v
BAB II
PEMBAHASAN
 
A. Pengertian Makelar (Samsarah)
Dalam kamus  Bahasa Indonesia, makelar didefinisikan sebagai perantara pada
jual beli.1 Makelar dalam bahasa Arab disebut dengan simsar. Dan kerja makelar
disebut simsarah,ialah perantara perdagangan yaitu orang yang menjualkan atau
yang mencarikan pembeli. Atau perantara antara penjual dan pembeli untuk
memudahkan jual beli.2 Makelar dalam kitab-kitab fiqih terdahulu disebut dengan
istilah “samsarah” atau “simsarah”. Sayyid Sabiq mendefinisikan simsar adalah
orang yang menjadi perantara antara pihak penjual dan pembeli guna lancarnya
transaksi jual beli.3
 
Pada zaman modern ini,pengertian perantara sudah lebih meluas lagi,sudah
bergeser kepada jasa pengacara,jasakonsultan,tidak hanya sekedar
mempertemukan orang yang menjual dengan orang yang membeli saja, dan tidak
hanya menemukan barang yang dicari dan menjualkan barang saja.

B. Hukum Makelar dalam Islam


Makelar / Calo dibolehkan dalam Islam dengan syarat-syarat tertentu. Adapun
dalil-dalilnya adalah sebagai berikut 4 :
Pertama : Firman Allah :
‫يَاأَيُّهَاالَّ ِذينَآ َ َمنُواأَوْ فُوابِ ْال ُعقُو ِد‬
  “Wahai orang-orang beriman sempurnakanlah akad-akad ( janji-janji) kalian “
(Qs. al-Maidah : 1)

11) Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa


Kini, (Jombang: Lintas Media,1999), hal.200
2)
Ali Hasan, MasailFiqhiyah, (Jakarta: Rajawali Press,2003), hal.131

23) Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 12,(Bandung: Alma’arif,1993),hal. 69


4)
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/413/hukum-calo-dalam-
islam/
3
4

vi
Pada ayat di atas, Allah  memerintahkan orang-orang beriman untuk
menyempurnakan akad –akad, termasuk di dalamnya menyempurnakan perjanjian
seorang pedagang dengan calo.
Kedua : Hadist riwayat Qais bin Abi Gorzah, bahwasanya ia berkata  :
– ‫صلَّىاللَّهُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ – ِ ‫فَ َم َّربِنَا َر ُسواُل هَّلل‬،َ‫صلَّىاللَّهُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم – ال َّس َما ِس َرة‬
َ – ِ ‫ُكنَّانُ َس َّمىفِي َع ْه ِد َر ُسواِل هَّلل‬
‫ص َدقَ ِة‬َّ ‫ض ُرهُاللَّ ْغ ُو َو ْال َحلِفُفَ ُشوبُوهُبِال‬ ُ ْ‫َّار ! إِنَّ ْالبَ ْي َعيَح‬
ِ ‫ ” يَا َم ْع َش َرالتُّج‬: ‫فَقَا َل‬،ُ‫فَ َس َّمانَابِا ْس ٍمهُ َوأَحْ َسنُ ِم ْنه‬
     “Kami pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam disebut dengan
“samasirah“ (calo/makelar), pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wassalam menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik
dari calo, beliau bersabda : “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli ini
kadang diselingi dengan kata-kata yang tidak bermanfaat dan sumpah (palsu),
maka perbaikilah dengan (memberikan) sedekah“ (Shahih, HR Ahmad, Abu
Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)
Hadist di atas menunjukkan bahwa pekerjaan calo sudah ada sejak masa
Rasulullah shallallahu ‘alahiwassalam, dan beliau tidak melarangnya, bahkan
menyebut mereka sebagai pedagang.
      Ketiga: Calo / makelar adalah pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat, karena
ada sebagian masyarakat yang sibuk, sehingga tidak bisa mencari sendiri barang
yang dibutuhkan, maka dia memerlukan calo / makelar untuk mencarikannya.
Sebaliknya, sebagian masyarakat yang lain, ada yang mempunyai barang
dagangan, tetapi dia tidak tahu cara menjualnya, maka dia membutuhkan calo
untuk memasarkan dan menjualkan barangnya.
 Imam bukhari berkata: “ibnu sirin, artha, ibrahim dan hasan memandang bahwa
simsarah itu boleh”.
Ibnu abbas berkata :”tidak mengapa orang yang mempunyai barang berkata:jualah
barang ini dengan harga sekian lebihnya untukmu”
Ibnu sirinberkata:”apabilaseseorangg kamu berkata:jualah barang ini sekian
keuntungannya untukmu dan untukku, maka tidaklah mengapa”. 5

55) Bakry, Drs.H Nazar, Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam,


Jakarta,Cipta Prakarsa:1994,hlm:63

vii
Sejalan dengan pandangan para fuqaha tersebut, maka pekerjaan makelar itu tidak
terlarang (mubah) karena tidak ada nash yang melarang.

C. Rukun dan Sayarat Samsarah


Untuk sahnya aqad samsarah harus memenuhi beberapa rukun yaitu :

1. Al-Muta’aqidani (makelar dan pemilik harta)


Untuk melakukan hubungan kerja sama ini, maka harus ada makelar
(penengah) dan pemilik harta supaya kerja sama tersebut berjalan lancar.

2. Mahallal-ta’aqud (jenis transaksi yang dilakukan dan kompensasi)


Jenis transaksi yang dilakukan harus diketahui dan bukan barang yang
mengandung maksiat dan haram, dan juga nilai kompensasi (upah) harus
diketahui terlebih dahulu supaya tidak terjadi salah paham.

3. Al-shigat (lafadz atau sesuatu yang menunjukkan keridhoaan atas transaksi


pemakelaran tersebut.

Makelar  harus memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut6:

1. Persetujuan kedua belah pihak (Qur’an surat an-nisa :29)

2. Obyek akad bisa diketahui manfaatnya secara nyata dan dapat diserahkan.

3. Obyek akad bukan hal-hal yang maksiat atau haram misalnya mencarikan
untuk kasino/tempat perjudian dan sebagainya.
Makelar harus bersikap jujur, ikhlas, terbuka dan tidak melakukan penipuan,
bisnis yang haram dan syubhat (yang tidak jelas halal/haramnya). Ia berhak
menerima imbalan setelah berhasil melakukan akadnya, sedangkan pihak yang
menggunakan jasa makelar harus segera memberikan imbalannya, karena upah

66) Bakry, Drs.H Nazar, Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam,


Jakarta,Cipta Prakarsa:1994,hlm:64

viii
atau imbalan pekerja dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja yang
bersangkutan.7 sesuai dengan hadits nabi:
ُ‫اُ ْعطُوااأْل َ ِجي َْراَجْ َرهُقَ ْباَل َ ْنيَ ِجفَ ِعرْ قُه‬
Artinya” berilah kepada pekerja itu upahnya sebelum kering keringatnya H.R Ibnu
Majah dari Ibnu Umar, Abu Ya’la dari Abu Hurairah, dan Al Thabrani dari Anas)
Jumlah imbalan yang harus diberikan kepada makelar adalah menurut
perjanjian,sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-maidah :1
‫يَاأَيُّهَاالَّ ِذينَآ َ َمنُواأَوْ فُوابِ ْال ُعقُو ِد‬
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu
dan juga hadits Nabi :
‫ْال ُم ْسلِ ُموْ نَ َعلى ُشرُوْ ِط ِه ْم‬
Artinya: Orang-orang islam itu menurut perjanjian-perjanjiannya”

Cara Menentukan Upah Makelar atau Calo.


Para ulama membolehkan seorang calo untuk mengambil upah dari pedagang atau
pembeli atau dari keduanya. Walaupun sebagian ulama mengatakan bahwa upah
calo diambil dari pedagang, dan ini berdasarkan kebiasaan di pasar pada waktu
itu. Berkata Imam Nawawi : “Upah calo dibayar oleh pemilik barang yang
memintanya untuk menjualkan barangnya.”

Apakah Upah Calo Boleh Dalam Bentuk Prosentasi ?


Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat berdasarkan perbedaan mereka dalam
memandang status upah calo ini apakah termasuk dalam akad Ju’alah (semacam
sayembara berhadiah), atau akad ijarah (sewa-menyewa) dalam hal ini menyewa
tenaga calo, atau akad wakalah (perwakilan)?
Pendapat Pertama : Mayoritas ulama menyatakan bahwa upah calo harus jelas
nominalnya, seperti Rp. 500.000,- atau Rp. 1.000.000,-  dan tidak boleh dalam
bentuk prosentasi, seperti dapat 10 % dari hasil penjualan.

77) Tjiptoherijanto Prijono Prospek Perekonomian Indonesia dlm rangka


Globalisasi, Rineka Cipta, Jakarta:1997, hlm.100

ix
Alasan mereka, bahwa upah calo masuk dalam katagori Ju’alah, dan
syarat Ju’alah harus jelas hadiah atau upahnya.  Hal ini berdasarkan hadist Abu
Sa’idal-Khudri yang menyatakan :
ُ‫ير َحتَّىيُبَيَّنَلَهُأَجْ ُره‬
ِ ‫اراأْل َ ِج‬
ِ ‫صلَّىاللَّهُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َع ْنا ْستِ ْئ َج‬
َ ‫نَهَى َر ُسواُل للَّ ِه‬
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melarang seseorang
menyewa seorang pekerja sampai menjelaskan jumlah upahnya“ (HR. Ahmad)
Pendapat Kedua : MadzhabHanabilah membolehkan seseorang memberikan
upah kepada calo dalam bentuk prosentase. Berkata al-Bahuti: “ Kalau seseorang
memberikan hamba sahayanya atau kendaraannya  kepada orang yang bisa
mempekerjakannya dengan imbalan upah dari sebagian hasilnya, maka
dibolehkan. Begitu juga dibolehkan  jika dia memberikan baju kepada yang bisa
menjahitnya, atau  kain kepada yang bisa menenunnya dengan imbalan upah dari
sebagian keuntungannya.”8
Mereka berdalil dengan hadist Amru bin ‘Auf bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassalam bersabda :
  ‫ْال ُم ْسلِ ُمونَ َعلَى ُشرُو ِط ِه ْمإاَّل شَرْ طًا َح َّر َم َحاَل اًل أَوْ أَ َحلَّ َح َرا ًما‬
“Seorang muslim itu terikat kepada syarat yang telah disepakatinya, kecuali
syarat yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang
haram” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dan berkata Tirmidzi : Hadist ini hasan
shohih)
Hal ini dikuatkan dengan perkataan Ibnu Abbas : “Tidak mengapa seseorang
berkata kepada temannya,: “Jual-lah baju ini, bila kamu bisa menjual dengan
harga lebih dari sekian dan sekian, maka itu untukmu”
Begitu juga dikuatkan dengan perkataan Ibnu Sirrin : “Bila seseorang berkata
kepada temannya : “Jual-lah barang ini dengan harga sekian, jika ada keuntungan,
maka itu untukmu atau untuk kita berdua, maka hal itu dibolehkan.”
Apabila jumlah imbalannya tidak ditentukan dalam perjanjian, maka hal ini 
dikembalikan kepada adat istiadat yang berlaku dimasyarakat. Misalnya di

88) Kasyafal-Qina’ (11/ 382)

x
indonesia menurut tradisi makelar berhak menerima imbalan antara 2,5% sampai
5%, tergantung kepada jummlah transaksi. Bila transaksijual beli kurang dari 1M
imbalannya 5%, sedangkan transaksi yang lebih dari 1 jtimbalanya cukup 2,5%.
Muamalah dengan memakai adat istiadat atau hukum adat itu dibenarkan oleh
islam, berdasarkan kaidah hukum islam:
“Adat kebiasaan itu diakui sebagai dasar hukum”
Tetapi kaidah hukum ini perlu diberi catatan:”selama adat kebiasaan atau hukum
adat itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dalam al-qur’an dan sunah”.
Misalnya islam tidak membenarkan anak angkat sebagai ahli waris harta
peninggalan dari orang tua angkatnya.

Makelar / Calo yang Dilarang


Adapun calo yang dilarang dalam Islam adalah sebagai berikut 9 :

 Jika dia berbuat sewenang-wenang kepada konsumen dengan cara


menindas, mengancam, dan mengintimidasi. Sebagaimana yang sering
dilakukan oleh sebagian calo tanah yang akan dibebaskan dan ticket bis pada
musim lebaran.

 Berbuat curang dan tidak jujur, umpamanya dengan tidak memberikan


informasi yang sesungguhnya baik kepada penjual maupun pembeli yang
menggunakan jasanya.

 Calo yang memonopoli suatu barang yang sangat dibutuhkan masyarakat


banyak, dan menaikkan harga lebih tinggi dari harga aslinya, seperti  yang
dilakukan oleh calo-calo ticket kereta api pada musim liburan dan lebaran.

 Para pengusaha kota yang mendatangi pedagang dan petani di desa-desa


dan membeli barang mereka dengan harga murah dengan memanfaatkan
ketidaktahuan mereka terhadap harga-harga di kota, dan kadang disertai
dengan tekanan dan pemberian informasi yang menyesatkan.

99) http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/413/hukum-calo-dalam-islam/

xi
Adapun Penyebab dilarang nya calo adalah:

1. Jika pemakelaran tersebut memberikan mudharat dan mengandung


kezhaliman terhadap pembeli.

2. Jika pemakelaran tersebut memberikan mudharat dan mengandung


kezhaliman terhadap penjual.10
BAB III
KESIMPULAN
 
Samsarah / Simsarah, ialah perantara perdagangan yaitu orang yang menjualkan
atau yang mencarikan pembeli. Atau perantara antara penjual dan pembeli untuk
memudahkan jual beli.
Sejalan dengan pandangan para fuqaha, apabila kita kembali kepada aturan pokok,
maka pekerjaan makelar itu tidak terlarang (mubah) karena tidak ada nash yang
melarang. Dengan demikian antara pemilik barang dan makelar dapat mengatur
suatu syarat tertentu mengenai jumlah keuntungan yang diperoleh oleh pihak
makelar
Untuk sahnya aqad samsarah harus memenuhi beberapa rukun yaitu :

1. Al-Muta’aqidani (makelar dan pemilik harta)

2. Mahallal-ta’aqud (jenis transaksi yang dilakukan dan kompensasi)

3. Al-shigat (lafadz atau sesuatu yang menunjukkan keridhoaan atas transaksi


pemakelaran tersebut.
Makelar harus memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut:

1. Persetujuan kedua belah pihak (Qur’an surat an-nisa :29)

2. Obyek akad bisa diketahui manfaatnya secara nyata dan dapat diserahkan.

1010) Ad-duwaisyi, Ahmad bin Abdurrazaq, kumpulan Fatwa-fatwa Jual Beli,


Pustaka Imam Asy-syafi’i: Bogor: 2004, hlm.124

xii
3. Obyek akad bukan hal-hal yang maksiat atau haram misalnya mencarikan
untuk kasino/tempat perjudian dan sebagainya.
Para ulama membolehkan seorang calo untuk mengambil upah dari pedagang atau
pembeli atau dari keduanya
Adapun Penyebab dilarang nya calo / makelar adalah:

 Jika pemakelaran tersebut memberikan mudharat dan mengandung


kezhaliman terhadap pembeli.

 Jika pemakelaran tersebut memberikan mudharat dan mengandung


kezhaliman terhadap penjual.

xiii
DAFTAR PUSTAKA

Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini, (Jombang: Lintas


Media,1999)

Ali Hasan, MasailFiqhiyah, (Jakarta: Rajawali Press,2003)

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 12,(Bandung: Alma’arif,1993)

Ad-duwaisyi, Ahmad bin Abdurrazaq, kumpulan Fatwa-fatwa Jual Beli, Pustaka


Imam Asy-syafi’i: Bogor: 2004

Tjiptoherijanto Prijono Prospek Perekonomian Indonesia dlm rangka Globalisasi,


Rineka Cipta, Jakarta:1997, hlm

Nabil, M. “Makalah Hukum dagang tentang Makelar” 10 Oktober


2015 http://alaspawopi.blogspot.co.id/2014/05/makalah-hukum-dagang-
tentang-makelar.htm

Wati, Lisna. “SIMSAR (BADAN PERANTARA)”10 Oktober


2015http://makalahqsyamlah.blogspot.co.id/2012/06/simsar.html

xiv