Anda di halaman 1dari 36

BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL REFERAT

DESEMBER 2020
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

TRAUMA LISTRIK

Oleh :
Amelia Astrid Mulyadi, S.Ked 105505406218
Andi Eis Nurkhofifah, S.Ked 105505406318

Pembimbing :
Kompol Dr.dr.Mauluddin M, SH., MH., Sp.F
dr. Denny Mathius., Sp.F., M.Kes

Residen Pembimbing :
dr. Andi Iqbal
(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinis bagian Forensik dan
Medikolegal)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan laporan kasus ini dapat
diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Besar
Nabi Muhammad SAW.

Laporan kasus ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian
Forensik dan Medikolegal. Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima
kasih yang mendalam kepada Kompol Dr.dr.Mauluddin M, SH., MH., Sp.F dan dr.
Denny Mathius., Sp.F., M.Kes selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan
waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi
selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan kasus ini belum sempurna adanya
dan memiliki keterbatasan tetapi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak,
baik moral maupun material sehingga dapat berjalan dengan baik. Akhir kata, penulis
berharap agar laporan kasus ini dapat memberi manfaat kepada semua orang.

Makassar, Desember 2020

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

Arus listrik adalah pergerakan atau aliran partikel bermuatan listrik. Aliran

arus listrik yang besar melalui jaringan dapat menyebabkan lesi kulit, kerusakan

organ, dan kematian. Cedera ini biasa disebut sengatan listrik. Kematian akibat listrik

biasanya tidak disengaja.1 Electrocution merupakan kematian oleh karena lewatnya

arus listrik melalui tubuh seseorang. Trauma listrik biasa terjadi dilingkungan rumah

atau lingkungan industry. Manifestasi dari Trauma listrik sangat luas, dari kondisi

tanpa kelainan yang khas oleh karena listrik voltase rendah hingga trauma berat oleh

karena listrik voltase tinggi. Trauma oleh karena arus listrik meliputi luka bakar pada

kulit dan jaringan yang lebih dalam, gangguan ritme jantung, atau secondary injury

karena korban terjatuh setelah terkena arus listrik.2

Cedera listrik adalah jenis trauma mekanis yang berbeda dengan adanya pola

cedera yang terjadi karena petir, sengatan listrik tegangan rendah (kurang dari 600 V)

atau tegangan tinggi (lebih dari 600V), dan sebagian besar insiden tidak disengaja dan

dapat dicegah. Cedera listrik tegangan tinggi relatif jarang terjadi tetapi, sangat

berkontribusi pada kematian akibat kerja dengan adanya paparan berbahaya selama

tugas mereka di tempat kerja.1

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Trauma listrik merupakan suatu bentuk trauma fisik yang relatif umum, dapat

terjadi akibat petir, listrik tegangan rendah atau tegangan tinggi, dan sering dikaitkan

dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hampir semua trauma listrik terjadi

secara tidak disengaja dan seringkali dapat dicegah. Jika tidak berakibat fatal secara

instan, kerusakan yang terkait dengan trauma listrik dapat menyebabkan disfungsi

beberapa jaringan atau organ.3 Aliran arus listrik yang masuk melalui tubuh manusia

mampu menghasilkan berbagai efek yang bervariasi, mulai dari spasme otot lokal

yang tidak signifikan dan sedikit atau tanpa luka bakar hingga kematian seketika

dengan sedikit atau tanpa luka bakar atau luka bakar yang sangat parah. 4 Arus listrik

bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah. Arahnya sama

dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan electron-

elektron). Panas yang terjadi tergantung dari : banyaknya arus, lamanya kontak dan

besarnya hambatan.5

B. Epidemiologi

Di Amerika Serikat, ada sekitar 1000 kematian per tahun akibat trauma listrik.

Dari jumlah tersebut, sekitar 400 disebabkan oleh trauma listrik tegangan tinggi, dan

petir yang menyebabkan 50 hingga 300 kematian. Setidaknya ada 30.000 insiden

4
shock per tahun yang tidak fatal. Setiap tahun, sekitar 5% dari semua penerimaan unit

luka bakar di Amerika Serikat terjadi sebagai akibat dari cedera listrik. Sekitar 20%

dari semua cedera listrik terjadi pada anak-anak. Insidensinya paling tinggi pada

balita dan remaja. Pada orang dewasa, cedera ini sebagian besar terjadi di lingkungan

kerja dan merupakan penyebab utama keempat dari kematian traumatis terkait tempat

kerja), sedangkan pada anak-anak, cedera listrik paling sering terjadi di rumah.3

C. Etiologi

Trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran arus

listrik atau bisa disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Ada 2 jenis

tenaga yaitu :

1. Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat

2. Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC). Dipakai dalam

industri elektrolisis. Juga digunakan pada telepon (30-50 volt) dan tram

listrik (600-1000 volt), dan arus listrik bolak-balik (AC), biasanya digunakan

di rumah dan pabrik (220 volt).5

D. Patofisiologi

Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan

atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik

pada jantung dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun

eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membrane sel.5

5
Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun voltase tinggi

mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus AC

dapat menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang

lama dapat membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan napas.

Seluruh aliran dapat mengakibatkan mionekrosis ,mioglobinemia dan mioglobinuria

dan berbagai komplikasi. Selain itu dapat juka menyebabkan luka bakar.5

Faktor-faktor yang mempengaruhi efek listrik pada tubuh adalah5 :

1. Jenis/macam aliran listrik.

Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat

sengatan arus listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan

intensitas 70-80 mA menyebabkan kematian, sedangkan arus DC dengan

intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan.5

2. Tegangan/voltage.

Voltage yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian

manusia adalah 50 volt. Makin tinggin voltage akan menghasilkan efek yang lebih

berat pada manusia baik efek local maupun general. + 60% kematian akibat arus

listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya vibrilasi ventrikel,

sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis.

Volt adalah satuan gaya gerak listrik. Ini adalah gaya yang dibutuhkan untuk

menghasilkan intensitas 1 ampere ketika dilewatkan melalui konduktor yang

6
memiliki resistansi 1 ohm. Tegangan rendah (di bawah 50 volt), seperti yang

digunakan sebagai terapi, biasanya tidak fatal. Namun, korban jiwa karena arus

bolak-balik (AC) dari tegangan rendah telah dilaporkan.4

Sebagian besar korban jiwa mengalami shock dari arus pada tegangan 220–

250 volt, yang merupakan kisaran pasokan rumah tangga biasa. Pada tegangan

seperti itu, kerusakan yang biasa terlihat pada tubuh terjadi dalam bentuk 'tanda

listrik' kecil dan kematian disebabkan oleh gangguan fungsi internal. Tegangan

sedang, yaitu di bawah 500 volt, mempengaruhi kontak yang lama karena induksi

kejang otot dan oleh karena itu korban mencengkeram dan 'berpegangan' pada

konduktor. Dalam kondisi ini, arus yang perjalanan sesaatnya hanya

menyebabkan shock dapat menjadi mematikan. Pada tegangan tinggi, seseorang

dapat terlempar keluar dari sumbernya oleh kontraksi otot yang hebat yang

disebabkan oleh arus atau tubuh dapat rusak parah dengan luka bakar yang parah

dan dalam.4

3. Tahanan/resistance.

Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan perbedaan

kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit

tubuh, akan menurun besarnya pada tulang, lemak, saraf otot, darah dan cairan

tubuh. Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm.5

7
4. Kuat arus/intensitas/amperage

Kuat arus adalah kekuatan arus yang dapat mendeposit berat tertentu perak

dari larutan perak nitrat per detik. Satuannya ampere. Arus listrik yang diatas 60

mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan Fibrilasi ventrikel.5

mA Efek
1,0 Sensasi, ambang arus
1,5 Rasa yang jelas, persepsi arus
2,0 Tangan mati rasa
3,5 Tangan terasa ringan dan kaku
4,0 Parestesia lengan bawah
5,0 Tangan tremor dan lengan bawah spasme
7,0 Spasme ringan yang luas sampai lengan atas
10,0 Dapat sengaja melepaskan diri dari arus listrik
15,0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran
listrik
20,0 Kontraksi otot yang sangat sakit

5. Adanya hubungan dengan bumi/earthing.

Sehubung dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang

basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan

menggunakan alas kaki yang kering, karena pada keaadan pertama tahanannya

rendah.5

6. Lamanya waktu kontak dengan konduktor.

8
Makin lama korban kontak dengan konduktor, makin banyak jumlah arus

yang melalui tubuh yang akan menyebabkan kerusakan tubuh bertambah besar

dan luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot sehingga korban

malah menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama

sehingga korban jatuh dalam keadaan syok atau mematikan. Sedangkan pada

tegangan tinggi, korban akan terlempar atau melepaskan konduktor atau sumber

listrik yang tersentuh, karena akibata rus listrik dengan teganagn tinggi tersebut

dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh arus

listrik tersebut.5

7. Aliran arus listrik (patch of current),

Aliran arus listrik adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus

listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik

(point of entry) dan letak titik keluar bervariasi dari ringan sampai bera. Arus

listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk

disebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam

posisi aliran listrik tersebut. Bumi dianggap sebagai kutub negative. Orang yang

tanpa alas kaki leboh berbahaya kalau terkena aliran listrik, alas kaki dapat

berfungsi sebagai isolator, terutama yang berbahan karet.5

E. Gejala Klinik

9
Cedera listrik merupakan trauma dengan gravitasi ekstrim yang memiliki

patofisiologi yang unik. Cedera tersebut meliputi beberapa jenis yaitu cedera petir,

cedera tegangan tinggi, dan cedera tegangan rendah. Gejala klinis berkisar dari

sensasi kesemutan hingga kerusakan jaringan yang meluas dan bahkan kematian

seketika. Tiga mekanisme utama cedera akibat listrik adalah sebagai berikut: Energi

listrik menyebabkan kerusakan jaringan langsung, mengubah potensi istirahat

membran sel, dan menimbulkan tetani otot. Konversi energi listrik menjadi energi

termal, menyebabkan kerusakan jaringan besar-besaran dan nekrosis koagulatif.

Cedera mekanis dengan trauma langsung akibat jatuh atau kontraksi otot yang hebat.6

Seseorang yang pernah mengalami cedera listrik mungkin datang dengan

berbagai keluhan atau masalah, dan ini mungkin termasuk aritmia atau henti jantung,

henti napas, koma, trauma tumpul, atau bermacam-macam luka bakar. Beberapa

pasien mungkin mengeluhkan sensasi tidak menyenangkan sesekali tanpa kerusakan

fisik yang jelas, sementara yang lain mungkin hadir dengan rasa sakit yang besar dan

kerusakan jaringan yang nyata. Terlepas dari presentasi pasien, sangat penting untuk

menentukan detail tentang sumber cedera listrik (misalnya, tegangan tinggi versus

rendah, AC versus DC), lama kontak, dan trauma apa pun yang mungkin terjadi.

Pasien yang pernah mengalami cedera AC tegangan rendah mungkin datang dengan

hanya luka bakar superfisial, atau sebaliknya, banyak cedera parah jika terjadi kontak

yang lama dan / atau tetani otot.7

10
Cedera AC tegangan rendah berpotensi menyebabkan henti jantung atau

pernapasan, aritmia (misalnya fibrilasi ventrikel), atau kejang yang tidak disaksikan.

Untuk alasan ini, sengatan listrik harus dianggap sebagai pembeda untuk setiap

pasien yang datang dengan atau baru saja mengalami henti jantung. Selain itu,

penting untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang cedera listrik, dari

saksi atau personel layanan medis darurat, untuk memandu perawatan dengan tepat.7

Cedera AC tegangan tinggi lebih mungkin menyebabkan luka bakar termal yang

sangat merusak. Sangat jarang bagi pasien yang pernah mengalami cedera AC

tegangan tinggi mengalami kehilangan kesadaran atau henti jantung. Dalam keadaan

seperti itu, praktisi harus, sekali lagi, mencoba untuk mendapatkan informasi

sebanyak mungkin mengenai cedera dari saksi atau personel medis terkait.7

Terlepas dari keluhan yang muncul atau luasnya cedera listrik, semua pasien

harus menerima pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk menilai tingkat

kerusakan sepenuhnya. Secara umum, morbiditas cenderung lebih tinggi pada cedera

tegangan rendah dibandingkan dengan cedera tegangan tinggi. Fibrilasi ventrikel,

misalnya, dapat terjadi dengan paparan tegangan serendah 50 mA hingga 120 mA

(yaitu, lebih rendah dari arus tertinggi yang dapat diakses di sebagian besar rumah

tangga). Selain aritmia dan kelainan listrik lainnya, cedera listrik juga dapat merusak

miosit jantung secara langsung. Oleh karena itu, pasien mungkin mengalami aritmia

yang tertunda sebagai akibat dari kerusakan ini juga (misalnya, takikardia sinus atau

kontraksi ventrikel prematur). Namun, cedera listrik yang menyebabkan gejala sisa

11
jantung jangka panjang jarang terjadi. Jika jalur arus listrik melalui tubuh melintasi

toraks, terdapat risiko kelumpuhan otot dinding dada dan serangan pernapasan yang

terjadi bersamaan. Tidak seperti miosit jantung, jaringan paru-paru adalah konduktor

listrik yang buruk, dan oleh karena itu jarang mengalami cedera listrik langsung.7

Kerusakan kulit akibat cedera listrik sering kali merupakan cedera terkait yang

paling parah (sekunder hanya akibat komplikasi jantung). Luka bakar mungkin

tampak kecil meskipun terdapat cedera internal yang cukup besar (misalnya, seperti

luka bakar elektrotermal tegangan tinggi) yang mungkin memerlukan pembedahan

intervensi (misalnya, amputasi atau fasiotomi). Luka bakar umumnya paling parah

pada titik kontak sumber (masuk) dan tanah (keluar), dengan tingkat keparahan

cedera yang tersisa sangat bergantung pada intensitas dan durasi kontak sumber.

Busur listrik adalah bentuk pelepasan listrik yang terjadi di antara dua elektroda saat

arus listrik mengionisasi gas yang ada di udara. Jenis arus ini, juga dikenal sebagai

plasma, arus yang melewati media biasanya nonkonduktif, memiliki kepadatan arus

tertinggi dan seringkali bercahaya.7

Meskipun di alam, busur listrik terjadi dalam bentuk petir, ini juga merupakan

jenis arus listrik yang dapat dimanfaatkan dan digunakan secara industri (misalnya,

pengelasan, pemotongan plasma, penerangan fluoresen). Busur yang tidak diinginkan

juga dapat terjadi karena pemutus sirkuit, sakelar, atau titik kontak listrik yang

dipasang dengan buruk. Jika seseorang mengalami luka bakar busur listrik,

kemungkinan besar akan ada lesi kulit pada titik sumber dan titik kontak tanah. Lesi

12
ini secara khas memiliki pusat seperti kertas perkamen kering yang dikelilingi oleh

pinggiran yang tersumbat. Berdasarkan lokasi luka ini, seseorang dapat menentukan

jalur yang mungkin dari busur melalui tubuh. Busur juga dapat menyebabkan luka

bakar listrik, flash, atau api selain luka bakar listrik; oleh karena itu, berbagai luka

dapat diamati pada individu yang terkena. Luka bakar kilat terjadi ketika seseorang

berada di dekat panas yang dihasilkan oleh busur listrik, dan panas ini bisa mencapai

lebih dari 50.000 C.7

Luka bakar kilat dapat menembus tubuh seperti luka bakar busur atau, tergantung

pada jalur busur; lampu kilat hanya dapat melewati permukaan kulit, sehingga

menyebabkan luka bakar di permukaan atau ketebalan parsial tanpa cedera internal.

Pasien anak-anak mungkin datang dengan luka bakar mulut akibat menggigit atau

mengisap kabel listrik atau alat. Busur listrik sering terbentuk di antara satu sisi mulut

ke sisi lainnya, di mana mungkin terdapat keterlibatan otot orbicularis oris, atau

potensi deformasi bibir jika luka bakar melintasi oral commissure yang merupakan

sudut mulut. Mungkin ada sejumlah besar edema terkait, serta pembentukan eschar

dalam dua hingga tiga hari. Jika eschar melibatkan arteri labial, mungkin ada

perdarahan hebat saat eschar lepas setelah dua hingga tiga minggu. Oleh karena itu,

pasien-pasien ini harus diawasi secara ketat dan menerima tindak lanjut yang

memadai dengan spesialis luka bakar dan ahli bedah mulut atau plastik.7

Trauma tumpul sekunder akibat cedera listrik dapat menyebabkan cedera

muskuloskeletal atau kepala termasuk membran timpani, tulang belakang leher, atau

13
cedera wajah dan potensi kerusakan neurologis berikutnya. Pasien harus diperiksa

secara menyeluruh untuk setiap tanda sindrom kompartemen yang akan datang

(misalnya, luka bakar melingkar, kelainan vaskular, dan disfungsi neurologis atau

motorik). Konsultasi bedah harus dilakukan sedini mungkin untuk menghindari

komplikasi lebih lanjut (misalnya, sindrom kompartemen parah yang memerlukan

amputasi).7

Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association :9

1. Luka Bakar Ringan

a. Luka bakar derajat II < 5%

b. Luka bakar derajat II 10% pada anak

c. Luka bakar derajat II < 2%

2. Luka Bakar Sedang

a. Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa

b. Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak

c. Luka bakar derajat III < 10%

3. Luka Bakar Berat

a. Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa

b. Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak

c. Luka bakar derajat III 10% atau lebih

d. Luka bakar mengenai tangan, telinga, mata, kaki, dan

genitalia/perineum.

14
e. Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain

F. Pemeriksaan Korban

1. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena

listrik, kadang-kadang ada busa pada mulut. Yang perlu dilakukan pertama kali

adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering.

Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia.

Bilamana belum ada lebam mayat, maka mungkin korban dalam keadaan mati

suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung

dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Pernafasan buatan ini jika

15
dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk

korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban

menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti.8,11,12

2. Pemeriksaan Jenazah

a. Pemeriksaan Luar

Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan

pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda

listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn.

Tanda- tanda listrik tersebut antara lain8,11,12 :

1) Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana

listrik masuk ke dalam tubuh. Electric mark berbentuk bundar atau oval

dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi oleh kulit

yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar elektrik

mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan ukurannya tergantung dari

benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh. 8,11,12

16
2) Joule burn (endogenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh

dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian

bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi

hitam hangus terbakar. 8,11,12

3) Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang

berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang sudah mengandung

panas; misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh korban hangus

terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai

patahnya tulang-tulang. 8,11,12

17
b. Pemeriksaan Dalam

Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak

didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada

daerah ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui

aliran listrik . Pada paru didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang

terkena listrik tegangan tinggi, Custer menemukan pada puncak lobus salah

satu paru terbakar, juga ditemukan pneumothorak, hal ini mungkin sekali

disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan. Organ viscera

menunjukkan kongesti yang merata. Petekie atau perdarahan mukosa gastro

intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada hati

ditemukan lesi yang tidak khas., sedangkan pada tulang, karena tulang

mempunyai tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan terjadi

panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat

yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. Otot korban putus akibat

perubahan hialin. Perikard, pleura, dan konjungtiva korban terdapat bintik-

bintik pendarahan. Pada ekstremitas, pembuluh darah korban mengalami

nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah

gangren.8,11,12

c. Pemeriksaan Tambahan

Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada electric mark.

Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik

18
tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami

trauma listrik. Hasil pemeriksaan akan terlihat adanya bagian sel yang

memipih, pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap

dari normal. Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum. Sel

dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade.

Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak

dari stratum korneum. Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan

memutar ke arah bagian yang terkena listrik.

3. Luka akibat petir

Seseorang yang disambar petir pada tubuhnya terdapat kelainan yang

disebabkan oleh faktor arus listrik, faktor panas dan faktor ledakan.8,11,12

19
a. Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir :

1) Current mark / electrik mark / electrik burn. Efek ini termasuk salah satu

tanda utama luka listrik (electrical burn).8,11,12

2) Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul

tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai

reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir. Tanda ini akan hilang

sendiri setelah beberapa jam.8,11,12

3) Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir akan berubah menjadi

magnet. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical

burn).8,11,12

b. Ada 2 efek panas akibat sambaran petir :

1) Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu bahkan seluruh tubuh

korban dapat terbakar atau hangus.8,11,12

2) Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti perhiasan

dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat

kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga

termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).8,11,12

c. Efek ledakan:

1) Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat

perpindahan volume udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat

menyambar, udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali

sehingga menimbulkan suara menggelegar/ledakan.8,11,12

20
2) Akibat pemindahan udara ini, pakaian korban koyak, korban terlontar

sehingga terdapat luka akibat persentuhan dengan benda tumpul, misalnya

abrasi, kontusi, patah tulang tengkorak, epidural/subdural bleeding.8,11,12

Cedera Akibat Komponen Panas. Terbakar pada daerah superfisial pada kulit

perut. Perhatikan bahan sintetis pakaian dalam yang menunjukkan serat yang

meleleh.8

21
Cedera Akibat Komponen

Listrik. Cedera petir berbentuk bintang dangkal yang terlihat pada kulit korban

sambaran petir yang selamat dari sambaran petir di tenda Witbank, Afrika Selatan

2013. Foto milik Bpk. Corrie Pieters, Wakil Direktur dan Koordinator Distrik Distrik

Nkangala, Mpumalanga, Afrika Selatan.8

Cedera Akibat Komponen Barotrauma. Telinga yang rusak karena petir. Sekitar 29

pon per inci persegi diperlukan untuk menyebabkan pecahnya gendang telinga

ringan.8

22
Angka Lichtenberg di dada bagian atas. Perhatikan juga luka bakar linier di leher dan

dada, sesuai dengan kabel dari sepasang earbud yang dikenakan almarhum. Foto

milik J. Keith Pinckard.8

Aborescent Markings

G. Penatalaksanaan

23
1. Primary Survey

Ketika pasien trauma datang ke unit gawat darurat, penilaian segera harus

dilakukan untuk menentukan status mereka. Sehubungan dengan mendapatkan

riwayat kejadian, disediakan oleh tim penyelamat dan / atau saksi, kebanyakan

pasien segera ditempatkan pada monitor jantung, oksimeter denyut, dan monitor

tekanan darah, sementara satu set lengkap tanda-tanda vital dikumpulkan.

Riwayat awal dan tanda-tanda vital dasar ini menentukan manajemen awal

pasien. Setelah ini terjadi, survei utama dapat dimulai dalam serangkaian

langkah berurutan, A.B.C.D.E., dengan bidang yang paling penting

diutamakan:10

a. Airway

Setelah evaluasi awal pasien trauma, pertama-tama kaji jalan napas

untuk memastikan patensi. Penilaian cepat untuk tanda-tanda obstruksi jalan

napas ini termasuk pemeriksaan benda asing; mengidentifikasi fraktur

wajah, rahang bawah, dan / atau trakea / laring dan cedera lain yang dapat

menyebabkan obstruksi jalan napas; dan pengisapan untuk membersihkan

akumulasi darah atau sekresi yang dapat menyebabkan obstruksi jalan

napas. Mulailah langkah-langkah untuk membangun jalan napas yang paten

sambil membatasi gerakan tulang belakang leher.9

24
Jika pasien dapat berkomunikasi secara verbal, jalan napas

kemungkinan besar tidak dalam bahaya; Namun, penilaian berulang

terhadap patensi jalan napas adalah bijaksana. Selain itu, pasien dengan

cedera kepala parah yang memiliki tingkat kesadaran yang berubah atau

skor Glasgow Coma Scale (GCS) 8 atau lebih rendah biasanya memerlukan

penempatan jalan napas defnitif (yaitu, tabung pengaman yang terpasang di

trakea). Awalnya, manuver jaw-thrust atau chin-lift sering kali cukup

sebagai intervensi awal. Jika pasien tidak sadarkan diri dan tidak muntah,

pemasangan saluran napas orofaring dapat membantu untuk sementara.

Tetapkan jalan napas defnitif jika ada keraguan tentang kemampuan pasien

untuk mempertahankan integritas jalan napas.9

Meskipun setiap upaya harus dilakukan untuk segera mengenali

gangguan jalan napas dan mengamankan jalan napas defnitif, sama

pentingnya untuk mengenali potensi kehilangan jalan napas progresif.

Evaluasi ulang yang sering dari patensi jalan nafas sangat penting untuk

mengidentifikasi dan merawat pasien yang kehilangan kemampuan untuk

mempertahankan jalan nafas yang adekuat. Buat jalan napas dengan

pembedahan jika intubasi merupakan kontraindikasi atau tidak dapat

dilakukan.9

b. Breathing

25
Patensi jalan napas saja tidak menjamin adanya ventilasi yang memadai.

Pertukaran gas yang memadai diperlukan untuk memaksimalkan oksigenasi

dan eliminasi karbon dioksida. Ventilasi membutuhkan fungsi paru-paru,

dinding dada, dan diafragma yang memadai; oleh karena itu, dokter harus

segera memeriksa dan mengevaluasi setiap komponen. Untuk menilai

distensi vena jugularis secara memadai, posisi trakea, dan ekskursi dinding

dada, pajankan leher dan dada pasien. Lakukan auskultasi untuk memastikan

aliran gas di paru-paru. Inspeksi visual dan palpasi dapat mendeteksi cedera

pada dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi. Perkusi dada juga

dapat mengidentifikasi kelainan, tetapi selama resusitasi yang bising evaluasi

ini mungkin tidak akurat.9

Cedera yang secara signifikan mengganggu ventilasi dalam jangka

pendek meliputi pneumotoraks tegangan, hemotoraks masif, pneumotoraks

terbuka, dan cedera trakea atau bronkial. Cedera ini harus diidentifikasi

selama survei primer dan seringkali memerlukan perhatian segera untuk

memastikan ventilasi yang efektif. Karena tension pneumothorax

mengganggu ventilasi dan sirkulasi secara dramatis dan akut, dekompresi

dada harus segera dilakukan jika dicurigai melalui evaluasi klinis.9

Setiap pasien yang cedera harus menerima oksigen tambahan. Jika

pasien tidak diintubasi, oksigen harus dikirim dengan alat reservoir masker

untuk mencapai oksigenasi yang optimal. Gunakan oksimeter denyut untuk

26
memantau kecukupan saturasi oksigen hemoglobin. Simple pneumothorax,

simple hemothorax, fraktur tulang rusuk, flail chest, dan pulmonary

contusion dapat mengganggu ventilasi ke tingkat yang lebih rendah dan

biasanya teridentifikasi selama survei sekunder. Pneumotoraks sederhana

dapat diubah menjadi pneumotoraks tegang ketika pasien diintubasi dan

ventilasi tekanan positif disediakan sebelum mendekompresi pneumotoraks

dengan tabung dada.9

c. Circulation

Gangguan sirkulasi pada pasien trauma dapat diakibatkan oleh berbagai

cedera. Volume darah, curah jantung, dan perdarahan adalah masalah

peredaran darah utama yang perlu dipertimbangkan. Perdarahan adalah

penyebab utama kematian yang dapat dicegah setelah cedera.Oleh karena

itu, mengidentifikasi, mengontrol perdarahan dengan cepat, dan memulai

resusitasi merupakan langkah penting dalam menilai dan menangani pasien

tersebut. Setelah tension pneumothorax telah disingkirkan sebagai penyebab

syok, pertimbangkan bahwa hipotensi setelah cedera disebabkan oleh

kehilangan darah sampai terbukti sebaliknya. Penilaian yang cepat dan

akurat dari status hemodinamik pasien cedera sangat penting. Elemen

pengamatan klinis yang menghasilkan informasi penting dalam hitungan

detik adalah tingkat kesadaran, perfusi kulit, dan denyut nadi.9

27
Syok yang berhubungan dengan cedera paling sering berasal dari

hipovolemik. Dalam kasus tersebut, mulailah terapi cairan IV dengan

kristaloid. Semua larutan IV harus dihangatkan baik dengan penyimpanan di

lingkungan yang hangat (yaitu, 37 ° C hingga 40 ° C, atau 98,6 ° F hingga

104 ° F) atau dikelola melalui perangkat penghangat cairan. Bolus 1 L

larutan isotonik mungkin diperlukan untuk mencapai respon yang tepat pada

pasien dewasa. Jika pasien tidak responsif terhadap terapi kristaloid awal,

dia harus menerima transfusi darah. Cairan diberikan dengan bijaksana,

karena resusitasi agresif sebelum kontrol perdarahan telah terbukti

meningkatkan mortalitas dan morbiditas.9

d. Disability

Evaluasi neurologis cepat menetapkan tingkat kesadaran pasien serta

ukuran dan reaksi pupil; mengidentifikasi adanya tanda-tanda lateralisasi;

dan menentukan tingkat cedera tulang belakang, jika ada. GCS adalah

metode cepat, sederhana, dan objektif untuk menentukan tingkat kesadaran.

Skor motorik GCS berkorelasi dengan hasil. Penurunan tingkat kesadaran

pasien dapat mengindikasikan penurunan oksigenasi otak dan / atau perfusi,

atau mungkin disebabkan oleh cedera serebral langsung. Tingkat kesadaran

yang berubah menunjukkan kebutuhan untuk segera mengevaluasi kembali

oksigenasi, ventilasi, dan status perfusi pasien. Hipoglikemia, alkohol,

narkotika, dan obat lain juga dapat mengubah tingkat kesadaran pasien.

28
Sampai terbukti sebaliknya, selalu anggaplah bahwa perubahan tingkat

kesadaran adalah akibat dari cedera sistem saraf pusat. Ingatlah bahwa

keracunan obat atau alkohol dapat menyertai cedera otak traumatis.9

Cedera otak primer terjadi akibat efek struktural dari cedera otak.

Pencegahan cedera otak sekunder dengan mempertahankan oksigenasi dan

perfusi yang adekuat merupakan tujuan utama manajemen awal. Karena

bukti cedera otak bisa jadi tidak ada atau minimal pada saat evaluasi awal,

pemeriksaan ulang sangat penting dilakukan. Pasien dengan bukti cedera

otak harus dirawat di fasilitas yang memiliki personel dan sumber daya

untuk mengantisipasi dan mengelola kebutuhan pasien tersebut. Jika sumber

daya untuk merawat pasien ini tidak tersedia, pengaturan pemindahan harus

dimulai segera setelah kondisi ini dikenali. Demikian pula, konsultasikan

dengan ahli bedah saraf setelah cedera otak dikenali.9

e. Exposure/Environmental Control

Selama survei utama, buka pakaian pasien sepenuhnya, biasanya dengan

memotong pakaiannya untuk memfasilitasi pemeriksaan dan penilaian

menyeluruh. Setelah menyelesaikan penilaian, tutupi pasien dengan selimut

hangat atau alat penghangat eksternal untuk mencegah pasien mengalami

hipotermia di area penerima trauma. Cairan intravena hangat sebelum

diinfuskan, dan pertahankan lingkungan yang hangat.9

29
Hipotermia dapat muncul saat pasien datang, atau dapat berkembang

dengan cepat di UGD jika pasien tidak tertutup dan menjalani pemberian

cairan suhu kamar atau darah yang didinginkan secara cepat. Karena

hipotermia adalah komplikasi yang berpotensi mematikan pada pasien yang

cedera, lakukan tindakan agresif untuk mencegah hilangnya panas tubuh dan

mengembalikan suhu tubuh ke normal. Suhu tubuh pasien adalah prioritas

yang lebih tinggi daripada kenyamanan penyedia layanan kesehatan, dan

suhu area resusitasi harus ditingkatkan untuk meminimalkan hilangnya

panas tubuh. Dianjurkan untuk menggunakan penghangat fluida aliran tinggi

untuk memanaskan cairan kristaloid hingga 39 ° C (102,2 ° F). Jika

penghangat cairan tidak tersedia, microwave dapat digunakan untuk

menghangatkan cairan kristaloid, tetapi tidak boleh digunakan untuk

menghangatkan produk darah.9

2. Secondary Survey

Secondary survey tidak dimulai sampai primery survey (ABCDE) selesai,

upaya resusitasi sedang dilakukan, dan peningkatan fungsi vital pasien telah

ditunjukkan. Survei sekunder adalah evaluasi kepala sampai kaki pasien trauma

yaitu, riwayat lengkap dan pemeriksaan fisik, termasuk penilaian ulang semua

tanda vital.9

30
H. Sebab Kematian

1. Fibrilasi Ventrikel

Sebagian besar kematian akibat sengatan listrik berasal dari aritmia jantung.

Pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari

lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah

jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki

berlawanan/kanan. Jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan

keluar melalui tangan yang lain maka 60% akan mengalami kematian.4

2. Paralisis respiratorik

Arus listrik yang melewati toraks dapat menyebabkan kontraksi tetanik dari

otot-otot respirasi dan akhirnya menghasilkan henti napas. Di sini cara kematian

diakibatkan karena terjadinya hipoksia kongestif. Korban kemungkinan besar

akan mengalami sianosis sedangkan dalam kasus kematian akibat fibrilasi

ventrikel, mereka biasanya tampak pucat. Kisaran arus yang dapat menginduksi

kontraksi tetanik dari otot ekstrinsik respirasi mungkin 20-30 mA.4

3. Paralisis pusat nafas

Kelumpuhan pusat pernapasan terjadi ketika arus melewati kepala, yang

merupakan dimana keadaan ini jarang terjadi. Pengaliran beberapa ratus

miliampere melalui otak selama terapi elektrokonvulsif jarang mengakibatkan

penekanan pusat pernafasan, meskipun arus dengan intensitas yang jauh lebih

31
sedikit akan cukup jika melewati pusat tersebut. Jantung mungkin terus berdetak

dan karenanya pentingnya resusitasi, seperti yang sudah ditekankan.4

4. Faktor-faktor lain :

a. Adanya penyakit-penyakit tertentu yang sudah ada pada korban

sebelumnya, seperti penyakit jantung, kondisi mental yang menurun dan

sebagainya yang dapat memperberat efek listrik pada tubuh manusia

sampai timblnya kematian.5

b. Antisipasi terhadap syok.

c. Kelengahan atau kurang hati-hati.

d. Luas kontak dengan arus listrik.

e. Kesadaran adanya arus listrik.

f. Kebiasaan dan pekerjaan.

g. Konstitusi tubuh yaitu tubuh kurus dan gemuk.

I. Medikologal

Kematian oleh arus listrik biasanya tidak disengaja dari peralatan listrik rusak

atau kelalaian dalam penggunaan peralatan. Dalam industri, kematian dapat

dihasilkan dari kontak dengan kabel yang berarus, atau dari alat-alat penerangan, alat-

alat elektronik, ataupun saklar-saklar. Kematian dapat terjadi selama terapi kejang

untuk pasien dengan gangguan jiwa namun kasus tersebut jarang, kecuali sebagai

kasus bunuh diri, dan bahkan pembunuhan telah terjadi. Organ dalam harus dianalisis

untuk mengetahui apakah korban telah rusak pada saat kecelakaan. Bunuh diri jarang

32
terjadi. Orang biasanya menggulung kawat ke pergelangan tangan atau jari-jarinya,

yang kemudian dihubungkan ke arus listrik, dimana saklar terlihat dalam posisi on.

Kurang dari setengah korban sambaran petir meninggal. Mati akibat petir adalah

selalu akibat dari kecelakaan. Kadang-kadang, mayat korban luka petir terlihat

sebagai korban kekerasan. Korban tersebut dapat ditemukan di lapangan terbuka

dengan gambaran memar, luka robek, dan fraktur. Pada kasus ini, diagnosis harus

ditegakkan berdasarkan riwayat badai petir di wilayah lokal tersebut, bukti adanya

efek dari sambaran petir, dan magnetisasi terhadap bahan logam.

Kualifikasi luka adalah berdasarkan ilmu kedokteran forensik, yang dapat

dipahami setelah mempelajari pasal-pasal dalam KUHP yang menyangkut

penganiayaan yaitu pasal 351, 352 dan 90 KUHP. Oleh karena istilah penganiayaan

merupakan istilah hukum, yaitu dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan

nyeri pada seseorang, maka didalam VeR dokter tidak boleh mencantumkan istilah

penganiayaan. Kewajiban dokter hanyalah menentukan secara objektif adanya luka

dan derajat perlukaannya. Penganiayaan ringan (pasal 352 KUHP) didalam ilmu

kedokteran forensik diterjemahkan menjadi luka derajat pertama yaitu luka yang

tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau

pencaharian. Penganiayaan (pasal 351 KUHP) diterjemahkan menjadi luka derajat

kedua yaitu luka yang menimbulkan penyakit atau halangan dalam melakukan

pekerjaan jabatan atau pencaharin untuk sementara waktu. Apabila penganiayaan

33
tersebut mengakibatkan luka berat, maka seperti yang dimaksud dalam pasal 90

KUHP maka disebut luka derajat tiga. Luka berat berarti :

1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh

kembali, atau yang menimbulkan bahaya maut

2. Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan

pencarian

3. Kehilangan salah satu panca indera

4. Mendapat cacat berat (kudung)

5. Menderita sakit lumpuh

6. Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih

7. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Tyagi A et al. High voltage electrocution injury – A case report. IP

International Journal of Forensic Medicine and Toxicological Sciences 4 (2).

2019. p : 68-70

2. Fahrul M, E.K Soekry HM. Penentuan Sebab Kematian Pada Kasus Dugaan

Trauma Listrik : Konas PDFI. Bandung : Fakultas Kedokteran Universitas

Padjajaran. 2016. Hal : 1-2

3. Zemaitis MR, Foris LA, Lopez RA, et al. Electrical Injuries. StatPearls

Publishing; 2020. Retrieved from

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448087

4. Vij K. Textbbok of Forensic Medicine and Toxicology 5 th Ed. Elsevier. 2011.

p : 175-81

5. Aflanie I, Nirmalasari N, Arizal MH. Ilmu Kedokteran Forensik dan

Medikolegal. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. 2017. Hal : 127-32

6. Ungureanu. Electrocutions – treatment strategy (case presentation). Journal

of Medicine and Life. 2014

7. Zemaitis, Michael R, Lisa A. Foris; Richard A. Lopez; Martin R. Huecker.

Electrical Injuries. National Centre for Biotechnology Information. 2020.

Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448087/

35
8. Henry, Sharon, MD, Karen Brasel, MD, Ronald M. Stewart, MD, FACS.

Advanced Trauma Life Support. Chicago : American College of Surgeons.

2018

9. Blumenthal, Ryan MD PhD. Lightning and the Forensic Pathologist.

Academic Forensic Patholog. 2018

10. James, Dennis, Andre M. Pennardt. Trauma Care Principles. National Centre

for Biotechnology Information. 2020. Retrieved from

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK547757/

11. Endradita ,Galih, Ahmad Yudianto, Ria Kumala, Muhammad Afiful Jauhani.

Clinical Forensics in Electric Shock Trauma: A Case Study. Universitas

Airlangga Surabaya : Department of Forensic Medicine and Medicolegal.

2020

12. Pudji Hardjanto1, Simon Martin Manyanza Nzilibili , Ahmad Yudianto.

Electrocution Death: Exit Mark Injury use in the Suggestion of Body

Posture during Forensic Investigation. Universitas Airlangga Surabaya :

Department of Forensic Medicine and Medicolegal. 2020

Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

36

Anda mungkin juga menyukai