Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR HIPERTENSI

1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan


sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi
lansia,hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik
90mmHg. (Smeltzer, 2010).

Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection (JIVC)


sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat
keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai
hipertensi maligna. Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara
95 –  104mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114
mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih.

2. Klasifikasi Hipertensi

Berdasarkan Joint National Committee on Prevention, Detection, Avaluation


and Treatment of High Blood Pressure (JNC/7) pada tahun 2003, Klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa dikelompokkan menjadi normal, normal tinggi,
dan hipertensi.

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2004

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal <120 <80


Pre Hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi :
Derajat 1 140-159 90-99
Derajat 2 ≥ 160 ≥ 100
Sumber :Joint National On Detection, Evalution and Treatment Of High Blood
Pressure VII (2004).

Untuk lansia Tekanan darah sistolik biasanya meningkat sejajar dengan


pertambahan usia, jadi untuk menentukan tekanan darah berdasarkan usia adalah usia
ditambah 100. Jadi apabila orang berumur 60 tahun, maka tekanan darah sistolik adalah
160 mmHg dianggap normal (Kabo, 2008).

3. Etiologi Hipertensi

a. Hipertensi Primer

Hingga saat ini penyebab pasti hipertensi primer masih belum


diketahui.Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi primer
sedangkan 10% tergolong dalam hipertensi skunder. Onset hipertensi primer terjadi
pada usia 30-50 tahun. Hipertensi primer adalah suatu kondisi hipertensi dimana
penyebab skunder dari hipertensi tidak diketahui (Lewis, 2011).

b. Hipertensi Skunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya sudah dapat


diketahui, antara lain kelainan  pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid
(hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme) (Lewis, 2011) .

4. Patofisiologi Hipertensi

Menurut Triyatno (2014), meningkatnya tekanan darah dapat terjadi dengan


beberapa cara yaitu jantung memompa lebih kuat dari biasanya sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan
kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang pada
saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.

Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh darah
yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Hal inilah yang
terjadi pada usia lanjut dan obesitas, dimana dinding arteri lebih menebal dan kaku
karena arterosklerosis. Penyelidikan ini dapat membuktikan obesitas dapat
meningkatkan lemak di pembuluh darah sehingga menimbulkan plak dan terjadilah
arterosklerosis sehingga daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah meningkat
dan terjadilah hipertensi.
5. Tanda Dan Gejala Hipertensi

Tanda dan Gejala hipertensi menurut Dewi dan Familia (2020), yaitu :

Sakit Kepala

a. Mimisan

b. Jantung Berdebar

c. Sering buang air kecil di malam hari

d. Pusing yang terasa berat bagian tenguk yang biasa terjadi di siang hari

e. Sesak nafas

f. Sulit tidur

g. Mata berkunang-kunang

h. Mudah marah

6. Komplikasi Hipertensi

a. Stroke

Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan darah tinggi di otak,


atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan
tekanan tinggi.Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-
arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga
aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang.Arteri-arteri
otak yang mengalami arterosklorosis dapat menjadi lemah, sehingga
meningkatkan kemungkinan terbentuknya anurisma.

b. Infark miokard

Infark miorkard dapat terjadi apabila arteri koroner yang


arterosklerosis tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau
apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah melalui
pembuluh darah tersebut
c. Gagal ginjal

Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan


tinggi kapiler-kapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus,
darah akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu
dan akan berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya
membran glomerulus, protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan
osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering
dijumpai pada hipertensi kronik.

d. Apnea pada saat tidur

Apnea adalah gangguang tidur berupa kesulitan bernafas yang terjadi


berulang kali pada saat tidur.Beberapa penelitian menunjukan adanya
hubungan antara pernafasan yang terhenti dan berkurang nya pasokan
oksigen untuk sementara waktu yang menyertai apnea saat terjadinya
hipertensi.Apnea pada saat tidur tidak selalau terlihat jelas.Namun, jika
seseorang sering tidak tadap tidur nyenyak sepanjang malam dan selalu
mengantuk pada siang hari sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.
Pengobatan dilakukan dengan cara memberikan oksigen pada saat tidur. Cari
ini dapat menurunkan tekanan darah sedikit demi sedikit (Riyanto, 2014).

7. Penatalaksanaan Hipertensi

Menurut Dalimartha (2008) penatalaksaan hipertensi dilandasi oleh


beberapa prinsip sebagai berikut :

 Perubahan gaya hidup mengkonsumsi makanan kaya serat,


berolahraga
 Kurangi konsumsi garam
 Kurangi konsumsi kopi/ teh
 Melakukan terapi relaksasi

Mengkonsumsi obat pereda tensi seperti


amlodipine,captopril,candersatan,ramipil sesuai resep dokter
Pathways (woc) hipertensi
8. Diagnosa Keperawatan

 Nyeri akut

 Gangguan perfusi jaringan

 Penurunan curah jantung

 Intoleransi aktivitas

9. Intervensi Keperawatan

SDKI SLKI SIKI

Nyeri Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri


akut Kriteria Hasil : Aktivitas :
1. Mengetahui faktor 1. Lakukan pengkajiannyeri
penyebabnyeri secaramenyeluruh
meliputilokasi,
2. Mengetahui durasi,kualitas,
permulaanterjadinya keparahannyeri dan
nyeri faktor pencetus nyeri.
3. Menggunakan 2. Observasiketidaknyamanan
tindakan pencegahan nonverbal.
4. Melaporkan gejala 3. ajarkan untuk
5. Melaporkan kontrol tekniknonfarmakologi
nyeri  misalrelaksasi,
guideimajeri, terapi
musik,distraksi.

4. Kendalikan
faktorlingkungan
yangdapat
mempengaruhirespon
pasienterhadapketidaknyam
ananmisal suhu,lingkungan,
cahaya,kegaduhan.5.
Kolaborasi : pemberian
Analgetik sesuai indikasi

Penurun Status sirkulasi: Terapi aktivitas :


an curah 1. Tanda vital dalam 1. kolaborasi dengandokter
jantung rentang normal menyangkur patameter pem
(tekanan darah, berian atau penghentian
nadi,respirasi) obattekanan darah

2. Dapat mentoleransi 2. ubah posisi


aktivitas, tidak ada pasienkeposisi datar atau
kelelahan trend lenburg

3. Tidak ada edema paru, 3. Pantau


perifer, dan tidak ada frekuensi jantung,irama dan
asites. nadi

4. Tidak ada penurunan 4. Pantau tanda2tandavital


kesadaran

Intoleran 1. Konserpasi energy 1. Kolaborasikandengan


si tenaga rehabilitasi medic
aktivitas 2. Toleransi aktivitas dalam
3. Perawatan diri merencanakan program
terapi yang tepat
4. Kriteria hasil
2. bantu klien untuk
5. Berpartisipasidalam mengidentifikasi aktivitas
aktivitasfisik yang mampu dilakukan
tanpadisertai peningkat
antekanan darah,nadi 3. bantu untukmemilih
dan RR  aktivitas konsisten yang
sesuai dengan kemampuan
6. Mampu melakukan fisik , psikologi dan social
aktivitas sehari hari
(ADLs )secara mandiri 4. bantu untuk
mengidentifikasi dan
7. Tanda tandavital mendapatkan sumber
normal yangdiperlukan untuk
8. Energy Psikomotor  aktivitas yang diinginkan

9. Level kelemahan 5. bantu untuk mendapatkan


alat bantuan aktivitas
10. Mampu berpindah seperti kursi roda,krek
dengan atautanpa
bantuan alat & status 6. Kembangkan motivasi diri
kardiopulmonar yg dan penguatan
adekuat

11. sirkulasi status baik