Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH PARASITOLOGI

“CESTODA USUS”

DOSEN PENGAMPUH
Hilmi Hambali, S.Pd., M.Kes

DISUSUN OLEH:
Kelompok 1
Suhasriani (105441104017)

Nurhijrah (105441103417)

Nur Fadillah (105441103917)

Nisma Arianti (105441103717)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
NOVEMBER, 2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan makalah
ini, dan kami buat dengan waktu yang telah di tentukan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dan dengan adanya penyusunan makalah seperti ini,
pembaca dapat belajar dengan baik dan benar mengenai Cestoda Usus.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberi
sumbangsi kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dan tentunya penulis juga
menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan pada makalah ini.
Hal ini karena keterbatasan kemampuan dari penulis.
Oleh karena itu, penulis senantiasa menanti kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak guna menyempurnakan makalah ini. Semoga dengan
adanya makalah ini kita dapat belajar bersama demi kemajuan kita dan kemajuan
ilmu pengetahuan.

Makassar, 23 November 2020

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cestoda merupakan salah satu kelas dari filum Platyhelminthes. Cacing
kelas ini mampu menyebabkan penyakit yang khususnya lebih menyerang usus
hospes definitif (manusia). Hospes perantara dari cacing ini sebagian besar
berada di ikan, anjing, tikus, dan lain-lain.
Cestoda yang hidup di usus manusia sebagai hospes definitifnya. Hospes
reservoarnya adalah hewan/mamalia pemakan ikan. Cacing dewasanya
menempati usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan
invertebrata.
Bentuk cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih
dorsoventral, tidak mempunyai alat cerna atau saluran vaskular dan biasanya
terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang bila dewasa berisi
alat reproduktif jantan dan betina. Ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah
alat pelekat, disebut skoleks, yang dilengkapi dengan alat isap dan kait-kait.
Penyebaran cacing ini di Indonesia tidak terlalu banyak, karena masih
sedikitnya penggemar anjing, kucing, dan hewan mamalia lainnya yang berperan
sebagai hospes perantaranya sehingga di Indonesia sangat jarang ditemukan di
Indonesia. Penyakit ini dapat terdeteksi pada hati hospes karena ada kista di
dalamnya. Gejala dari penyakit ini umumnya diare karena cacing ini menginfeksi
usus pada hospesnya. Selain gejalanya, penyakit ini juga dapat diobati.
B. Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari pembuatan makalah ini
yaitu untuk mengetahui klasifikasi, epidemiologi, distribusi geografis, morfologi,
siklus hidup, patologi, dan cara pencegahan serta pengobatannya dari masing-
masing jenis cacing kelas cestoda khususnya yang menginfeksi usus.
C. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi, epidemiologi, distribusi
geografis, morfologi, siklus hidup, patologi, dan cara pencegahan serta
pengobatannya dari masing-masing jenis cacing kelas cestoda khususnya yang
menginfeksi usus.
BAB II
PEMBAHASAN

Cacing dalam kelas cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk
tubuhnya yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai
saluran pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas
segmen-segmen yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi
alat reproduksi jantan dan betina. Pada dasarnya morfologi cacing dewasa terdiri
dari :
 Kepala atau scoleks yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat.
Dilengkapi dengan batil isap atau lekuk isap.
 Leher, yaitu tempat untuk pertumbuhan badan.
 Strobila, adalah badan yang terdiri dari segmen proglotida. Tiap proglotida
dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina lengkap,
keadaan ini disebut hemafrodit.

Infeksi terjadi dengan menelan larva bentuk infektif atau menelan telur.
Pada cestoda dikenal dua ordo yakni Pseudophylidea dan Cyclophylidea.
Sedangkan yang menginfeksi manusia ada dua bentuk fase cacing yaitu, bentuk
cacing dewasa, bentuk larva ataupun keduanya.

1. Cacing dewasa (manusia sebagai hospes definitif)

- Diphylobotrium latum

- Taeniarinchus saginatus

- Taenia solium

- Hymenolepis nana

- Hymenolepis diminuta
- Dipylidium caninum

2. Larva (manusia sebagai hospes intermedier)

- Diphylobotrium sp

- Taenia solium

- Hymenolepis nana

- Echinococcus granulosus

Makalah ini membahas mengenai spesies cestoda yang menyerang pada


usus.

1. Diphyllobothrium latum
a. Klasifikasi
Kingdom :Animalia

Filum :Platyhelminthes

Kelas :Cestoda

Ordo :Pseudophylidea

Famili :Pseudophyllidea

Genus :Diphyllobothriidae

Spesies : Diphyllobothrium latum

b. Epidemiologi
Penyakit ini di Indonesia tidak ditemukan tetapi banyak dijumpai di
Negara-negara yang banyak makan ikan salem mentah atau kurang
matang. Banyak bintang seperti anjing, kucing, dan babi bertindak
sebagai reservoir dan perlu diperhatikan. Cacing pita ini sering
ditemukan berparasit pada hewan carnivora pemakan ikan, terutama di
Eropa Utara. Sering menginfeksi anjing, kucing, beruang dan pada
orang.
c. Distribusi geografis
D. latum sering dilaporkan menginfeksi orang di daerah tertentu,
bahkan hampir 100% di suatu lokasi orang terinfeksi oleh parasit ini.
Orang yang terinfeksi banyak dijumpai didaerah Scandinavia, Baltic dan
Rusia. Parasit ini juga ditemukan di Amerika, Kanada, Eropa, daerah
danau di Swiss, Rumania, Turkestan, Israel, Mancuria, Jepang, Afrika,
Malagasi, dan Siberia.
d. Morfologi
Cacing dewasa yang keluar dari usus manusia berwarna gading,
panjangnya dapat sampai 10 m dan terdiri dari 3000 – 4000 buah
proglotid, tiap proglotid mempunyai alat kelamin jantan dan betina
lengkap, mempunyai sepasang celah penghisap (bothria) dibagian ventral
dan dorsal pada skoleks, telur mempunyai operculum, berukuran 70 x 45
mikron, dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid dan
ditemukan dalam tinja.
e. Siklus hidup
Telur keluar melalui feses dan berkembang membentuk embrio yang
akan berkembang dalam air. Telur berkembang menjadi coracidium
dalam waktu 8 hari sampai beberapa minggu bergantung suhu
lingkungan.
Coraciudium keluar melalui operkulum telur dan coracidium yang
berisilia berenang mncari hospes intermedier ke 1 dari jenis Copepoda
krustacea termasuk genus Diaptomus. Segera setelah masuk kedalam
usus krustasea tersebut, coracidium melepaskan silianya dan penetrasi
melalui dinding usus dan masuk ke haemocel (sistem darah) krustasea
menjadi parasit dengan memakan sari makana dalam tubuh krustasea
tersebut.
Selama sekitar 3 minggu coracidium berkembang dan bertambah
panjang sampai sekitar 500 um dan disebut procercoid dan tidak
berkembang lagi dalam tubuh krustasea tersebut.
Bila krustasea dimakan ikan air tawar sebagai hospes intermedier ke
2, procercoid ada dalam usus ikan dan menembus melalui dinding
intestinum masuk kedalam istem muskularis dan berparasit dengan
memakan unsur nutrisi dari ikan tersebut dan procercoid berkembang
menjadi plerocercoid.
Plerocercoid berkembang dari beberapa mm menjadi beberapa cm.
Plerocercoid akan terlihat pada daging ikan mentah yang berwarna putih
dalam bentuk cyste. Bila daging ikan tersebut dimakan orang, cacing
berkembang dengan cepat dan menjadi dewasa serta mulai memproduksi
telur pada 7 – 14 hari kemudian.
Secara singkat dijelaskan bahwa telur menetas dalam air. Larva
disebut korasidium dan dimakan oleh hospes perantara pertama yaitu
bintang yang termasuk copepoda seperti Cyclops dan Diaptomus. Dalam
hospes ini larva tumbuh menjadi proserkoid berubah menjadi larva
pleroserkoid atau disebut sparganum. Bila ikan tersebut dimakan hospes
definitive, misalnya manusia, sedangkan ikan itu tidak dimasak dengan
baik, maka sparganum di rongga usus halus tumbuh menjadi cacing
dewasa.
f. Patologi
Kasus penyakit banyak dilaporkan di daerah yang orangnya suka
mengkonsumsi ikan mentah. Kebanyakan kasus penyakit tidak
memperlihatkan gejala yang nyata. Gejala umum yang sering ditemukan
adalah gangguan sakit perut, diare, nausea dan kelemahan. Pada kasus
infeksi yang berat dapat menyebabkan anemia megaloblastic. Gejala ini
sering dilaporkan pada penduduk di Finlandia. Di negara ini hampir
seperempat dari populasi penduduk terinfeksi oleh D. latum dan sekitar
1000 orang menderita anemia perniciosa.
Pada mulanya dikira bahwa cacing ini menyebarkan toksin penyebab
anemia, tetapi setelah diteliti ternyata vitamin B12 yang masuk dalam
usus diabsorbsi oleh cacing, sehingga pasien menderita defisiensi
vitamin B12. Seorang peneliti melaporkan bahwa pasien yang diberi
singel dosis vit. B12 40% yang dilabel dengan cobalt, ternyata
disbsorbsi oleh D. latum sekitar 80-100% dari vit B12 yang diberikan.
Gejala yang jelas terlihat adalah terjadinya anemia perniciosa (anemia
yang disebabkan oleh gangguan absorpsi vitamin B12 dalam usus).
g. Cara pencegahan serta pengobatannya
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah emasak ikan air tawar
sampai betul-betul matang atau membekukannya sampai -10°C selama 24
jam, mengeringkan dan mengasinkan ikan secara baik. Selain itu dilarang
membuang tinja di kolam air tawar, serta memberikan penyuluhan pada
masyarakat mengenai pola hidup bersih dan sehat.
Pengobatan yang dilakukan, penderita diberikan obat atabrin dalam
keadaan perut kosong, disertai pemberian Na-bikarbons, dosis 0,5 gram.
Obat pilihan adalah Niclosamid (Yomesan), diberikan 4 tablet ( 2 gram )
dikunyah sekaligus setelah makan hidangan ringan. Obat lain yang juga
efektif adalah paromomisin, yang diberikan dengan dosis 1 gram setiap 4
jam sebanyak 4 dosis. Selain daripada itu dapat dipakai prazikuantel dosis
tunggal 10 mgr/kg berat badan.

2. Taenia saginata

a. Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Platyhelminthes

Kelas : Cestoda

Ordo : Cyclophyllidea

Famili : Taeniidae

Genus : Taenia

Spesies : Taenia saginata

b. Epidemiologi
Cacing terssebut sering ditemukan di Negara yang penduduknya
banyak makan daging sapi atau kerbau. Cara penduduk memakan daging
tersebut yaitu matang (well done), setengah matang (medium) atau
mentah (rare) dan cara memelihata ternak memainkan peranan. Ternak
yan dilepas di padang rumput lebih mudah dihinggapi cacing gelembung
tersebut, daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di
kandang.
c. Distribusi geografis
Cacing tersebut adalah kosmopolit, didapatkan di Eropa, Timur
Tengah, Afrika, Asia, Amerika Utara, Amerika Latin, Rusia, dan juga
Indonesia, yaitu daerah Bali, Jakarta, dan lain-lain. Parasit ini ditemukan
di mana saja di mana daging sapi yang dimakan, bahkan di negara-negara
seperti Amerika Serikat di mana ada kebijakan sanitasi ketat federal. Di
AS insiden terinfeksi rendah, bagaimanapun, 25% sapi terinfeksi masih
dijual.
d. Morfologi
Cacing pita Taenia saginata adalah salah satu cacing pita yang
berukuran besar dan panjang, terdiri dari kepala yang disebut skoleks,
leher, dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid,
sebanyak 1000 – 2000 buah. Panjang cacing 4 – 12 meter atau lebih.
Skoleksnya hanya berukuran 1 – 2 milimeter, mempunyai empat batil
isap dengan otot-otot yang kuat, tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit,
ruas-ruas tidak jelas dan di dalamnya tidak terlihat struktur tertentu.
Strobila terdiri dari dari rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur),
yang dewasa (matur), dan mengandung telur atau disebut gravid. Pada
proglotid-proglotid yang dewasa terlihat struktur alat kelamin seperti
folikel testis yan berjumlah 300 – 400 buah, tersebar di bidang dorsal.
Vasa eferens bergabung untuk masuk ke rongga kelamin (genital atrium),
yang berakhir di lubang kelamin (genital pore). Lubang kelamin ini
letaknya selang-seling pada sisi kanan atau kiri strobila. Di bagian
posterior lubang kelamin, dekat vas deferens, terdapat tabung vagina yang
berpangkal pada ootip.
Ovarium terdiri dari 2 lobus, berbentuk kipas, besarnya hampir sama.
Letak ovarium di sepertiga bagian posterior dari proglotid. Vitelaria
letaknya dibelakang ovarium dan merupakan kumpulan folikel yang
eliptik. Telur berkembang di kapsul hialin dan gudang setelah
meninggalkan proglottid tersebut. Telur dibungkus embriofor, yang
bergaris-garis radial, berukuran 30 – 40 mikron, berisi suatu embrio
heksakan atau onkosfer. Telur ini tertelan oleh ternak atau host antara
lainnya dan sekali mereka mencapai duodenum, menetas dan menembus
dinding usus.
e. Siklus hidup
Siklus hidup tidak langsung dan rumit, dan selesai pada manusia
sebagai tuan rumah definitif dan ternak sebagai hospes perantara. Uterus
tumbuh dari bagian anterior ootip dan menjulur ke bagian anterior
proglotid. Setelah uterus ini penuh dengan telur, maka cabang-cabangnya
akan tumbuh, yang berjumlah 15 – 30 buah pada satu sisiya dan tidak
memiliki lubang uterus (porus uterinus). Proglotid yang sudah gravid
letaknya terminal dan sering terlepas dari strobila. Proglotid ini dapat
bergerak aktif, keluar dengan tinja atau keluar sendiri dari luban dubur
(spontan). Setiap harinya, kira-kira 9 buah proglotid dilepas. Proglotid ini
bentuknya lebih panjang daripada lebar.
Telur yang baru keluar dari uterus masih diliputi selaput tipis yang
disebut lapisan luar telur. Sebuah proglotid gravid berisi kira-kira 100.000
buah telur. Waktu proglotid terlepas dari rangkaiannya menjadi koyak,
cairan putih susu yang mengandung banyak telur mengalir keluar dari sisi
anterior proglotid tersebut, terutama bila proglotid berkontraksi waktu
gerak.
Telur-telur ini melekat pada rumput bersama tinja, bila orang
berdefekasi di padang rumput, atau karena tinja yang hanyut dari sungai
di waktu banjir. Ternak yang makan rumput yang terkontaminasi
dihinggapi cacing gelembung, oleh karena telur yang tertelan dicerna dan
embrio heksakan menetas. Embrio heksakan di saluran pencernaan ternak
menembus dinding usus, masuk ke saluran getah bening atau darah dan
ikut dengan aliran darah ke jaringan ikat di sela-sela otot untuk tumbuh
menjadi cacing gelembung, disebut sistiserkus bovis, yaitu larva Taenia
saginata. Peristiwa ini terjadi setelah 12 – 15 minggu.
Bagian tubuh ternak yang sering dihinggapi larva tersebut adalah otot
maseter, paha belakang dan punggung. Otot di bagian lain juga dapat
dihinggapi. Setelah 1 tahun cacing gelembung ini biasanya mengalami
degenerasi, walaupun ada yang dapat hidup sampai 3 tahun.
Bila cacing gelembung yang terdapat did aging sapi yang di masak
kurang matang termakan oleh manusia, skoleksnya keluar dari cacing
gelembing dengan cara evaginasi dan melekat pada mukosa usus halus
seperti yeyenum. Cacing gelembung tersebut dalam waktu 8 – 10 minggu
menjadi dewasa. Biasanya di rongga usus hospes terdapat seekor cacing.

f. Patologi
Cacing dewasa Taenia saginata biasanya tanpa gejala, tetapi bisa
menimbulkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut
merasa tidak enak, mual, muntah, mencret, pusing atau gugup. Gejala-
gejala tersebut disertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang
bergerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja. Namun
infeksi berat sering menyebabkan penurunan berat badan, pusing , sakit
perut , diare , sakit kepala , mual , sembelit , atau gangguan pencernaan
kronis , dan kehilangan nafsu makan . Ada dapat obstruksi usus pada
manusia ketika proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus
yang dan ini dapat diatasi dengan operasi. Cacing pita ini juga dapat
mengusir antigen yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada individu.
Sumber penularan apabila penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya
mengandung telur atu proglotid, hewan sapi yang mengandung
cysticercus, makanan atau minuman dan lingkungan yang tercemar oleh
telur-telur cacing pita.
g. Cara pencegahan serta pengobatannya
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga pola hidup bersih dan
sehat, mencuci sayuran dan daging dengan bersih dan memasaknya
sampai matang, Pengobatan untuk cestode infeksi bisa dilakukan dalam
obat tradisional berupa biji labu merah atau biji pinang. Sedangkan obat
lama berupa kuinakrin, amodiakuin, dan niklosamid. Sementara denga
obat baru yaitu praziquantel dan albendazol. Praziquantel membuka
membran saluran kalsium menyebabkan kelumpuhan cacing, membantu
tubuh dalam mengeluarkan parasit melalui peristaltik . niklosamid ,
digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi dengan trematoda dan
cacing pita dewasa, cukup efektif.

3. Taenia solium

a. Klasifikasi

Kingdom :Animalia

Filum :Platyhelminthes

Kelas :Cestoda
Ordo :Cyclophyllidea

Famili :Taeniidae

Genus :Taenia

Spesies : Taenia solium

b. Epidemiologi
Walaupun cacing ini kosmopolit, kebiasaan hidup penduduk yang di
pengaruhi tradisi kebudayaan dan agama, memainkan peranan penting.
Pada orang-orang bukan pemeluk agama Islam, yang biasanya memakan
daging babi, penyakit ini ditemukan. Cara menyantap daging tersebut
yaitu matang, setengah matang, atau mentah dan pengertian akan
keberhasilan atau hygiene, memainkan peranan penting dalam penularan
Taenia solium maupun sistiserkus selulose.
T. solium dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan itu, yang
paling lazim di negara berkembang di mana babi dibangkitkan. Banyak
kali babi-babi merumput di dekat dengan manusia, dan daerah ini sering
menunjukkan kondisi sanitasi yang buruk.. Karena itu, 'makanan pasokan
babi yang terkontaminasi dengan kotoran manusia, menciptakan situasi
yang sempurna untuk Taenia solium menyebar.
c. Distribusi geografis
Taenia solium adalah kosmopolit, akan tetapi jarang ditemukan di
Negara-negara Islam. Cacing tersebut banyak ditemukan di Negara-
negara yang mempunyai banyak peternakan babi dan di tempat daging
babi banyak di santap seperti Eropa (Czezh, Slowakia, Kroatia, Serbia),
Amerika Latin, Cina, India, Amerika Utara dan juga di beberapa daerah
di Indonesia antara lain Papua, Bali, dan Sumatera Utara.
Masalah ini diperparah dalam beberapa budaya di mana ia kebiasaan
makan daging mentah atau kurang matang. Karena kenyataan bahwa
hospes perantara adalah babi, jarang ditemukan dalam masyarakat
Muslim di mana konsumsi daging babi dilarang. Hal ini endemik di
Amerika Selatan, Amerika Tengah, India, Asia selatan, Afrika, Eropa
bagian selatan, dan bagian dari Meksiko. Hal ini juga terlihat di daerah
di dunia yang mengalami jumlah besar imigrasi.

d. Morfologi
Cacing pita Taenia solium, berukuran panjang kira-kira 2 – 4 meter
dan kadangkadang sampai 8 meter. Cacing ini seperti cacing Taenia
saginata, yang terdiri dari skoleks, leher, dan strobila yang terdiri dari
800 – 1000 ruas proglotoid. Skoleks yang bulat berukuran kira-kira 1
milimeter, mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang
mempunyai 2 baris kait-kait, masing-masing sebanyak 25 – 30 buah.
Seperti Taenia saginata, strobila terdiri rangkaian proglotid yang belum
dewasa (imatur), dewasa (matur), dan mengandung telur (gravid).
Gambaran alat kelamin pada proglotid dewasa sama dengan Taenia
saginata, kecuali jumlah folikel testisnya lebih sedikit, yaitu 150 – 200
buah. Bentuk proglotid gravid mempunyai ukuran panjang hampir sama
dengan lebarnya. Jumlah cacing uterus pada proglotid gravid adalah 7 –
12 buah pada satu sisi. Lubang kelamin letaknya bergantian selang-seling
pada sisi kanan atau kiri strobila secara tidak beraturan.
e. Siklus hidup
Daur hidupnya mirip dengan T. saginatus, tetapi hospes intermedier
berbeda dimana T. saginatus pada sapi dan T. solium pada babi. Proglotid
yang penuh telur keluar melalui feses, kemudian telur infektif keluar
dimakan oleh babi.
Telur menetas dalam tubuh babi dan telur dan membentuk Cysticercus
celluloses, didalam daging (otot) atau organ lainnya. Orang akan mudah
terinfeksi bila memakan daging babi yang kurang masak. Cysticercus
berkembang menjadi cacing cacing muda yang langsung menempel pada
dinding intestinum dan tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 5-12
minggu. Dimana cacing ini dapat bertahan hidup sampai 25 tahun.
Cysticercosis tidak seperti spesies cacing pita lainnya, T. solium dapat
berkembang dalam bentuk cysticercus pada orang. Infeksi terjadi bila
telur berembrio tertelan masuk kedalam lambung dan usus, kemudian
cacing berkembang menjadi cysticercus di dalam otot. Cysticerci sering
ditemukan dalam jaringan subcutaneus, mata, otak, otot, jantung, hati dan
paru.
Kapsul fibrosa mengelilingi metacestoda ini, kecuali bila cacing
berkembang dalam kantong mata. Pengaruh cysticercus terhadap tubuh
bergantung pada lokasi cysticercus tinggal. Bila berlokasi di jaringan otot,
kulit atau hati, gejala tidak begitu terlihat, kecuali pada infeksi yang berat.
Bila berlokasi di mata dapat menyebabkan kerusakan retina, iris, uvea
atau choroid. Perkembangan cysticercus dalam retina dapat dikelirukan
dengan tumor, sehingga kadang terjadi kesalahan pengobatan dengan
mengambil bola mata. Pengambilan cysticercus dengan operasi biasanya
berhasil dilakukan.
Cysticerci jarang ditemukan pada syaraf tulang belakang (spinal cord),
tetapi sering ditemukan pada otak. Terjadinya nekrosis karena tekanan
dapat menyebabkan gangguan sistem saraf yaitu tidak berfungsinya saraf
tersebut.
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa seperti pada Taenia saginata,
telurnya keluar melalui celah robekan pada proglotid. Telur tersebut bila
termakan hospes perantara yang sesuai, maka dindingnya dicerna dan
embrio heksakan keluar dari telur, menembus dinding usus, dan masuk ke
saluran getah bening atau darah. Embrio heksakan cacing gelembung
(sistiserkus) babi, dapat dibeddakan dari cacing gelembung sapi, dengan
adanya kait-kait di skoleks tunggal. Cacing gelembung yang disebut
sistiserkus seluose biasanya ditemukan pada otot lidah, punggung, dan
pundak babi. Hospes perantara lain kecuali babi adalah monyet, onta,
anjing, babi hutan, domba, kucing, tikus, dan manusia. Larva tersebut
berukuran 0,6 – 1,8 cm. Bila daging babi yang mengandung larva
sistiserkus dimakan setengah matang atau mentah oleh manusia, dinding
kista dicerna, skoleks mengalami evaginasi untuk kemudian melekat pada
dinding usus halus seperti yeyenum. Dalam waktu 3 bulan cacing tersebut
menjadi dewasa dan melepaskan proglotid dengan telur.

f. Patologi
Infeksi berat dapat terjadi kebutaan, paralysis, gangguan
keseimbangan, hydrocephalus karena obstruksi atau terjadi disorientasi.
Kemungkinan terjadinya epilepsi dapat terjadi. Penyakit dapat dicurigai
sebagai epilepsi peyebab cysticercosis bila penderita bukan keturunan
penderita epilepsi.
Bilamana cysticercus mati dalam jaringan, akan menimbulkan reaksi
radang, hal tersebut dapat mengakibatkan fatal pada hospes, terutama
bila cacing berada dalam otak.
Reaksi seluler lain dapat dpat terjadi yaitu dengan adanya kalsifikasi.
Bila ini terjadi pada mata pengobatan dengan operasi akan sulit
dilakukan.Cacing dewasa, yang biasanya beerjumlah seekor, tidak
menyebabkan gejala klinis yang berarti. Bila ada, dapat menyerupai
nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi, dan sakit kepala. Darah tepi
dapat menunjukan eosinofilia. Gejala klinis yang lebih berarti dan sering
diderita disebabkan oleh larva dan disebut sistiserkosis.
Infeksi ringan biasanya tidak menunjukan gejala, kecuali bila alat
yang dihinggapi adalah tubuh yang penting. Pada manusia, sistiserkus
atau larva T. Solium sering menghinggapi jaringan subkutis, mata,
jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru, dan rongga perut. Walaupun
sering dijumpai pengapuran pada sistiserkus tidak menimbulkan gejala,
akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala
miositis, demam tinggi dan eosinofilia.
g. Cara pencegahan serta pengobatannya
Pencegahan infeksi cacing ini lebih utama yaitu mencegah
kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar. Sayuran
yang biasanya dimakan mentah harus dicuci berish dan hindarkan
terkontaminasi terhadap telur cacing ini. Pendidikan mengenai kesehatan
harus dirintis. Cara-cara ternak babi harus diperbaiki agar tidak kontak
dengan tinja manusia. Sebaiknya untuk kandang babi harus bersih dan
makanan ternaknya sesuai.
Pengobatan perorangan maupun pengobatan massal harus
dilaksanakan agar supaya penderita tidak menjadi sumber infeksi bagi
diri sendiri maupun babi dan hewan lain seperti anjing. Obat yang
digunakan untuk penyakit teniasis solium adalah prazikuantel,
albendazol, atau dengan pembedahan.
4. Hymenolepis nana
a. Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class : Cestoda

Ordo : Cyclophyllidea
:
Family Hymenolepidida
e
Genus : Hymenolepis
: Hymenolepis
Species nana
b. Morfologi
Cacing ini mempunyai ukuran terkecil jika dibandingkan dari
golongan cestoda yang ditemukan pada manusia,. Panjangnya kira-kira
25-40 mm dan lebarnya 1 mm. Ukuran strobila biasanya berbanding
terbalik dengan jumlah cacing yang ada dalam hospes.

Skoleks berbentuk bulat kecil, mempunyai 4 batil isap dan rostelum


yang pendek dan berkait-kait. Bagian leher panjang dan halus. Strobila
dimulai dengan proglotid imatur yang sangat pendek dan sempit, lebih ke
distal menjadi lebih lebar dan luas. Pada ujung distal strobila membulat.
Didalam proglotid gravid uterus membentuk kantong mengandung 80-
180 telur.
Telur keluar dari proglotid paling distal yang hancur. Bentuknya
lonjong, ukurannya 30-47 mikron, mempunyai lapisan yang jernih dan
lapisan dalam yang mengelilingi sebuah onkosfer dengan penebalan pada
kedua kutub, dari masing-masing kutub keluar 4-8 filamen. Dalam
onkosfer terdapat 3 pasang duri (kait) yang berbentuk lanset.
c. Siklus Hidup

Cacing dewasa hidup di usus halus untuk beberapa minggu. Proglotid


gravid melepaskan diri dari badan, telurnya dapat ditemukan dalam tinja.
Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur tertelan kembali
oleh manusia atau tikus, maka di rongga usus halus telur menetas, larva
keluar dan masuk ke selaput lendir usus halus dan membentuk larva
sistiserkoid, kemudian keluar ke rongga usus dan menjadi dewasa dalam
waktu 2 minggu atau lebih.
Orang dewasa kurang rentan dibandingkan dengan anak. Kadang-
kadang telur dapat menetas di rongga usus halus sebelum dilepaskan
bersama tinja. Keadaan ini disebut autoinfeksi interna. Hal ini memberi
kemungkian terjadi infeksi berat sekali yang disebut hiperinfeksi,
sehingga cacing dewasa dapat mencapai jumlah 2000 ekor pada seorang
penderita.
d. Epidemiologi dan Distribusi Geografis
Cacing pita ini tidak memerlukan hospes perantara. Survey yang
dilakukan di negara-negara menunjukkan frekuensi dari 0,2- 3,7%
walaupun di daerah-daerah tertentu 10% dari anak-anak menderita infeksi
ini. Di Amerika Serikat bagian selatan frekuensinya 0,3-2,9%. Infeksi ini
kebanyakan terbatas pada anak-anak dibawah umur 15 tahun. Infeksi
kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut.Frekuensinya
agak lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan
presentase infeksi pada orang negro kira-kira setengahnya dari bangsa
kulit putih.
Penularan tergantung pada kontak langsung, karena telurnya yang
resistennya lemah, yang tidak tahan terhadap panas dan pengeringan,
tidak dapat hidup lama diluar hospes. Infeksi ditularkan langsung dari
tangan ke mulut dan lebih jarang karena kontaminasi makanan atau air.
Kebiasaan yang kurang bersih pada anak-anak menguntungkan adanya
parasit ini pada golongan umur rendah. Hal ini sering terjadi pada anak-
anak umur 15 tahun ke bawah. Kontaminasi terhadap tinja tikus perlu
mendapat perhatian. Infeksi pada manusia selalu disebabkan oleh telur
yang tertelan dari benda-benda yang terkena tanah, dari tempat buang air
atau langgsung dari anus ke mulut. Kebersihan perorangan terutama pada
keluarga besar dan di perumahan panti asuhan harus diutamakan.
e. Patologi
Parasit ini biasanya tidak menyebabkan gejala. Jumlah yang besar dari
cacing yang menempel pada dinding usus halus menimbulkan iritasi
mukosa usus. Kelainan yang sering timbul adalah toksemia umum karena
penyerapan sisa metabolit dari parasit masuk kedalam sistem peredaran
darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini kadang-
kadang menyebabkan keluhan neurologi yang gawat, mengalami sakit
perut dengan atau tanpa diare, kejang-kejang, sukar tidur dan pusing.
Eosinifilia sebesar 8-16%. Sakit perut, obstipasi dan anoreksia merupakan
gejala ringan.
f. Pencegahan dan Pengendalian
Pencegahannya sukar, karena penularan terjadi langsung dan hanya
satu hospes yang terlibat dalam liingkaran hidupnya. Pemberantasannya
terutama tergantung pada perbaikan kebiasaan kebersihan pada anak.
Pengobatan orang yang mengandung cacing ini, sanitasi lingkungan,
menghindarkan makanan dari kontaminasi dan pemberantasan binatang
mengerat juga dapat dilakukan. Obat yang efektif adalah atabrine,
bitional, prazikuantel dan niklosamid, tetapi saat ini obat-obat tersebut
sulit didapat di Indonesia. Obat yang efektif dan ada di pasaran Indonesia
adalah amodiakun. Hiperinfeksi sulit diobati, tidak semua cacing dapat
dikeluarkan dan sistiserkoid masih ada di mukosa usus.
5. Hymenolepsis diminuta
a. Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class : Cestoda

Ordo : Cyclophyllidea

Family : Hymenolepididae

Genus : Hymenolepis
: Hymenolepis
Species diminuta
b. Morfologi
Cacing dewasa berukuran 20-60 cm mempunyai 800-1000 buah
proglotid. Skoleks kecil bulat, mempunyai 4 batil isap, dan rosteum tanpa
kait-kait. Proglotid matang berukuran 0,8 x 2,5 mm. Proglotid gravid
mengandung uterus yang berbentu kantong dan berisi kelompok-
kelompok telur. Apabila proglotid gravid lepas dari strobila, menjadi
hancur dan telurnya keluar bersama tinja. Telurnya agak bulat berukuran
60-79 mikron, mempunyai lapisan luar yang jernih dan lapisan yang
dalam yang mengeliilingi onkosfer dengan penebalan pada 2 kutub, tetapi
tanpa filamen. Onkosfer mempunyai 6 buah kait.
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. Hospes perantaranya
adalah serangga berupa pinjal dan kumbang tepung. Dalam pinjal, telur
berubah menjadi larva sistiserkoid. Bila serangga dengan sistiserkoid
tertelan oleh hospes definitif maka larva menjadi cacing dewasa di rongga
usus halus.
c. Siklus Hidup
Telur ditemukan pada tinja hospes definitif. Cacing ini memerlukan
hospes perantara I yaitu larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa.
Didalam serangga ini embrio yang keluar dari telurnya berkembang
menjadi sistiserkoid. Bila dimakan oleh hospes definitif, sistiserkoid akan
berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dalam waktu
kira-kira 18-20 hari.
d. Epidemiologi dan Distribusi Geografis
Penyebaran cacing ini kosmopolit juga ditemukan di Indonesia.
Hospes definitif mendapat infeksi bila hospes perantara yang
mengandung parasit tertelan secara kebetulan.
e. Patologi
Parasit ini tidak menimbulkan gejala , infeksi biasanya terjadi secara
kebetulan saja. Manusia secara kebetulan mendapat infeksi karena
makanan atau tangan yang terkontaminasi dengan serangga yang
mengandung parasit. Infeksi pada manusia adalah ringan dan jangka
waktu hidup cestoda pada manusia pendek. Infeksi percobaan pada
manusia dewasa hanya berlangsung selama 5-7 minggu.
f. Pencegahan dan Pengendalian
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari kontak
dengan hospes perantara yang memungkinkan terjadinya kontaminasi.
Selalu mencuci tangan sebelum makan juga dapat mengurangi infeksi
karena kontaminan yang menempel pada tangan akan mati ketika
mencuci tangan. Obat yang efektif adalah antabrine.
6. Dipylidium caninum
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Hymenolepididae
Genus : Dipylidium
Species : Dipylidium caninum
b. Morfologi

Panjang cacing ini kira-kira 25 cm dan mempunyai 60-75 buah


proglotid. Skoleks kecil, berbentuk jajaran genjang, mempunyai 4 batil
isap lonjong yang menonjol dan rostelum seperti kerucut yang refraktil
dan diperlengkapi dengan 30-150 kait-kait yang berbentuk duri mawar
dan tersusun menurut garis transversal. Leher cacing pendek dan
langsing. Bentuk proglotid seperti tempayan. Tiap proglotid mempunyai
dua perangkap alat kelamin. Proglotid gravidberukuran 12 x 2,7 mm,
berisi penuh dengan kantong telur tipis yang mengandung 15-25 butir
telur.
c. Siklus Hidup
Proglotid gravid melepaskan diri dari strobila satu per satu atau dalam
kelompok terdiri dari 2 atau 3 segmen, dan proglotid ini dapat bergerak
dengan kecepatan beberapa inci sejam. Proglotid ini dapat bergerak
keluar secara aktif dari anus atau dikeluarkan bersama tinja. Telurnya
dikeluarkan oleh kontraksi proglotid atau karena disintegrasi proglotid di
luar usus, beberapa tersangkut pada bulu hospes, terutama di daerah
perianal.
Hospes perantaranya adalah larva pinjal anjing, kucing, manusia dan
tuma anjing Trichodectes canis. Bila dimakan oleh hospes perantara,
onkosfer keluar dari bungkusnya, menembus dinding usus dan tumbuh
menjadi larva sistiserkoid yang infektif dan berbentuk seperti buah jambu
didalam pinjal dewasa. Bila pinjal yang mengandung parasit ini dimakan
oleh hospes definitif, larva sistiserkoid dibebaskan di usus muda dan
menjadi cacing dewasa dalam waktu kira-kira 20 hari. Hospes
definitifnya adalah anjing, kucing, dan manusia.
d. Epidemiologi dan Distribusi Geografis
Cacing ini ditemukan kosmopolit. Sebagian besar infeksi terjadi pada
anak yang berumur kurang dari 8 tahun dan kira-kira sepertiga dari bayi
yang berumur kurang dari 6 bulan. Infeksi ini kebanyakan terjadi karena
bergaul dengan anjing sebagai binatang peliharaan. Penularan terjadi
karena secara kebetulan menelan pinjal, tuma anjing atau kucing yang
mengandung parasit baik melalui makanan yang terkontaminasi atau dari
tangan ke mulut. Presentase anjing yang menderita infeksi cacing ini
tinggi.
e. Patologi
Anjing dan kucing tidak menjadi sakit kecuali pada infeksi berat
dengan gejala menjadi lemah, kurus, menderita gangguan saraf dan
pencernaan. Manusia yang jarang mengandung lebih dari satu parasit
jarang menunjukkan gejala. Pada anak-anak mungkin menjelma sebagai
gangguan intestinal ringan, sakit pada epigastrum, diare dan kadang-
kadang mengalami reaksi alergi. Jarang seorang penderita menunjukkan
rasa sakit yang nyata di epigastrium, emasiasi dan pengurangan berat
badan.
f. Pencegahan dan Pengendalian
Anak kecil sebaiknya jangan diperbolehkan mencium anjing dan
kucing yang dihinggapi pinjal atau tuma. Kebiasaan mencium kucing dan
anjing sebaiknya tidak dianjurkan. Binatang peliharaan yng disukai ini
sebaiknya diberi obat cacing dan pengobatan dengan insektisida.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cacing dalam kelas cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk
tubuhnya yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai
saluran pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas
segmen-segmen yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi
alat reproduksi jantan dan betina. Pada dasarnya morfologi cacing dewasa terdiri
dari :
 Kepala atau scoleks yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat.
Dilengkapi dengan batil isap atau lekuk isap.
 Leher, yaitu tempat untuk pertumbuhan badan.
 Strobila, adalah badan yang terdiri dari segmen proglotida. Tiap proglotida
dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina lengkap,
keadaan ini disebut hemafrodit.

Infeksi terjadi dengan menelan larva bentuk infektif atau menelan telur.
Pada cestoda dikenal dua ordo yakni Pseudophylidea dan Cyclophylidea.
Sedangkan yang menginfeksi manusia ada dua bentuk fase cacing yaitu, bentuk
cacing dewasa, bentuk larva ataupun keduanya.
Pada cestoda usus kerugian yang ditimbulkan oleh cacing ini berlainan
pada berbagai spesies. Ukuran dan jumlah cacing menentukan efek sistemik dan
luasnya iritasi pada usus. Bermacam-macam gejala gastrointestinal dan gejala
syaraf yang tidak nyata dapat ditimbulkan. Berkurangnya gairah hidup dan
anemi telah dihubungkan dengan infeksi cacing pita, tetapi biasanya gejala nyata
tidak ada. Gejala-gejala dianggap bertalian dengan hasil metabolisme cacing
yang toksik dengan iritasi mekanik, pengambilan makanan, hospes dan dengan
absorbsi zat protein, vitamin, dan mungkin juga hormon-hormon dari mukosa
usus.

DAFTAR PUSTAKA

Anantaphruti, M.T., Hiroshi Yamasaki, Minoru Nakao, Jitra waikagul, Doru


Watthanakulpanich, et al., 2007, Sympatric Occurence of taenia solium,
Taenia saginata, and Taenia asiatica, Thailand,

http://www.cdc.gov/eid/content/13/9/pdfs/1413.pdf, diakses tanggal 1 April 2011

Brown, Harold W., 1979, Dasar Parasitologi Klinis Edisi III, PT Gramedia,
Jakarta

Gandahusada, Srisasi,dkk, 2004, Parasitologi Kedokteran Edisi III , Balai Penerbit


FKUI, Jakarta

Prianto, Juni L., P.U., Tjahaya dan Darwanto, 1994, Atlas Parasitologi
Kedokteran, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Staf Pengajar FKUI, 1998, Buku Ajar Parasitologi Kedokteran, Balai


Penerbit FKUI, Jakarta