Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

TELAAH JURNAL
(CRITICAL REVIEW EVIDENCE BASED)

A. Pengaruh Mengkudu Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada

Penderita Hipertensi Di Desa Wedoroklurak Kecamatan Candi

Kabupaten Sidoarjo

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan

abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-

menerus lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila aeteriole-arteriole

kontriksi. Kontriksi arteriole membuat darah sulit mengalir dan

meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah

beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan

kerusakan jantung dan pembuluh darah, batasan tekanan darah yang

masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah

≥ 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi (Wajan Juni Udjianti,

2010).

Faktor yang berpengaruh memicu terjadinya tekanan darah tinggi

diantaranya adalah faktor genetik, jenis kelamin, usia, tingkat stres,

obesitas, dan konsumsi garam serta alkohol. Tekanan darah tinggi

merupakan faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit

kardiovaskuler, gagal ginjal, stroke dan kematian.

Pasien yang menjadi kelolaan pada studi kasus ini dilakukan

pengkajian Tn. B mengatakan sudah 2 tahun menderita penyakit

hipertensi sampai saat ini dan Tn. B mengeluhkan kadang-kadang

merasakan sakit kepala, dan kadang-kadang merasakan sakit dan tegang


leher/kuduk bagian belakang, mata berkunang-kunang, pandangan

kabur. Pengetahuan keluarga Tn. B mengenai penyakit Tn. B terbatas,

keluarga kurang mengerti hal-hal yang dapat menyebabkan

kekambuhan dan yang perlu dilakukan untuk mencegah kekambuhan

penyakit.

Masalah keperawatan yang muncul berdasarkan hasil pengkajian

melalui anamnesa, pemeriksaan fisik yaitu Ketidakektifan pemeliharaan

kesehatan di keluarga, dimana kurangnya informasi yang didiapatkan

keluarga mengenai masalah kesehatan terutama penyakit hipertensi.

Pendidikan kesehatan adalah suatu proses yang direncanakan

untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain, baik individu,

kelompok atau masyarakat agar melaksanakan perilaku hidup sehat

(Nursalam & Efendi, 2008). Konsep Pendidikan kesehatan juga

merupakan upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar

masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2014).

Mengkudu terdiri dari zat aktif polisakarida, scopoletin, ascorbic

acid, β-carotene, ι-arginine, proxeronine dan proxeroninase sejak

berabad- abad dipergunakan untuk obat peluruh kencing dan dapat

menurunkan tekanan darah tinggi. Kandungan mengkudu scopeletin

memiki efek menormalkan tekanan darah. Secara farmakologis bisa kita

telaah melalui khasiat antihipertensi dapat ditunjukkan dengan adanya

efek spasmolitiksecara terjadi pelebaran pembuluh (vasodilatasi) akibat

relaksasi otot polos pembuluh darah, sebagaimana cara kerja berbagai


obat antihipertensi. Sedangkan khasiat antihipotensi ditunjukkan

dengan adanya efek menghambat iNOS , yang berarti menghambat

pembentukan nitric oxide (NO) padahal NO memiliki efek vasodilatasi

(Dripa sjabana, 2002).

Mengingat tanaman ini sering kita jumpai di lingkungan kita dan

mempunyai manfaat yang besar pula, sehingga diharapkan dengan

melakukan pengobatan hipertensi secara non farmakologis yaitu dengan

pengobatan herbal dari mengkudu yang matang berwarna kuning dijus

lalu disaring dan diminum 2 kali sehari 20-30 menit sebelum sarapan

dan 20-30 menit sebelum makan malam, sehingga tekanan darah pada

penderita bisa menurun. Dengan demikian, masyarakat bisa

meminimalisir penggunaan obat-obatan hipertensi secara farmakologis

yang biayanya cukup mahal.

Hipertensi merupakan penyakit berjalan terus seumur hidup dan

sering tanpa adanya keluhan yang khas selama belum ada komplikasi

pada organ tubuh. Untuk itu diperlukan ketelatenan dan biaya yang

cukup mahal. Dalam mengontrol hipertensi kita dapat memanfaatkan

pengobatan secara farmakologis dengan menggunakan obat-obatan

sintetis yang belakangan ini cenderung mengalami hambatan karena

daya beli masyarakat yang semakin menurun, sehingga kita dapat

memanfaatkan pengobatan secara non farmakologis dengan obat

alternatif berbahan baku mengkudu yang bisa dijangkau dari segi

materil (Lastri, 2009).


Berdsarkan penelitian yang dilakukan Hartin Suidah (2011)

tekanan darah sebelum diberikan terapi minum mengkudu. Didapatkan

hasil rerata MAP sebesar 116.2672 mmHg dalam pengukuran tekanan

darah (mean artery pressure) pada responden sebelum diberikan terapi

minum mengkudu. Sedangkan tekanan darah sesudah diberikan terapi

minum mengkudu. Didapatkan hasil rerata MAP sebesar 110.3332

mmHg dalam pengukuran tekanan darah (mean artery pressure) pada

responden setelah diberikan terapi minum mengkudu. Dapat

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi minum mengkudu

terhadap penurunan tekanan darah pada responden di desa

Wedoroklurak Kec. Candi Kab. Sidoarjo dengan Hasil uji Paired t Test

sig(2-tailed) atau p value = 0,000.

Berdasarkan hasil penerapan yang dilakukan melakukan

pengobatan hipertensi secara non farmakologis yaitu dengan

pengobatan herbal dari mengkudu yang matang berwarna kuning dijus

lalu disaring dan diminum 2 kali sehari 20-30 menit sebelum sarapan

dan 20-30 menit sebelum makan malam di rumah untuk menurunkan

tekanan darah yang sudah dimiliki keluarga dan memotivasi untuk

dapat melakukan fungsi kesehatan keluarga terkait masalah hipertensi

secara mandiri dan hasil dari kasus ini ada penurunan tekanan darah

pada Tn. B.