Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Lanjut Usia (Lansia)

1. Definisi Lansia

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi pada

kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak

hanya dimulai dari suatu waktu tertentu,tetapi dimulai sejak permulaan

kehidupan.menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah

melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua (Wahyudi, 2008).

Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses yang berangsur

mengakibatkan perubahan yang komulatif, merupakan proses menurunnya daya

tahan tubuh dalam menhadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang

berakhir dengan kematian. (Wahyudi, 2008).

Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan

dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia

tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2010). Usia lanjut

adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang

bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade (Notoadmojo, 2010)

Menurut Depkes 2010, lanjut usia didefenisikan sebagai seseorang yang

usianya lebih dari 60 tahun dan mengalami perubahan biologik, fisik, dan sosial

yang selanjutnya berpengaruh terhadap aspek kehidupannya termasuk

kesehatannya (Depkes, 2010).

2. Batasan – Batasan Lansia

12
a. Menurut organisasi dunia ( WHO ) lansia meliputi :

1) Lanjut usia ( olderly ) : antara 60 – 74 tahun

2) Lanjut usia tua ( old ) : antara 75 – 90 tahun

3) Usia sangat tua : diatas 90 tahun

b. Menurut prof . Dr. Koesoemarto Setyonegoro pengelompokkan lanjut usia

sebagai berikut : lanjut usia lebih dari 65 tahun atau 70 tahun. Terbagi

untuk umur 70–75 tahun ( young old ), 75– 80 tahun ( old ), dan lebih dari

80 tahun ( very old) (Wahyudi, 2008).

B. Konsep Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan dua atau lebih individu yang diikat

oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota

keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain (Mubarak, dkk 2009

dalam buku Harmoko, 2012).

Menurut Sutanto (2012), keluarga adalah kumpulan dua orang atau

lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan atau adopsi,

hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya

dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena

hubungan darah, perkawinan dan adopsi, dalam satu rumah tangga

berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran masing-masing dan

menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Efendi dan Makhfudli,

2009).
2. Karakteristik Keluarga

Menurut APD Salvari (2013), beberapa karakteristik keluarga yaitu

sebagai berikut :

a. Terdiri dari dua atau lebih individu yang di ikat oleh hubungan darah,

perkawinan atau adopsi.

b. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka

tetap memperhatikan satu sama lain.

c. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing

mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak, dan adek.

d. Mempunyai tujuan yaitu : menciptakan dan mempertahankan budaya

dan meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial.

3. Bentuk/Type Keluarga

Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai

macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe

keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran

serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu

mengetahui berbagai tipe keluarga.

Menurut Allender dan Spradley (2001) dalam buku Zaidin Ali (2009),

tipe keluarga adalah sebagai berikut :

a. Keluarga Tradisional

1) Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari

suami, istri dan anak atau suatu rumah tangga yang terdiri dari

ayah, ibu, dan anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga besar (extended family), adalah keluarga yang terdiri dari

dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti

nuclear family disertai: paman, tante, orang tua (kakek-nenek),

keponakan atau keluarga inti di tambah dengan keluarga lain yang

mempunyai hubungan darah, misalnya: kakek, nenek, keponakan,

paman, bibi.

3) Keluarga “Dyad” (nuclear dyad family), adalah keluarga yang

terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam

satu rumah.

4) Single parent family, adalah keluarga yang terdiri dari satu orang

tua (ayah atau ibu) dengan anak (kandung/angkat), kondisi ini

dapat disebabkan oleh proses perceraian, kematian dan

ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).

5) Single adult living alone/single adult family, adalah keluarga yang

terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau

perpisahan (perceraian atau ditinggal mati) atau suatu rumah

tangga yang hanya terdiri seorang dewasa (misalnya seorang yang

telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau kuliah).

6) Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami

istri yang berusia lanjut.

b. Keluarga Non Tradisional

1) Commune family adalah beberapa pasangan keluarga (dengan

anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama


dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman

yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas

kelompok/membesarkan anak bersama.

2) Orang tua (ayah/ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak

hidup bersama dalam satu rumah.

3) Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup

bersama dalam satu rumah tangga.

Menurut Setiawan dan Darmawan (2005), tipe keluarga adalah sebagai

berikut :

a. Keluarga berantai (sereal family), adalah keluarga yang terdiri dari pria

dan wanita yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu

keluarga inti.

b. Keluarga berkomposisi (composite family), adalah keluarga yang

perkawinannya berpoligami dan hidup bersama-sama.

c. Keluarga Kabitas (cahabitation family), adalah dua orang menjadi satu

tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

4. Struktur Keluarga

Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) dalam Harmoko (2012)

membagi struktur keluarga menjadi empat elemen, yaitu komunikasi,

peran keluarga, nilai dan norma keluarga, dan kekuatan keluarga.

a. Struktur komunikasi keluarga

Pola komunikasi keluarga adalah menggambarkan bagaimana cara

dan pola komunikasi diantara orang tua, orang tua dan anak, diantara
anggota keluarga ataupun dalam keluarga besar. Komunikasi dalam

keluarga dapat berupa komunikasi secara emosional, komunikasi

verbal dan non verbal, komunikasi sirkular. Komunikasi emosional

memungkinkan setiap individu dalam keluarga dapat mengekspresikan

perasaan seperti bahagia, sedih, atau marah diantara para anggota

keluarga. Pada komunikasi verbal anggota keluarga dapat

mengungkapkan apa yang diinginkan melalui kata-kata yang diikuti

dengan bahasa non verbal seperti gerakan tubuh. Komunikasi sirkular

mencakup sesuatu yang melingkar dua arah dalam keluarga, misalnya

pada saat istri marah pada suami, maka suami akan mengklarifikasi

kepada istri apa yang membuat istri marah.

b. Struktur peran keluarga

Struktur peran keluarga adalah menggambarkan peran masing–

masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal, model

peran keluarga, konflik dalam pengaturan keluarga.

c. Struktur nilai dan norma keluarga

Nilai atau norma keluarga adalah menggambarkan nilai dan norma

yang dipelajari dan diyakini dalam keluarga. Nilai merupakan persepsi

seseorang terhadap sesuatu hal apakah baik atau bermanfaat bagi

dirinya. Norma adalah peran-peran yang dilakukan manusia, berasal

dari nilai budaya terkait. Norma mengarah kepada nilai yang dianut

masyarakat, dimana norma-norma dipelajari sejak kecil. Nilai

merupakan prilaku motivasi diekspresikan melalui perasaan, tindakan


dan pengetahuan. Nilai memberikan makna kehidupan dan

meningkatkan harga diri. Nilai keluarga merupakan suatu pedoman

perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.

Norma adalah pola prilaku yang baik menurut masyarakat berdasarkan

sistem nilai dalam keluarga (Susanto, 2012).

d. Struktur kekuatan keluarga

Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk

mengendalikan atau mempengaruhi orang lain dalam perubahan

perilaku kearah positif. Kekuatan keluarga merupakan kemampuan

baik aktual maupun potensial dari individu untuk mengendalikan atau

mempengaruhi perilaku orang lain berubah kearah positif. Tipe

struktur kekuatan dalam keluarga antara lain : hak untuk mengontrol

seperti orang tua terhadap anak (legitimate power/outhority),

seseorang yang ditiru (referent power), pendapat, ahli dan lain-lain

(resource or expert power), pengaruh kekuatan karena adanya harapan

yang akan diterima (reward power), pengaruh yang dipaksakan sesuai

keinginannya (coercive power), pengaruh yang dilalui dengan persuasi

(informational power), pengaruh yang diberikan melalui manipulasi

dengan cinta kasih misalnya hubungan seksual (affective power).

5. Ciri-ciri Struktur Keluarga

Menurut APD Salvari (2013), Ciri-ciri struktur keluarga terdiri atas :

a. Terorganisasi, yaitu saling berhubungan, saling ketergantungan antara


anggota keluarga.

b. Ada keterbatasan, dimana setiap anggota keluarga memiliki kebebasan

tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi

dan tugas masing-masing.

c. Ada perbedaan dan kekhususan, yaitu setiap anggota keluarga

mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.

6. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman dalam buku (Padila, 2012), mengidentifikasikan

lima fungsi dasar keluarga, yakni :

a. Fungsi afektif

Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang

merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk

pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak

melalui keluarga yang bahagia. Anggota keluarga mengembangkan

konsep diri yang positif, rasa dimiliki dan memiliki, rasa berarti serta

merupakan sumber kasih sayang. Reinforcement dan support dipelajari

dan dikembangkan melalui interaksi dalam keluarga.

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk memenuhi

fungsi afektif adalah :

1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan

mendukung. Setiap anggota keluarga yang mendapat kasih sayang

dan dukungan, maka kemampuannya untuk memberi akan

meningkat sehingga tercipta hubungan yang hangat dan saling


mendukung. Hubungan yang baik dalam keluarga tersebut akan

menjadi dasar dalam membina hubungan dengan orang lain diluar

keluarga.

2) Saling menghargai, dengan mempertahankan iklim yang positif

dimana setiap anggota keluarga baik orang tua maupun anak diakui

dan dihargai keberadaan dan haknya.

3) Ikatan dan identifikasi, ikatan ini mulai sejak pasangan sepakat

hidup baru. Kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan

berbagai asfek kehidupan dan keinginan yang tidak dapat dicapai

sendiri, misalnya mempunyai anak. Hubungan selanjutnya akan

dikembangkan menjadi hubungan orang tua-anak dan antar anak

melalui proses identifikasi. Proses identifikasi merupakan inti

ikatan kasih sayang, oleh karena itu perlu diciptakan proses

identifikasi yang positif dimana anak meniru perilaku orangtua

melalui hubungan interaksi mereka.

Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan

kebahagiaan keluarga. Sering perceraian, kenakalan anak atau masalah

keluarga lainnya timbul akibat fungsi afektif keluarga yang tidak

terpenuhi.

b. Fungsi sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang

dialami individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar

berperan dalam lingkungan sosial (Padila, 2012).


Sosialisasi adalah suatu proses dimana anggota masyarakat yang

baru mempelajari norma-norma masyarakat dimana dia menjadi

anggota (Soekanto 2010).

Sosialisasi dimulai sejak individu dilahirkan dan berakhir setelah

meninggal. Keluarga merupakan tempat dimana individu melakukan

sosialisasi.

c. Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan

meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program

keluarga berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol. Namun

disisi lain banyak kelahiran yang tidak diharapkan atau diluar ikatan

perkawinan sehingga lahirnya keluarga baru dengan satu orang tua

(single parent).

d. Fungsi ekonomi

Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makan,

pakaian dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan.

Fungsi ini sulit dipenuhi oleh keluarga dibawah garis kemiskinan

(Gakin atau pra keluarga sejahtera).

e. Fungsi perawatan kesehatan

Fungsi lain keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Selain

keluarga menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga

berfungi melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik untuk

mencegah terjadinya gangguan maupun merawat anggota yang sakit.


Keluarga juga menentukan kapan anggota keluarga yang mengalami

gangguan kesehatan memerlukan bantuan atau pertolongan tenaga

professional. Kemampuan ini sangat mempengaruhi status kesehatan

individu dan keluarga.

Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan

terhadap anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang

dilaksanakan.

Tugas kesehatan keluarga tersebut adalah (Friedman dalam buku

Padila, 2012) adalah :

1) Mengenal masalah kesehatan

2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat

3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

4) Mempertahankan suasana rumah yang sehat

5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.

Kelima tugas kesehatan tersebut saling terkait dan perlu dilakukan oleh

keluarga. Perawat perlu melakukan pengkajian untuk mengetahui sejauh mana

keluarga dapat melaksanakan kelima tugas tersebut dengan baik, selanjutnya

memberikan bantuan atau pembinaan terhadap keluarga untuk memenuhi

tugas kesehatan keluarga tersebut, (Padila, 2012).

7. Ciri-ciri Keluarga

Menurut Nasrul Effendi (2007), ada beberapa ciri-ciri keluarga

sebagai berikut :

a. Diikat dalam satu perkawinan


b. Ada ikatan batin

c. Ada tanggung jawab masing anggota

d. Ada pengambilan keputusan

e. Kerjasama di antara anggota keluarga

f. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

8. Tahap Tugas Perkembangan Keluarga

Tahap tugas perkembangan keluarga dibagi menurut kurun waktu

tertentu yang dianggap stabil, meskipun setiap keluarga melalui tahap dan

tugas perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga

mengikuti pola yang sama. Tugas perkembangan sesuai dengan  tahap

perkembangan  menurut Padila (2012), tumbuh kembang keluarga yaitu :

a. Tahap I : Keluarga pemula/pasangan baru (beginning family)

Tahapan ini dimulai sejak dua insan dewasa mengikat janji

melalui pernikahan dengan landasan cinta dan kasih sayang. Keluarga

baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan

perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah

dan meninggalkan keluarga masing-masing. Keluarga baru/pasangan

yang belum memiliki anak. Meninggalkan keluarga bisa berarti

psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih

tinggal dengan orang tuanya.

Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan

penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama

serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya


makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini, adalah :

1) Membina hubungan intim dan memuaskan/membangun

perkawinan yang saling memuaskan.

2) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok

social/menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis

3) Mendiskusikan rencana memiliki anak/keluarga berencana

(keputusan tentang kedudukan sebagai orang tua)

4) Menetapkan tujuan bersama

5) Persiapan menjadi orang tua

6) Memahami prenatal care (pengertian kehamilan, persalinan dan

menjadi orang tua)

Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga

suami, keluarga, istri dan keluarga sendiri.

b. Tahap II : Keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing

family)

Tahapan ini dimulai sejak ibu hamil sampai dengan kelahiran anak

pertama dan berlanjut sampai dengan anak pertama berusia 30 bulan atau

2,5 tahun.

Tugas perkembangan keluarga yang penting pada tahap ini,

adalah :

1) Mempersiapkan biaya persalinan

2) Mempersiapkan mental calon orang tua


3) Mempersiapkan berbagai kebutuhan anak

4) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi,

hubungan sexual dan kegiatan.

Apabila anak sudah lahir tugas perkembangan keluarga yang

penting pada tahap ini, adalah :

1) Memberikan ASI sebagai kebutuhan utama bayi (minimal 6 bulan).

2) Memberikan kasih sayang, mulai mensosialisasikan dengan

lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan

3) Pasangan kembali melakukan adaptasi karena kehadiran anggota

keluarga termasuk siklus hubungan seks

4) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi,

hubungan sexual dan kegiatan.

5) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua ;

bagaiamana orang tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu

menfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat

sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.

c. Tahap III : Keluarga dengan anak prasekolah (families with preschool)

Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan

berakhir saat anak berusia 5 tahun.

Tugas perkembangan kelurga pada tahap ini, adalah :

1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat

tinggal, privasi dan rasa aman.


2) Membantu anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

3) Beradaptasi dengan anaknya baru lahir, sementara kebutuhan anak

lain juga harus terpenuhi.

4) Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga

maupun dengan masyarakat.

5) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

6) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.

7) Menanamkan nilai-nilai dan norma kehidupan

8) Mulai menanamkan keyakinan beragama

9) Mengenalkan kultur keluarga

d. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah (families with children)

Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah)

dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya

keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk.

Selain aktivitas disekolah, masing-masing anak memiliki minat

sendiri. Demikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda

dengan anak.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini, adalah :

1) Memenuhi kebutuhan sekolah anak baik alat-alat sekolah maupun

biaya sekolah

2) Membiasakan belajar teratur

3) Memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas-tugas sekolah

4) Memberikan pengertian pada anak bahwa pendidikan sangat


penting untuk masa depan anak

5) Membantu anak dalam bersosialisasi lebih luas dengan tetangga,

sekolah dan lingkungan sekitar.

6) Mempertahankan keintiman pasangan.

7) Memenuhi kebutuhan  dan biaya kehidupan yang semakin

meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan

anggota keluarga.

Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi

kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dalam aktivitas baik di

sekolah maupun di luar sekolah.

e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (families with teenagers)

Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir saat anak

berusia 19-20 tahun. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab

serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi

orang dewasa. Mengingat anak sudah mulai menurun perhatiannya

terhadap orang tua dibandingkan dengan teman sebayanya. Pada

tahapan ini sering kali ditemukan perbedaan pendapat antara orang tua

dan anak remaja, apabila hal ini tidak diselesaikan akan berdampak

pada hubungan selanjutnya.

Tugas perkembangan kelurga pada tahap ini, adalah :

1) Memberi perhatian lebih pada remaja

2) Bersama-sama mendiskusikan tentang rencana sekolah ataupun

kegiatan diluar sekolah


3) Memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab

4) Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.

5) Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang

tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.

6) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang

keluarga.

Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya

dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul

konflik orang tua dan remaja.

f. Tahap VI : Keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching

center family)

Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir

pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Remaja yang akan beranjak

dewasa harus sudah siap meninggalkan kedua orang tuanya untuk mulai

hidup baru, bekerja, dan berkeluarga. Lamanya tahapan ini tergantung

jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap

tinggal bersama orang tua.

Tugas perkembangan kelurga pada tahap ini, adalah :

1) Membantu anak untuk mandiri

2) Mempertahankan komunikasi

3) Memperluas hubungan keluarga antara orang tua dan menantu

4) Menata kembali peran dan fungsi keluarga setelah ditinggalkan

anak-anak.
5) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

6) Mempertahankan keintiman pasangan.

7) Membantu orang tua memasuki masa tua.

8) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.

9) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

g. Tahap VII :   Keluarga usia pertengahan (middle age families)

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan

rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.

Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia

lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua.

Tugas bagi keluarga setelah ditinggal pergi anak-anaknya untuk

memulai kehidupan baru antara lain :

1) Menjaga keintiman pasangan

2) Merencanakan kegiatan yang akan datang

3) Tetap menjaga komunikasi dengan anak-anak dan cucu

4) Mempertahankan kesehatan masing-masing pasangan

5) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman

sebaya dan anak-anak

6) Meningkatkan keakraban pasangan

Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet

seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain

sebagainya.

h. Tahap VIII : Keluarga usia lanjut


Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan

meninggal dan keduanya meninggal. Masa tua bisa dihinggapi

perasaan kesepian, tidak berdaya.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini, adalah :

1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

2) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan

fisik dan pendapatan.

3) Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.

4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.

5) Melakukan life review.

6) Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas

utama keluarga pada tahap ini.

10. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan

dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan.

Asuhan keperawatan keluarga mencantumkan lima tugas keluarga sebagai

paparan etiologi/penyebab masalah dan biasanya dikaji pada saat

penjajakan tahap II bila ditemui data maladapti pada keluarga. Lima tugas

keluarga yang dimaksud dalam bidang kesehatan menurut Padila, (2012),

adalah :

a. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggotanya

(Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah), termasuk bagaimana

persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian,


tanda dan gejala, faktor penyebab dan persepsi keluarga terhadap

masalah yang dialami keluarga.

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat

(Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan), termasuk sejauh

mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah,

bagaimana masalah dirasakan keluarga, bagaimana keluarga

menanggapi masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat

atau adakah sifat negatif dari keluarga terhadap masalah kesehatan,

bagaimana sistem pengambilan keputusan yag dilakukan keluarga

terhadap anggota keluarga yang sakit.

c. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan

yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya

yang terlalu muda atau ketidakmampuan keluarga merawat anggota

keluarga yang sakit, seperti bagaimana keluarga mengetahui keadaan

sakitnya, sifat, dan perkembangan perawatan yang diperlukan, sumber-

sumber yang ada dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap anggota

keluarga yang sakit.

d. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan

dan perkembangan kepribadian anggota keluarga atau

ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan seperti

pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit

yang dilakukan keluarga. Upaya pemeliharaan lingkungan yang

dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata


lingkungan dalam dan lingkungan luar rumah yang berdampak

terhadap kesehatan keluarga.

e. Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan

lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukan pemanfaatan dengan

baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada atau ketidakmampuan

keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti

kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas

pelayanan kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada,

keuntungan keluarga terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah

pelayanan kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman

yang kurang baik yang dipersepsikan keluarga.

11. Peranan Keluarga

Posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga

didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan

masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah

sebagai berikut :

a. Peranan Ayah adalah ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak,

berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa

aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok

sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai

anggota masyarakat dari lingkungannya. 

b. Peranan Ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu

mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh


dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu

kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat

dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai

pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

c. Peranan Anak adalah anak-anak melaksanakan peranan psikosial

sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan

spiritual.

12. Peran Perawat Keluarga

Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang

ditujukan pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan

keluarga yang sehat. Fungsi perawatan adalah membantu keluarga untuk

menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan

kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan

keluarga melalui peran perawatan sebagai berikut :

a. Pendidik (educator)

Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada

keluarga dengan tujuan sebagai berikut :

1) Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga

secara mandiri.

2) Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga. Dengan

di berikan pendidikan kesehatan/penyuluhan di harapkan keluarga

mampu mengatasi dan bertanggung jawab terhadap masalah

kesehatannya.
b. Koordinator

Koordinasi di perlukan pada perawatan berkelanjutan agar

pelayanan yang komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat

di perlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai

disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.

c. Pelaksana

Perawat yang bekerja dengan klien dan keluarga baik di rumah,

klinik maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan

perawatan langsung. Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui

anggota keluarga yang sakit. Perawat dapat mendemonstrasikan

kepada keluarga asuhan keperawatan yang di berikan dengan harapan

keluarga nanti dapat melakukan asuhan langsung kepada keluarga

yang sakit.

d. Pengawas kesehatan

Sebagai pengawas kesehatan perawat harus melakukan home

visit atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau

melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.Perawat tidak hanya

melakukan kunjungan tetapi diharapkan ada tindak lanjut dari

kunjungan ini.

e. Konsultan (Penasehat)

Perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi

masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat pada perawat


maka hubungan perawat dan keluarga harus di bina dengan baik,

perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya. Maka dengan

demikian, harus ada bina hubungan saling percaya (BHSP) antara

perawat dan keluarga.

f. Kolaborasi

Sebagai perawat di komunitas juga harus bekerja sama dengan

pelayanan rumah sakit, puskesmas, dan anggota tim kesehatan yang

lain untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal.

Kolaborasi tidak hanya dilakukan sebagai perawat di rumah sakit

tetapi juga di keluarga dan komunitas pun dapat dilaksanakan.

g. Fasilitator

Peran perawat di sini adalah membantu keluarga dalam

menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatan yang

optimal. Kendala yang sering dialami keluarga adalah keraguan dalam

menggunakan pelayanan kesehatan, masalah ekonomi, dan sosial

budaya. Agar dapat melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka

perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan, misalnya

sistem rujukan dan dana sehat.

h. Penemu kasus

Peran perawat juga sangat penting adalah mengidentifikasi

kesehatan secara dini, sehingga tidak terjadi kejadian luar biasa.

i. Modifikasi lingkungan

Perawat juga harus dapat memodifikasi lingkungan, baik


lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekitarnya

agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.

C. Konsep Dasar Hipertensi

1. Definisi Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan

abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus

lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila aeteriole-arteriole kontriksi.

Kontriksi arteriole membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan

tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja

jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan

jantung dan pembuluh darah, batasan tekanan darah yang masih dianggap

normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah ≥ 160/95 mmHg

dinyatakan sebagai hipertensi (Wajan Juni Udjianti, 2010).

2. Klasifikasi.

Tekanan darah dikatakan normal apabila sistolik < 130 mmHg dan

diastolic < 85 mmHg, dikatakan normal tinggi apa bila sistolik 130-139

mmHg dan diastolic 85-89 mmHg, hipertensi dibagi atas 4 stadium yaitu :

stadium 1 (ringan) apabila sistoliknya 140-159 mmHg dan diastoliknya

90-99 mmHg, stadium 2 (sedang) apabila sistoliknya 160-179 mmHg dan

diastoliknya 100-109 mmHg, stadium 3 (berat) apabila sistoliknya 180-

209 mmHg dan diastoliknya 110-119 mmHg, stadium 4 (sangat berat)

apabila sistoliknya_> 210 mmHg dan diastoliknya ≥ 120 mmHg.


Menurut Baradero dkk., (2008), dan Vitahealt (2009), hipertensi

dapat diklasifikasikan dalam beberapa stadium yaitu :

Tabel 2.5
Stadium Hipertensi
Stadium Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Paling baik (optimal) < 120 < 80
Normal 120-130 80-85
Normal tinggi (High Normal/ 130-140 85-90
Pra Hipertensi)
Hipertensi Stadium 1 : 140-160 90-100
Ringan (Mild)
Hipertensi Stadium 2 : 160-180 100-110
Sedang (Moderate)
Hipertensi Stadium 3 : >180 >110
Berat (Severe)
Hipertensi Stadium 4 :
˃ 210 > 120
Sangat Berat (Very Severe)
Sumber : Baradero., (2008) dan Vitahealth (2009)

Menurut Darmojo, (2009), Hipertensi pada usia lanjut dibedakan

atas dua bagian, yaitu :

a. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140

mmHg dan/atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90

mmHg.

b. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari

160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

Kalsifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan

menjadi 2 golonagan besar, yaitu :

a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak

diketahui penyebabnya.

b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit


lain.

3. Etiologi Hipertensi.

Berdasarkan Etiologinya, hipertensi dibagi menjadi dua macam, yaitu

sebagai berikut (Baradero dkk., 2008) :

a. Hipertensi Esensial (Primer)

Sembilan puluh lima persen dari semua kasus hipertensi adalah

primer (Esensial). Tidak ada penyebab yang jelas tentang hipertensi

primer, meskipun ada beberapa teori yang menunjukkan adanya faktor-

faktor genetik, perubahan hormon, dan perubahan simpatis yang

berhubungan dengan hipertensi. (Baradero, Dayrit, dan Siswadi, 2008).

Menurut Grey, et al (2005) menyebutkan hipertensi dapat

disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

1) Genetik (keturunan)

Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport

Na. Sekitar 70-80% penderita hipertensi esensial ditemukan riwayat

hipertensi di dalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada

kedua orang tua, maka dugaan hipertensi lebih besar.

Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita yang monozigot

(satu telur) apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini

menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran terjadinya hipertensi.

Jadi Genetik individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan


hipertensi, beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.

2) Jenis kelamin

Hipertensi lebih mudah menyerang kaum laki-laki daripada

perempuan. Hal ini karena laki-laki banyak memiliki faktor pendorong

terjadinya hipertensi, seperti stres, kelelahan, merokok, dan makan tidak

terkontrol. Adapun pada perempuan peningkatan risiko terjadi setelah

masa menopose (sekitar 45 tahun).

3) Umur

Pada umumnya, hipertensi menyerang pria di atas 31 tahun,

sedangkan pada wanita terjadi setelah umur 45 tahun. Tekanan darah akan

meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang. Ini disebabkan

karena dengan bertambahnya umur, dinding pembuluh darah mengalami

perubahan struktur dan fungsi. Jumlah sel otot polos berkurang dan

elasitas berkurang sehingga tahanan tepi meningkat yang dapat

menyebabkan jantung bekerja lebih untuk memompa darah yang

berakibat peningkatan pembuluh dara (Grey, et al 2005).

Insiden hipertensi meningkat dengan bertambahnya uisa.

Prevalensi hipertensi ringan sebesar 2% pada usia 25 tahun atau kurang,

meningkat menjadi 25% pada usia 50 tahun dan 50% pada usai 70 tahun

(Davy, 2006).

4) Obesitas (kegemukan)

Terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan

tekanan darah meningkat. Berdasarkan penelitian, kegemukan merupakan


ciri khas dari populasi hipertensi. Obesitas sangat berperan terhadap

kejadian penyakit tidak menular seperti stroke, diabetes, dan penyakit

kadiovaskular.

5) Konsumsi garam berlebih

Garam mempunyai sifat menahan air. Konsumsi garam

berlebihan dengan sendirinya akan menaikkan tekanan darah (Grey et

al, 2005). Garam yang mempunyai fungsi sebagai osmolalitas plasma

berperan penting terhadap hemodinamik darah (Corwin, 2009). Secara

fisiologis jika kadar garam dalam tubuh berlebih, maka tubuh akan

mengeluarkannya melalui urin atau keringat, namun hal ini tidak

terjadi pada pasien hipertensi, tubuh tidak mamu mengeluarkan

kelebihan garam dalam tubuh, sehingga volume retensi cairan

meningkat dan berakibat pada kenaikan tekanan darah (Soenardi dan

Soetarjo, 2005).

6) Kurang Olahraga

Olahraga seperti bersepeda, jogging, dan aerobik yang teratur

dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat menurunkan

tekanan darah. Orang yang kurang aktif berolah raga pada umunya

cenderung mengalami kegemukan. Dengan berolah raga akan

mencegah obesitas, serta mengurangi asupan garam, dengan

mengeluarkannya dari tubuh bersama keringat.

7) Merokok dan konsumsi alkohol

Hipertensi juga dirangsang oleh adanya nikotin dalam batang


rokok yang dihisap seseorang. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa nikotin dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam

pembuluh darah. Selain itu, nikotin juga dapat menyebabkan

terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah.

Efek dari konsumsi alkohol juga merangsang hipertensi karena

adanya peningkatan sintesis katekolamin yang dalam jumlah besar

dapat memicu kenaikan tekanan darah (Grey et al, 2005).

b. Hipertensi sekunder

Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi

sekunder yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah karena

suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau

gangguan tiroid. Menurut (Wajan Juni Udjianti, 2010 hal. 113) etiologi

hipertensi sekunder pada umumnya diketahui. Berikut ini beberapa

kondisi yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi sekunder, yaitu :

1) Penyakit ginjal (glomerunefrotis, gagal ginjal)

2) Masalah kelenjar adrenal

a) sindrom Cushing yang menyebabkan peningkatan volume

darah.

b) Aldosteronisme primer yaitu kelebihan aldosteron yang

menyebakan retensi natrium dan air, sehingga menyebabkan

volume darah meningkat.

c) Fenokromositoma menyebabkan sekresi berlebihan dari

kateklamin (noreprinefrin yang membuat tahanan vaskular


perifer meningkat)

3) Koartasi aorta yaitu tekanan darah meningkat pada ekstremitas atas

dan berkurangnya perfusi pada ekstremitas bawah,

4) Trauma kepala atau tumor kranial yang meningkatkan tekanan

intrakranial sehingga mengakibatkan perfusi serebral berkurang;

iskemia yang timbul akan merangsang pusat vasometer medula

untuk meningkatkan tekanan darah.

5) Obat-obatan

6) Hipertensi dalam kehamilan

Merupakan peningkatan tekanan darah saat kehamilan (Baradero,

Dayrit, dan Siswadi, 2008).

4. Patofisiologi

Menurut Corwin, (2009), Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan

relaksasi pembuluh darah terletak di Pusat kardiovaskular di otak, yaitu

bagian dari farmasioretikularis dan terletak di medula bagain bawah dan

posn. Sinyal-sinyal yang berkaitan dengan tekanan darah diintegrasikan di

sini. Apabila terjadi perubahan tekanan darah, pusat kardiovaskular

mengaktifkan sistem saraf otonom, sehingga terjadi perubahan stimulasi

simpatis dan parasimpatis ke jantung, dan terjadi perubahan stimulasi

simpatis ke seluruh sistem vaskular. Resistensi pembuluh darah berubah


dan aliran darah serta tekanan darah juga terpengaruh.

Saraf simpatis merangsang kecepatan denyut dan kontraktilitas jantung

melalui ikatan dengan reseptor-β1 di jantung. Saraf parasimpatis

menurunkan kecepatan denyut jantung melalui ikatan dengan reseptor

kolinergik. Saraf simpatis mengeluarkan norepinefrin di sebagian besar

pembuluh darah, yang berikatan dengan reseptor spesifik di sel-sel otot

polos yang disebut reseptor alfa (α). Perangsangan reseptor alfa

menyebabkan sel otot polos berkontraksi, sehingga pembuluh darah

mengalami penyempitan. Hal ini meningkatkan TPR dan akibatnya

tekanan darah meningkat.

Terdapat beberapa hormon yang mengendalikan resistensi sistem

vaskular. Hormon-hormon ini dilepaskan secara langsung sebagai respon

terhadap perubahan tekanan darah, dan sebagai respon terhadap

rangsangan saraf atau keduanya (Corwin, 2009).

a. Norepinefrin dan Epinefrin

Norepinefrin dan Epinefrin dikeluarkan dari medula adrenal

sebagai reson terhadap pengaktifan sistem saraf simpatis. Kedua zat

tersebut bekerja dengan berikatan pada reseptor α untuk meningkatkan

vasokontriksi, atau dengan reseptor β2 untuk menyebabkan

vasodilatasi atriol yang memperdarahi otot rangka. Norepinefrin dan

epinefrin juga berikatan dengan reseptor β1 dan meningkatkan

kecepatan denyut jantung.

b. Sistem Renin Angiotensin


Perubahan tekanan darah juga dirasakan oleh baroreseptor di

ginjal. Apabila tekanan darah meningkat, pelepasan hormon renin

menurun. Apabila tekanan darah menurun, pelepasan renin meningkat.

Pelepasan renin juga dirangsang oleh saraf simpatis ke ginjal. Renin

mengendalikan pembentukan hormon lain, yaitu angiotensin II.

Angiotensin II merupakan suatu vasokontriktor kuat yang terutama

menyebabkan vasokontriksi ateriol halus. Hal ini menyebabkan

peningkatan retensi terhadap aliran darah dan peningkatan tekanan

darah. Peningkatan tekanan darah. Angiotensin II juga bersirkulasi

menuju kelenjar adrenal dan menyebabkan sel korkes adrenal

membentuk hormon lain, yaitu aldosteron.

c. Aldosteron

Aldosteron bersirkulasi dalam darah menuju ginjal dan

menyebabkan sel tubulus distal meningkatkan reabsorbsi natrium

dalam berbagai keadaan, reabsorbsi air mengikuti penyerapan natrium

sehingga terjadi peningkatan volume plasma. Peningkatan volume

plasma meningkatkan volume secukup dan curah jantung. Hal ini juga

menyebabkan peningkatan tekanan darah.

d. Hormon Antidiuretik (ADH)

Hormon anti diuretik (ADH) atau vasopresin, dikeluarkan oleh

hipofisi posterior sebagai respon terhadap peningkatan osmolitas

plasma (penurunan konsentrasi air) atau penurunan tekanan darah.

ADH adalah suatu vasokonstrikor kuat yang berpotensi


meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan resistensi terhadap

aliran darah (Crowin, 2009).

Menurut Brashers (2008), hipertensi esensial melibatkan interaksi

yang sangat rumit antara faktor genetik dan lingkungan yang

dihubungkan oleh penjamu mediator nuro-hormonal. Secara umum

disebabkan oleh peningkatan tahanan perifer dan/atau peningkatan

volume darah.

Menurut Brasher (2008), menyebutkan teori terkini mengenai

hipertensi primer meliputi :

a. Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis (SNS)

1) Respon maladaptif terhadap stimulus saraf simpatis

2) Perubahan gen pada reseptor ditambah kadar katekolamin serum

yang menetap.

b. Peningkatan aktivitas sistem Renin Angiotensin–Aldosterion (RAA)

Produksi renin antara lain dipengaruhi oleh stimulus syaraf

simpatis. Renin berperan pada proses konversi angiotensin I menjadi

angiotensi II yang mempunyai efek vasokontriksi. Dengan adanya

angiotensin II sekresi aldosteron meningkat menyebabkan retensi

garam Natrium dan Air (Soenardi, dan Soetardjo, 2005). Berikut efek

RAA :

1) Secara langsung menyebabkan vasokontriksi tetapi juga

meningkatan aktivitas SNS dan menurunkan kadar prostaglandin


vasodilator dan oksitosin nitrat.

2) Memediasi remodeling arteri (perubahan strukur pada dinding

pembuluh darah), dan

3) Memediasi kerusakan organ akhir pada jantung (hipertrofi),

pembuluh darah dan ginjal

c. Efek pada transport garam dan air.

1) Gangguan aktivitas pada natriuretik otak (brain natriuretik

peptide, BNF), pada atrial (atrial natriuretik peptide, ANF),

adrenomedulin, urodilatin, dan endotelin.

2) Berhubungan dengan asupan diet kalsium, magnesium, dan kalium

rendah.

d. Interaksi kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi

endotel.

1) Hipertensi sering terjadi pada penderita diabetes, dan resistensi

insulin ditemukan pada banyak pasien hipertensi yang tidak

memiliki diabetes klinis.

2) Resistensi insulin berhubungan dengan penurunan pelepasan

endotelial oksida nirat dan vasodilator lain serta mempengaruhi

fungsi ginjal.

3) Resistensi insulin yang tinggi meningkatkan aktivitas SNS dan

RAA (Brashers, 2008).

5. PATHWAYS / WOC
Sumber : Suyono, Slamet. 2010

6. Tanda dan Gejala

Menurut (Gray, et al, 2005 dan Davy, 2006), manifestasi klinis

beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala,


pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis,

Kesadaran menurun.

Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :

a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg 2.

b. Sakit kepala

c. Pusing / migraine

d. Rasa berat ditengkuk

e. Penyempitan pembuluh darah

f. Sukar tidur

g. Lemah dan lelah

h. Nokturia

i. Azotemia

j. Sulit bernafas saat beraktivitas

7. Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat diakibatkan oleh hipertensi adalah :

a. Stroke

Hipertensi dapat menyebabkan dua jenis stroke, yaitu stroke

iskemik dan hemoragik. Jenis stroke yang paling sering (sekitar 80 %)

adalah stroke iskemik (Williasms, 2007). Stroke Iskemik terjadi karena

pembuluh arteri tersumbat plak yang timbul karena tekanan darah

tinggi ataupun penumpukan lemak. Seorang pria yang menderita

tekanan darah di atas 170/100 mmHg, memiliki resiko stroke 3:1

dibandingkan wanita. Tekanan darah diastol di atas 100 mmHg akan


meningkatkan risiko stroke 2,5 kali (Marliani dan Tantan, 2007).

b. Penyakit Jantung

Penyakit ini terjadi akibat dari pembesaran otot jantung kiri

sehingga mengalami gagal Jantung. Pembesaran otot jantung terjadi

akibat upaya keras jantung untuk memompa darah (Jangkaru, 2006).

c. Gagal Ginjal

Kerusakan pada ginjal diakibatkan oleh rusaknya pembuluh darah

di ginjal karena tingginya tekanan darah sehngga penurunan fungsi

ginjal jika terus menuerus berdampak pada gagal ginjal (Jangkaru,

2006).

d. Kerusakan pada Mata

Pembuluh darah pada mata termasuk pembuluh darah yang lunak

dan resisten, jika terjadi tekanan darah yang tinggi mengakibatkan

kerusakan pembuluh darah dan saraf pada mata sehingga penglihatan

terganggu (Jangkaru, 2006).

8. Pencegahan Hipertensi

Menurut Ramayulis (2010), menyebutkan, tindakan yang dapat

dilakukan dalam upaya menurunkan hipertensi adalah dengan

memodifikasi gaya hidup sehat, yaitu :

a. Mengurangi atau membatasi makanan yang mengandung lemak

kolestrol tinggi, makan berminyak, santan, goreng-gorengan.

Mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti buah-buahan dan sayur-

sayuran.
b. Penurunan berat badan

Hubungan hipertensi dengan berat badan lebih sangat kuat. Makin

besar masa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk

menyampaikan oksigen dan makanan ke jaringan tubuh, artinya,

volume darah yang besar di pembuluh darah bertambah sehingga

memberi tekanan yang lebih besar pada dinding pembuluh darah dan

arteri.

Penelitian lain menunjukkan bahwa tumpukan lemak di perut

berhubungan dengan risiko hipertensi. selain itu, kelebihan lemak di

bagian atas tubuh juga berisiko terhada dislipidemia, diabetes, dan

peningkatan angka kematian pada pasien penyakit jantung koroner.

Tidak hanya tumpukan lemak di perut dan bagaian atas tubuh,

lingkaran pinggang juga menjadi faktor risiko, yaitu bagi yang

mempunyai lingkaran pinggang > 86 cm pada wanita dan > 99 cm

pada pria (Ramayulis, 2010).

c. Olah raga (latihan aerobik teratur untuk mencapai kebugaran fisik)

Pada tahun 1993, American Colledge of Sport medicine (ACMS)

menganjurkan latihan-latihan aerobik (olahraga kesehatan) yang

teratur serta cukup (30-40 menit atau lebih) sebanyak 3-4 hari

perminggu, dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 10 mmHg

pada bacaan sistolik dan diastolik. Olahraga secara teratur selain dapat

mengurangi stres, juga dapat menurunkan berat badan, membakar

lebih banyak lemak di dalam darah, dan memperkuat otot-otot jantung


(Vitahealt, 2009).

d. Pembatasan Asupan Lemak Jenuh

Konsumsi lemak berlebihan dapat meningkatkan kejadian

hipetensi, terutama pada asupan lemak jenuh dan kolestrol. Terdapat

dua mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan asupan lemak

dengan hipetensi, yaitu sebagai berikut :

1) Asupan lemak berlebihan dapat meningkatkan berat badan.

Semakin besar masa tubuh maka semakin banyak darah yang

dibutuhkan untuk menyampaikan oksigen dan zat gizi ke jaringan

tubuh.

2) Asupan lemak jenuh berlebihan mengakibatkan kadar lemak dalam

tubuh meningkat, terutama kolestrol. Kolestrol yang berlebih akan

menumpuk pada dinding pembuluh darah yang mengakibatkan

penyumbatan aliran darah yang mengakibatkan peningkatan

tekanan darah.

Asupan lemak yang di anjurkan adalah 27% dari total energi dan

6% adalah jenis lemak jenuh, dan kebutuhan kolestrol yang

dianjurkan yaitu < 300 mg per hari (Ramayulis, 2010).

e. Diet rendah garam (sasaran < 5 gram per hari)

Hasil penelitian epidemiologi dengan rancangan kontrol acak


menjelaskan bahwa individu yang berusia > 45 tahun dengan konsumsi

rendah natrium akan mengalami penurunan tekanan darah 2,2-6,3

mmHg.

f. Keseimbangan kalium/ Potasium

Kecukupan asupan kalium dapat memelihara tekanan darah dan

membuat perubahan positif pada tekanan darah pasien hipertensi.

Sebaliknya, jika seseorang mengalami defisiensi kalium, maka akan

menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Asupan kalium

yang dianjurkan sebesar > 3500 mg/hari.

Komite nasional pengobatan hipertensi menganjurkan beberapa

hal berikut mengenai konsumsi kalium dan potasium.

1) Konsumsi potasium di plasma harus dipelihara dengan

mengonsumsi makanan sumber potasium seperti buah-buahan

segar dan sayuran.

2) Jika penderita hipertensi mengalami hipokalemia (rendah kalium

dalam darah) selama menjalani terapi diuretik maka dibutuhkan

suplementasi potasium.

3) Berikut ini nama bahan makanan yang tinggi kalium diurutkan

mulai kandungan tertinggi per penukarnya : kentang, bayam,

jambu monyet, jambu biji, singkong, kacang kedelai, pisang,

durian, kacang merah, kacang hijau, selada, wortel, tomat, pepaya,

kelapa, jeruk manis, semangka, alpukat, nasi, mangga, nanas

kacang tanah, dan anggur (Ramayulis, 2010).


g. Keseimbangan Kalsium

Pada kebanyakan penelitan epidemologi, hubungan terbalik

antara asupan kalsium dengan tekanan darah. Peningkatan asupan

kalsium dapat menurunkan tekanan darah.

Berdasarkan angka kecukupan gizi 2004 bagi orang Indonesia,

kecukupan kalsium yang dianjurkan adalah 800 mg untuk wanita dan

laki-laki usia 19-49 tahun, 1000 mg untuk wanita dan laki-laki usia 50

tahun ke atas dan 1150 mg untuk wanita hamil dan menyusui.

Makanan sumber kalsium utama adalah susu dan hasil

olahannya seperti keju, ikan, kacang-kacangan dan sayuran hijau. Pada

pasien hipertensi, penggunaan susu yang sudah dikalengkan atau

dikemas, keju, dan ikan teri asin sebagai sumber kalsium tidak

dianjurkan. Namun pasien hipertensi dapat mengonsumsi susu segar

yang belum diawetkan. Selain itu, penggunaan ikan teri asin dapat

diganti dengan ikan teri tawar (Ramayulis, 2010).

h. Keseimbagan magnesium

Beberapa penelitan menunjukkan bahwa ada hubungan antara

asupan magnesium yang rendah dengan tekanan darah yang tinggi.

Namun, komite nasional tidak menganjurkan mengonsumsi

magnesium dalam jumlah yang tinggi sebagai upaya penurunan

tekanan darah. Asupan magnesium yang dianjurkan > 200-500 mg per

hari.

Kekurangan asupan magnesium dapat menyebabkan kejang


pada pembuluh darah arteri. Hal ini berkaitan dengan kenaikan tekanan

darah dan sensitivitas terhadap natrium (Ramayulis, 2010).

i. Berhenti merokok

Menghisap rokok berarti menghisap nikotin dan karbon

monoksida. Nikotin akan masuk ke dalam aliran darah dan segera

mencapai otak. Otak akan memberi sinyal kepada kelenjar untuk

melepas hormon adrenalin. Hormon adrenalin akan menyempitkan

pembuluh darah sehingga terjadi tekanan yang lebih tinggi. Gas karbon

monoksida dapat menyebabkan pembuluh darah tegang dan kondisi

kejang otot sehingga tekanan darah pun naik.

Merokok 2 batang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan

darah sitolik dan diastolik sebesar 10 mmHg. Peningkatan tekanan

darah akan menetap hingga 30 menit setelah berhenti menghisap

rokok. Saat efek nikotin perlahan menghilang, tekanan darah pun

menurun perlahan. Namun pada perokok berat, tekanan darah akan

selalu berada pada level tertinggi (Ramayulis, 2010).

j. Manajemen Stres

Stres adalah respon alami dari tubuh dan jiwa seseorang

mengalami tekanan dari lingkungan. Stres yang berkepanjangan akan

menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran terus-menerus. Akibatnya,

tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung

berdenyut lebih cepat dan lebih kuat sehingga tekanan darah akan

meningkat.
Saat stres datang, manajemen stres seperti melakukan latihan

pernapasan, yoga, meditasi, dan distraksi sangat dibutuhkan untuk

membuat tubuh rileks (Ramayulis, 2010).

k. Berhenti Konsumsi Alkohol

Efek dari konsumsi alkohol dapat merangsang hipertensi karena

adanya peningkatan sintesis katekolamin yang dalam jumlah besar

dapat memicu kenaikan tekanan darah (Grey et al, 2005).

9. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Arif Manjoer (2009), pemeriksaan penunjang adalah sebagai

berikut :

a. Check-up sederhana

Dilakukan untuk mendeteksi dini ada tidaknya kelainan pada

organ tubuh, gangguan metabolisme, infeksi hati, kelainan darah,

gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan metabolisme

lemak, dan gangguan pencernaan serta kemih.

b. Check-up medium dan eksekutif

Dilakukan untuk mendeteksi dini ada tidaknya kelainan pada

organ tubuh, gangguan metabolisme, infeksi hati, kelainan darah,

gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan metabolisme

lemak, gangguan saluran cerna dan kemih, infeksi firus hepatitis, dan

gangguan fungsi tiroid.

c. Pemeriksaan mata

Arteri dan vena yang halus mengalirkan darah ke retina.


Pembuluh halus ini dengan mudah dapat dilihat pada pemeriksaan.

Pada orang yang terus-menerus mengalami tekanan darah tinggi,

terjadi penebalan dinding pembuluh tersebut. Pada kasus hipertensi

yang berat, pembuluh ini dapat pecah dan mengakibatkan perdarahan

kecil yang disebut hemoragi. Gejala awal adanya penyakit tekanan

darah tinggi yang sangat berat adalah kaburnya penglihatan.

d. Tes air seni dan darah

Pemeriksaan rinci di klinik rumah sakit tidak lazim dilakukan.

Yang bisa dilakukan adalah tes air seni untuk mendeteksi gangguan

ginjal dan tes darah untuk mengetahui fungsi ginjal secara langsung.

D. Konsep Seledri

a. Manfaat Daun Seledri

1. Pengertian Daun Seledri

Seledri berasal dari seledri liar yang tumbuh di Mediteranian.

Seledri merupakan tanaman daratan tinggi yang tumbuh pada

ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Di daratan tinggi, seledri

dapat tumbuh dengan baik dan memiliki batang daun yang tebal dan

daunnya berwarna hijau muda. Sedangkan jika tumbuh di dataran

rendah, seledri akan memiliki batang daun yang lebih kecil.

Seledri dapat tumbuh subur pada ilkim, atau cuaca yang

lembab. Pada umumnya seledri dapat dipetik, atau dipanen setelah

berusia enam minggu sampai enam belas minggu sejak ditanam.

Di kawasan Amerika, tumbuh juga seledri jenis yang lain.


Selain tumbuh seledri yang berwarna hijau, juga tumbuh seledri

dengan warna putih. Seledri dapat tumbuh subur pada iklim, atau

cuaca yang lembab. Pada umumnya seledri dapat dipetik, atau di

panen setelah berusia enam minggu sampai enam belas minggu sejak

ditanam.

Di kawasan Amerika, tumbuh juga seledri jenis yang lain.

Selain tumbuh seledri yang berwarna hijau, juga tumbuh seledri

dengan warna putih. Umumnya seledri digunakan sebagai bumbu

masak untuk penyebab sup, kuah baso, dan kuah sayuran yang lain.

Seledri juga dapat dimakan langsung sebagai lalapan tanpa harus

dimasak terlebih dahulu. Sedangkan biji seledri selain dapat

digunakan untuk pengobatan, terutama sebagai diuretic.

2. Kandungan Zat Pada Tanaman Seledri

Kandungan terbanyak yang dimiliki oleh seledri adalah air,

mencapai 93 persen dari total berat seledri, sedangkan kandungan

lainnya adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin C, serat dan

beberapa mineral seperti kalium, zat besi dan fosfor. Senyawa yang

terkandung dalam seledri diantaranya adalah : flavonoids, apsin,

saponin, tannin, minyak asiri, neocnidilde, phthalides, coumarins,

alpha-selinene, phenolic acid, glycolic acid, acetylenics, kolin, lipase,

asam folat, sejumlah mineral dan vitamin seperti sodium, kalium,

kalsium, fosfor, besi, magnesium, vitamin A,C,B1,B2,B6 dan serat

seledri memiliki kandungan sodium yang lebih tinggi dibanding


dengan kebanyakan sayuran lainnya.

E. Evidance Based Praktice Penerapan atau Penggunaan Obat

Tradisional Rebusan Seledri pada penderita Hipertensi

1. Penelitian terkait
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2015) dengan
judul “Pengaruh Pemberian Air Rebusan Seledri terhadap Penurunan
Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Penderita Hipertensi
Lingkungan Kerja Puskesmas Tiga Balata Tahun 2015” tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat pemberian air rebusan
seledri terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada
penderita hipertensi di puskesmas Tiga Balata. Desain penelitian ini
adalah Quasi exsperimen dengan pendekatan One group pretest-
posttest, jumlah sampel 30 orang responden maka dapat disimpulkan
Ha diterima, berarti ada pengaruh air rebusan seledri untuk
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita
hipertensi, di dapatkan hasil rata-rata intensitas nyeri sebelum
diberikan air rebusan seledri sebesar 4,73 dengan standar deviasi
1,311. Rata- rata tinggi tekanan darah setelah diberikan air rebusan
seledri dengan standar deviasi 1,008.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Susanti 2014 dengan
judul “pemberian air rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah
pada penderita hipertensi pada lansia di PSTW Kasih Sayang Ibu Batu
Sangkar Tahun 2014” tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap
perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Desain penelitian
ini adalah Pre eksperimental dengan pendekatan One group pretest-
posttest, jumlah sampel 20 orang responden maka dapat disimpulkan
Ha diterima, berarti ada pengaruh air rebusan seledri terhadap
penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi, di dapatkan hasil
rata-rata 3,80 sebelum diberikan air rebusan seledri, sedangkan rata-
rata hipertensi setelah diberikan air rebusan seledri 2,80 menunjukkan
ada penurunan tekanan darah.
F. Asuhan Keperawatan Keluarga

1. Pengkajian

Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh

perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan menangani

norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan system

terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya. (Effendy,

2008).

a. Data umum

Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :

1) Identitas kepala keluarga (nama, alamat, pekerjaan, pendidikan)

2) Komposisi keluarga (daftar anggota keluarga dan genogram)

Komposisi keluarga menjelaskan anggota keluarga yang

diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga mereka. Komposisi

tidak hanya mencantumkan penghuni rumah tangga, tetapi juga

anggota keluarga lain yang menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Genogram keluarga merupakan sebuah diagram yang

menggambarkan konstelasi keluarga (pohon masalah). Genogram

merupakan alat pengkajian informatif yang digunakan untuk

mengetahui keluarga, riwayat dan sumber-sumber keluarga.

Komposisi keluarga biasanya nama, jenis kelamin, hubungan

dengan kepala keluarga (KK), dan imunisasi bagi balita dan

disertai genogram keluarga tersebut.


3) Tipe keluarga

Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala

atau masalah yang terjadi dalam jenis/tipe keluarga tersebut.

4) Suku bangsa (etnis)

Mengkaji identifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait

dengan kesehatan. Latar belakang etnis keluarga atau anggota

keluarga, tempat tinggal keluarga, dan kegiatan keagamaan.

5) Agama

Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang

dapat mempengaruhi kesehatan. Apakah anggota keluarga berbeda

dalam praktek keyakinan beragama mereka.

6) Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi keluarga ditentukan pendapatan keluarga,

serta kebutuhan dan penggunaannya, baik dari kepala keluarga

ataupun anggota keluarga lainnya.

7) Aktivitas rekreasi keluarga

Rekreasi dirumah (nonton TV, mendengarkan radio), jalan-jalan ke

tempat rekreasi. Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat dari kapan

saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat

rekreasi tertentu, namun dengan menonton televisi dan

mendengarkan radio juga merupakan aktifitas rekreasi.

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

1) Tahap perkembangan keluarga saat ini


Tahap perkembangan keluarga adalah mengkaji keluarga

berdasarkan tahap perkembangan keluarga berdasarkan duvall atau

ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Menjelaskan tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

serta kendala-kendala mengapa tugas perkembangan tersebut

belum terpenuhi. Tahap ini ditentukan sampai dimana

perkembangan keluarga saat ini dan tahap apa yang belum

dilakukan oleh keluarga serta kendalanya.

3) Riwayat keluarga inti

Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti,

meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat masing-masing

keluarga, perhatian keluarga terhadap pencegahan penyakit,

sumber kesehatan yang bisa digunakan keluarga.

4) Riwayat keluarga sebelumnya

Menjelaskan mengenai riwayat penyakit keturunan, riwayat

kesehatan masing-masing keluarga, status kesehatan anak

(imunisasi), sumber pelayanan kesehatan yang bisa digunakan

keluarga serta pengalaman terhadap pelayanan kesehatan dari

pihak suami dan istri. Disini diuraikan riwayat kepala keluarga

sebelum membentuk keluarga sampai saat ini.

c. Lingkungan

1) Karakteristik rumah
Diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah

ruangan, pemanfaatan rumah, peletakan perabot rumah tangga,

sarana eliminasi (tempat, jenis, jarak dari sumber air), sumber air

minum yang digunakan serta denah rumah.

2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW

Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas

setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, nilai, budaya yang

mempengaruhi kesehatan.

3) Mobilitas geografis keluarga

Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan

keluarga berpindah tempat tinggal.

4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dangan masyarakat

Menjelaskan waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul

serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi

keluarga dengan masyarakat.

5) Sistem pendukung keluarga

Yang termasuk sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota

yang sehat, fasilitas untuk penunjang kesehatan, fasilitas kesehatan.

d. Struktur keluarga

1) Sistem pendukung keluarga

Jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki

keluarga untuk menunjang kesehatan mencakup fasilitas fisik,


dukungan dari anggota keluarga dan dari masyarakat setempat.

2) Pola komunikasi keluarga

Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga

bahasa, frekuensi dan kualitas komunikasi.

3) Struktur kekuatan keluarga

Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi

orang lain untuk mengubah perilaku.

4) Struktur peran

Menjelaskan peran diri masing-masing anggota keluarga baik

secara formal maupun informal, model peran keluarga, konflik

dalam pengaturan keluarga

5) Nilai atau norma keluarga

Menjelaskan nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang

berhubungan dengan kesehatan.

e. Fungsi keluarga

1) Fungsi efektif

Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga,

perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga

terhadap anggota keluarga lainnya.

2) Fungsi sosialisasi

Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh

mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya serta

perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan

Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan,

pakaian, pelindung serta merawat anggota keluarga yang sakit.

Kesanggupan keluarga dalam melaksanakan perawatan kesehatan

dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam melaksanakan lima

tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal

masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan

tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota yang sakit,

menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan

mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat

dilingkungan setempat.

4) Fungsi reproduksi

Hal yang perlu dikaji yaitu berapa jumlah anak, rencana keluarga

berkaitan dengan jumlah anggota keluarga, metode keluarga dalam

mengendalikan jumlah anggota keluarga.

5) Fungsi ekonomi

Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan

papan, sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada

dimasyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.

f. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik lengkap semua anggota keluarga serta interpretasi

hasil pemeriksaan fisik tersebut.

g. Harapan keluarga
Keinginan keluarga terhadap perawat keluarga terkait permasalahan

kesehatan yang dialami keluarga.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan

menggambarkan respons manusia. Dimana keadaan sehat atau perubahan

pola interaksi potensial/aktual dari individu atau kelompok dimana

perawat dapat menyusun intervensi-intervensi definitiv untuk

mempertahankan status kesehatan atau untuk mencegah perubahan

(Carpenito, 2010).

3. Intervensi Keperawatan

Perencanaan merupakan proses penyusunan strategi atau intervensi


keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, mengurangi atau
mengatasi masalah kesehatan klien yang telah diidentifikasi dan divalidasi
pada tahap perumusan diagnosis keperawatan.Tahap penyusunan
perencanaan keperawatan keluarga adalah sebagai berikut:
1) Menetapkan perioritas masalah
Menetapkan perioritas masalah atau diagnosa keperawatan
keluarga adalah dengan menggunakan skala penyusunan prioritas
dari Maglaya (2009)

SKORING
No Kriteria Skor Bobot
1. Sifat masalah 1
Skala :
- Aktual 3
- Resiko 2
- Potensial 1
2. Kemungkinan masalah dapat 2
diubah
Skala :
- Mudah 2
- Sebagian 1
- Tidak dapat 0

3. Potensi masalah untuk dicegah 1


Skala :
- Tinggi 3
- Cukup 2
- Rendah 1

4. Menonjolnya masalah 1
Skala :
- Ada masalah tetapi tidak 2
perlu ditangani 1
- Masalah tidak dirasakan 0

Tabel 2.2 Skala untuk menentukan Prioritas


(Padila, 2012)

Cara Skoring
1) Tentukan skor untuk setiap criteria
2) Skor dibagi dengan makna tertinggi dan kalikanlah dengan
bobot
Skor x bobot
Angka tertinggi
3) Jumlahkan skor untuk semua criteria

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan


rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna
membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pada kegiatan implementasi, perawat perlu melakukan kontrak
sebelumnya (saat mensosialisasikan diagnose keperawatan) untuk
pelaksanaan yang meliputi kapan dilaksanakan, berapa lama waktu yang
dibutuhkan, materi atau topik yang didiskusikan, siapa anggota keluarga
yang perlu mendapatkan informasi (sasaran langsung implementasi)
perawatan yang perlu disiapkan keluarga. Kegiatan ini bertujuan agar
keluarga dan perawat mempunyai kesiapan secara fisik dan psikis pada
saat implementasi. Langkah selanjutnya adalah implementasi sesuai
dengan rencana dengan didahului perawat menghubungi keluarga bahwa
akan dilakukan implementasi sesuai kontrak.
Hal ini sesuaai dengan teori yang ditemukan Sarkino ( 2008), pada
tahap pelaksanaan tindakan keperawatan keluarga mencakup hal sebagai
berikut :
1) Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan dan juga mampu
memutuskan tindakan yang tepat untuk anggota keluarga yang sakit.
Bisa dilakukan dengan cara menstimulasi kesadaran keluarga
mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan, dengan tindakan :
menggali pengetahuan keluarga tentang masalah, memberi
reinforcement positif, memberikan informasi, motivasi mengulang,
memberikan reinforcement positif, dan motivasi keluarga bertanya.
2) Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk merawat
anggota keluarga yang sakit bisa dilakukan memberi kepercayaan
diri dalam merawat anggota kleuarga yang sakit denagn cara :
menggali pengetahuan keluarga sebelumnya tentang cara merawat
anggota keluarga yang sakit, memberikan reinforcement positif,
menjelaskan dan memberi informasi tentang perawatan, memotivasi
mengulang. Supaya keluarga lebih memahami bisa dilakuan
demonstrasi cara perawatan dan memotivasi keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit.
3) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit bisa
dilakukan dengan pemberian obat tradisional dengan cara menggali
pengetahuan keluarga tentang obat tradisional, memberi
reinforcement positif, memberikan informasi, motivasi mengulang,
memberikan reinforcement positif, dan motivasi keluarga bertanya.
4) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan yang sehat, bisa
dilakukan dengan merubah keadaan lingkungan seoptimal mungkin
dengan cara : menggali pengetahuan keluarga tentang lingkungan
yang sehat, memberikan reinforcement positif, menjelaskan dan
memberikan informasi tentang lingkungan yang sehat, memotivasi
memodifikasi lingkungan, memberikan reinforcement positif.
5) Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, bisa
dilakukan dengan cara mengenal fasilitas pelayanan kesehatan yang
ada di lingkungan dan membantu keluarga menggunakan fasilitas
kesehatan yang ada dengan cara : menggali pengetahuan keluarga
tentang pelayanan kesehatan yang bisa dikunjungi, memberikan
reinforcement positif, menjelaskan pelayanan kesehatan yang bisa di
kunjungi dan motivasi keluarga untuk selalu menggunakan
pelayanan kesehatan, memberikan reinforcement positif.

5. Evaluasi Keperawatan

Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan


keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat
dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana
proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan
sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang
telah dirumuskan sebelumnya (Asmadi,2008)
Perumusan evaluasi meliputi empat komponen yang dikenal dengan
istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluahan klien), objektif (data
hasil pemeriksaan), analisis data (perbandingan data dengan teori), dan
perencanaan.
Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut :
1) Proses asuhan keperawatan berdasarkan kriteria atau rencana
yang telah disusun
2) Hasil tindakan keperawatan berdasarkan kriteria keberhasilan
yang telah dirumuskan dalam rencana evaluasi
Terdapat tiga kemungkinan evaluasi, yaitu :
1) Tujuan tercapai, apabila pasien telah menunjukan perbaikan/
kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, tujuan
tercapai sebagian, apabila tujuan itu tidak tercapai secara
maksimal, sehingga perlu dicari penyebab dan cara
mengatasinya
2) Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan
perubahan atau kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah
baru. Dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih
mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan dan
faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab
tidak tercapainya tujuan (Asmadi,2008).