Anda di halaman 1dari 40

TUGAS MAKALAH

SUBMERGED ARC WELDING (SAW)

OLEH :

ILHAM ALFITRAH
1910932003

COVER

TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2020

i
DAFTAR ISI

COVER ..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1. Latar Belakang...............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah..........................................................................1
1.3. Tujusn Penulisan............................................................................2
BAB II ISI............................................................................................................3
2.1. Pengertian.......................................................................................3
2.2. Sifat-Sifat dan Penggunaannya......................................................4
2.3. Prinsip Kerja Proses Las SAW......................................................5
2.4. Cara Kerja dan Skema Las SAW...................................................6
2.5. Parameter pengelasan SAW.........................................................10
2.6. Komponen pada SAW.................................................................12
2.7. Logam induk................................................................................13
2.8. Jenis Kawat Las...........................................................................13
2.9. Klasifikasi Fluks..........................................................................16
2.9. Mesin las......................................................................................19
2.10. Istilah-istilah dalam pengelasan busur terendam.........................21
2.11. Aplikasi Pengelasan SAW...........................................................23
2.12. Kelebihan dan Kekurangan Las SAW.........................................24
2.12.1. Kelebihan Las SAW.........................................................24
2.12.2. Kekurangan Proses Las SAW..........................................25
BAB III KESIMPULAN....................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27
SOAL.....................................................................................................................29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi produksi dan bahan baku logam tidak dapat


dipisahkan dari pemanfaatan teknologi pengelasan. Sehingga boleh dikatakan
hampir tidak ada logam yang tidak dapat dilas. Pengelasan adalah salah satu
teknik penyambungan logan dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan
logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam tambahan
dan menghasilkan sambungan yang kontinu (Naharuddin et al., 2015).

Submerged Arc Welding merupakan proses pengelasan otomatis dimana


busur listrik dan logam cair tertutup oleh lapisan serbuk fluks, sedangkan kawat
pengisi diumpankan secara kontinu. Karena panas yang hilang dalam bentuk
radiasi sangat kecil maka efisiensi perpindahan panas dari busur listrik ke logam
las sangat tinggi yaitu sekitar 90 %. Pengelasan dengan menggunakan metode
SAW atau las busur terendam adalah pengelasan dengan prinsip logam cair
ditutup dengan fluks yang diatur melalui suatu penampang, fluks dan logam
pengisi yang berupa kawat pejal diumpankan secara terus menerus sehingga
pengelasan tersebut dapat dilakukan secara otomatis dan mudah dalam
pengoperasiannya serta memiliki keandalan yang tinggi (Setiawan & Yusa, 2006).

Penggunaan metode pengelasan ini dikarenakan biayanya murah, proses


relatif lebih cepat, lebih ringan, dan bentuk konstruksi lebih variatif. Namun,
harus diakui bahwa metode ini juga memiliki kelemahan, seperti: timbulnya
lonjakan tegangan akibat perubahan struktur mikro di daerah sekitar las yang
menyebabkan turunnya kekuatan bahan. Kelemahan tersebut antara lain
dipengaruhi oleh masukan panas dan siklus termal yang keduanya berkaitan
langsung dengan kecepatan pengelasan sehingga mempengaruhi struktur pada
HAZ maupun logam las (Suharno, 2004).

1
1.2. Rumusan Masalah

Submerged Arc Welding memiliki sifat dan prosedur yang harus dimengerti
oleh tukang las agar hasil dari pekerjaannya dapat dikatakan baik. Prosedur las ini
juga berkaitan dengan masalah keselamatan, serta pemilihan jenis electrode yang
tepat untuk mengelas material. Dikarenakan pentingnya pemahaman mengenai
dunia pengelasan, maka penulis berinisiatif untuk menyusun makalah yang
berisikan informasi mengenai Submerged Arc Welding.

1.3. Tujusn Penulisan

Adapun Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui komponen penyusun las SAW


2. Mengetahui prinsip kerja pengelasan menggunakan las SAW?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan las SAW?

2
BAB II
ISI
2.1. Pengertian

Pengelasan adalah teknik yang banyak digunakan untuk mendapatkan


sambungan las yang berkualitas baik pada komponen struktural. Tingkat deposisi
yang lebih tinggi dan kualitas permukaan yang superior memberikan keunggulan
pada pengelasan busur terendam (SAW) dibandingkan teknik pengelasan lain
dalam aplikasi industri. Persyaratan panas untuk penggabungan dalam SAW
diperoleh melalui busur yang dihasilkan antara elektroda habis pakai dan benda
kerja. Busur biasanya dilindungi oleh terak cair dan fluks butiran
(Choudhary et al.,2018).

Gambar 2.1. Mesin Las SAW

Sumber : http://www.pengelasan.com/2015/01/pengelasan-saw-submerged-
arc-welding.html

Las SAW merupakan salah satu jenis pengelasan busur listrik dimana proses
pengelasan ini adalah memanaskan dan mencairkan benda kerja dan logam

3
pengisi atau elektroda oleh busur listrik yang ada diantara logam induk dan
elektroda (logam pengisi). Pengelasan SAW ini menggunakan fluks yang
bentuknya seperti pasir untuk melindungi logam pengisi yang mencair saat proses
pengelasan agar tidak terkontaminasi dari udara luar sehingga menghasilkan
las – lasan yang baik (Shandy et al., 2020).

Hal-hal penting dalam cara pegelasan ini adalah sebagai berikut :

1. Karena seluruh cairan tertutup oleh fluks maka kwalitas daerah las sangat
baik.
2. Karena dapat digunakan kawat las yang besar, maka arus pengelasan juga
besar sehingga penetrasi cukup dalam dan efisiensi pengelasan tinggi.
3. Karena kampuh las dapat dibuat kecil, maka bahan las dapat dihemat.
4. Karena prosesnya secara otomatik maka tidak diperlukan ketrampilan juru las
yang tinggi dan perubahan-perubahan teknik pengelasan yang dilakukan oleh
juru las tidak banyak pengaruhnya terhadap kwalitas las.
5. Karena busur yang tidak kelihatan, maka penentuan pengelasan yang salah
dapat menggagalkan seluruh hasil pengelasan
6. Posisi pengelasan terbatas hanya pada posisi horizontal.
7. Karena prosesnya otomatik, maka penggunaannya lebih terbatas bila
disbanding dengan las dengan tangan atau semi otomatik.
(Wiryosumarto, 2000).
2.2. Sifat-Sifat dan Penggunaannya

Las busur listrik terendam adalah salah satu jenis proses pengelasan yang
termasuk jenis las busur listrik elektrode terumpan yang dalam prosesnya
berlangsung logam cair ditutup dengan fluks yang diatur melalui suatu
penampungan fluks dan logam pengisi yang berupa kawat pejal diumpankan
secara terus menerus . Memperhatikan proses kerjanya busur listriknya terendam
dalam fluks, untuk itu proses ini dinamakan las busur terendam.

4
Penggunaan proses saw ini semakin berkembang, karena hasilnya bermutu
tinggi juga kecepatan pelaksanaannya paling cepat bila dibanding dengan proses
pengelasan yang lainnya. Jenis proses ini mempunyai kekurangan yaitu
keterbatasan dalam posisi pengelasan yaitu datar dan horisontal saja. Proses
pengelasan SAW ini banyak dipergunakan pada industry perkapalan yang
menggunakan proses produksi dengan sistim blok, memperhatikan proses
pengelasan yang semi maupun otomatis maka dibutuhkan operator las, bukan juru
las dimana untuk mengoperasikan mesin ini pelaksana tidak dituntut
berketrampilan tinggi seperti juru las. Meskipun operator tidak dituntut
ketrampilannya seperti juru las namun bila pelaksana akan mengelas konstruksi
kapal maka yang bersangkutan harus juga berkualifikasi. Pengelasan saw ini tidak
hanya dipergunakan pada proses fabrikasi saja tetapi juga banyak dipakai pada
tahap perakitan (assembly), dengan mesin semi ataupun otomatis missal pada saat
penyambungan geladak atau pada pembuatan tangki-tangki yang relatif besar
(Sunaryo, 2008).
2.3. Prinsip Kerja Proses Las SAW

Proses ini berlangsung dibawah rendaman fluks, dimana fungsi kawat las
selain sebagai elektroda pembangkit busur api listrik juga sebagai bahan pengisi
yang oleh karenanya jenis las ini termasuk kelompok las busur listrik elektroda
terumpan. Panas yang berasal dari busur api listrk yang timbul diantara kawat
elektroda dan bahan induk akan mencairkan logam-logam las, kawat las dan fluks,
kemudian setelah cairan ini membeku akan terjadi las-lasan yang tertutupi oleh
terak.

Fluks yang terbakar akan melindungi proses las terhadap pengaruh udara
luar, perlindungan yang terjadi membedakan menjadi dua bagian yaitu fluks yang
terbakar langsung menjadi terak dan sisanya tetap tidak terbakar dan ini juga bisa
berlaku sebagai pelindung. Proses ini berlangsung secara otomatis atau semi
otomatis, maka selain sumber tenaga mesin ini juga dilengkapi dengan motor
kereta pembawa dan panel pengatur proses. Pada panel terdapat pengatur arus,
tegangan dan kecepatan pengelasan.

5
Jumlah fluks yang diperlukan dalam proses pengelasan harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak terlalu banyak dan tidak kurang, sedangkan sisa
fluks yang tidak terbakar akan dipergunakan untuk pemakaian berikutnya. Untuk
pengelasan saw ini ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan yaitu :

a. Pada penggunaan kawat las yang besar, maka arus pengelasan juga besar
sehingga penetrasi cukup dalam dan efisiensi pengelasan tinggi.
b. Penghematan kawat las dapat dilakukan dengan memperkecil kampuh lasnya
tetapi masih harus memenuhi persyaratan yang berlaku.
c. Karena busurnya terendam oleh fluks maka penentuan pengelasan yang salah
dapat menggagalkan seluruh hasil pengelasan.
d. Posisi pengelasan hanya terbatas pada posisi datar baik benda tetap maupun
benda bergerak.
e. Mengingat prosesnya secara otomatis, maka penggunaannya terbatas bila
dibanding dengan las dengan tangan atau semi otomatik.

Jenis mesin las ini ada dua yaitu mesin las bergerak dan mesin las tetap
(benda yang bergerak ), mesin las bergerak banyak digunakan untuk pengelasan
yang datar, sedangkan untuk mesin yang tetap banyak dipergunakan untuk
mengelas melingkar dimana mesin digantung diatas benda kerja yang akan dilas
(Sunaryo, 2008).
2.4. Cara Kerja dan Skema Las SAW

Prinsip pengelasan SAW hampir sama dengan SMAW namun fluks yang
digunakan berupa butiran pasir sedangkan SMAW elektoda diselaputi oleh fluks.
Bedanya dengan SAW adalah fluks yang digunakan tidak dibungkus ke elektroda,
menggunakan elektroda kontinyu, arus lebih tinggi sehingga dapat digunakan
untuk mengelas benda yang lebih tebal hanya dengan langkah yang sedikit. Selain
itu SAW merupakan pengelasan otomatis sedangkan SMAW pengelasan manual
(Lailiyah, 2017).

6
Pada pengelasan ini busur listriknya tidak kelihatan maka sangat sulit
mengatur jatuhnya ujung busur. Mesin las yang digunakan menggunakan
sumberlistrik searah dengan tegangan tetap sehingga dapat mengontrol masukan
panas. Dalam proses pengelasan, busur listrik dan proses suplai logam las dari
kawat las berlangsung dalam keadaan tertutupi oleh serbuk fluks selama
pengelasan busur listrik selain mencairkan ujung kawat las juga ikut mencair
sebagian logam induk dan sebagian serbuk fluks. Oleh karena itu selama
pembekuan logam las terlindungi oleh terak dan serbuk fluks yang tersisa.

Umumnya proses pengelasan SAW ini sudah semi otomatis, sehingga


perencanaan dan persiapan sebelum melakukan proses pengelasan haruslah benar
benar baik untuk mencapai hasil las yang maksimal dan tidak ada cacat las. Untuk
mengetahui kualitas dan kemampuan untuk dilas suatu jenis material dengan
pengelasan SAW maka dibuatlah prosedur pengelasan. Kemudian dilakukan
pengujian di laboratorium mekanik. Dengan mengacu kepada Standar yang
berlaku misalnya ASME Section IX dan EN 288 (Standard Procedur Pegelasan
Untuk Negara-Negara Persatuan Eropa). Bila pengujian Makro etsa, dan
pengujian mekanik (pengujian tarik dan tekuk) memenuhi dua standar yang kita
jadikan acuan di atas maka WPS boleh digunakan untuk referensi pengelasan
dalam proses produksi sesungguhnya prinsip kerja dari mesin las busur rendam
dapat dilihat dari Gambar 2.2.

7
Gambar 2.2. Skema Las SAW (ASWP, 200)

Sumber : Subeki, 2011.

Kawat elektroda berbentuk kumparan dengan panjang total bervariasi dari


20 meter sampai dengan 100 meter, yang terpasang pada suatu unit motor
pengatur kecepatan. Sehingga kecepatan pengisian kawat elektroda tersebut dapat
konstan. Kawat elektroda ini akan melewati nozzle yang berfungsi sebagai
penyearah serta penahan panas. Cerobong fluksi berfungsi sebagai tempat
penampung fluksi yang pengisiannya dilakukan bersamaan dengan pengisian
kawat elektroda. Dalam hal pengelasan dengan menggunakan kawat elektroda
tunggal (single wire elektroda).

Batang kawat elektroda berjalan dan mengalir melalui kontak nozzle yang
terletak didalam cerobong yang terisi dengan fluksi.busur api terjadi/timbul
diantara kawat elektroda dan material las (base metal), yang kemudian akan
mencair serta larut bersama. Bersamaan dengan itu sebagian dari fluksi akan ikut
mencair dan setelah mendingin akan disebut dengan terak. Terak ini akan
menutupi serta melindungi cairan logam dan busur api yang terbentuk pada saat
proses pengelasan. Sehingga cairan yang terjadi akan terlindungi dari pengaruh
udara luar sampai dengan saat pendinginannya fungsi dari fluks adalah sebagai
sumber terak untuk melindungi logam cair dari udara sekitarnya, menjaga busur
listrik agar tetap stabil, sebagai deoksidator, menghasilkan gas pelindung,
mengurangi percikan api dan uap pada pengelasan, serta sebagai sumber dari
unsur paduan.

Selama proses pengelasan bahan fluks yang digunakan membungkus


elektroda mencair dan membentuk terak, kemudian menutupi logam cair yang
terkumpul di tempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang oksidasi. Dalam
beberapa fluks bahannya tidak dapat terbakar tetapi berubah menjadi gas sebagai
pelindung dari logam cair terhadap oksidasi dan memantapkan busur. Di dalam
elektroda terbungkus fluks memegang peranan penting karena fluks dapat

8
bertindak sebagai: pemantap busur dan penyebab kelancaran pemindahan butir-
butir cairan logam.sumber terak atau gas yang dapat melindungi logam cair
terhadap udara di sekitarnya (Subeki, 2011).

Dari hal-hal seperti disebutkan di atas keadaan yang paling menguntungkan


dalam pengelasan ini adalah besarnya arus yang dapat digunakan. Bila
menggunakan beberapa elektroda dalam waktu yang bersamaan arus las dapat
dinaikkan sampai kira-kira 3000 amper. Hubungan antara efisiensi dan arus dalam
pengelasan busur rendam ditunjukkan dalam seperti pada Gambar 2.3 berikut:

Gambar 2.3. Hubungan Kecepatan Pemindahan Logam Dengan Arus


Pengelasan Dalam Las Busur Rendam

(Sumber: Wiryosumarto, 2000)

Karena dalam pengelasan ini busur listriknya tidak kelihatan, maka sangat
sukar untuk mengatur jatuhnya ujung busur. Di samping itu karena
mempergunakan kawat elektroda yang besar maka sangat sukar untuk memegang

9
alat pembakar dengan tangan tepat pada tempatnya. Karena kedua hal tersebut
maka pengelasan selalu dilaksanakan secara otomatis penuh. Mesin las otomatik
pelaksanaannya bermacam-macam. Pada jenis ini kepala las dibawa oleh kereta
yang berjalan melalui rel penuntun sepanjang garis las. Fluks yang diperlukan
diumpankan melalui pipa penyalur dari penampung fluks yang juga terletak di atas
kereta. Biasanya mesin las ini melayani satu elektroda saja, tetapi untuk
memperbaiki efisiensi pengelasan kadang-kadang satu mesin melayani dua atau
tiga elektroda. Mesin las ini dapat menggunakan sumber listrik arus bolak-balik
yang lamban dan arus searah dengan tegangan tetap. Bila menggunakan listrik AC
perlu adanya pengaturan kecepatan pengumpanan kawat las yang dapat diubah-
ubah untuk mendapatkan panjang busur yang diperlukan. Hal ini dapat diatur
dengan mengukur tegangan busur yang kemudian dipakai dasar untuk
menentukan kecepatan pengumpanan kawat. (Wiryosumarto, 2000)

Gambar 2.4. Mesin las busur rendam

Sumber : Wiryosumarto, 2000.

Seperti terlihat pada Gambar 2.4. bila menggunakan sumber listrik arus
searah dengan tegangan tetap kecepatan pengumpan dapat dibuat tetap dan
biasanya memakai polaritas balik. Mesin las dengan listrik DC ini kadang-kadang
digunakan untuk mengelas pelat tipis dengan kecepatan tinggi atau untuk
pengelasan dengan elektroda lebih dari satu. Sifat-sifat daerah las yang dihasilkan
dengan las busur rendam sangat dipengaruhi oleh kwalitas kawat las logam induk,
bahan dari kawat las dan fluks yang digunakan. Karena kwalitas kawat las dan

10
fluks mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil lasan maka keduanya
dibahas secara terpisah. (Wiryosumarto, 2000).
2.5. Parameter pengelasan SAW

Kestabilan dari busur api yang terjadi pada saat pengelasan merupakan
masalah yang paling banyak terjadi dalam proses pengelasan dengan SAW, oleh
karena itu kombinasi dari Arus listrik (I) yang dipergunakan dan Tegangan (V)
harus benar-benar sesuai dengan spesifikasi Kawat Elektrode dan Fluksi yang
dipakai.
1) Pengaruh dari Arus Listrik (I)

Menurut jenis arus yang dikeluarkan ada 2 jenis Power supply untuk
pengelasan dengan proses SAW yaitu :

a. Yang menghasilkan arus rata (DC)


b. Yang menghasilkan arus bolak – balik (AC)

Baik dengan arus rata maupun arus bolak – balik pada proses SAW akan
menghasilkan produk yang baik. Namun masing – masing mempunyai
kekhususan dalam pemakaiannya tergantung tinggi rendahnya arus dan besar
kecilnya kawat elektroda serta kecepatan dalam pengelasan (Suryono, 2008).
Setiap kenaikan arus listrik yang dipergunakan pada saat pengelasan akan
meningkatkan Penetrasi serta memperbesar kuantiti lasnya. Penetrasi akan
meningkat 2 mm per 100 A dan Kuantiti las meningkat juga 1,5 Kg/jam per
100 A.

11
Gambar 2.4. Pengaruh arus listrik terhadap penetrasi las
Sedangkan pengaruhnya terhadap kawat elektroda diameter yang
dipergunakan pada saat proses pengelasan adalah diameter (mm) x (100-200) (A).
Tabel 2.1. Diameter Kawat terhadap Arus listrik (A)

2) Pengaruh dari Tagangan Listrik (V).


Setiap peningkatan tegangan listrik (v) yang dipergunakan pada proses
pengelasan akan semakin memperbesar jarak antara tip elektroda dengan material
yang akan di las, sehingga busur api yang terbentuk akan menyebar dan
mengurangi penetrasi pada material las. Konsumsi fluksi yang dipergunakan akan
meningkat sekitar 10% pada setiap kenaikan 1 volt tegangan .
3) Pengaruh Kecepatan Pengelasan.
Jika kecepatan awal pengelasan dimulai pada kecepatan 40 cm/menit, setiap
pertambahan kecepatan akan membuat bentuk jalur las yang kecil (welding bead),
penetrasi, lebar serta kedalam las pada benda kerja akan berkurang. Tetapi jika
kecepatan pengelasannya berkurang / dibawah 40 cm/menit cairan las yang terjadi
dibawah busur api las akan menyebar serta penetrasi yang dangkal, hal ini
dikarenakan over heat.

Kecepatan pengelasan adalah suatu variasi yang sangat penting dalam


proses SAW karena akan menentukan jumlah produk pengelasan dan metallurgi
lasnya. Penambahan kecepatan pengelasan pada sambungan fillet mempersingkat
waktu, tetapi pada pengelasan sambungan tumpul yang beralur hanya kecil
mempersingkat waktu. Karena pada sambungan beralur jumlah deposit adalah
variabel untuk waktu pengelasan. Penambahan kecepatan pengelasan akan
mengurangi masukan panas pada proses pengelasan.

12
4) Pengaruh Polaritas arus listrik (AC atau DC)
Pengelasan dengan kawat elektroda tunggal pada umumnya menggunakan
tipe arus direct current (DC), elektroda positif (EP), jika menggunakan elektroda
negatif (EN) penetrasi yang terbentuk akan rendah dan kuantiti las yang tinggi.
Pengaruh dari arus alternating curret (AC) pada bentuk butiran las dan kuantiti
pengelasan antara elektroda positif dan negatif adalah sama yaitu cenderung
porosity, oleh karena itu dalam proses pengelasan yang menggunakan arus ac
harus memakai fluks yang khusus (Pratomo, 2019).

5) Diameter kawat elektroda

Pengurangan diameter kawat elektroda dalam ini tanpa merubah parameter


lainnya akan memperbesar tekanan busur, yang berarti penetrasi akan semakin
dalam dan lebar deposit semakin berkurang (Gambar 2.6) (Sunaryo, 2008).

Gambar 2.6. Pengaruh dari diameter kawat electrode

Sumber : Sunaryo, 2008

6) Ketebalan lapisan fluks

Ketebalan lapisan Fluks yang digunakan dalam pengelasan proses SAW


juga mempengaruhi bentuk dan kedalaman penetrasi pengelasan. Bila lapisan
Fluks terlalu tipis maka arus akan tidak tertutup dan hasil lasan akan retak atau
poros. Bila lapisan Fluks terlalu tebal maka akan menghasilkan reinforcement
terlalu tinggi.

13
2.6. Komponen pada SAW

Mesin las yang digunakan pada penelitian ini adalah double wire dengan
arus DC dan AC. Berikut Gambar 2.6 menunjukkan mesin las yang digunakan.

Gambar 2.6. Mesin Las SAW Tandem Double Wire

Bagian-bagian mesin Submerged Arc Welding (SAW) Tandem

1. Power supply

2. Electrode delivery system

3. Flux distribution system

4. Travel arrangement

5. Control system

6. Flux recovery (pemulung flux) sebagai pilihan

14
7. Positioning equipment (Alat pengarah)
2.7. Logam induk

Peran operator sangat menentukan pada persiapan , penyetelan , pemilihan


bahan induk /pengisi dan pemilihan parameter pengelasan. Ada tiga kreteria
logam induk yang cocok, kurang cocok dan tidak cocok dilas dengan proses SAW
dengan kreteria sebagai berikut :

1. Logam induk yang sangat cocok dilas dengan menggunakan las SAW
adalah baja karbon rendah bukan paduan dengan kadar karbon tidak lebih
dari 0,30 %, maupun fasfor dan belerang masing-masing tidak lebih dari
0,05 %. Baja karbon menengah dan bja konstruksi paduan rendah dapat juga
dilas dengan proses SAW, namun harus dengan perlakuan panas khusus
(pre heating dan post heating) dan dengan kawat las maupun fluks yang
khusus.
2. Logam induk yang kurang cocok dilas menggunakan proses SAW adalah
baja karbon tegangan tinggi dan beberapa baja karbon rendah, yaitu apabila
persyaratan kekuatan dan keliatan (notch – toughness) khusus ingin dicapai
dengan proses ini. Karena masukan panas lebih besar dari proses lainnya ,
maka daerah akan lebih dalam (deeper haated zone) hal ini akan
mempengaruhi kekuatan dan keliatan logam induk.
3. Logam induk yang tidak cocok dilas dengan proses ini adalah besi tuang,
karena dengan masukan panas yang tinggi dan cepat akan menghasilkan
tegangan panas yang tidak tertahan.
(Sunaryo, 2008).
2.8. Jenis Kawat Las

Kawat-kawat las yang digunakan untuk las busur rendam mempunyai


komposisi kimia yang berbeda-beda tergantung pada penggunaannya. Komposisi
kimia dari beberapa kawat las yang distandarkan menurut JIS ditabelkan dalam
Tabel 2.2 dan yang berdasarkan pada AWS dalam Tabel 2.3. Secara kasar kawat-

15
kawat tersebut dapat dibedakan berdasarkan kandungan mangan (Mn) sebagai
berikut:

1 Kelompok Mn rendah : Kelompok ini mengandung Mn antara 0,2 sampai


0,8% dan biasanya digunakan bersama-sama dengan fluks jenis ikatan
2 Kelompok Mn sedang: Kandungan Mn dalam kawat las ini berkisar antara
0,8 sampai 1,8% dan biasanya digabungkan dengan fluks jenis leburan.
3 Kelompok Mn tinggi: Kawat las ini berisi Mn antara 1,8 sampai 2,2% dan
penggunaannya digabung dengan fluks jenis leburan. Kelompok ini dapat
dipakai untuk berbagai penggunaan misalnya las lapis tunggal, las lapis
banyak, las tumpul dan las sudut.

Komposisi kimia dari kawat kelompok Mn rendah dan Mn tinggi yang


terdapat di pasaran dapat dilihat dalam Tabel 2.4. Kawat tersebut biasanya dibuat
dengan garis tengah 2,4; 3,2; 4,0; 4,8; 5,6; 6,4 dan 8,0 mm. Berdasarkan effisiensi
pengelasan, kawat yang banyak digunakan adalah kawat dengan diameter antara
4,0 sampai 6,4 mm. Hubungan antara besarnya arus yang diizinkan dan ukuran
kawat ditunjukkan dalam Tabel 2.5. (Wiryosumarto, 2000)

Tabel 2.2. Spesifikasi kawat las busur rendam. (JIS Z 3311-1964).

Tabel 2.2. Spesifikasi kawat las busur rendam. (AWS A 5.17-1976).

16
Tabel 2.4. Komposisi Kimia yang umum dari kawat las busur rendam untuk baja
lunak dan baja kuat (%). (Wiryosumarto, 2000)

Tabel 2.5. Diameter kawat dan besar arus. (Wiryosumarto, 2000)

Berikut contoh penjelasan jenis elektroda.

EH12K

Keterangan :

E = Elektroda pengelasan SAW

17
H = High Manganese (Magnesium tinggi)

1 2 = 0,12% Carbon

K = Silicon-killed

EM12K merupakan kawat las untuk pengelasan SAW yang mempunyai


kandungan mangan yang rendah dan rendah silicon. Tidak sensitif terhadap karat
pada logam dasar, elektroda ini adalah yang paling sering digunakan untuk
pengelasan SAW dengan polaritas AC atau DC (Pratomo, 2019). Penjelasan untuk
penulisan klasifikasi elektroda yang dibuat AWS dimana terdiri dari 4 digit angka
setelah huruf pertama yaitu E yang menunjukan bahwa itu elektrode pengelasan
SAW. Untuk huruf selanjutnya biasanya terdiri huruf L (low), M (medium), H
(High) yang menyatakan kisaran magnesium. Digit selanjutnya biasanya terdiri
dari satu atau dua angka yang menyetakan kadar dari karbon. Untuk digit terakhir
terkadang ada juga terkadang tidak ada yaitu huruf K yang menyatakan silicon-
killed, deoxidized steel (Lailiyah, 2017).

Dalam melakukan proses pengelasan welder disarankan untuk


memperhatikan keadaan elektroda, dimana elektroda las sangat sensitif terhadap
kondisi udara dalam ruang las. Faktor yang mempengaruhi las adalah prosedur
pengelasan yaitu suatu perencanaan untuk pelaksanaan penelitian yang meliputi
cara pembuatan konstruksi las yang sesuai rencana dan spesifikasi dengan
menentukan semua hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Faktor
produksi pengelasan adalah jadwal pembuatan, proses pembuatan, alat dan bahan
yang diperlukan, urutan pelaksanaan, persiapan pengelasan (meliputi: pemilihan
mesin las, penunjukan juru las, pemilihan elektroda, penggunaan jenis kampuh).

Elektroda yang akan digunakan dalam proses pengelasan perlu disimpan di


tempat yang kering, tidak berminyak, terhindar dari debu dan elektroda ditumpuk
dengan hati-hati, dikarenakan kerusakan pada elektroda dapat mengakibatkan

18
senyawa yang dikandung dalam fluks mudah bereaksi dengan gas-gas dalam
udara. Terperangkapnya gas dari uap air dalam hasil pengelasan kerap membuat
adanya cacat yang menyebabkan kekuatan mekanik menurun. Di samping itu
pengelasan dengan menggunakan elektroda yang sama kuat dengan logam lasnya
mempunyai perpanjangan yang rendah. Untuk mengurangi hidrogen difusi yang
menyebabkan terjadinya retak las, harus digunakan elektroda hidrogen rendah.
Besar temperatur penyimpanan elektroda las berpengaruh terhadap kekuatan tarik
hasil pengelasan. Di mana, semakin besar temperatur penyimpanan elektroda las
maka kekuatan tarik hasil pengelasan baja yang diperoleh juga akan semakin
meningkat (Tarkono, 2012).
2.9. Klasifikasi Fluks

Dalam las busur rendam digunakan dua macam fluks yaitu jenis lebaran dan
jenis ikatan. Jenis leburan dibuat dari bijih yang dicairkan lebih dahulu dan
kemudian ditumbuk Dengan menggunakan fluks jenis ini tidak ada unsur-unsur
paduan dalam fluks yang dapat masuk ke dalam logam cair, karena itu kawat las
yang digunakan harus sudah mengandung unsur paduan yang diperlukan. Besar
butir serbuk fluks juga mempengaruhi hasil pengelasan. Dengan arus yang sama
besarnya, fluks dengan butir yang lebih halus akan menghasilkan penetrasi yang
lebih dangkal dan menghasilkan permukaan manik las yang lebih rata.

Jenis fluks ikatan dibuat dari serbuk bijih dan serbuk paduan yang dicampur
dengan natrium silikat dan dijadikan adonan yang kemudian dibakar pada suhu
rendah sehingga tidak terjadi peleburan. Selama proses pembuatan ini unsur-unsur
untuk deoksidasi ditambahkan bersama-sama dengan unsur-unsur paduan yang
diperlukan untuk menjaga kwalitas hasil pengelasan. Dengan fluks jenis ini sifat
mampu las menjadi lebih baik bila arus las melebihi 1000 amper. Bila
dibandingkan dengan jenis leburan penetrasi dari jenis ikatan lebih dangkal dan
manik-manik las yang terbentuk menjadi lebih besar.

Jenis-jenis fluks dalam las busur terendam sangat banyak sekali. Misalnya
untuk fluks yang khusus untuk pengelasan lapis tunggal dengan arus tinggi

19
pengelasan lapis banyak dan untuk pengelasan yang lainnya lagi. Sedangkan dari
sudut pengujian juga ada yang dibuat khusus, misalnya memperbaiki sifat dalam
uji-takik atau sifat uji radiografi dan lain sebagainya. Penggolongan lebih
terperinci yang sistimatik masih belum ada tetapi beberapa di antaranya telah ada
yang distandarkan menurut JIS Sebagai contoh, berikut ini diuraikan hal-hal
penting dari standar tersebut.
1. G-50. YF-40: Fluks ini termasuk jenin leburan dan mengandung banyak
Mno, masing-masing mempunyai sifat mampu las yang tinggi, tidak
merusak kom posisi logam cair dan menghasilkan sambungan yang tidak
mudah karatan Keduanya banyak dipakai untuk pengelasan kecepatan tinggi
pada pelat-pelat tipis, tetapi tidak dapat digunakan untuk arus las yang
tinggi. Kedua jenis ini biasanya digunakan dengan kawat Mn tinggi.
2. MF-38: Fluks jenis leburan ini digunakan dengan bermacam-macam jenis
kawat untuk pengalasan lapis tunggal, lapis banyak dan las sudut untuk baja
lunak atau baja kuat. Hasil pengelasannya mempunyai sifat yang baik dalam
uji radiografi dan uji tumbuk.
3. Y1-15: Fluks jenis leburan ini baik untuk pengelasan baja lunak dan baja
kuat dalam konstruksi-konstruksi berat di mana uji-tumbuk merupakan
persyaratan penting.
4. PFH-45: Fluks ini termasuk jenis ikatan yang digunakan untuk pengelasan
baja lunak dan sangat baik untuk pengelasan lapis tunggal dua sisi dari
penyambung an pelat baja tebal, tetapi sangat sedikit penggunaannya dalam
pengelasan lapis banyak dengan arus tinggi. Karena dapat menghasilkan
sifat mekanik yang baik maka fluks ini banyak digunakan dalam
pengelasan-pengelasan kapal.
(Wiryosumarto, 2000).

F7A5

Keterangan :

F = Flux pengelasan SAW

20
7 = 70000 psi (tensile strength)

A = As-Welded 5 = -50°F atau -46°C (impact strength test)

Adapun klafikasi dari flux SAW itu sendiri. Huruf pertama yaitu F yang
menyatakan Flux untuk SAW. Digit selanjutnya yaitu berupa angka yang
menyatakan kekuatan Tarik (tensile strength) biasanya dinyatakan 10000 psi.
misal angka 7 yang berarti kekuatan tarik sebesar 70000 psi. untuk digit
selanjutnya biasanya huruf “A “atau “P” dimana huruf “A” menyatakan “As-
welded condition” sedangkan huruf “P” menyatakan “Postweld heat treatment”.
Digit terakhir biasanya tercantum angka atau huruf. Jika angka yang tercantum
menyatakan suhu terendah untuk uji kekuatan takik (impact test) yang dinyatakan
-10°F contoh angka yang tertera adalah “5” yang berarti -50°F atau (-46°C)
(Lailiyah, 2017).

Pada pengelasan Submerged Arc Welding (SAW), memilik dua macam type
flux diantaranya adalah berikut :

1. Fused Flux

2. Agglomerated Flux.

Fused Flux terbuat dari campuran butir-butir material seperti mangan,


kapur, boxit, kwarsa dan flourpar di dalam suatu tungku pemanas. Cairan terak
akan terbentuk akan di ubah kedalam bentuk flux dengan jalan:

1. Dituang di suatu cetakan dalam bentuk beberapa lapis atau susunan yang
tebak kemudian dipecah serta disaring sesuai dengan ukuran butiran yang
diinginkan.
2. Dari kondisi panas dituang ke dalam air, sehingga timbul percikan-
percikan yang kemudian disaring sesuai ukuranya. Metode ini lebih

21
efisien, tetapi kualitas flux yang dihasilkan mengandung hydrogen yang
cukup tinggi yang memerlukan proses lebih lanjut untuk mengurangi
kadar hydrogen tersebut.

Agglomerated flux ini dibuat di pabrik dengan jalan mencampur butiran-


butiran material yang ukuranya jauh lebih halus seperti mineral, ferro alloy, water
glass sebagai pengikat dalam suatu mixer yang khusus.

Selain dua jenis flux tersebut terdapat juga beberapa flux khusus yang
digunakan adalah sebagai barikut :

1. Flux untuk pengelasan kecepatan tinggi.

2. Flux khusus digunakan dengan arus AC.

3. Flux untuk multi kawat elektroda (kecepatan tinggi, AC).

4. Flux untuk pengelasan fillet.

5. Flux untuk pengelasan kawat elektroda tunggal atau ganda.

6. Flux untuk multipass welding.

7. Flux untuk pengelasan khusus diameter kecil.

(Pratomo, 2019).
2.9. Mesin las

Mesin las busur rendam sendiri memiliki beberapa macam, dapat


diklasifikasikan berdasarkan posisi pembawanya (Mounting) terdapat 3 jenis
Mesin yaitu:

22
- Tracktor SAW Machine.

- Gantry SAW Machine.

- Crane SAW Machine.

Masing – masing jenis mesin las SAW tersebut diatas dapat dilihat pada Gambar
2.6-2.8 dibawah ini (Batam Institutional Development Project, 2002) :

Gambar 2.6. Tracktor SAW Machine

(Sumber : Batam Institutional Development Project, 2002)

Gambar 2.7. Gantry SAW Machine

23
(Sumber : Batam Institutional Development Project, 2002)

Gambar 2.8. Crane SAW Machine

(Sumber : Batam Institutional Development Project, 2002)

Tractor SAW Machine ini termasuk yang termurah dan berguna untuk
pengelasan panjang seperti pada pengelasan sudut (Fillet) pada Beam-beam
Jembatan atau sambungan datar (Butt Joint) untuk panel-panel pada Kapal laut.
Kecepatan pengelasan, voltase serta kecepatan kawat elektrodanya dapat diatur
sesuai dengan yang dibutuhkan. Maksimum diameter kawat elektroda yang
digunakan 4 mm, sedangkan sumber powernya harus memiliki karakter voltase
konstan. Sedangkan bagian untuk pengelasannya (Welding Head) dapat berputar
dan bergerak sepanjang rel baik ke depan, atas, maupun kebawah serta
memungkin untuk pengelasan secara melingkar.

Gantry / Crane SAW Machine termasuk dalam kategori mesin yang sangat
mahal, karena mesin ini dilengkapi dengan peralatan yang sangat mempermudah
pengerjaan las karena dilengkapi dengan Gantry atau Crane, sehingga
memungkinkan untuk digunakan pengelasan didalam Bejana Tekan. Selain itu
mesin tipe ini pada umumnya dilengkapi dengan unit pengatur kecepatan, baik
untuk Kecepatan kawat elektroda maupun kecepatan pengelasannya sehingga

24
menjamin kestabilan busur api yang terjadi selama proses pengelasan, serta
maksimum diameter kawat elektroda yang dipergunakan sampai dengan 6 mm.
(Batam Institutional Development Project, 2002)
2.10. Istilah-istilah dalam pengelasan busur terendam

1. Arc voltage

Arc voltage atau tegangan busur adalah parameter proses input yang penting
dalam setiap proses pengelasan apakah itu busur atau proses pengelasan fusi
lainnya. Ini menentukan bentuk dan lebar lasan. Jika tegangan busur lebih lebar
lasan umumnya lebih. Ia juga bertanggung jawab atas pembentukan undercutting
dan terak yang sulit untuk dihilangkan terak.

2. Welding Current

Arus memberikan kedalaman penetrasi dan arus tinggi dapat digunakan jika
ada potongan tebal untuk pengelasan. Jika arus sangat tinggi dapat membakar
logam dan jika sangat rendah mengakibatkan penetrasi yang tidak sempurna,
maka pemilihan arus yang tepat untuk pengelasan harus dilakukan.

3. Welding Speed

Kecepatan kawat elektroda relatif terhadap benda kerja disebut kecepatan


pengelasan. Kedalaman penetrasi berkurang dengan bertambahnya kecepatan
yang menghasilkan lebar las yang lebih lebar. Jika kecepatan pengelasan sangat
kurang maka efek sebaliknya juga diamati karena pada kecepatan yang sangat
rendah transfer energi ke kedalaman yang lebih dalam dicegah oleh kolam las cair
yang ada dan kedalaman penetrasi berkurang. Untuk kedalaman penetrasi
maksimum yang dibutuhkan pengetahuan tentang kecepatan optimal diperlukan.

4. Wire diameter

25
Diameter kawat bertanggung jawab atas kerapatan arus elektroda. Rasio
arus terhadap luas penampang elektroda dikenal sebagai rapat arus. Kerapatan
arus adalah kebalikan dari kuadrat diameter elektroda. Jika diameter kawat sangat
kecil atau sangat besar maka ada kemungkinan besar kedalaman penetrasi tidak
seimbang. Jadi diameter elektroda harus dipilih dengan benar.

5. Granular flux

Dalam pengelasan busur logam berpelindung, pelapisan pada elektroda


tongkat dilakukan untuk melindungi lasan tetapi dalam kasus pengelasan busur
terendam perlindungan lasan dicapai dengan menggunakan fluks granular. Fluks
dapat mengandung bahan yang diinginkan untuk pengelasan yang mungkin hilang
selama pengelasan. Fluks terdiri dari 4 jenis sebagai fluks yang menyatu, terikat,
diaglomerasi dan dicampur secara mekanis. Untuk menghilangkan fluks
higroskopis kelembaban digunakan. Berbagai jenis halida digunakan untuk
mendapatkan pengelasan dengan kekuatan tinggi.

6. Extended length

Jika panjang ekstensi ditingkatkan, resistansi kawat meningkat dan


karenanya suhu meningkat yang menunjukkan arus yang lebih rendah dapat
disuplai. Tetapi jika arus diturunkan, intensitas arus berkurang sehingga panjang
optimal yang diperpanjang harus digunakan ( Aman & Singh, 2020).

7. Hopper

Ini digunakan untuk menampung dan memasok fluks butiran ke bagian las
dalam jumlah yang dibutuhkan dengan menggunakan prinsip gravitasi
(Sharma et al, 2020). Flux hopper adalah komponen mesin SAW yang berfungsi
sebagai penampung pasir flux serta mengumpankannya ke dalam kawah las.
Untuk mengatur tingkat pengumpanan pasir flux kedalam kawah terdapat sebuah

26
katup yang dapat di atur secara manual oleh welding operator. Gaya gravitasi akan
bekerja dan membuat pasir flux pada penampungan turun untuk merendam busur
listrik secara terus menerus. Pada model yang lebih baru pengaturan bukaan katup
dapat diatur pada mesin las (Achmadi, 2020).

8. Electrode wire reel.

Electrode wire reel adalah bagian yang berbentuk gulungan yang berguna
untuk menampung gulungan filler metal dan mengarahkan kawat tersebut kearah
pengumpan untuk diumpankan. Gulungan kawat tersebut biasanya dijual dalam
satuan dengan berat 7 kilogram.

9. Unfused flux recovery tube.

Unfused flux recovery tube adalah bagian yang berfungsi untuk


mengumpulkan bagian flux yang tidak mencair menjadi slag. Karena sebagian
besar dari pasir flux tidak tersentuh busur listrik sehingga tidak mencair, maka
pasir flux ini masih memiliki bisa digunakan kembali sehingga harus
dikumpulkan. Mekanisme kerja komponen ini mirip seperti vacuum cleaner.
Selang yang digunakan untuk menyedot pasir – pasir flux diletakkan pada bagian
belakang rangkaian dan sedikit jauh dari pengumpan kawat dan flux untuk
mencegah gangguan pada saat proses las berjalan.

10. Electrode wire reel.

Electrode wire reel adalah gulungan kawat las yang memiliki diameter
kawat diantara 1.6 mm hingga 6 mm. Kawat las ini juga tersedia versi puntir nya
yang berfungsi untuk meniru gerakan ayunan pada proses las manual. Elemen
untuk penambahan alloy juga ditambahkan pada kawat las ini untuk
mengendalikan komposisi kimia dari logam las. Selain itu kawat las SAW juga

27
dilapisi dengan tembaga untuk meningkatkan konduktivitas dan memudahkan
proses penyalaan busur (Achmadi, 2020).
2.11. Aplikasi Pengelasan SAW:
Pengelasan SAW merupakan pengelasan yang memiliki produktivitas yang
tinggi. Apabila dibandingkan dengan pengelasan SMAW, produktivitas
pengelasan SAW bisa mencapai 10 kali lipatnya. Hal ini dikarenakan tingkat
deposisi las yang tinggi serta laju pengelasannya yang cepat. Sehingga untuk
mengelas sebuah sambungan plat dengan ketebalan 10 mm tidak perlu di bevel
karena tingkat penetrasi yang tinggi dan hanya memerlukan 1 kali pass saja
karena tingkat deposisi yang tinggi.
Akan tetapi tingkat deposisi yang tinggi bukan berarti proses las ini
sempurna dari kelemahan. Untuk menghasilkan deposisi yang tinggi dan penetrasi
yang dalam diperlukan pengumpanan kawat las secara secara terus menerus
dengan parameter las yang cukup tinggi untuk mendapatkan nyala busur yang
stabil. Ditambah dengan flux yang menutupi kawah las secara menyeluruh,
mencegah panas untuk keluar dari kawah tersebut.
Pengaruhnya, heat input proses las ini menjadi sangat tinggi sehingga
menjadi keterbatasan tersendiri untuk proses las ini. Hal ini dikarenakan material
– material selain baja karbon (baja tahan karat, aluminium, baja tuang, dan
material lain dengan weldability yang rendah) sangat sensitif terhadap masukan
panas yang tinggi. Oleh karena itu aplikasi pengelasan SAW tidak
direkomendasikan untuk digunakan pada material selain baja karbon.
Karena batasan tersebut aplikasi pengelasan SAW di dunia industri terbatas
pada material – material tertentu saja seperti baja karbon jenis mild steel (baja
karbon rendah). Industri yang paling banyak menggunakan pengelasan SAW
adalah galangan kapal. Kebanyakan kapal memang terbuat dari material baja
karbon sehingga masih bisa di las menggunakan SAW. Selain itu pada kapal
terutama di bagian dinding lambung kapal juga terdapat sambungan – sambungan
yang lurus dan panjang, sehingga sangat cocok di las menggunakan SAW
(Achmadi, 2020).

28
2.12. Kelebihan dan Kekurangan Las SAW:
2.12.1. Kelebihan Las SAW:
Selain kemampuan penetrasi yang tinggi dan tingkat deposisi yang tinggi
pula, pengelasan SAW masih memiliki keunggulan lainnya. Salah satunya adalah
tidak memerlukan juru las yang ahli seperti pada proses pengelasan lainnya.
Karena pengelasan SAW yang bersifat otomatis maka pengelasan ini tidak
membutuhkan juru las melainkan operator las. Untuk melatih operator las supaya
memiliki kemampuan mengelas jauh lebih mudah daripada melatih juru las agar
memiliki kemampuan yang sama. Sehingga pengoperasian mesin las SAW secara
tidak langsung lebih ekonomis dari pengelasan lainnya.
Pengelasan otomatis juga memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi
daripada pengelasan manual. Karena prosesnya yang stabil dan tidak dipengaruhi
oleh banyak variabel maka hasil dari proses pengelasan akan lebih rapi dan
seragam. Faktor kesalahan manusia memang menjadi faktor terbesar
terjadinya cacat las dan diskontinuitas.
Busur las yang terendam juga memiliki banyak keunggulan ditinjau dari
sisi keselamatan dan kualitas pengelasan. Karena flux yang menutupi busur las
akan mencegah sinar dan asap las keluar dan mengkontaminasi area di sekitarnya.
Pada proses yang lain kedua hal tersebut dapat membahayakan operator las dan
pekerja lainnya apabila tidak dikendalikan. Gunungan flux tersebut juga dapat
mencegah terjadinya spatter, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengelasan
(Achmadi, 2020).
2.12.2. Kekurangan Proses Las SAW:
Untuk kelemahan dari pengelasan SAW sendiri lebih mengarah ke limitasi
operasi mesin. Mesin las SAW hanya bisa digunakan untuk posisi pengelasan 1G,
1F, dan 2F dengan desain sambungan yang lurus dan panjang. Pengelasan pada
pipa dengan diameter besar juga masih memungkinkan menggunakan SAW
dengan tipe mesin yang tidak bergerak dan pipa yang berputar (1G pipa).
Karena pengelasan yang dilakukan secara terus menerus dan sambungan
yang panjang, maka plat dengan ketebalan dibawah 10 mm tidak dianjurkan untuk
di las menggunakan proses ini. Hal ini dilakukan untuk mencegah masukan panas
yang tinggi tersebut merusak logam induk.

29
Jenis flux dan cara kerja flux yang memiliki kecenderungan untuk
mengkontaminasi menimbulkan beberapa isu operasional dan keselamatan kerja.
Layaknya seperti proses las yang lain yang melibatkan flux dan mengandalkan
slag sebagai pelindung kawah las, pembersihan slag untuk mencegah terjadinya
diskontinuitas juga sangat penting untuk diperhatikan.
Sampah – sampah slag juga bisa berbahaya bagi pekerja apabila tidak ada
pengarahan induksi keselamatan kerja terlebih dahulu. Selain itu untuk
menampung dan menghandle pasir flux memang lebih rumit dan dapat menjadi
permasalahan operasional (Achmadi, 2020).

BAB III
KESIMPULAN

Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua bagian logam atau


lebih dengan menggunakan energi panas. Menurut Deustche Industry Normen
(DIN), pengelasan adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang
terjadi dalam keadaan lumer atau cair, dengan kata lain pengelasan adalah
penyambungan setempat dari dua logam dengan mengguanakan energi panas.
Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses
manufaktur. Salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi tanpa tekanan tambahan dan
menghasilkan sambungan yang kontinu. Pengertian Las SAW merupakan salah
satu jenis pengelasan busur listrik dimana proses pengelasan ini adalah
memanaskan dan mencairkan benda kerja dan logam pengisi atau elektroda oleh
busur listrik yang ada diantara logam induk dan elektroda (logam pengisi).
Pengelasan SAW ini menggunakan fluks yang bentuknya seperti pasir untuk
melindungi logam pengisi yang mencair saat proses pengelasan agar tidak
terkontaminasi dari udara luar sehingga menghasilkan las - lasan yang baik.

30
DAFTAR PUSTAKA

Aman, S. & Singh, R.P., 2020. A review of effect of welding parameters on the
mechanical properties of weld in submerged arc welding
process. Materials Today: Proceedings.

Batam International Development. 2002. Pengelasan Las Busur Rendam,


Indonesia Australia Partnership for Skills Development, Batam.

Choudhary, A., Kumar, M. and Unune, D.R., 2019. Experimental investigation


and optimization of weld bead characteristics during submerged arc
welding of AISI 1023 steel. Defence Technology. 15(1) : 72-82.

Lailiyah, I. 2017. Analisis Perbandingan Proses Pengelasan SAW dan FCAW


pada Material Astm A 36 Terhadap Uji Takik. SKRIPSI. Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Naharuddin, N., Sam, A. and Nugraha, C., 2015. Kekuatan Tarik dan Bending
Sambungan Las pada Material Baja SM 490 dengan Metode Pengelasan
SMAW dan SAW. Jurnal Mekanikal. 6(1) : 1-8.

Pratomo, A. E. Y. 2019. Analisis Variasi Arus Pengelasan Submerged Arc


Welding Tandem Pada Proses Pengerjaan Build Up Beam Dengan
Material Hsla A572 Gr 50 Terhadap Penetrasi, Kekerasan, Dan Struktur
Mikro. SKRIPSI. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya.

Setiawan, A. and Wardana, Y.A.Y., 2006. Analisa Ketangguhan dan Struktur


Mikro pada Daerah Las dan HAZ Hasil Pengelasan Sumerged Arc
Welding pada Baja SM 490. Jurnal teknik mesin. 8(2) : 57-63

31
Sharma, H., Rajput, B. and Singh, R.P., 2020. A review paper on effect of input
welding process parameters on structure and properties of weld in
submerged arc welding process. Materials Today: Proceedings.

Subeki, N., 2012. Optimalisasi komposisi kandungan mn pada filler untuk


mendapatkan ketangguhan dan kekerasan. Jurnal Teknik Industri. 12(1) :
41-50.

Suharno, S., 2004. Pengaruh Kecepatan Pengelasan pada Submerged Arc Welding
Baja SM 490 Terhadap Ketangguhan Beban Impak. Jurnal Teknik Mesin.
6(2):71-74.

Sunaryo, H. 2008. Teknik Pengelasan Kapal Jilid 2. Jakarta: Dinas Pendidikan


Nasional.

Tarkono, T., Studi Penggunaan Jenis Elektroda Las Yang Berbeda Terhadap Sifat
Mekanik Pengelasan SMAW Baja AISI 1045. Mechanical: Jurnal
Ilmiah Teknik Mesin, 3(2), p.151319.

Wiryosumarto, Okumura. (2000). Teknologi Pengelasan Logam. PT. Pradnya


Paramita. Jakarta.

32
SOAL

Soal Objektif

4. Yang termasuk parameter pengelasan SAW, kecuali….


a. Pengaruh dari Arus Listrik (I)
b. Pengaruh dari Tagangan Listrik (V).
c. Pengaruh Kecepatan Pengelasan.
d. Daerah yang bersih dari spatter
e. Diameter kawat elektroda
5. Ukuran diameter elektroda yang benar ....

a. 1 mm-5 mm                                           d. 1,5 mm-7,5 mm

b. 1 mm-7 mm                                           e. 1 mm-7,5 mm

c. 1,5 mm-7 mm

6. Elektroda diameter 2,6 mm sebaiknya menggunakan kuat arus sebesar ….


a. 75 ampere                                              d. 85 ampere
b. 70 ampere                                              e. 90 ampere
c. 80 ampere
7. Bahan dasar dari kawat inti elektroda adalah .....
a. baja lunak d. alumunium
b. baja paduan e. besi tuang
c. tembaga

5. Daerah di sekitar bidang las yang rawan akibat proses pengelasan disebut ........

a. Daerah bebas dari las

33
b. Daerah yang bersih dari spater

c. Daerah yang harus diberi penguat

d. Daerah pengaruh panas (HAZ)

e. Daerah yang tidak kena panas

6. Pada pengelasan Submerged Arc Welding (SAW), memilik dua macam tipe
flux diantaranya adalah….

a. Collet body dan Fused Flux d. Collet body dan Backing gas

b. Agglomerated Flux dan Backing gas e. Selenoide dan Tip body

c. Agglomerated Flux dan Fused Flux

7. Yang termasuk Mesin las Submerged Arc Welding (SAW)…..

a. Tracktor SAW Machine. d. Iron Powder

b. Backing gas e. Collet body

c. Tip body

8. Bagian yang berbentuk gulungan yang berguna untuk menampung gulungan


filler metal dan mengarahkan kawat tersebut kearah pengumpan untuk
diumpankan, adalah …..

a. Unfused flux recovery tube d. Extended length

34
b. Electrode wire reel e. Wire diameter

c. Hopper

9. Menurut jenis arus yang dikeluarkan ada 2 jenis Power supply untuk
pengelasan dengan proses SAW yaitu….

a. Yang menghasilkan arus rata (DC)

b. Yang melepas elektrode saat tidak mengelas

c. Yang menyerap arus rata (AC)

d. Pengaruh Kecepatan Pengelasan

e. Daerah yang bersih dari spatter

10.Dibuat di pabrik dengan jalan mencampur butiran-butiran material yang


ukuranya jauh lebih halus seperti mineral, ferro alloy, water glass sebagai
pengikat dalam suatu mixer yang khusus merupan pengertian dari….

a. Unfused flux recovery tube d. Extended length

b. Electrode wire reel e. Agglomerated Flux

c. Fused Flux
Soal Essay
1. Apa yang dimaksud dengan Submerged arc welding?
Jawaban : Pengelasan dengan menggunakan metode SAW atau las busur
terendam adalah pengelasan dengan prinsip logam cair ditutup dengan fluks
yang diatur melalui suatu penampang, fluks dan logam pengisi yang berupa

35
kawat pejal diumpankan secara terus menerus sehingga pengelasan tersebut
dapat dilakukan secara otomatis dan mudah dalam pengoperasiannya serta
memiliki keandalan yang tinggi.
2. Bagaimana hubungan kecepatan pemindahan logam dengan arus pengelasan
dalam las busur rendam?
Jawaban : Karena dalam pengelasan ini busur listriknya tidak kelihatan, maka
sangat sukar untuk mengatur jatuhnya ujung busur. Di samping itu karena
mempergunakan kawat elektroda yang besar maka sangat sukar untuk
memegang alat pembakar dengan tangan tepat pada tempatnya. Karena kedua
hal tersebut maka pengelasan selalu dilaksanakan secara otomatis penuh.
Mesin las otomatik pelaksanaannya bermacam-macam. Pada jenis ini kepala
las dibawa oleh kereta yang berjalan melalui rel penuntun sepanjang garis las.
Fluks yang diperlukan diumpankan melalui pipa penyalur dari penampung
fluks yang juga terletak di atas kereta. Biasanya mesin las ini melayani satu
elektroda saja, tetapi untuk memperbaiki efisiensi pengelasan kadang-kadang
satu mesin melayani dua atau tiga elektroda. Mesin las ini dapat menggunakan
sumber listrik arus bolak-balik yang lamban dan arus searah dengan tegangan
tetap. Bila menggunakan listrik AC perlu adanya pengaturan kecepatan
pengumpanan kawat las yang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan panjang
busur yang diperlukan. Hal ini dapat diatur dengan mengukur tegangan busur
yang kemudian dipakai dasar untuk menentukan kecepatan pengumpanan
kawat.
3. Bagaimana pengaruh diameter elektroda terhadap parameter las SAW?
Jawaban : Pengurangan diameter kawat elektroda dalam ini tanpa merubah
parameter lainnya akan memperbesar tekanan busur, yang berarti penetrasi
akan semakin dalam dan lebar deposit semakin berkurang
4. Mengapa Gantry / Crane SAW Machine termasuk dalam kategori mesin yang
sangat mahal?
Jawaban : karena mesin ini dilengkapi dengan peralatan yang sangat
mempermudah pengerjaan las karena dilengkapi dengan Gantry atau Crane,
sehingga memungkinkan untuk digunakan pengelasan didalam Bejana Tekan.
Selain itu mesin tipe ini pada umumnya dilengkapi dengan unit pengatur

36
kecepatan, baik untuk Kecepatan kawat elektroda maupun kecepatan
pengelasannya sehingga menjamin kestabilan busur api yang terjadi selama
proses pengelasan, serta maksimum diameter kawat elektroda yang
dipergunakan sampai dengan 6 mm.
5. Arc Voltage adalah ?

Jawaban : Arc voltage atau tegangan busur adalah parameter proses input
yang penting dalam setiap proses pengelasan apakah itu busur atau proses
pengelasan fusi lainnya. Ini menentukan bentuk dan lebar lasan. Jika
tegangan busur lebih lebar lasan umumnya lebih. Ia juga bertanggung jawab
atas pembentukan undercutting dan terak yang sulit untuk dihilangkan terak.

Kunci Jawaban Soal Objektif

1. D
2. E
3. A
4. A
5. D
6. C
7. A
8. B
9. A
10. E

37
38