Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengerasan suatu permukaan adalah suatu metode untuk memodifikasi
permukaan yang hasilnya akan sangat bermanfaat untuk mesin-mesin industri.
Pada proses ini yang paling pokok untuk mendapatkan pengerasan permukaan
adalah dengan suatu lapisan tipis yang akan mempengaruhi sifat kekerasan dari
bahan yang diteliti. Pembentukan lapisan tipis pada permukaan baja dengan
ketebalan berukuran mikron sangat banyak manfaatnya. Penerapan teknik
pembentukan lapisan tipis pada permukaan diawali pada abad 19 yaitu pada tahun
1852 ketika Grove melakukan percobaan lucutan listrik dengan media gas
sehingga terbentuknya lapisan logam pada dinding tabung lucutan pijar di sekitar
elektroda negatif. Pada tahun 1857 Faraday juga berhasil menemukan pembuatan
lapisan tipis dengan metode evaporasi (Suprapto & Sujitno, 2005).
Baja perkakas merupakan jenis material yang banyak dipergunakan dalam
industri karena memiliki harga kekeraan dan ketahanan yang tinggi. Baja perkakas
biasa dipergunakan sebagai alat pemotong (cutting), alat pembentuk (forming),
dan sebagai cetakan (die). Proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah sifat
logam dikenal dengan proses perlakuan panas (heat treatment). Sedangkan proses
perlakuan yang diterapakan untuk mengubah sifat/karektirisyik logam pada
permukaan disebut proses perlakuan permukaan (surface treatment), proses
pengerasan ini dilakukan hanya pada permukaannya saya sedangkan di bagian
dalamnya tetap ulet. Proses pengerasan permukaan dapat dikelompokkan dalam
dua cara :
1. Proses yang dilakukan tanpa merubah komposisi kimia, contoh flame
hardening, induction hardening, laser hardening, dan lain-lain.
2. Proses yang dilakukan dengan merubah komposisi kimia, contoh
carburizing, nitriding, nitrocarburizing, carbonitriding atau yang biasa
disebut dengan proses cyaniding, dan lain-lain.
Pada proses cyaniding benda kerja dipanaskan pada rentang temperature
500°-590°C dalam lingkunganyan mengandung nitrogen sehingga pada
permukaan terbentuk suatu lapisan yang bersifat keras yang disebut compound
layer jenis nitride besi (Akuan, 2010).
Cyaniding adalah suatu proses case hardening yang akan memberikan
tambahan unsur nitrogen dan karbon pada lapisan permukaan benda kerja pada
suhu 870oC dalam tempat yang berisi 30% sodium cyanida[5]. Tebal lapisan
keras pada cyaniding: 0,1-0,2 mm. Aplikasi ini cocok untuk pengerasan roda gigi,
piston, pena piston dan poros kecil (Suprapto & Sujitno, 2005).
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memahami dan mengetahui pengertian cyaniding.
2. Memahami dan mengetahui proses cyaniding.
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan cyaniding.
BAB II
ISI
1.1. Teknik Pengerasan
Teknik pengerasan permukaan merupakan suatu proses untuk
meningkatkan sifat kekerasan serta kinerja dari suatu komponen atau material.
Kerusakan suatu material biasanya dimulai dari kerusakan pada permukaan
material yang disebabkan karena adanya pengaruh dari faktor lingkungan seperti
korosi atau keausan akibat adanya interaksi dengan komponen lain. Dalam dunia
industri, khususnya industri yang bergerak dibidang permesinan, teknik
pengerasan permukaan sangatlah dibutuhkan untuk menghasilkan suatu
komponen atau peralatan yang memiliki ketahanan terhadap korosi, serta
ketahanan terhadap keausan akibat gesekan antar komponen material, sehingga
dengan sendirinya akan meningkatkan umur pakai komponen.
Berbagai cara dilakukan untuk dapat meningkatkan kualitas permukaan
dari suatu material sesuai dengan kebutuhan produk yang diinginkan. Dalam
bidang rekayasa material, teknik pengerasan permukaan sering dikenal dengan
istilah “perlakuan permukaan” (surface treatment). Beberapa metode perlakuan
permukaan yang sering dilakukan adalah nitridasi (nitriding), karburasi
(carburizing), karbonitridasi (carbonitriding), induksi listrik. dan nyala api
(Umardhani, 2011).
Pada beberapa komponen tertentu seperti poros dan roda gigi dibutuhkan
kombinasi sifatsifat mekanik material, yaitu harus mampu menahan aus dan juga
harus mampu menahan gaya-gaya dinamis. Kedua sifat tersebut pada dasarnya
berlawanan, karena jika kekerasan dan kekuatan meningkat maka keuletan dan
ketangguhan akan menurun. Untuk memenuhi kebutuhan material tersebut maka
dibuat dua kondisi, yaitu material dengan bagian luar yang keras dan bagian inti
tetap ulet. Cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan sifat-sifat tersebut
adalah dengan teknik perlakuan permukaan (surface treatment). Pengerasan
permukaan termasuk kategori perlakuan permukaan dan dapat dibagi menjadi dua
yaitu pengerasan permukaan dengan proses perlakuan panas (heat treatment) dan
pengerasan permukaan dengan menghasilkan lapisan permukaan yang keras
(surface hard coating) akibat adanya proses pendeposisian ionion (atom-atom)
tertentu pada permukaan material (Suprapto & Sujitno, 2005).
Pengerasan permukaan terhadap material baja dapat dilakukan melalui dua
cara, yaitu :
1. Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung serendah
rendahnya 0,35 % karbon. Baja ini telah memenuhi syarat untuk dikeraskan secara
langsung. Pemanasan pada temperatur pengerasan dilakukan secara cepat, agar
panas tersebut hanya mencapai kedalaman permukaan yang tipis. Selanjutnya
dilakukan proses pendinginan kejut agar dicapai struktur martensit hanya pada
permukaannya saja dan intinya masih ulet.
2. Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung
setinggitingginya 0,2 % karbon. Baja ini termasuk dalam kelompok baja karbon
rendah, yang tidak bisa langsung dikeraskan. Penambahan unsur karbon
dibutuhkan agar jumlah kandungannya meningkat sehingga memenuhi syarat
permukaannya saja, karena hal ini tergantung pada hasil difusi karbon kedalam
struktur baja.
Pengerasan permukaan pada material baja karbon rendah dapat dilakukan
melalui cara sebagai berikut :
(a) Karburasi (carburizing)
Karburasi (carburizing) adalah memanaskan baja di atas temperatur Ac 3
dalam lingkungan yang mengandung karbon. Baja pada sekitar temperatur kritis
mempunyai afinitas terhadap karbon. Karbon diabsorpsi ke dalam logam
membentuk larutan padat dengan baja dan lapisan luar memiliki karbon kadar
tinggi. Bila dibiarkan lebih lama, karbon akan mempunyai kesempatan untuk
berdifusi ke bagian lebih dalam. Tebal lapisan tergantung pada waktu dan
temperatur perlakuan panas.
(b) Karbonitriding
Karbonitriding adalah memanaskan baja di atas temperatur kritis didalam
lingkungan gas dan terjadi penyerapan karbon dan nitrogen. Gas amonia atau gas
yang kaya akan karbon bisa digunakan untuk proses ini.
(c) Cyaniding
Cyaniding adalah memasukan baja kedalam dapur yang mengandung
garam cyanida natrium, temperaturnya sedikit diatas daerah Ac1. Waktu
penahanan pemanasan tergantung pada permukaan yang akan dikeraskan.
Selanjutnya baja dimasukan ke pendingin air atau minyak untuk mendapatkan
permukaan yang keras.
(d) Nitriding
Nitriding adalah memanaskan logam sampai sekitar 510º C didalam
lingkungan gas amonia selama beberapa waktu. Nitrogen yang diserap oleh logam
akan membentuk nitride keras yang menyebar merata pada permukaan logam
(Kuswanto, 2010).
1.2. Heat Treatment
Heat treatment (perlakuan panas) adalah proses pemanasan dan
pendinginan yang terkontrol dengan maksud mengubah sifat fisik dari logam.
Prosedur dari perlakuan panas tersebut adalah berbeda-beda tergantung tujuan dari
pemberian proses perlakuan tersebut, yang biasanya mengacu pada sifat-sifat
mekanik dari pada material benda kerja. Langkah pertama dalam proses heat
treatment adalah pemanasan logam atau paduan dalam temperatur yang berbeda-
beda dan dengan atau tanpa memberikan waktu penahanan (holding time), yang
kemudian dilanjutkan dengan mendinginkannya dengan laju pendinginan yang
diinginkan. Temperatur pengerasan sangat tergantung pada kadar karbon, dan
temperatur pengerasan turun jika kadar karbon naik. Ada beberapa proses heat
treatment, diantaranya adalah annealing, normalizing, hardening, dan tempering
(Setiawan, 2012).
1.3. Baja
Baja merupakan jenis logam yang paling banyak digunakan dalam
kehidupan, misalnya pada mesin-mesin industri dan mesin-mesin perkakas.
Contoh penggunaan ini adalah pada poros mesin, roda gigi dan lain-lain.
Disamping itu harganya relatif murah dibanding dengan logam yang lain. Baja
mempunyai nilai ketahanan aus dan gesek yang kurang bagus sehingga dengan
adanya pelapisan permukaan diharapkan dapat memperbaiki sifat-sifat mekanik
dari baja tersebut.
Jumlah karbon dalam struktur baja dapat menentukan sifat mekanis dan
unjuk kerja (performance) nya. Ada tiga kelompok baja bila ditinjau dari jumlah
kandungan karbon yang terdapat dalam strukturnya, yaitu :
1. Baja karbon tinggi adalah baja dengan kandungan karbon 0,70 % -
1,70 %,
2. Baja karbon menengah adalah baja dengan kandungan karbon 0,30 % -
0,70 %,
3. Baja karbon rendah adalah baja dengan kandungan karbon 0,04 % -
0,30 %.
Kandungan karbon didalam struktur baja akan berpengaruh terhadap sifat
mampu keras. Sifat ini dibutuhkan untuk komponen mesin yang saling bergesekan
atau karena fungsinya harus mempunyai kekerasan tertentu. Selanjutnya
kekerasan pada komponen mesin yang terbuat dari baja, dapat diperoleh melalui
proses perlakuan panas atau perlakuan permukaan. Proses peningkatan kekerasan
menggunakan panas merupakan cara yang banyak dilakukan untuk baja karbon
medium dan tinggi. Namun demikian tidak semua jenis baja bisa dikeraskan
secara langsung dengan cara ini. Pengerasan langsung hanya dapat dilakukan pada
baja dengan kandungan karbon di atas 0,35 %. Sementara untuk baja dengan
kandungan karbon dibawah 0,35 %, harus melalui proses penambahan karbon.
(Schonmetz, Gruber, 1985) Baja dengan kadar karbon menengah sampai tinggi
dengan kandungan karbon di atas 0,35 %, dapat ditingkatkan kekerasannya,
dengan metode perlakuan panas (heat treatment). Seperti pengerasan (hardening)
yang dilakukan dengan metode pengejutan (quenching) dilanjutkan temper
(tempering).
Pengerasan dilakukan dengan memanaskan baja dalam dapur pemanas
(furnace), sampai temperatur austenit dan didinginkan secara tiba-tiba. Akibat
pengejutan dingin dari daerah suhu pengerasan ini, dicapailah suatu keadaan
paksa bagi struktur atom yang akan meningkatkan kekerasan. Sedangkan baja
yang mempunyai kandungan di bawah 0,35 % C, hanya dapat dikeraskan melalui
proses penambahan karbon (Kuswanto, 2010).
Kekerasan suatu bahan (baja) dapat diketahui dengan pengujian kekerasan
memakai mesin uji kekerasan (hardness tester) menggunakan tiga metoda atau
teknik yang umum dilakukan yaitu metoda Brinell, Rockwell dan Vickers
Gambar.1 (Setiawan, 2010).

Gambar 1. Teknik pengujian kekerasan (Setiawan, 2010).