Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MAKALAH

SUBMERGED ARC WELDING (SAW)

OLEH :

ILHAM ALFITRAH
1910932003

COVER

TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2020
DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1. Latar Belakang....................................................................................1
1.2. Tujuan Penulisan................................................................................2
BAB II ISI..............................................................................................................3
1.1. Teknik Pengerasan..............................................................................3
1.2. Heat Treatment...................................................................................6
1.3. Baja.....................................................................................................7
1.4. Cyaniding..........................................................................................10
BAB III KESIMPULAN......................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18
SOAL.....................................................................................................................20

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengerasan suatu permukaan adalah suatu metode untuk memodifikasi
permukaan yang hasilnya akan sangat bermanfaat untuk mesin-mesin industri.
Pada proses ini yang paling pokok untuk mendapatkan pengerasan permukaan
adalah dengan suatu lapisan tipis yang akan mempengaruhi sifat kekerasan dari
bahan yang diteliti. Pembentukan lapisan tipis pada permukaan baja dengan
ketebalan berukuran mikron sangat banyak manfaatnya. Penerapan teknik
pembentukan lapisan tipis pada permukaan diawali pada abad 19 yaitu pada tahun
1852 ketika Grove melakukan percobaan lucutan listrik dengan media gas
sehingga terbentuknya lapisan logam pada dinding tabung lucutan pijar di sekitar
elektroda negatif. Pada tahun 1857 Faraday juga berhasil menemukan pembuatan
lapisan tipis dengan metode evaporasi (Suprapto & Sujitno, 2005).
Baja perkakas merupakan jenis material yang banyak dipergunakan dalam
industri karena memiliki harga kekeraan dan ketahanan yang tinggi. Baja perkakas
biasa dipergunakan sebagai alat pemotong (cutting), alat pembentuk (forming),
dan sebagai cetakan (die). Proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah sifat
logam dikenal dengan proses perlakuan panas (heat treatment). Sedangkan proses
perlakuan yang diterapakan untuk mengubah sifat/karektirisyik logam pada
permukaan disebut proses perlakuan permukaan (surface treatment), proses
pengerasan ini dilakukan hanya pada permukaannya saya sedangkan di bagian
dalamnya tetap ulet. Proses pengerasan permukaan dapat dikelompokkan dalam
dua cara :
1. Proses yang dilakukan tanpa merubah komposisi kimia, contoh flame
hardening, induction hardening, laser hardening, dan lain-lain.
2. Proses yang dilakukan dengan merubah komposisi kimia, contoh
carburizing, nitriding, nitrocarburizing, carbonitriding atau yang biasa
disebut dengan proses cyaniding, dan lain-lain.
Pada proses cyaniding benda kerja dipanaskan pada rentang temperature
500°-590°C dalam lingkunganyan mengandung nitrogen sehingga pada

1
permukaan terbentuk suatu lapisan yang bersifat keras yang disebut compound
layer jenis nitride besi (Akuan, 2010).
Cyaniding adalah suatu proses case hardening yang akan memberikan
tambahan unsur nitrogen dan karbon pada lapisan permukaan benda kerja pada
suhu 870oC dalam tempat yang berisi 30% sodium cyanida[5]. Tebal lapisan
keras pada cyaniding: 0,1-0,2 mm. Aplikasi ini cocok untuk pengerasan roda gigi,
piston, pena piston dan poros kecil (Suprapto & Sujitno, 2005).
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memahami dan mengetahui pengertian cyaniding.
2. Memahami dan mengetahui proses cyaniding.
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan cyaniding.

2
BAB II
ISI
1.1. Teknik Pengerasan
Teknik pengerasan permukaan merupakan suatu proses untuk
meningkatkan sifat kekerasan serta kinerja dari suatu komponen atau material.
Kerusakan suatu material biasanya dimulai dari kerusakan pada permukaan
material yang disebabkan karena adanya pengaruh dari faktor lingkungan seperti
korosi atau keausan akibat adanya interaksi dengan komponen lain. Dalam dunia
industri, khususnya industri yang bergerak dibidang permesinan, teknik
pengerasan permukaan sangatlah dibutuhkan untuk menghasilkan suatu
komponen atau peralatan yang memiliki ketahanan terhadap korosi, serta
ketahanan terhadap keausan akibat gesekan antar komponen material, sehingga
dengan sendirinya akan meningkatkan umur pakai komponen.
Berbagai cara dilakukan untuk dapat meningkatkan kualitas permukaan
dari suatu material sesuai dengan kebutuhan produk yang diinginkan. Dalam
bidang rekayasa material, teknik pengerasan permukaan sering dikenal dengan
istilah “perlakuan permukaan” (surface treatment). Beberapa metode perlakuan
permukaan yang sering dilakukan adalah nitridasi (nitriding), karburasi
(carburizing), karbonitridasi (carbonitriding), induksi listrik. dan nyala api
(Umardhani, 2011).
Pada beberapa komponen tertentu seperti poros dan roda gigi dibutuhkan
kombinasi sifatsifat mekanik material, yaitu harus mampu menahan aus dan juga
harus mampu menahan gaya-gaya dinamis. Kedua sifat tersebut pada dasarnya
berlawanan, karena jika kekerasan dan kekuatan meningkat maka keuletan dan
ketangguhan akan menurun. Untuk memenuhi kebutuhan material tersebut maka
dibuat dua kondisi, yaitu material dengan bagian luar yang keras dan bagian inti
tetap ulet. Cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan sifat-sifat tersebut
adalah dengan teknik perlakuan permukaan (surface treatment). Pengerasan
permukaan termasuk kategori perlakuan permukaan dan dapat dibagi menjadi dua
yaitu pengerasan permukaan dengan proses perlakuan panas (heat treatment) dan
pengerasan permukaan dengan menghasilkan lapisan permukaan yang keras

3
(surface hard coating) akibat adanya proses pendeposisian ionion (atom-atom)
tertentu pada permukaan material (Suprapto & Sujitno, 2005).
Pengerasan permukaan terhadap material baja dapat dilakukan melalui dua
cara, yaitu :
1. Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung serendah
rendahnya 0,35 % karbon. Baja ini telah memenuhi syarat untuk dikeraskan secara
langsung. Pemanasan pada temperatur pengerasan dilakukan secara cepat, agar
panas tersebut hanya mencapai kedalaman permukaan yang tipis. Selanjutnya
dilakukan proses pendinginan kejut agar dicapai struktur martensit hanya pada
permukaannya saja dan intinya masih ulet.
2. Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung setinggi
tingginya 0,2 % karbon. Baja ini termasuk dalam kelompok baja karbon rendah,
yang tidak bisa langsung dikeraskan. Penambahan unsur karbon dibutuhkan agar
jumlah kandungannya meningkat sehingga memenuhi syarat permukaannya saja,
karena hal ini tergantung pada hasil difusi karbon kedalam struktur baja.
Pengerasan permukaan pada material baja karbon rendah dapat dilakukan
melalui cara sebagai berikut :
(a) Karburasi (carburizing)
Karburasi (carburizing) adalah memanaskan baja di atas temperatur Ac 3
dalam lingkungan yang mengandung karbon. Baja pada sekitar temperatur kritis
mempunyai afinitas terhadap karbon. Karbon diabsorpsi ke dalam logam
membentuk larutan padat dengan baja dan lapisan luar memiliki karbon kadar
tinggi. Bila dibiarkan lebih lama, karbon akan mempunyai kesempatan untuk
berdifusi ke bagian lebih dalam. Tebal lapisan tergantung pada waktu dan
temperatur perlakuan panas.
(b) Karbonitriding
Karbonitriding adalah memanaskan baja di atas temperatur kritis didalam
lingkungan gas dan terjadi penyerapan karbon dan nitrogen. Gas amonia atau gas
yang kaya akan karbon bisa digunakan untuk proses ini.
(c) Cyaniding
Cyaniding adalah memasukan baja kedalam dapur yang mengandung
garam cyanida natrium, temperaturnya sedikit diatas daerah Ac1. Waktu

4
penahanan pemanasan tergantung pada permukaan yang akan dikeraskan.
Selanjutnya baja dimasukan ke pendingin air atau minyak untuk mendapatkan
permukaan yang keras.
(d) Nitriding
Nitriding adalah memanaskan logam sampai sekitar 510º C didalam
lingkungan gas amonia selama beberapa waktu. Nitrogen yang diserap oleh logam
akan membentuk nitride keras yang menyebar merata pada permukaan logam
(Kuswanto, 2010).
Pengerasan permukaan, suatu proses yang mencakup berbagai macam
teknik, digunakan untuk meningkatkan ketahanan aus bagian-bagian teknik tanpa
mempengaruhi bagian dalam yang lebih lembut dan keras. Kombinasi permukaan
yang keras dan ketahanan yang baik terhadap kerusakan akibat benturan berguna
pada bagian-bagian seperti roda gigi bubungan atau ring yang harus memiliki
permukaan yang sangat keras untuk menahan keausan, bersama dengan interior
yang kuat untuk menahan benturan yang terjadi selama pengoperasian.
Selanjutnya, pengerasan permukaan baja memiliki keunggulan dibandingkan
melalui pengerasan. Hal ini karena baja karbon rendah dan karbon sedang yang
lebih murah dapat dikeraskan permukaannya tanpa masalah distorsi dan retak
yang terkait dengan pengerasan melalui bagian tebal.
Ada dua pendekatan yang sangat berbeda untuk berbagai metode
pengerasan permukaan: metode yang melibatkan penumpukan atau penambahan
yang disengaja dari lapisan baru dan metode yang melibatkan modifikasi
permukaan dan sub-permukaan tanpa adanya penumpukan yang disengaja atau
peningkatan bagian dimensi.
Kelompok pertama dari metode pengerasan permukaan meliputi
penggunaan film tipis, pelapis, atau lapisan las (permukaan keras). Film, pelapis,
dan overlay umumnya menjadi lebih hemat biaya seiring dengan peningkatan
jumlah produksi, terutama ketika seluruh permukaan benda kerja harus
dikeraskan. Kelompok kedua dari metode pengerasan permukaan dibagi lagi
menjadi metode difusi dan metode pengerasan selektif. Metode difusi
memodifikasi komposisi kimiawi permukaan dengan jenis pengerasan seperti
karbon, nitrogen, atau boron (Adetunji dkk, 2008).

5
1.2. Heat Treatment
Heat treatment (perlakuan panas) adalah proses pemanasan dan
pendinginan yang terkontrol dengan maksud mengubah sifat fisik dari logam.
Prosedur dari perlakuan panas tersebut adalah berbeda-beda tergantung tujuan dari
pemberian proses perlakuan tersebut, yang biasanya mengacu pada sifat-sifat
mekanik dari pada material benda kerja. Langkah pertama dalam proses heat
treatment adalah pemanasan logam atau paduan dalam temperatur yang berbeda-
beda dan dengan atau tanpa memberikan waktu penahanan (holding time), yang
kemudian dilanjutkan dengan mendinginkannya dengan laju pendinginan yang
diinginkan. Temperatur pengerasan sangat tergantung pada kadar karbon, dan
temperatur pengerasan turun jika kadar karbon naik. Ada beberapa proses heat
treatment, diantaranya adalah annealing, normalizing, hardening, dan tempering
(Setiawan, 2012).
Perlakuan panas adalah proses kombinasi antara proses pemanasan atau
pendinginan dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat untuk
mendaratkan sifat-sifat tertentu. Untuk mendapatkan hal ini maka kecepatan
pendinginan dan batas temperature sangat menetukan. Dan struktur mikro yang
didapatkan di akhir proses heat treatment akan mempengaruhi sifat yang
didapatkan. Sedangkan terbentuknya struktur mikro ini selain dipengaruhi oleh
komposisi kimia dari material juga dipengaruhi oleh proses heat treatment yang
diterima dan kondisi awal material tersebut.
Dari proses heat treatment yang dilakukan, khususnya pada baja akan
dihasilkan struktur akhir yang terdiri dari martensit.Dimana martensit ini memiliki
sifat yang sangat getas.Sehingga dalam pemakaiannya akan sulit untuk dilakukan
proses machining. Pada umumnya setelah dilakukan proses heat treatment
khususnya anneling,akan dilakukan proses penemperan dimana tempering ini
akan berfungsi mengurangi tegangan sisa yang ada pada baja,serta mengurangi
kegetasan atau dengan kata lain meningkatkan keuletan atau ketangguhan
(Saktisahdan, 2019).
Perlakuan panas menyediakan cara mudah untuk memodifikasi properti
layanan suatu komponen melalui perubahan struktur mikronya. Produk pabrik —
terutama cor atau mesin — sering kali diberi perlakuan panas untuk memberikan

6
sifat teknik yang diinginkan pada permukaan dan sub-permukaan. Misalnya,
perlindungan diberikan terhadap keausan untuk permukaan yang bersentuhan
dengan meningkatkan kekerasan permukaan melalui perlakuan panas pak-sianida
(Akinluwade dkk, 2018)
Temperatur pada perlakuan panas sangat berpengaruh terhadap nilai
kekerasan ataupun laju korosi material tersebut, karena saat baja dipanaskan
sampai titik temperatur austenit kemudian didinginkan secara
mendadak/quenching dengan kecepatan pindinginan di atas kecepatan
pendinginan kritis agar terjadi pembentukan martensit dan diperoleh kekerasan
yang tinggi. Media pendingin yang digunakan berpengaruh terhadap laju
pendinginan dalam terbentuknya struktur martensite hasil transformasi austenite.
Martensite inilah yang akan menentukan seberapa jauh peningkatan sifat mekanis
hasil perlakuan panas.
Media pendingin selain mempengaruhi sifat mekanis dapat mempengaruhi
sifat fisis. Dari proses quenching spesimen sering sekali mengalami cracking,
distorsi, dan ketidakseragaman kekerasan yang diakibatkan oleh tidak seragamnya
temperatur larutan pendingin. Selain mempengaruhi sifat fisis dan mekanis
perlakuan panas juga mempengaruhi terhadap laju korosi, dimana semakin tinggi
temperatur yang diberikan maka akan besar juga laju korosinya. Perlakuan panas
pada baja akan mempengaruhi pada korosi sebagai akibat adanya pengendapan
fasa lain atau peningkatan dan penurunan tegangan, suatu endapan dapat bersifat
anodik atau katodik terhadap matriks logamnya, dengan perlakuan panas bila
timbul endapan akan terbentuk anoda dan katoda yang menyebabkan timbulnya
korosi (Nugroho dkk, 2019).
1.3. Baja
Baja merupakan jenis logam yang paling banyak digunakan dalam
kehidupan, misalnya pada mesin-mesin industri dan mesin-mesin perkakas.
Contoh penggunaan ini adalah pada poros mesin, roda gigi dan lain-lain.
Disamping itu harganya relatif murah dibanding dengan logam yang lain. Baja
mempunyai nilai ketahanan aus dan gesek yang kurang bagus sehingga dengan
adanya pelapisan permukaan diharapkan dapat memperbaiki sifat-sifat mekanik
dari baja tersebut.

7
Jumlah karbon dalam struktur baja dapat menentukan sifat mekanis dan
unjuk kerja (performance) nya. Ada tiga kelompok baja bila ditinjau dari jumlah
kandungan karbon yang terdapat dalam strukturnya, yaitu :
1. Baja karbon tinggi adalah baja dengan kandungan karbon 0,70 % -
1,70 %. Baja karbon tinggi memiliki sifat tahan panas, kekerasan serta
kekuatan tarik yang sangat tinggi akan tetapi memiliki keuletan yang lebih
rendah sehingga baja karbon ini menjadi lebih getas. Baja karbon tinggi ini
sulit diberi perlakuan panas untuk meningkatkan sifat kekerasannya, hal
ini dikarenakan baja karbon tinggi memiliki jumlah martensit yang cukup
tinggi sehingga tidak akan memberikan hasil yang optimal pada saat
dilakukan proses pengerasan permukaan. Dalam pengaplikasiannya baja
karbon tinggi banyak digunakan dalam pembuatan alat-alat perkakas
seperti palu, gergaji, pembuatan kikir, pisau cukur, dan sebagainya.
2. Baja karbon menengah adalah baja dengan kandungan karbon 0,30 % -
0,70 %. Baja karbon ini memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan baja
karbon rendah, baja karbon sedang memiliki sifat mekanis yang lebih kuat
dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi dari pada baja karbon rendah.
Besarnya kandungan karbon yang terdapat dalam besi memungkinkan baja
untuk dapat dikeraskan dengan memberikan perlakuan panas (heat
treatment) yang sesuai. Baja karbon sedang biasanya digunakan untuk
pembuatan poros, rel kereta api, roda gigi, baut, gear, pegas, dan
komponen mesin lainnya.
3. Baja karbon rendah adalah baja dengan kandungan karbon 0,04 % -
0,30 %. Baja karbon rendah ini memiliki ketangguhan dan keuletan tinggi
akan tetapi memiliki sifat kekerasan dan ketahanan aus yang rendah. Pada
umumnya baja jenis ini digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan
komponen struktur bangunan, pipa gedung, jembatan, bodi mobil, dan
lain-lainya (Nugroho dkk, 2019).
Kandungan karbon didalam struktur baja akan berpengaruh terhadap sifat
mampu keras. Sifat ini dibutuhkan untuk komponen mesin yang saling bergesekan
atau karena fungsinya harus mempunyai kekerasan tertentu. Selanjutnya
kekerasan pada komponen mesin yang terbuat dari baja, dapat diperoleh melalui

8
proses perlakuan panas atau perlakuan permukaan. Proses peningkatan kekerasan
menggunakan panas merupakan cara yang banyak dilakukan untuk baja karbon
medium dan tinggi. Namun demikian tidak semua jenis baja bisa dikeraskan
secara langsung dengan cara ini. Pengerasan langsung hanya dapat dilakukan pada
baja dengan kandungan karbon di atas 0,35 %. Sementara untuk baja dengan
kandungan karbon dibawah 0,35 %, harus melalui proses penambahan karbon.
(Schonmetz, Gruber, 1985) Baja dengan kadar karbon menengah sampai tinggi
dengan kandungan karbon di atas 0,35 %, dapat ditingkatkan kekerasannya,
dengan metode perlakuan panas (heat treatment). Seperti pengerasan (hardening)
yang dilakukan dengan metode pengejutan (quenching) dilanjutkan temper
(tempering).
Pengerasan dilakukan dengan memanaskan baja dalam dapur pemanas
(furnace), sampai temperatur austenit dan didinginkan secara tiba-tiba. Akibat
pengejutan dingin dari daerah suhu pengerasan ini, dicapailah suatu keadaan
paksa bagi struktur atom yang akan meningkatkan kekerasan. Sedangkan baja
yang mempunyai kandungan di bawah 0,35 % C, hanya dapat dikeraskan melalui
proses penambahan karbon (Kuswanto, 2010).
Kekerasan suatu bahan (baja) dapat diketahui dengan pengujian kekerasan
memakai mesin uji kekerasan (hardness tester) menggunakan tiga metoda atau
teknik yang umum dilakukan yaitu metoda Brinell, Rockwell dan Vickers
Gambar.1 (Setiawan, 2010).

9
Gambar 1. Teknik pengujian kekerasan (Setiawan, 2010).
Baja karbon merupakan salah satu jenis baja paduan yang terdiri atas unsur
besi (Fe) dan karbon (C). Dimana besi merupakan unsur dasar dan karbon sebagai
unsur paduan utamanya. Dalam proses pembuatan baja akan ditemukan pula
penambahan kandungan unsur kimia lain seperti sulfur (S), fosfor (P), slikon (Si),
mangan (Mn) dan unsur kimia lainnya sesuai dengan sifat baja yang diinginkan.
Baja karbon memiliki kandungan unsur karbon dalam besi sebesar 0,2 % hingga
2,14 %, dimana kandungan karbon tersebut berfungsi sebagai unsur pengeras
dalam struktur baja (Nugroho dkk, 2019).
1.4. Cyaniding
Cyaniding atau karbonitriding cair merupakan proses dimana
terjadi absorpsi karbon dan nitrogen untuk memperoleh permukaan yang keras
pada baja karbon rendah yang sulit dikeraskan. Cyaniding atau karbonitriding
cair juga merupakan proses dimana terjadi itridekarbon dan nitrogen untuk
memperoleh permukaan yang keras pada baja karbon rendah yang sulit
dikeraskan. Proses ini dilakukan dengan rendaman air garam yang terdiri
dari KarbonatNatrium (Sodium) dan Sianida Natrium yang dicampur dengan
salah satu bahan klorid natrium dan klorid barium, tebal lapisan sekitar 0,3 mm.

10
Benda yang dikeraskan dimasukan kedalam dapur yang membentuk garam
cyanide natrium,suhunya sedikit diatas daerah Ac1. Lama pemanasan
tergantung pada permukaan yang akan dikerasakan.Benda kemudian
dicelupkan dalam air atau minyak untuk mendapatkan permukaan yang
keras.Tebal lapisan berkisar antara 0,10 sampai 0,40 mm. Cyaniding terutama
ditetapkan untuk perlakuan panas bagian-bagian yang kecil.
Cyaniding adalah pengerasan kasus proses yang cepat dan efisien itu
terutama digunakan pada baja karbon rendah.,bagian ini dipanaskan sampai 1600-
1750 ° F dalam natrium sianida dan kemudian padam dan dibilas, dalam air atau
minyak, untuk menghapus sisa sianida. Sehingga pada permukaan akan terbentuk
suatu lapisan yang bersifat keras yang disebut compound layer
jenis4itridebesi.Proses ini menghasilkan hasil yang tipis ,shell keras (antara
0,010 dan 0,030 inci) yang lebih sulit dari yang dihasilkan oleh karburasi,
dan dapat diselesaikan dalam waktu 20 sampai 30 menit dibandingkan dengan
beberapa jam sehingga bagian memiliki sedikit kesempatan untuk menjadi
terdistorsi. Hal ini biasanya digunakan pada bagian-bagian kecil seperti baut,
mur, sekrup dan roda gigi kecil..Kelemahan utama dari cyaniding adalah
bahwa garam sianida yang beracun. Gas ini dihasilkan dengan mencampur
atau kalium natrium sianida, sulfat asam, dan airdalam berbagai proporsi
Sianida cair telah menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kekerasan
dan ketahanan aus pada permukaan komponen dan perkakas, dan memiliki
keuntungan sebagai berikut: Kecepatan dan kemudahan pengendalian proses;
biaya peralatan dan ruang produksi yang rendah; kemungkinan menghalangi
regenerasi butir karena durasi proses sianida yang singkat; keseragaman
pemanasan bagian; fleksibilitas proses yang tinggi, karena bagian-bagian yang
membutuhkan kedalaman kekerasan yang berbeda dapat diperlakukan dalam bak
yang sama; dan kemungkinan pendinginan langsung dari penangas garam.
Untuk pengerasan permukaan baja hingga kedalaman dangkal (0,05-0,5
mm), dalam konstruksi mesin modern digunakan sianida oleh sianida (N aCN,
KCN, dll.). Sianida seperti itu, bagaimanapun, belum digunakan pada skala
industri yang luas dalam konstruksi mesin karena uap sianida beracun dan
berbahaya bagi kesehatan pekerja, dan oleh karena itu bagian yang terisolasi harus

11
disediakan untuk produksi sianida. Akibatnya, banyak pabrik menggunakan gas
karbonitriding daripada cairan sianida menggunakan sianida. Karbonitriding gas,
bagaimanapun, membutuhkan peralatan rumit khusus yang menggunakan baja
tahan panas, durasi proses teknologi dua kali lebih lama atau lebih, dan konsumsi
daya listrik spesifik dibandingkan dengan sianida cair hampir empat kali lipat
(Funshtein, 1967).

Gambar 2. Distribusi karbon dan nitrogen dalam lapisan difusi dalam


sianida tanda baja 20 untuk durasi proses yang berbeda
(Funshtein, 1967).
Cyaniding dilakukan pada suhu 800–960C dalam penangas garam dan
melibatkan difusi atom C dan N ke dalam baja, menghasilkan lapisan tipis tahan
aus dari fase ∈ karbonitrida. Selama nitridasi, lapisan putih Fe4N ( ɤ nitride) dan
Fe2N (∈nitride) terbentuk di dekat lapisan luar permukaan yang disebabkan oleh
potensi nitrogen yang tinggi , masalah ini dapat dihindari dengan menjaga potensi
nitrogen pada tingkat yang diinginkan (Adetunji dkk, 2008).

12
Gambar 3. Efek suhu sianida pada waktu pemotongan untuk spesimen
sianida pada waktu yang berbeda menggunakan barium karbonat
sebagai activator (Adetunji dkk, 2008).
Dalam proses pengerasan permukaan ini, karbon dan nitrogen
ditambahkan ke lapisan permukaan baja. Proses tersebut didasarkan pada
penguraian senyawa sianida yang dengan mudah melepaskan gugus sian (CN).
Karena gugus cyan mengandung atom karbon dan nitrogen, besi dijenuhkan
dengan keduanya pada waktu yang sama. Sianida menghasilkan casing tipis (0,1
hingga 0,2 mm) tetapi sangat keras dalam waktu yang sangat singkat. Proses ini
paling sering diterapkan pada baja yang mengandung 0,2 hingga 0,4% C. Hal ini
sangat efektif untuk komponen menengah dan kecil, seperti, sekrup, klem, ring,
roda gigi, pin piston, poros kecil, dll. Sianida melibatkan pemanasan baja dalam
media cair atau padat.
(i) Pack cyaniding. Campuran tepung untuk proses ini terdiri dari: 60 sampai
80% arang, 40 sampai 20% kalium ferrocyanide K, Fe (CN), Suhu sianida dari

13
540 sampai 560 ° C dan waktu penahanan dari 1,5 sampai 3 jam. Metode ini
terutama digunakan untuk meningkatkan sifat pemotongan perkakas.
(ii) Liquid Cyaniding, lebih banyak digunakan. Rendaman terdiri dari garam
netral cair (Na, CO, NaCI, dll.) Di mana berbagai senyawa sianida, seperti NaCN,
Ca (CN), dll. Dilarutkan. Sianida cair dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok: -
a. Sianida suhu rendah.
Mengandung 25 sampai 40% NaCN, 20 sampai 45% Na, CO, dan 10
sampai 20% NaCl. Suhu sianida 550 ° hingga 600 ° C dan rentang waktu
penahanan dari 5 hingga 30 menit. Kedalaman casing adalah 0,02 hingga 0,04
mm dan sangat keras dengan ketahanan aus yang baik dan gesekan rendah dalam
pemesinan. Proses ini digunakan terutama untuk merawat perkakas baja
berkecepatan tinggi karena meningkatkan umur perkakas secara signifikan.
b. Sianida suhu sedang.
Terdiri dari: 20 sampai 25% NaCN. 25 sampai 50% NaCI dan 25 sampai
50% Na, CO ,. Suhu sianida adalah 800 - 850 ° C dan waktu penahanan dari 5
menit hingga 1,5 jam tergantung pada kedalaman wadah yang diperlukan.
Kedalaman casing bervariasi dari 0,075 hingga 0,50 mm. Proses tersebut diikuti
dengan quenching dan tempering. Proses ini terutama digunakan untuk bagian
yang terbuat dari baja karbon sedang, seperti baut, mur, roda gigi kecil, dll.
c. Sianida bersuhu tinggi.
Dilakukan pada 900 ° - 950 ° C dalam bak yang terdiri dari 6 hingga 10%
NaCN, 80 hingga 84% BaCl, dan hingga 10% Nacl. Waktu penahanan hingga 1,6
jam dan kedalaman casing dari 0,5 hingga 1,5 mm. Proses ini diikuti dengan
quenching dan temper suhu rendah (160 ° 180 ° C).
(Sharma, 2009)

14
Gambar 4. Zona perlakuan panas (Sharma, 2009)
Unsur pengerasan pada proses cianidisasi adalah unsur N (Nitrogen) dan C
(karbon) yang diperoleh dari sianida yang terurai karena bereaksi dengan oksigen
pada permukaan bak.
Reaksi pada proses cianidisasi adalah sebagai berikut :
2NaCN + O2 → 2NaNCO
4NaNCO → Na2CO3 + 2NaCN + CO +2N
Cyaniding (karbonitriding cair) adalah suatu proses di mana terjadi difusi
karbon dan nitrogen ke dalam permukaan baja. Tujuannya untuk memperoleh
permukaan yang keras pada baja karbon rendah yang sulit dikeraskan. Baja
rendah dimasukkan kedalam dapur yang mengandung garam sodium cyanide
(NaCN), suhunya sedikit di atas Ac1. lama pemanasan tergantung pada ketebalan

15
permukaan yang akan dikeraskan. Setelah selesai baja kemudian dicelupkan
dalam media pendingin air atau minyak, untuk mendapatkan permukaan yang
keras. Cyaniding banyak digunakan untuk bagian-bagian yang kecil. Tebal
kekerasan lapisan berkisar antara 0,10-0,40 mm (Waluyo, 2010).
Proses ini menghasilkan hasil yang tipis ,shell keras (antara 0,010 dan
0,030 inci) yang lebih sulit dari yang dihasilkan oleh karburasi, dan dapat
diselesaikan dalam waktu 20 sampai 30 menit dibandingkan dengan beberapa jam
sehingga bagian memiliki sedikit kesempatan untuk menjadi terdistorsi. Hal
ini biasanya digunakan pada bagian-bagian kecil seperti baut, mur, sekrup
dan roda gigi kecil..Kelemahan utama dari cyaniding adalah bahwa garam
sianida yang beracun. Gas ini dihasilkan dengan mencampur atau kalium
natrium sianida, sulfat asam, dan airdalam berbagai proporsi.

Gambar 5. Skema proses cyaniding.

16
BAB III
KESIMPULAN
1. Heat treatment adalah salah satu proses untuk mengubah struktur
logam dengan jalan memanaskan specimen pada elektrik terance (tungku)
pada temperaturrekristalisasi selama periode waktu tertentu
kemudian didinginkan pada media pendingin seperti udara, air, air
faram, oli dan solar .
2. Cyaniding proses dimana terjadi absorpsi karbon dan nitrogen untuk
memperoleh permukaan yang keras pada baja karbon rendah yang
sulit dikeraskan.
3. Teknik pengerasan permukaan merupakan suatu proses untuk
meningkatkan sifat kekerasan serta kinerja dari suatu komponen atau
material. Kerusakan suatu material biasanya dimulai dari kerusakan pada
permukaan material yang disebabkan karena adanya pengaruh dari faktor
lingkungan seperti korosi atau keausan akibat adanya interaksi dengan
komponen lain.

17
DAFTAR PUSTAKA

Adetunji, A.R., Daniel, B.A., Pelemo, D.A., Olasupo, O.A., Adeoye, M.O.,
Umoru, L.E., Adeeyinwo, C.E. and Adewoye, O.O., 2008.
Metallographic studies of pack cyanided mild steel using cassava
leaves. Materials and Manufacturing Processes. 23(4) : 385-390.
Akinluwade, K.J., Rominiyi, A.L., Isadare, D.A., Adetunji, A.R. and Adeoye,
M.O. 2018. Pack-cyaniding: A Comparative Study of Low and High-
Temperature Treatment. Archives of Current Research International.
12(2) :1-12.
Akuan, A. 2010. Pengaruh Waktu Penahanan Proses Pengerasan Permukaan
Cyaniding Terhadap Laju Difusi Nitrogen Terhadap Struktur Dan Sifat
Mekanik Baja Perkakas Assab Xw-42. Jurnal Teknik: Media
Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik. 9(1) : 7-19.
Funshtein, Y.N., 1967. Application of Liquid Cyaniding by Potassium
Ferrocyanide in Mass Production. In Diffusion Cladding of Metals (pp.
63-68). Springer, Boston, MA.
Kuswanto, B. 2010. Pengaruh Perbedaan Ukuran Butir Arang Tempurung Kelapa-
Barium Karbonat Terhadap Peningkatan Kekerasan Permukaan Material
Baja St 37 dengan Proses Pack Carburizing. Tesis. Doctoral dissertation,
Diponegoro University, Semarang.
Nugroho, E., Handono, S.D., Asroni, A. and Wahidin, W., 2019. Pengaruh
Temperatur dan Media Pendingin pada Proses Heat Treatment Baja AISI
1045 terhadap Kekerasan dan Laju Korosi. Turbo: Jurnal Program Studi
Teknik Mesin. 8(1) : 99-110.
Saktisahdan, T.J., 2019. Pengaruh Proses Heat Treatment Terhadap Perubahan
Struktur Mikro Baja Karbon Rendah. Jurnal Laminar. 1(1) : 28-33.
Sharma, P.C., 2009. A Textbook of Production Technology: Manufacturing
Processes. Chand (S.) & Company Limited, India.

18
Setiawan, H. 2012. Pengaruh Proses Heat Treatment Pada Kekerasan Material
Special K (K100). Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu
Komputer. 2(1) : 37-47.
Suprapto, S. & Sujitno, T., 2005. Pengerasan Permukaan Baja ST 42 dengan
Teknik Nitridasi Ion. Prosiding. Puslitbang Teknologi Maju-BATAN.
Umardhani, Y. 2011. Pengerasan Permukaan Baja Karbon ST 40 dengan Metode
Nitridasi dalam Larutan Garam. ROTASI, 13(4) : 20-23.
Waluyo, J., 2010. Pengaruh temperatur dan waktu tahan pada proses karburisasi
cair terhadap kekerasan baja AISI 1025 dengan media pendinginan air.
Skripsi. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

19
SOAL
A. SOAL ESSAY
1. Pengerasan permukaan terhadap material baja dapat dilakukan melalui dua
cara, yaitu…
Jawaban :
a) Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung serendah
rendahnya 0,35 % karbon. Baja ini telah memenuhi syarat untuk
dikeraskan secara langsung. Pemanasan pada temperatur pengerasan
dilakukan secara cepat, agar panas tersebut hanya mencapai kedalaman
permukaan yang tipis. Selanjutnya dilakukan proses pendinginan kejut
agar dicapai struktur martensit hanya pada permukaannya saja dan
intinya masih ulet.
b) Pengerasan permukaan pada material baja yang mengandung
setinggitingginya 0,2 % karbon. Baja ini termasuk dalam kelompok baja
karbon rendah, yang tidak bisa langsung dikeraskan. Penambahan unsur
karbon dibutuhkan agar jumlah kandungannya meningkat sehingga
memenuhi syarat permukaannya saja, karena hal ini tergantung pada
hasil difusi karbon kedalam struktur baja.
2. Jelaskan tiga kelompok baja bila ditinjau dari jumlah kandungan karbon
yang terdapat dalam strukturnya.
Jawaban :
a) Baja karbon tinggi adalah baja dengan kandungan karbon 0,70 % -
1,70 %. Baja karbon tinggi memiliki sifat tahan panas, kekerasan serta
kekuatan tarik yang sangat tinggi akan tetapi memiliki keuletan yang
lebih rendah sehingga baja karbon ini menjadi lebih getas. Baja karbon
tinggi ini sulit diberi perlakuan panas untuk meningkatkan sifat
kekerasannya, hal ini dikarenakan baja karbon tinggi memiliki jumlah
martensit yang cukup tinggi sehingga tidak akan memberikan hasil yang
optimal pada saat dilakukan proses pengerasan permukaan. Dalam
pengaplikasiannya baja karbon tinggi banyak digunakan dalam
pembuatan alat-alat perkakas seperti palu, gergaji, pembuatan kikir, pisau
cukur, dan sebagainya.

20
b) Baja karbon menengah adalah baja dengan kandungan karbon 0,30 % -
0,70 %. Baja karbon ini memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan
baja karbon rendah, baja karbon sedang memiliki sifat mekanis yang
lebih kuat dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi dari pada baja
karbon rendah. Besarnya kandungan karbon yang terdapat dalam besi
memungkinkan baja untuk dapat dikeraskan dengan memberikan
perlakuan panas (heat treatment) yang sesuai. Baja karbon sedang
biasanya digunakan untuk pembuatan poros, rel kereta api, roda gigi,
baut, gear, pegas, dan komponen mesin lainnya.
c) Baja karbon rendah adalah baja dengan kandungan karbon 0,04 % -
0,30 %. Baja karbon rendah ini memiliki ketangguhan dan keuletan
tinggi akan tetapi memiliki sifat kekerasan dan ketahanan aus yang
rendah. Pada umumnya baja jenis ini digunakan sebagai bahan baku
untuk pembuatan komponen struktur bangunan, pipa gedung, jembatan,
bodi mobil, dan lain-lainya.
3. Apa yang dimaksud dengan heat treatment?
Jawaban :
Heat treatment (perlakuan panas) adalah proses pemanasan dan pendinginan
yang terkontrol dengan maksud mengubah sifat fisik dari logam. Prosedur
dari perlakuan panas tersebut adalah berbeda-beda tergantung tujuan dari
pemberian proses perlakuan tersebut, yang biasanya mengacu pada sifat-
sifat mekanik dari pada material benda kerja.
4. Jelaskan pengelompokkan Sianida.
Jawaban :
a) Sianida suhu rendah. Mengandung 25 sampai 40% NaCN, 20 sampai
45% Na, CO, dan 10 sampai 20% NaCl. Suhu sianida 550 ° hingga 600 °
C dan rentang waktu penahanan dari 5 hingga 30 menit. Kedalaman
casing adalah 0,02 hingga 0,04 mm dan sangat keras dengan ketahanan
aus yang baik dan gesekan rendah dalam pemesinan. Proses ini
digunakan terutama untuk merawat perkakas baja berkecepatan tinggi
karena meningkatkan umur perkakas secara signifikan.

21
b) Sianida suhu sedang. Terdiri dari: 20 sampai 25% NaCN. 25 sampai 50%
NaCI dan 25 sampai 50% Na, CO ,. Suhu sianida adalah 800 - 850 ° C
dan waktu penahanan dari 5 menit hingga 1,5 jam tergantung pada
kedalaman wadah yang diperlukan. Kedalaman casing bervariasi dari
0,075 hingga 0,50 mm. Proses tersebut diikuti dengan quenching dan
tempering. Proses ini terutama digunakan untuk bagian yang terbuat dari
baja karbon sedang, seperti baut, mur, roda gigi kecil, dll.
c) Sianida bersuhu tinggi. Dilakukan pada 900 ° - 950 ° C dalam bak yang
terdiri dari 6 hingga 10% NaCN, 80 hingga 84% BaCl, dan hingga 10%
Nacl. Waktu penahanan hingga 1,6 jam dan kedalaman casing dari 0,5
hingga 1,5 mm. Proses ini diikuti dengan quenching dan temper suhu
rendah (160 ° 180 ° C).
5. Jelaskan reaksi kimia pada proses cyaniding
Jawaban :
Unsur pengerasan pada proses cianidisasi adalah unsur N (Nitrogen) dan C
(karbon) yang diperoleh dari sianida yang terurai karena bereaksi dengan
oksigen pada permukaan bak.
Reaksi pada proses cianidisasi adalah sebagai berikut :
2NaCN + O2 → 2NaNCO
4NaNCO → Na2CO3 + 2NaCN + CO +2N
B. SOAL OBJEKTIF
1. Proses pengerasan baja yang dilakukan tanpa merubah komposisi kimia,
adalah……
a. Carburizing d. Laser hardening
b. Nitriding e. carbonitriding
c. Nitrocarburizing
2. Proses pengerasan baja yang dilakukan dengan merubah komposisi kimia,
kecuali…..
d. Carburizing d. Laser hardening
e. Nitriding e. carbonitriding
f. Nitrocarburizing
3. Baja karbon tinggi adalah baja dengan kandungan karbon sebesar….

22
a. 0,70 % - 1,70 %. d. 1,4 %- 2,0 %
b. 0,1% - 0,2 % e. 2,0 %- 2,5 %
c. 0,3 %- 0,7%
4. Sianida suhu sedang terdiri dari …
a. Mengandung 25 sampai 40% NaCN, 20 sampai 45% Na, CO, dan 10
sampai 20% NaCl.
b. Terdiri dari: 20 sampai 25% NaCN. 25 sampai 50% NaCI dan 25 sampai
50% Na, CO ,.
c. Dilakukan pada 900 ° - 950 ° C dalam bak yang terdiri dari 6 hingga 10%
NaCN, 80 hingga 84% BaCl, dan hingga 10% NaCl.
d. Mengandung 1 sampai 10% NaCN, 10 sampai 15% Na, CO, dan 10
sampai 20% NaCl.
e. Terdiri dari: 2 sampai 7% NaCN. 20 sampai 40% NaCI dan 25 sampai
50% Na, CO
5. Suhu sianida pada sianida suhu rendah adalah….
a. 200° - 300°C d. 600°-800°C
b. 550° - 600°C e. 1000° - 1500°C
c. 100° -200°C
6. Memasukan baja kedalam dapur yang mengandung garam cyanida natrium,
temperaturnya sedikit diatas daerah Ac1, merupakan pengertian dari….
a. Nitriding d. Karbonitriding
b. Cyaniding e. Hardening
c. Carburizing
7. Kandungan karbon didalam struktur baja akan berpengaruh terhadap sifat….
a. Kekerasan d. Hampa
b. Pelunakan e. Semua benar
c. Suhu
8. Dalam pengaplikasiannya baja karbon tinggi banyak digunakan dalam
pembuatan alat-alat perkakas seperti, kecuali….
a. Palu d. Pisau cukur
b. Gergaji e. Kertas
c. Pembuatan kikir
9. Baja dengan kadar karbon dapat ditingkatkan kekerasannya dengan metode,
kecuali…..
a. perlakuan panas (heat treatment) d. Tempering
b. Pengerasan (hardening) e. Bonding

23
c. Pengejutan (quenching)
10. Suhu sianida pada sianida suhu tinggi adalah….
a. 200° - 300°C d. 1500°-1800°C
b. 550° - 600°C e. 1000° - 1500°C
c. 900° - 950°C

24